cover
Contact Name
Anisul Fuad
Contact Email
anisulfuad77@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
anisulfuad77@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Empower : Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam
ISSN : 2580085X     EISSN : 25800973     DOI : -
The EMPOWER Journal focuses on the theme and topic of Development of Islamic Communities and Social Sciences Paradigms and Theories, including: 1) Management of Islamic Community Welfare. 2) Social History of Indonesian Islamic Society. 3) Development Studies. 4) Culture. 5) Islamic politics. 6) Islamic Geography. 7) Rural and Urban Sociology. 8) Community Development Management. 9) Economic Map of Muslims. 10) Ecology.
Arjuna Subject : -
Articles 151 Documents
UpayaPencarian Model Tata Kelola Air Lokal (StudiTentangImplementasi Program Penyediaan Air MinumdanSanitasiBerbasisMasyarakatatau PAMSIMAS) Di DesaSukamuktiKec.JalaksanaKab. KuninganJawa Barat Leli Nur Laeli
Empower: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.67 KB) | DOI: 10.24235/empower.v1i1.1494

Abstract

Desa Sukamukti merupakan salah satu desa di Kecamatan Jalaksana Kabupaten Kuningan yang mendapatkan bantuan Program Penyediaan  Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS).  Program PAMSIMAS mulai masuk ke Desa Sukamukti pada bulan Desember tahun 2012. Program ini dikelola oleh Badan Pengelola Sarana Penyediaan Air Minum dan Sanitasi (BPSPAM).Keberadaan PAMSIMAS di Desa Sukamukti mendapatkan respon yang berbeda dari masyarakat, ada yang pro dan ada yang kontra. Perbedaan pendapat ini terjadi karena masyarakat Desa Sukamukti sudah memiliki sistem pengelolaan air sendiri yaitu sistem Tuk (bak penampungan air).Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1). Bagaimana respon masyarakat Desa Sukamukti terhadap program PAMSIMAS?, (2) Bagaimana model-model pengelolaan air di desa Sukamukti?, (3) Bagaimana model tata kelola air yang seharusnya diterapkan di Desa Sukamukti berdasarkan kearifan lokal?.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana respon masyarakat Desa Sukamukti terhadap program PAMSIMAS dan mengetahui bagaimana model tata kelola air yang seharusnya di terapkan di Desa Sukamukti berdasarkan kearifan lokal.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data pada penelitan ini menggunakan (1) Wawancara (2) Observasi dan (3) Dokumentasi. Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan analisis data dari Miles dan Huberman yang terdiri atas (1) Reduksi data (2) Penyajian data dan penarikan kesimpulan.Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa respon masyarakat terhadap program PAMSIMAS saat ini ada yang pro dan ada yang kontra. Masyarakat yang pro terhadap program PAMSIMAS beranggapan bahwa program tersebut membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan air setiap harinya. Sedangkan masyarakat yang kontra terhadap program PAMSIMAS beranggapan bahwa program tersebut justru memberatkan masyarakat karena harus membayar setiap  air yang digunakan. Oleh karenanya, masyarakat yang kontra terhadap program PAMSIMAS lebih memilih tetap mempertahankan sistem pengelolaan air menggunakan tuk yang sudah ada sejak dahulu. Adapun bentuk pengelolaan air yang baik untuk diterapkan di Desa Sukamukti adalah sistem tuk air. Hal ini dilakukan dengan alasan pengelolaan sistem tuk air mengutamakan prinsip kearifan lokal dalam pengelolaanya. Keikutsertaan masyarakat serta pengambilan keputusan dalam pengelolaan sistem tuk air menjadi prioritas utama.  Namun, agar fungsi tuk lebih efektif maka  diperlukan pengembangan dalam pengelolaannya.Kata Kunci: PAMSIMAS, Tuk Air
PERAN FP KIBBLA SEBAGAI UPAYA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI KABUPATEN CIREBON khusnul khotima
Empower: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.934 KB) | DOI: 10.24235/empower.v3i1.2904

