cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Buletin Farmatera
ISSN : 2528410X     EISSN : 2528410X     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2016)" : 6 Documents clear
Tinjauan Efektifitas Minyak Perawan Buah Kelapa Terhadap Penurunan Kadar Gula Darah Yenita FK UMS
Buletin Farmatera Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.16 KB) | DOI: 10.30596/bf.v1i2.840

Abstract

Kesehatan  adalah  harta   manusia   yang  paling  berharga.  Manusia   tidak jarang  harus  mengeluarkan  biaya   sedikit untuk memulihkan kesehatan yang terganggu. Diabetes melitus merupakan penyakit kronis metabolik yang memerlukan pengelolaan seumur hidup baik pengobatan farmakologis maupun non farmakologis. Salah satu masalah besarnya biaya pengobatan jangka panjang, sehingga perlu mencari obat antidiabetes yang relatif murah dan terjangkau masyarakat. Sebagai salah satu alternatif adalah dengan menggali khasanah budaya bangsa melalui penelitian tentang obat tradisional yang sudah lama digunakan masyarakat Indonesia.Pohon kelapa telah mendampingi kehidupan bangsa Indonesia sejak jaman nenek moyang ribuan tahun yang silam. Nenek moyang kita juga telah memahami pohon kelapa memiliki daya guna yang cukup tinggi, semua bagian pohon kelapa memberi manfaat bagi kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia.1 Minyak kelapa sejak dulu digunakan di dapur oleh emak-emak dan sang nenek menyemir rambutnya dengan menggunakan minyak kelapa . Mengonsumsi minyak kelapa sebagai obat, juga sudah dikenal oleh masyarakat Indonesia misalnya, ibu yang akan melahirkan selalu dianjurkan untuk mengonsumsi minyak kelapa setengah gelas menjelang melahirkan. Khasiatnya agar proses persalinan menjadi lebih mudah dan lancar. Tidak hanya itu, ASI pun menjadi lebih lancar.2Minyak kelapa murni/VCO  merupakan salah satu hasil olahan dari buah kelapa (Coconos nicifera). Tanaman kelapa banyak tumbuh di daerah tropis  sehingga minyaknya disebut juga minyak tropis (tropical oil). Pada tahun 1950-an para peneliti Amerika menganggap minyak kelapa adalah penyebab penyakit jantung dan pembuluh darah. Namun pada tahun 1954 peneneliti muda bernama, David Kritchevsky membantahnya dengan mempublikasikan dari hasil penelitiannya.3Saat ini boleh dikatakan VCO adalah karunia Allah SWT kepada umat manusia, terutama untuk kesehatan.2             VCO dapat digunakan dalam pencegahan maupun pengobatan  berbagai penyakit (panacea), diantaranya penyakit diabetes melitus . Diabetes melitus adalah suatu kondisi dimana konsentrasi glukosa dalam darah tinggi  (hiperglikemia) akibat dari kekurangan insulin atau fungsi insulin tidak efektif. Penyakit ini telah dikenal ribuan tahun yang lalu dan kini dikenal sebagai penyakit akibat dari pola hidup modern.
Sindrom Rett Nanda Sa Sari Nuralita
Buletin Farmatera Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.933 KB) | DOI: 10.30596/bf.v1i2.836

Abstract

Perkembangan yang terlambat sering digunakan untuk menggambarkan anak-anak dibawah umur 5 tahun dengan menunjukkan keterlambatan secara signifikan dalam menunjukkan kemampuan ketrampilan motorik kasar dan halus, kemampuan berbicara dan bahasa, fungsi kognisi, sosial, ketrampilan pribadi, dan kemampuan untuk melakukan kegiatan sehari-hari.1Istilah retardasi mental sering disinonimkan dengan perkembangan yang terlambat, tetapi juga harus divalidasi dengan intellegence test (tes IQ). Retardasi mental mempengaruhi sekitar 1 sampai 2 persen dari populasi umum. Penyebab gangguan retardasi mental yang berat, dapat diidentifikasi pada 60 hingga 70 persen dari kasus dan kebanyakan berhubungan dengan kelainan genetik yang mengubah perkembangan dan fungsi otak, sehingga menimbulkan penyimpangan pada fungsi kognitif, tingkah laku, dan fisik. Gangguan retardasi mental yang sering ditemui antara lain fragile x, sindrom rett, dan sindrom prader-wili.1Sindrom rett sejauh ini hanya dilaporkan terjadi pada anak perempuan, yang telah dirinci dasar onsetnya, perjalanan penyakitnya, serta pola gejalanya. Secara khas ditemukan bahwa di samping suatu pola perkembangan awal yang normal atau mendekati normal terdapat suatu kehilangan ketrampilan gerakan tangan yang telah didapat, sebagian atau menyeluruh dan kemampuan berbicara, bersamaan dengan terdapatnya kemunduran/ perlambatan pertumbuhan kepala, yang biasanya terjadi sekitar usia 7 sampai 24 bulan.2 Gejala yang khas adalah, gerakan tangan seperti memeras sesuatu yang strereotipik, hiperventilasi, serta hilangnya kemampuan untuk gerakan tangan yang bertujuan. Perkembangan fungsi sosialisasi dan bermain terhenti pada usia 2 atau 3 tahun pertama, tetapi perhatian sosial cendrung untuk tetap dipertahankan. Pada usia menengah anak terdapat ataksia tubuh, apraksia, disertai skoliosis atau kifoskoliosis, dan kadang terdapat koreoatetosis. Selalu terjadi suatu dampak gangguan jiwa yang berat, pertama berkembang pada masa kanak awal atau menengah.2,3.
Peran Sitologi Aspirasi Jarum Halus dalam Mendiagnosis Pembesaran Kelenjar Salivari Kajian 227 Kasus Humairah Medina Liza; Agussalim salim
Buletin Farmatera Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (608.132 KB) | DOI: 10.30596/bf.v1i2.837

