cover
Contact Name
Ihsan Mz
Contact Email
Ihsan Mz
Phone
-
Journal Mail Official
ihsan.mz@iain-palangkaraya.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota palangkaraya,
Kalimantan tengah
INDONESIA
NALAR: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
ISSN : 25979930     EISSN : 25988999     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam promotes multidisciplinary approaches to Islam and focuses on seven main topics; (1) the Qur’an and hadith, (2) Da’wah, (3) Psychology/Counseling, (4) Theology (Kalam), (5) Philosophy, (6) Mysticism (Tasawwuf), and (7) Islamic History. All submitted papers are subject to double-blind review process.
Arjuna Subject : -
Articles 142 Documents
Sejarah dan Gerakan Dakwah Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) di Kabupaten Sambas Provinsi Kalimantan Barat Henny Yusnita
NALAR Vol 2, No 1 (2018): Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.889 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v2i1.883

Abstract

Penamaan majelis taklim akhirnya melahirkan identitas tersendiri yang membedakan dengan pengajian umum biasa, yaitu sifatnya yang tetap dan berkesinambungan. Majelis taklim ini kemudian disebut dengan Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT). BKMT adalah forum bersama, tempat bertukar pendapat dan bertukar pengalaman bagi anggotanya, serta diperuntukkan bagi semua kalangan. Tetapi kini lebih dikenal sebagai forum berkumpul bagi para perempuan. Hal ini terlihat ketika BKMT diarahkan sebagai bentuk upaya dakwah yang terfokus pada pemberdayaan kaum perempuan. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan sejarah. Berdasarkan analisis terhadap temuan dilapangan, dapat disimpulkan bahwa terbentuknya BKMT di Sambas tidak terlepas dari realitas yang mengharuskan adanya wadah dalam pemberdayaan untuk perempuan. Pada perkembangan selanjutnya kehadiran BKMT di Sambas berkontribusi terhadap gerakan dakwah secara organisasional. Kontribusi BKMT Kabupaten Sambas secara garis besar dapat dipetakan dalam beberapa aspek. Pertama, bidang dakwah. Pada kegiatan dakwah ini organisasi BKMT berusaha membantu perbaikan umat baik dalam ilmu pengetahuan, akhlak maupun ukhuwah islamiyah. Sebagai salah satu wadah amar ma’ruf nahi mungkar. Kedua, bidang pendidikan. Di bidang pendidikan, BKMT bergerak di sektor pendidikan non-formal seperti PKBM dan TPQ. Ketiga, bidang sosial ekonomi. Kontribusi di bidang sosial ekonomi dilakukan dengan memberikan bantuan kepada masyarakat yang terkena bencana banjir, serta melakukan pendampingan terhadap masyarakat umum untuk mengadakan pelatihan-pelatihan, serta menjadi orang tua asuh bagi anak-anak yang kurang mampu, serta mendirikan koperasi BKMT.Kata Kunci: Sejarah Dakwah, Perempuan, BKMT
Dakwah Di Kalangan Masyarakat Transmigran: Studi Terhadap Kompetensi Da’i Di Dusun Cilodang Kecamatan Pelepat Kabupaten Bungo Jambi Ansori Hidayat
NALAR Vol 2, No 2 (2018): Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.778 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v2i2.963

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan tentang dakwah pada masyarakat multietnis di Dusun Cilodang Kecamatan Pelepat Kabupaten Bungo Provinsi Jambi. Penelitian ini dipandang menarik karena meskipun kondisi masyarakat Dusun Cilodang yang heterogen, muballigh yang berdakwah mampu memberikan pemahaman dan menyampaikan ajaran Islam untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk lebih memfokuskan dan membatasi kajian ini, penelitian ini di kerucutkan pada wilayah kompetensi da’inya saja dengan pertimbangan karena da’i sebagai ujung tombak berjalannya suatu kegiatan dakwah. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan menggunakan metode kualitatif. Sedangkan paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma subjektif. Selain itu pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus. Berdasarkan analisis terhadap temuan di lapangan dapat disimpulkan bahwa dakwah pada masyarakat dengan tingkat keberagaman yang tinggi menuntut para da’i untuk memiliki keahlian dalam melihat situasi dan kondisi para mad’u. Pada tataran ini keberhasilan berdakwah pada masyarakat multietnis tidak hanya ditentukan oleh kompetensi da’i dalam memberikan ceramah dan tausiyah saja, namun kompetensi sosial budaya, manajerial dakwah, dan penguasaan media juga sangat diperlukan.  Hal ini karena dakwah pada masyarakat multietnis yang terpenting adalah membumikan ajaran Islam dalam berbagai sendi kehidupan masyarakat baik dalam aspek akidah, syari’ah, maupun akhlak serta sosial budaya masyarakat.Keywords: Kompetensi Da’i, Transmigran, Dakwah Multikultural
Micro Hijabers Celebrity: Membentuk Identitas dengan Update Self-Story via Instagram (Kasus Dian Pelangi) Isti Khomalia; Khairul Arief Rahman
NALAR Vol 2, No 1 (2018): Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (720.457 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v2i1.869

