cover
Contact Name
Akhmad Mustofa
Contact Email
garadaiva@gmail.com
Phone
+6287712362590
Journal Mail Official
jitipari@unisri.ac.id
Editorial Address
Jl. Sumpah Pemuda No. 18 Joglo Surakarta 57136
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI)
ISSN : 25029347     EISSN : 25794523     DOI : 10.33061/jitipari
JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) is a scientific periodical publication issued by the Faculty of Technology and Food Industry, Slamet Riyadi University, Surakarta. This journal holds the results of food research and also reviews of journals / articles in the food and industry sector. This journal is used to publish research results at the level of students, lecturers, and observers in the food sector.
Articles 280 Documents
PEMANFAATAN KOPI BIJI SALAK (SALACCA ZALACCA) DALAM PRODUKSI KUE KUPING GAJAH DENGAN VARIASI PENAMBAHAN EKSTRAK JAHE (ZINGIBER OFFICINALLE ROSCH) DAN BERAT TEPUNG TERIGU Merkuria Karyantina, Adam Anasti Apriyanto, Nanik Suhartatik &
JITIPARI Vol 1, No 2 (2016): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (877.322 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v1i2.1518

Abstract

Salak merupakan buah asli Indonesia yang sangat melimpah serta sudah banyak dimanfaatkan sebagai produk olahan makanan misalnya: dodol, manisan salak, selai salak, keripik salak, dan lain sebagainya. Industri olahan salak ini memiliki limbah yang cukup melimpah serta belum dimanfaatkan masyarakat, yaitu biji salak. Biji salak dapat diolah menjadi kopi biji salak dan tepung biji salak. Oleh karena itu peneliti memiliki gagasan untuk mengolah kopi biji salak sebagai bahan baku pembuatan kue kuping gajah. Kue kuping gajah merupakan makanan kecil tradisional khas Indonesia yang banyak terdapat di pasar maupun pusat oleh-oleh, memiliki bentuk yang unik serta rasa yang manis, enak dan renyah, tipis serta bermotif. Penambahan ekstrak jahe pada pembuatan kue kuping gajah diharapkan akan menambah flavor pada kue kuping gajah. Penelitian ini dilakukan dengan metode rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor yaitu substitusi kopi biji salak (10, 15, dan 20%) dan penambahan ekstrak jahe (5g, 10g, dan 15g/ml air). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan substitusi kopi biji salak dan penambahan ektrak jahe yang memiliki sifat kimia yang baik, dan secara keseluruhan lebih disukai panelis adalah 10% kopi biji salak dan penambahan ekstrak jahe 10 g/15 ml air. Hasil penelitian kue kuping gajah mengandung aktivitas antioksidan 66,96% RSA DPPH; kadar lemak 26,17%; kadar abu 1,05%; kadar protein 8,78%; kadar air 3,54%; dan kadar gula total 59,76%.Kata kunci: kue kuping gajah, kopi biji salak, ekstrak jahe.
KARAKTERISTIK ES KRIM LABU KUNING (CURCUBITA MOSCHATA) DENGAN VARIASI JENIS SUSU Akhmad Mustofa, Nurtika Sari, Yannie Asri Widanti &
JITIPARI Vol 2, No 2 (2017): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.878 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v2i2.1895

Abstract

Labu kuning merupakan sumber karoten (pro vitamin A) yang tinggi, serta mengandung antioksidansebagai penangkal radikal bebas. Labu kuning tersusun atas karbohidrat, protein, lemak, kalsium, fosfor,zat besi, vitamin A, vitamin B, vitamin C, dan air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenissusu dengan tingkat penambahan bubur labu kuning terhadap karakteristik fisik dan kimia es krim yangdisukai konsumen. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari2 faktor. Faktor pertama yaitu jenis susu (susu kedelai, susu sapi UHT, dan susu kambing) dan faktor yangkedua yaitu konsentrasi labu kuning (20, 30, dan 40%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa es krim labukuning dengan jenis susu kambing dan konsentrasi labu kuning 20% yang paling banyak disukai konsumendan memiliki karakteristik sebagai berikut: kadar protein 2,39%, kadar lemak 0,36%, kadar betakaroten555,79?g, kadar gula total 12,90%, kadar air 55,48%, kadar abu 1,45%, titik leleh 13,45 menit; warna kuning(2,05); aroma sangat khas susu (1,45); rasa labu kuning agak terasa (3,35); tekstur sangat lembut (1,40);disukai (1,55).Kata kunci: es krim, susu, fisikokimia, sensori, labu kuning.
SKRINING FITOKIMIA EKSTRAK ETIL ASETAT DAUN SIMPOR (DILLENIA SUFFRUTICOSA) Umar Santoso, Andre Yusuf Trisna Putra, Supriyadi &
JITIPARI Vol 4, No 1 (2019): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.558 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v4i1.3017

