cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Buletin Farmatera
ISSN : 2528410X     EISSN : 2528410X     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2016)" : 6 Documents clear
Mengenal Kelenjar Prostat Muhammad Mirwan
Buletin Farmatera Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.507 KB) | DOI: 10.30596/bf.v1i1.826

Abstract

Ketika berbicara tentang prostat, hal yang terlintas dipikiran adalah laki-laki. Kelenjar prostat adalah salah satu organ yang dimiliki oleh pria termasuk ke dalam sistem urogenital. Secara anatomi, prostat termasuk salah satu kelenjar yang letaknya berada di bawah kandung kemih, mengelilingi saluarn uretra, memiliki berat sekitar 18 sampai 20 gram. Berdasarkan McNeal (1972) prostat memiliki zona-zona yaitu zona perifer, zona sentral dan zona transisi. Sekitar 70% dari prostat merupakan kelenjar sedangkan 30% lainnya merupakan otot.
Prostat Spesifik Antingen Isra Thristy
Buletin Farmatera Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.23 KB) | DOI: 10.30596/bf.v1i1.793

Abstract

PendahuluanKelenjar prostat merupakan salah satu organ yang hanya terdapat pada pria. Salah satu gangguan pada kelenjar prostat adalah keganasan kelanjar prostat dan penyebab kanker kelenjar prostat belum diketahui secara pasti. Faktor resikonya meningkat dengan bertambahnya usia (biasanya terjadi pada usia 50 tahun keatas). Selain itu, faktor resiko lain adalah adanya riwayat penyakit keluarga. Salah satu cara untuk mendeteksi adanya keganasan adalah dengan pemeriksaan Prostat Spesifik Antigen (PSA) yaitu suatu molekul glikoprotein yang dihasilkan di kelenjar prostat.
Tips Mengenal Pembesar Kelenjar Prostat Jinak Dan Ganas Humairah Medina Liza; Susi Lusanna; Fionna Masitah
Buletin Farmatera Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.284 KB) | DOI: 10.30596/bf.v1i1.792

Abstract

PendahuluanKelenjar prostat merupakan organ fibromuskuler yang berfungsi sebagai kelenjar aksesoris yang terletak dibawah vesika urinaria, berguna untuk menghasilkan semen  untuk memberi kekuatan terhadap sperma untuk  melintasi jalan vagina yang cenderung bersuasana asam, dan mengelilingi uretra pars prostatika. Selain mengandung jaringan kelenjar, kelenjar prostat banyak mengandung jaringan fibrosa dan jaringan otot. Kelenjar prostat dapat membesar seiring dengan pertambahan usia dengan beberapa hipotesis yang mendukung sebagai penyebab diantaranya hipotesis stem sel, keseimbangan estrogen dan testosteron, dihidrotestosteron, dan hipotesis “Growth Factor”.
Pengobatan Hipertrofi Prostat Non Operatif Sahrul Rahman
Buletin Farmatera Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.619 KB) | DOI: 10.30596/bf.v1i1.823

Abstract

Kelenjar prostat adalah salah satu organ genitalia pada pria yang terletak di sebelah inferior buli-buli dan melingkari uretra posterior. Jika mengalami pembesaran organ ini dapat menyumbat uretra pars prostatika dan menyebabkan terhambatnya aliran urine yang keluar dari buli-buli. Bentuknya sebesar buah kenari dengan berat normal pada orang dewasa ± 20 gram.  Benign Prostatic Hyperplasia adalah suatu keadaan dimana kelenjar prostat mengalami pembesaran memanjang ke atas ke dalam kandung kemih dan menyumbat aliran urine dengan cara menutupi orifisium uretra.
Tinjauan Anatomi Klinik Pada Pembesaran Kelenjar Prostat Hendra Sutysna
Buletin Farmatera Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.695 KB) | DOI: 10.30596/bf.v1i1.825

Abstract

Kelenjar prostat telah menarik minat dunia kedokteran karena pembesaran kelenjar prostat atau Benign Prostatic Hyperplasia (BHP), sering terjadi setelah usia paruh baya, yang menyerang hampir setiap laki-laki yang hidup cukup lama. Di seluruh dunia, hampir 30 juta pria yang menderita gejala yang berkaitan dengan pembesaran prostat, di USA hampir 14 juta pria mengalami hal yang sama. Penduduk Indonesia yang berusia tua jumlahnya semakin meningkat, diperkirakan sekitar 5% atau kira-kira 5 juta pria di Indonesia berusia 60 tahun atau lebih dan 2,5 juta pria diantaranya menderita gejala saluran kemih bagian bawah (Lower Urinary Tract Symptoms/LUTS) akibat BPH.3 Kelenjar prostat yang membesar berproyeksi kedalam vesica urinaria  dan mengganggu urinasi dengan mendistorsi uretra pars prostatika, semakin  seseorang mengedan semakin massa prostatik  yang bersifat seperti katub menyumbat uretra. BHP merupakan penyebab lazimnya obstruksi uretra, yang menyebabkan nokturia (ingin berkemih sepanjang malam), disuria (kesulitan dan/atau nyeri selama berkemih). BHP juga meningkatkan resiko infeksi vesika urinaria (sistitis) serta kerusakan ginjal lainnya.
Tinjauan Penggunaan Penghambat Adrenergik 1A Pada Terapi Benign Prostatic Hypertrophy Ilham Hariaji
Buletin Farmatera Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.086 KB) | DOI: 10.30596/bf.v1i1.791

Abstract

PendahuluanPenghambat Adrenergik merupakan sekelompok senyawa yang bekerja menghambat saraf adrenergik. Golongan obat ini dibagi menjadi antagonis adrenergik reseptor (adrenoseptor)  dan penghambat saraf adrenergik.Antagonis adrenoseptor sering juga dikenal dengan nama adrenoseptor bloker, mekanisme kerjanya adalah berkompetisi dengan neurotransmiter adrenergik menduduki reseptornya sehingga terjadi hambatan impul saraf yang diperantarai oleh neurotransminter adrenergik sehingga organ efektor yang dipersarafinya efeknya menjadi berkurang, kita ketahui bahwa reseptor adrenergik terdiri dari reseptor α1, α2, β1, β2 ,β3.

Page 1 of 1 | Total Record : 6