cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Al-MARSHAD: Jurnal Astronomi Islam dan Ilmu-Ilmu Berkaitan
ISSN : 24425729     EISSN : 25982559     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Al-Marshad: Jurnal Astronomi Islam dan Ilmu-Ilmu Berkaitan, published by the Observatorium Ilmu Falak, University of Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Medan, Indonesia, which includes articles on the scientific research field of Islamic astronomy observatory and others. Al-Marshad: Jurnal Astronomi Islam dan Ilmu-Ilmu Berkaitan accepts manuscripts in the field of research includes scientific fields relevant to: Islamic astronomy observatory and others. Al-Marshad: Jurnal Astronomi Islam dan Ilmu-Ilmu Berkaitan published Twice a year in June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2017)" : 7 Documents clear
Mengkaji Konsep Kalender Islam Internasional Gagasan Mohammad Ilyas Siti Tatmainul Qulub
Al-Marshad: Jurnal Astronomi Islam dan Ilmu-Ilmu Berkaitan Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : University of Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.171 KB) | DOI: 10.30596/jam.v3i1.1072

Abstract

AbstrakBagi umat Islam, kebutuhan akan sebuah kalender yang universal merupakan hal yang mendesak karena banyak kegiatan ibadah umat Islam terkait dengan waktu. Namun hingga saat ini Kalender Islam yang satu dan berlaku universal belum terwujud. Saat ini umat Islam di dunia masih menggunakan kalender lokal atau regional yang berlaku di wilayah atau negara masing-masing.Salah seorang peneliti yang konsen terhadap masalah Kalender Islam adalah Mohammad Ilyas. Ia adalah seorang astronom Muslim dari Malaysia yang memperkenalkan konsep Garis Tanggal Qamariyah Internasional (International Lunar Date Line). Di samping konsep yang digagas oleh Moh. Ilyas, sebenarnya masih ada beberapa konsep Kalender Islam Internasional yang telah digagas oleh ilmuwan lain. Namun hingga saat ini Kalender Islam yang berlaku Universal masih belum terwujud. Tulisan ini mengkaji tentang konsep Kalender Islam Internasional yang digagas Moh. Ilyas dan pengaruhnya terhadap penyelesaian perbedaan kalender Islam. Dari hasil kajian, ditemukan bahwa konsep Garis Tanggal Qamariyah Internasional yang ditawarkan Moh. Ilyas menyisakan masalah tentang mathla’ (karena garis tanggal selalu berubah-ubah tergantung konfigurasi Bulan dan Matahari), dan agak sulit diterapkan karena umat Islam menggunakan double standart yakni Kalender Masehi dan Hijriyah. Konsep kalender Moh. Ilyas memang belum bisa menyelesaikan masalah perbedaan Kalender Hijriyah, namun ia memberikan pengaruh terhadap terbentuknya kriteria visibilitas hilal dan model kalender Islam, yaitu kalender zonal dan kalender universal sebagai upaya penyatuan kalender Islam.Kata kunci: Moh. Ilyas, Kalender Islam Internasional, Perbedaan 
Menuju Ke Arah Pengembangan Ilmu Falak Ahmad Junaidi
Al-Marshad: Jurnal Astronomi Islam dan Ilmu-Ilmu Berkaitan Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : University of Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.229 KB) | DOI: 10.30596/jam.v3i1.1073