Abstract

Sitologi aspirasi jarum halus (Si-AJaH) telah diterima secara luas dan populer   di kalangan klinisi ahli kepala dan leher dalam menilai massa pada tiroid dan leher, tetapi dalam mengevaluasi tumor-tumor kelenjar salivari belum begitu banyak dimanfaatkan. Padahal Si-AJaH dapat digunakan sebagai alat diagnostik awal untuk mendiagnosis massa pada kelenjar salivari mayor dan beberapa kelenjar salivari minor. Letaknya yang superfisial menjadi target yang menguntungkan untuk pemeriksaan Si-AjaH, tetapi juga sering menjadi tantangan diagnostik tersendiri bagi ahli patologi, terutama dalam hal penentuan asalnya (kelenjar salivari atau non-kelenjar salivari), jinak atau ganas dan diagnosis spesifik jaringan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai sensitifitas dan spesifisitas Si-AjaH dalam mendiagnosis lesi-lesi jinak dan ganas pada kelejar salivari. Selama periode 5 tahun (Januari 2011 sampai Desember 2015), 227 pasien berusia antara 4 dan 90 tahun (rata-rata 47 tahun) menjadi subyek Si-AJaH dengan keluhan pembesaran di daerah kelenjar salivari. Rasio antara laki-laki dan perempuan adalah 1,96:1. Lesi didiagnosis secara Si-AJaH dan dikonfirmasi dengan 30 kasus histopatologi. Lesi non-neoplastik paling sering ditemukan (57,7%), diikuti oleh neoplasma jinak (34,8%), neoplasma ganas (7%), sitologi atipikal (0,5%). Lesi paling sering ditemukan pada daerah kelenjar parotis (45,8%) dibandingkan daerah submandibula (22%).  Adenoma pleomorfik merupakan neoplasma yang paling sering ditemukan sebanyak 51 kasus (22% ), diikuti oleh tumor Whartin sebanyak 28 kasus (12,3%). Keganasan dijumpai sebanyak 16 kasus (7%). Sensitivitas, spesifisitas, dan akurasi diagnostik dari Si-AJaH untuk semua lesi dari kelenjar salivari adalah 96% , 25%, dan 87%. Si-AJaH sangat berguna untuk diagnosis lesi kelenjar salivari. Namun, kesalahan pengambilan sampel dan interpretasi hasil mungkin saja terjadi. Keakuratan Si-AJaH tergantung pada keahlian  dan pengalaman dari cyto pathologist, juga keterampilan teknis dari klinisi yang melakukan biopsi. Metode ini efektif untuk membedakan lesi jinak dan ganas kelenjar salivari, tetapi tetap harus dilakukan pemeriksaan histopatologi untuk konfirmasi.Kata kunci : Sitologi aspirasi jarum halus, diagnosis, kelenjar salivari
Studi Pendahuluan Pengaruh Alpukat Terhadap Profil Lemak di Poli Penyakit Dalam Klinik Iman Rahman, Sahrul
Buletin Farmatera Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.98 KB) | DOI: 10.30596/bf.v1i2.838

Abstract

Penyakit kardiovaskuler adalah penyebab kematian tertinggi pada sebagian besar negara berkembang. Hiperkolesterolemia, yang merupakan faktor resiko untuk penyakit kardiovaskuler dapat diatasi melalui diet yang baik. Alpukat merupakan buah yang kaya lemak. Lemak alpukat termasuk lemak sehat, karena didominasi asam lemak tak jenuh tunggal oleat. Berdasarkan uraian tersebut maka perlu dilakukan penelitian mengenai pengaruh jus alpukat terhadap profil lemak pada manusia. Penelitian  ini menggunakan metode penelitian rancangan pre and post test only control group design untuk mengetahui pengaruh jus alpukat terhadap profil lemak pada manusia. Sebelum studi dimulai (H-7) peserta diminta untuk tidak mengkonsumsi alpukat, kemudian pada saat awal studi dilakukan pengambilan darah untuk dilakukan pemeriksaan profil lemak. Setelah itu, peserta studi diberikan alpukat yang dibuat dalam bentuk sediaan jus selama 14 hari untuk kemudian dilakukan pemeriksaan profil lemak kembali dan dibandingkan hasilnya. Terjadi penurunan kadar kolesterol total dan LDL kolesterol serta peningkatan kadar HDL kolesterol yang bermakna secara statistik setelah diberikan jus alpukat selama 14 hari. Walaupun dari hasil studi juga didapat peningkatan kadar trigliserida tetapi peningkatan tersebut tidak bermakna secara statistik. Pemberian jus alpukat dengan kadar 1 gelas sehari mempunyai efek yang baik berupa efek protektif terhadap risiko aterosklerosis.Kata Kunci: aterosklerosis, jus alpukat, profil lemak.
Diagnosis Cepat (Rapid Diagnosis) Dengan Menggunakan Tes Sederhana Dari Sekret Hidung Pada Penderita Rinosinusitis Siti Masliana Siregar
Buletin Farmatera Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.658 KB) | DOI: 10.30596/bf.v1i2.1272

