cover
Contact Name
Ihsan Mz
Contact Email
Ihsan Mz
Phone
-
Journal Mail Official
ihsan.mz@iain-palangkaraya.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota palangkaraya,
Kalimantan tengah
INDONESIA
NALAR: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
ISSN : 25979930     EISSN : 25988999     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam promotes multidisciplinary approaches to Islam and focuses on seven main topics; (1) the Qur’an and hadith, (2) Da’wah, (3) Psychology/Counseling, (4) Theology (Kalam), (5) Philosophy, (6) Mysticism (Tasawwuf), and (7) Islamic History. All submitted papers are subject to double-blind review process.
Arjuna Subject : -
Articles 142 Documents
KOMUNIKASI INTERPERSONAL TENAGA PENDIDIK TERHADAP KEBERHASILAN BELAJAR SISWA PADA MIS ASSALAM MARTAPURA DAN MIN SUNGAI SIPAI KABUPATEN BANJAR M. Ropiani
NALAR Vol 1, No 2 (2017): Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.827 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v1i2.907

Abstract

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode pendekatan kuantitatif karena data yang digunakan secara umum berupa angka-angka yang dihitung melalui uji statistik. sedangkan spesifikasi adalah deskriptif analitik korelasional. Yakni penelitian ini melukiskan secara sistematis, faktual, dam cermat juga berusaha memberikan gambaran tentang apa saja yang ada hubungannya dengan penelitian kemudian, menganalisa untuk menemukan pemecahan masalah yang dihadapi. Dalam hasil pengamatan yang di lakukan pada dua Madrasah Ibtidaiyah di Kabupaten Banjar, yakni Madarasah Ibtidaiyah Assalam Martapura dan Madrasah Ibtidaiyah Negeri Sungai Sipai, dimana dari dua Madrasah Ibtidaiyah tersebut adalah Madrasah Ibtidaiyah Assalam Martapuran merupakan sekolah swasta di bawah naungan Kemenag yang juga binaan dari Madrasah Ibtidaiyah Negeri Sungai Sipai,  pada kedua sekolah tersebut sering di jumpai bahwa faktor yang mempengaruhi belajar ini meliputi metode mengajar, kurikulum relasi tenaga pendidik dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin, pelajaran, falisilitas dan waktu, standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah. Belajar mengajar merupakan perilaku inti dalam proses pendidikan dimana anak didik dan pendidik berinteraksi. Interaksi belajar mengajar ditunjang oleh beberapa faktor lain dalam pendidikan antara lain: tujuan pendidikan, pendidik, anak didik, alam dan fasilitas pendidikan, metode mengajar, materi pelajaran dan lingkungan.Kata Kunci: Komunikasi Interpersonal, Tenaga Pendidik
ANALISIS KAJIAN KEMUNDURAN DAN KERUNTUHAN DINASTI FATHIMIYAH (SEBUAH STUDI PUSTAKA) Latifa Annum Dalimunthe
NALAR Vol 1, No 1 (2017): Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.148 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v1i1.902

