cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mimbar Hukum - Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 25, No 3 (2013)" : 14 Documents clear
PARALLEL IMPORTS IN TRADEMARKS Agung Sujatmiko
Mimbar Hukum - Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Vol 25, No 3 (2013)
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.406 KB) | DOI: 10.22146/jmh.16076

Abstract

According to Article 3 of Act Number 15 of 2001 on Trademark, the exclusive nature of trademark rights legalizes monopoly. Based on this exclusivity, the right holders of trademarks can decide when and where they can first introduce a trademarked product to the market. This right is known as a distribution right. Once marketed however, the right holder cannot prevent their trademarked product being imported outside of the initial chosen market (exhaustion of rights). Menurut Pasal 3 UU Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek, bahwa hak atas merek bersifat khusus. Hak tersebut bersifat monopoli. Berdasarkan hak eksklusifnya, pemegang hak merek dapat memutuskan kapan dan dimana dia akan meletakkan produk yang terkait dengan kreasi intelektualnya di pasaran untuk pertama kalinya. Hal itu dinamakan hak distribusi. Manakala telah diputuskan pemasarannya, maka yang bersangkutan tidak dapat mencegah produk kreasi intelektualnya itu diimpor diluar wilayah pemasaran yang telah dipilihnya pertama kali (exhaustion right).
LAW ENFORCEMENT PREPAREDNESS FOR THE IMPLEMENTATION OF INDONESIA’S LAW ON JUVENILE JUSTICE SYSTEM Dani Krisnawati
Mimbar Hukum - Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Vol 25, No 3 (2013)
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.77 KB) | DOI: 10.22146/jmh.16081

Abstract

Paradigmatic changes stipulated in Law Number 11 of 2012 on Juvenile Justice System, including regulations concerning restorative justice and diversion require the competency and skills of the law enforcement officers. This research identifies measures that have been taken and the existing barriers in preparing for the implementation of this Law. The research demonstrates that the readiness of the investigators and child prosecutors are merely limited to the outreach of Law Number 11 of 2012, whilst knowledge of the court judges only covers the draft Law. The number of officers receiving outreach is limited and should be increased. Negative perception on the officers due to the risk of a bribery accusation is feared to hamper the implementation of diversion regulation based on a restorative justice. Perubahan paradigmatik yang termuat dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, termasuk diantaranya ketentuan mengenai keadilan restoratif dan diversi, memerlukan kompetensi dan keahlian aparat penegak hukum. Penelitian ini mengidentifikasi langkah yang telah dilakukan dan kendala persiapan implementasi Undang-Undang tersebut. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kesiapan penyidik dan penuntut umum anak masih terbatas pada partisipasi sosialisasi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012, sedangkan hakim anak memiliki pengetahuan hanya pada Rancangan Undang-Undang. Jumlah aparat yang menerima sosialisasi Undang-Undangmasih terbatas dan perlu ditingkatkan jumlahnya. Pandangan negatif terhadap aparat karena bisa menimbulkan dugaan suap dikhawatirkan menjadi penghambat diterapkannya ketentuan diversi dengan pendekatan keadilan restoratif.
SINERGI BUMN DALAM PENGADAAN BARANG DAN/ATAU JASA DALAM PERSPEKTIF PERSAINGAN USAHA Anna Maria Tri Anggraini
Mimbar Hukum - Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Vol 25, No 3 (2013)
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.771 KB) | DOI: 10.22146/jmh.16072

Abstract

From the Competition Law perspective, the basic principles of procurement among others are transparency, non-discrimination and efficiency. For that purpose some regulations were established such as Law No. 5 of 1999 and Presidential Regulation regarding bid rigging prohibition. However, still there is a ministerial regulation regarding the synergy of State-Owned Enterprises that contravene with fair competition principles that enable to appoint a subsidiary of a State-Owned Enterprises directly without bidding. Such practice is violation to Article 22 and Article 19 d of Law No. 5 Year 1999 concerning Prohibitionof Monopolistic Practices and Unfair Business Competition. Prinsip dasar sistem pengadaan barang/jasa dari perspektif Hukum Persaingan Usaha diantaranya transparansi, non diskriminasi, dan efisiensi. Untuk itu, dibentuk beberapa regulasi berupa undang-undang dan peraturan perundang-undangan seperti UU Nomor 5 Tahun 1999 dan Peraturan Presiden yang melarang persekongkolan tender. Namun demikian, terdapat peraturan yang bertentangan dengan prinsip persaingan yakni Peraturan Menteri tentang Sinergi BUMN, yang memberi peluang dilakukannyapenunjukan langsung kepada anak perusahaannya, untuk melaksanakan proyek pengadaan barang/jasa. Hal ini merupakan pengingkaran terhadap prinsip-prinsip persaingan usaha yang sehat, khususnya Pasal22 dan Pasal 19 huruf d UU Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
SETTLEMENT OF BANKING DISPUTE IN INDONESIA Denico Doly
Mimbar Hukum - Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Vol 25, No 3 (2013)
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.151 KB) | DOI: 10.22146/jmh.16077

Abstract

This article talks about dispute between costumer and the bank. Settlement of disputes should be resolved by the principle of fast, accurate and cheap. Issues raised in this paper is how an ideal dispute resolution process to resolve dispute banking. This paper describes the advantages and disadvantages in any dispute resolution process both through litigation and non litigation. Based in the principles of fast, accurate and cheap it is explained that banks in Indonesia must resolve their disputes through non litigation or ADR. Tulisan ini membicarakan mengenai penyelesaian sengketa antara nasabah dengan bank. Penyelesaian sengketa harusnya diselesaikan dengan prinsip cepat, tepat dan murah. Permasalahan yang diangkat dalam tulisan ini yaitu bagaimana proses penyelesaian sengketa yang ideal dalam menyelesaikan sengketa perbankan. Tulisan ini menggambarkan mengenai kelebihan dan kekurangan dalam setiap proses penyelesaian sengketa baik melalui jalur litigasi maupun non litigasi. Berdasarkan prinsip cepat, tepat dan murah maka dipaparkan bahwa perbankan di Indonesia harus menyelesaikan sengketanya melalui jalur non litigasi atau ADR.

Page 2 of 2 | Total Record : 14