cover
Contact Name
Akhmad Mustofa
Contact Email
garadaiva@gmail.com
Phone
+6287712362590
Journal Mail Official
jitipari@unisri.ac.id
Editorial Address
Jl. Sumpah Pemuda No. 18 Joglo Surakarta 57136
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI)
ISSN : 25029347     EISSN : 25794523     DOI : 10.33061/jitipari
JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) is a scientific periodical publication issued by the Faculty of Technology and Food Industry, Slamet Riyadi University, Surakarta. This journal holds the results of food research and also reviews of journals / articles in the food and industry sector. This journal is used to publish research results at the level of students, lecturers, and observers in the food sector.
Articles 280 Documents
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN BLACK GARLIC DENGAN VARIASI JENIS BAWANG (Allium sp) DAN LAMA PEMERAMAN Suwarsih Suwarsih; Yustina Wuri Wulandari; Yannie Asrie Widanti
JITIPARI Vol 5 No 1 (2020): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.992 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v5i1.3092

Abstract

Black garlic adalah produk fermentasi dari bawang putih yang dipanaskan dengan suhu antara 65 – 80ºC dan kelembapan 70 – 80% dari suhu kamar selama satu bulan. Black garlic  telah diketahui memiliki kandungan antioksidan yang cukup tinggi sehingga bisa menjadi produk baru dari jenis bawang putih yang berfungsi menghambat radikal bebas dalam tubuh. Menentukan jenis bawang yang menghasilkan aktivitas antioksidan lebih tinggi setelah melalui proes pemanasan black garlic. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap 2 faktorial, dengan faktor pertama adalah waktu perlakuan pemanasan dengan suhu 65-850C, selama 8 hari, 12 hari, 16 hari dan faktor kedua variasi jenis bawang, bawang garlic, bawang kating, bawang lanang. Analisis kimia yaitu aktivitas antioksidan, kadar air, total fenol, gula total dan uji sensoris yaitu tekstur lembut, rasa manis, rasa pahit, flavour bawang, after taste rasa pahit, serta kesukaan keseluruhan. Black garlic yang diperoleh dari penelitian ini memiliki aktivitas antioksidan tertinggi pada perlakuan lama pemeraman 16 hari dengan variasi bawang garlic yaitu memiliki aktivitas antioksidan 69,87%, kadar air sebesar 19,61%, kadar total fenol sebesar 2,67%, kadar gula total sebesar 19,58%, dan dengan uji sensoris tekstur lembut memiliki nilai 2,80, rasa manis 1,96, rasa pahit 2,39, flavour bawang 2,25, serta after taste rasa pahit 1,96, hasil yang banyak disukai oleh konsumen yaitu pada perlakuan lama pemeraman 8 hari menggunakan variasi jenis bawang lanang dengan nilai 2,13.Kata kunci: Antioksidan, black garlic, bawang. ABSTRACT Black garlic to research this alleged to have antioxidant content a high so that it can become new product of a kind of garlic that serves hinder free radicals in the body. Determine kinds of onion that produces antioxidant activity higher after going through proes warming black garlic. This study design random use of complete two factorials, by a factor first long warming 65-850c, with the temperature treatment as long as 8, 12, 16 day and the second variation kinds of onion, onions garlic, onions kating, whole onions. Chemical analysis, the antioxidant activity, water level, total phenol, sugar total and the sensory a creamy texture, sweet taste, bitter taste, berlainan onions, after taste bitter, and the favorite. The yield black garlic of the study these that have the highest antioxidant activity obtained from old treatment being handed out warm 16 day with the variation of onions garlic having the same antioxidant activity 69,87% , the moisture content of as much as 19,61% , the nature of all that the total phenol as much as 2,67 % , the action of sugar the total as much as 19,58 % , and by test sensory a creamy texture having the value of the 2,80, a sweet taste 1,96 , a bitter taste 2,39 , flavour onions 2,25 , as well as after taste was a bitter taste 1,96 , a series of poor results much liked by the consumer such it will be on a treatment long warm 8 day employing variations kinds of whole onion with a value of up 2,13.Keywords: Antioxidant, black garlic, onions
KARAKTERISTIK FLAKES UBI UNGU (Ipomoea batatas L.) TEPUNG GEMBILI (Dioscorea esculenta L.) DENGAN VARIASI LAMA PENGOVENAN Jessica Noni Estria Wicaksana Dwi Saputri; Yustina Wuri Wulandari; Akhmad Mustofa
JITIPARI Vol 5 No 2 (2020): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.26 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v5i2.3097