Abstract

The Fathimiyah caliphate, one of the Ismaili Shi'ite Islamic dynasties, in 909 AD in North Africa after defeating the Aghlabiah Dynasty in Sijilmasa. In history, the glory of Fathimiyah dynasty includes the system of government, philosophy, science and literature. After the reign of the caliph Al-Aziz Fathimiyah dynasty began to decline until the collapse. Problem formulation: How the formation of Fathimiyah dynasty. How to advance the civilization of the Fathimiyah Dynasty? How the decline and collapse of the Fathimiyah dynasty.Research Methodology: The research process is done by taking literature study from literarure, books. To discuss the results of research done by linking descriptions of literature, and books.The results show that: The founder of the Fathimiyah Dynasty was Sa'id ibn Husayn. At the end of the 9th century AD, Abu Abdullah al-Husayn al-Shi'i, one of the main propagandists of the Shiite leader of Isma'iliah, was from Yemen son of the Berber tribe in North Africa, as the main envoy of Imam Mahdi and managed to influence the Berber community. Ziyadatullah al-Aghlabi 903-909 M (Aghlabiah dynasty) is in power in North Africa centered in Sijilmasa. Having succeeded in establishing his influence in North Africa, Abu Abdullah Al-Husain wrote a letter to the Ismaili Imam, Sa'id bin Husain As-Salamiyah to leave immediately for Utar Africa. In 909 AD Sa'id proclaimed himself a priest with the title Ubaidullah Al-Mahdi. In history, the glory of Fathimiyah dynasty includes the system of government, philosophy, social conditions, scholarship and literature. The decline and disintegration of the Fathimiyah Dynasty, the caliph Fathimiyah initially controlled all activities, but among the caliphs there were those who handed the supervisory duties to the amir, because the age of the caliph was underage and did not even understand the political world. For example, after Al-Aziz died, Abu Ali Al-Mansur was eleven years old appointed to replace him with the title of Al-Hakim. The final period of the Fathimiyah Dynasty rivalry for the post of prime minister is increasingly widespread, such as Syawar with Dhargam. End of Nuruddin Mahmud's entry to help him reclaim his power from the hands of Dhargam. Al-Adhid, the last Fathimiyah caliph passed away 10 Muharram 567 H / 1171 M. then the Fatimid dynasty was destroyed after reigning for about 280 years, then Saladin holds the Caliphate.Keywords: dynasty, fathimiyah
WARIA, PEMERINTAH, DAN HAK SEKSUAL: KASUS IMPLEMENTASI PERDA GEPENG DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Masthuriyah Sa'dan
NALAR Vol 1, No 2 (2017): Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (730.597 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v1i2.908

Abstract

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta mengeluarkan peraturan daerah nomor 1 tahun 2014 tentang penanganan gelandangan dan pengemis. Para waria yang mengamen di pinggir jalan, di trotoar dan di lampu merah juga menjadi incaran utama aparat. Sehingga mereka yang ditangkap tidak mendapat perlakuan yang manusiawi di camp assessment termasuk pelayanan dalam hal kesehatan seksual dan reproduksi bagi waria yang mengidap  HIV/AIDS. Padahal mengamen bagi waria mungkin ”satu-satunya” cara untuk bertahan hidup di kota Yogyakarta. Dengan menggunakan kajian pustaka, tulisan ini ingin mengkaji mengapa waria mengamen dan bagaimana sikap dan tanggung jawab negara untuk memenuhi hak asasi bagi waria.Kata kunci: waria, pemerintah, hak seksual.
Etika Wahhabian dan Etika Protestan Riza Bahtiar
NALAR Vol 1, No 1 (2017): Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (759.873 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v1i1.895

Abstract

This paper effort to define the theology of Wahhabian which is divided into three, such as: tauhid rububiyah, tauhid asthma, and the nature and monotheism of worship, wahhabian ethos in general, followed by wahhabian ethics divided into five points, namely 1) "Takfir" over other Muslims as polytheists; 2) Return to the Qur'an and Hadith with the interpretation of zahirism; 3) Anti-intellectualism; 4). Political and military action is a religious act; 5) The blood and wealth of the enemy wahhabisme as profit, continued with parallel and ethical differences of Wahhabian with Protestant ethics.Keywords: Ethics, Wahhabian, Protestant
KRITIK SEYYED HOSSEIN NASR TERHADAP KLAIM KEBENARAN MODERNISME Syairil Fadli
NALAR Vol 1, No 1 (2017): Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.518 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v1i1.903

Abstract

Filsafat bermula dari kekaguman terhadap yang sederhana, pada gilirannya mampu melahirkan ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang. Kekaguman itu ditandai dengan keinginan manusia menjawab rahasia alam, manusia, dan Tuhan. Manusia ingin memahami dan mengetahui apa yang dapat dilakukan terhadap apa yang mereka ketahui. Pertanyaan mendalam menjadi kebutuhan dan menghantui seperti: “Kenapa aku berada di jagad ini?”; “Apakah yang dimaksud dengan pengetahuan?”; “Apakah radikal itu?”. Hal senada diungkapkan oleh Seyyed Hossein Nasr, kapan dan di mana pun berada, manusia tidak dapat menghindari pertanyaan mendasar dengan serius, “Siapakah manusia?” “Dari mana manusia berasal?” “Apa yang manusia kerjakan?” dan “Akan ke mana manusia pergi?” Leenhouwers berpendapat, dari sekian banyak pertanyaan, kalau diperas menjadi satu pertanyaan menentukan, yakni, “Apakah kebenaran itu?”Kata Kunci: Sayyed Hossein Nasr, Modernisme
PENGARUH KONSEP AKAL DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM Norhasanah Norhasanah
NALAR Vol 1, No 2 (2017): Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.877 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v1i2.909

