cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
Jurnal Media Pertanian
ISSN : 25031279     EISSN : 25811606     DOI : -
urnal Media Pertanian dipublikasikan dalam Bahasa Indonesia dan diterbitkan dua kali dalam setahun. Jurnal ini mempublikasikan artikel hasil penelitian dan artikel review bidang ilmu Agronomi secara luas.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2017): Oktober" : 7 Documents clear
PENGGUNAAN LARUTAN KIMIA DALAM PEMATAHAN DORMANSI BENIH KOPI LIBERIKA Nengsih, Yulistiati; Hartawan, Rudi
Jurnal Media Pertanian Vol 2, No 2 (2017): Oktober
Publisher : Universitas Batanghari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.882 KB) | DOI: 10.33087/jagro.v2i2.39

Abstract

In fact, coffee cultivation should be met one of the constraints as seeds dormancy due to the harsh skin condition of the seed so that water and needed in the germination process  can not get into the seed. To soften the hard skin of coffee beans can be done with an easy and effective way by soaking the seeds in the solution. This study aims to find out which solution is appropriate in breaking dormancy and increasing the viability and vigor of liberative coffee seed. The experiment was conducted by soaking the coffee seeds using KNO3 solution at 0,5% concentration and soaking in water treatment (H2O) for 24 hours. Soaking the coffee seeds in H2SO4 solution with 20% concentration for 30 minutes and soaking the coffee seeds in coconut water concentration 50% for 4 hours.Observed parameters: Potential Viability Parameters, Growth Rate Index, Sprout Height (cm), Dry Root Weight (mg), and Sprout Dry Weight (mg). To observe the observed treatment, all the final data from the observed results were analyzed variance, when different treatments were followed by the Duncan test. The results showed the use of chemical solutions KNO3 and H2SO4 able to show the viability of the seeds of good coffee liberika.Keywords: dormancy, germination process and growth rate indexDalam praktek pembudidayaan kopi dihadapkan pada kendala biji yang mengalami dormansi karena keadaan kulit biji yang keras sehingga air dan udara yang dibutuhkan dalam proses perkecambahan tidak dapat masuk ke dalam biji. Untuk melunakkan kulit biji kopi yang keras dapat dilakukan dengan cara  mudah dan effektif yaitu dengan melakukan perendaman benih dalam larutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui larutan mana yang tepat dalam mematahkan dormansi serta meningkatkan viabilitas dan vigor benih kopi liberika. Pelaksanaan penelitian dilakukan dengan cara merendam benih kopi menggunakan larutan KNO3 pada konsentrasi 0,5 % dan perlakuan perendaman dalam air biasa (H2O) selama 24 jam. Perendaman benih kopi dalam larutan H2SO4 dengan konsentrasi 20% selama 30 menit dan perendaman benih kopi dalam air kelapa konsentrasi 50% selama 4 jam. Peubah yang diamati :Parameter Viabilitas Potensial, Indeks Kecepatan Berkecambah, Tinggi Kecambah (cm), Berat Kering Akar (mg), dan Berat Kering Kecambah (mg). Untuk melihat perlakuan yang diamati, semua data akhir dari hasil pengamatan dianalisis ragam, bila terdapat perlakuan yang berbeda dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan larutan kimia KNO3 dan H2SO4 mampu menunjukkan viabilitas benih kopi liberika yang baik.Kata Kunci : dormansi, proses perkecambahan, dan daya kecambah
TINGKAT SERANGAN HAMA PENGGEREK BUAH KAKAO (Conopomorpha cramerella Snell.) (Lepidoptera: Gracillaridae) DI DESA BETUNG KECAMATAN KUMPEH ILIR KABUPATEN MUARO JAMBI Hayata, Hayata
Jurnal Media Pertanian Vol 2, No 2 (2017): Oktober
Publisher : Universitas Batanghari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.468 KB) | DOI: 10.33087/jagro.v2i2.40

