cover
Contact Name
eko subaktiansyah
Contact Email
eko.subaktiansyah@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
support@inajog.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology (Majalah Obstetri dan Ginekologi Indonesia)
ISSN : 23386401     EISSN : 23387335     DOI : -
Core Subject : Health,
The Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology is an official publication of the Indonesian Society of Obstetrics and Gynekology. INAJOG is published quarterly.
Arjuna Subject : -
Articles 1,731 Documents
Prevalensi infeksi klamidia pada jaringan serviks dan jaringan tuba dan sebarannya menurut faktor demografi dan faktor risiko lain di kalangan pasien kehamilan tuba terganggu (Studi Epidemiologi di RSCM) M. EMERALDI
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 2, April 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (44.73 KB)

Abstract

Tujuan: Penelitian ini memiliki tujuan utama untuk mengetahui prevalensi infeksi klamidia di jaringan serviks dan jaringan tuba dengan menggunakan metode pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR), dan bersamaan dengan itu dicoba untuk diketahui sebarannya menurut faktor demografi dan faktor risiko di kalangan pasien dengan kehamilan tuba terganggu. Rancangan/rumusan data: Studi potong lintang (cross sectional). Bahan dan cara kerja: Penelitian ini dilakukan dari bulan Maret 2008 sampai Agustus 2008 terhadap 25 subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan menjalani operasi salpingektomi pengangkatan tuba) di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo. Semua subjek penelitian mengisi formulir persetujuan, melakukan pengisian kuesioner berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan ginekologi, kemudian dilakukan pengambilan swab serviks dan sampel jaringan tuba untuk dilakukan deteksi infeksi klamidia dengan menggunakan metode PCR. Hasil dan kesimpulan: Didapatkan prevalensi infeksi klamidia trakomatis di jaringan serviks dan jaringan tuba pada pasien dengan kehamilan tuba terganggu adalah 12% (3/25) dan 4% (1/25). Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik saat datang, didapatkan kecenderungan peningkatan risiko infeksi klamidia di serviks pada usia di atas 31 tahun, status pendidikan SD-SLP, usia di atas 21 tahun saat melakukan hubungan seksual, riwayat infertilitas, riwayat keputihan, riwayat infeksi kemih, dan servisitis walaupun secara statistik tidak bermakna. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-2: 80-6] Kata kunci: kehamilan tuba terganggu, infeksi klamidia trakomatis, PCR
Perbandingan kadar regulatory T-cells antara kehamilan normal dan abortus (cetak ralat) I. SUHEIMI
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 2, April 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.913 KB)

Abstract

Tujuan: Untuk mengetahui peran Treg dalam kelangsungan kehamilan dengan mengukur kadar Treg dalam kehamilan normal di bawah 20 minggu, mengukur kadar Treg dalam kejadian abortus dan membandingkan kadar Treg dalam kehamilan normal di bawah 20 minggu dan dalam kejadian abortus. Tempat: RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, baik di IGD lantai 3 maupun poliklinik Obstetri dan Ginekologi. Bahan dan cara kerja: Penelitian bersifat penelitian observasional tanpa intervensi berupa studi comparative cross-sectional, dilakukan pada kelompok perempuan hamil normal dan kelompok perempuan yang mengalami abortus yang datang ke tempat penelitian. Pengumpulan data dilakukan sejak subjek penelitian datang di IGD lantai 3 atau poliklinik Obstetri dan Ginekologi RSCM. Jika kasus sesuai dengan kriteria penerimaan dan penolakan maka dilakukan informed consent untuk mendapat persetujuan penelitian. Diambil darah vena pasien sebanyak 50 mikroliter dan dimasukkan ke dalam alat flowcytometry dengan reagen spesifik untuk pemeriksaan CD45 (Per-CP- 347464), CD4 (SIPC-340133) dan CD25 (PE-341009) untuk kemudian dihitung jumlah Treg dengan sistem lyse no washed menggunakan software cellquest pro. Output dari alat flowcytometry tersebut kemudian dicatat. Pasien dengan kehamilan normal (kelompok kontrol) di follow-up sampai kehamilannya mencapai 20 minggu untuk memastikan tidak terjadinya abortus sampai batas waktu tersebut. Jika pasien dengan kehamilan normal pada saat pemeriksaan ternyata mengalami abortus di bawah 20 minggu, maka pasien tersebut akan dimasukkan ke dalam kelompok dengan kejadian abortus (kelompok kasus). Hasil: Pada uji statistik perbandingan rerata persentase sel CD45 didapatkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik antar kedua kelompok, di mana rerata kelompok kasus adalah 10,96 ± 6,57% sel dibandingkan dengan rerata 9,60 ± 5,30% sel pada kelompok kontrol dengan p = 0,610. Pada perbandingan kadar Treg dari hasil uji statistik didapatkan Median pada kelompok kasus (2,45 sel/μl) dibandingkan dengan Median kelompok kontrol (2,53 sel/μl) tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik dengan p = 0,946 (uji korelasi Mann-Whitney). Kesimpulan: Penelitian ini mendapatkan bahwa tidak terdapat hubungan antara kadar Regulatory T-cells (Treg) dengan kejadian abortus. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-2: 93-100] Kata kunci: regulatory T-cells, Treg, abortus
Gambaran densitas mineral tulang vertebra lumbal akseptor KB suntik DMPA A.M. TAHIR
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 2, April 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.687 KB)

