cover
Contact Name
eko subaktiansyah
Contact Email
eko.subaktiansyah@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
support@inajog.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology (Majalah Obstetri dan Ginekologi Indonesia)
ISSN : 23386401     EISSN : 23387335     DOI : -
Core Subject : Health,
The Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology is an official publication of the Indonesian Society of Obstetrics and Gynekology. INAJOG is published quarterly.
Arjuna Subject : -
Articles 19 Documents
Search results for , issue "Volume. 31, No. 4, October 2007" : 19 Documents clear
Fertilisasi in vitro (Bayi tabung): Dilema kemajuan yang tak kunjung usai BAZIAD, A.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 31, No. 4, October 2007
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.65 KB)

Abstract

Tujuan: Menelaah perkembangan program Fertilisasi in vitro (FIV) dan hal-hal yang menimbulkan perdebatan dan dilema. Rancangan/rumusan data: Kajian pustaka. Hasil: Teknik Bayi Tabung telah digunakan secara luas di seluruh dunia. Berbagai cara ditempuh oleh praktisi Bayi Tabung untuk mendapatkan angka kehamilan yang tinggi, dengan menggunakan berbagai teknik yang canggih, namun belum juga dapat meningkatkan angka kehamilan. Embrio yang dibekukan, kehamilan multipel, preimplantation genetic diagnosis (diagnosis genetik praimplantasi), riset embrio untuk stem cells telah menimbulkan dilema atau perdebatan di seluruh dunia. Masa depan anak-anak yang dilahirkan dari teknik Bayi Tabung telah menjadi perhatian para sosiolog, psikolog dan ahli hukum. Telah dilaporkan adanya dampak negatif terhadap ibu maupun anak dari penggunaan obat-obat pemicu ovulasi yang digunakan pada proses Bayi Tabung. Telah dikembangkan cara baru yang lebih sedikit berdampak negatif terhadap ibu dan anak di kemudian hari, yaitu in vitro maturation (IVM). Banyaknya klinik-klinik Bayi Tabung yang bermunculan di seluruh dunia, telah menimbulkan kekuatiran terhadap munculnya wisata reproduksi. Kesimpulan: Kemajuan yang begitu pesat dalam teknik Bayi Tabung untuk membantu pasutri ternyata telah menimbulkan dilema etik, moral, sosial, psikologik dan hukum, yang perlu segera dicari jalan keluarnya. [Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-4: 231-5] Kata kunci: fertilisasi in vitro, embrio
Tes Pap, Tes HPV dan Servikografi sebagai Pemeriksaan Triase untuk Tes IVA Positif: Upaya Tindak Lanjut Deteksi Dini Kanker Serviks pada Fasilitas Kesehatan dengan Sumber Daya Terbatas beserta Analisis Sederhana Efektivitas Biayanya OCVIYANTI, D.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 31, No. 4, October 2007
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.724 KB)

