cover
Contact Name
Henky Irawan
Contact Email
henkyirawan.umrah@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
Intekakuakultur.umrah@gmail.com
Editorial Address
Jalan Politeknik Senggarang Tel (0771) 4500089 Fax 4500091
Location
Kota tanjung pinang,
Kepulauan riau
INDONESIA
Jurnal Intek Akuakultur
ISSN : 25796291     EISSN : 25796291     DOI : https://doi.org/10.31629/intek
The scope of Intek Aquaculture Journal include System and Technology, Biotechnology, Nutrition and Feed, Fish Health Management, Water Quality Management , Reproduction and Genetics in the field of Aquaculture.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 1 No. 2 (2017): Intek Akuakultur" : 7 Documents clear
PEMULIAN IKAN PAPUYU (Anabas testudineus) DENGAN TEKNIK HYBRIDISASI FILOGENETIK MERISTIK DARI TIGA TIPE EKOSISTEM PERAIRAN RAWA Slamat Slamat; Ririen Kartika Rina; Pahmi Ansyari
Intek Akuakultur Vol. 1 No. 2 (2017): Intek Akuakultur
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (562.204 KB) | DOI: 10.31629/intek.v1i2.253

Abstract

Tujuan penelitian menemukan pola hybridisasi yang tepat dalam memproduksi benih ikan papuyu yang memiliki karakter unggul, sehingga dapat menunjang peningkatan produktivitas ikan kearah yang lebih baik. Penelitian hybridisasi ini dilaksanakan di UMKM Rawa Sejahtera Amuntai dan analisis Laboratorium di FPK – ULM pada bulan Januari – Juli 2016. Metode penelitian dengan rancangan acak lengkap (RAL) (tiga perlakuan dan sembilan ulangan) yaitu menghybrid induk ikan papuyu dari rawa tadah hujan, pasang surut dan monoton. Hasil aplikasi penelitian diperoleh data hybridisasi yang meliputi fekunditas, indeks kematangan gonad, fertilisasi, daya tetas, mortalitas, pertumbuhan panjang relatif, pertumbuhan berat relatif, food coversion ratio (FCR), kesehatan ikan, persentasi jantan dan betina, menggambarkan hybridisasi induk ikan dari rawa monoton dengan pasang surut lebih unggul dibandingkan hybridisasi induk ikan dari rawa tadah hujan dengan monoton serta pasang surut dengan tadah hujan. Hasil pengkerakteran benih ikan hybridisasi rawa pasang surut dengan rawa monoton yang paling menonjol adalah persentasi kelahiran betina >80%, FCR dan pertubuhan lebih tinggi, yang terbukti dengan hasil statistik yang berbeda nyata. Dalam proses pengembangan budidaya ikan papuyu, faktor utama keberhasilannya adalah penggunaan benih berkelamin betina, dimana pertumbuhannya lebih cepat 270% dibandingkan benih jantan, sehingga sangat tepat untuk dijadikan bibit dalam proses pembesaran dalam kolam.
PENERAPAN TEKNOLOGI PEN CULTURE PADA BUDIDAYA PERIKANAN PERAIRAN DALAM DAN DANGKAL DI PERAIRAN LAUT KEPULAUAN NATUNA Henky Irawan
Intek Akuakultur Vol. 1 No. 2 (2017): Intek Akuakultur
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31629/intek.v1i2.257

Abstract

Peraiaran kepulauan Natuna memiliki potensi lahan budidaya laut yang besar, baik pada perairan dangkal di pesisir hingga perairan dalam. Pemanfaatan lahan budiaya perikanan laut masih terbatas pada keramba, rakit dan long line dengan biota ikan ekonomis tinggi dan rumput laut. Budidaya dengan teknologi pencultur dapat memanfaatkan lahan budidaya di perairan pesisir yang dangkal hingga ke dalam perairan di perairan dalam dengan biota budidaya yang beragam selain ikan juga bisa biota bethos bernilai ekonomis seperti teripang dan bulu babi. Penerapan teknlogi dalam budiaya perikanan laut pen cultur dapat menjadi alternativ pemberdayaan masyarakat di kepulauan Natuna
DEVELOPING SIMPLE PROTOCOL ON NATURAL FEED CULTURE FOR REARING SEAHORSE JUVENILE Henky Irawan; Tri Yulianto; Aidil Fadli Ilhamdy; Andre Jayardi
Intek Akuakultur Vol. 1 No. 2 (2017): Intek Akuakultur
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.907 KB) | DOI: 10.31629/intek.v1i2.258

Abstract

Seahorse already cultured by two societies, where the problem was the lack of knowledge, skill, difficulty in finding the materials and tolls, also the problem in managing the seahorse juveniles rearing. The simple protocol with the steps that can easily understand for the non-expert society knowledge and the accessible for materials and tolls that affordable was the solution.
PENGARUH PEMBERIAN FITOPLANKTON Tetraselmis chuii, Tetraselmis suecica DAN Nanochloropsis oculata YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN KOPEPODA Apocyclops sp Andre Jayardi; Henky Irawan; Tri Yulianto
Intek Akuakultur Vol. 1 No. 2 (2017): Intek Akuakultur
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (725.264 KB) | DOI: 10.31629/intek.v1i2.259

