cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan
ISSN : 25988573     EISSN : 25991388     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 1 (2018)" : 10 Documents clear
Faktor yang Mempengaruhi Niat Pindah Mahasiswa Peserta Program Bantuan Pendidikan Dokter Spesialis dan Gigi Spesialis Asep Hermawan; Harimat Hendrawan
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2018)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (478.432 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v2i1.34

Abstract

Abstrak Akses pelayanan kesehatan yang berkualitas sangat penting untuk meningkatkan indikator derajat kesehatan masyarakat salah satunya pelayanan spesialistik. Distribusi tenaga dokter spesialis dan dokter gigi spesialis di Indonesia belum merata. Salah satu upaya pemerintah adalah dengan melakukan rekruitmen spesialis melalui Program Bantuan Pendidikan Dokter Spesialis/Dokter Gigi Spesialis (PDS/PDGS). Artikel ini bertujuan mendapatkan gambaran faktor–faktor yang mempengaruhi niat pindah dokter spesialis/dokter gigi spesialis pasca penugasan peserta program bantuan PDS/PDGS. Sumber data penelitian adalah data kajian implementasi program PDS/PDGS yang diselenggarakan oleh Badan Pendayagunaan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan (BPPSDMK) dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes). Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross sectional), populasi dan sampel adalah seluruh mahasiswa peserta program bantuan PDS/PDGS yang berada di tempat pada saat pengumpulan data yang berasal dari beberapa Fakultas Kedokteran yang ditunjuk/bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan sebagai penyelengaraan program. Data dianalisis secara bivariat menggunakan uji Chi squere. Hasil analisis menunjukan bahwa, berdasarkan karakteristik individu, niat pindah berhubungan dengan status kepegawaian dan status perkawinan (nilai P<0,05). Faktor keamanan, penghasilan, pengembangan pengetahuan dan keterampilan serta kemudahan untuk mendapatkan pendidikan anak berpengaruh signifikan terhadap keinginan pindah (nilai P< 0,05). Kata kunci: Niat pindah, Retensi dokter spesialis/dokter gigi spesialis, Penghasilan Abstract Access to quality health services, including specialist services is important to improve public health indicator. Medical specialist and dental specialists in Indonesia has not been evenly distributed. Recruitment through financial support program for medical specialist/dental specialist education is one of the government’s efforts. The objective of this article is to describe the factors affecting intentions to leave after compulsory practice of the participants of the program. The data sources was assessment data of the implementation of the program conducted by the Board of Development and Empowerment of Human Resources for Health and National Institute of Health Research and Development. This study used crosssectional design. Population and samples were all student of the program participants were in place at the time of data collection. Students come from several medical school appointed / cooperated with the ministry of health in organizing this program. Data were analyzed bivariately by using Chi squere test. The results of the analysis show that, based on individual characteristics, the intentions of leave relate to employment status and marital status (P <0.05). In addition, the factors of security, income, development of knowledge and skills and the ease of getting a child’s education have a significant effect on the intention to leave (P-value <0.05). Keywords: Intention to leave, Medical/dentist specialist retention, Income
Aspek Penting Akreditasi Puskesmas dalam Mendukung Implementasi Jaminan Kesehatan Nasional Misnaniarti Misnaniarti; Putri Kemala Destari
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2018)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.94 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v2i1.35

