cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2014)" : 6 Documents clear
TIPOLOGI PINTU RUMAH TRADISIONAL DUSUN PUCUNG, SITUS MANUSIA PURBA SANGIRAN Faisal, Gun; Roychansyah, Muhammad Sani
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.505 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v1i2.18801

Abstract

Pintu merupakan elemen penting dalam suatu bangunan, terutama rumah tinggal. Pintu adalah jalur sirkulasi antara ruang dalam dan luar bangunan. Rumah di Dusun Pucung memiliki pintu yang terbilang unik, baik dari segi jumlah, bentuk dan ornamennya, yang mana penggunaannya memiliki maksud dan tujuan tersendiri bagi setiap pemiliknya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengklasifikasikan pintu rumah tradisional yang berada di Dusun Pucung. Pendekatan penelitian dilakukan secara kuantititatif dan kualitatif, pengambilan data melalui survey lapangan, diiringi dengan studi literatur, studi kawasan, teoritikal, studi empiris terhadapt laporan penelitian terdahulu. Analisa data diawali dengan perumusan karakter umum pintu bangunan kawasan, penentuan pintu bangunan yang sesuai kriteria penelitian, penggambaran ulang (redrawing), pengelompokan dan kategorisasi tipikal elemen pintu bangunan. Penelitian ini pada akhirnya dapat mentipekan desain elemen pintu rumah tradisional yang berada di kawasan konservasi Situs Manusia Purba Sangiran, yang termasuk kedalam kawasan  World Heritage. Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan 6 (enam) tipe pintu rumah tradisional Dusun Pucung. Tipe pintu tersebut berdasarkan 2 kategori, yaitu berdasarkan jumlah; pintu satu, tiga, serta lima, dan berdasarkan materialnya, ada pintu yang terbuat dari bambu (gedhek), kayu, dan kayu-kaca. Door is an important element in a building, especially a residential house. It is a circulation path between the interior and exterior of building. In Pucung Village, it has relatively unique function and meaning with a variety of ornaments, shapes, and amounts. The purpose of this study is to classify the types of doors and their elements, in this case the doors of traditional house in Pucung Village. Data were collected through field surveys, which were supported by the literature, theoretical studies and the results of empirical study. Analysis and formulation of the general characters of doors were done, and the doors were determined in accordance with appropriate criteria of study and re-drawn, so the grouping and categorization of typical elements of the doors could be done. As a result, the design of traditional doors in the conservation area of Sangiran Early Man site, which is included in the World Heritage area, can eventually be typified. Based on the results of the study, six types of traditional doors in Pucung Village were obtained. The types of doors were based on two categories. Based on number, there were doors with one, three, and five in number, while based on material, there were doors made from bamboo (gedhek), wood, and wood and glassREFERENCESBalai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran. (2012). Brosur ‘Museum Purbakala: Situs Sangiran (Perjalanan Menakjubkan Kembali ke Zaman Purba), Kantor Pariwisata, Investasi, dan Promosi Pemkab Sragen. Sragen, Jawa TengahColquhoun, A.. (1967) Typology and Design Method, dalam Theorizing a New Agenda for Architecture. An Anthology of Architectural Theory 1965- 1995, Kate Nesbitt (ed.). Princeton Architectural Press. New YorkDurand, Jean Nicolas Louis. (2000). Pr`ecis of the Lectures on Architecture. The Getty Research Institute. Los AngelesFrancescatto, Guido. (1994) Type and the Possibility of an Architecture Scolarship, Ordering Space, Types in Architectural and Design, Karen A. Franck, Lynda H. Schneekloth (ed). Van Nostrand Reinhold. New YorkHidayat, Rusmulia Tjiptadi, dkk. (2004) Museum Situs Sangiran: Sejarah Evolusi Manusia Purba Beserta Situs dan Lingkungannya. Koperasi Museum Sangiran. Sangiran.Johnson. P A. (1994). The Theory of Architecture, Van Nostrand Reinhold Company. New YorkKartikasari, Indah. (2012). Topografi Dusun Pucung, Situs manusia Purba Sangiran. Laporan Penelitian KKA-S2 UGM 2012. YogyakartaMochsen, Sir Mohammad. (2005). Tipologi Geometri: Telaah Beberapa KaryaFrank L. Wright dan Frank O. Gehry, Rona Jurnal Arsitektur Volume 2, No. 1 April 2005 hal 69-83. FT Unhas. MakasarMoneo, Rafael. (1979) Oppositions Summer On Typology. A Journal for Ideas and Criticism in Architecture vol. 13 h. 23-45. The MIT Press. MassachusettsPfeifer, G.; P. Brauneck. (2008). Courtyard Houses–A Housing Typology. Birkhauser Verlag AG. GermanySukada, B. (1997). Memahami Arsitektur Tradisional dengan Pendekatan Tipologi.  PT. Alumni. Bandung
PENGARUH PEMBARUAN FASAD BANGUNAN TERHADAP KARAKTER VISUAL KAWASAN, STUDI KASUS: JALAN TANJUNGPRA PONTIANAK Misavan, Derry Feriyan; Gultom, Bontor Jumaylinda
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.403 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v1i2.18796

