cover
Contact Name
Maruatal Sitompul
Contact Email
m.sitompoel@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
redaksi.oldi@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
OLDI (Oseanologi dan Limnologi di Indonesia)
ISSN : 01259830     EISSN : 2477328X     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia is a scientific journal that publishes original research articles and reviews about all aspects of oceanography and limnology. Manuscripts that can be submitted to Oseanologi dan Limnologi di Indonesia is the result of research in marine and inland waters in Indonesia. Submissions are judged on their originality and intellectual contribution to the fields of oceanography and limnology
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 1 (2020)" : 5 Documents clear
KOMUNITAS FITOPLANKTON DI DAERAH LITORAL DANAU MANINJAU DAN SUNGAI RANGGEH, KABUPATEN AGAM KAITANNYA DENGAN KANDUNGAN NUTRIEN Sulawesty, Fachmijany; Yustiawati, Yustiawati; Aisyah, Siti
OLDI (Oseanologi dan Limnologi di Indonesia) Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/oldi.2020.v5i1.289

Abstract

Fitoplankton di Danau Maninjau merupakan sumber makanan bagi anakan ikan dan ikan pemakan plankton seperti ikan Bada. Ikan Bada (Rasbora sp.) merupakan ikan endemik Danau Maninjau, ikan ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Unsur hara seperti nitrogen dan fosfor dapat menjadi faktor pembatas dalam pertumbuhan fitoplankton di perairan.  Pengamatan ini bertujuan untuk mengetahui komposisi dan kelimpahan fitoplankton dan hubungannya dengan kandungan nutrien di daerah litoral Danau Maninjau dan Sungai Ranggeh.  Pengamatan dilakukan enam kali pada bulan April, Juli, Agustus, September, Oktober, dan November 2018 di beberapa stasiun pengamatan di daerah litoral Danau Maninjau dan Sungai Ranggeh.  Hasil pengamatan menunjukkan bahwa terdapat lima kelompok fitoplankton, yaitu Chlorophyta (53 spesies), Bacillariophyta (35 spesies), Cyanophyta (enam spesies), Euglenophyta (lima spesies), dan Dinophyta (dua spesies).  Kelimpahan fitoplankton di daerah litoral Danau Maninjau berkisar 0,07 x 106 ? 5,8 x 106 individu.L-1, sementara Sungai Ranggeh berkisar 0,0016 x 106 ? 2,1 x 106 individu.L-1.  Kelimpahan di daerah litoral Danau Maninjau lebih tinggi dibandingkan dengan Sungai Ranggeh. Pada bulan Juli 2018 Microcystis aeruginosa (Cyanophyta) ditemukan melimpah, Synedra ulna (Bacillaryophyta) pada bulan Agustus dan September dan Cylindrospermopsis raciborskii (Cyanophyta) pada bulan Oktober dan November.  Nilai indeks keanekaragaman, indeks keseragaman dan indeks dominansi, komunitas fitoplankton di daerah litoral Danau Maninjau menunjukkan bahwa komunitas fitoplankton tidak stabil dibandingkan dengan di Sungai Ranggeh.  Berdasarkan analisis komponen utama, kelimpahan Cyanophyta di daerah litoral Danau Maninjau dipengaruhi oleh konsentrasi fosfor.
TABLE OF CONTENT AND EDITORIAL BOARD Jurnal, OLDI
OLDI (Oseanologi dan Limnologi di Indonesia) Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/oldi.2020.v5i1.315

Abstract

KECENDERUNGAN NAIKNYA SUHU PERMUKAAN LAUT DAN RESILIENSI KARANG SETELAH KEJADIAN PEMUTIHAN KARANG 2010 DAN 2016 DI TAMAN WISATA PERAIRAN (TWP) PULAU PIEH, PADANG, SUMATRA BARAT Wouthuyzen, Sam; Abrar, Muhammad; Corvianawatie, Corry; Kusumo, Suryo; Yanuar, Yogi; Darmawan, Darmawan; Yennafri, Yennafri; Salatalohi, Abu; Hanif, Andriyatno; Permana, Syeprianto; Arafat, M. Y.
OLDI (Oseanologi dan Limnologi di Indonesia) Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/oldi.2020.v5i1.236