Abstract

One of the barriers in the cacao caltivation is pest attacking of  “hama penggerek Buah Kakao (PBK) that caused by conopomorpha cramerella . Cocoa pod was broke caused by PBK larvae by making a hole under the cover, beans and white pulp of cacao pod. It causes a hard cohering among beans and hard embedded the beans in its white pulp on an unripe cacao pod. The broken cocoa pod becomes wrinkled and emergence a dark color around the cocoa pod cover which resulting a decrease of weight and its quality.The attacking level was  strongly determined by its farm maintenance conditions. This study aimed to know the attack level of cocoa pod in Betung Village, Muaro Jambi Regency .The studies had been started since June until August 2017.This research applies a survey method and completed by purposive sampling to find the sample .The sample location category was based on the more than four years of age and was being producting. The suffered cocoa pod sited around the tertiar branch of the plant that showed a very low intensity as much as 2,36 %. The infected cocoa pods were located on all the part of the cocoa trees trunk e.g. the primary, secondary , and tertiary branchs which showed the very high intensity as much as 95,67 %.  It’s because of the farm passing on, where there is neither branches cutting down nor taking out the falling leaves and fruit on the ground; and also neither fertilizing nor pest controling.Keywords : Attacking Intensity, fruit pest, conopomorpha cramerellaSalah satu kendala dalam pengembangan tanaman kakao adalah serangan hama penggerek buah kakao (PBK) yang disebabkan oleh Conopomorpha cramerella. Kerusakan buah kakao disebabkan oleh larva PBK dengan cara membuat liang gerekan di bawah kulit buah dan di antara biji serta memakan daging buah. Pada buah yang relatif muda, hal itu menyebabkan biji melekat pada kulit buah dan melekat satu sama lain. Biji yang rusak mengeriput dan timbulnya warna gelap pada kulit biji yang mengakibatkan turunnya berat dan mutu produk. Tingkat serangan sangat ditentukan oleh kondisi pemeliharaan kebun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat serangan penggerek buah kakao di Desa Betung Kabupaten Muaro Jambi. Penelitian telah dilakukan mulai bulan Juni sampai dengan Agustus 2017. Penelitian ini menggunakan metode survei dan pengambilan sampel secara purposive random sampling (metode acak terpilih). Kriteria menentukan lokasi sampel yaitu pertanaman kakao yang berumur lebih dari empat tahun dan telah berproduksi. Buah kakao yang terserang terletak pada cabang tersier dengan intensitas serangan yang sangat rendah yaitu sebesar 2,36 %. Buah kakao yang terserang terletak pada semua bagian batang kakao yaitu di cabang primer, sekunder, dan tersier dengan intensitas serangan yang sangat tinggi yaitu sebesar  95,67 %. Kebun kakao dibiarkan begitu saja, tidak adanya pemangkasan terhadap cabang dan ranting, tidak adanya pembersihan terhadap daun buah yang gugur, tidak adanya pemupukan, dan juga tidak adanya pengendalian terhadap penggerek buah.Kata kunci : Tingkat serangan, Penggerek buah, Conopomorpha cramerella
TANGGAP BIBIT KAKAO TERHADAP MEDIA TANAM GAMBUT DAN ULTISOL SERTA ZEOLIT Nursanti, Ida
Jurnal Media Pertanian Vol 2, No 2 (2017): Oktober
Publisher : Universitas Batanghari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.383 KB) | DOI: 10.33087/jagro.v2i2.35

Abstract

Peat soils and mineral soils have poor chemical and biological properties. The addition of mineral soil and zeolite in peat plant media will improve the soil properties. The aim of this research is to know the effect of ultisol and zeolite soil on peat media and to determine the ratio of ultisol and peat soil media and zeolite for the growth of cocoa seedlings. Implementation of research in Jambi City. The study used Completely Randomized Design (RAL) with 2 factors. Giving ultisol soil (U) with 4 levels : U0 = without ultisol soil, U1 = ultisol soil 15% by weight of planting medium, U2 = ultisol soil 20% by weight of planting medium, U3 = ultisol soil 25% weight of planting medium. Zeolite (Z) with 3 levels ie: Z0 = zeolite, Z1 = zeolite 100 g and Z2 = zeolite 200g. Observation of: height of plant (cm), dry weight of crown (g), leaf N content (%), and leaf P content (%). The observed data were analyzed using Duncan Multiple Range Test (DNMRT) and Duncan Multiple Range Test (DNMRT) test at 5% level. The administration of ultisol and zeolite soils on peat moss can significantly influence the growth of cocoa seeds, especially in plant height, dry crown weight, leaf N content and leaf P content. Ultisol soil 25% and zeolite 200g on peat media can better influence the growth of cocoa seedlings.Keywords : Peat, Ultisol, Zeolit, CocoaTanah gambut dan tanah mineral memiliki sifat kimia dan biologi kurang baik. Penambahan tanah ultisol dan zeolit dalam media tanam gambut akan dapat memperbaiki sifat tanah. Penelitian bertujuan mengetahui  pengaruh pemberian tanah ultisol dan zeolit pada media gambut serta menentukan perbandingan media tanah ultisol, zeolit dan gambut untuk  pertumbuhan bibit kakao. Pelaksanaan penelitian di Kota Jambi. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 faktor. Pemberian tanah ultisol (U) dengan 4 taraf  yaitu :U0  = tanpa pemberian tanah ultisol, U1  = tanah ultisol  15% berat medium tanam, U2=tanah ultisol 20% berat medium tanam, U3=tanah ultisol 25% berat medium tanam.  Zeolit  (Z) dengan 3 taraf yaitu :Z0= tanpa zeolit, Z1  = zeolit 100 g dan Z2 = zeolit 200g.   Pengamatan terhadap: tinggi tanaman (cm), bobot kering tajuk (g), kadar N daun (%), dan kadar P daun (%). Data hasil pengamatan dianalisa menggunakan analisis ragam dan uji Duncan New Multiple Range Test (DNMRT) pada taraf 5%. Pemberian tanah ultisol dan zeolit pada media gambut dapat mempengaruhi pertumbuhan bibit kakao secara signifikan terutama pada tinggi tanaman, bobot kering tajuk,  kadar N daun dan kadar P daun. Tanah ultisol 25% dan zeolit 200g pada media gambut dapat lebih baik mempengaruhi pertumbuhan bibit kakao.Kata kunci : Gambut,Ultisol, Zeolit, Kakao
PENYAKIT BUSUK BUAH TANAMAN KAKAO (Theobroma cacao L. ) SERTA PERSENTASE SERANGANNYA DI DESA BETUNG KECAMATAN KUMPEH ILIR KABUPATEN MUARO JAMBI Defitri, Yuza
Jurnal Media Pertanian Vol 2, No 2 (2017): Oktober
Publisher : Universitas Batanghari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.702 KB) | DOI: 10.33087/jagro.v2i2.41