Abstract

Jalan Tanjungpura merupakan kawasan yang sudah ada sejak lama di Kota Pontianak sebagai koridor  yang  bersisi deretan pertokoan. Sebagai kawasan yang bergerak dibidang ekonomi dan jasa perdagangan, pertokoan pada kawasan ini telah melakukan pembaruan fasad mereka sebagai pendukung untuk melancarkan usaha mereka. Namun pembaruan fasad yang dirasakan tidak terarah dan cenderung menyimpang dari citra fasad lama pada masa lalu. Maka dari itu dilakukan sebuah penelitian yang bertujuan untuk mencari karakter visual dari kawasan jalan Tanjungpura yang kemudian berguna untuk sebuah rekomendasi pengolahan fasad untuk tetap menjaga karakter visual kawasan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif  yang dimulai dengan acuan terhadap teori tentang karakter visual untuk kemudian di analisis dari fakta lapangan dalam mencari karakter visual kawasan yang menjadi tujuan penelitian ini. Dari hasil penelitian  diperoleh temuan  karakter visual kawasan  Jalan Tanjungpura Pontianak adalah setiap elemen fasad memiliki pola, kesegarisan bangunan, ukuran dan bentuk yang seirama, selaras dan seimbang.  Selain itu,  ditemukan  juga  beberapa bagian bangunan yang menyimpang dari karakter  visual koridor  tersebut sehingga muncul sebuah rekomendasi pengolahan fasad yang ditujukan kepada pemerintah, pemilik bangunan, serta pihak terkait lainnya untuk mengembalikan karakter visual  pada pada beberapa bangunan sehingga dapat menjaga kualitas visual kawasan dengan baik Tanjungpura street is an area that since longtime ago exist in Pontianak  as a corridor of shopping stores . As the region engaged in the aspects of economy and trade services, this corridor used to updated their facades to support their business activities. However, this modification of facade perceived as an unfocused sight and tend to deviate from the old facade images of the past. Therefore this research conducted to find the visual character on the area of the Tanjungpura street that can be useful for façade’s recommendation to maintain the visual character of this corridor as the shopping stores. This research uses quantitative methods where the research begins with a reference to the theory of the visual character and after that the analysis is performed based on the facts of the survey datas to find the visual character of the area as the purpose of this research. Result of this research is found the visual character of the Tanjungpura street corridor derivated that each elements of the facade has a pattern, Buillding line, the size and shape with a rhythm, harmony and balance. Furthermore, there is also found some parts of the building that deviate from the visual character of it corridor that makes a recommendation of facade modification addressed to the city government, building owners  and other stakeholders to redecorations visual character of several bulidings  so that will maintain the quality of visual character of the areaREFERENCESBerry, Wendell. 1980. Good Neighbors, Building Next to History: Design Guidelines Handbook. State Historical of Colorado. ColoradoChing, Francis D.K. 1995. A Visual Dictionary of Architecture. Van Nostrand Reinhold Company. New YorkFirzal, Yohanes. 2002. Arahan Rancangan Menjaga Karakter Visual Kawasan. Tesis Arsitektur S2 Universitas Gadjah Mada. YogyakartaGultom, Bontor Jumaylinda Br. 2006. Kualitas Visual Fasad Bangunan Komersial Di Kawasan Waterfront. Tesis Arsitektur S2 Universitas Gadjah Mada. YogyakartaLynch, Kevin. 1972. What Time Is This Place. The MIT Press. Cambridge, MAPoerwadi. Metode Analisis Kuantitatif Rasionalistik Dalam Menentukan Karakteristik Ruang Untuk Arahan Rancangan Kawasan Urban. Jurnal Penelitian Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh November. SurabayaPunter, John; Matthew Carmona. 1997. The Design Dimension Of Planning. E & FN Spon. London Sudarwani, Maria. 1972. Karakter Visual Koridor dalam Pembentukan Image Kota. Penelitian Arsitektur Universitas Diponegoro. Semarang
PENERAPAN MATERIAL KACA DALAM ARSITEKTUR Lestari, Lestari; Alhamdani, Muhammad Ridha
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (714.718 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v1i2.18798