Abstract

Flakes merupakan salah satu produk makanan sereal yang berbentuk serpihan. Penelitian ini menggunakan ubi ungu dan tepung gembili sebagai bahan dasar pembuatan  flakes. Ubi ungu kaya akan antioksidan yang dapat meningkatkan sifat fungsional  flakes, sedangkan gembili memiliki kadar inulin yang cukup tinggi. Penelitian ini juga menggunakan variasi lama pengovenan guna untuk mengetahaui tingkat kematangan flakes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan yang paling tinggi pada flakes ubi ungu tepung gembili dengan variasi lama pengovenan dan untuk mengetahui rasio konsentrasi ubi ungu : tepung gembili dengan variasi lama pengovenan yang disukai konsumen. Penelitian ini dilakukan dengan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu perbandingan ubi ungu : tepung gembili dan variasi lama pengovenan. Faktor yang pertama perbandingan ubi ungu dan tepung gembili (85:15, 90:10 dan 95:5), sedangkan faktor kedua variasi lama pengovenan flakes (40 menit, 45 menit dan 50 menit). Hasil penelitian ini menjukkan rasio konsentrasi ubi ungu dan tepung gembili 90:10 dan lama pengovenan selama 40 menit merupakan formulasi flakes yang terbaik karena memiliki sifat fungsional yang diharapkan yaitu aktivitas antioksidan 23,571%, kadar air 6,788%, kadar abu 3,628%, kadar lemak 5,977%, kadar protein 5,757%, karbohidrat 77,850% serta uji organoleptik terhadap warna 3,306; flavor ubi ungu 2,867; kerenyahan 3,417 dan kesukaan keseluruhan 3,183.
FORTIFIKASI ANTIOKSIDAN DARI BEKATUL BERAS MERAH (Oryza nivara) PADA TEMPE KEDELAI (Glycine max (L) meriil) DENGAN VARIASI LAMA FERMENTASI Oktavia Permatasari; Nanik Suhartatik; Akhmad Mustofa
JITIPARI Vol 5 No 1 (2020): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33061/jitipari.v5i1.3110

Abstract

Tempe merupakan salah satu produk fermentasi kedelai tradisional yang cukup terkenal, dengan menggunakan jamur Rhizopus oligosporus. Tempe mempunyai berbagai macam manfaat bagi kesehatan tubuh. Demikian juga dengan bekatul beras merah yang memiliki berbagai nutrisi yaitu kandungan antioksidan dan serat yang tinggi, mengandung banyak mineral. Di kalangan masyarakat, bekatul beras merah belum banyak dimanfaatkan terutama sebagai produk olahan yang memiliki nilai fungsional. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik kimia dan sensori tempe kedelai yang difortifikasi bekatul beras merah dan lama fermentasi, menentukan formulasi yang tepat dari tempe kedelai yang difortifikasi bekatul beras merah dengan lama fermentasi sehingga diperoleh tempe dengan aktivitas antioksidan dan serat yang tinggi serta disukai konsumen. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 2 faktorial. Faktor pertama adalah rasio kedelai dan bekatul beras merah (80:20; 70:30; 60;40), sedangkan faktor kedua adalah lama fermentasi (24, 36, 48 jam). Penelitian dimulai dari pembuatan tempe yang difortifikasi bekatul beras merah kemudian dianalisis menggunakan analisis kadar air, kadar abu, kadar protein, aktivitas antioksidan, kadar serat, dan analisis uji organoleptik meliputi warna, rasa, aroma, kekompakan, dan kesukaan keseluruhan. Hasil penelitian yang terbaik adalah pada rasio kedelai dan bekatul beras merah 60:40 dengan lama fermentasi 48 jam didasarkan pada hasil pengujian kimia antioksidan dan serat terbaik. Pada perlakuan ini dihasilkan kadar air 51,34%, kadar abu 8,90%, kadar protein 21,62%, aktivitas antioksidan 72,03%, dan kadar serat 23,44%, sedangkan untuk pengujian organoleptik yang meliputi warna 3,66(merah bata); aroma 3,24 (aroma bekatul beras merah kuat); rasa 3,54 (rasa bekatul beras merah sangat kuat); kekompakan 3,73(kekompakan tempe sangat kuat); dan kesukaan keseluruhan 3,35 (suka). Kata kunci: Tempe, bekatul beras merah, antioksidan, serat, lama fermentasi.ABSTRACTTempeh is one of the well-known traditional soybean fermentation products, using the mushroom Rhizopus oligosporus. Tempeh has a variety of health benefits. Moreover, red rice bran which has a variety of nutrients that contain antioxidants and high fiber, and contain lot of minerals. Among the people, red rice bran has not been widely used, especially as a processed product that has functional value. This study aims to determine the chemical characteristics and sensory of soybean tempeh fortified with red rice bran and fermentation duration, to determine the appropriate formulation of soybean fortified soybean rice bran with fermentation duration so that tempe is obtained with antioxidant activity and high fiber as well as consumer preference. This research was conducted using two factorials Completely Randomized Design (CRD) The first factor was the ratio of soybean and rice bran (80:20; 70:30; 60:40), while the second factor was the duration of fermentation (24, 36, 48 hours). The study began with the making of tempeh fortified with red rice bran and then analyzed for water content analysis, ash content, protein content, antioxidant activity, fiber content, organoleptic test analysis including color, taste, aroma, compactness, and overall preference. The best results was at the ratio of 60:40 soybean and rice bran with fermentation duration 48 hour based on the results of testing the best chemical antioxidants and fiber. At this treatment produced 51,34% water content, 8,90% ash content, 21,62% protein content 72,03% antioxidant activity, and 23,44% fiber content, while for organoleptic testing which includes the color of 3,66 (brick red); aroma 3,24 (strong red rice bran aroma); flavor 3,54(flavor red rice bran very strong); compactness 3,73(compactness of tempeh is very strong); and overall preference 3,35 (likes). Keywords: Tempeh, red rice bran, antioxidant, fiber, long fermentation.
KARAKTERISTIK BROWNIES KUKUS TEPUNG JEWAWUT (Setarica italica) DAN TEPUNG MAIZENA DENGAN PENGARUH LAMA PROSES PENGUKUSAN Bernaulli Putri Mulyanto; Yustina Wuri Wulandari; Akhmad Mustofa
JITIPARI Vol 5 No 1 (2020): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33061/jitipari.v5i1.3131

