cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 32 Documents
Search results for , issue "Volume 7 Nomor 3 November 2024" : 32 Documents clear
The Correlation Between Anemia and Chronic Energy Deficiency in Pregnant Women With the Incidence of Low Birth Weight at the Ciwaringin Cirebon Health Center in 2020 – 2022 Roswita, Kania Widya; Nurbaniwati, Nunung; Sedayu, Sedayu
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.751

Abstract

Objective: This study aims to analyze the association of anemia and Chronic Energy Deficiency (CED) in pregnant women with the incidence of Low Birth Weight (LBW) in Puskesmas Ciwaringin Cirebon in 2020 - 2022.Methods: This study was a cross-sectional study with 339 respondents. Medical records were used as secondary data. Data analysis included univariate analysis, bivariate analysis (using chi-square test), and multivariate analysis (using logistic regression test).Results: The percentage of mothers with a history of LBW based on this study reached 69.6%, pregnant women with anemia reached 68.4%, and pregnant women with CED reached 73%. Similarly, a significant association was found between anemia among pregnant women and LBW (p-value 0.001; PR= 2.940). A significant association was also found between CED and LBW (p-value 0.001; PR= 2.115). Anaemia was a factor that had a greater likelihood of causing LBW (Exp(B) = 12.596) than CED (Exp(B) = 3.707).Conclusion: There is an association between anemia and CED in pregnant women with the incidence of LBW in Puskesmas Ciwaringin Cirebon in 2020 - 2022.Hubungan Antara Anemia dan Kekurangan Energi Kronik Pada Ibu Hamil Dengan Kejadian Berat Bayi Lahir Rendah di Puskesmas Ciwaringin Tahun 2020 – 2022AbstrakTujuan:Penelitian ini menganalisis hubungan terkait anemia dan KekuranganEnergi Kronik (KEK) pada ibu hamil dengan kejadian Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) di Puskesmas Ciwaringin Cirebon tahun 2020 - 2022.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dengan jumlah subjek sebanyak 339 responden. Rekam medis digunakan sebagai data sekunder. Analisis data meliputi analisis univariat, analisis bivariat (menggunakan uji chi-square), dan dan analisis multivariat (menggunakan uji regresi logistik).Hasil: Presentase ibu dengan riwayat BBLR berdasarkan penelitian ini mencapai 69,6%, ibu hamil dengan anemiamencapai 68,4%, dan ibu hamil dengan KEK mencapai 73%. Demikian pula, hubungan yang signifikan juga ditemukan antara anemia pada ibu hamil danBBLR (p value0,001; PR= 2,940). Hubungan yang signifikan juga ditemukan antara KEK dengan kejadian BBLR dengan (p value 0,001; PR= 2,115). Anemia merupakan faktor yang memiliki kemungkinan lebih besar menyebabkan BBLR (Exp(B) = 12.596) dibandingkan KEK(Exp(B) = 3.707).Kesimpulan: Terdapat hubungan antara anemia dan KEK pada ibu hamil dengan kejadian BBLR di Puskesmas Ciwaringin Cirebon tahun 2020 - 2022.Kata kunci: Anemia; Kekurangan Energi Kronik; Berat Bayi Lahir Rendah
Case Report: Effective Pregnancy Management in Uterus Didelphys Lubis, Munawar Adhar; Fakhrizal, Edy
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.738

Abstract

Introduction: Uterus didelphys is a rare congenital anomaly resulting from incomplete fusion of the Müllerian ducts, accounting for 10% of such anomalies. It often goes unnoticed until reproductive age, sometimes causing dyspareunia or dysmenorrhea. This anomaly is associated with increased obstetric risks, including higher rates of miscarriages, preterm births, breech presentations, and lower live birth rates. Diagnosis is typically achieved through imaging techniques such as ultrasound, hysterosalpingography, or magnetic resonance imaging. Case Report: This case study involves a 37-year-old primigravida at 34 weeks gestation presenting with premature contractions. Ultrasound revealed a singleton foetus in the breech position, and speculum examination identified two cervical os. The patient had a history of primary infertility and was diagnosed with uterus didelphysis during fertility assessments. Despite the complexities associated with this condition, she successfully conceived through artificial insemination. Her pregnancy was closely monitored, and due to the presence of labour signs and uterus didelphys condition, a planned Caesarean section was performed, resulting in the delivery of a healthy infant. Conclusion: This case underscores the importance of individualised care and continuous monitoring in managing pregnancies complicated by uterine anomalies to mitigate associated risks and improve maternal and foetal outcomes.Laporan Kasus: Managemen Efektif Kehamilan Pada Uterus DidelphysAbstrakPendahuluan: Uterus didelphys merupakan anomali kongenital langka yang disebabkan oleh fusi duktus Müllerian yang tidak sempurna, yang mencakup 10% dari anomali tersebut. Kondisi ini sering tidak disadari hingga usia reproduksi, terkadang menyebabkan dispareunia atau dismenore. Anomali ini dikaitkan dengan peningkatan risiko obstetrik, termasuk tingkat keguguran yang lebih tinggi, kelahiran prematur, presentasi bokong, dan tingkat kelahiran hidup yang lebih rendah. Diagnosis biasanya dicapai melalui teknik pencitraan seperti Ultrasonografi, histerosalpingografi, atau pencitraan resonansi magnetik.Laporan Kasus: Studi kasus ini melibatkan seorang primigravida berusia 37 tahun dengan usia kehamilan 34 minggu yang mengalami kontraksi prematur. Ultrasonografi menunjukkan janin tunggal dalam presentasi bokong dan pemeriksaan spekulum mengidentifikasi dua ostium serviks. Pasien memiliki riwayat infertilitas primer dan didiagnosis dengan uterus didelphysis selama penilaian kesuburan. Meskipun kondisi ini rumit, ia berhasil hamil melalui inseminasi buatan. Kondisi kehamilan pasien dipantau secara ketat, namun karena adanya tanda-tanda persalinan disertai kondisi uterus didelphys, maka diputuskan untuk dilakukan operasi caesar. Pasca operasi kondisi ibu dan bayi sehat.Kesimpulan: Kasus ini menggarisbawahi pentingnya perawatan individual dan pemantauan berkelanjutan dalam mengelola kehamilan yang rumit karena anomali uterus untuk mengurangi risiko dan menjaga keselamatan ibu dan bayi.Kata kunci: uterus didelphys, anomali uterus kongenital, risiko obstetrik, operasi caesar

Page 4 of 4 | Total Record : 32