Abstract

Kaca telah dikenal sejak ribuan tahun dan merupakan bahan buatan manusia yang cukup tua. Penggunaannya sebagai bahan bangunan meluas sejak abad ke 17 terutama setelah perang dunia kedua.  Arsitektur kaca menjadi suatu kecenderungan dari desain-desain bangunan di dunia sejak abad ke-20. Material ini dianggap sangat relevan dengan konsep-konsep yang ada. Kaca digunakan sebagai material ornamen, bukaan atau jendela, material kulit  bangunan,  sampai pada material struktur  bangunan. Sifat kaca yang transparan,  simple, dan bersih menjadikan material ini menguntungkan untuk mendukung konsep yang digunakan. Tulisan ini memaparkan penggunaan kaca sebagai bahan bangunan, baik sebagai bahan ornamen, kulit bangunan atau struktur bangunan, maupun sebagai pendukung konsep arsitektur khususnya konsep transparansi. Dipaparkan pula mengenai sifat-sifat teknis dari bahan kaca sebagai pertimbangan dalam pemilihan bahan bangunan. Glass has been known for thousands of years and is a man made material  that is quite old. Extends its use as building material since the 17 century, especially after the second world war. Glass architecture become a trend of buiding designs in the world since 20th century. This material relevant to the existing concepts. Glass is used as an ornament material, window, the building skin materials, and the building structure materials. Glass  properties that transparent, simple and clean make this material support the concepts used. This paper describes the use of glass as a building material, either as a ornament, the building skins, the building structures, and the building concepts expecially transparency concept. This paper also present the technical properties of glass as a building materialREFERENCESGarg, N.K . 2007. Guidelines for Use of Glass in Building. New age international publisher. New DelhiPiano, R. 1997. The Renzo Piano Logbook. The Monacelli Press. LondonStaib, Schittich. 1999. Glass Construction Manual. Birkhauser. Basel, Switzerland.Weston, Richard. 2002. The House in the 20th Century. Laurence King Publishing ltd. Great BritainWurm, Jam. 2007. Glass Structures: Design and Construction of Self-supporting Skins. Birkhauser Verlag AG. Berlin
DISAIN STRUKTURAL DALAM PERSPEKTIF KEARIFAN LOKAL PADA RUMAH TRADISIONAL MELAYU KOTA SAMBAS KALIMANTAN BARAT Zain, Zairin; Fajar, Indra Wahyu
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (633.019 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v1i2.18797