Abstract

Tujuan: Memperoleh informasi tentang efektivitas pemeriksaan dalam bentuk Nilai Prediksi Positif dan Analisis Efektivitas Biaya tes Pap, tes HPV, servikografi dan gabungan dari dua atau tiga pemeriksaan tersebut sebagai pemeriksaan triase untuk tes IVA positif dalam upaya mendeteksi lesi prakanker serviks. Tempat: Poliklinik Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta. Rancangan/rumusan data: Selama kurun waktu penelitian yaitu antara bulan Januari 2005 hingga Januari 2006 poliklinik Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta menerima 130 orang perempuan dengan hasil tes IVA positif dan 1 orang dengan dugaan kanker serviks yang dirujuk dari 8 Puskesmas dan Klinik Bersalin di Jakarta Pusat dan Jakarta Timur. Empat belas orang bidan dari Puskesmas dan Klinik selama kurun waktu tersebut telah melakukan pemeriksaan terhadap 1250 perempuan sesuai kriteria inklusi yaitu berusia antara 25 hingga 45 tahun. Terhadap seluruh kasus yang dirujuk peneliti melakukan berturut-turut pengambilan sampel tes Pap, sampel tes HPV untuk pemeriksaan dengan metode Hybrid Capture 2, pemeriksaan servikografi dan dilanjutkan dengan kolposkopi. Bila didapatkan lesi epitel putih dilakukan biopsi-histopatologi. Data hasil pemeriksaan dianalisis untuk uji diagnostik dengan komputer menggunakan program Stata 7.0. Analisis efektivitas biaya dilakukan dengan menggunakan program Treeage@. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan hasil tes IVA positif pada 130 perempuan (10,4%) dari 1250 perempuan usia 25-45 tahun yang diperiksa. Hasil pemeriksaan histopatologi menunjukkan hasil positif lesi prakanker pada 67 perempuan (persentasenya sekaligus menggambarkan Nilai Prediksi Positif dari pemeriksaan kolposkopi + biopsi pada kasus dengan tes IVA positif, yaitu: 51,5%). Prevalensi lesi prakanker serviks pada penelitian ini adalah 5,4% dengan prevalensi lesi derajat tinggi 0,2% yaitu sekitar 2% dari seluruh kasus IVA positif yang dirujuk. Satu kasus yang dirujuk dengan kanker serviks ternyata memang positif menderita kanker serviks stadium 3B. Seluruh kasus lesi derajat tinggi (3 kasus) adalah NIS2. Hasil Nilai Prediksi Positif yang sekaligus menggambarkan efektivitas masing-masing pemeriksaan sebagai triase pada tes tes IVA positif: tes Pap 82% (CI 95% 75%; 88%), tes HPV 58% (CI 95% 49%; 66%), servikografi 94% (CI 95% 90%; 98%), tes Pap+HPV 73% (CI 95% 64%; 79%), tes Pap+servikografi 86% (CI 95% 81%; 90%), tes HPV+servikografi 78% (CI 95% 72%; 84%), tes Pap+HPV+servikografi 77% (CI 95% 72%; 82%). Pemeriksaan triase yang lebih efektif biaya dibandingkan rujukan langsung tes IVA positif untuk kolposkopi apabila diasumsikan bahwa pasien dari dalam kota adalah servikografi, tes Pap dan gabungan tes Pap+servikografi, sedangkan bila diasumsikan pasien dari luar kota maka seluruh pemeriksaan triase yang diteliti terbukti lebih efektif biaya. Kesimpulan: Pemeriksaan triase dengan tes Pap, tes HPV dan servikografi maupun gabungannya dapat meningkatkan efektivitas pemeriksaan dan efektivitas biaya tes IVA dalam mendeteksi lesi prakanker serviks. [Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-4: 201-11] Kata kunci: tes IVA, tes Pap, tes HPV, servikografi, pemeriksaan triase, analisis efektivitas biaya
Contraception as an Important Entry Point in Accessing an Integrated Reproductive Health Care: Evidence From Three Provinces in Indonesia DJAJADILAGA, DJAJADILAGA
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 31, No. 4, October 2007
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.496 KB)

Abstract

Tujuan: Mencari fakta dari studi fisibilitas/studi kelayakan penggunaan kontrasepsi (pelayanan KB) sebagai entri poin aplikasi pelayanan kesehatan reproduksi terpadu di Indonesia. Bahan dan cara kerja: Data dikumpulkan dari tahun 2001 hingga 2004 di tiga kota dengan tiga propinsi yang berbeda, menggabungkan observasi terhadap peningkatan kemampuan konseling dan pemeriksaan klinis secara keseluruhan dengan menggunakan dokumentasi berbasis komunitas dari kegiatan outreach (outreach education) terhadap komunitas target. Target komunitas pertama yaitu para pekerja pabrik muda dan tidak menikah di Batam, Provinsi Riau; kedua, perempuan perajin gerabah (pembuat barang-barang tembikar) di Pulau Lombok; dan ketiga ibu rumah tangga yang tinggal di pemukiman kumuh di antara dua wilayah pelacuran di Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Di setiap tempat, studi dilakukan bersama organisasi mitra yang berbeda, seperti: Yayasan Mitra Kesehatan dan Kemanusiaan (Batam), Pusat Informasi Kesehatan dan Perlindungan Keluarga (Lombok) dan Yayasan Hotline Surabaya. Hasil: Di Batam, outreach mencakup 3.740 orang dalam 237 kunjungan klinis. Di Lombok menjangkau 1.502 perempuan dalam 183 pelayanan klinis. Surabaya, Jawa Timur, jumlah perempuan yang terjangkau sebanyak 1.313 orang dalam 869 pemeriksaan kesehatan reproduksi. Kesimpulan: Kontrasepsi sangat efektif sebagai entri poin sebelum menyentuh isu sensitif seperti tentang Infeksi Saluran Reproduksi/Infeksi Menular Seksual (ISR/IMS), masalah psikologi remaja (pacaran, perilaku berisiko, dan kehamilan yang tidak direncanakan). Hasil studi memperlihatkan bahwa faktor eksternal berpengaruh pada fisibilitas/ kelayakan pilot project di masa mendatang. Penjelasan tentang faktorfaktor eksternal tersebut akan dijelaskan pada paper lengkap. [Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-4: 236-42] Kata kunci: kontrasepsi, kesehatan reproduksi
Deteksi Dini Kanker Serviks dengan Metode Inspeksi Visual Asam Asetat di Depok SIRAIT, A. M.; NURANNA, L.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 31, No. 4, October 2007
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.463 KB)