Abstract

Pendidikan pengembangan akal menjadi salah satu tujuan antara pendidikan, yakni ahdâf al-aqliyyah. Pendidikan pengembangan akal pada akhirnya akan berakumulasi dengan pendidikan pengembangan jasmani dan ruhani untuk mencapai tujuan akhir pendidikan Islam, yakni insân kâmil (manusia seutuhnya) yang mempunyai kesadaran, pemahaman, dan pengamalan akan posisi dirinya di antara Allah, alam, dan sesama manusia, serta mampu menjadi khalifah dan 'abd Allah. Dalam Islam, akal mendapat posisi yang signifikan, baik dalam pengembagan individu, masyarakat, maupun pengetahuan, terutama sains. Ia diposisikan sebagai hidayat al-'aqliyyah, yakni hidayah Allah yang hanya diberikan kepada manusia. Dengan akal, manusia mampu memahami symbol-simbol, hal-hal yang abstrak, menganalisis, membandingkan, maupun membuat kesimpulan dan akhirnya mampu membedakan antara yang benar (haq) dan salah (bathil).Kata Kunci: Konsep Akal, Pengaruhnya
AKHLAK TERPUJI DAN YANG TERCELA: Telaah Singkat Ihya’ Ulumuddin Jilid III Hajriansyah Hajriansyah
NALAR Vol 1, No 1 (2017): Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.895 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v1i1.899

Abstract

Ihya 'Ulumiddin is the masterpiece of Hujjatul Islam al-Ghazali. This book, composed of four large volumes, was mentioned as a work that elaborates the understanding of Shari'ah with Sufism, and always referred too in the two contexts of thought. This paper will briefly examine the thought of al-Ghazali in this book, especially in Volume III which talks about al-Muhlikat. The approach begins with a biographical review of the author of this book, the socio-religious background in which it was written and the author's motivation, as well as the miracle of the heart, morally disgraceful and love of the world.Keyword: Al-Ghazali, Ihya ‘Ulumiddin, Volume III, Al-Muhlikat, Miracle of Heart.
KONSEP PEMIMPIN IDEAL MENURUT AL-GHAZĀLĪ Ade Afriansyah
NALAR Vol 1, No 2 (2017): Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (873.267 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v1i2.905

Abstract

Abū Ḥamid Muḥammad ibn Muḥammad ibn Muḥammad al-Ghazālī al-Ṭūsī al-Ṣāfi’i, dikenal sebagai al-Ghazālī seorang hujjah Islam (1058-1111 M) dengan konsep pemikiran pemimpin yang lebih mendalam, menekankan pada aspek substansial nilai ajaran agama daripada segi-segi formal-simbolik, menyatukan apa yang telah dipisahkan dari sosok pemimpin, pemimpin haruslah datang dari rakyat dengan pilihan rakyat. Tipe pemimpin ideal menurut al-Ghazālī adalah pemimpin yang memiliki intelektualitas, agama, dan akhlak, mampu memengaruhi lingkungan yang dipimpin, serta mampu mengobati kehancuran dan kerusakan dalam diri bangsa atau organisasi, serta membawa masyarakat yang adil dan makmur dengan menjunjung tinggi keilmuan, juga moral yang bersendikan agama.Keywords: pemimpin, kepemimpinan, al-Ghazali.
Islam dan Pembebasan: Elemen-elemen Teologis dalam Menciptakan Transformasi Sosial Ahmad Sulaiman; Supriyantho Supriyantho; Fantika Febry Puspitasari
NALAR Vol 3, No 2 (2019): Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.319 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v3i2.1478

