cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Asia Pacific Studies
ISSN : 25806378     EISSN : 25807048     DOI : -
Jurnal Asia Pasific Studies (JAPS) is published by International Relations Department of Universitas Kristen Indonesia (UKI). It is a bi-annual journal publishing articles on International Relations and Asia Pacific issues. The journal focused on multidisciplinary and pluralistic perspectives and approaches regarding International Relations theories, research methodologies, and International Political Economy as well as Security Sudies within the scope of Asia Pacific.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 2 (2018): Juli - Desember 2018" : 8 Documents clear
THE DECONSTRUCTION AND RECONSTRUCTION OF GLOBAL ENVIRONMENTAL GOVERNANCE: CASE STUDY OF PEAT RESTORATION AGENCY Verdinand Robertua
Kajian Asia Pasifik Vol 2 No 2 (2018): Juli - Desember 2018
Publisher : International Relations Study Program of Universitas Kristen Indonesia (UKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (845.118 KB) | DOI: 10.33541/japs.v2i2.789

Abstract

Forest fires in 2015 in Indonesia has destructed severely Indonesian peat and forest. Peat Restoration Agency was established to restore degraded peat and protect the remaining intact peat. The problem is that Indonesia has complex political administration and isolated peatland. Meanwhile there is significant wave of states retreat from global environmental governance. This research would like assess the performance of global environmental governance using the case study of Peat Restoration Agency. This research is a qualitative study with the emphasis of conceptual and theoretical development. Environmental Studies of English School and global environmental governance are the theoretical and conceptual focus respectively. Primary data is collected through semi-structured interview with head of Peat Restoration Agency, environmental activists in WWF Indonesia, WALHI and Greenpeace Indonesia. There are two key finding in this research. Firstly, the absence of immutability thesis is essential for expanding pluralism in Environmental Studies of English School (ESES). Secondly, deconstruction and reconstruction of global environmental governance has implication toward the reconstruction of environmental diplomacy. Keywords: Peat Restoration Agency, Environmental Studies of English School, environmental diplomacy, Global Environmental Governance, peatland Abstrak Kebakaran hutan yang terjadi pada tahun 2015 telah menghancurkan lahan gambut yang sangat luas. Merespons kerusakan tersebut, Badan Restorasi Gambut dibentuk dengan tujuan memulihkan lahan gambut yang rusak dan melindungi lahan gambut yang utuh. Inisiatif ini menghadapi masalah dimana Indonesia memiliki sistem pemerintahan yang kompleks dan lahan gambut yang sulit diakses dari pusat pemerintahan. Tata kelola lingkungan global juga menghadapi masalah dimana negara anggotanya memilih untuk bersikap pasif. Penelitian ini mengevaluasi kinerja dari tata kelola lingkungan global melalui studi kasus Badan Restorasi Gambut. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan tujuan penelitian yaitu pengembangan konsep tata kelola lingkungan global dan teori Environmental Studies of English School. Data primer diperoleh melalui serangkaian wawancara dengan kepala Badan Restorasi Gambut, aktivis lingkungan WWF Indonesia, WALHI dan Greenpeace Indonesia Terdapat dua kesimpulan yang diperoleh penelitian ini. Pertama, penghapusan immutability thesis merupakan bagian dari pengembangan pluralisme dalam Environmental Studies of English School. Kedua, dekonstruksi dan rekonstruksi tata kelola lingkungan global berimplikasi terhadap rekonstruksi diplomasi lingkungan. Kata kunci: Badan Restorasi Gambut, Environmental Studies of English School, diplomasi lingkungan, tata kelola lingkungan global, lahan gambut
MENGKAJI PERAN UN WOMEN DALAM MENGATASI KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DAN MEWUJUDKAN KESETARAAN GENDER MELALUI PERSPEKTIF FEMINISME Iqbal Ramadhan; Innesia Ma’sumah
Kajian Asia Pasifik Vol 2 No 2 (2018): Juli - Desember 2018
Publisher : International Relations Study Program of Universitas Kristen Indonesia (UKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (802.396 KB) | DOI: 10.33541/japs.v2i2.871

