cover
Contact Name
Argyo Demartoto
Contact Email
jas@mail.uns.ac.id
Phone
+62271637277
Journal Mail Official
jas@mail.uns.ac.id
Editorial Address
https://jurnal.uns.ac.id/jas/about/editorialTeam
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Analisa Sosiologi
ISSN : 23387572     EISSN : 26150778     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Analisa Sosiologi (JAS) diterbitkan per semester pada bulan April dan Oktober oleh Program Studi Magister Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta dengan ISSN : 2338 - 7572 (Print) dan ISSN: 2615-0778 (Online). JAS berdasarkan kutipan dan keputusan Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor: 21/E/KPT/2018, tanggal 9 Juli 2018 tentang hasil akreditasi jurnal ilmiah periode 1 tahun 2018, telah terakreditasi Peringkat 4 yang berlaku 5 Tahun, yaitu Volume 5 Nomor 1 tahun 2016 sampai Volume 9 Nomor 2 Tahun 2020. JAS memfokuskan diri pada hasil penelitian terkait isu-isu sosial-kontemporer di Indonesia, khususnya yang berkenaan dengan perkembangan masyarakat dari berbagai aspek. Selain itu, JAS juga menerima artikel yang bersumber pada telaah pustaka terkait dengan upaya pengembangan teori-teori sosiologi. Informasi mengenai JAS juga bisa diperoleh melalui media sosial.
Articles 225 Documents
POTENSI KONFLIK NON-REALISTIS DALAM KONFLIK ANTAR KELOMPOK ORGANISASI DAERAH (ORGANDA) MAHASISWA DI KOTA MAKASSAR Thania Novita Damayanti Hutagaol; Bambang Wahyudi; Djayeng Tirto
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v11i3.60268

Abstract

This research aims to describe the possibility of the recurrence of conflicts between regional student organizations, especially the Luwu and Bone Regional Student Organizations (IPMIL and KEPMI) in 2021, and the potential for conflict refers to non-realistic conflicts that pose a threat of violence not only for each group, but society as a whole. By understanding the potential for conflict, conflict can be anticipated and managed properly in order to achieve national peace and security, in particular avoiding opportunities for regional conflict to arise in Makassar City. The research method used is qualitative with a descriptive approach and data collection techniques for analysis of documentation studies.The results of this research indicate that conflict starts from individual conflict of group members which develops into conflict between groups. This conflict is more aimed at revenge efforts that prioritize the desire to injure and destroy the opposing party. Factors that influence the potential for non-realistic conflicts to become larger are strong group identities, irrational high solidarity, failure to handle conflicts, and protracted conflicts. In addition, there are several things that can be done to prevent potential non-realistic conflicts such as setting clear organizational goals, handling conflicts that promote positive peace, and safety valves.Keywords: Non-realistic Conflict, Regional Organization, Intergroup Conflict, Conflict. AbstrakPenelitian ini bertujuan menjabarkan kemungkinan kembali terulangnya konflik antar mahasiswa organisasi daerah khususnya Organisasi Daerah Mahasiswa Luwu dan Bone (IPMIL dan KEPMI) tahun 2021 dan potensi konflik tersebut mengacu pada konflik non realistis yang menjadi ancaman kekerasan tidak hanya bagi masing-masing kelompok, tapi masyarakat secara keseluruhan. Dengan mengetahui potensi konflik, konflik dapat diantisipasi dan dikelola dengan baik agar tercapai perdamaian dan keamanan nasional, khususnya menghindari peluang timbul konflik yang bersifat kedaerahan di Kota Makassar. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif dan teknik pengumpulan data analisis studi dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa konflik dimulai dari konflik individu anggota kelompok yang berkembang menjadi konflik antar kelompok. Konflik ini lebih bertujuan pada upaya balas dendam yang mengedepankan keinginan melukai dan menghancurkan pihak lawan. Faktor yang mempengaruhi potensi konflik non realistis menjadi lebih besar adalah identitas kelompok yang kuat, solidaritas tinggi yang tidak rasional, kegagalan penanganan konflik, dan konflik yang berlarut-larut. Selain itu, terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah potensi konflik non realistis seperti penetapan tujuan organisasi yang jelas, penanganan konflik yang mengedepankan perdamaian positif, dan katup penyelamat. Kata Kunci: Konflik Non-realistis, Organisasi Daerah (organda), Konflik Antar Kelompok, Konflik.
MUSISI MUDA, REFLEKSIVITAS DIRI DAN KARIER DIY DI ERA MODERNITAS LANJUT Oki Rahadianto Sutopo
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v11i3.59166