Abstract

Abstrak Puskesmas memegang peran yang sangat penting dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan di Indonesia. Puskesmas dituntut untuk dapat menjamin perbaikan mutu, peningkatan kinerja dan penerapan manajemen risiko yang dilaksanakan secara berkesinambungan, sehingga perlu dilakukan penilaian melalui mekanisme akreditasi. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengkaji aspek penting penyelenggaraan akreditasi Puskesmas dalam mendukung implementasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Makalah ini merupakan studi kebijakan menggunakan literature review. Informasi diambil dari berbagai sumber terdiri dari kebijakan, pedoman dan hasil penelitian terkait akreditasi Puskesmas. Berdasarkan kajian diketahui bahwa Puskesmas wajib untuk diakreditasi secara berkala paling sedikit tiga tahun sekali, sebagai salah satu syarat fasilitas kesehatan tingkat pertama di JKN. Akreditasi dilakukan melalui tahap survei akreditasi dan penetapan akreditasi. Puskemas melakukan persiapan sebelumnya antara lain menyiapkan dokumen eksternal dan internal, termasuk melakukan studi banding untuk persiapan akreditasi. Persiapan lainnya adalah melakukan pendampingan dan Self Assessment. Pelaksanaan akreditasi di Puskesmas merupakan aspek penting dalam mendukung implementasi JKN sekaligus merupakan upaya meningkatkan kualitas layanan Puskesmas. Rekomendasi bagi Puskesmas untuk dapat melakukan persiapan secara konprehensif sebelum menyelenggarakan penilaian akreditasi. Pelayanan kesehatan yang dilakukan sesuai arah panduan akreditasi secara konsisten dan berkelanjutan, pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas pelayanan dan kepuasan pasien secara berkesinambungan. Kata Kunci: Akreditasi, Kredensialing, Mutu, Puskesmas. Abstract Puskesmas have an important role in the implementation of health services in Indonesia. Puskesmas are required to guarantee the quality improvement, performance improvement and implementation of risk management are carried out sustainably, so it needs to be assessed through accreditation mechanism. The purpose of this paper is to review the important aspects of the implementation of Puskesmas accreditation in supporting the implementation of the National Health Insurance (JKN). This is a policy study using literature review. Information taken from various sources consists of policies, guidelines and research results related to Puskesmas accreditation. Based on this study known that Puskesmas are obliged to be accredited periodically at least every three years, requirements as First Level Health Facilities. Accreditation done through several stages such as accreditation survey and accreditation decision. Previously Puskemas do the preparation consist of preparing external and internal documents, including conducting comparative studies for preparation of accreditation. Other preparation are accompaniment and Self Assessment. Implementation of accreditation in Puskesmas are an important aspect in supporting the implementation of JKN as well as an effort to improve the services quality of Puskesmas. Recommendation for Puskesmas to do preparation comprehensively before implementation accreditation assessment. Health services that implementation based on the accreditation guidelines consistently and continuously, finally can improve the quality of service and patient satisfaction on sustainably. Keywords: neonatal, emergency, hospital, referal system
Kontribusi Pengetahuan Kader Terhadap Kinerja Kader Posyandu di Puskesmas Matandahi Konawe Utara Lukwan Lukwan
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2018)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.355 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v2i1.37

Abstract

Abstrak Salah satu permasalahan Indonesia secara nasional yang berkaitan dengan kader adalah tingginya angka drop out kader.Tiap Posyandu hanya memiliki 2 orang kader yang aktif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kontribusi pengetahuan terhadap kinerja kader Posyandu. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik dengan desain Cross Sectional Study dimana pengukuran variabel terikat dan variabel bebas dilakukan pada waktu dan tempat secara bersamaan. Data diolah dengan menggunakan uji statistik SPSS dengan teknik analisis data menggunakan uji Chi square dan uji phi. Hasil uji Chi square diperoleh X2 hit (4,375) dan uji koefisien kontingensi C = (0,474) dengan tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05). Nilai X2 hit (4,375) > X2 (3,841), maka Ho ditolak dan Ha diterima. Kesimpulannya adalah ada hubungan yang cukup antara pengetahuan dengan Kinerja kader Posyandu di wilayah kerja Puskesmas Matandahi Kabupaten Konawe Utara. Kata kunci: Pengetahuan, Kinerja Kader Posyandu Abstract Nationally, one of Indonesia’s problems related to the cadres is the high number of drop out cadres. Each Posyandu only has 2 active cadres. The purpose of this study is to know the contribution of knowledge to the performance of Posyandu cadres. The type of research used is analytical research with Cross Sectional Study design where the measurement of dependent variable and independent variable is done at the same time and place. Data were processed by using statistical test of spss with technique of data analysis using chi square test and phi test. Chi square test results obtained X2 hit (4.375) and contingency coefficient test C = (0.474) with 95% confidence level (α = 0.05). X2 hit value (4.375) > X2 (3.841), then Ho is rejected and Ha accepted. The conclusion is that there is a sufficient relationship between knowledge with the performance of Posyandu cadres in the working area of the Puskesmas Matandahi Kabupaten Konawe Utara. Keywords: Knowledge, Performance of Posyandu Cadre’s
Kelapa Sebagai Komponen Bahan Ramuan Obat di Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Pura Pakualaman Farah Diba Setiana; Jumari Jumari; Endah Dwi Hastuti
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2018)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (574.85 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v2i1.40

