cover
Contact Name
Ihsan Mz
Contact Email
Ihsan Mz
Phone
-
Journal Mail Official
ihsan.mz@iain-palangkaraya.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota palangkaraya,
Kalimantan tengah
INDONESIA
NALAR: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
ISSN : 25979930     EISSN : 25988999     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam promotes multidisciplinary approaches to Islam and focuses on seven main topics; (1) the Qur’an and hadith, (2) Da’wah, (3) Psychology/Counseling, (4) Theology (Kalam), (5) Philosophy, (6) Mysticism (Tasawwuf), and (7) Islamic History. All submitted papers are subject to double-blind review process.
Arjuna Subject : -
Articles 142 Documents
Hukum Tiga Tahap Auguste Comte dan Kontribusinya terhadap Kajian Sosiologi Dakwah Muhammad Chabibi
NALAR Vol 3, No 1 (2019): Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.48 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v3i1.1191

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan epistemologi hukum tiga tahap Auguste Comte dari teori perubahan sosial, yaitu tahap teologis, metafisis, dan positifserta mencari relevansinya terhadap pengembangan kajian di ranah sosiologi dakwah.Artikel ini menggunakan studi kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif terhadap data yang diambil dari studi literatur. Kesimpulan artikel iniadalah kajian dakwah sangat erat hubungannya dengan ranah kemasyarakatan (sosial) sehingga dalam pengembangannya diperlukan adanya interaksi ilmiah antara satu keilmuan dengan keilmuan yang lain. Sosiologi dan dakwah merupakan dua entitas keilmuan yang lahir dari rahim otoritas keilmuan yang berbeda akan tetapi keduanya dapat berinteraksi dan saling melengkapi demi perbaikan sosial pada satu sisi, serta pengembangan keilmuan pada sisi yang lain. Hukum tiga tahapan Comte dalam perubahan masyarakat sosial dan kultural memberikan sumbangsih teoritis terhadap pengembangan kajian sosiologi dakwah dengan proses penelaahan kritis terhadap fenomena sosial dari perspektif objek sosial dan kulturalnya serta unsur statika dan dinamikanya.This article aims to explain epystemology of Auguste Comte's law of three-stages from the theory of social change, namely the theological stage, metaphysical stage, and positive stage, and looks for its relevance to the development of studies in the field of the sociology of da'wah. This article employes qualitative study with a descriptive-analysis approach to data have been taken from literature studies. The conclusion of this article is that da'wah studies are very closely related to the social domain, so that in its development, it is a necessary for scientific interaction between one science and another science. Sociology and da'wah are two scientific entities born from different wombs of scientific authority but both can interact and complement each other for social improvement on the one hand, and scientific development on the other. The law of the three stages of Comte in the cultural and the social changes provides a theoretical contribution to the development of the sociology of da'wah studies with a critical review of social phenomena from the perspective of cultural and social objects and the elements of its static and dynamic state.Kata Kunci: Perubahan Sosial, Hukum Tiga Tahap, Filsafat Auguste Comte, Sosiologi Dakwah 
Metodologi Pembaruan Neomodernisme dan Rekonstruksi Pemikiran Islam Fazlur Rahman Ahmad Labib Majdi
NALAR Vol 3, No 1 (2019): Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.09 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v3i1.1196