Abstract

This article examines the practice of self-reflexivity among young Indonesian musicians in the era of late modernity. In particular, young musicians’ musical practice from amateur phase into Do It Yourself (DIY) career become an important temporal and spatial dimensions of the analysis. This article applies self-reflexivity theory from Anthony Giddens as a tool of analysis. In addition, I also synthesis Giddens’ theory with youth culture and youth transition perspectives. This article makes use of qualitative method specifically life biographies as a tool to capture wider narrative of young musicians throughout their life course. This research finds that young Indonesian musicians are able to reflexively adaptive during transition from amateur into DIY carrier. Narratives of young musicians also reveal the empowering effect during their process of formulation and re-formulation of reflexive self. Young musicians are able to achieve self-actualization based on their individual’s aspiration. Thus, the self-reflexive characteristic as shown by young Indonesian musicians in this article can be a positive example for young people to maintain their transition in the era of late modernity. Keywords: Young Musicians, Self-Reflexivity, Youth Culture, DIY Career AbstrakArtikel ini membahas mengenai refleksivitas diri musisi muda Indonesia dalam era modernitas lanjut. Secara spesifik, praktik bermusik dalam perjalanan dari fase amatir menjadi karier Do It Yourself (DIY) menjadi dimensi temporal dan spasial yang penting. Teori refleksivitas diri dari Anthony Giddens digunakan sebagai alat bantu dalam melakukan analisis. Selain itu, teori tersebut juga disintesiskan dengan perspektif budaya kaum muda dan transisi. Secara metodologis, artikel ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan life biographies untuk melihat narasi yang lebih luas dalam daur hidup kaum muda. Berdasarkan temuan penelitian ditunjukkan bahwa musisi muda secara refleksif mampu adaptif baik pada fase amatir maupun pada fase karier DIY. Disisi lain, narasi musisi muda menunjukkan bahwa pembentukan dan penataan ulang diri secara refleksif justru bersifat memberdayakan dikarenakan baik dalam fase amatir maupun karier DIY mereka mampu melakukan aktualisasi diri sebagaimana yang diinginkannya. Karakteristik refleksivitas diri dari musisi muda dalam artikel ini dapat menjadi contoh positif dalam menjalani transisi kepemudaan di era modernitas lanjut.Kata Kunci: Musisi Muda, Refleksivitas Diri, Budaya Kaum Muda, Karier DIY
AKULTURASI BUDAYA DAN IDENTITAS SOSIAL DALAM GENDING JAWA KONTEMPORER KREASI SENIMAN KARAWITAN DI SURAKARTA Novel Adryan Purnomo; Argyo Demartoto
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v11i3.60576