Abstract

ABSTRAKFenomena maraknya kematian ibu dan anak bayi baru lahir menjadi hal yang perlu untuk diperhatikan. Hal tersebut disebabkan kurangnya pengetahuan akan hal-hal terkait kehamilan bagi ibu, terutama di wilayah yang sulit tersentuh informasi. Fenomena tersebut menjadi alasan pentingnya pengadaan sosialisasi bagi kaum perempuan, terutama bagi calon ibu. FP KIBBLA Kabupaten Cirebon adalah salah satu lembaga kemasyarakatan yang peduli akan pentingnya pemberian informasi dan pengetahuan tentang kehamilan bagi masyarakat. Salah satu program yang telah dicanangkan adalah program EMAS dan MAMPU. Kata Kunci: FP KIBBLA, Program EMAS, Program MAMPU  ABSTRACTThe phenomenon of the rampant death of mother and newborn baby child becomes a matter that need to be paid attention. This is due to a lack of knowledge about pregnancy-related matters, especially in areas that are hard to touch with information. The phenomenon is the reason for the importance of socialization procurement for women, especially for prospective mothers. FP KIBBLA Kabupaten Cirebon is one of the social institutions concerned about the importance of providing information and knowledge about pregnancy for the community. One of the programs that has been announced is the program of EMAS and MAMPU. Keywords: FP KIBBLA, EMAS Program, MAMPU Program
Developing Practices in Multicultural Society Rosita Tandos
Empower: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.913 KB) | DOI: 10.24235/empower.v2i1.1645

Abstract

Globalization has brought people and cultures closed one another that affect the aspects of life. It has impact in shaping a multicultural society that consists of various ethnicity, race, class, and gender. Then, multiculturalism has been considered significantly in addressing issues experienced mainly by ethnicities and religious groups. Moreover, it play an important role in the current global condition in which the world recently becoming closer and inter-dependence.Therefore, community workers or any helping profession need to work for managing diversity, not just sufficiently celebrating and acknowledging it. Furthermore, social interventions and services at any aspects of life (social, cultural, education, economic and political) should also integrate the notion of diversities and pluralism, shaping the life of multicultural society.This paper aims to introduce the need for understanding and developing localities multiculturalism as a process that is always contextual, affecting significantly on community organizing and education programs. In discussing the main topic, this paper also focuses on three main frameworks: Islamic perspective and community development theories. These frameworks are used to figure out the challenges or issues existing in the life of communities, with identifying resources and developing a logical framework for community organizing and development as one of interventions to change system and policy.The paper covers two main points of multicultural society and developing practice in multicultural society. The last point specifically focus on the ideas of localities, mentioned by Ife (2002) and apply it in community work or practice. The discussion of this paper include the questions that want to be answered, followed by the discussion of the two main points, while the last session is conclusion that provides some recommendations for changing policy, improving program and services. Key words: multiculturalism, Islamic perspective, and community development
Peran Ulama dalam Pemberdayaan Masyarakat Marjinal: Ahmad Asmuni
Empower: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.594 KB) | DOI: 10.24235/empower.v2i1.1656