Abstract

Tulisan ini berusaha untuk memaparkan pemikiran Fazlur Rahman sebagai seorang tokoh pemikiran Islam masa kontemporer. Karena itu, sifat dari tulisan ini lebih bersifat informatif. Akan tetapi, di sisi lain tulisan ini juga bermaksud sebisa mungkin untuk memberikan penuturan yang koheren, sehingga sedikit banyak tulisan ini juga bersifat interpretatif dan deskriptif. Beberapa ide dan pemikiran dari Fazlur Rahman yang dihadirkan adalah mengenai teologi, filsafat dan tasawuf serta neomodernisme. Alasan pembatasan ini adalah disebabkan pemikiran Fazlur Rahman begitu komprehensif meliputi segala persoalan dan permasalahan yang bermunculan di kalangan umat Islam pada masanya. Tulisan ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain penelitian analisis konten, sehingga tulisan ini juga merupakan jenis penelitian kepustakaan (library research) dengan sumber-sumber primer adalah buku-buku karangan Fazlur Rahman sendiri serta buku-buku lain yang menuliskan tentang Fazlur Rahman sebagai sumber-sumber sekunder dan pelengkap. Secara sistematis, pembahasan mengenai pemikiran Fazlur Rahman merujuk pada penjelasan Kuntowijoyo tentang kategori sejarah intelektual yang memiliki tugas membahas latar sosio-historis tokoh, pemikiran yang berpengaruh dan pengaruh pemikiran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketertinggalan dunia Islam terjadi karena rigiditas dan finalisasi tesis dalam pemikiran Islam, teologi, filsafat dan tasawuf. Oleh karena itu, diperlukan suatu metodologi yang dapat memberikan sistem teologi, filsafat dan tasawuf yang sesuai dengan situasi zaman dan kondisi masyarakat. Dengan demikian, rekonstruksi pemikiran Islam dan metodologi neomodernisme merupakan keniscayaan yang tidak dapat terelakkan lagi.Kata Kunci: Fazlur Rahman, Rekonstruksi, Pemikiran Islam, Metodologi Pembaruan, Neomodernisme
Perjuangan Badiuzzaman Said Nursi dalam Membendung Arus Sekularisasi di Turki Ilyas Fahmi Ramadlani
NALAR Vol 3, No 1 (2019): Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (31.428 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v3i1.1226

Abstract

Badiuzzaman Said Nursi hidup dalam situasi Islam yang sulit, yakni ketika Turki Utsmani dan beberapa kerajaan Islam lainnya mengalami kemunduran. Menelusuri sejarah hidup Badiuzzaman Said Nursi tidak akan terlepas dari konteks keadaan negara saat ia tinggal. Hal itu karena pemikirannya merupakan produk atas kenyataan Turki yang dipengaruhi budaya Barat. Akhir masa pemerintahan Turki Utsmani manjadi tanda awal pertemuan antara kaum muslimin dan perdaban Barat. Selanjutnya ketika Mustafa Kemal Attaturk menduduki pemerintahan Turki dan menggantinya menjadi Republik Turki, Islam semakin kehilangan identitas lantaran kebijakan-kebijakan sekular yang diadopsi dari budaya Barat. Situasi ini kemudian mendorong Badiuzzaman Said Nursi untuk berjuang melakukan perubahan sikap dan pemikiran umat Islam dengan jalan dakwah secara kultural yang diaplikasikan dalam bentuk ceramah dan tulisan. Dengan menggunakan pendekatan sosio-historis, penelitian ini bertujuan untuk menggali perjuangan Badiuzzaman Said Nursi dalam membendung arus radikalisasi, mengingat saat itu keberadaan Islam terancam hilang dari bumi Turki.Kata Kunci: Badiuzzaman Said Nursi, Sekularisasi, Turki Utsmani
Konsep Bimbingan dan Konseling Pribadi-Sosial dalam Pengembangan Positive Mental Attitude Generasi Z Iin Handayani
NALAR Vol 3, No 1 (2019): Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.039 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v3i1.1283