Abstract

Di tengah sengkarut ekonomi global yang menyebabkan kesenjangan yang tajam, masyarakat dan elit-elit politik di dunia seolah telah kehilangan daya kritis untuk melawan penindasan dan penghisapan berkedok pembangunan. Di situlah Islam, sebagai agama yang transformatif, seharusnya mampu hadir sebagai penawar. Secara normatif, Islam bukanlah agama yang menafikan tanggung jawab sosial. Malahan dalam firman-Nya, Allah Swt menyatakan seorang muslim sebagai pendusta agama apabila sementara ia beribadah, ia mengacuhkan kondisi prihatin fakir dan yatim di sekitarnya (107: 3). Doktrin utama Islam, doktrin tauhid juga mengisyaratkan kesatuan manusia (The unity of man) sebagai hamba yang tunduk patuh kepada kesatuan Tuhan (The unity of God) dan karenanya menolak upaya penuhanan lainnya. Tulisan ini mengajukan sebuah konsepsi mengenai Islam selaku teologi kritis yang memiliki pesan utama agar penganutnya melakukan perubahan sosial. Konsepsi itu memperlihatkan Islam yang membebaskan melalui lima elemen teologis, yaitu: doktrin, kisah, subjek, kesadaran, dan pendidikan yang membebaskan. Amid the turmoil of the global economy which led to sharp disparities, the people and political elites in the world seemed to have lost the critical power to oppose the oppression and exploitation under the guise of development. That is where Islam, as a transformative religion, should be able to come as an antidote. Normatively, Islam is not a religion that denies social responsibility. In fact, in his word, God declared a Muslim a religious liar if while he worshiped he ignored the conditions of concern for the needy and orphans around him (107: 3). The main doctrine of Islam, the doctrine of monotheism also implies human unity (The unity of man) as a servant who obeys to the unity of God (The Unity of God) and therefore rejects other full efforts. This paper proposes a conception of Islam as a critical theology which has the main message that followers adhere to social change. This conception shows a liberating Islam through five theological elements namely doctrine, story, subject, consciousness, and liberating education.Kata Kunci: Teologi Pembebasan, Pendidikan Kritis, Transformasi Sosial, Islam
Integrasi Aqidah Dan Akhlak (Telaah Atas Pemikiran Al-Ghazali) Nur Akhda Sabila
NALAR Vol 3, No 2 (2019): Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.211 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v3i2.1211

Abstract

Degradasi akhlak yang terjadi saat ini menimbulkan banyak pertanya dari semua pihak. Produk pendidikan yang seharusnya dapat menjadi harapan untuk memperbaiki keadaan bangsa banyak yang menjadi sebaliknya. Mulai dari kasus pencurian biasa sampai pencurian level korupsi banyak dilakukan oleh orang-orang yang mengenyam pendidikan. Gagalnya institusi pendidikan untuk membentuk intelektual bermoral atau berakhlak mulia selalu menjadi topik utama. Tetapi saat masalah lain muncul, yaitu kasus kriminalitas yang dilakukan oleh remaja yang berkualitas dan berakhlak baik di sekolah terjadi, tidak hanya institusi pendidikan yang dipertanyakan, namun juga definisi konsep akhlak yang sebenarnya. Maka, kiranya dibutuhkan sebuah standar bentuk yang sempurna dalam pembahasan tentang akhlak. Mulai dari unsur-unsur yang membentuknya hingga tujuan pembentukannya. Oleh karena itu artikel ini bertujuan untuk membahas integrasi antara aqidah dan akhlak dalam pemikiran Al-Ghazali dengan menggunakan perspektif deskriptif analistis. Hasil analisis yang dilakukan diketahui adanya integrasi aqidah dan akhlak pada pemikiran Al-Ghazali khususnya dalam konsep akhlaknya. Terbukti dari setiap unsur dan latar belakang konsep akhlak yang ia bahas berdasarkan dengan kesadaran akan Aqidah. Moral degradation that is happening right now raises many questions from all parties. Educational products that can be a hope to improve a nation that is opposing. Ranging from ordinary theft to level theft is mostly done by people who are educated. The idea of education to make intellectuals moral or noble has always been the main topic. But when another problem arises, namely the problem of criminality committed by qualified and adolescents at school is done, not only education is questioned, but also the resolution of the actual moral concepts. So, presumably requires a perfect standard in the discussion of morals. Starting from the aspects who formed it to the purpose of its formation. Therefore this article discussing between aqeedah and morals in Al-Ghazali's discussion by using descriptive analytic perspective. The results of the analysis carried out regarding the integration of aqeedah and morals when discussing Al-Ghazali specifically in the concept of morals. Evidenced by every not and the background of the moral concept he discussed was based on the awareness of Aqidah.Kata Kunci: Aqidah, Akhlak, Al-Ghazali

Page 5 of 15 | Total Record : 142