Abstract

Abstrak Pragmatisme, barangkali inilah racun yang sedang menjangkiti umat Islam. Tidak terkecuali para ilmuwannya, termasuk di dalamnya ilmuwan Falak. Apa yang sudah diletakkan dasar-dasarnya secara massif oleh salafus salih seakan hilang atau tidak mampu kita warisi. Sehingga Ilmu Falak hanya mengkaji waktu ibadah, yang itupun masih jauh dari kemaslahatan umat karena masih banyak menyisakan persoalan dalam penyatuan waktu ibadah umat Islam. Lebih parah lagi yang terjadi di Indonesia, sebuah metode bisa berubah menjadi aliran yang menjadi penciri dari organisasi kemasyarakatan. Sehingga gesekan antar ormas-pun sulit dihindari akibat perbedaan tersebut. Maka sudah waktunya kita kembalikan Ilmu Falak pada khittah asalnya, sehingga terbebas dari reduksi-reduksi yang tidak menguntungkan bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Pereduksian bidang kajian Ilmu Falak tidak membuat pemahaman terhadap ilmu ini semakin baik, tapi hanya mengarahkan kepada pragmatism berfikir dan mengkotak-kotak umat. Maka semangat integrasi keilmuan  dan unity of science yang diusung UIN, kita jadikan pijakan untuk mengembalikan Ilmu Falak kepada konsep awal yang digagas para pendahulu. Untuk mencapai hal tersebut, ada 2 hal yang harus segera dipersiapkan, yakni kurikulum dan sarana teknologi untuk menopangnya.Kata Kunci: ilmu falak, kauniyah, integrasi
Meretas Kebekuan Ijtihad Menghadap Arah Qiblat Dhiauddin Tanjung
Al-Marshad: Jurnal Astronomi Islam dan Ilmu-Ilmu Berkaitan Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : University of Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (887.759 KB) | DOI: 10.30596/jam.v3i1.1074

Abstract

AbstrakQibla (قبلة, also transliterated as Qiblah, Kibla or Kiblah) is an Arabic word for the direction that should be faced when a Muslim prays during Salat. Most mosques contain a niche in a wall that indicates the qibla. The qibla has importance to more than just the Salat, and plays an important part in everyday ceremonies.Kata-Kata Kunci : Qibla, jihah, syathrah, ‘Ainul Ka’bah, Mekah 
Ideal Moral Penetapan Awal Bulan Kamariah Ahmad Fadholi
Al-Marshad: Jurnal Astronomi Islam dan Ilmu-Ilmu Berkaitan Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : University of Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (82.775 KB) | DOI: 10.30596/jam.v3i1.1071

Abstract

AbstrakFazlur Rahman sangat berkepentingan untuk membangunkan kembali kesadaran umat Islam akan tanggungjawab sejarahnya dengan fondasi moral yang kokoh. Fondasi ini, hanya mungkin  bisa diciptakan jika al-Qur’an sebagai sumber ajaran moral yang sempurna dipahami secara utuh dan padu. Untuk mendukung tujuan tersebut, maka perlu bangunan metodologi yang benar dan akurat. Harus memahaminya dengan komprehensif, bukan parsial.Perbedaan penentuan awal bulan Ramadan dan Syawal atau awal bulan lainnya seperti sudah menjadi pemandangan umum umat Islam di Indonesia. Perbedaan ini bisa menjadi rahmat namun bisa malah menjadi laknat jika muslim yang berbeda merayakan tidak mau saling menghormati dan malah jadi jurang pemisah ukhuwah. Meskipun sudah sering berbeda namun alangkah baiknya jika perbedaan ini bisa disamakan demi kepentingan bersama. Untuk menyamakan cara penentuan ini, penulis memilih model pembaharuan pemikiran Islam Fazlur Rahman dari aspek metodologinya yakni metode penafsiran double movement atau gerakan gandanya adalah respon terhadap model penafsiran  dan  pemahaman  al-Qur’an yang bersifat ‛atomistik‛ serta pemahaman dan pendekatan yang sepotong-potong  terhadap  al-Qur’an  yang  biasa  digunakan para mufassir abad pertengahan, bahkan juga para mufassir tradisional era kontemporer sekarang ini.Kata Kunci: ideal moral, awal bulan, hisab-rukyah
Pemikiran Kalender Muhammad Basil ath-Tha’i Dalam Kitab “‘Ilm al-Falak wa at-Taqawim” Ahmad Fauzi
Al-Marshad: Jurnal Astronomi Islam dan Ilmu-Ilmu Berkaitan Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : University of Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.325 KB) | DOI: 10.30596/jam.v3i1.1075