Abstract

This research discusses about the role and effectiveness of UN Women as the real implementation of the Feminist paradigm and as an International Organization that upholds women's right in solving important issues related to women's rights, like violence against women and gender inequality. To analyse the issue on this journal, authors uses gender concept and feminist securitical approach. It also gives a stand point about the two main paradigms of International Relations, Realist and Liberalist, and its relation to Feminists regarding gender inequality and violence on women. The result of this research is that UN Women is quite effective in dealing with Feminist issues although it has not experienced significant improvement. However, UN Women's efforts should be appreciated for fighting for women's rights. Keywords: UN Women, Feminist, Violence against Women, Gender Inequality Abstrak Penelitian ini membahas tentang peran dan efektivitas UN Women sebagai implementasi nyata dari paradigma Feminis dan merupakan Organisasi Internasional yang menjunjung tinggi hak perempuan dalam menyelesaikan isu-isu penting terkait dengan perempuan yaitu kekerasan terhadap perempuan dan ketimpangan gender. Dalam menganalisis isu pada jurnal ini, penulis menggunakan konsep gender dan pendekatan keamanan feminis. Penelitian ini juga memberikan kritik terhadap dua paradigma utama Hubungan Internasional yaitu Realis dan Liberalis dalam keterkaitannya dengan Feminis terkait ketimpangan gender dan kekerasan terhadap perempuan. Hasil dari penelitian ini adalah UN Women cukup efektif dalam menangani isu-isu Feminis walaupun belum mengalami peningkatan yang signifikan. Namun upaya UN Women harus diapresiasi karena telah memperjuangkan hak perempuan. Kata Kunci: UN Women, Feminis, Kekerasan terhadap Perempuan, Ketimpangan Gender
DIPLOMASI EKONOMI INDONESIA DAN PASAR PROSPEKTIF DI KAWASAN PACIFIC ALLIANCE: STUDI KASUS MEKSIKO DAN CHILE Leonard Hutabarat
Kajian Asia Pasifik Vol 2 No 2 (2018): Juli - Desember 2018
Publisher : International Relations Study Program of Universitas Kristen Indonesia (UKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (912.36 KB) | DOI: 10.33541/japs.v2i2.806

Abstract

This article argues that Indonesian economic diplomacy should consider Mexico and Chile as member of Pacific Alliance in Latin American region as the prospective markets for Indonesia in the future. As emerging economies, these two countries have positive economic projection, population growth and their demand for import products from other region. Based on economic diplomacy concept, Indonesian efforts to negotiate bilateral trade agreements (free trade agreement) or Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) with Mexico and Chile will be part of longterm strategy to build these countries as two of Indonesian non traditional markets. Keywords : Economic Diplomacy, Pacific Alliance, Mexico, Chile Abstrak Artikel ini berargumen bahwa diplomasi ekonomi Indonesia perlu mempertimbangkan Meksiko dan Chile yang merupakan negara anggota Aliansi Pasifik di kawasan Amerika Latin sebagai pasar prospektif bagi Indonesia pada masa yang akan datang. Sebagai emerging economies, kedua negara ini memiliki proyeksi ekonomi yang positif, pertumbuhan penduduk dan kebutuhannya terhadap produk-produk impor dari kawasan lain. Berdasarkan konsep diplomasi ekonomi, upaya-upaya Indonesia untuk menegosiasikan perjanjian-perjanjian perdagangan bilateralnya (perjanjian perdagangan bebas) atau Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dengan Meksiko dan Chile akan menjadi bagian dari starategi jangka panjang untuk mengembangkan kedua negara ini sebagai dua pasar non tradisional Indonesia. Kata Kunci : Diplomasi Ekonomi, Aliansi Pasifik, Meksiko, Chile
The THE IMPACT OF SINGAPORE COASTAL RECLAMATION AGAINST MARITIME BOUNDARIES AND TERRITORIAL SOVEREIGNTY OF INDONESIA-SINGAPORE Hardi Alunaza; Arni Nur Sukma Pertiwi; Adityo Darmawan Sudagung
Kajian Asia Pasifik Vol 2 No 2 (2018): Juli - Desember 2018
Publisher : International Relations Study Program of Universitas Kristen Indonesia (UKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.036 KB) | DOI: 10.33541/japs.v2i2.792