Abstract

Abstrak Kelapa memiliki peran penting bagi Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Pura Pakualaman serta masyarakat sekitarnya karena mempunyai banyak fungsi, salah satunya sebagai bahan ramuan obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemanfaatan kelapa sebagai komponen bahan ramuan. Rancangan penelitian studi kualitatif dengan cara wawancara, studi literatur, survei dan observasi. Informasi dianalisis secara deskriptif kualitatif. Penelitian dilakukan April-Desember 2015. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 68 jenis ramuan berbahan kelapa yang digunakan untuk berbagai ramuan yang dikategorikan dalam 14 kategori pengobatan. Ramuan terbanyak yang diketahui dan digunakan oleh masyarakat dalam lingkungan Karaton adalah ramuan perawatan wanita dan anti racun. Kata kunci : Cocos nucifera L, Ramuan Obat, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat Abstract Coconut has an important role for Ngayogyakarta Hadiningrat Palace and Pura Pakualaman with vinicity society. This study aims to examine the utilization of coconut as a component of the ingredients. Data in this research were obtained by interview with key informants, literature study, survey, questionnaire, and participant observation of traditional ceremony activities. This study is done april-desember 2015. The results showed there are 68 types of herbs made from coconut used for various herbs that are categorized in 14 categories of treatment. The most common ingredients known and used by the people around the Karaton are the ingredients of women’s care and anti-toxins. Keywords: Cocos nucifera L, Medicinal Herb, Ngayogyakarta Hadiningrat Palace
Persepsi Peserta JKN Terhadap Penyelenggara Pelayanan Kesehatan Rujukan Iin Nurlinawati; Rosita Rosita
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2018)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.771 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v2i1.42

Abstract

Abstrak Permenkes 71 tahun 2013 tentang Pelayanan Kesehatan pada Jaminan Kesehatan Nasional menyebutkan bahwa penyelenggara pelayanan kesehatan meliputi semua fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan berupa fasilitas kesehatan tingkat pertama dan rujukan tingkat lanjutan. Minat masyarakat untuk memanfaatkan penyelenggara pelayanan kesehatan dengan JKN akan dipengaruhi beberapa faktor diantaranya persepsi pasien akan mutu pelayanan kesehatan, baik pada pelayanan kesehatan tingkat pertama ataupun pada fasilitas kesehatan rujukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi pasien rawat jalan peserta JKN terhadap penyelenggara pelayanan kesehatan rujukan di Puskesmas X Kota Depok. Penelitian bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang dilaksanakan di Puskesmas X Kota Depok, pada bulan Agustus 2017. Informan dikumpulkan di Puskesmas, kemudian dilakukan focus group discussion (FGD). Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik informan, persepsi masyarakat terhadap pelayanan kesehatan di Puskesmas dan rumah sakit yang menjadi rujukan Puskesmas X. Pemilihan informan adalah pasien yang pernah berobat di Puskesmas X dan melakukan rujukan ke rumah sakit dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap pelayanan kesehatan di Puskesmas X cukup baik, informasi alur rujukan disampaikan secara jelas. Permohonan rujukan di Puskesmas menurut informan lebih nyaman karena proses rujukan mudah dan pasien mendapatkan rujukan langsung untuk beberapa kali kunjungan ke rumah sakit sehingga tidak harus sering kembali ke Puskesmas. Namun persepsi masyarakat terhadap pelaksanaan pelayanan kesehatan pada rumah sakit rujukan kurang baik karena pelayanan yang diberikan masih jauh dari harapan masyarakat. Kata kunci: Persepsi, Pelayanan kesehatan, Puskesmas, Rujukan Abstract Permenkes 71 of 2013 on Health Services on National Health Insurance states that the providers of health services include all Health Facility in cooperation with BPJS Health in the form of first rate health facilities and advanced level referral. Public interest to utilize health service providers with JKN will be influenced by several factors such as the patient’s perception on the quality of health service, either at first level health service or at referral health facility. To determine the outpatient JKN member’s perception to referal health services at X Public Health Center Depok. The research was descriptive with qualitative approach which was carried out at X Public Health Center Depok, in August 2017. Informants were collected at Puskesmas, then conducted focus group discussion (FGD). The data collected include the characteristics of informants, public perceptions of health services at health centers and hospitals that became the reference of X Community Health Center. Selection of informants were patients who had been treated at X Health Center and made referral to the hospital within the last one year. The results showed that public perception of health service at X Public Health Center was good enough, the referral flow information was presented clearly. Referral application at Puskesmas according to informant is more convenient because the referral process is easy and the patient get direct referral for several visit to hospital so that they do not have to return to Puskesmas often. However, the public perception on the implementation of health service at referral hospital is not good because the service given is still far from the expectation of society. Keywords : Perception, Health Care, Primary Health Care, Referral
Kajian Pelaporan dan Penggunaan Dana Alokasi Khusus Subbidang Pelayanan Kefarmasian Tahun 2012-2015 Yuyun Yuniar; Sudibyo Supardi; Heny Lestari; Siti Masitoh
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2018)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.208 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v2i1.49