Abstract

Artikel ini akan membahas mengenai fenomena hijabers yang sering mewarnai media sosial seperti Instagram. Fenomena mengenai hijabers yang tampil sebagai representasi wanita muslimah ini menarik untuk dikaji dari sisi pembentukan citra diri. Namun seiring berjalannya waktu hijabers juga menjadi model endorse produk-produk mulai dari kosmetik, jilbab dan lain sebagainya. Karena nilai keekonomian ini pula, hijabers tersebut menjadi tampil semenarik mungkin dengan foto atau gambar yang menunjang citra diri. Otomatis batas dalam membangun citra diri, menjadi kabur dan seakan tidak bisa dibedakan antara diri secara identitas personal sebagai micro-celebrity dengan diri sebagai model endorse. Pada titik inilah peneliti tertarik apa dan bagaimana para hijabers membangun percampuran identitas personal dengan identitas diri sebagai market branding. Peneliti juga tertarik tentang bagaimana pembentukan identitas ini dipadukan dengan gambar dan teks yang seolah diceritakan layaknya sebuah diary. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk menganalisis temuan. Penelitian ini akan dibedah menggunakan dua teori, yaitu teori identitas untuk melihat citra diri dan teori dramaturgi Erving Goffman untuk   membedah bagaimana Dian Pelangi menceritakan keseharian dirinya khususnya lewat instagram. Berdasarkan hasil analisis terhadap temuan penelitian, dapat disimpulkan bahwa self-story di Instagram memiliki peranan penting seseorang dalam membentuk para micro-celebrity. Dalam perspektif aspek-aspek dramaturgi pembentukan ceritanya terdapat perbedaan terutama dalam aspek misrepresentation. Pertama, para follower lebih banyak akan melihat Dian Pelangi sebagai orang yang sempurna dalam akun Instagramnya dan lebih banyak memujinya. Sementara follower tidak akan tahu masalah apa yang mungkin terjadi lewat akun Instagramnya. Kedua, dikarenakan identitas yang tumpang tindih antara identitas personal dengan branding, maka identitas yang tercipta lebih menyerupai hyper-identity.Kata Kunci: Micro-Celebrity, Identitas, Hijabers, Media Sosial, Self-Story.
Konsep Kafir dalam Alquran: Studi Atas Penafsiran Asghar Ali Engineer Haikal Fadhil Anam
NALAR Vol 2, No 2 (2018): Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.406 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v2i2.971

Abstract

Konsep kafir pada umumnya hanyalah berbicara tentang penolakan keyakinan terhadap Allah Swt. dan Muhammad saw. Asghar Ali Engineer salah satu pemikir Islam kontemporer menawarkan konsep baru tentang kafir. Penafsiran Asghar terhadap alquran atas konsep kafirnya sangat menarik. Hal ini tidak lain karena kebaruannya. Dalam penafsirannya, Asghar sangat terpengaruh oleh teologi pembebasan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan hasil penafsiran Asghar atas konsep kafirnya. Penelitian ini adalah kajian kepustakaan, oleh karena itu metode yang penulis gunakan adalah studi pustaka atau library research. Sumber data untuk penelitian ini adalah buku-buku karya Asghar dan sumber-sumber lain yang relevan dengan fokus penelitian. Berdasakan hasil penelitian, konsep kafir dalam penafsiran Asghar sangat transformatif. Menurutnya, kafir adalah bukan saja mereka yang tidak beriman secara formal kepada Allah Swt. dan Muhammad saw. serta yang lainnya, tetapi juga secara tidak langsung menantang terhadap terciptanya masyarakat yang adil dan egaliter yang bebas dari segala bentuk eksploitasi dan penindasan, dalam artian mereka yang tidak mendukung terciptanya masyarakat yang adil dan egaliter, tidak membela kaum yang lemah dan tertindas.Keywords: Alquran, Tafsir, Teologi Pembebasan, Kafir, Asghar Ali Engineer
Kenabian Siddharta Gautama dalam Al-Qur’an Menurut Penafsiran Al-Qasimi Iva Fauziah
NALAR Vol 2, No 1 (2018): Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.277 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v2i1.914