Abstract

Manusia dengan potensi akal yang dikaruniakan oleh Allah swt kepadanya, mestinya dapat mengantarkannya pada kehidupan yang bermakna dan sejahtera. Namun demikian, pada kenyataannya, ada sekelompok manusia yang termarjinalkan dari kelompok lainnya. Kelompok yang demikian dikenal dengan istilah kelompok marjinal atau masyarakat marjinal. Kelompok marjinal terbagi menjadi dua yakni; kelompok marjinal yang tradisional dan kelompok marjinal yang modern. Pada dasarnya kedua kelompok marjinal tersebut memerlukan solusi untuk bisa lepas dari ketermarjinalannya. Oleh karena itu, kelompok marjinal tersebut memerlukan sosok yang mampu menjadi perantara bagi terlepasnya mereka dari “symbol” sebagai masyarakat marjinal yang disandangnya. Dalam hal ini salah satu sosok yang dibutuhkan oleh mereka untuk bisa lepas dari symbol ketermarjinalan adalah sosok ulama yang dengan dakwahnya mampu mengantarkan mereka terlepas dari stempel sebagai masyarakat marjinal.    Kata Kunci: Ulama, Pemberdayaan, dan Masyarakat Marjinal. AbstractMan with the potential of reason which Allah granted to him, should be able to deliver it to a meaningful and prosperous life. However, in reality, there is a group of people marginalized from other groups. Such groups are known by the term marginal or marginal society. Marginalized groups are divided into two namely; Traditional marginalized groups and modern marginalized groups. Basically, the two marginal groups need a solution to get out of ketermarjinalannya. Therefore, the marginal group needs a figure capable of intermediary for their release from the "symbol" as the marginal society it bears. In this case one of the figures required by them to get away from the symbol of ketermarjinalan is a figure of scholars who with dakwah able to deliver them regardless of the stamp as a marginal society. Keywords: Ulama, Empowerment, and Marginal Society.
Peran Keluarga Sekolah Dan Masyarakat Dalam Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual Pada Anak di Desa Astanajapura Kecamatan Astanajapura Kabupaten Cirebon Meliyawati Meliyawati
Empower: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.844 KB) | DOI: 10.24235/empower.v1i1.1495

Abstract

Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan (UUPA No. 23 Tahun 2002) Anak juga memiliki hak asasi manusia yang harus diakui dan dihargai oleh masyarakat. Dalam Undang-Undang Perlindungan Anak semua lapisan masyarakat dituntut ikut berperan aktif dalam melindungi anak-anak Indonesia tidak terkecuali pihak sekolah dan lapisan masyarakat luas. Undang-Undang Perlindungan Anak pasal 45B ayat 1 berbunyi “pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat dan orangtua wajib melindungi anak dari perbuatan yang mengganggu kesehatan dan tumbuh kembang anak”. Dalam penelitian ini yang di maksud perlindungan anak lebih spesifik pada perlindungan anak terhadap kekerasan seksual.  Faktor terjadinya kekerasan seksual di Desa Astanajapura Kecamatan Astanajapura Kabupaten Cirebon di sebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya kebiasaan lingkungan masyarakat yang menerapkan pola asuh primisif. Semakin banyaknya kasus kekerasan seksual mendorong keluarga, sekolah dan masyarakat untuk menjalankan perannya masing-masing dalam upaya pencegahan kekerasan seksual pada anak. Ketiganya melakukan upaya pencegahan kekerasan seksual pada anak secara intern dan ekstern. Secara intern contohnya, seperti memberikan pemaham tentang anggota tubuh yang dilarang di sentuh oleh orang lain dan cara-cara melawan ketika ada yang melakukan hal yang tidak menyenangkan. ekstern yaitu dengan cara mengontrol, dan mengawasi anak, selain dari tiga unsur ranah tumbuh kembang anak (keluarga, sekolah, masyarakat) ada beberapa lembaga lain yang turut melakukan upaya pencegahan kekerasan seksual pada anak seperti Pemerintah desa, kepolisian dan Lembaga Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM). Kata kunci: keluarga, sekolah, masyarakat, upaya pencegahan, kekerasan seksual AbstractChild is a person under 18 (eighteen) years, including children who are still in the womb (BAL No. 23 of 2002) Children also have human rights that must be recognized and valued by the community. In the Child Protection Act required all levels of society to actively participate in protecting children Indonesia is no exception the schools and society at large. Child Protection Act Article 45B, paragraph 1 states that "governments, local governments, communities and parents must protect children from acts that damage the health and development of the child". In this study is the purpose of child protection more specifically on the protection of children against sexual abuse. Factors sexual violence in the village Astanajapura Astanajapura District Cirebon caused by several factors, one of which custom communities that implement primisif parenting. The increasing number of cases of sexual violence encouraging families, schools and communities to carry out their respective roles in the prevention of sexual abuse in children. All three take steps to prevent sexual abuse of children in internal and external. Internally for example, such as providing abiding of the body which is prohibited in touch by others and ways to resist when there are doing things that are not pleasant. External namely by controlling and supervising the children, aside from the three elements of the realm of child development (family, school, community) there are several other institutions participating in the prevention of sexual abuse of children as village government, police and Child Protection Agency Integrated Community Based (PATBM)  Keywords: family, school, community, prevention, sexual violence
Membangun Jiwa Entrepreneurship Fathurohmman Fathurohmman,
Empower: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.355 KB) | DOI: 10.24235/empower.v2i1.1646