Abstract

      Brownies merupakan cake coklat yang terbuat dari tepung terigu, lemak, telur, gula pasir dan coklat. Metode pemasakan brownies ada dua yaitu pemanggangan dan pengukusan. Penelitian ini menggunakan tepung jewawut dan tepung maizena agar dihasilkan brownies kukus bebas gluten. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi tepung yang memiliki kadar protein tertinggi pada brownies dan untuk mengetahui lama pengukusan yang optimal sehingga menghasilkan brownies kukus tepung jewawut dan tepung jagung yang paling disukai. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktorial yaitu faktor pertama ratio tepung jewawut dan tepung jagung (50:50, 40:60 dan 30:70), sedangkan faktor kedua lama pengukusan (30 menit, 40 menit dan 50 menit). Hasil penelitian menunjukkan Brownies kukus tepung jewawut dan tepung jagung dengan ratio 50:50 dan lama pengukusan 50 menit merupakan ratio yang terbaik karena memiliki kadar protein paling tinggi yaitu 5.828%.  Pada perlakuan ini menghasilkan 19.967% kadar air, 1.585% kadar abu, 1.786% gula total, serta uji organoleptik terhadap warna 3.590 (coklat gelap), tekstur 3.340 (lembut), flavor jewawut 2.855 (sedikit terasa) dan kesukaan keseluruhan 3.285 (disukai). Kata kunci : Brownies, tepung jewawut, tepung jagung, kadar protein.  ABSTRACT      Brownies is chocolate cakes made from flour, fat, eggs, sugar and chocolate. There are two methods of cooking brownies namely roasting and steaming. This study uses millet flour and maizena flour to produced gluten free steamed brownies. This study aims to determine the best of flour formulated which has highest protein content in steamed brownies and to knew the optimal steaming time that produced the most favored  of  steamed brownies millet flour and  corn flour. This study used a completely randomized design (CRD) with two factorials, the first factor is ratio of millet flour and corn flour (50:50, 40:60 and 30:70), while the second factor was the duration of steaming process (30, 40 and 50 minutes). The result of the study showed steamed flour of millet flour and corn flour with ratio of 50:50 and with steamed process duration 50 minutes is the best ratio because it had the highest protein content of 5.828%.  In this treatment yielded 19.97% moisture content, 1.585% ash content, 1.786% total sugar and organoleptic test is 3.590 (dark chocolate) colors, 3.340 (soft) texture, 2.855 (slightly felt) millet flavors and 3.285 (preferred) overall preferences. Keywords :  Brownies, millet flour, corn flour, protein content
PEMANFAATAN KARBON AKTIF UNTUK MENGURANGI CEMARAN FORMALIN PADA IKAN ASIN JAMBAL ROTI Erma Ayu Nurcahyani; Merkuria Karyantina; Nanik Suhartatik
JITIPARI Vol 5 No 1 (2020): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33061/jitipari.v5i1.3137

