cover
Contact Name
Sarip Hidayat
Contact Email
mohsyarifhidayat@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
metasastra@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bandung,
Jawa barat
INDONESIA
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra
ISSN : 20857268     EISSN : 25032127     DOI : -
Metasastra: Jurnal Penelitian Sastra is a journal published by Balai Bahasa Jawa Barat, ISSN printed 2085-7268 and ISSN online 2503-2127. This journal is a literary research journal that publishes various research reports, literature studies, and literary papers on literature. Published periodically twice a year in June and December. This journal also serves as a media dissemination of information research results and literature review.
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue " Vol 4, No 1 (2011)" : 13 Documents clear
IMAJINASI DALAM PENCIPTAAN ELONG (Imagination in The Creation of Elong) Mustafa, Mustafa
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2011.v4i1.45-54

Abstract

Elong yang mengandung nilai luhur, merupakan kekayaan tradisi yang tidak boleh diabaikan. Elong adalah warisan budaya yang perlu dimekarkan. Artikel ini diharapkan dapat memberikan bimbingan apresiasi untuk menumbuhkan rasa cinta dan penghargaan masyarakat terhadap elong sebagai kekayaan budaya. Artikel ini memanfaatkan pula beberapa pendapat yang membahas sosiologi sastra dengan menggunakan metode deskriptif analitis. Data penyusunan artikel, diambil dari bahan-bahan tertulis, yaitu majalah dan naskah yang memuat elong dan data lisan yang diperoleh dari informan.Abstract:Elong, which owns high value, is a wealth of tradition that should not be ignored. It is a cultural heritage that needs to be developed. This article is expected to provide a guidance to foster appreciation of  love and admiration of society towards Elong as cultural richness . The writing  also utilizes several opinions that discuss the sociology of literature by using descrip- tive analytical method. Data collection is taken from written materials, namely magazines and manuscripts that contain Elong verbal data obtained from informants.
HALAMAN DEPAN: Metasastra Vol 4, No 1, Juni 2011 Mulyani, Yeni
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2011.v4i1.%p

Abstract

PEMILIHAN CERPEN KONTEMPORER DALAM SURAT KABAR SEBAGAI BAHAN AJAR DAN DAMPAKNYA PADA HASIL PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (Selection of Contemporary Short Stories in The Newspaper as Teaching Materials and Learning Outcomes of Indonesian Language and Literature in The Secondary School) A.R., Syamsuddin; Azis, Abdul
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2011.v4i1.1-14

Abstract

Pembelajaran sastra cenderung kurang berani menggali teks dalam konteks yang lebih luas. Padahal sangatlah mungkin, guru mengajak siswa untuk masuk dan menyelami unsur pembangun sastra dari luar teks pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemilihan cerita pendek kontemporer dalam surat kabar untuk kepentingan alternatif bahan ajar dan peningkatan hasil pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitis. Pendekatan penelitian untuk bahan ajar dan hasil pembelajaran adalah pendekatan deskriptif analitis. Data dalam penelitian ini adalah cerpen dalam surat kabar Kompas dan Republika periode Januari 2005--Desember 2009 dan hasil pembelajaran siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi. Teknik analisis meliputi proses pengorganisasian dan pengurutan data tentang bahan ajar ke dalam pola kategori dan satuan uraian. Hasil temuan dan analisis menunjukkan rata-rata nilai aspek pemilihan cerpen kontemporer sebagai bahan ajar sebesar 3,78 (layak dijadikan bahan ajar) dan aspek kesesuaian cerpen kontemporer dengan prinsip penyusunan bahan ajar sebesar 3,96 (layak dijadikan bahan ajar). Hasil pembelajaran untuk aspek pemahaman cerpen bervariasi pada kategori sangat baik, kategori baik,  kategori cukup, kategori kurang, dan tidak ada siswa yang memperoleh nilai kategori gagal. Cerpen yang dapat digunakan dalam pembelajaran adalah cerpen apa saja. Namun, sebaiknya untuk tingkat SMA, cerpen yang digunakan adalah cerpen kontemporer dan isinya harus sesuai dengan karakteristik, pengalaman, dan kebutuhan siswa.Abstract: Learning literary texts tends to be less daring to dig up a broader context. However, it is possible that teachers  invite students to trace builder element of literary text apart from teaching text material. This study aims to describe the selection of contemporary short stories in the newspa- pers for the benefit of alternative instructional materials and the improvement of learning out- comes of Indonesian Language and Literature in secondary school.The method used in this research is analytical descriptive method. The data in this study is  short stories taken from  Kompas and Republika on the period of January 2005--December 2009 as well as students’ works as learning outcomes. Data collection was done by using the documentation. Technical analysis involves the process of organizing and sorting data on instructional materials into the pattern of unit categories and descriptions.The finding and analysis show that an average value of the selection aspect of contemporary short stories is as instructional materials of 3.78 (worthy of teaching materials) and aspects of contemporary short stories conformity with the principles of the preparation of teaching materials of 3.96 (worthy of teaching materials). Results of learning for understanding aspects of the short story vary in some categories, namely,  very good, good, fair, and poor. However, it is not found any students failing to obtain the category.
REPRESENTASI KISAH NABI IBRAHIM DALAM DELAPAN SAJAK INDONESIA MODERN (The Story Representation of Prophet Ibrahim in Eight Modern Indonesian Poems) Santosa, Puji
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2011.v4i1.68-81