Abstract

The soul is not a physical part of a person's mind and personality include, synonymous with the spirit, mind, or the crew themselves. The use of the term is more often associated with life compared to the mundane spirit. Personality includes mental and physical attitude. According to Professor Edwood Chapman, mental attitude is a way of communicating or expressing a mood or character to others. If our expression to others positively, then we called the person a positive mental attitude. Conversely, if our expression to others negative, then we called the person a negative mental attitude. While enrteprenuer is one who is able to create a new business as well as creative and innovative to take the risk and uncertainty in order to achieve profit and growth by identifying opportunities and threats as well as combining with its available resources.Entrepreneurship is the human soul owner who has a bit of foresight. He will always coexist interdependent with each other. Interdependent souls will bring glory to the appropriate disposition of individuals, human dignity has created for mutual interdependence, and able to take advantage of any of anything in the world.Key Word: Build, enrteprenuer.
Urgensitas Ulama dan Dakwah dalam Membangun Masyarakat Pedesaan Mustopa Mustopa
Empower: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.767 KB) | DOI: 10.24235/empower.v2i1.1657

Abstract

Manusia selalu berusaha untuk selalu bisa maju dan berkembang. Perkembangan kehidupan manusia yang lebih baik diantaranya ditandai dengan adanya pembangunan dalam berbagai aspek kehidupan, baik yang bersifat  jasmani maupun rohani. Untuk menghindari kesalahan/ kerusakan dalam pembangunan yang dilakukan masyarakat tentu perlu adanya arahan dari orang-orang atau pihak-pihak yang memiliki kompetensi terkait dengan masalah tersebut. diantaranya adalah pemerintah dan ulama. Masyarakat, dalam upanya membangun perlu mendapatkan arahan dari pemerintah dan ulama. Hal ini mutlak perlu agar pembangunan yang dilakukannya tidak bertentangan dengan nilai-nilai budaya dan agama. Dengan adanya arahan dan masukan dari pemerintah dan ulama, tentunya pembangunan dapat terarah dan terkontrol dengan baik. Sehingga pembangunan tidak merusak lingkungan yang pada gilirannya justru akan menjadi sumber kehancuran bagi masyarakat itu sendiri. Kata Kunci: Ulama, Dakwah, Pembangunan dan Masyarakat Perdesaan. AbstractHumans always try to always be able to move forward and develop. The development of human life is better marked by the presence of development in various aspects of life, both physical and spiritual. To avoid errors / damage in the development of the community would need the direction of the people or parties who have competence associated with the problem. Among them are government and ulama. The community, in its building, needs to get direction from the government and ulama. It is absolutely necessary that the development undertaken does not conflict with cultural and religious values. With the direction and input from the government and ulama, of course, development can be well directed and controlled. So that development does not damage the environment which in turn will be a source of destruction for society itself. Keywords: Ulama, Da'wah, Development and Rural Community. 
Implementasi Program Beras Untuk Keluarga Miskin (Raskin) Dan Dampaknya Bagi Keluarga Di Kelurahan Kenanga Kecamatan Sumber Kabupaten Cirebon Adawiyah, Robiatul
Empower : Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.968 KB) | DOI: 10.24235/empower.v1i2.1496