Abstract

Rumah itu dibangun untuk memenuhi kebutuhan fisik dan spiritual bagi penghuni. Ini berarti bahwa fungsi rumah secara fisik dibangun untuk mempertahankan hidup mereka dari ancaman lingkungan seperti iklim, cuaca atau hewan liar, sementara rumah juga diperuntukkan untuk kebutuhan rohani mereka dengan memfasilitasi interaksi antara penghuni di rumah atau interaksi dengan orang di luar rumah. Untuk itu, menarik untuk mendalami kearifan lokal  yang hidup di  masyarakat tradisional di Kota  Sambas Kalimantan Barat, melalui pemahaman disain struktural  dari  elemen-elemen  tempat tinggal tersebut. Disain struktural bangunan dikerjakan dalam memenuhi tujuan-tujuan untuk  safety,  values,  fitness,  compatibility  dan  flexibility. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa disain struktural rumah tradisional Melayu di kota Sambas dibangun dengan  Tujuan  Safety  diperoleh dari keadaan yang memperhatikan kedominanan, proporsi dan keseimbangan; Tujuan Value diperoleh dari perhatian terhadap konstruksi ruang, keterhubungan ruang, susunan dan perletakan kolom; Tujuan Fitness diperoleh dari pemilihan dan pola struktur; Tujuan Compatibility diperoleh dari perhatian terhadap pemilihan material, orientasi bangunan dan bentuk-bentuk struktur ruang; sedangkan Tujuan Flexibility diperoleh dari susunan dan keterkaitan ruang serta pemilihan sistem struktur. The house was built to meet the physical and spiritual needs of the occupants. This means that the physical functions of house was bulit to maintain their living from environmental threats such as climate, weather or wild animals, while the house as well intended for their spiritual needs to facilitating the interaction between the occupants in the house or interaction with people outside the house. For that, it is interesting to explore the local wisdom that growing in traditional people of the Sambas town West Kalimantan, through an understanding of the structural design of the house elements. Structural design of the building is done to fulfill the objectives of safety, values, fitness, compatibility and flexibility. From the results of this study found that the structural design of the Malay traditional house in Sambas town was built with the aim of Safety obtained from the state of attention to dominance, proportion and balance; the aim of Value obtained from the state of attention to the construction of space, the connectedness of space, arrangement and placement of columns; the aim of Fitness obtained from the state of attention to the selection and patterns of structures; the aim of Compatibility obtained from the state of attention to the material selection, building orientation and the forms of spatial structure; while the aim of Flexibility is obtained from the state of attention to the composition and  space connectedness and the structural systemREFERENCESAlMudra, Mahyudin. 2004. Rumah Melayu Memangku Adat Menjemput Zaman. Balai Kajian Dan Pengembangan Budaya Melayu. YogyakartaBappeda Kab. Sambas, 2012. Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kabupaten Sambas 2012-2032. Bappeda Kab. Sambas. SambasBPS-Kalimantan Barat. 2010. Kalimantan Barat Dalam Angka 2010. Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Barat. PontianakNoble, Allen G. 2007.  Traditional Buildings ~ A Global Survey of Structural Forms and Cultural Functions. I.B.Tauris & Co Ltd, New YorkTahir, M. M.; M. F. M. Zain; K. Sopian; I. M. S. Usman; M. Surat; N. A. G. Abdullah; N. Tawil; M. F; I. Md Nor, A. I. Che-Ani. 2010. The development of a sustainably responsive ultra low energy terrace housing for the tropics incorporating the raised floor innovation. Proceedings of the 5th IASME / WSEAS International Conference on ENERGY & ENVIRONMENT (EE '10) University of Cambridge, United Kingdom p. 36-45, Energy and Environmental Engineering Series: A Series of Reference Books and Textbooks. Published by WSEAS Press.Wahl, Iver. 2007. Building Anatomy : An Illustrated Guide to How Structures Work. Mc.Graw Hill Company Inc. New York Zain, Zairin; Indra Wahyu Fajar. 2014. Tahapan Konstruksi Rumah Tradisional Suku Melayu Di Kota Sambas Kalimantan Barat. Jurnal Langkau Betang Volume 1 Nomor 1 Tahun 2014. Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura dan Pusat Studi Disain Universitas Tanjungpura. PontianakZain, Zairin. 2013. The Anatomy of  traditional Dwellings: Comparative Study between Malay and Dayak Indigenous Architecture in West Kalimantan. LAP Lambert Academic Publishing/AV Akademikerverlag GmbH & Co. KG. Saarbrücken. GermanyZain, Zairin. 2012a. Pengaruh Aspek Eksternal Pada Rumah Melayu Tradisional di Kota Sambas. Jurnal NALARs, Vol 11 No 2 Juli 2012. Universitas Muhammadiyah Jakarta. JakartaZairin Zain. 2012b. Analisis Bentuk dan Ruang pada Rumah Melayu Tradisional di Kota Sambas, Kalimantan Barat.  Jurnal NALARs Volume 11 No. 2 Universitas Muhammadiyah Jakarta. Jakarta
PENGARUH FASILITAS SOSIAL TERHADAP KENYAMANAN INTERAKSI SOSIAL PENGHUNI PERUMAHAN DI KELURAHAN SUNGAI JAWI LUAR PONTIANAK Putro, Jawas Dwijo; Purwaningsih, Dyah Listyo
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.318 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v1i2.18799