Abstract

Javanese karawitan music is a part of Javanese community cultural. Globalization, and time and technology development lead to cultural acculturation between Javanese and out-of-Javanese cultural values in Javanese gending (musical composition for gamelan) or song as the representation of Javanese karawitan artists’ behavior that is also affected because Javanese values like good behavior, good manner and etiquette are manifested into pakem. Contemporary Javanese Gending Karawitan  divides social identity of artists into classical and contemporary gending artists. This research studies the phenomenon using Tajfel & Turner’s and Hogg & Abrams’s theory. The research was conducted on karawitan artists of Surakarta City using qualitative method with phenomenological approach. Technique of collecting data used was interview with contemporary-style karawitan composers and Abdi Dalem Niyaga of Surakarta Kasunanan Palace as the classical-style karawitan artists to obtain primary data. Data validation was carried out using source triangulation and data analysis using taxonomy technique. The result of research showed the categorization of social identity for Javanese karawitan artist into classical and contemporary ones, followed with emotionality in each of groups. At social categorization stage, artists divide the category by classical and contemporary gendings, and thereby the two groups are separated into in-group and out-group. Therefore, the perfection of social identity should be made at social categorization stage by growing their awareness of identity as the artists of Javanese karawitan. The perfection of social identity can compare their social identity inside group with the one outside Javanese karawitan art.    Keywords: Social Identity, Cultural Acculturation, Javanese Gending Karawitan, Artists. AbstrakKesenian musik karawitan Jawa merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat Jawa. Globalisasi, perkembangan zaman dan teknologi menyebabkan adanya akulturasi budaya antara nilai-nilai budaya Jawa dan luar Jawa dalam gending atau lagu Jawa sebagai representasi perilaku seniman karawitan Jawa ikut terpengaruh karena nilai-nilai masyarakat Jawa seperti ajaran berperilaku baik, sopan santun dan unggah-ungguh dituangkan dalam pakem. Gending karawitan Jawa kontemporer yang membagi identitas sosial seniman menjadi seniman gending klasik dan kontemporer. Penelitian ini mengkaji fenomena tersebut dengan teori identitas sosial Tajfel & Turner serta Hogg & Abrams. Penelitian dilakukan terhadap seniman karawitan Kota Surakarta menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara terhadap komposer karawitan gaya kontemporer dan Abdi Dalem Niyaga Kraton Kasunanan Surakarta selaku seniman karawitan gaya klasik sebagai data primer. Validitas data menggunakan teknik triangulasi sumber dan analisis data menggunakan teknik taksonomi. Hasil penelitian menunjukkan terjadi pembagian identitas sosial seniman karawitan Jawa menjadi gaya klasik dan kontemporer yang diikuti rasa emosional pada masing-masing kelompok. Pada tahap social categorization, seniman membagi kategori berdasar gending klasik maupun kontemporer, sehingga kedua kelompok terpilah menjadi in-group dan out-group. Oleh karena itu perlu dilakukan penyempurnaan identitas sosial pada tahap social categorization dengan menumbuhkan kesadaran identitas mereka sebagai seniman karawitan Jawa. Penyempurnaan identitas sosial dapat membentuk komparasi sosial identitas mereka tidak lagi di dalam kelompok melainkan terhadap kelompok di luar kesenian karawitan Jawa. Kata Kunci: Identitas Sosial, Akulturasi Budaya, Gending Karawitan Jawa, Seniman
RELASI PEMERINTAH-GERAKAN SOSIAL: STUDI PADA GERAKAN LINGKUNGAN JELANTAH4CHANGE Muhammad Wahyudi
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v11i3.59217

Abstract

Most recent studies on social movement assume that collective action carried out outside established institutions takes a position to challenge political authority or government. Within this framework, the conflict between social movement and government is inevitable. Nevertheless, it is possible for social movement to carry out their missions without having to conflict with political authorities. In other words, social movement can collaborate with the government, for instance around the issue of environmental protection. In this regard, this study aims to analyze and to describe the relationship between the government and environmental protection movements around the campaign of Jelantah4Change. This research employed a descriptive qualitative approach with the methods of observation, interviews, and document studies. The study was analyzed based on the social movement perspective of Giugni and Passy (1998). The result demonstrates that the interaction occurs between the government and Jelantah4Change is still in a form of consensus. In the future, the interaction between the two parties needs to be carried out in the form of collaborative action. Keywords: Government, Social Movement, Environment, Jelantah4Change AbstrakKebanyakan studi mengenai gerakan sosial mendasarkan asumsinya bahwa aksi kolektif yang dilakukan di luar institusi-institusi mapan mengambil posisi menantang otoritas politik atau pemerintah. Dalam kerangka ini, konflik antara gerakan sosial dan pemerintah menjadi tak terhindarkan. Namun, harus diketahui juga, bahwa ada gerakan sosial yang menjalankan misinya tanpa harus berkonflik dengan otoritas politik. Dengan kata lain, gerakan sosial bisa berkolaborasi dengan pemerintah. Penyelamatan lingkungan menjadi salah satu area dimana gerakan sosial bisa bekerja sama dengan pemerintah. Terkait itu, studi ini bertujuan untuk menganalisa dan mendeskripsikan relasi yang terjadi antara pemerintah dan gerakan sosial yang fokus pada perlindungan lingkungan. Studi dilakukan terhadap gerakan Jelantah4Change. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode observasi, wawancara, dan studi dokumen. Penelitian dianalisis berdasarkan perspektif gerakan sosial dari Giugni & Passy (1998). Hasilnya adalah interaksi yang terjadi antara pemerintah dan Jelantah4Change masih bersifat konsensus. Ke depan, interaksi antara keduanya perlu diwujudkan dalam bentuk tindakan kolaboratif.Kata Kunci: Pemerintah, Gerakan Sosial, Lingkungan, Jelantah4Change
PERLAWANAN PEREMPUAN MENGHADAPI PELECEHAN VERBAL Sinta Dwi Rahayu; Martinus Legowo
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v11i3.59176