Abstract

Kemiskinan merupakan situasi kesengsaraan dan ketidakberdayaan yang dialami seseorang baik akibat ketidakmampuannya memenuhi kebutuhan hidup maupun akibat ketidakmampuan negara atau masyarakat memberikan perlindungan sosial kepada warganya. Sejak kemerdekaan banyak yang direncanakan pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan. Salah satunya upaya pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan dalam hal pangan yakni Program Raskin yang sudah 14 tahun dilaksanakan oleh pemerintah.Program Raskin adalah program subsidi beras untuk keluarga miskin. Upaya pemerintah membuat program ini diharapkan dapat meningkatkan ketahanan pangan Nasional serta perlindungan sosial pada Rumah Tangga Miskin-Penerima Manfaat (RTS-PM) dari program Raskin. Program Raskin muncul pada tahun 2002 sebagai bentuk evaluasi dari Program Operasi Pasar Khusus (OPK) Beras pada pertengahan tahun 1998.Salah satu Desa/Kelurahan yang memperoleh Program Raskin adalah Kelurahan Kenanga Kecamatan Sumber Kabupaten Cirebon.Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan implementasi program Raskin di Kelurahan Kenanga terhadap kesejahteraan masyarakat yang dapat direpresentasikan dari kondisi hidup masyarakatnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-kualitatif. Teknik penarikan informan dengan menggunakan purposive serta menggunakan tiga teknik pengumpulan data, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis dalam penelitian ini menggunakan metode analisis data di lapangan model Miles dan Huberman, yakni dengan melakukan reduksi data, penyajian data serta verifikasi atau penarikan kesimpulan. Setelah data terkumpul, maka langkah selanjutnya adalah melakukan triangulasi atau penggabungan.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi program Raskin yang ada di Kelurahan Kenanga tidak sesuai dengan aturan pemerintah. Hal ini disebabkan karena beberapa faktor, baik itu faktor dari masyarakat maupun dari pihak pemerintahnya itu sendiri. Namun pada dasarnya, ketidaksesuaian program Raskin tersebut merupakan kesalahan pemerintah dalam hal pendataan warga miskin dan proses implementasi yang kurang perhatian khusus, sehingga program Raskin yang ada di Kelurahan Kenanga tidak berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat Kenanga.Kata kunci: Kemiskinan, implementasi, program Raskin, RTS-PM.AbstractRobiatul Adawiyah, 14123541355, Implementation Program Rice for Poor Families (Raskin) and Impacts For Families In the village Sumber District Kenanga Cirebon, Thesis, Cirebon: Islamic Community Development Department (PMI) of the Faculty of Islamic Theology Preaching Adab IAIN Sheikh Nurjati Cirebon. Poverty is a situation of misery and helplessness experienced by a person either due to inability to meet their daily needs as well as due to the inability of the state or society provide social protection to its citizens. Since the independence of many planned by the government to alleviate poverty. One of them is the government's efforts to alleviate poverty in terms of food that Raskin is already 14 years carried out by the government. Raskin is rice subsidy program for poor families. Government efforts to make this program is expected to improve national food security and social protection to poor households-beneficiaries (RTS-PM) of the Raskin program. Raskin appeared in 2002 as a form of evaluation of the program Special Market Operation (OPK) Rice in mid-1998.Salah the Village / Sub obtaining Raskin is Kenanga village Sumber District Cirebon. The purpose of this study to describe the program implementation in Sub Kenanga Raskin on the welfare of society can be represented on the conditions of life in society. The method used in this research is descriptive qualitative. Mechanical withdrawal informants by using purposive and used three data collection techniques, ie observation, interviews, and documentation. The analysis in this study using data analysis in the field model of Miles and Huberman, namely by performing data reduction, data presentation and verification or conclusion. After the data is collected, the next step is to perform triangulation or merger. The results of this study indicate that the implementation of Raskin program in the Village Boxwood is not in accordance with government regulations. This is due to several factors, both factors of society and of the government itself. But basically, the mismatch of the Raskin program is the government's fault in terms of data collection and the implementation process of the poor who lack special attention, so programs that exist in the Village Raskin Kenanga no impact on improving the economy of the community Kenanga. Keywords: Poverty, implementation, Raskin program, RTS-PM 
PENGEMBANGAN MASYARAKAT (Sebuah Kerangka Koseptual) Suryadi Suryadi
Empower: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.966 KB) | DOI: 10.24235/empower.v3i1.2907