Abstract

Tujuan: Dilakukan penelitian untuk menilai dampak pemakaian kontrasepsi suntik DMPA pada densitas tulang Vertebra Lumbal (VL. 1-4) pada akseptor jangka pendek pada saat sebelum suntikan ke 3-3 (minggu ke 24 atau 6 bulan) dan sebelum suntikan kelima (minggu ke 48 atau 1 tahun) dibandingkan dengan perempuan bukan akseptor sebagai kontrol dan akseptor jangka panjang (≥ 5 tahun), dengan alat Dual Energy X-Ray Absorptiometry (DEXA). Tempat: Dilakukan di Makassar antara Januari 2006 - Maret 2007 pada 33 orang akseptor KB suntik DMPA jangka pendek (1 tahun), 31 orang akseptor suntik DMPA jangka panjang (≥ 5 tahun), dan 33 perempuan bukan akseptor KB sebagai kontrol. Rancangan/rumusan data: Potong Lintang. Hasil: Karakteristik sampel berdasarkan umur rerata: 22,7 ± 3,1 tahun (akseptor 1 tahun) dan 27,2 ± 4,8 tahun (kontrol), homogen secara statistik. Sebelum perlakuan, tidak ditemukan perbedaan yang bermakna antara DMT VL. 1-4 kedua kelompok (p > 0,05). Setelah perlakuan, DMT VL. 1-4 pada akseptor 1 tahun menjadi lebih rendah dibandingkan kontrol pada semua level vertebra lumbal, dengan uji Mann Whitney menunjukkan perbedaan yang bermakna (p < 0,05). Besarnya perubahan DMT antara akseptor dan kontrol menunjukkan perbedaan yang bermakna, di mana perubahan pada akseptor (p < 0,05) bahkan pada kontrol tidak ada perubahan (0,0). Angka kejadian pada osteopenia lebih tinggi pada akseptor daripada akseptor 1 tahun dan akseptor 1 tahun lebih tinggi daripada kontrol pada pada semua level VL. Kesimpulan: Kejadian osteopenia berhubungan dengan lama pemakaian KB Suntik DMPA. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-2: 101-7] Kata kunci: DMT vertebra lumbal, DMPA
Analisis polimorfisme gen vascular endothelial growth factor (VEGF) pada endometriosis N. ABDULLAH
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 2, April 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (515.543 KB)