Abstract

Makalah ini mengkaji representasi kisah Nabi Ibrahim dalam delapan sajak Indonesia modern, yaitu “Hanya Satu” (Amir Hamzah), “Ibrahim! Ibrahim!” (Remy Sylado), “Bapak Semua Bangsa” (Remy Sylado), “Sajak 10 Zulhijah” (Remy Sylado), “Balada Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s.” (Taufiq Ismail), “Sajak-Sajak Kelahiran” (Abdul Hadi W.M.), “Ibrahim Alaihisalam I” (Ahmadun Yosi Herfanda), dan “Ibrahim Alaihisalam II” (Ahmadun Yosi Herfanda). Kajian terhadap kedelapan sajak Indonesia modern yang ditulis oleh lima penyair tersebut dilakukan dengan cara membandingkan kisah Nabi Ibrahim yang terdapat dalam Alkitab dan Alquran dengan puisi hasil kreasi lima penyair tersebut. Hasil kajian dari delapan puisi tersebut merepresentasikan pewartaan keimanan Nabi Ibrahim dalam menyebarluaskan ajaran ketuhanan. Nabi Ibrahim dipandang sebagai insan yang paling luhur dan mulia karena Nabi Ibrahim disebut sebagai “abu al-anbiya”, yakni bapak segala nabi-nabi atau para rasul Tuhan, sekaligus juga kekasih Allah yang Mahapenyayang. Nabi Ibrahim menegakkan keesaan Tuhan dengan memberangus semua berhala dan mendirikan Kakbah. Hasil kajian ini merekomendasikan agar setiap insan dapat meneladani keluhuran dan kemuliaan budi pekerti Nabi Ibrahim yang senantiasa beriman kepada Tuhan.Abstract:This paper examines the story representation of Prophet Ibrahim in the eight modern Indonesian poems, namely, “ Hanya Satu (The Only One) “ (Amir Hamza), “Abraham! Abraham! “(Remy Sylado),” Bapak Semua Bangsa (The father of all Nations)”(Remy Sylado),” 10 Zhul- Hijjah Poem”(Remy Sylado),” Balada Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. (Ballad of the Prophet Ibrahim and Prophet Ismail a.s.) “(Taufiq Ismail),” Sajak-Sajak Kelahiran (Birth Poems )”(Abdul Hadi WM), “Ibrahim Alaihisalam I” (Yosi Ahmadun Herfanda), and “Abraham Alaihisalam II” (Yosi Ahmadun Herfanda). The study of eight modern Indonesian poems written by five poets was done by comparing the story of Prophet Ibrahim contained in the Bible and the Qur’an to the poetry created by the five poets. The study finds that the eight poems represents preaching the faith of Prophet Ibrahim in disseminating the teachings of the divine. Prophet Ibrahim was seen as the most sublime and the most glorious man, hence; the Prophet Ibrahim was so called ‘’abu al- anbiya’, namely, the father of all prophets,  as well as The Lover of God, Most Merciful. Prophet Ibrahim upheld the unity of God by destroying all the idols and set up the Ka’ba. The results of this study recommends that every man can imitate the grandeur and glory of the Prophet Ibrahim who always believed in God.
ROMAN MOETIARA BERLUMPUR DAN PATJAR MERAH KEMBALI KE TANAH AIR KARYA YUSDJA: NASIONALISME ALA AKTIVIS PERGERAKAN MERAH (The Story of Moetiara Berlumpur and Patjar Merah Kembali ke Tanah Air Written Yusdja: Nationalism in Red Movement Activists Version) Atisah, Atisah
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2011.v4i1.15-30