Abstract

Gender inequality is a problem that can be found in countries that adhere to a patriarchal culture. Women become the cornered party in self-defense. The crime of verbal harassment is a threat faced by women. Verbal harassment is not a joke, but a real action that imprints and causes trauma to the victim. Verbal harassment can be said as a disguised crime that attacks the victim's psyche and is not realized by the community for the existence of the impact it causes. This study focuses on the efforts made by women in dealing with verbal abuse. This study uses a qualitative method with a phenomenological theory approach initiated by Hussrl. Data collection techniques used in-depth interviews and literature review to obtain rich and relevant data. Research Results Women are blamed by the community and perpetrators when they fight back during verbal harassment. Women were accused of the clothes they used, in addition, women were accused of not being able to respond to jokes in a relaxed manner. Verbal abuse that occurs in women leaves deep scars, causing a sense of trauma and distrust of others.    Keywords: Verbal Harassment, Resistance, Female AbstrakKetimpangan gender menjadi permasalahan yang dapat dijumpai di negara penganut budaya patriarki. Perempuan menjadi pihak yang disudutkan dalam melakukan pembelaan diri. Kejahatan pelecehan verbal menjadi ancaman yang dihadapi perempempuan. Pelecehan verbal bukan merupakan bahan lelulocon, melainkan tindakan nyata yang membekas dan menimbukan traumatis pada korban. Pelecehan verbal dapat dikatakan sebagai kejahatan tersamar yang menyerang psikis korban dan tidak disadari oleh masyarakat atas eksistensi dampak yang ditimbulkan. Penelitian ini berfokus pada upaya yang dilakukan oleh perempuan dalam menghadapi pelecehan verbal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan teori fenomenologi yang digagas oleh Hussrl. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalan dan kajian literatur untuk memperoleh data yang kaya dan relevan. Hasil Penelitian Pihak perempuan disalahkan masyarakat dan pelaku ketika melakukan perlawan saat pelecehan verbal. Perempuan dituduh atas pakaian yang mereka gunakan, selain itu perempuan mendapat tuduhan bahwa tidak mampu menanggapi bahan candaan dengan santai. Pelecehan verbal yang terjadi pada prempuan memberikan bekas luka yang mendalam, sehingga menimbulkan rasa traumatis dan ketidakpercayaan pada orang lain. Kata Kunci: Pelecehan verbal, Perlawanan, Perempuan
MAKNA PEMBELIAN ALBUM FISIK BAGI PENGGEMAR BUDAYA POP KOREA Hesty Kartikasari; Arief Sudrajat
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v11i3.59242

Abstract

The rapid flow of globalization that develops in society makes it easier for various foreign cultures to enter a country. One of the foreign cultures that is currently globalizing is Korean pop culture.. In Indonesia itself, there are many fans of Pop culture, especially K-pop fans. One of the consumption activities carried out by K-pop fans is buying physical albums. Physical albums have become a distinctive feature of K-pop even though in this modern era there have been digital albums. The K-pop industry has made physical album sales experience a very rapid increase in recent times. Usually, physical K-Pop albums don't only contain CDs, there are photobooks, photocards, and merchandise that are attractive to fans. This study aims to examine the meaning of buying physical albums for fans and identify the motives of fans choosing to buy physical albums over digital albums. The method used in this research is descriptive qualitative. Data was collected by means of interviews. Research is assisted by the foundation of cultural sociology theories. The results of the study show that the meaning of a physical album for fans is a self-reward and happiness in itself when having a physical album. The purchase of physical albums is also intended as a form of appreciation for the idol's music and songs that have had a positive effect on their lives. Purchase of physical albums is also influenced by cultural hegemony. The power of hegemony makes fans think that Korean pop culture is a part of their daily life. Keywords: K-Pop, Fans, Physical Album, Pop Culture AbstrakDerasnya arus globalisasi yang berkembang di masyarakat memudahkan berbagai budaya asing masuk ke suatu negara. Salah satu budaya asing yang tengah mendunia saat ini, yaitu budaya pop Korea. Di Indonesia sendiri, penggemar budaya Pop sangatlah banyak khususnya penggemar K-pop. Salah satu kegiatan konsumsi yang dilakukan oleh penggemar K-pop adalah membeli album fisik. Album fisik telah menjadi ciri khas tersendiri dari K-pop meskipun sudah di era modern ini telah ada album berbentu digital. Industri K-pop telah membuat penjualan album fisik mengalami peningkatan yang sangat pesat dalam waktu terakhir. Bisanya, album fisik K-Pop tidak hanya memuat kaset saja, terdapat photobook, photocard, dan merchandise yang menarik bagi para penggemar. Penelitian ini bertujuan untuk mengkai makna pembelian album fisik bagi penggemar dan mengidentifikasi motif penggemar memilih membeli album fisik daripada album digital. Metode yang diterapkan pada penelitian ini, yakni kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara. Penelitian dibantu dengan landasan teori-teori sosiologi budaya. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa makna album fisik bagi penggemar merupakan suatu self reward dan kebahagiaan tersendiri ketika memiliki wujud fisik album. Pembelian album fisik juga ditujukan sebagai bentuk apresiasi kepada musik dan lagu sang idola yang telah memberikan efek positif bagi kehidupan mereka. Pembelian album fisik juga dipengaruhi adanya hegemoni budaya. Kekuatan hegemoni membuat penggemar menganggap bahwa budaya pop Korea menjadi bagian dari kehidupan sehari-harinya. Kata Kunci: K-Pop, Penggemar, Album Fisik, Budaya Pop
RENCANA PERJALANAN MASYARAKAT DKI JAKARTA KE LUAR KOTA SELAMA PERIODE LIBUR NATAL 2021 DAN TAHUN BARU 2022 Budi Aji Purwoko; Chotib Chotib; Lin Yola
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v11i3.60021