Abstract

Singapore has undertaken coastal reclamation activities since 1976 in the southwest of Singapore's main island bordering the Nipa Island, Riau Archipelago, Indonesia. In reclamation, Singapore took sand from Nipa Island Indonesia bounded by the sea with Singapore. This reclamation will have an impact on several things that is the maritime boundaries and the territorial sovereignty of both countries. This article is attempted to describe how the impact of Singapore coastal reclamation against the maritime boundary and territorial sovereignty of Indonesia-Singapore. The author is using the concept of State Sovereigntynd the International Maritime Law in UNCLOS 1982. Furthermore, this paper is using the descriptive method with the qualitative approach. The data collection technique is literature study consisting of books, journals, and including data from the reliable website in supporting the explanation of this paper. Based on the provisions of UNCLOS 1982, it can be concluded that Singapore's coastal reclamation has no effect on the maritime boundary between Indonesia and Singapore, where maritime boundaries remain at baseline before Singapore reclamates. However, Singapore's coastal reclamation could threaten Indonesia's territorial sovereignty as the mainland of Singapore approaching Nipa Island Indonesia can assume that Singapore wants to take control of Nipa Island, especially the Nipa Island region is strategically located because of its near to the Singapore Strait which is an international shipping line. Abstrak Singapura telah melakukan kegiatan reklamasi pantai sejak 1976 di barat daya pulau utama Singapura yang berbatasan dengan Pulau Nipa, Kepulauan Riau, Indonesia. Dalam reklamasi, Singapura mengambil pasir dari Pulau Nipa Indonesia yang dibatasi langsung oleh laut dengan Singapura. Reklamasi ini akan berdampak pada beberapa hal, yaitu batas maritim dan kedaulatan teritorial kedua negara. Tulisan ini memaparkan bagaimana dampak reklamasi pantai Singapura terhadap batas maritim dan kedaulatan teritorial Indonesia-Singapura. Dalam tulisan ini, penulis menggunakan konsep Kedaulatan Negara dan Hukum Laut Internasional UNCLOS 1982. Dengan menggunakan metode deskriptif dan pendekatan kualitatif, data yang disajikan dalam artikel ini bersumber dari studi pustaka, baik buku, jurnal, serta data dari website guna mendukung penjelasan akhir. Berdasarkan ketentuan UNCLOS 1982, dapat disimpulkan bahwa reklamasi pantai Singapura tidak berpengaruh pada batas maritim antara Indonesia dan Singapura, di mana batas-batas maritim tetap pada kesepakatan awal sebelum Singapura melakukan reklamasi. Namun, reklamasi pantai Singapura dapat mengancam kedaulatan teritorial Indonesia karena daratan Singapura yang mendekati Pulau Nipa Indonesia dapat diasumsikan bahwa Singapura ingin menguasai Pulau Nipa, terutama wilayah Pulau Nipa yang strategis karena letaknya yang dekat dengan Selat Singapura yang merupakan jalur pelayaran internasional. Kata kunci:Batas Maritim; Kedaulatan Teritorial; Reklamasi Pantai
The STATE AND GLOBAL SPORT GOVERNANCE: ANALYZING THE TRIANGULAR RELATIONSHIP AMONG THE FIFA, KEMENPORA RI, AND THE PSSI Indra Kusumawardhana; Muhammad Badaruddin
Kajian Asia Pasifik Vol 2 No 2 (2018): Juli - Desember 2018
Publisher : International Relations Study Program of Universitas Kristen Indonesia (UKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1056.721 KB) | DOI: 10.33541/japs.v2i2.749