Abstract

This article aims to examine personal social guidance and counseling in the development of Generation Z's positive mental attitude. This article uses a type of literature research, a method of collecting data through documentation. The results and discussion that a person is classified as having a positive mental attitude when having: feelings of happiness and satisfaction in living life, enthusiasm, living power, being able to realize themselves, flexibility, life balance, the integrity of views about life, attention to oneself, attention to people, trust and good judgment on yourself. The important characteristics in the personal-social counseling and guidance program are: Included in a comprehensive scope, in its design promoting preventive concepts, development in the environment, an integral part of the education program, designing systems, carried out by professional counselors, various collaborations parties, monitor individual progress, supported by various data, seek improvement and variety of success through group guidance strategies.Artikel ini bertujuan untuk mengkaji tentang bimbingan dan konseling pribadi sosial dalam pengembangan positive mental attitude Generasi Z. Artikel ini menggunakan jenis penelitian literatur, metode pengumpulan data melalui dokumentasi. Hasil dan pembahasan bahwa seseorang diklasifikasikan memiliki positive mental attitude apabila memiliki: perasaan bahagia dan kepuasan dalam menjalani kehidupan, semangat, daya hidup, mampu merealisasikan diri, fleksibilitas, keseimbangan hidup, keutuhan pandangan tentang hidup, perhatian terhadap diri, perhatian terhadap orang sekitar, kepercayaan dan penilaian yang baik kepada diri sendiri. Adapun karakteristik penting dalam program bimbingan dan konseling pribadi-sosial, yaitu: Termasuk dalam lingkup yang komprehensif, dalam desainnya mengedepankan konsep preventif, pengembangan di lingkungan, salah satu bagian integral dari program pendidikan, merancang sistem, dilaksanakan oleh konselor yang profesional, adanya kolaborasi berbagai pihak, memantau kemajuan individu, didukung oleh berbagai data, mencari peningkatan dan berbagai kesuksesan melalui strategi bimbingan kelompok.Kata Kunci: Bimbingan Konseling Pribadi-Sosial, Positive Mental Attitude, Generasi Z
Pendidikan Seksual Perspektif Islam dan Prevensi Perilaku Homoseksual Lailul Ilham
NALAR Vol 3, No 1 (2019): Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (47.974 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v3i1.1023

Abstract

Perilaku homoseksual secara kontonoe mengalami peningkatan, terbukti dari pemberitaan media-media yang semakin marak dengan kasus tersebut, fenomena homoseksual tersebut tampaknya semakin lumrah di tengah masyarakat dan para pelaku dengan terbuka mengidentifikasi dirinya sebagai seorang pelaku penyimpangan tersebut (Gay). Sebagai negara mayoritas Muslim sudah seharusnya sigap merespon fenomena tersebut dengan menanggulanginya menggunakan pendekatan-pendekatan agama sebagai kekuatan besar di tangah masyarakat Indonesia. Islam memiliki perhatian khusus terhadap persoalan seksual, bahkan pendidikan seksual harus mulai diberikan dari sejak dini, untuk menghindari berbagai penyimpangan-penyimpangan seksual. Pendidikan seksual dalam Islam penting untuk diperkenalkan sebagai upaya preventif terhadap kasus homoseksual. Penelitian ini menggunakan kajian literatur (library research), penelitian dilakukan dengan memanfaatkan sumber perpustkaan untuk memperoleh data-data dan informasi terkait, termasuk buku-buku, artikel, dan penelitian lain terkait homoseksual ditinjau dari psikologi, pendidikan dan psikologis islam. Metode pencegahan perilaku homoseksual menggunakan pendidikan seksual menurut Yusuf Madani, adapaun pendidikan tersebut antara lain: 1) Perbaikan perilaku seksual, 2) Kebutuhan terhadap perbaikan perilaku seksual, 3) Perbaikan perilaku seksual sebagai ibadah, 4) Metodologi islam dan pendidikan seksual, 5) Perubahan persepsi terhadap perilaku seksual.Kata Kunci: Homoseksual, Pendidikan Islam, Prevensi Homoseksual.
Konsep Qana’ah dalam Mewujudkan Keluarga Harmonis Perspektif Alquran Irnadia Andriani; Ihsan Mz
NALAR Vol 3, No 1 (2019): Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.724 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v3i1.1291