Abstract

Tujuan: Untuk mendapatkan lesi prakanker maupun penderita kanker serviks dalam stadium dini dengan metode inspeksi visual asam asetat. Rancangan/rumusan data: Studi potong lintang. Tempat: Puskesmas Sukmajaya, Abadijaya, Bhakti Jaya, Villa Pertiwi dan Kalimulia, Kotib Depok, Jawa Barat. Subjek, pasien, peserta: Sampel adalah ibu yang berusia 25 - 64 tahun dan berdomisili di Kecamatan Sukmajaya, Depok. Penelitian dilakukan pada September - November 2005. Yang melakukan pemeriksaan IVA adalah bidan dari puskesmas masing-masing yang sudah dilatih sebelumnya. Responden yang IVA positif dilanjutkan dengan pemeriksaan kolposkopi dan atau leep. Semua responden mendapat penyuluhan dan leaflet tentang kanker serviks. Hasil: Dari 3331 responden yang diperiksa IVA diperoleh 2956 negatif, 369 positif (bercak putih) dan 6 positif (suspek kanker). Pada minggu berikutnya semua responden yang IVA positif (375 orang) diundang pada puskesmasnya masing-masing untuk diperiksa ulang oleh dokter ginekolog dari RSCM, namun yang datang hanya 188 orang (50%). Dari 188 tersebut ditemukan IVA positif hanya 33 orang (17,5%). Pada minggu berikutnya ke 33 orang tersebut diundang untuk pemeriksaan lanjutan (kolposkopi dan/atau leep), namun yang memenuhi undangan hanya 21 orang (63,6%). Pada akhirnya ditemukan 1 kasus kanker serviks stadium II B, 1 kasus karsinoma in-situ dan 3 kasus displasia ringan. Kesimpulan: Untuk menghindari hasil positif palsu sebaiknya pelatihan bidan dilakukan lebih intensif dan untuk menghindari responden lost to follow up sebaiknya pemeriksaan IVA dan pemeriksaan lanjutan dilakukan pada hari yang sama. [Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-4: 212-7] Kata kunci: deteksi dini, prakanker serviks, kanker serviks, IVA
Perubahan Densitas Mineral Tulang Lumbal Perempuan Pengguna Kontrasepsi Suntik Depo Medroksi Progesteron Asetat (DMPA) selama 6 Bulan di Puskesmas Tebet, Jakarta Selatan KASMARA, E.; SUMAPRAJA, K.; SANTOSO, S. S.I.; WIDYAHENING, I. S.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 31, No. 4, October 2007
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.818 KB)