Abstract

Penafsiran Al-Qasimi terhadap QS. Al-Tin ayat 1-3 menuai banyak kontroversi. Beberapa pendapat ulama kontemporer yang dikutipnya mengindikasikan adanya simbolisasi Agama Buddha dalam kata al-Tin. Pemikiran semacam ini menimbulkan banyak spekulasi terutama terkait dengan status Siddharta sebagai salah satu Nabi yang tidak disebutkan namanya dalam Al-Qur’an. Ulama tanah air seperti Quraisy Shihab dan HAMKA turut membicarakannya dalam tafsirnya. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan pandangan Al-Qasimi melalui penafsirannya terhadap ayat-ayat kenabian dalam kitab Maḥāsin al-Ta’wīl fī al-Qur’ān al-Karīm. Penafsiran-penafsiran yang ada secara tematis akan membangun sebuah konsep kenabian yang memiliki beberapa indikator sebagai standar akurasi seorang Nabi dalam Islam. Penelitian ini merupakan kajian kepustakaan, oleh karena itu metode penelitian yang digunakan adalah library research. Sumber data dalam penelitian ini adalah kitab Mahasin Al-Ta’wil dan literatur lainnya yang relevan dengan fokus penelitian. Berdasarkan analisis yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa merujuk pada kriteria kenabian, Al-Qasimi memandang bahwa Siddharta Gautama tidak memenuhi kriteria sebagai seorang Nabi. Selain itu implikasi penafsiran surah At-Tin ayat 1-3 oleh Al-Qasimi dalam tafsirnya dapat memberikan pandangan yang berbeda terhadap idealisme antar-umat beragama. Pada tataran ini Muhammad maupun Siddharta bahkan para Nabi di seluruh dunia menurut Al-Qasimi pada dasarnya mengajarkan nilai yang sama, yakni kebenaran universal yang diakui seluruh umat manusia. Kesadaran akan adanya kebenaran uviversal tersebut diharapkan akan mewujudkan tercapainya perdamaian dan kesatuan umat manusia tanpa ada diskriminasi apapun.Kata Kunci: Tafsir, Kenabian Siddharta Gautama, Buddha, Al-Qasimi.
Sejarah Perkembangan Globalisasi dalam Dunia Islam Budi Sujati
NALAR Vol 2, No 2 (2018): Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.001 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v2i2.969

Abstract

Di era globalisasi ini, semua informasi yang berkaitan dengan isu-isu kontemporer sangat menarik untuk dikaji. Dalam diskursus itu memunculkan realita dari fakta yang ada mengenai perkembangan globalisasi dari zaman kuno hingga zaman modern menarik untuk dikaji dalam tulisan ini. Pendekatan yang digunakan dalam globalisasi adalah fenomenologi dengan melihat suatu peristiwa harus dilihat dari fenomena-fenomena yang terjadi saat ini secara global. Islam sebagai agama yang memiliki tatanan universal dan global, tentu memiliki peran dalam menyelesaikan masalah globalisasi. Yang jelas dari universalitasnya, Islam dapat memiliki peran penting untuk membentuk komunitas global. Dari sinilah, universalitas Islam mampu menghadapi masalah-masalah yang menghadangnya.Keywords: Globalisasi, Universal, Islam, Kontemporer
Peran Konsep Diri Terhadap Kedisiplinan Siswa Ihsan Mz
NALAR Vol 2, No 1 (2018): Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.224 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v2i1.915