Abstract

Tujuan: Melihat hubungan antara polimorfisme gen VEGF dengan kejadian endometriosis pada pasien yang dilakukan operasi laparoskopi. Tempat: RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar. Bahan dan cara kerja: Polimorfisme nukleotida tunggal pada gen VEGF -460 pada daerah promoter dan +405 pada daerah 5’ -untranslated diuji hubungan pada penelitian potong lintang terhadap 50 perempuan dengan endometriosis dan 28 perempuan tanpa endometriosis. Setelah ekstraksi genom DNA, dilakukan pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) dan restriction fragment length polymorphism (RFLP) untuk analisis genotip polimorfisme VEGF. Penelitian ini dilakukan di Makassar-Indonesia sejak Januari 2007 sampai dengan Oktober 2007. Hasil: Distribusi genotip polimorfisme -460T>C pada perempuan dengan endometriosis berbeda bermakna dibandingkan dengan perempuan tanpa endometriosis (pG pada perempuan dengan endometriosis berbeda tidak bermakna dibandingkan dengan perempuan tanpa endometriosis (p>0,05). Kesimpulan: Data ini menunjukkan bahwa polimorfisme nukleotida tunggal pada gen VEGF -460T>C pada daerah promoter gen VEGF bisa berhubungan dengan kejadian endometriosis pada populasi di Makassar- Indonesia. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-2: 108-17] Kata kunci: endometriosis, polimorfisme, VEGF
Kadar progesteron hari hCG sebagai prediktor reseptivitas endometrium B. WIWEKO
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 2, April 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan: Menilai korelasi antara kadar progesteron pada hari penyuntikan hCG dengan reseptivitas endometrium pada hari transfer embrio (TE). Bahan dan cara kerja: Penelitian ini merupakan uji diagnostik dengan desain cross sectional. Dilakukan pengukuran kadar progesteron hari hCG pada 55 pasien yang mengikuti program FIV di Klinik Yasmin RSCM perio-de Januari - November 2008. Nilai referensi reseptivitas endometrium adalah kombinasi antara nilai indeks pulsasi arteri uterina < 3 dan morfologi endometrium klasifikasi C (Gonan dan Casper). Analisis multivariat dilakukan terhadap progesteron sebagai variabel utama dan usia, kadar estradiol, LH serta reseptivitas endometrium hari hCG sebagai variabel perancu. Hasil: Kejadian luteinisasi prematur pada penelitian ini sebesar 45,5% dengan klasifikasi endometrium reseptif sebesar 33,3% (dibandingkan dengan 35,5% pada kelompok non luteinisasi prematur). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kadar progesteron hari hCG dengan reseptivitas endometrium hari TE (p=0,446). Reseptivitas endometrium hari hCG memiliki nilai area under the curve (AUC) terbesar (0,82; p = 0,001) untuk meramalkan reseptivitas endometrium hari TE dibandingkan dengan usia (AUC 0.67; p = 0,038) dan kadar progesteron (AUC 0,56; p = 0,446). Analisis multivariat mendapatkan variabel reseptivitas endometrium hari hCG dan interaksi antara variabel usia de-ngan kadar progesteron hari hCG sebagai prediktor reseptivitas endo-metrium hari TE (nilai AUC 0,82). Terdapat korelasi positif antara AUC kadar estradiol hari hCG terhadap kejadian luteinisasi prematur (AUC = 0,74). Kesimpulan: Kadar progesteron hari hCG tidak dapat digunakan sebagai prediktor tunggal untuk meramalkan reseptivitas endometrium hari TE. Reseptivitas endometrium hari hCG dan interaksi antara usia dengan kadar progesteron hari hCG merupakan model prediktor yang baik terhadap reseptivitas endometrium hari TE. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-2: 118-23] Kata kunci: kadar progesteron hari hCG, reseptivitas endometrium hari hCG, reseptivitas endometrium hari TE, usia