Abstract

Kejadian pemutihan karang (coral bleaching) telah melanda hampir seluruh perairan Indonesia sedikitnya empat kali antara tahun 1982-2016. Dua kejadian terbaru (2010 dan 2016) telah dibahas mendalam, namun belum ada kajian rinci pada suatu lokasi yang spesifik, seperti di Taman Wisata Perairan (TWP) Pulau Pieh, perairan Padang, Sumatra Barat yang dipengaruhi oleh massa air Samudra Hindia.  Tulisan ini bertujuan mengkaji kecenderungan naiknya suhu permukaan laut (SPL) pada kejadian pemutihan karang 2010 dan 2016 dan resiliensi karang setelah kejadian tersebut. Pada kajian ini data SPL jangka panjang hasil pemindaian citra satelit Aqua MODIS digunakan secara intensif. Hasil kajian menunjukkan bahwa SPL rata-rata bulanan tertinggi (MMM) yang dapat ditolerir oleh karang di TWP ini adalah 29,6oC, lebih tinggi daripada seluruh perairan Indonesia (29,1 oC). Selisih antara SPL Anomali dan SPL normal (MMM) atau disebut Hot Spot (HS) rata-rata telah melampaui MMM pada kejadian pemutihan tahun 2010 sekitar 0,4-0,5oC dengan puncaknya di bulan April dan tingkat keparahan alert-1 (DHW < 8oC-minggu; karang mengalami pemutihan sebagian). Tahun 2016 HS rata-rata meningkat 0,5~1,0oC dengan puncak di bulan Jan-Feb dan Mei-Juni dan tingkat keparahan Alert-2 (DHW ? 8oC-minggu, karang mengalami pemutihan berat, luas dan sebagian mati). Satu tahun sebelumnya (2015) terlihat juga HS rata-rata sebesar 0,3-0,8 oC dan DHW ~ 4oC-minggu.  Hal ini menunjukkan bahwa kejadian pemutihan karang di TWP Pulau Pieh berulang-ulang dan panjang. Kecenderungan peningkatan SPL di TWP ini adalah 0,23oC/dekade lebih rendah dari seluruh perairan Indonesia (0,36oC/dekade). Kecenderungan ini menunjukkan bahwa terumbu karang di perairan Indonesia, termasuk TWP Pulau Pieh memiliki resiliensi tinggi untuk memulihkan dirinya, karena kecenderungan peningkatan SPL < 1,0oC/dekade. Dari 11 faktor kunci resiliensi karang, faktor positif yang menunjang resiliensi karang adalah rendahnya polusi, nutrien, sedimentasi, dan rendahnya aktivitas manusia yang tidak ramah lingkungan, sedangkan yang paling negatif adalah meledaknya populasi hewan laut Bulu Seribu, Acanthaster planci, disamping penyakit karang.
DISTRIBUSI LOGAM BERAT DALAM AIR LAUT DAN SEDIMEN DI PERAIRAN CIMANUK, JAWA BARAT, INDONESIA Harmesa, Harmesa; Lestari, Lestari; Budiyanto, Fitri
OLDI (Oseanologi dan Limnologi di Indonesia) Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/oldi.2020.v5i1.310