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran Konsep Diri terhadap Kedisiplinan Siswa di Madrasah “ABC” Yogyakarta, Tahun Akademik 2015/2016. Populasi dari penelitian ini terdiri dari 208 siswa dari Madrasah “ABC”. Data dikumpulkan dengan menggunakan skala Konsep Diri dan skala Kedisiplinan menggunakan Analisis Regresi Berganda dan Teknik Korelasi Parsial. Hasil menunjukkan peran signifikan positif antara Konsep Diri terhadap Kedisiplinan yang menunjukkan F = 70,770, p = 0,000 (p <0,05). Peran signifikan positif dari Konsep Diri terhadap Kedisiplinan ditemukan t = 8,346, p = 0,000 (p <0,05). Kontribusi Efektif Konsep Diri terhadap Kedisiplinan menunjukkan 51,9%, dan sekitar (48,1%) dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak menjadi fokus dalam penelitian ini. Kesimpulan berdasarkan hasil analisis ditemukan peran signifikan positif Konsep Diri terhadap Kedisiplinan. Semakin tinggi skor Konsep Diri, semakin tinggi pula Kedisiplinan. Sebaliknya, semakin rendah Konsep Diri, maka rendah pula Kedisiplinan.Kata Kunci: Konsep Diri, Kedisiplinan
Ijtihad Epistemologis Muslim Progresif Omid Safi dan Respon Atas Tantangan Global Muhammad Syafi&#039;i
NALAR Vol 2, No 1 (2018): Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.54 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v2i1.740

Abstract

Dialektika pemikiran dan ketegangan cara pandang terhadap Islam oleh para sarjana muslim selama ini telah melahirkan berbagai ideologi yang tidak hanya berpengaruh pada keberagamaan tetapi juga aspek sosiologis dan politik global. Di tengah klaim terhadap ideologi masing-masing yang selama ini berujung pada pengotak-kotakan kelompok sampai pada ketegangan dan konflik yang dihasilkannya, sebuah tren pemikiran islam baru lahir dengan label “Muslim Progresif”. Tren pemikiran ini mencoba mengetengahkan alternatif Islam yang menembus gagasan-gagasan pemikiran sekuler hingga liberal, namun tetap berpegang tradisi dan melakukan kontekstualisasi untuk kebutuhan masyarakat kini, sekaligus mengkritisi secara fundamental arus modernitas dengan berpegang pada nilai-nilai Islam yang universal. Akhirnya, tiga agenda besar yang ingin diusung oleh pemikiran ini yaitu keadilan sosial tanpa syarat, kesetaran gender, dan melampaui pluralisme. Oleh karena itu, tulisan ini akan mencoba mengkaji dimensi epistemologis pemikiran “Muslim Progresif” terkait respon mereka terhadap persoalan yang dihadapi umat Islam sekarang..Tulisan ini menggunkan metode deksriptif analitias yang berarti bahawa penulis mengumpulkan dan menganalisa beberapa sumber mengenai judl tulisan yang kemudian dianalisis oleh penulis. Pada dasarnya ada tiga agenda besar (misi) dari Muslim Progresif yang diusung Omid Safi dan para pemikir progresif lainnya. Ketiga agenda tersebut adalah, pertama mewujudkan keadilan sosial yang tidak membatasi strata sosial, ras, golongan, suku bangsa, agama dan sekat sosial apapun; kedua mewujudkan kesetaraan gender dalam setiap aspek kehidupan, baik dalam sisi ekonomi, sosial, budaya, agama, pendidikan, hukum, dsb; ketiga menerima pluralitas sebagai kenyataan yang harus dihormati dan dijalankan.Kata Kunci: Muslim, Progresif, Keadilan, Gender, Pluralisme.
Penafsiran Kontekstualis Perihal Kepemimpinan Non-Muslim dalam Perspektif Alquran dan Hadis M. Agus Muhtadi Bilhaq
NALAR Vol 2, No 2 (2018): Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.537 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v2i2.948