Profil flora vagina dan tingkat keasaman vagina perempuan Indonesia D. OCVIYANTI
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 2, April 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan: Mendapatkan data profil flora vagina dan tingkat keasaman vagina pada perempuan Indonesia. Tempat: Puskesmas di Kabupaten Karawang, Balai Kesehatan Batalyon 201 Cijantung, dan Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Bahan dan cara kerja: Penelitian ini merupakan studi deskriptif. Populasi adalah semua perempuan Indonesia berusia 15-50 tahun. Populasi terjangkau adalah semua perempuan Indonesia berusia 15-50 tahun yang datang memeriksakan diri ke beberapa Puskesmas di Kabupaten Karawang, Balai Kesehatan Batalyon 201 Cijantung dan Laboratorium Mikrobiologi FKUI pada periode Mei 2008 - Februari 2009. Dilakukan wawancara dan pengisian kuesioner untuk mendapatkan data demografik dan karakteristik medik, pemeriksaan tingkat keasaman (pH) vagina dengan tes celup (Merck@), pemeriksaan Gram untuk mencari morfotipe flora vagina, serta deteksi bakterial vaginosis (BV) menggunakan tes Whiff dan kriteria Nugent. Hasil: Jumlah subjek penelitian adalah 492 orang, rata-rata umur 30,9 tahun dengan jumlah terbanyak pada kelompok umur 26 - 40 tahun (59,1%). Kelompok menikah adalah yang terbanyak (76,4%). Sebagian besar subjek adalah ibu rumah tangga (69,1%). Sebagian besar subjek berpendidikan setingkat SMU (46,3%). Rata-rata pH vagina yang didapatkan pada penelitian ini adalah 4,8. Didapatkan subjek dengan pH ≤ 5 sebesar 65,4%, sisanya sebesar 36,6% mempunyai pH > 5. Pada tiap kelompok umur lebih banyak yang mempunyai pH ≤ 5 dibandingkan pH > 5, dan tampak jelas perbedaannya pada kelompok umur 15-19 tahun di mana 89,1% mempunyai pH ≤ 5 dan 10,9% mempunyai pH > 5 (ratarata 4,6; median 4,5). Terdapat perkecualian untuk kelompok umur 41- 45 tahun di mana subjek yang mempunyai pH ≤ 5 lebih sedikit (46,7%) dibandingkan subjek yang mempunyai pH > 5 (53,3%). Dari pemeriksaan Gram didapatkan prevalensi Lactobacillus sp sebesar 63%, Gardnerella sp. sebesar 51,4%, Coccus gram positif sebesar 48,7%, dan Candida sp. sebesar 4,6%. Terdapat perbedaan yang cukup besar pada prevalensi BV berdasarkan pemeriksaan dengan tes Whiff dan skor Nugent, masing-masing sebesar 5,7% dan 30,7%. Kesimpulan: Rata-rata pH vagina yang didapatkan pada penelitian ini pada kelompok umur < 20 (15-19) tahun, 20-40 tahun dan 41-50 tahun berturut-turut adalah 4,6; 5,3 dan 5,6 dengan rata-rata keseluruhan 4,8. Prevalensi Lactobacillus sp, Gardnerella Sp, Coccus gram positif pada penelitian ini sebesar 63%, 51,4%, 48,7%. Prevalensi kandidiasis adalah 4,7%. Prevalensi bakterial vaginosis (BV) dengan kriteria Nugent adalah 30,7%. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-2: 124-31] Kata kunci: flora vagina, tingkat keasaman (pH) vagina, bakterial vaginosis (BV)
Manajemen risiko dalam pelayanan pasien preeklampsia berat (PEB)/ eklampsia di Instalasi Gawat Darurat RSUPNCM T.W. KUSUMA
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 3, July 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (48.93 KB)