Abstract

The government implements the PPKM Level 3 policy for all parts of Indonesia during the Christmas 2021 and New Year 2022 holidays. The policy was carried out to tighten the movement of people and prevent a surge in Covid-19 cases after the Nataru holiday. This study aims to analyze the correlation between Urban Community Travel Patterns, the potential to contract Covid-19, PPKM Level 3 Policy, Leave Prohibition, and Income Reduction during the Covid-19 pandemic. The analysis uses a statisticalquantitative approach to find out and analyze how big the relationship between variables is. This result is also in accordance with skinner’s t eori who mentioned that the relationship of stimulus and response that occurs can give rise to a change in behavior. The Community Activity Restriction Regulation Policy (PPKM) proved to have a negative and significant effect on travel patterns with the results of a correlation test of 0.023. The results showed the results of 0.844 determination tests of 71.3%, while the remaining 13.1% were other factors that were not studied. The results showed that the social restriction policy (PPKM) has not only affected the transmission of Covid-19 but has also changed the behavior of some urban people to re-plan travel patterns during Christmas and New Year 2021/2022 holidays. This is also directly proportional to the Indonesian Government's policy in controlling the growth rate of Covid-19, where they become more cautious in traveling during the Christmas and New Year holidays 2021/2022 which are considered riskier due to mobility and direct interaction with many people. Keywords: Covid-19, Social Restricriskiervel Restrictions, Leave Ban, Decrease in IncomeAbstrakPemerintah menerapkan kebijakan PPKM Level 3 untuk seluruh wilayah Indonesia selama masa libur Hari Raya Natal 2021 dan Tahun Baru 2022. Kebijakan tersebut dilakukan untuk memperketat pergerakan orang dan mencegah lonjakan kasus Covid-19 pasca libur Nataru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi Pola Perjalanan Masyarakat Perkotaan, potensi tertular Covid-19, Kebijakan PPKM Level 3, Larangan Cuti dan Penurunan Pendapatan selama masa pandemi Covid-19. Analisis menggunakan pendekatan statistik-kuantitatif untuk mengetahui dan menganalisis seberapa besar hubungan antar variable. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Kebijakan Pengaturan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) terbukti berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pola perjalanan dengan hasil uji korelasi sebesar 0.023. Hasil uji korelasi secara keseluruhan menunjukan hasil 0.844 uji determinasi sebesar 71.3%, sedangkan sisanya 13.1% merupakan faktor-faktor lain yang tidak diteliti. Hasil penelitian ini menunjukan adanya pengaruh kebijakan pemerintah dalam membatasi pergerakan masyarakat selama periode libur Nataru dapat mempengaruhi masyarakat kota dalam merencanakan perjalanan ke luar kota. Hasil ini juga sesuai dengan teori Skinner yang menyebutkan bahwa hubungan stimulus dan respon yang terjadi dapat menimbulkan adanya perubahan perilaku. Selain itu, hasil penelitian ini menunjukan bahwa kebijakan pembatasan sosial (PPKM) tidak hanya telah berpengaruh terhadap penularan Covid-19, melainkan juga telah merubah perilaku sebagian masyarakat perkotaan untuk merencanakan kembali pola perjalanan pada masa libur Natal dan Tahun Baru 2021/2022. Hal ini juga berbanding lurus dengan Kebijakan Pemerintah Indonesia dalam mengendalikan laju pertumbuhan Covid-19, di mana mereka menjadi lebih berhati-hati dalam melakukan perjalanan pada masa libur Natal dan Tahun Baru 2021/2022 yang dipandang lebih berisiko karena adanya mobilitas dan interaksi langsung dengan banyak orang.Kata Kunci: Covid-19, Pembatasan Sosial, Pembatasan Perjalanan, Larangan Cuti, Penurunan Pendapatan
MEKANISME SURVIVAL DAN MODAL SOSIAL PEDAGANG BERSTATUS JANDA DI PASAR SINJAI Nurlina Subair; Andi Alim; Alimin Alwi
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 11, No 4 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v11i4.64577