Abstract

Tujuan: Untuk mengetahui densitas mineral tulang (DMT) lumbal perempuan Indonesia berusia 20 - 35 tahun sebelum dan setelah pemberian kontrasepsi suntik DMPA selama 6 bulan, dan mengetahui hubungan antara faktor asupan kalsium dan aktivitas fisik perempuanperempuan tersebut dengan DMT lumbal. Tempat: Puskeskmas Kecamatan Tebet, Jakarta Timur, Departemen Obstetri dan Ginekologi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo dan Klinik Imunoendokrinologi Yasmin, Jakarta Pusat. Rancangan/rumusan data: Penelitian ini bersifat eksperimental self-controlled dengan rancangan pra-intervensi dan pasca-intervensi pada kelompok subyek. Bahan dan cara kerja: Sembilan-belas responden perempuan paritas satu berusia antara 20-35 tahun menjalani pemeriksaan densitas mineral tulang (DMT) lumbal 1-4 dengan menggunakan densitometri DEXA (dual energy x-ray absorptiometry). Para responden adalah akseptor KB suntik depo medroksi progesteron asetat (DMPA) pertama kali, dengan jadual pemberian sebesar 150 mg DMPA intramuskular tiap tiga bulan. Selain itu, didapatkan data mengenai berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh (IMT), asupan kalsium per hari dan aktivitas fisik responden. Kemudian dilakukan pemeriksaan DMT lumbal 1-4 yang kedua setelah 6 bulan penggunaan kontrasepsi DMPA. Hasil: Didapatkan rata-rata usia subyek (n = 11) adalah 25,0 ± 4,2 tahun (rentang 20 - 33 tahun). Rata-rata berat badan, tinggi badan dan indeks massa tubuh berturut-turut adalah sebesar 49,7 ± 6,2 kg (41 - 60 kg); 151,8 ± 6,2 cm (142 - 163 cm) dan 21,61 ± 2,74 kg/m2 (17,69 - 26,67 kg/m2). Densitas mineral tulang (DMT) L1-L4 awal menunjukkan rata-rata 0,958 ± 0,023 g/cm2 (0,876 - 1,080 g/cm2), rata-rata nilai T awal sebesar -1,26 ± 0,61 (-1,85 sampai dengan -0,25). Nilai rata-rata asupan kalsium per hari sebesar 329,01 ± 228,22 mg (78,25 - 784,55 mg). Rata-rata DMT L1-L4 akhir adalah sebesar 0,969 ± 0,078 g/cm2 (0,844 - 1,084 g/cm2), rata-rata nilai T akhir sebesar -1,17 ± 0,65 (-2,21 sampai dengan -0,22). Rata-rata pengeluaran energi total (Total Energy Expenditure [TEE]), laju metabolik basal (Basal Metabolic Rate [BMR]) dan faktor aktivitas (Activity Factor [AF]) berturut-turut adalah sebesar 2157,51 ± 342,55 kkal (1679,58 - 2753,49 kkal); 1288,05 ± 69,64 kkal (1189,20 - 1411,30 kkal) dan 1,68 ± 0,24 (1,4 - 2,1). Rata-rata persentase perubahan DMT adalah sebesar 1,13 ± 2,86% (-3,76 sampai dengan 6,74%). Terdapat korelasi yang sangat lemah dan tidak bermakna statistik antara faktor aktivitas dengan persentase perubahan DMT (r = 0,066, p = 0,846), antara IMT dengan persentase perubahan DMT (r = 0,098, p = 0,774). Sedangkan korelasi antara asupan kalsium per hari dengan persentase perubahan DMT adalah lemah (r = 0,457) dengan tingkat kemaknaan 0,158 (tidak bermakna). Analisis multivariat menunjukkan tidak ada perubahan yang bermakna secara statistik antara persentase perubahan DMT dengan IMT, asupan kalsium dan faktor aktivitas (p = 0,515). Kesimpulan: Pada sebelas responden yang diteliti, tidak terdapat perubahan bermakna DMT lumbal 1-4 setelah pemberian DMPA selama 6 bulan pertama dan tidak terdapat korelasi yang bermakna antara penggunaan DMPA selama 6 bulan pertama dengan indeks massa tubuh, asupan kalsium dan aktivitas fisik. [Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-4: 243-50] Kata kunci: densitas mineral tulang (DMT), depo medroksi progesteron asetat (DMPA), indeks massa tubuh (IMT), asupan kalsium, faktor aktivitas.
Deteksi human papilloma virus (HPV) tipe 16 dan tipe 18 dengan teknik polymerase chain reaction (PCR) dan hibridisasi dot blot dengan pelacak DNA berlabel biotin ROSILAWATI, M. L.; BELA, B.; INDARTI, J.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 31, No. 4, October 2007
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.024 KB)