Abstract

Tujuan: Mendapatkan gambaran mengenai pelaksanaan manajemen risiko dalam pelayanan pasien PEB/eklampsia di IGD lantai 3 RSCM. Bahan dan cara kerja: Penelitian ini dilakukan di IGD lantai 3 RSCM menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan wawancara terhadap 15 orang pasien yang datang dan dirawat karena PEB/Eklampsia dan pihak manajemen yang terdiri dari Direktur Pelayanan Medis RSCM, Dokter konsultan IGD lantai 3 RSCM, dan Kepala Ruangan IGD RSCM. Hasil: Sebagai tolok ukur keluaran, angka kematian ibu menurun sebesar 0,14%; lama rawat menjadi 1 hari di IGD; dan kepuasan pasien sebesar 53,3%. Dalam hal identifikasi risiko diketahui bahwa belum ada SOP yang khusus dibuat RSCM untuk penanganan PEB/Eklampsia dan walaupun sudah ada prosedur pelaporan dan pencatatan insiden klinis, namun belum ada formulir pelaporan selain rekam medis dan belum terstruktur dengan baik. Kinerja perawat masih dianggap kurang dan belum ada sistem manajemen risiko formal yang diterapkan. Analisa risiko sudah berjalan dengan baik. Terdapat upaya penurunan risiko seperti pelatihan tenaga medis, pemenuhan fasilitas, supervisi dan forum komunikasi. Namun sistem prioritas masih perlu dikembangkan. Pendanaan risiko dialokasikan untuk perlindungan terhadap tenaga medis jika terjadi tuntutan di mana kasus diproses sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku dan untuk pemenuhan fasilitas terutama bagi pasien tidak mampu. Sudah terdapat upaya peninjauan sebagai evaluasi risiko. Kesimpulan: Langkah-langkah manajemen risiko dalam penanganan pasien PEB/Eklampsia di IGD lantai 3 RSUPNCM sudah membaik walaupun belum dilaksanakan secara optimal, terlihat dari pencapaian tolok ukur keluaran dari angka kematian ibu, lama rawat, dan kepuasan pasien sampai bulan Agustus 2008 memberikan hasil yang baik dan menurunkan terjadinya risiko yang tidak diinginkan. Faktor-faktor yang mendukung baiknya keluaran adalah tenaga kerja yang terlatih terutama dokter, fasilitas pelayanan yang lengkap, serta pengawasan yang baik dan terstruktur. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-3: 135-42] Kata kunci: PEB, eklampsia, manajemen risiko, IGD, RSCM
Hubungan pajanan infeksi helicobacter pylori dengan kejadian hiperemesis gravidarum D.M.R. ASIH
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 3, July 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.442 KB)

Abstract

Tujuan: Mengetahui keterkaitan dan besar risiko infeksi Helicobacter Pylori terhadap kejadian Hiperemesis Gravidarum. Tempat: Ruang perawatan kebidanan dan poliklinik RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, RS Fatmawati, RSPAD Gatot Subroto Jakarta, RSUD Tangerang. Rancangan/rumusan data: Penelitian bersifat Comparative Cross Sectional yang membandingkan adanya Ig G anti Helicobacter Pylori pada kelompok kasus perempuan hamil dengan Hiperemesis Gravidarum dan kelompok kontrol yaitu perempuan hamil yang asimptomatik. Bahan dan cara kerja: Penelitian dilakukan selama 15 bulan (Agustus 2006 - Oktober 2007). Selama periode tersebut didapat 55 perempuan hamil usia gestasi 6-16 minggu yang menderita Hiperemesis Gravidarum dan 55 perempuan hamil asimptomatik dengan usia gestasi yang sama. Dilakukan anamnesa, pemeriksaan fisik, ultrasonografi, pemeriksaan laboratorium: darah tepi, SGOT, SGPT, ureum, kreatinin, gula darah, urinalisa, keton urin dan serologi IgG anti Helicobacter Pylori. Adanya infeksi Helicobacter Pylori ditandai dengan adanya IgG pada serum sampel yang ditegakkan dengan pemeriksaan ELISA di Laboratorium Biomedik RSU Mataram, sedangkan diagnosis Hiperemesis Gravidarum ditegakkan dengan gejala klinis dan keton urin positif. Data penelitian diolah dengan menggunakan program STATA 8, analisa kesetaraan kelompok penelitian dengan uji chi square dan analisa multivariat dengan metoda regresi logistik bagi variabel independen yang menunjukkan kemaknaan pada analisa bivariat. Hasil: IgG anti Helicobacter Pylori positif didapat pada 37 perempuan (67,3%) kelompok kasus, dan 19 perempuan (34,5%) kelompok kontrol. Prevalensi Helicobacter Pylori seropositif pada kelompok kasus 56,97% - 77,63% dan pada kelompok kontrol 29,96% - 39,04% (95% CI). Terdapat hubungan bermakna antara infeksi Helicobacter Pylori dengan kejadian Hiperemesis Gravidarum (p 0,001). Didapati pula hubungan bermakna antara indeks masa tubuh (IMT) 25 dengan kejadian Hiperemesis Gravidarum (p 0,014). Tidak didapati perbedaan bermakna pada usia, pendidikan, pekerjaan serta jumlah anak. Kesimpulan: Perempuan hamil muda yang terinfeksi Helicobacter Pylori dan perempuan hamil muda dengan berat badan berlebih, berisiko lebih tinggi mengalami Hiperemesis Gravidarum. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-3: 143-50] Kata kunci: infeksi helicobacter pylori, serologi, hiperemesis gravidarum
Perbandingan ekspresi p53, Bcl-2, dan indeks apoptosis trofoblas pada preeklampsia/eklampsia dan kehamilan normal K. KEMAN
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 3, July 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.95 KB)