Abstract

Aktivitas perekonomian yang terus meningkat di wilayah pesisir utara Jawa, berpotensi menyumbangkan kontaminan antropogenik yang mengancam kualitas perairan pesisir dan estuari Cimanuk di Indramayu. Logam berat yang merupakan salah satu limbah dari aktifitas tersebut belum dipelajari secara terperinci. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan distribusi dari logam Cu, Pb, Cd, Zn, dan Ni yang terlarut dalam air laut dan dalam sedimen di Estuari Cimanuk. Pengambilan sampel air laut dan sedimen dilakukan pada Bulan Mei 2017 di 18 stasiun. Sampel air laut diekstraksi menggunakan metode ektraksi balik (back extraction) sementara sampel sedimen diekstraksi menggunakan asam sesuai metode USEPA 3050B. Pengukuran logam berat dari ekstrak air laut ataupun sedimen dilakukan menggunakan Flame Absorption Spectrophotometry  berdasarkan metode USEPA 3050B. Distribusi spasial logam berat dalam air laut dan sedimen dimodelkan menggunakan ArcGIS® versi 10.6.1. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi logam terlarut dalam air laut untuk Cu, Pb, Cd, Zn, dan Ni adalah 0,0004 ? 0,0038 mg/L (Cu), <0,0001 ? 0,0044 mg/L (Pb), 0,0002 ? 0,0003 mg/L (Cd), 0,0005 ? 0,0119 mg/L (Zn), dan 0,0020 ? 0,0052 mg/L (Ni). Konsentrasi logam dalam sedimen adalah 12,36 ? 54,08 mg/kg (Cu), 6,43 ? 15,72 mg/kg (Pb), 0,07 ? 0,37 mg/kg (Cd), 64,53 ? 85,16 mg/kg (Zn), dan 19,66 ? 62,85 mg/kg (Ni). Model distribusi spasial menunjukkan bahwa logam berat dalam air laut maupun sedimen menunjukkan pola yang identik. Logam dengan konsentrasi tinggi umumnya terdeteksi di stasiun yang berlokasi dekat dengan daratan, mengindikasikan bahwa logam berat mengalami pengayaan yang berasal dari aktivitas antropogenik daratan.
PEMANFAATAN CITRA SATELIT PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI UNTUK ANALISIS NILAI EKONOMI EKOSISTEM PESISIR. STUDI KASUS: DESA TELUK LIMAU, KECAMATAN JEBUS, KABUPATEN BANGKA BARAT, PROVINSI BANGKA BELITUNG Prayudha, Bayu; Hafizt, Muhammad; Vimono, Indra Bayu
OLDI (Oseanologi dan Limnologi di Indonesia) Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/oldi.2020.v5i1.203

Abstract

Terumbu karang, padang lamun, dan mangrove merupakan ekosistem penting sebagai sumber nutrisi serta tempat hidup bagi banyak biota laut. Indonesia dengan konsentrasi penduduk berada di wilayah pesisir, sangat menggantungkan kehidupannya kepada ketiga ekosistem tersebut. Meskipun demikian, informasi sebaran ekosistem tersebut masih kurang karena lokasinya relatif sulit dijangkau. Penginderaan jauh dapat menjawab kebutuhan tersebut karena dapat menjangkau wilayah yang luas serta sulit dijangkau. Informasi yang dihasilkan dari data penginderaan jauh dapat memberikan gambaran secara spasial mengenai wilayah yang dikaji, sehingga memudahkan penentu kebijakan dalam mengelola wilayahnya. Salah satu pemanfaatan informasi tersebut adalah penilaian ekonomi ekosistem pesisir dengan menggunakan parameter spasial berupa luasan habitat serta panjang garis pantai yang terlindung oleh ekosistem sebagai faktor pengali, dimana informasi tersebut dapat diperoleh secara cepat, mudah, dan relatif akurat menggunakan penginderaan jauh. Tujuan dari penelitian ini adalah memanfaatkan data penginderan jauh untuk estimasi nilai potensi ekonomi ekosistem pesisir khususnya terumbu karang dan mangrove. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu pengolahan data citra satelit LANDSAT 8 OLI sebagai bahan utama dikombinasikan dengan Sistem Informasi Geografi (SIG) untuk menghasilkan informasi spasial habitat (panjang dan luas) dan pendekatan barang pengganti (surrogate market prices) untuk penilaian ekonominya. Lokasi penelitian dilakukan di Desa Teluk Limau, Kecamatan Jebus, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Babel. Hasil penelitian berupa peta lingkungan pesisir yang terdiri dari empat kelas habitat, yaitu karang, hamparan makroalga, substrat terbuka, serta mangrove. Berdasarkan informasi spasial yang dihasilkan dari peta tersebut, didapatkan nilai ekonomi ekosistem pesisir yaitu 141,4 milyar rupiah untuk terumbu karang dan 31,1 milyar rupiah untuk ekosistem mangrove.

Page 1 of 1 | Total Record : 5