Abstract

Tujuan: Menerapkan teknik PCR-hibridisasi dot blot dengan pelacak DNA berlabel biotin untuk mendeteksi HPV tipe 16 dan 18 pada spesimen swab dan biopsi jaringan serviks. Rancangan/rumusan data: Penelitian ini bersifat deskriptif. Bahan dan cara kerja: Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah spesimen swab dan biopsi serviks berjumlah 124 spesimen. Ekstraksi DNA sampel dilakukan dengan metode Boom dan QIAAmp DNA Mini Kit (Qiagen). Amplifikasi DNA dengan teknik PCR menggunakan primer PGMY11 dan PGMY09, dilaksanakan untuk mendeteksi infeksi HPV. Tipe HPV-16 dan tipe 18 dideteksi dengan teknik hibridisasi dot blot dari produk PCR dengan pelacak DNA berlabel biotin. Hasil: Dari 124 spesimen, 18 spesimen (15%), menunjukkan hasil PCR positif HPV dan dari hasil positif PCR tersebut, 7 spesimen menunjukkan hasil hibridisasi dot blot negatif sehingga dapat dinyatakan spesimen tersebut terinfeksi dengan tipe HPV risiko tinggi lainnya atau risiko rendah. Hasil positif hibridisasi dot blot terlihat pada 24 spesimen (19%) yaitu 20 spesimen (16%) terinfeksi HPV-16 dan 4 spesimen (3%) terinfeksi HPV-18. Dari 20 spesimen positif HPV-16, 9 spesimen memperlihatkan hasil PCR negatif sedangkan dari 4 spesimen positif HPV- 18, 1 spesimen menunjukkan hasil negatif PCR. Hal ini membuktikan teknik PCR-hibridisasi dot blot lebih sensitif dibanding PCR-elektroforesis gel agarosa. Beberapa spesimen swab maupun biopsi pasien prakanker atau kanker memperlihatkan hasil negatif HPV-16 maupun 18. Kemungkinan faktor penyebabnya adalah selain adanya infeksi tipe HPV risiko tinggi dan virus lain juga terintegrasinya DNA HPV ke dalam DNA genom host. Berdasarkan kelompok umur, pasien dengan umur di atas 30 tahun lebih banyak terinfeksi HPV-16 maupun HPV-18. Kesimpulan: HPV dari spesimen alat genitalia dapat dideteksi dengan teknik PCR menggunakan primer PGMY11 dan PGMY09. Deteksi tipe HPV terutama HPV-16 dan HPV-18 dapat dilakukan dengan teknik PCR yang dilanjutkan dengan hibridisasi dot blot dengan pelacak DNA berlabel biotin yang merupakan metode cepat, sensitif , spesifik dan sangat efisien digunakan pada spesimen dengan jumlah banyak. Teknik ini dapat diterapkan sebagai metode deteksi dini kanker serviks secara molekuler. [Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-4: 218-25] Kata kunci: PCR, hibridisasi dot blot, HPV-16, HPV-18
INDEX vol 31 INAJOG, INAJOG
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 31, No. 4, October 2007
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.167 KB)

Abstract

N/A
Perawatan Antenatal dan Peranan Asam Folat dalam Upaya Meningkatkan Kesejahteraan Ibu Hamil dan Janin HANAFIAH, T. M.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 31, No. 4, October 2007
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.068 KB)

Abstract

N/A
Effect of Anti Zona Antibody on In Vitro Growth and In Vitro Maturation of Intact Follicles WIWEKO, B.; NATADISASTRA, M.; HORTENCIA, G. C.; HASEGAWA, A.; KOYAMA, K.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 31, No. 4, October 2007
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.099 KB)