Abstract

Ikan asin adalah metode untuk pengawetan makanan menggunakan kombinasi penggaraman dan pengeringan matahari. Di kalangan masyarakat, pembuatan ikan asin banyak menggunakan bahan kimia berbahaya seperti formalin. Penambahan bahan berbahaya mempengaruhi kualitas terutama keamanan. Makanan yang aman didefinisikan sebagai makanan yang terbebas dari cemaran biologi, kimia, mikrobiologi, yang dapat mempengaruhi kesehatan. Karbon aktif diduga bersifat polar yang mampu mengadsorpsi formalin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian karbon aktif dalam mengurangi cemaran formalin pada “jambal roti”. Rancangan percobaan yang digunakan untuk percobaan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) 2 faktorial, dengan faktor pertama yaitu konsentrasi karbon aktif 0, 3, dan 6% serta perlakuan kedua yaitu lama perebusan selama 5, 10, dan 15 menit. Penelitian ini dimulai dari pembuatan “jambal roti” dengan penambahan formalin dan perebusan dengan karbon aktif kemudian dianalisis uji kadar formalin, NaCl, protein, dan air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi karbon aktif dan lama perebusan memberikan pengaruh yang signifikan pada kualitas jambal roti. Semakin tinggi konsentrasi karbon aktif dan lama perebusan maka semakin berkurangnya kadar formalin pada jambal roti. Hasil terbaik penelitian ini adalah karbon aktif 6% dan lama perebusan 15 menit. Menghasilkan formalin 3.21 ppm, NaCl 9.40%, protein 42.00%, dan air 30.02%. Kata kunci: Karbon Aktif, Formalin, Jambal Roti, Lama Perebusan. ABSTRACT                 Salted fish was a method for food preservation using combination of salting and sun drying. Among the people, the manufacture of salted fish use hazardous chemical material such as formaldehyde. The addition of hazardous substances affects the quality especially the safety. Safe food define as food that free from biological, chemical, microbiological contaminants that can affect health. Active carbon suspected to be polar which able to adsorb formaldehyde. The purpose of this research was to determine the influence of active carbon in reducing formaldehyde in salted fish “jambal roti”. The research used completely randomized design (CRD) with 2 factors, the first factor was the concentration of active carbon 0, 3, and 6% and the second was the boiling time (for 5, 10, and 15 min). This research was started from making “jambal roti” with the addition of formaldehyde and boiling with active carbon then analyzed for formaldehyde content, NaCl, protein, and moisture. The result showed that the concentration of active carbon and boiling time had a significant effect in quality salted fish “jambal roti”. The higher the concentration of active carbon and boiling time the more formaldehyde in “jambal roti” were removed. The best results of the research was 6% active carbon and 15 min of boiling time. Resulting 3.21 ppm of formaldehyde, 9.40% of NaCl, 42.00% of protein, and 30.02% of moisture. Keywords: Active Carbon, Formaldehyde, Jambal Roti, Boiling Time
FORMULASI SIRUP HERBAL DAUN KELOR (Morringa oleifera) DENGAN EKSTRAK BUNGA ROSELLA (Hibiscus sabdariffa L.) Alfonsus Airnando Bahtiam Ananta, Merkuria Karyantia & Yannie Asrie Widanti
JITIPARI Vol 4 No 2 (2019): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.194 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v4i2.3145