Abstract

Daun simpor (Dillenia suffruticosa) diketahui mengandung banyak senyawa yang memiliki aktivitasfarmakologi seperti antioksidan. Etil asetat merupakan pelarut yang bersifat semi polar sehingga dapatmenarik senyawa yang bersifat polar maupun nonpolar. Skrining fitokimia dilakukan untuk mengetahuigolongan senyawa yang terdapat dalam ekstrak etil asetat daun simpor segar dan kukus. Penelitian diawalidengan ekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut metanol 80% selama 48jam. Ekstrakmetanol daun simpor simpor dipartisi cair-cair dengan etil asetat. Ekstrak yang didapat kemudian dilakukanskrining fitokimia. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat daun simpor segar dankukus mengandung senyawa golongan tanin, polifenol, dan triterpenoid. Senyawa golongan saponin dantriterpenoid tidak terdeteksi pada daun simpor segar dan kukus. Perlakuan pengukusan tidak berpengaruhterhadap kandungan senyawa daun simpor.Kata Kunci : daun simpor; Dillenia suffruticosa, skrining fitokimia
PEMBUATAN SUSU KECIPIR DENGAN VARIASI BERAT WIJEN DAN LAMA PEREBUSAN Linda Kurniawati, Wirnaningsih &
JITIPARI Vol 1, No 1 (2016): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (676.482 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v1i1.1509

Abstract

Tuntutan diperolehnya produk susu dengan keamanan dan kandungan protein yang menyerupai sususapi menyebabkan dialihkannya perhatian pada sumber protein nabati. Biji kecipir (Psophocarpustetragonolobus) dapat diolah menjadi susu karena memiliki kandungan protein yang hampir setara dengankedelai. Dalam proses tersebut, selain bahan baku, juga perlu penambahan bahan lain agar hasilnya memenuhiselera konsumen. Biji wijen (Sesamun indicum L.) merupakan bahan pembantu yang dapat menghilangkan baulangu pada susu kecipir, karena jika biji wijen disangrai, akan mengeluarkan minyak yang beraroma sangatharum dan gurih. Minyak wijen ini juga berperan sebagai pengikat aroma dan katalisator, sehingga bau langudapat dihilangkan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL)faktorial yang terdiri atas 2 faktor yaitu penambahan biji wijen (0 g, 75 g, 85 g dan 95 g) dan lama perebusan (20menit, 25 menit dan 30 menit). Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam F pada jenjang 0,05. Jika adabeda nyata dilanjutkan uji jarak berganda Duncan (DMRT) 5 % untuk mengetahui beda nyata antar perlakuan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi penambahan berat wijen, maka kadar protein dan lemaksemakin meningkat. Pada perlakuan penambahan wijen 95 g dan lama perebusan 20 menit, menghasilkan susukecipir yang cukup disukai oleh panelis dengan didukung oleh faktor?faktor lain, yaitu kadar protein 2,846%,kadar lemak 3,348%, warna coklat muda sekali dan aroma kecipir (langu) tidak terasa.Kata kunci : Biji kecipir, berat wijen, lama perebusan, kualitas.
KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA DAN SENSORI ES KRIM TEMULAWAK (CURCUMA XANTHORRIZA) DENGAN VARIASI PENAMBAHAN BUBUR BUAH NANAS (ANANAS COMOSUS) Nanik Suhartatik, Citra Tiara, Merkuria Karyantina &
JITIPARI Vol 2, No 1 (2017): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.032 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v2i1.1533