Abstract

Single parenting is a phenomenon where mothers take care of and raise their children without the help of their partners. Meanwhile, the perspective of the surrounding community still sees a woman left by her husband, dead or living lightly or underappreciated. The purpose of this study was to determine the survival mechanism and the form of social capital of merchant widows in the Sinjai Central Market in improving the household economy. To find facts, the descriptive qualitative method is an option. The target of this research is people who are widows and work as traders in the Sinjai Central Market. Informants were selected by purposive sampling. Data were collected using participatory observation techniques, in-depth interviews and documentation studies. The analysis technique is carried out starting with data collection, data reduction, data presentation and conclusion. The results of the study found that the survival mechanism or survival strategy carried out by the widow of the merchant was to take action to suppress the cost of existing food needs; Taking action by involving family members in making a living and opening a salon business as an additional job; Take action to find additional work such as being padderos (harvest labour/slasher) and sharecroppers (farm labour). In addition, there are several actions taken that are not included in the framework of James Scott's theoretical analysis, such as committing criminal acts and saving activities. The form of social capital for merchant widows in earning a living so that they can increase their income is by joining lottery club groups in the market and their respective villages, borrowing (debt) and cooperation. All examples of forms of social capital carried out by merchant widows are closely related or inseparable from the network they have, the norms that apply in society and the trust between fellow traders or the community.Keywords: Survival Mechanism, Widow Trader, Social Capital AbstrakSingle parent merupakan fenomena sang ibu mengasuh dan membesarkan anak-anak mereka sendiri tanpa bantuan dari pasangannya. Sedangkan perspektif masyarakat sekitar masih memandang seorang perempuan ditinggal suami mati atau hidup dengan remeh atau kurang dihargai. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui mekanisme survival dan bentuk modal sosial janda pedagang di Pasar Sentral Sinjai dalam meningkatkan perekonomian rumah tangganya. Untuk menemukan fakta maka metode kualitatif deskriptif sebagai pilihan. Sasaran penelitian ini adalah orang yang merupakan janda dan berprofesi sebagai pedagang di Pasar Sentral Sinjai. Informan dipilih dengan cara purposive sampling. Data dikumpulkan dengan teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam serta studi dokumentasi. Teknik penganalisisan dilakukan berawal dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menemukan bahwa upaya mekanisme survival atau strategi bertahan hidup yang dilakukan janda pedagang yaitu melakukan tindakan penekanan terhadap biaya kebutuhan pangan yang ada; Melakukan tindakan dengan melibatkan anggota keluarga dalam mencari nafka dan membuka usaha salon sebagai tambahan pekerjaan; Melakukan tindakan mencari pekerjaan tambahan seperti menjadi padderos (buruh panen/penebas) dan petani penggarap (buruh tani). Selain itu, ada beberapa tindakan di lakukan tidak masuk kerangka analisis teori James Scott seperti melakukan tindakan kriminalitas dan aktifitas menabung. Bentuk modal sosial janda pedagang dalam mencari nafkah sehingga bisa meningkatkan pendapatannya yaitu dengan bergabung dengan kelompok arisan di pasar maupun di desa masing-masing, meminjam (berutang) dan gotong royong. Semua contoh bentuk modal sosial yang dilakukan janda pedagang erat kaitannya atau tidak lepas dari jaringan yang dimiliki, norma yang berlaku dalam masyarakat dan kepercayaan antar sesama pedagang atau masyarakat.Kata Kunci: Mekanisme Survival, Pedagang Berstatus Janda, Modal Sosial
MAKNA SIMBOLIK PENANAMAN KUNYIT OLEH PETANI PEREMPUAN DI DESA KAJUANAK KECAMATAN GALIS KABUPATEN BANGKALAN Arni Zuha Syahbaniyah; Ekna Satriyati
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 11, No 4 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v11i4.61104