Abstract

Sirup termasuk minuman instan yang memiliki rasa dan aroma tertentu. Beberapa tanaman dapatdimanfaatkan sebagai bahan baku untuk formulasi sirup herbal antara lain daun kelor dan bunga rosella.Sirup daun kelor dan bunga rosella merupakan salah satu potensi sirup herbal dengan kandungan aktivitasantioksidan yang mudah dikonsumsi dan baik bagi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukanformulasi sirup herbal daun kelor dengan ekstrak bunga rosella sebagai minuman kesehatan bagi konsumendengan aktivitas antioksidan yang tinggi. Penelitian dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL)faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama yaitu daun kelor (5, 10, 15 g) sedangkan faktor keduaekstrak bunga rosella (5, 10, 15 g). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan konsentrasidaun kelor : bunga rosella 15:15 merupakan perlakuan terbaik didasarkan pada aktivitas antioksidan dan ujiorganoleptik terbaik yang terdapat pada sirup. Karakteristik sirup adalah pH 3,82, vitamin C 20,40 mg/100ml, total padatan terlarut 41,33%, aktivitas antioksidan DPPH 48,97%, gula total 13,82%, serta uji organoleptikterhadap warna 1,80 (merah muda), flavor kelor 2,56 (terasa kelor), flavor rosella 1,89 (terasa rosella), rasaasam 1,87 (terasa asam) dan kesukaan keseluruhan 1,72 (cukup disukai).Kata kunci: Formulasi sirup, daun kelor, rosella
KARAKTERISTIK KUE PUTRI SALJU MODIFIKASI TEPUNG KACANG KEDELAI (Glycine max (L) (Merr) DAN TEPUNG BERAS MERAH (Oryza nivara) Linda Florenta, Yannie Asrie Widanti & Nanik Suhartatik
JITIPARI Vol 4 No 2 (2019): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.672 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v4i2.3146

Abstract

Beras merah merupakan satu produk hasil pertanian yang menyehatkan karena banyak mengandungzat-zat gizi antara lain: mangan, magnesium, serat, dan mempunyai banyak manfaat seperti menghindaridiabetes, mencegah penyakit jantung, menurunkan kolesterol, dan meningkatkan HDL Penelitian inimenggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) dengan dua faktor yaitu rasio tepung beras merah,tepung mokaf, dan tepung kacang kedelai (3:4:3), (4:4:2), dan (5:4:1) dan penambahan jenis kacang tanah,kacang mete, dan kacang almond. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan rasio tepungberas merah, tepung mokaf, dan tepung kacang kedelai (4:4:2) dan penambahan kacang mete 250 grammenghasilkan kue kering putri salju terbaik dengan kadar air 5,11%, kadar abu 2,08% kadar protein 6,47%kadar lemak 25,56% gula total 2,81%; dan volume pengembangan 28,08%.Kata kunci: Kue putri salju, substitusi, tepung beras merah, tepung kacang kedelai
PERANCANGAN SOP (Standar Operating Procedure) PROSES PRODUKSI AMPLANG DI SENTRA INDUSTRI KECIL HASIL PERTANIAN DAN KELAUTAN (SIKHPK) TERITIP, BALIKPAPAN Nia Ariani Putri, Zulfatun Najah, Zulmaneri & Taufik Hidayat
JITIPARI Vol 4 No 2 (2019): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.204 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v4i2.3147

Abstract

Dalam rangka menggerakkan roda perekonomian nasional, pemberdayaan Industri Kecil Menengah(IKM) dinilai menjadi salah satu solusi yang tepat. Dengan adanya IKM mengakibatkan terjadinyapeningkatan penyerapan tenaga kerja sehingga mampu menekan angka pengangguran. Pendekatankelompok juga dinilai sebagai salah satu pilihan yang lebih baik dalam pengembangan IKM yaitu dalambentuk sentra IKM. Sentra Industri Kecil Hasil Pertanian Dan Kelautan (SIKHPK) Teritip merupakansalah satu sentra IKM yang terletak di Kalimantan, tepatnya di Kota Balikpapan yang memanfaatkan hasilpertanian dan hasil perikanan khususnya untuk diolah menjadi suatu produk, salah satu contohnya yaituamplang. Amplang merupakan makanan menyerupai kerupuk yang terbuat dari ikan. Proses produksiamplang meliputi proses persiapan bahan baku, pencampuran bahan, pencetakan, penggorengan, penirisan,dan pengemasan. Untuk menghasilkan produk amplang yang seragam dan dapat bersaing dengan produksejenis di pasar, maka dibutuhkan SOP proses prduksi amplang untuk menjamin mutu produk amplang yangdihasilkan. SOP dirancang menggunakan swimlane flowchart. Dalam proses produksinya, dibagi menjadibeberapa bagian yaitu bagian penerimaan bahan, produksi, pengemasan dan pemasaran yang masing-masingbagian mempunyai tugas masing-masing.Kata kunci: Sentra IKM, hasil perikanan, amplang, SOP.
KARAKTERISTIK ROTI TAWAR SUBTITUSI TEPUNG KENTANG (Solanum tuberosum L.) DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG DAUN KELOR (Moringa oleifera Lamk.) Novita Sari Aryani, Akhmad Mustofa & Yustina Wuri Wulandari
JITIPARI Vol 4 No 2 (2019): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.054 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v4i2.3148