Abstract

Tulisan ini memaparkan tokoh-tokoh Pergerakan Merah dalam memperjuangkan kemerdekaan dari penjajah Belanda dalam roman Moetiara Berlumpur dan Patjar Merah Kembali ke Tanah Air karya Yusdja. Kedua roman tersebut memberi gambaran peran aktivis Pergerakan Merah yang memperjuangkan nasionalisme atau semangat kebangsaan ala Pergerakan Merah yang beraliran komunis. Bentuk nasionalisme ala Pergerakan Merah itu terefleksi dalam perjuangan yang keras (radikal) dan setia kepada partai. Mereka bergerak di lingkungan kaum buruh dan orang-orang kecil (marginal). Perlawanan para aktivis Pergerakan Merah atas penjajah, yakni dengan cara mengadakan pembongkaran jalan kereta api (Batang Oepamo), memutuskan kawat telepon, dan  menghasut  kuli-kuli tambang.Abstract:This paper describes the Red Movement leaders in fighting for independence from Dutch colonialists in the Story of  Moetiara Berlumpur and Patjar Merah kembali ke Tanah Air written  by Yusdja . Both stories illustrate the role of the Red Movement activists fighting for nationalism or national spirit in Red movement version having communist ideology. Form nationalism in Red Movement version was reflected in the hard (radical) and loyal struggle to the party. They moved in the environment of the labor and low class society. The  Red Movement activists against the colonialists were done by doing some actions, namely, destroying the railroad (Batang Oepamo), cutting  telephone wire, and inciting the mining workers.
REVITALISASI KEARIFAN LOKAL SEBAGAI IDENTITAS BANGSA DI TENGAH PERUBAHAN NILAI SOSIOKULTURAL (Local Revitalization as a National Identity in the Midst of Change Socio-Cultural Values) Suyatno, Suyono
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2011.v4i1.82-89

Abstract

Sejak diproklamasikan, format nasionalisme Republik Indonesia adalah mozaik keberagaman yang multikultural dan pluralistik yang menampung berbagai perbedaan budaya, etnis, agama, dan ideologi. Karena itu, prinsip bernegara yang kita kenal adalah bhineka tunggal ika, ‘berbeda-beda namun satu’. Sejalan dengan perkembangan zaman, banyak hal mengalami perubahan, termasuk nilai-nilai sosiokultural, persepsi politis ideologis, dan sebagainya. Di sisi lain, warisan kultural dari nenek moyang berupa nilai dan akar tradisi, termasuk kearifan lokal, mengalami pelunturan dan penggerusan. Penulis ini akan mencoba membahas bagaimana posisi kearifan lokal di tengah perubahan yang berlangsung secara eksternal dan internal. Mengacu pada kondisi Indonesia saat ini, dapat dikatakan ada dua faktor yang memengaruhi perubahan nilai sosiokultural, yakni faktor eksternal dan internal yang (mungkin) bergerak secara simultan. Faktor eksternal, antara lain, dipengaruhi oleh globalisasi, deideologisasi politik di tingkat global, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, neokapitalisme dan neoliberalisme yang makin memacu gaya hidup pragmatis, konsumtif, dan individual. Faktor internal dipengaruhi melunturnya nilai-nilai tradisi dan nilai- nilai lokal (termasuk di dalamnya kearifan lokal) yang mungkin juga terjadi karena faktor eksternal. Karena diasumsikan telah terjadi pelunturan nilai-nilai tradisi, penulis juga akan mencoba melihat upaya apa saja yang bisa dilakukan untuk merevitalisasi kearifan lokal di tengah globalisasi dan perubahan nilai sosiokultural sehingga kearifan lokal tetap menjadi identitas bangsa sekaligus memberikan kontribusi dalam membangun Indonesia yang multikultural dan pluralistik sekaligus madani. Revitalisasi kearifan lokal juga diharapkan mampu merespons dan memberikan solusi atas tantangan dan problematika Indonesia kini, seperti bagaimana mengatasi korupsi, kemiskinan, dan perusakan ekosistem alam.Abstract:Since the proclamation, the nationalism format of the Republic of Indonesia is multicultural and plural diversity mosaic accommodating many different cultures, ethnicities, religions, and ideologies. Therefore, the principle of nationhood as we know it is bhineka tunggal ika, unity in diversity. In line with the times, many things have changed, including socio-cultural values, ideological perceptions of politicians, and so on. On the other hand, the cultural heritage of the ancestors of is the values    root and traditions, including local wisdom experiencing discoloration. This writer will try to discuss how the position of local wisdom in the midst of change that take place in external and internal. Referring to Indonesia’s current condition, it can be said that there are two factors  influencing the change in socio-cultural values, namely, the external and internal factors that (perhaps) move simultaneously. External factors are, among others, influenced by globalization, political ideolo- gies at the global level, the development of information and communication technology, neo-capitalism and neo-liberalism spurring more pragmatic lifestyle, consumptive, and individuals. Internal factors, on the other hands, are influenced the fade of values tradition and local values (including local wisdom) that may also occur due to external factors. Because it is assumed that there has been  discoloration of tradition values, the writer will also try to find out  what kind of effort can be done for revitalizing local wisdom, in the midst of globalization and  changes in the socio cultural values. Hence, the local wisdom continues to be a nation’s identity as well as to give contribution in building a multicultural, pluralistic, and civi- lized Indonesia. Revitalization of local wisdom is also expected to respond and provide solutions to the challenges and problems of Indonesia today, that is, how to overcome corruption, poverty, and destruction of naturalecosystems.
Abstrak Bahasa Inggris Mulyani, Yeni
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2011.v4i1.%p