Abstract

Tujuan: Mengetahui pengaruh antibodi anti zona pellucida terhadap perkembangan (in vitro growth = IVG) dan pematangan (in vitro maturation = IVM) folikel. Tempat: Laboratorium biologi dan reproduksi Fakultas Kedokteran Hyogo, Nishinomiya, Jepang. Rancangan/rumusan data: Studi eksperimen pada hewan coba. Bahan dan cara kerja: Dilakukan pengambilan 80 folikel intak secara mekanik dari ovarium mencit (C57BL/6 x DBA2-F1 mice) usia 16 hari kemudian dilakukan inkubasi pada medium yang mengandung antibodi anti zona pellucida selama 8 hari. Antibodi ini diambil dari kelinci yang disuntikkan komponen ZPA dan ZPC mencit. Serum kelinci normal digunakan sebagai kontrol. Folikel dikelompokkan menjadi 4 kelompok dengan masing-masing terdiri dari 20 folikel. Kelompok 1 sebagai kontrol, kelompok 2 diinkubasi dengan serum kelinci normal, kelompok 3 diinkubasi dengan anti ZPA dan kelompok 4 diinkubasi dengan anti ZPC. Setelah 8 hari seluruh folikel dipindahkan ke medium IVM untuk dinilai perubahannya menjadi folikel antral. Hasil: Secara morfologis tidak dijumpai perbedaan bermakna pada perkembangan folikel antara kelompok kontrol dan perlakuan. Tetapi antibodi anti zona pellucida mempengaruhi perkembangan folikel antral pada kelompok perlakuan. Secara statistik dijumpai perbedaan bermakna dalam jumlah folikel antral antar kelompok 3 dan 4 dengan kelompok 1 dan 2. Pada kelompok 3 (anti ZPA) 9 dari 20 folikel (45%) berkembang menjadi folikel antral sedangkan pada kelompok 4 (anti ZPC) 11 dari 20 folikel (55%) berkembang menjadi folikel antral, dibandingkan dengan kelompok 1 dan 2, masing-masing 100% dan 85% folikel pre antral berkembang menjadi folikel antral. Kemudian seluruh folikel antral ditransfer ke medium IVM dan diinkubasi selama 16-17 jam. Pada kelompok 1, 100% folikel mengalami mucifikasi, sedangkan pada kelompok 2, 3 dan 4 masing-masing sebesar 75%, 55% dan 15% folikel mengalami mucifikasi. Setelah dilakukan denudasi germinal vesicles (GV) dijumpai sebanyak 5% pada kelompok 1,5% pada kelompok 2, dan 10% pada kelompok 4. Sedangkan pada kelompok 3 tidak dijumpai GV. Metafase 1 dijumpai sebanyak 40% pada kelompok 1,35% pada kelompok 2,50% pada kelompok 3 and 50% pada kelompok 4. Sedangkan metafase 2 dijumpai sebanyak 55% pada kelompok 1,60% pada kelompok 2, dan 40% pada kelompok 3. Tidak dijumpai metafase 2 pada kelompok 4. Beberapa oosit yang berdegenerasi dijumpai pada kelompok 2 (5%), kelompok 3 (5%) dan kelompok 4 (30%). Terdapat perbedaan bermakna dalam hal pematangan folikel (IVM) antara kelompok kontrol dan perlakuan. Kesimpulan: Antibodi anti zona pellucida mempengaruhi proses perkembangan dan pematangan folikel in vitro. Efeknya pada fertilisasi masih harus diteliti lebih lanjut. [Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-4: 226-30] Kata kunci: folikel intak, perkembangan folikel (IVG), pematangan folikel (IVM), antibodi anti zona pellucida, folikel antral, mucifikasi, germinal vesicles, metafase-1, metafase-2
Perawatan Antenatal dan Peranan Asam Folat dalam Upaya Meningkatkan Kesejahteraan Ibu Hamil dan Janin T. M. HANAFIAH
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 31, No. 4, October 2007
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.068 KB)