Abstract

This article aims to discuss the concept of Qana'ah in the Qur'an which is used as a solution to alleviate disharmony problems in the family. Disharmony referred to here is focused on economic issues. The rise of conflicts that occur between husbands and wives is usually caused by a lack of gratitude for the blessings and provisions that Allah has given. Therefore, researchers offer the concept of Qana'ah as a solution to the problem. Because Qana'ah in its sense is to feel enough for what Allah has given. So that they are able to distance themselves from greed. The nature of Qana'ah bases the understanding that the sustenance obtained has become the provision of Allah SWT. This study uses the library research method that collects data from various kinds of literature. The results of this study provide recommendations to many parties to ground the concept of Qana'ah as a way out of family disharmony today.Artikel ini bertujuan untuk membahas tentang konsep Qana’ah dalam Alquran yang digunakan sebagai solusi mengentaskan persoalan disharmoni dalam keluarga. Disharmoni yang dimaksud di sini difokuskan pada persoalan ekonomi. Maraknya konflik yang terjadi antara suami istri biasanya disebabkan oleh kurangnya rasa syukur atas nikmat dan ketentuan yang telah Allah Swt. berikan. Oleh karenanya, peneliti menawarkan konsep Qana’ah sebagai jalan keluar atas persoalan tersebut. Sebab Qana’ah dalam pengertiannya yaitu merasa cukup atas apa yang telah dikaruniakan Allah Swt. sehingga mampu menjauhkan diri dari sifat tamak. Sifat Qana’ah mendasarkan pemahaman bahwa rezeki yang didapatkan sudah menjadi ketentuan Allah Swt. Penelitian ini menggunakan metode library research (kajian pustaka) yang mengumpulkan data-data dari berbagai macam literatur. Hasil dari penelitian ini memberikan rekomendasi kepada banyak pihak untuk membumikan konsep Qana’ah sebagai jalan keluar terhadap disharmoni keluarga dewasa ini.Kata Kunci: Qana’ah, Ikhtiar, Keluarga, Harmonis, Alquran
BANGSA MONGOL MENDIRIKAN KERAJAAN DINASTI ILKHAN BERBASIS ISLAM PASCA KEHANCURAN BAGHDAD TAHUN 1258-1347 M Suryanti Suryanti
NALAR Vol 1, No 2 (2017): Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.045 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v1i2.910

Abstract

Penelitian ini membahas tentang bangsa Mongol mendirikan kerajaan Dinasti Ilkhan berbasis Islam pasca kehancuran Baghdad Tahun 1258-1347 M. pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana latar belakang berdirinya Dinasti Ilkhan yang pada akhirnya menjadi salah satu kerajan Islam dan bagaimana sosok kepemimpinan dinasti Ilkhan serta hubunganya dengan masyarakat Muslim di Persia.Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam catatan perjalanan bangsa Mongol dibawah pimpinan Jengis Khan dan Huagu Khan mempunyai peran penting dalam menghancurkan kekuasaan Islam di Baghdad. Ekspansi bangsa Mongol ke Baghdad menyebabkan kehancuran Dinasti Abbasiyah sebagai pusat peradaban Islam. Akan tetapi pasca kehancuran Baghdad, bangsa Ini kembali membangun peradaban Islam dibawah pemerintahan Dinasti Ilkhan.Gazana Khan merupakan salah satu tokoh penting dalam pemerintahan Dinasti Ilkhan. Gazana Khan sebagai keturunan Jengis Khan telah melakukan transformasi bagi bangsa Mongol melalui Dinasti Ilkhan dimasa pemerintahan Dinasti Ilkhan mengakui Islam sebagai agama resmi pemerintahan dan membangun peradaban berdasarkan spirit Islam.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana latar belakng berdirinya kerajaan Dinasti Ilkhan dibawah kepemimpinan bangsa Mongol serta kepemimpinan dinasti Ilkhan dan hubunganya dengan Mayarakat Islam, sehingga bangsa Mongol yang awalnya membenci ummat Islam telah mendirikan kerajaan Islam dibawah pemerintahan dinasti Ilkhan.Kata kunci: Bangsa Mongol, Dinasti Ilkhan, Baghdad
AYAT AL-QUR’AN DALAM MANTRA BANJAR Alfianoor Alfianoor
NALAR Vol 1, No 1 (2017): Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (833.381 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v1i1.900

Abstract

The stimulating thing in the oral literature of the Banjar people is their mantras that custom parts or fragments of verses of the Qur'an. The usage of fragments of the Qur'anic verses in the mantra cannot be separated from their belief in the miracles of the Qur'an that are believed to provide the infiltrating force in the recited mantras, so as to, the purpose of chanting mantras in various shades is expected to achieved. According to the author, it is a form of interaction of an Islamic society against the Qur'an. the Banjar people are very religious, nonetheless they incorporate a very sacred and revered part of the Qur'anic verses and are upheld by Muslims in their mantras, as if this were a paradox. this is a very interesting thing to be studied.The research done in Hulu Sungai Tengah district has managed to get some important notes that the mantras that use the verses of the Qur'an turned out to exist in various kinds of spells such as in the spell of witchcraft, the spell of power, the mantra for things occult spells, spells to treat illness and praise.Keywords: Qur’anic verse, Spell, Banjar.
PERSPEKTIF BIMBINGAN KONSELING DALAM PENDIDIKAN ISLAM Galuh Nashrullah Kartika MR
NALAR Vol 1, No 2 (2017): Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.411 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v1i2.906