Abstract

Research on foul fruit disease of cacao plants (Theobroma cacao L.) was conducted in the Betung village, Kumpe hilir district , Muaro Jambi regency. This study aims to know about foul fruit diseases and its precentage of illness attacking. Simple Random Sampling was use to determine the samples in this research.The samples weredone in public cocoa farm, that had been stratified base on land passing in level. The symptoms foul fruit desease was observed caused by a phytopthorapalmivora fungus, and those data were entirely collected calculate followed by found out the precentage of attacking fruit. Identification of pathogenic disease was done at Batanghari University laboratory. The result showed that there were the attacking of foul fruit disease caused by a phytophthora palmivora fungus on passing in land was 60.4 % which was means it was hard level of disease as more than half cocoa fruit were foul. While it showed a light of disease attacking on unpassing in land.it’s only 7.32 % foul fruitKeywords : Foul Fruit Disease of Cacao Plants, Phytophthora palmivoraPenelitian ini untuk mengkaji penyakit busuk buah serta persentase serangannya pada tanaman Kakao (Theobroma cacao,L.), dilakukan di desa Betung, kecamatan Kumpeh Ilir kabupaten Muaro Jambi. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode Simple Random Sampling, sampel tanaman dipilih secara acak di perkebunan kakao rakyat yang sebelumnya sudah dilakukan pengelompokan berdasarkan derajat keterawatan kebun. Pengamatan dilakukan terhadap gejala penyakit busuk buah yang disebabkan oleh jamur Phytopthora palmivora, kemudian dikumpulkan data dengan menghitung seluruh buah  baik yang sehat maupun yang sakit sehingga didapat persentase tanaman terserang. Identifikasi terhadap pathogen penyakit dilakukan di Laboratorium  Universitas BatanghariHasil penelitian menunjukkan bahwa persentase serangan penyakit busuk buah yang disebabkan oleh jamur Phytophthora palmivora pada kebun yang tidak dirawat adalah 60.4 % yang berarti serangan penyakit ini termasuk berat karena lebih setengah buah kakao terserang penyakit. Sedangkan pada kebun yang dilakukan perawatan intensif serangan penyakit busuk buahnya 7.32 % ini berarti serangan penyakit ringan.Kata Kunci : Penyakit Busuk Buah Kakao, Phytophthora palmivora
PROSES DEKOMPOSISI BATANG KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) METODE REPLANTING SISIPAN DAN PENCINCANGAN Nasamsir, Nasamsir; Defitri, Yuza; Suhermanto, Heri
Jurnal Media Pertanian Vol 2, No 2 (2017): Oktober
Publisher : Universitas Batanghari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.568 KB) | DOI: 10.33087/jagro.v2i2.36