Abstract

Roti tawar adalah suatu jenis makanan yang dibuat dari minimal empat macam bahan yaitu tepung terigu,air, ragi dan garam yang dicampur menjadi satu membentuk suatu adonan dan selanjutnya difermentasi dandipanggang. Penelitian ini bertujuan mengetahui presentase rasio tepung komposit (terigu-kentang) denganpenambahan tepung kelor sehingga menghasilkan roti tawar yang memiliki protein paling optimal dandisukai konsumen. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri 2 faktor denganmasing-masing 3 ulangan. Faktor pertama yaitu tepung terigu dan tepung kentang sedangkan faktor keduatepung daun kelor sehingga diperoleh perlakuan 900:100:10, 900:100:20, 900:100:30, 800:200:10, 800:200:20,800:200:30, 800:200:30, 700:300:10, 700:300:20 dan 700:300:30. Hasil penelitian terbaik menunjukan bahwakombinasi perlakuan konsentrasi tepung terigu:tepung kentang:tepung daun kelor 900:100:20 g didasarkanpada kadar protein paling tinggi dan organoleptik terbaik yang terdapat pada roti tawar. Pada perlakuan inidihasilkan kadar air 41,53%, kadar abu 8,62%, kadar protein 8,62%, kadar lemak 2,26%, kadar karbohidrat46,39%, volume pengembangan 145,36%, serta uji organoleptik terhadap warna 1,97 hijau, flavor kelor 2,44terasa, flavor kentang 1,62 terasa, tekstur lembut 3,03 lembut dan kesukaan keseluruhan 2,51 disukai.Kata kunci: Roti tawar, tepung daun kelor, tepung kentang, subtitusi.
ES KRIM KEDELAI HITAM (Glycine soja l) DENGAN PENAMBAHAN LIDAH BUAYA (Aloe vera) Roni Sanjaya, Nanik Suhartatik & Yustina Wuri Wulandari
JITIPARI Vol 4 No 2 (2019): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.111 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v4i2.3149

Abstract

Es krim adalah salah satu produk olahan yang menggunakan susu sebagai bahan dasar dan berbentukbeku. Penelitian ini menggunakan kedelai hitam sebagai bahan dasar pembuatan es krim. Kedelai hitamkaya akan protein yang dapat menggantikan bahan baku pembuatan es krim berupa susu sapi. Penelitianini juga menggunakan lidah buaya sebagai bahan tambahan yang dapat meningkatkan kualitas es krim.Penelitian ini bertujuan untuk menentukan es krim kedelai hitam dengan penambahan lidahbuaya terbaik ditinjau dari sifat sensorisnya. Selain itu juga untuk mengetahui karakteristik es krim kedelaihitam dengan penambahan lidah buaya meliputi: sifat fisik (overrun), sifat kimia (protein, lemak, dan totalpadatan), dan sifat fungsional (aktivitas antioksidan). Penelitian dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap(RAL) faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama adalah konsentrasi kedelai hitam (5, 15, 25 %)sedangkan faktor yang kedua variasi konsentrasi lidah buaya (1,5; 3; 4,5 %). Hasil penelitian menunjukanbahwa kombinasi perlakuan konsentrasi kedelai hitam dengan lidah buaya, dengan konsentrasi kedelaihitam 25% dan lidah buaya 4,5% merupakan perlakuan terbaik didasarkan pada kesukaan keseluruhanyang terdapat pada es krim. Pada perlakuan ini dihasilkan aktivitas antioksidan es krim kedelai hitamdengan penambahan lidah buaya sebesar DPPH 36,60%, kadar protein 9,42%, kadar lemak 4,62%,total padatan terlarut 29,33%, kecepatan meleleh 15,08 menit/10 gram, overrun 23,39% serta uji organoleptikterhadap warna 3,73 (kuning kehijaun), aroma langu 1,73 (tidak terlalu tinggi), tekstur 3,13 (lembut), dankesukaan keseluruhan 3,53 (paling disukai).Kata kunci: Es krim, kedelai hitam, lidah buaya.