Abstract

Temulawak merupakan salah satu jenis rimpang yang sering digunakan untuk bahan baku obat tradisional. Temulawak mengandung zat warna kuning (kurkumin). Begitu pula dengan nanas yang termasuk salah satu bahan pangan yang merupakan sumber antioksidan. Temulawak serta nanas belum banyak dimanfaatkan sebagai produk pangan, padahal keduanya memiliki kandungan antioksidan yang bermanfaat bagi tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan nilai ekonomis temulawak dan nanas dengan mengolahnya menjadi es krim yang juga mengandung antioksidan tinggi. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama temulawak (10, 20, dan 30 g) sedangkan faktor yang kedua bubur buah nanas (40, 50, dan 60 g). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik adalah kombinasi perlakuan ekstrak temulawak 30 g dan bubur buah nanas 60 g. Es krim temulawak nanas tersebut mempunyai karakteristik: kadar abu 0,855 %; kadar protein 1,458 %; kadar lemak 1,172%; aktivitas antioksidan 71,965 %; kecepatan meleleh 10,55 menit; overrun 7,02 %; warna kuning (3,933), tekstur lembut (3,800), rasa dan aroma temulawak terasa (4,000), rasa dan aroma nanas terasa (3,867), serta disukai oleh konsumen (2,867).Kata Kunci: Antioksidan, es krim, nanas, temulawak
KARAKTERISTIK MIE MERAH GLUTEN FREE DARI TEPUNG GADUNG (DIOSCOREA HISPIDA DENNST) DAN TEPUNG MOCAF DENGAN PENAMBAHAN GLISEROL Febi Diningtyas Listyawati, Sri Winarti, Murtiningsih &
JITIPARI Vol 3, No 2 (2018): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (817.064 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v3i2.2696

Abstract

Mie gluten free merupakan mie yang dibuat dari tepung selain terigu yang baik bagi anak penyandangautis. Gadung dan mocaf memiliki kandungan pati yang tinggi sehingga baik dikembangkan untuk produkmie bebas gluten. Salah satu upaya untuk memperbaiki karakteristik mie gadung-mocaf yaitu denganpenambahan gliserol sebagai plasticizer (pemlastis). Selain itu, guna memperbaiki tampilan mie dilakukanpenambahan sebagai pewarna alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi perlakuan terbaikantara tepung gadung-mocaf dan penambahan gliserol untuk menghasilkan mie yang disukai konsumen.Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial dengan 2 faktor yaitu proporsitepung (gadung:mocaf) (80%:20%; 70%:30%; 60%:40%) dan penambahan gliserol (1%; 2%; 3%). Data-datayang diperoleh dianalisis menggunakan analisa ragam, bila terdapat perbedaan nyata dilakukan uji duncan(DMRT).Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik adalah proporsi tepung gadung: tepung mocaf60%:40% dan penambahan gliserol 1%, yang menghasilkan mie kering dengan karakteristik kadar air 7,20%;kadar abu 1,49%; kadar pati 68,59%; kadar amilosa 12,55%; daya patah 10,44%; daya rehidrasi 118,89%; cookingloss 2,85%; dan elastisitas 29,24%. Hasil uji sensoris adalah nilai rata-rata warna 3,90 (agak suka); rasa 3,75(agak suka); tekstur 3,70 (agak suka); dan aroma 3,60 (agak suka). Hasil perlakuan terbaik dianalisa kadarprotein adalah 3,02%, warna L 48,6; a*24,4; b*14,2 dan aktivitas antioksidan 385,00 (mg/ml).Kata kunci : mie kering, tepung gadung, tepung mocaf, gliserol.
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN NATA DE ROSELA (HIBISCUS SABDARIFFA L.) DENGAN VARIASI LAMA EKSTRAKSI DAN BERAT BUNGA ROSELA Linda Kurniawati, Lisa Rosalia, Akhmad Mustofa &
JITIPARI Vol 1, No 2 (2016): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (844.069 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v1i2.1523