Abstract

Abstrak: Sinusitis adalah suatu penyakit yang paling sering dijumpai pada tingkat layanan primer, dimana di Amerika Serikat dapat dijumpai sebanyak 32 juta kasus sinusitis pertahunnya. Saat ini sinusitis lebih sering disebut dengan rinosinusitis oleh karena kaitan anatomi yang erat antara hidung dan sinus paranasal. Rinosinusitis merupakan suatu proses peradangan pada mukosa atau selaput lendir sinus paranasal. Berbagai faktor berperan penting dalam perkembangan sinusitis, meskipun mekanismenya belum diketahui secara pasti. Faktor tersebut meliputi faktor intrinsik yang terdiri dari faktor sistemik dan lokal serta faktor ekstrinsik.Hidung dan sinus paranasal merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan oleh karena berhubungan erat dalam patofisiologi suatu rinosinusitis. Silia padda hidung dan sinus paranasal bergerak secara ritmik sekitar 9 mm/ menit dimana waktu pembersihan silia (mucociliary clearance time) dengan transport saccharine sekitar 7-11 menit. Sel-sel goblet di sekresi sebanyak 1-2 liter atau 10-30 ml/kg cairan mukus perhari, dan membentuk selimut di mukosa hidung dan sinus paranasal. Lapisan selimut di mukosa ini dapat menangkap partikel-partikel yang dihirup melalui hidung dan sangat efisien pada partikel ukuran diameter 10 µm ataupun lebih. Sekret ini terdiri dari IgA, lisozim dan memiliki pH 5.5-6.5, dimana semua berfungsi sebagai lingkungan yang bakteriostatik. Oleh karena mahalnya suatu pemeriksaan penunjang seperti CT scan ataupun foto polos hidung dan sinus paranasal, dan sering nya overlapping gambaran pada penyakit infeksi saluran nafas atas seperti rinitis alergi ataupun rinitis virus dalam hal mendiagnosis suatu rinosinusitis. Oleh karena itu pemeriksaan sederhna untuk mendiagnosis sinusitis dengan menggunakan tes sederhana dan cepat seperti pemeriksaan pH, lekosit esterase, protein, dengan menghitung clinical score
Hubungan Kebiasaan Melihat Dekat dengan Miopia pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Sahara Miranda; Elman Boy
Buletin Farmatera Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.133 KB) | DOI: 10.30596/bf.v1i2.839

Abstract

Abstrak : Kelainan refraksi yang paling banyak terjadi adalah miopia. Tingginya prevalensi miopia disebabkan berbagai faktor diantaranya faktor lingkungan dan genetik. Salah satu faktor lingkungan adalah lamanya aktivitas melihat dekat. Penelitian ini bertujuan untuk mencari hubungan kebiasaaan melihat dekat dengan miopia pada mahasiswa Fakultas Kedokteran UMSU angkatan 2009-2011. Penelitian ini bersifat analitik dengan pendekatan cross sectional, teknik pengambilan sampel dengan simple random sampling, terdiri dari 27 responden miopia dan 27 responden emetropia. Hasil penelitian ini menunjukkan miopia lebih banyak terjadi pada perempuan dan derajat beratnya miopia paling banyak adalah miopia ringan -0.25 s/d -3.00 dioptri (38,9%). Hasil yang diperoleh dari Uji Mann-Whitney untuk lamanya aktivitas membaca atau mengerjakan tugas kuliah, membaca untuk hobi, menonton TV, menggunakan komputer, bermain video game 0-14 jam/minggu dan 15-28 jam/minggu p<0,01. Untuk kegiatan yang dihabiskan 29-42 jam/minggu dan 43 jam/minggu p>0,01. Uji chi square untuk penggunaan kacamata terhadap orang tua p=0,277. Kesimpulan, Miopia tidak berhubungan dengan penggunaan kacamata terhadap orangtua, sedangkan hubungan kebiasaan melihat dekat yang ditinjau dari waktu yang dihabiskan responden menunjukkan statistik yang bermakna untuk waktu 0-14 jam/minggu dan 15-28 jam/minggu.Kata kunci : kebiasaan melihat dekat,lamanya aktifitas, miopia.

Page 1 of 1 | Total Record : 6