Abstract

ABSTRACT Community is a physical place, but it also can be defined as people who live in the same location, share common interests, jointly own or participate in something, share common characteristics, or have mutual relations. Development relates to realizing potential, growth or expansion of something, or making something more effective. Put together simply, community development is the act of growing, expanding or making more effective groups of people who have mutual interests. Many theories and strategies have been developed to attain community goals. There are also administrative and managerial aspects in designing approach in community development programs.Key words: community, development, strategies
DESA SIAGA AKTIF DAN KAMPUNG SIAGA AKTIF WUJUD APLIKASI KLINIK SOSIAL KESEHATAN REPRODUKSI Syaeful Badar
Empower: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (552.49 KB) | DOI: 10.24235/empower.v3i2.3513

Abstract

ABSTRAKKematian Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir yang kita kenal dengan istilah AKI/AKB di Indonesia hingga kini masih menjadi persoalan yang sangat luar biasa, kendati berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah belum berhasil menekan AKI/AKB. Selama ini persoalan AKI/AKB masih dianggap persoalan pemerintah yang digulirkan juga terlalu banyak melibatkan unsur pemerintah baik dari tingkat pusat sampai daerah peran unsur birokrat sangat dominan, sehingga kenyataan di lapangan program tersebut terkesan hanya papan nama dan retorika seremonial, yang hampir setiap perancangan menghabiskan biaya yang cukup besar. Sementara realitas public dimasyarakat sama sekali kurang di sentuh dan diperhatikan. Inilah yang kemudian menjadi penyebab AKI/AKB di Indonesia semakin bertambah. Pengalaman adalah guru yang baik, belajarlah dari pengalaman orang lain dan bertanyalah pada orang yang belajar dari realita. Mungkin kata-kata tersebut ada benarnya, artinya kalau program harus berhasil maka belajarlah dari keberhasilan penggalangan masyarakat desa melalui Gerakan Partisipatif Masyarakat dengan proyek percontohan Desa Siaga dan Kampung Siaga dengan mengembangkan Sistem Warga Siaga. Program Desa Siaga dan Kampung Siaga di Kota Cirebon Jawa Barat menjadi alternative rujukan berbagai dinas dan instansi dalam mengembangkan program Kesehatan Ibu dan Anak. Sehingga tidak mengherankan hingga hari Kota Cirebon sering dijadikan daerah kunjungan studi banding program KIA dari berbagai Propinsi, Kabupaten Kota dan Lembaga Asing lainnya. Kata Kunci: AKI dan AKB, Desa Siaga, dan Kampung Siaga; Kesehatan Ibu dan Anak; Gerakan Partisipatif ABSTRACTDeaths of Pregnant Women and Newborn Babies, which we know as AKI / AKB in Indonesia, is still a very extraordinary problem, despite various efforts made by the government that have not succeeded in suppressing AKI / AKB. So far, the issue of AKI / AKB is still considered a government issue which is also rolled out to involve too many elements of the government from the central level to the dominant role of bureaucrat elements, so that the reality on the program's field seems to be just a nameplate and ceremonial rhetoric, which almost every time costs which is quite large. While the public reality in the community is not at all touched and noticed. This is what later became the cause of AKI/AKB in Indonesia.Experience is a good teacher, learn from other people's experiences and ask people who learn from reality. Maybe the words have a point, meaning that if the program has to be successful, learn from the success of raising the village community through the Participatory Movement of the Community with the Desa Siaga and Siaga Village pilot projects by developing the Alert Residents System. The Alert Village and Alert Village program in the City of Cirebon in West Java is an alternative reference for various agencies and agencies in developing the Maternal and Child Health program. So it is not surprising that Cirebon City is often used as a visiting area for comparative study of MCH programs from various provinces, city districts and other foreign institutions. Keywords: AKI and AKB Alert Village, and Alert Village; Maternal and Child Health; Participatory Movement

Page 2 of 16 | Total Record : 151