Abstract

EROTISME DALAM SERAT ANGLINGDARMA (Erotism in Serat Anglingdarma) Hadiyansyah, Dhuha
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2011.v4i1.31-37

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana struktur naratif, pengungkapan unsur erotisme, dan fungsi erotisme di dalam cerita Serat Anglingdarma. Untuk melihat struktur narasi, data dianalisis dengan menggunakan teori model struktur naratif yang dikemukakan oleh William Labov dan Joshua Waletzky. Dari enam unsur narasi yang dikemukakan keduanya, ada lima kategori yang digunakan untuk membangun narasi Serat Anglingdarma, yaitu orientasi, tegangan, resolusi, evaluasi, dan koda.Abstract:This research is aimed at finding the narrative structure of text containing elements of eroticism, as well as how they are expressed and how their functions in Serat Anglingdarma story. The data is analyzed by using William Labov dan Joshua Waletzky’s theory of narrative structure model. From the six elements of narrative structure  proposed by them, there are five categories employed by the writer to make generic structure of Serat Anglingdarma, namely orientation, com- plicating, resolution, evaluation, and coda.
MITOS DAN AKTIVITAS MELAUT MASYARAKAT BAJO DI BUTON (Myth and Sailing Activities of Bajo Community in Buton) Uniawati, Uniawati
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2011.v4i1.90-100

Abstract

Mitos adalah salah satu sarana untuk mengingatkan anggota masyarakat agar tetap mematuhi pranata-pranata yang berlaku dalam suatu kelompok masyarakat. Masyarakat Bajo adalah masyarakat pelaut yang masih meyakini tentang suatu mitos terutama mitos melaut. Menjaga dan menghidupkan mitos-mitos yang berhubungan dengan laut merupakan jalan terbaik bagi masyarakat Bajo untuk menggeneralisasikan kehidupan mereka yang akrab dengan laut. Mitos pengibaratan ikan dan sampan yang kering adalah dua mitos Bajo yang dalam tulisan ini dikaji dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan memanfaatkan kritik mitis. Hasil analisis menunjukkan bahwa mitos tersebut merupakan manifestasi tekad dan semangat masyarakat Bajo untuk tetap eksis melaut.Abstract:Myth is a kind of instrument which used to remind the member of community in order to follow some norms there. Bajo community is a sailor community having a strong belief in myth, especially myth in sailing. Preserving and protecting myths related to sailing is the best way for Bajo community to generalize their close relation to the sea. Myth comparing fish to dry trash are two myths that will be discussed by using descriptive qualitative method. The discussion also uses mythical critic. The result of the discussion shows that myths are manifestation of resolve and spirit of Bajo community in sailing.
PANDUAN PENULIS Mulyani, Yeni
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2011.v4i1.%p

Abstract

Page 1 of 2 | Total Record : 13