Abstract

Abstrak Dana Alokasi Khusus (DAK) subbidang pelayanan kefarmasian diberikan pada provinsi dan kabupaten/kota tertentu di Indonesia yang bertujuan untuk penyediaan obat dan perbekalan kesehatan serta pengadaan atau rehabilitasi instalasi farmasi. Tujuan dari kajian ini yaitu untuk menelaah kebijakan, efektivitas dan efisiensi serta permasalahan yang terkait dengan DAK subbidang pelayanan kefarmasian. Kajian dilakukan melalui telaah kebijakan, pengolahan data sekunder dan pertemuan dengan pemangku kepentingan terkait. Hasil kajian menunjukkan bahwa berbagai kebijakan terkait DAK telah dibuat dan diperbarui setiap tahun untuk memudahkan teknis pelaksanaannya, namun masih ada masalah-masalah terkait dengan alokasi dan perencanaan, penggunaan, pelaporan serta ketersediaan sumber daya untuk pengelolaan DAK subbidang pelayanan kefarmasian. Efektivitas DAK subbidang pelayanan kefarmasian pada tahun 2014 yaitu yaitu 51,25% di tingkat Kabupaten/Kota dan 50% di tingkat Provinsi. Efisiensi hanya dapat dilihat dari realisasi penggunaan dana yaitu 87% di tingkat kabupaten/kota dan 84% di tingkat provinsi. Peraturan dan inovasi khusus diperlukan agar petugas daerah dapat mengerjakan laporan tepat waktu dengan prosedur yang lebih mudah. Dengan adanya perubahan kebijakan perencanaan dan pengalokasian DAK tahun 2016 maka perlu pertimbangan dalam penetapan faktor-faktor penentuan alokasi DAK. Kata kunci: DAK, subbidang pelayanan kefarmasian, pengadaan obat, instalasi farmasi Abstract The pharmaceutical services specific allocated fund has been given to selected provinces and districts in Indonesia, which is aimed to provide drugs and health equipment and build or renovate pharmaceutical installation. The study aimed to review the regulations, the effectiveness and efficiency, and problems related with pharmaceutical services specfic allocated fund. Study was conducted by reviewing the regulations, analyzing secondary data, and discussion with related stakeholders. The result showed that although several regulations were made and renewed every year to simplify the technical implementation, some problems were still exist in term of allocation and planning, utilization, reporting, and the availability of necessary resources for managing the fund. The effectiveness of pharmaceutical services specific allocated fund in 2014 was 51.25% in district level and 50% provincial level. The efficiency could only be analyzed through the realization of the fund that reached 87% in district level and 84% in provincial level. It is necessary to stipulate special regulation and innovation in order to encourage the local staff to report on time with an easier procedure. It is necessary to have consideration regarding the determination of allocating factors of the specific allocated fund, due to changes in the planning and allocating regulation since 2016 onward. Keywords: Specific allocation fund, pharmaceutical services, drug procurement, pharmaceutical installation
Perkembangan Diabetes Melitus Tipe 2 dari Prediabetes di Bogor, Jawa Barat Eva Sulistiowati; Marice Sihombing
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2018)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (512.192 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v2i1.53