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju pertumbuhan dan panjang tubuh kopepoda Apocyclops sp. yang diberi pakan alami N. oculata, T. chuii dan T. suecica. Mengetahui jenis pakan alami terbaik untuk pertumbuhan Apocyclops sp. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari 2017 dengan rancangan acak lengkap (RAL).Pertumbuhan panjang tubuh copepod pada jenis pakan T. chuii didapatkan nilai pertumbuhan rata-ratanya yakni 385,44 µm, untuk jenis perlakuan jenis pakan T. suecica laju pertumbuhan rata-ratanya yakni 273,22 µm, serta pada pakan alami N. oculata laju pertambahan panjang rata-ratanya adalah 242,28 µm. Dari 3 jenis perlakuan pakan pada kopepoda rata-rata pertumbuhannya adalah 300,31 µm. Pakan terbaik untuk menunjang pertumbuhan panjang copepod dari semua perlakuan pakan yakni pada jenis pakan T. chuii.
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN HORMON HUMAN CHORIONIC GONADOTROPIN hCG DAN OVAPRIM TERHADAP WAKTU LATENSI DAN FEKUNDITAS DALAM PEMIJAHAN IKAN BAWAL BINTANG Trachinotus blochii Arif Mulah; Tengku Said Razai; Wiwin Kusuma Atmaja Putra
Intek Akuakultur Vol. 1 No. 2 (2017): Intek Akuakultur
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.073 KB) | DOI: 10.31629/intek.v1i2.260

Abstract

Salah satu cara untuk mengoptimalkan induk dalam pemijahan adalah dengan rangsangan hormonal secara injeksi. Hormon human Chorionic Gonadotropin (hCG) dan Ovaprim merupakan hormon yang mampu mengoptimalkan pemijahan induk ikan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat efektivitas penggunaan hormon human Chorionic Gonadotropin (hCG) dan Ovaprim dalam pemijahan ikan bawal bintang. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan (hCG x hCG; hCG x Ovaprim; Ovaprim x Ovaprim; Ovaprim x hCG) dan tiga ulangan, dengan dosis setiap perlakuan yaitu 250 IU/kg bobot tubuh ikan. Hasil terbaik dari penelitian ini adalah perlakuan hCG x Ovaprim dengan waktu latensi 15,17 jam, Fekunditas 482.776 butir. Kesimpulan penelitian ini adalah perlakuan ovaprim x ovaprim dapat mempercepat waktu latensi pemijahan dan pelakuan hCG x Ovaprim menghasilkan kualitas telur terbaik dilihat dari parameter fekunditas.
PENGARUH HORMON HUMAN CHORIONIC GONADOTROPIN hCG DAN PREGNANT MARE SERUM GONADOTROPIN PMSG TERHADAP PEMATANGAN GONAD IKAN BAWAL BINTANG Trachinotus blochii Rian Handrianto; Tengku Said Razai; Wiwin Kusuma Atmaja Putra
Intek Akuakultur Vol. 1 No. 2 (2017): Intek Akuakultur
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (636.047 KB) | DOI: 10.31629/intek.v1i2.261

Abstract

Ikan bawal bintang dengan bobot 925±175g disuntik dengan hormon human Chorionic Gonadotropin (hCG) dan hormon Pregnant Mare Serum Gonadotropin (PMSG). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh induksi hormon perlakuan dan hormon terbaik dalam induksi maturasi gonad ikan bawal bintang. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan (kontrol (NaCl), hormon hCG, hormon PMSG) dan lima ulangan. Dosis yang digunakan adalah hormon hCG 20 IU/kg bobot tubuh ikan dan hormon PMSG 20 IU/kg bobot tubuh ikan. Wadah yang digunakan dalam pemeliharaan ikan uji berupa Keramba Jaring Apung (KJA) dengan ukuran 3x3x3m. Hasil terbaik dalam penelitian ini adalah perlakuan 20 IU PMSG dengan tingkat kematangan gonad mencapai TKG III dan histologi gonad mencapai tahap perkembangan oosit sekunder dan oosit primer. Kesimpulan penelitian ini adalah induksi hormon hCG dan PMSG berpengaruh terhadap maturasi gonad ikan bawal bintang selama 4 minggu dilihat dari kematangan gonad mencapai TKG III dan histologi mencapai tahap perkembangan oosit sekunder dan oosit primer. Hormon perlakuan terbaik adalah perlakuan hormon PMSG dengan dosis 20 IU/kg bobot tubuh ikan.
PERFORMANCE PERTUMBUHAN IKAN PAPUYU BERDASARKAN FILIAL F0, F1, F2, F3 dan F4, DALAM UPAYA MENDAPATKAN BENIH BERKARAKTER UNGGUL Pahmi Ansyari; Slamat Slamat
Intek Akuakultur Vol. 1 No. 2 (2017): Intek Akuakultur
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.987 KB) | DOI: 10.31629/intek.v1i2.262

Abstract

Tujuan penelitian menemukan filial ikan papuyu F0, F1, F2, F3 dan F4 yang memiliki karakter unggul dalam menunjang peningkatan produksi ikan konsumsi.Penelitian pertumbuhan ikan ini dilaksanakan di UMKM Rawa Sejahtera Amuntai dan analisis kualitas air di lakukan di Laboratorium di FPK – ULM pada bulan Mei - Oktober 2016. Metode observasi penelitian yaitu terhadap ikan uji dari filial F0, F1, F2, F3 dan F4dengan pengamatan terhadap pertumbuhan panjang, berat, mortalitas dan FCR. Hasil penelitian terhadap pertumbuhannya menggambarkan bahwa ikan dari generasi F2 lebih unggul dibandingkan generasi filial F0, F1, F3, dan F4 baik dilihat dari segi pertumbuhan panjang, berat, mortalitas dan feed convertion ratio. Penggunaan benih F2 sebagai bibit dalam proses pembesaran di kolam akan lebih efektif dan efesian serta menguntungkan baik dilihat dari segi waktu yang lebih singkat, pertumbuhan cepat dan mampu memanfaatkan nutrisi yang diberikan lebih optimal.

Page 1 of 1 | Total Record : 7