Abstract

Masyarakat Indonesia lebih suka mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung antioksidan karena dapat melindungi sel dari kerusakan yang disebabkan oleh radikal bebas. Tanaman sumber antioksidan salah satunya bunga rosela. Pigmen antosianin dalam rosela juga dapat dimanfaatkan sebagai pewarna alami dalam makanan dan minuman. Salah satu usaha yang akan dilakukan adalah mengolah bunga rosela menjadi nata. Penelitian ini bertujuan menghasilkan formulasi nata de rosela yang memiliki aktivitas antioksidan maksimal, berkualitas, dan disukai konsumen, serta mengetahui karakteristik kimia, fisika, dan sensori nata de rosela dengan variasi lama ekstraksi dan berat bunga rosela. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu lama ekstraksi (5, 10, 15, dan 20 menit) dan berat bunga rosela (5, 10, dan 15 gram). Hasil penelitian menunjukkan kombinasi perlakuan berat bunga rosela 15 gram dengan lama ekstraksi 5 menit menghasilkan nata de rosela yang mempunyai aktivitas antioksidan paling tinggi. Karakteristik nata de rosala tersebut adalah sebagai berikut: kadar air 87,94%; kadar abu 0,03%; kadar serat 2,06%; kadar gula yang dimanfaatkan dalam proses fermentasi 91,61%; aktivitas antioksidan 23,88%; ketebalan nata 0,96 cm, berat nata 1075 gram, tekstur 28,95 mm/g, cairan sisa fermentasi 30 ml, dan warna nata de rosela yaitu berwarna merah muda (2,27). Kata Kunci: nata de rosela, bunga rosela, berat bunga rosela, lama ekstraksi ABSTRACTIndonesian people were more likely to consume foods that contain antioxidants because
KARAKTERISTIK MINUMAN BERALKOHOL DENGAN VARIASI KADAR EKSTRAK BUAH BIT (BETA VULGARIS L.) DAN LAMA FERMENTASI Nanik Suhartatik, Rollyana Ajeng Ovihapsany Akhmad Mustofa
JITIPARI Vol 3, No 1 (2018): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.763 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v3i1.1989

Abstract

Buah bit (Beta vulgaris L.) merupakan sumber utama pewarna merah alami. Bit kaya akan karbohidratyang mudah menjadi energi serta zat besi yang membantu darah mengangkut oksigen ke otak. Bit bewarnamerah, warna ini disebabkan oleh gabungan pigmen ungu betasianin dan pigmen kuning betasantin. Salahsatu inovasi pemanfaatan buah bit yaitu pembuatan minuman beralkohol. Tujuan penelitian ini adalahmengetahui karakteristik kimiawi dan sensori wine buah bit dengan lama fermentasi dan persentase ekstrakbuah bit yang berbeda serta mengetahui tingkat penerimaan buah bit yang dijadikan minuman beralkoholbagi para konsumen. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari duafaktor. Faktor pertama yaitu konsentrasi ekstrak buah bit (10, 20, dan, 30%) dan faktor kedua yaitu variasilama fermentasi (8, 11, dan 14 hari). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak buah bit 20%dan lama fermentasi 11 hari paling optimal. Wine buah bit tersebut memiliki karakteristik sebagai berikut :kadar alkohol 4,82%, padatan terlarut 5,47%, kadar gula reduksi 0,67%, aktivitas antioksidan 48,08%, derajatkeasaman (pH) 4,23, kadar total asam 0,031%, warna merah maroon pekat, rasa yang sedikit pahit, aromaalkohol yang khas dan disukai oleh panelis.Kata kunci: Wine, bit, lama fermentasi
FORTIFIKASI ANTIOKSIDAN DARI BEKATUL BERAS MERAH (Oryza nivara) PADA TEMPE KEDELAI (Glycine max (L) meriil) DENGAN VARIASI LAMA FERMENTASI Permatasari, Oktavia; Suhartatik, Nanik; Mustofa, Akhmad
JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) Vol 5, No 1 (2020): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (34.809 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v5i1.3110