Abstract

This study aims to find out how turmeric means for women spice farmers in Kajuanak Village, Galis District, Bangkalan Regency. The type of research used is descriptive qualitative with a phenomenological approach. The selection of informants used purposive sampling techniques with criteria, female spice (turmeric) farmers in Kajuanak Village, Galis District, Bangkalan Regency, planted turmeric-type spices, were married, and were 25-65 years old. Data analysis using phenomenology according to Stevick Colaizzi Keen. Data validity checks using data triangulation. The results of this study show that female farmers in Kajuanak Village interpret turmeric as an object to survive, maintain health and treat various diseases and preserve the hereditary teachings of the family.Keywords: symbolic meaning, turmeric farmer, Bangkalan woman AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana makna kunyit bagi perempuan petani rempah di Desa Kajuanak Kecamatan Galis Kabupaten Bangkalan. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi. Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria, petani rempah (kunyit) perempuan di Desa Kajuanak Kecamatan Galis Kabupaten Bangkalan, menanam rempah berjenis kunyit, telah menikah, dan berusia 25-65 tahun. Analisis data menggunakan fenomenologi menurut Stevick Colaizzi Keen. Pemeriksaan keabsahan data menggunakan triangulasi data. Hasil penelitian ini menunjukkan petani perempuan Desa Kajuanak memaknai kunyit sebagai objek untuk bertahan hidup, menjaga kesehatan dan mengobati berbagai macam penyakit serta melestarikan ajaran turun temurun dari keluarga.Kata Kunci: makna simbolik, petani kunyit, perempuan Bangkalan
CONSTRUCTIVISM OF WOMEN'S COMMUNITY HIGHER EDUCATION IN PULOSARI VILLAGE, JOMBANG Umi Hanik
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 11, No 4 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v11i4.66626

Abstract

This study aims to look at the constructivism of the Pulosari community towards women with higher education, and the process of forming constructivism in the community regarding education. Higher education is not gender-biased, men or women have the same opportunities in higher education. However, the narrative in the grassroots community, especially in Pulosari, is that the community considers higher education for women to be the same as women in general, both in structural positions in society and at the work level. This study uses a qualitative method, with a phenomenological approach, and data is obtained through observation and interviews. The results of this study are, the constructivism of highly educated women in the Pulosari community is caused by first, the understanding of the position of women narrated in the colonialism era, the second society questions the function of higher education for women in the world of structure, the third knowledge of education in the family and the last is women constructed in the form of macak, masak, and manak.Keywords: Constructivism, Women, Higher Education AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk melihat konstruktivisme masyarakat Pulosari terhadap perempuan dengan pendidikan tinggi, dan proses pembentukan konstruktivisme di masyarakat mengenai pendidikan. Pendidikan tinggi tidak bias gender, laki-laki atau perempuan memiliki kesempatan yang sama dalam pendidikan tinggi. Namun narasi di masyarakat akar rumput, khususnya di Pulosari, masyarakat menganggap pendidikan tinggi bagi perempuan sama dengan perempuan pada umumnya, baik dalam posisi struktural di masyarakat maupun di tingkat pekerjaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan pendekatan fenomenologis, dan data diperoleh melalui observasi dan wawancara. Hasil penelitian ini adalah, konstruktivisme perempuan berpendidikan tinggi di masyarakat Pulosari disebabkan oleh pertama, pemahaman tentang kedudukan perempuan yang dikisahkan pada era kolonialisme, kedua masyarakat mempertanyakan fungsi pendidikan tinggi bagi perempuan dalam dunia pendidikan. struktur, ketiga pengetahuan pendidikan dalam keluarga dan yang terakhir adalah perempuan yang dikonstruksi dalam bentuk macak, masak, dan manak.Kata kunci: Konstruktivisme, Perempuan, Pendidikan Tinggi