Abstract

Perumahan merupakan kebutuhan dasar manusia yang merupakan tempat berlindung dan berisirahat sekaligus  menjadi  tempat bagi penghuninya melakukan aktivitas dan berinteraksi sosial. Kenyamanan berinteraksi sosial dalam lingkungan hunian merupakan tuntutan dasar yang harus dipenuhi oleh para pengembang perumahan baik pengembang swasta  maupun pemerintah. Tulisan ini merupakan hasil penelitian  tentang  pengaruh fasilitas sosial terhadap kenyamanan sosial penghuni pada perumahan di wilayah Kelurahan Sungai Jawi Luar Pontianak. Analisis penelitian ini menggunakan tiga variabel yaitu standarisasi fasilitas sosial, persepsi masyarakat, dan kenyamanan interaksi sosial. Fasilitas sosial adalah fasilitas yang dibutuhkan masyarakat dalam lingkungan pemukiman yang meliputi fasilitas pendidikan, kesehatan, perbelanjaan dan niaga, peribadatan, rekreasi dan kebudayaan, olahraga dan lapangan terbuka dan pemakaman umum. Untuk mengetahui persepsi masyarakat, dilakukan analisis melalui kuesioner yang terdiri dari beberapa pertanyaan (ekonomi, fisik lingkungan, jenis kegiatan sosial, intensitas kegiatan sosial, tingkat interaksi  sosial, alokasi waktu interaksi sosial,tanggung jawab  sosial). Sementara itu, untuk mengukur tingkat kenyamanan interaksi sosial, digunakan 3 indikator yaitu kontak sosial antara individu dengan individu (I-I), kontak sosial antara individu dengan kelompok (I-K), dan kontak sosial antara kelompok dengan kelompok (K-K). Housing is a basic needs for human which is a shelter and a place for the residents to do activities and social interaction. Convenience to interact socially in a residential environment is the basic demands to be met by housing developers both private and public (government developers). This paper as result of the research on the influence of social amenities for the social comfort of the occupants in the housing settlement in the urban village area of Sungai Jawi Luar city of Pontianak. The analysis of this study covers three variables observations, namely the standardization of social facilities, public perception, comfortability to do social interaction. Social facilities are needed by the community in residential neighborhoods that include all facilities of education, health, shopping and commerce, worship, recreation and culture, sport and the open space and public cemetery. To determine public perception, the analysis is done through a questionnaire that consisted of several questions (economic, physical, environmental, type of social activity, intensity of social activities, the level of social interaction, allocation of time for social interaction, social responsibility). Meanwhile, to measure the comfort level of social interaction, used three indicators, namely social contact between individuals (I-I), social contact between individuals and group (I-K), and social contact between group with group (K-K).REFERENCESBadan Standarisasi Nasional. 2004. SNI 03-6981-2004 Tentang Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan Tidak Bersusun di Daerah Perkotaan. Badan Standarisasi Nasional. JakartaBadan Standarisasi Nasional. 1989. SNI 03-1733-1989 Tentang Tata Cara Perencanaan Kawasan Perumahan Kota. Badan Standarisasi Nasional. JakartaBadan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Barat. 2010. Kalbar Dalam Angka 2010. Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Barat. PontianakBadan Pusat Statistik Kota Pontianak. 2010. Hasil Sensus Penduduk Kota Pontianak 2010: angka sementara. Badan Pusat Statistik Kota Pontianak. PontianakDepartemen Pekerjaan Umum. 1987. Petunjuk Perencanaan Kawasan Perumahan Kota. Yayasan Badan Penerbit Pekerjaan Umum. Jakarta.Kementerian Hukum dan HAM. 1992. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman. Kementerian Hukum dan HAM. JakartaKementerian Dalam Negeri. 1987. Permendagri No 1 Penyerahan Prasarana Lingkungan, Utilitas Umum, dan Fasilitas Sosial. Kementerian Dalam Negeri. JakartaNasution, Ryan Parlindungan. 2010. Interaksi Sosial Warga Komplek Perumahan (Studi Deskriptif di Perumahan Bukit Johor Mas, Kelurahan Pangkalan Mashyur Kecamatan Medan Johor). Universitas Sumatra Utara. MedanSuparno, Sastra M.; Endy Marlina. 2007. Perencanaan dan Pengembangan Perumahan.  Andi. Yogyakarta
KAJIAN POTENSI PEMAKAMAN SEBAGAI RUANG TERBUKA HIJAU PERKOTAAN, STUDI KASUS: TPU KOTA PONTIANAK Wulandari, Agustiah
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.285 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v1i2.18800