Abstract

Discussion on the power interplay between global sport governance and state-level sport management in Indonesia enriches discourse on the relation between globalization and nation-state’s sovereignty. This Indonesia’s case is an exceptional, since it is representing triangular relationship among Fédération Internationale de Football Association (FIFA), the Indonesian Ministry of Youth and Sport (Kemenpora RI), and the Football Association of Indonesia (PSSI) which creates protracted dispute among football stake holders in Indonesia. This paper focus on the case of the Indonesian Kemenpora’s decision to suspend the PSSI activities, which raised reaction of the FIFA by banning Indonesia’s participation in the global football agenda managed by FIFA. Departing from the abovementioned context and perspectives, the purpose of this essay is to answer the questions about the significance of a nation-state’s sovereignty to govern its domestic football issues, as well as answering the question of the global football governance’s power over the national football association. In answering these questions, this paper will draw dynamics relation among domestic political powers which contribute to the internal dispute inside the PSSI in the first part. This paper will also portray the global context by describing on how the FIFA exercises its ‘global authority’ by imposing sanction to the member which is ‘coopted’ by the domestic political power for the second part. Finally, in the third part, this paper will discover the power interplay among these three actors until the recent progress of this case which seems to prove the effective power exercised by the FIFA as a global football governor. Abstrak Diskusi mengenai interaksi kekuasaan antara tata kelola pemerintahan dunia di bidang olahraga dengan pranata manajemen olahraga pada level negara di Indonesia memperkaya diskursus terkait inter-relasi antara globalisasi dengan kedaulatan negara. Distingsi kasus Indonesia terletak pada interaksi triangular antara Fédération Internationale de Football Association (FIFA), Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI), dan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) yang mengundang sengketa berkepanjangan antara pihak-pihak terkait dalam penyelenggaraan sepak bola di Indonesia. Artikel ini fokus pada dinamika pasca keputusan Kemenpora RI untuk melarang kegiatan PSSI, dimana keputusan tersebut memantik reaksi dari FIFA dengan membekukan hak partisipasi Indonesia di seluruh agenda sepak bola global yang dikelola oleh FIFA. Bertolak dari konteks dan cara pandang ini, tujuan utama dari artikel ini adalah untuk menjawab pertanyaan terkait signifikansi eksistensi kedaulatan negara dalam mengelola permasalahan sepak bola domestik, sekaligus mengungkap kekuasaan tata kelola sepak bola global terhadap asosiasi sepak bola nasional. Dalam menjawab pertanyaan ini, pada bagian pertama, artikel ini akan menelaah dinamika interaksi antara kekuatan-kekuatan politik domestik yang berkontribusi di dalam sengkarut kasus PSSI. Selain itu, artikel ini juga akan menangkap konteks global dengan mendeskripsikan kapasitas FIFA dalam mengartikulasikan otoritas global-nya dengan menjatuhkan sanksi terhadap anggota FIFA yang terkooptasi oleh kepentingan politik domestik. Sedangkan pada bagian akhir, artikel ini akan mengungkap interaksi kekuasaan antara tiga aktor di dalam kasus ini untuk membuktikan kekuasaan FIFA sebagai representasi dari “global football governor”. Kata kunci: Global Governance, Negara-Bangsa, Sepak Bola, Kemenpora RI, PSSI, FIFA.
RIVALITAS GEOPOLITIK AMERIKA SERIKAT – TIONGKOK DI MYANMAR Eufronius Suwarman; Kartika Watunwotuk; Lecya Melianti; Maria Rosari; Natalia Yewen; Regina Naomi
Kajian Asia Pasifik Vol 2 No 2 (2018): Juli - Desember 2018
Publisher : International Relations Study Program of Universitas Kristen Indonesia (UKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.207 KB) | DOI: 10.33541/japs.v2i2.1071