Abstract

Tempe merupakan salah satu produk fermentasi kedelai tradisional yang cukup terkenal, dengan menggunakan jamur Rhizopus oligosporus. Tempe mempunyai berbagai macam manfaat bagi kesehatan tubuh. Demikian juga dengan bekatul beras merah yang memiliki berbagai nutrisi yaitu kandungan antioksidan dan serat yang tinggi, mengandung banyak mineral. Di kalangan masyarakat, bekatul beras merah belum banyak dimanfaatkan terutama sebagai produk olahan yang memiliki nilai fungsional. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik kimia dan sensori tempe kedelai yang difortifikasi bekatul beras merah dan lama fermentasi, menentukan formulasi yang tepat dari tempe kedelai yang difortifikasi bekatul beras merah dengan lama fermentasi sehingga diperoleh tempe dengan aktivitas antioksidan dan serat yang tinggi serta disukai konsumen. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 2 faktorial. Faktor pertama adalah rasio kedelai dan bekatul beras merah (80:20; 70:30; 60;40), sedangkan faktor kedua adalah lama fermentasi (24, 36, 48 jam). Penelitian dimulai dari pembuatan tempe yang difortifikasi bekatul beras merah kemudian dianalisis menggunakan analisis kadar air, kadar abu, kadar protein, aktivitas antioksidan, kadar serat, dan analisis uji organoleptik meliputi warna, rasa, aroma, kekompakan, dan kesukaan keseluruhan. Hasil penelitian yang terbaik adalah pada rasio kedelai dan bekatul beras merah 60:40 dengan lama fermentasi 48 jam didasarkan pada hasil pengujian kimia antioksidan dan serat terbaik. Pada perlakuan ini dihasilkan kadar air 51,34%, kadar abu 8,90%, kadar protein 21,62%, aktivitas antioksidan 72,03%, dan kadar serat 23,44%, sedangkan untuk pengujian organoleptik yang meliputi warna 3,66(merah bata); aroma 3,24 (aroma bekatul beras merah kuat); rasa 3,54 (rasa bekatul beras merah sangat kuat); kekompakan 3,73(kekompakan tempe sangat kuat); dan kesukaan keseluruhan 3,35 (suka). Kata kunci: Tempe, bekatul beras merah, antioksidan, serat, lama fermentasi.ABSTRACTTempeh is one of the well-known traditional soybean fermentation products, using the mushroom Rhizopus oligosporus. Tempeh has a variety of health benefits. Moreover, red rice bran which has a variety of nutrients that contain antioxidants and high fiber, and contain lot of minerals. Among the people, red rice bran has not been widely used, especially as a processed product that has functional value. This study aims to determine the chemical characteristics and sensory of soybean tempeh fortified with red rice bran and fermentation duration, to determine the appropriate formulation of soybean fortified soybean rice bran with fermentation duration so that tempe is obtained with antioxidant activity and high fiber as well as consumer preference. This research was conducted using two factorials Completely Randomized Design (CRD) The first factor was the ratio of soybean and rice bran (80:20; 70:30; 60:40), while the second factor was the duration of fermentation (24, 36, 48 hours). The study began with the making of tempeh fortified with red rice bran and then analyzed for water content analysis, ash content, protein content, antioxidant activity, fiber content, organoleptic test analysis including color, taste, aroma, compactness, and overall preference. The best results was at the ratio of 60:40 soybean and rice bran with fermentation duration 48 hour based on the results of testing the best chemical antioxidants and fiber. At this treatment produced 51,34% water content, 8,90% ash content, 21,62% protein content 72,03% antioxidant activity, and 23,44% fiber content, while for organoleptic testing which includes the color of 3,66 (brick red); aroma 3,24 (strong red rice bran aroma); flavor 3,54(flavor red rice bran very strong); compactness 3,73(compactness of tempeh is very strong); and overall preference 3,35 (likes). Keywords: Tempeh, red rice bran, antioxidant, fiber, long fermentation.
KARAKTERISTIK KIMIA DAN SENSORI COOKIES JAHE (ZINGIBER OFFCINALE ROSCOE) DENGAN VARIASI PENAMBAHAN TEPUNG BIJI ALPUKAT (PERSEA AMERICANA MILL) Nanik Suhartatik, Rendra Lukmana Septiaji, Merkuria Karyantina &
JITIPARI Vol 2, No 2 (2017): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.294 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v2i2.1900

Abstract

Cookies merupakan salah satu produk makanan yang popular di masyarakat. Bahan baku cookies adalahtepung terigu, yang sampai saat ini masih impor dari luar negeri, sehingga ketergantungan tepung terigucukup tinggi. Pemanfaatan tepung biji alpukat akan mengurangi penggunaan tepung terigu dan dapatmengolah limbah dari alpukat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi dan karakteristik cookiesdengan substitusi tepung biji alpukat dan tepung jahe. Penelitian ini dilakukan dengan metode rancanganacak lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor yaitu rasio tepung biji alpukat (10, 20, 30%) dan tepungjahe (2, 4, 6%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan rasio tepung biji alpukat 10%dan tepung jahe 2% yang terbaik. Perlakuan tersebut menghasilkan karakteristik sebagai berikut kadar air3,28%, kadar abu 1,53%, kadar protein 5,75%, Kadar lemak 30,60%, Kadar gula 33,36%, volume pengembangan1,07%, warna ( 1,80%), rasa (2,13%), kerenyahan (1,93%) dan disukai panelis (3,80%).Kata kunci: cookies, tepung biji alpukat, tepung jahe, substitusi

Page 3 of 28 | Total Record : 280