Abstract

 This research was carried out in Panca Mulya Village, Sungai Bahar District, Muaro Jambi Regency, Jambi Province since August to September 2017. The material that used was weathering stems of oil palm that already previously replanting by 6 to 7 months, while the tools that used was the Global Positioning System (GPS) with Garmin GPSmap 78s as its brand, plastic bag, holding tool, camera, and stationery. This research was carried out by survey methods applying. Samples was collected from the replanting areas of both underplanting and chipping method, respectively 2 blocks with 3 locations each block had 200 m distance to North direction with 0.2 kg weight. Secondary data was collected from a company and Indonesian Agency for Meteorological, Climatological and Geophysics (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika or simply BMKG) while primary data was an interviews with farmers using a questionnaire. The collected data were : general description of research location, rainfall, temperature, humidity, soil acidity, C-N ratio of oil palm stem both before and after decomposition, from the replanting of both underplanting and chipping methods. The result of this study showed that C-N ratio of oil palm stem before decomposition was 58.42, C-N ratio of oil palm stem decomposition that replanting with underplanting method was 37.18, and the average C-N ratio of chipping method was 14.24. Be equaling with the compost quality specifications on Indonesian national Standar (Standar Nasional Indonesia (SNI) 19-7030-2004, so C/N value of decomposition process of oil palm stem that replanting by chipping method was already meet this standard with 10 to 20 as a C/N grade. Keywords ; C-N ratio, oil palm, replanting methodPenelitian ini dilaksanakan di desa Panca Mulya, kecamatan Sungai Bahar, kabupaten Muaro Jambi, Jambi pada bulan Agustus sampai September 2017. Bahan yang digunakan adalah hasil pelapukan batang Kelapa sawit yang sudah direplanting 6 sampai 7 bulan sebelumnya, sedangkan alat-alat yang digunakan adalah Global Positioning System (GPS) merek Garmin GPSmap 78s, kantung plastik, alat pengambil bahan, kamera, dan alat tulis. Penelitian ini dilaksanakan dengan metode survey, sampel dikumpulkan dari areal replanting metode sisipan dan matode pencincangan, masing-masing 2 blok pada 3 titik setiap blok jarak 200 m arah utara dengan berat 0.2 kg. Data sekunder dikumpulkan dari perusahaan atau BMKG dan wawancara dengan petani menggunakan kuisioner. Data yang dikumpulkan adalah ; informasi umum lokasi penelitian, curah hujan, suhu, kelembaban, pH tanah, rasio C-N batang Kelapa sawit sebelum dekomposisi, serta rasio C-N hasil dekomposisi.dari replanting metode sisipan dan pencincangan. Hasil penlitian menunjukkan nisbah C-N batang Kelapa sawit di daerah penelitian sebelum dekomposisi 58,42, rasio C-N dekomposisi batang Kelapa sawit replanting dengan metode sisipan rata-rata 37.18, dan metode pencincangan rata-rata 14,24. Bila disetarakan dengan spesifikasi kualitas kompos SNI 19-7030-2004, nilai C/N proses dekomposisi batang Kelapa sawit hasil replanting metode pencincangan sudah memenuhi standar dengan nilai C/N 10 sampai 20.Kata kunci ; rasio C-N, Kelapa sawit, metode replanting
MODEL DISTRIBUSI BENIH KEDELAI LABEL BIRU DENGAN SISTEM JABALSIM DAN JABALSIM TERKENDALI DI KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR Hartawan, Rudi; Marwan, Edy
Jurnal Media Pertanian Vol 2, No 2 (2017): Oktober
Publisher : Universitas Batanghari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.335 KB) | DOI: 10.33087/jagro.v2i2.42