Abstract

Abstrak Prediabetes merupakan kondisi gula darah puasa 100-125mg/dL (Impaired Fasting Glucose/IFG) atau kadar gula darah 2 jam setelah pembebanan 75 g glukosa 140-199 mg/dL (Impaired Glucose Tolerance/IGT). Prediabetes meningkatkan risiko terjadinya Diabetes Mellitus tipe 2 (DM tipe 2). Tujuan analisis ini untuk mengetahui terjadinya DM Tipe 2 pada responden dengan prediabetes dalam follow-up 2 tahun. Prospektif studi dalam 2 tahun pada 3344 responden Studi Kohor Faktor Risiko PTM non-DM tipe 2. Data yang dikumpulkan meliputi wawancara, pemeriksaan fisik (BB, TB, lingkar perut, tekanan darah), dan laboratorium (GDP, GDPP, Kolesterol total, HDL, LDL, Trigliserida). Kadar glukosa darah untuk DM Tipe 2 dan prediabetes mengacu pada kriteria ADA 2011. Analisis deskriptif tentang karakteristik, life tabel perkembangan DM Tipe 2 dari prediabetes. Prediabetes yang terjadi sebesar 24,6% (IFG 2,3%; IGT 19,2% dan mix IFG/IGT 2,8%) dan 13,4% mengalami DM tipe 2 dalam kurun waktu 2 tahun. Progresivitas terjadinya DM dari IFG, IGT dan mix TGTmasing-masing 6,21; 6,12 dan 14,6 per 100 orang per tahun. Faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya DM tipe 2 antara lain: umur (40-54 tahun RR=1,97; CI 95%:1,02-3,82), 55-65 tahun (RR=2,74; CI 95%: 1,34-5,58), obesitas sentral (RR=4,42; CI 95%: 2,36-8,29), hipertensi (RR= 1,99; CI 95%: 1,29-3,06) dan hipertrigliserida (RR=1,83; CI 95%: 1,18-2,83). Proporsi prediabetes dan terjadinya DM tipe 2 di Bogor Tengah dalam pengamatan 2 tahun, meningkat dengan bertambahnya umur dan dipengaruhi oleh obesitas sentral, hipertensi, hipertrigliserida. Pengendalian faktor risiko dan pemeriksaan gula darah secara rutin dapat mencegah terjadinya DM tipe 2. Perlu ditunjang dengan posbindu PTM aktif di masyarakat, lingkungan kerja maupun sekolah. Kata kunci: Prediabetes, Diabetes Melitus tipe 2 (DM tipe 2), Bogor Tengah Abstract Prediabetes is a condition that fasting plasma glucose 100-125 mg/dL (Impaired Fasting Glucose/IFG) or blood glucose 2 hours after loading 75 g glucose 140-199 mg/dL (Impaired Glucose Tolerance/IGT). Prediabetes increases the risk of type 2 Diabetes Mellitus (T2DM). This analysis is to determine the progression rate to T2DM in prediabetes respondents during 2 years follow up. This is an two years prospective study in 3344 respondents Cohort Study of Risk Factors NCD without T2DM. The data collected included interviews, physical examination (body weight, height, abdominal circumference, blood pressure), and laboratory (fasting plasma glucose/FPG, plasma glucose 2 hours after loading 75 g glucose, total cholesterol, HDL, LDL, triglycerides). Blood glucose levels for DM and prediabetes refers to ADA criteria 2011. Data analisized by descriptive about characteristics, life table of T2DM development from prediabetes. Prediabetes occurred at 24.6% (IFG 2.3%, IGT 19.2% and mix IFG / IGT 2.8%) and 13.4% experienced type 2 diabetes within 2 years. The progression of DM from IFG, IGT and mix TGT is 6.21; 6.12 and 14,6 per 100 person per year respectively. The risk factors of T2DM are age (40-54 years old (RR=1,97; CI 95%:1,02-3,82), 55-65 years old (RR=2,74; CI 95%:1,34-5,58), central obesity (RR=4,42; CI 95%:2,36-8,29), hypertension (RR=1,99; CI 95%:1,29-3,06) and hypertriglyceride (RR=1,83; CI 95%:1,18-2,83). The proportion of prediabetes and progression T2DM in Central Bogor at 2 years follow up is quite high, increasing with age and influenced by central obesity, hypertension and hypertriglyceride. Controlling risk factors and checking blood glucose regularly can prevent T2DM. Need to be supported by posbindu PTM active in the community, work environment and school. Keywords: Prediabetes, type 2 Diabetes Mellitus (T2DM), Central Bogor
Dukungan Tenaga Kesehatan dalam Meningkatkan Pemberian ASI Eksklusif Ibu di Posyandu Wilayah Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan Jakarta Najah Syamiyah; Helda Helda
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2018)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.667 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v2i1.54