Abstract

Ruang terbuka hijau (RTH) pada saat ini banyak mengalami perubahan fungsi menjadi lahan terbangun. Tidak dipungkiri lagi bahwa RTH di banyak kota di Indonesia sudah beralih fungsi menjadi kawasan pemukiman, perhotelan, restauran, pertokoan, perkantoran, jalan raya, tempat parkir, pompa bensin, tempat pedagang kaki lima dan kawasan lainnya. Hal ini menciptakan kelangkaan RTH di banyak daerah perkotaan di Indonesia. Proses perencanaan kota yang berwawasan lingkungan sangat diperlukan di seluruh wilayah perkotaan di Indonesia. Pemanfaatan ruang terbuka yang selama ini belum atau kurang dimanfaatkan harus lebih dimaksimalkan lagi pemanfaatannya, seperti tempat pemakaman. Pemakaman merupakan salah satu bentuk ruang terbuka kota yang belum efektif pemanfaatannya sebagai RTH. Karakteristik dan jenis makam yang ada di Indonesia seperti  tempat pemakaman umum (TPU) dan tempat pemakaman khusus (TPK) memiliki kelebihan dan kekurangan untuk dimanfaatkan sebagai ruang terbuka hijau. Pemanfaatan tempat pemakaman umum sebagai RTH dilakukan dengan membandingkan variabel-variabel dari tiap indikator  fungsi RTH, seperti fungsi sosial, fungsi fisik, dan fungsi estetika.  Kesimpulan yang dihasilkan berdasarkan fungsi fisik RTH kawasan pemakaman saat ini masih belum ada kawasan pemakaman umum yang secara optimal dapat berfungsi sebagai RTH. Kawasan Pemakaman yang memenuhi fungsi sosial  RTH  adalah TPU Islam, TPU Kristen, dan TPU tionghoa.  Sedangkan  Fungsi estetika  RTH dapat dipenuhi oleh tempat pemakaman Kristen dan Tionghoa. Green open space has now been changed into buildings. urban green space has been converted into residential areas, hotels, restaurants, shops, offices, highways, parking lots, gas stations, street vendors and other areas. This creates a dearth of green space in many urban areas in Indonesia. Ecological city planning is indispensable in all urban areas in Indonesia. Utilization of open space should be maximized ecologically. Cemetery is one of the urban open space that has not been effectively utilized as a green space. Characteristics cemetery in Indonesia as a public cemetery and the private cemetery have advantages and disadvantages for use as green open space. Analysis of the utilization of public cemeteries as open green space is done by comparing the variables of each indicator function of green open space, such as a social function, physical function, and aesthetic functions. The resulting conclusion is that no area of the public cemetery that optimally meets the physical function as green open space. Cemetery area which fulfills a social function of green open space is the Islamic cemetery, Christian cemetery, and Chinese cemetery. While the aesthetic function can be fulfilled by  Christian Cemetery dan Tionghoa cemeteryREFERENCESAswad. 2004. Studi Konsep Pengembangan Penataan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Pusat Kota Pangkalan Bun Kalimantan Timur. Jurnal ASPI. Vol 3 , April, 58-79Departemen Dalam Negeri. 1988. Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 14 Tahun 1988 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau di Wilayah Perkotaan. Jakarta: Departemen Dalam NegeriDepartemen Dalam Negeri. 2007. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan. Jakarta: Departemen Dalam NegeriSekretariat Negara. 1987. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1987 tentang Penyediaan Dan Penggunaan Tanah Untuk Keperluan Tempat Pemakaman. Jakarta: Sekretariat Negara

Page 1 of 1 | Total Record : 6