Abstract

N/A

Page 1 of 2 | Total Record : 19


Filter by Year

2007 2007


Filter By Issues
All Issue Volume 13. No. 3 July 2025 Volume 13. No. 2 April 2025 Volume 13. No. 1 January 2025 Volume 12 No. 4 October 2024 Volume 12 No. 3 Jully 2024 Volume 12 No. 2 April 2024 Volume 12 No. 1 January 2024 Volume 11 No. 4 October 2023 Volume 11 No. 3 July 2023 Volume 11 No. 2 April 2023 Volume 11 No. 1 January 2023 Volume 10 No. 4 Oktober 2022 Volume 10 No. 3 July 2022 Volume 10 No. 2 April 2022 Volume 10 No. 1 January 2022 Volume 9 No. 4 October 2021 Volume 9 No. 3 July 2021 Volume 9 No. 2 April 2021 Volume 9 No. 1 January 2021 Volume 8 No. 4 October 2020 Volume 8 No. 3 July 2020 Volume 8 No. 2 April 2020 Volume 8 No. 1 January 2020 Volume 7 No. 4 October 2019 Volume 7 No. 3 July 2019 Volume 7 No. 2 April 2019 Volume 7 No. 2 April 2019 Volume 7, No. 1 January 2019 Volume 7, No. 1 January 2019 Volume 6 No. 4 October 2018 Volume 6 No. 4 October 2018 Volume 6 No. 3 July 2018 Volume 6 No. 3 July 2018 Volume 6. No. 2 April 2018 Volume 6. No. 2 April 2018 Volume 6. No. 1. January 2018 Volume 6. No. 1. January 2018 Volume. 5, No. 4, October 2017 Volume. 5, No. 4, October 2017 Volume. 5, No. 3, July 2017 Volume. 5, No. 3, July 2017 Volume. 5, No. 2, April 2017 Volume. 5, No. 2, April 2017 Volume. 5, No. 1, January 2017 Volume. 5, No. 1, January 2017 Volume 4, No. 4, October 2016 Volume 4, No. 4, October 2016 Volume. 4, No.3, July 2016 Volume. 4, No.3, July 2016 Volume. 4, No. 2, April 2016 Volume. 4, No. 2, April 2016 Volume. 4, No. 1, January 2016 Volume. 4, No. 1, January 2016 Volume. 3, No. 4, October 2015 Volume. 3, No. 4, October 2015 Volume. 3, No. 3, July 2015 Volume. 3, No. 3, July 2015 Volume. 3, no. 2, April 2015 Volume. 3, no. 2, April 2015 Volume. 3, No. 1, January 2015 Volume. 3, No. 1, January 2015 Volume. 2, No. 4, October 2014 Volume. 2, No. 4, October 2014 Volume. 2, No. 3, July 2014 Volume. 2, No. 3, July 2014 Volume. 2, No. 2, April 2014 Volume. 2, No. 2, April 2014 Volume. 2, No. 1, January 2014 Volume. 2, No. 1, January 2014 Volume. 37, No. 2, April 2013 Volume. 37, No. 2, April 2013 Volume 37, No. 1, January 2013 Volume 37, No. 1, January 2013 Volume. 37, No. 1, January 2013 Volume. 1, No. 4, October 2013 Volume. 1, No. 4, October 2013 Volume. 1, No. 3, July 2013 Volume. 1, No. 3, July 2013 Volume. 36, No. 4, October 2012 Volume. 36, No. 4, October 2012 Volume. 36, No. 3, July 2012 Volume. 36, No. 3, July 2012 Volume. 36, No. 2, April 2012 Volume. 36, No. 2, April 2012 Volume. 36, No. 1, January 2012 Volume. 36, No. 1, January 2012 Volume. 35, No. 4, October 2011 Volume. 35, No. 4, October 2011 Volume. 35, No. 3, July 2011 Volume. 35, No. 3, July 2011 Volume. 35, No. 2, April 2011 Volume. 35, No. 2, April 2011 Volume. 35, No. 1, January 2011 Volume. 35, No. 1, January 2011 Volume. 34, No. 4, October 2010 Volume. 34, No. 4, October 2010 Volume. 34, No. 3, July 2010 Volume. 34, No. 3, July 2010 Volume. 34. No. 2, April 2010 Volume. 34. No. 2, April 2010 Volume. 34, No. 1, January 2010 Volume. 34, No. 1, January 2010 Volume. 33. No. 4, October 2009 Volume. 33. No. 4, October 2009 Volume. 33, No. 3, July 2009 Volume. 33, No. 3, July 2009 Volume. 33, No. 2, April 2009 Volume. 33, No. 2, April 2009 Volume. 33, No. 1, January 2009 Volume. 33, No. 1, January 2009 Volume. 32, No. 4, October 2008 Volume. 32, No. 4, October 2008 Volume. 32, No. 3, July 2008 Volume. 32, No. 3, July 2008 Volume. 32, No. 2, April 2008 Volume. 32, No. 2, April 2008 Volume. 32, No. 1, January 2008 Volume. 32, No. 1, January 2008 Volume. 31, No. 4, October 2007 Volume. 31, No. 4, October 2007 Volume. 31, No. 3, July 2007 Volume. 31, No. 3, July 2007 Volume. 31, No. 2, April 2007 Volume. 31, No. 2, April 2007 Volume. 31, No. 1, January 2007 Volume. 31, No. 1, January 2007 Volume. 30, No. 4, October 2006 Volume. 30, No. 4, October 2006 Volume. 30, No. 3, July 2006 Volume. 30, No. 3, July 2006 Volume. 30, No. 2, April 2006 Volume. 30, No. 2, April 2006 Volume. 30, No. 1, January 2006 Volume. 30, No. 1, January 2006 More Issue