Abstract

Abstrak Cakupan ASI eksklusif di wilayah Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan masih rendah, sementara pendidikan tentang ASI eksklusif kepada masyarakat harus terus dilakukan karena dapat memberikan informasi penting untuk calon ibu dan keluarga. Penelitian dilakukan untuk mengetahui dukungan tenaga kesehatan terhadap perilaku pemberian ASI eksklusif pada Ibu bayi usia 0-5 bulan 29 hari di Posyandu Wilayah Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan. Penelitian dengan disain cross sectional ini dilakukan terhadap 250 ibu bayi yang terdaftar di Posyandu yang diwawancara menggunakan kuesioner terstruktur pada bulan November–Desember 2017. Berdasarkan hasil analisis multiple cox regression didapatkan bahwa peluang kelompok ibu yang mendapatkan dukungan tenaga kesehatan dengan baik untuk memberikan ASI eksklusif adalah 1,6 (CI 95% 1,02-2,34) kali dibandingkan dengan kelompok ibu yang kurang mendapatkan dukungan dari tenaga kesehatan. Disimpulkan bahwa Ibu yang mendapatkan 4 atau lebih dari 5 perlakuan diantaranya konseling ASI saat ANC, dilakukan IMD, dirawat gabung bersama bayi, bayinya tidak diberikan makanan dan minuman selain ASI selama masa perawatan, serta ibu pernah mendapatkan penyuluhan, maka peluangnya untuk memberikan ASI eksklusif lebih besar dibandingkan dengan ibu yang hanya mendapatkan 0-3 perlakuan tersebut. Diharapkan kepada penyedia layanan kesehatan Ibu dan anak dapat menetapkan kebijakan terkait pelayanan manajemen laktasi. Kata kunci: Dukungan Tenaga Kesehatan, ASI Eksklusif, Posyandu Abstract The coverage of exclusive breastfeeding in Mampang Prapatan Public Health Center was still low. Meanwhile, education about exclusive breastfeeding to the community should continue to be done because it can provide important information for prospective mothers and families. Then conducted a study to determine the support of health workers to exclusive breastfeeding on the mother of the baby aged 0-5 months 29 days in Posyandu Mampang Prapatan Public Health Center. This cross sectional study was conducted on 250 infant mothers enrolled at Posyandu who were interviewed using structured questionnaire in November-December 2017. Based on data analysis with multiple cox regression, it was found that the opportunity of maternal group that get good health support to give exclusive breastfeeding is 1,547 (95% CI 1.023-2,339) times bigger than those group of mothers who get less support from health worker. It can be concluded that if the mothers get 4 or more of 5 treatments such as breastfeeding counseling during ANC, early breastfeeding initiation, treated together with baby, the baby is not given any food and drink other than breastmilk during the treatment period, and the mother has got counseling, the possibility to give exclusive breastfeeding greater than mothers who only get 0-3 of these treatments. It was expected that health providers can establish policies related to lactation management services. Keywords: Health Workers Support, Exclusive Breastfeeding , Posyandu
Front Matter Vol. 2 No. 1 April 2018 Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2018)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (899.582 KB)

Abstract

Back Matter Vol. 2 No. 1 April 2018 Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2018)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.132 KB)

Abstract

Page 1 of 1 | Total Record : 10