Abstract

In line with the national program to improve soybean production, Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) assessed as having the potential of natural resources for development of soybean. Generally soybean seed supply in Tanjabtim done in non-formal through the network system (Jabalsim). The study aimed to determine the soybean seed supply system that runs all along, inventory weaknesses and strengths in the provision of seeds and strategize so Jabalsim Controlled models more commonly used by farmers. The research has been carried out in January-May 2015. The primary data obtained from interviews with 20 groups of growers and users. Hiking circulation of seeds is observed in the Simpang and Margo Mulyo village in District of Rantau Rasau. Both villages are located in Tanjabtim. The location is outside Tanjabtim is the city of Jambi, Muaro Jambi Regency, Bungo Regency and Tebo Regency. Interview data were tabulated and made Jabalsim system model and Controlled Jabalsim. Data from interviews were also used as a way to make a SWOT analysis to encourage the migration of Jabalsim to Controlled Jabalsim. Strategies that can be used to enable the migration of Jabalsim to Controlled Jabalsim is to involve BPSB start of the process permit application until the issuance of seeds certificates.Keywords: Seeds production, soybeans, and tidal swampSejalan dengan program peningkatan produksi kedelai nasional, Kabupaten Tanjung Jabung Timur dinilai mempunyai potensi sumberdaya alam untuk pengembangan kedelai. Umumnya penyediaan benih kedelai di Kabupaten Tanjung Jabung Timur dilakukan secara non-formal melalui sistem jaringan benih antar lapang antar musim (Jabalsim). Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui sistem penyediaan benih kedelai yang berjalan selama ini, menginventarisasi kelemahan dan kekuatan dalam penyediaan benih dan  menyusun strategi agar model Jabalsim Terkendali lebih umum digunakan petani dalam penyediaan benih bermutu telah dilaksanakan pada bulan Januari-Mei 2015. Data primer didapat dari wawancara dengan 20 kelompok penangkar dan pengguna. Jalur peredaran benih yang diamati adalah Desa Simpang di Kecamatan Berbak, Desa Margo Mulyo di Kecamatan Rantau Rasau. Kedua desa tersebut berada di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Lokasi yang berada di luar Kabupaten Tanjung Jabung Timur adalah Kota Jambi, Kabupaten Muaro Jambi, Kabupaten Bungo dan Kabupaten Tebo. Data hasil wawancara ditabulasi dan dibuatkan model sistem Jabalsim dan Jabalsim Terkendali. Data hasil wawancara juga digunakan sebagai jalan untuk membuat analisis SWOT untuk mendorong migrasi dari sistem Jabalsim ke Jabalsim Terkendali. Strategi yang dapat digunakan agar terjadi migrasi dari sistem Jabalsim ke Jabalsim Terkendali adalah dengan melibatkan BPSB mulai dari proses pengajuan izin pertanaman sampai pengeluaran sertifikat benih.Kata kunci:  Produksi benih, kedelai, rawa gambut dan pasang surut
PERTUMBUHAN STUMP OKULASI MATA TIDUR KARET (Hevea brasiliensis Muell Arg.) SETELAH MENGALAMI PENYIMPANAN PADA MEDIA SABUT KELAPA Marpaung, Ridawati
Jurnal Media Pertanian Vol 2, No 2 (2017): Oktober
Publisher : Universitas Batanghari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.178 KB) | DOI: 10.33087/jagro.v2i2.37

Abstract

This study aimed to determine the growth eye stump of rubber after laying away in coconut fiber media. The design of this study was Completely Randomized Design with laying duration in coconut fiber medium (P) as a treatment which consisting of 7 treatment levels e.g. P0: 0 day; P1:5 days; P2:10 days, P3:15 days; P4:20 days, P5: 25 days, and P6: 30 days storage. The result of this research showed that the growth of eye stump rubber after laying away on the coconut fiber medium was significantly influence the percentage of several parameters e.g. :starting of stump sprout, sprout height during storage, plant height, stem diameter, leaf number and leaf area total for each treatment except for the parameter percentage of eye stump rubber which not active yet.  The freshness and the seedling viability of rubber plant originating from the eye stump rubber after laying away for 0-30 days in coconut fiber can be maintained. The highest growth was observed in the 20 to 30 days of laying away.Keywords: stump sleeping eye grafting, storage, coconut huskPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan stum okulasi mata tidur Karet (Hevea brasiliensis Muell Arg.) setelah mengalami  penyimpanan pada media sabut kelapa.  Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan percobaan lama penyimpanan stum okulasi mata tidur dalam  media sabut kelapa (P) yang terdiri dari 7 taraf perlakuan yaitu penyimpanan:P0: 0 hari; P1:5 hari ; P2:10 hari, P3: 15 hari ; P4: 20 hari, P5: 25 hari, dan P6: penyimpanan 30 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan stum okulasi mata tidur karet (Hevea brasiliensis Muell Arg.) setelah mengalami penyimpanan pada media sabut kelapa berpengaruh nyata terhadap peubah persentase stum okulasi mulai bertunas, tinggi tunas selama penyimpanan, tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun dan luas daun total untuk setiap perlakuan kecuali pada peubah persentase stum okulasi mata tidur yang belum aktif tumbuh. Kesegaran dan daya tumbuh bibit tanaman karet yang berasal dari stum mata tidur setelah disimpan selama 0–30 hari dalam media sabut kelapa dapat dipertahankan. Pertumbuhan tertinggi untuk setiap peubah yang diamati terdapat pada lama penyimpanan 20 hingga 30 hari.Kata kunci : stump okulasi mata tidur, penyimpanan, sabut kelapa 

Page 1 of 1 | Total Record : 7