Abstract

Kompetisi komprehensif A.S.-China saat ini bermain dalam skala yang semakin global. Fokus utama kompetisi adalah wilayah Indo-Asia-Pasifik yang luas, dan berpusat di Asia Tenggara, contohnya adalah Myanmar. Penulisan ini akan membahas rivalitas AS dan Tiongkok di Myanmar untuk mencapai kepentingan nasional mereka. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode kualitatif. Argumen akhir dari penulisan ini bahwa rivalitas AS-Tiongkok ditujukan untuk memperluas pengaruh mereka di Myanmar karena wilayah Myanmar yang strategis dan sumber daya alam yang melimpah menjadi daya tarik Tiongkok. Keuntungan Beijing sebagian besar ekonomi dan diplomatik, sedangkan Washington lebih beragam. Namun Myanmar mampu menyikapi dengan baik kehadiran dua kekuatan besar tersebut. Kata Kunci: Rivalitas AS-Tiongkok, Kepentingan nasional AS-Tiongkok, Respon Myanmar
SENGKETA BHUTAN-TIONGKOK-INDIA: KONFLIK DOKLAM Josephine Emmanuela; Chika Arianti; Arya Kusuma; Mika Tobing; Chaterine Yehezkiel
Kajian Asia Pasifik Vol 2 No 2 (2018): Juli - Desember 2018
Publisher : International Relations Study Program of Universitas Kristen Indonesia (UKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (970.902 KB) | DOI: 10.33541/japs.v2i2.1069

Abstract

Sengketa antara Tiongkok-Bhutan atas wilayah Doklam mengakibatkan instabilitas kemanan di wilayah tersebut. Bhutan yang kemudian meminta bantuan India untuk mengatasi sengketa di Doklam menambah konstelasi baru dalam krisis sengketa yang ada Doklam. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana upaya penyelesaian konflik Doklam antara Tiongkok-India. Dalam penelitian ini akan dijelaskan bagaimana proses terjadinya sengketa yang ada di Doklam, dan proses perdamaiannya. Diskusi kemudian berlanjut kepada, One China Policy yang melatar belakangi Tiongkok dalam melakukan sengketa terhadap wilayah Doklam. Untuk menganalisis kasus sengketa Doklam, penulis menggunakan teori “Realisme”. Untuk mendukung penelitian ini, penulis menggunakan metode kulitatif. Kata Kunci : Tiongkok, India, Sengketa, Doklam, Bhutan
TIONGKOK SEBAGAI PEMIMPIN DUNIA BARU MELALUI INVESTASI DI NEGARA-NEGARA DI DUNIA Annissa Nadya; Elshadai Trihandayani; I Gusti Usha; Maria Agnetha; Theofilia Soukotta; Sepril Melani
Kajian Asia Pasifik Vol 2 No 2 (2018): Juli - Desember 2018
Publisher : International Relations Study Program of Universitas Kristen Indonesia (UKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.986 KB) | DOI: 10.33541/japs.v2i2.1070

Abstract

Tulisan ini akan membahas mengenai Tiongkok sebagai negara yang saat ini dapat dikatakan sebagai negara superpower. Tiongkok melakukan investasi global besar-besaran dan hadir di negara-negara di seluruh dunia, tidak terbatas hadir di negara-negara berkembang tetapi juga di negara maju.Investasi Tiongkok yang hampir hadir di sebagia besar negara di dunia, menunjukkan Tiongkok telah berhasil memperluas pengaruhnya, sehingga semakin besar kekuatan yang dimiliki Tiongkok. Kemudian, inovasi besar yang digagas oleh Tiongkok, mendorong semakin banyak hadirnya investasi Tiongkok di dunia.Seluruh kawasan telah merasakan hadirnya Tiongkok dengan adanya investasi tersebut. Tiongkok dipandang sebagai negara yang penting saat ini.Adapun tujuan tulisan ini adalah untuk menjelaskan bagaimana investasi global yang dilakukan Tiongkok, mendorongnya hadir sebagai pemimpin dunia saat ini. Metode penelitian ini bersifat kualitatif.Penulis menggunakan teori World Leadership menurut Modelski sebagai pedoman.Tulisan ini menemukan, jika Tiongkok berpotensi untuk menjadi New World Leader berlandaskan kekuatan dan inovasi yang dimiliki Tiongkok. Kata Kunci : Tiongkok, Investasi, New World Leader, Kekuatan

Page 1 of 1 | Total Record : 8