Abstract

AbstrakPenanggalan merupakan sebuah sistem untuk mencatat peristiwa penting atau yang bersejarah bagi manusia. Penanggalan atau yang juga disebut almanak adalah sebuah sistem perhitungan yang bertujuan untuk pengorganisasian waktu dalam periode tertentu. Kitab falak dari Timur Tengah yang membahas tentang sistem kalender salah satunya adalah kitab Ilmu Al-Falak Wa At-Taqawim. Kitab tersebut adalah kitab kontemporer karya Muhammad Basil At-Tha’i. Dalam kitab karangan At-Tha’i tersebut membahas berbagai masalah tentang astronomi secara modern dan juga kalender.Metode hisab kalender yang digunakan oleh Muhammad Basil At-Tha’i dalam kitab Ilmu Al-Falak Wa At-Taqawim termasuk metode hisab ‘urfi yang perhitungannya bisa dilakukan dengan cara yang cepat dan sederhana. Metode perhitungan pada kitab ini menggunakan tabel-tabel yang dijadikan patokan dalam hisab penentuan awal bulan kamariah. Jadi, tingkat akurasi kalender ini tergolong rendah karena metode hisabnya hanya memperhitungakan perjalanan rata-rata Bulan.Untuk kelebihan sistem kalender ini yaitu perhitungannya masih sederhana dan mudah dipelajari untuk orang-orang yang baru belajar ilmu falak. Metode hisab ini termasuk dalam kriteria hisab aritmatik yang pada prakteknya bisa diterapkan dalam pembuatan almanak sepanjang masa untuk keperluan sipil dan adminstrasi. Serta metode hisab ini juga menambah khazanah keilmuan falak. Sedangkan untuk kekurangan dalam kalender ini yaitu perhitungannya masih bersifat sangat umum dan belum akurat, sehingga tidak bisa digunakan dalam patokan beribadah.Kata Kunci: Bashil at-Tha’I, kalender, hisab
Ihtiar Metodologis Nidhal Qassum Menuju Kalender Islam Internasional Muh Rasywan Syarif
Al-Marshad: Jurnal Astronomi Islam dan Ilmu-Ilmu Berkaitan Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : University of Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.564 KB) | DOI: 10.30596/jam.v3i1.1070

Abstract

AbstrakNidlāl Qassūm adalah intelektual muslim abad 21 yang turut serta mengambil andil dalam konsep kalender hijriah internasional dengan berusaha memformulsikan awal dan akhir bulan kamariah berdasarkan visibiliats hilal. Ia menemukan bahwa dengan prinsip visibilitas hilal akan ditemukan ketidak sesuaian keterlihatan di berbagai negara terutama untuk negara yang berada di belahan Timur dunia.  Konsep kalender Qassūm merupakan salah satu pemikiran kalender hijriah internasional yang menggunakan prinsip bizonal (membagi dunia menjadi dua zona). Zona Barat meliputi seluruh benua Amerika dan benua yang lain masuk dalam zona Timur. Dalam penentuan awal bulan, kalender Qassūm menggunakan kriteria hisab ijtimak qabla al-fajr di kota Makkah.Kata Kunci: Nidhal Qassūm, hisab, kalender internasional
Kalender Islam Global Antara Dilema dan Darurat Nur Anshari Anshari
Al-Marshad: Jurnal Astronomi Islam dan Ilmu-Ilmu Berkaitan Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : University of Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.706 KB) | DOI: 10.30596/jam.v3i1.1076

Abstract

AbstractThe preparation of the Global Islamic calendar along with the congress has been held in Turkey several months ago and resulted in a deal to be the Global Islamic calendar manifold single global calendar. In this paper the authors try to explore the opinions of experts related to the determination of the Islamic calendar. Is single calendar globally agreed upon at the congress Turkey was able to answer the question ijtihadiah far. Then how hilal criteria used in preparing the global Islamic calendar later. Thus, the author tries to explore astronomy expert opinion in defining the new moon, the proper method to pay attention and make sure that there is or not the new moon, or of the new moon is visible or not. It needs a long discourse and party to contribute in the preparation of a global Islamic calendar. After performing a search that rentet and complicated, can be given a red thread on criteria suitable for structured calendar is based on the visibility of the new moon. Not only looking at the height of the new moon or the elongation angle per se, but more than that. With visibility of the new moon map we were able to predict which areas are able to observe the new moon and which are not.Keyword: calendar, visibility, newmoon

Page 1 of 1 | Total Record : 7