Abstract

Perbedaan dalam menafsirkan QS. Ali Imran: 28 dan QS. Al-Maidah: 51, berimplikasi pada sikap pro-kontra perihal kepemimpinan non-muslim, seperti terlihat pada pemilukada Jakarta tahun 2012 dan 2017. Menyikapi hal itu, terdapat dua kubu yang masing-masing mengambil sikap berbeda. Pertama, kelompok tekstualis, yang diwakili oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) misalnya, secara tegas mengharamkan non-muslim sebagai auliā’ bagi umat muslim, dengan mengutip QS. Al-Maidah: 51. Kedua, kelompok yang lebih menekankan pada aspek esensial kriteria seorang pemimpin, semisal Nahdlatul Ulama (NU). Kaitannya dengan pengharaman oleh kubu tekstualis, terdapat sebuah riwayat yang dapat menegaskan sikap itu, bahwa Nabi Muhammad saw. pernah menolak tawaran pertolongan dari seorang kafir pada peristiwa perang Badar (lan asta’īna bi musyrikin). Akan tetapi, dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah pernah menjadikan seorang kafir sebagai pemimpin/penunjuk jalan (hādiyan) ketika hijrah. Riwayat lainnya juga menyebutkan bahwa Nabi Saw pernah menerima bantuan dari seorang kafir pada peristiwa Perang Hunain. Dalam hal ini, terkesan adanya kontradiksi antara teks alquran dan hadis yang dapat membingungkan pembaca dalam memahami teks tersebut. Oleh sebab itu, perlu dilakukan penelitian lebih mendalam, khususnya dalam konteks Indonesia, yang meskipun menjadi negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, tetapi juga menjadi rumah bagi masyarakat dengan latar belakang suku, budaya, serta kepercayaan yang bermacam-macam. Masing-masing berhak untuk memilih dan dipilih sebagai pemimpin. Dengan menggunakan metode penafsrian kontekstual yang ditawarkan oleh Abdullah Saeed untuk membaca QS. Ali Imran: 28 dan QS. Al-Maidah: 51 serta metode interpretasi hadis Yusuf al-Qaradhawi teks hadis terkait, penelitian ini bertujuan untuk menggali pemahaman komprehensif mengenai persoalan ini.Keywords: Penafsiran Kontekstualis, Pemimpin, Non-Muslim, Al-Maidah 51, Auliā’, Hadis.
Manajemen Komunikasi Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Provinsi Jawa Barat Rama Wijaya Kesuma Wardhani
NALAR Vol 2, No 1 (2018): Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.318 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v2i1.923

Abstract

Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) merupakan lembaga nonstruktural yang dibentuk Negara untuk melaksanakan pengumpulan dana zakat di Indonesia. Badan Amil Zakat Nasional secara struktural memiliki perwakilan di setiap Provinsi di Indonesia. Lembaga ini didirikan berdasarkan Undang-Undang No 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat.  Jawa Barat merupakan salah satu provinsi yang memiliki potensi dana zakat yang besar. Pengumpulan dana zakat, infak dan sedekah pada Badan Amil Zakat Nasional Jawa Barat mengalami peningkatan setiap tahun. Meningkatnya jumlah dana zakat yang terkumpul menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap BAZNAS Jawa Barat sudah baik. Keberhasilan Badan Amil Zakat Nasional Jawa Barat dalam meningkatkan pengumpulan zakat dari muzakki sangat ditentukan oleh manajemen komunikasi yang dilakukan. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan paradigma interpretif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan teori manajemen strategis yang dikemukakan oleh Fred R David. Berdasarkan analisis disimpulkan bahwa terdapat tiga isu utama yang menjadi perhatian dalam manajemen komunikasi di BAZNAS Provinsi Jawa Barat sosialisasi dan publikasi, keterampilan berkomunikasi dan public relations pengurus BAZNAS Jawa Barat, dan jaringan kemitraan antar lembaga dan publik. Selain itu dalam proses manajemen komunikasi, evaluasi secara rutin dilakukan oleh BAZNAS Provinsi Jawa Barat untuk menjaga progres pelaksanaan program dan mencari solusi terhadap permasalahan komunikasi yang dihadapi. Model komunikasi dalam evaluasi rutin tersebut adalah dengan model spiral yang memungkinkan setiap individu dalam BAZNAS Provinsi Jawa Barat berkontribusi dalam memberikan masukan, ide, koordinasi, informasi, kritik, serta umpan balik.Kata Kunci: Manajemen, Komunikasi, BAZNAS Jawa Barat

Page 3 of 15 | Total Record : 142