Abstract

Bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada individu (peserta didik) agar dengan potensi yang dimiliki mampu dikembangkan secara optimal dengan jalan memahami diri, memahami lingkungan, mengatasi hambatan guna menentukan rencana masa depan yang lebih baik, dengan kata lain bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, atau orang dewasa, agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku, sehingga bimbingan juga diadakan dalam rangka membantu setiap individu untuk lebih mengenali berbagai informasi tentang dirinya sendiri. Konseling adalah hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antara dua orang di mana konselor melalui hubungan itu dengan kemampuan-kemampuan khusus yang dimilikinya, menyediakan situasi belajar. Dalam hal ini konseli dibantu untuk memahami diri sendiri, keadaannya sekarang, dan kemungkinan keadaannya masa depan yang dapat ia ciptakan dengan menggunakan potensi yang dimilikinya, demi untuk kesejahteraan pribadi maupun masyarakat. Lebih lanjut konselig dapat belajar bagaimana memecahkan masalah-masalah dan menemukan kebutuhan-kebutuhan yang akan datang.Kata Kunci: Bimbingan Konselung, Pendidikan Islam
KOMUNIKASI ORANG TUA-ANAK DALAM AL-QURAN (Studi Terhadap QS. Ash-Shaffat ayat 100-102) Siti Zainab
NALAR Vol 1, No 1 (2017): Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (610.248 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v1i1.901

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana komunikasi orangtua-anak dalam perspektif al-Quran khususnya pada Q. S., ash shaffat  ayat 100-102.Penelitian ini murni kepustakaan dengan  menggunakan pendekatan tafsir. Teknik yang digunakan adalah dengan seleksi sumber dan analisis isi. Data primer adalah al-Quran al-karim dan kitab-kitab tafsir, sedangkan data sekunder adalah buku-buku yang berkaitan dengan Ilmu Komunikasi . Data dianalisis dengan menggunakan tafsir tahlili .Hasil penelitian menunjukkan, Pertama: Kandungan Q. s., ash shaffat ayat 100-102 mengemukakan betapa pentingnya sebuah do’a dipanjatkan secara sungguh-sungguh oleh orangtua agar diberi anak yang shaleh; ketika dianegerahi seorang anak hendaklah dididik dengan baik agar tumbuh menjadi anak yang shaleh; ketika mendidik anak tentunya banyak terdapat cobaan, masalah dan hambatan, selain penanaman agama sejak dini kepada anak, cara lainnya dilakukan  dengan menjalin  komunikasi yang baik antara orangtua dan anak. Kedua: Komunikasi orangtua-anak  yang dibangun antara nabi Ibrahim a.s. dengan Nabi Ismail a.s.pada Q. s., ash-shaffat ayat 100-102 adalah : membangun kebersamaan dan kepercayaan; menjalin komunikasi yang baik melalui cara saling terbuka, melakukan dialog/diskusi dengan rasa saling menghargai dan menghormati; dapat berempati dan saling mendukung sehingga adanya kesamaan visi dalam melihat persoalan yang pada akhirnya  tercipta komunikasi yang efektif. Kesamaan visi tersebut bersumber dari pemahaman agama yang benar dan sama –sama berusaha melaksanakan dan mengikhlashkannya. Komunikasi yang terjalin baik antara orangtua dan anak karena keduanya (baik sebagai komunikator maupun komunikan) memiliki karakter yang kuat (iman yang kuat, ilmu yang tinggi serta perilaku yang baik). Selain itu dalam berkomunikasi dilakukan dengan pemilihan bahasa/ kata yang baik dan menerapkan teknik komunikasi yang tepat dan benar.Kata kunci: Komunikasi Orangtua-anak, Q.S., ash Shaffat ayat 100-102

Page 4 of 15 | Total Record : 142