Abstract

Tujuan: Membuktikan bahwa, jumlah sel trofoblas yang mengalami apoptosis pada sampel jaringan trofoblas yang berasal dari kehamilan dengan preeklampsia/eklampsia lebih tinggi apabila dibandingkan dengan kehamilan normal. Tempat: Bagian Obstetri dan Ginekologi RSU Dr. Saiful Anwar Malang, dan Lab Biomedik FKUB Malang. Bahan dan cara kerja: Penelitian ini merupakan studi laboratorium secara potong lintang; dengan teknik imunohistokimia untuk pengamatan ekspresi protein Bcl-2 dan p53, dan teknik DNA-terfragmentasi (TUNEL) untuk menghitung indeks apoptosis. Sampel jaringan trofoblas berasal dari biopsi jaringan plasenta preeklampsia/eklampsia, dibandingkan dengan persalinan normal (n = 20). Variabel bebas: p53, Bcl-2, apoptosis. Variabel tergantung: preeklampsia/eklampsia. Analisa statistik menggunakan Independent t test (p ≤ 0,05). Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan jumlah sel-sel trofoblas yang mengalami apoptosis pada kelompok kehamilan normal (4,70± 1,829), dibandingkan dengan kelompok preeklampsia/eklampsia (4,70± 1,829), (t test; p≤0,000). Terdapat perbedaan yang signifikan ekspresi protein Bcl-2 pada jaringan trofoblas kelompok kehamilan normal (20,30±5,774), dibandingkan kelompok preeklampsia/eklampsia (9,90± 1,912) (t test; p≤0,000). Terdapat perbedaan yang bermakna ekspresi protein p53 pada jaringan trofoblas kelompok kehamilan normal (8,20 ±2,898), dibandingkan dengan kelompok preeklampsia/preeklampsia (22,70±4,990) (t test; p≤0,000). Kesimpulan: Jumlah sel trofoblas yang mengalami apoptosis pada jaringan trofoblas preeklampsia/eklampsia lebih tinggi daripada kehamilan normal. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-3: 151-9] Kata kunci: trofoblas, indeks apoptosis, p53, Bcl-2, preeklampsia, eklampsia
Perbandingan ekspresi p53, Bcl-2, dan indeks apoptosis trofoblas pada preeklampsia/eklampsia dan kehamilan normal K. KEMAN
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 3, July 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.95 KB)

Abstract

Tujuan: Membuktikan bahwa, jumlah sel trofoblas yang mengalami apoptosis pada sampel jaringan trofoblas yang berasal dari kehamilan dengan preeklampsia/eklampsia lebih tinggi apabila dibandingkan dengan kehamilan normal. Tempat: Bagian Obstetri dan Ginekologi RSU Dr. Saiful Anwar Malang, dan Lab Biomedik FKUB Malang. Bahan dan cara kerja: Penelitian ini merupakan studi laboratorium secara potong lintang; dengan teknik imunohistokimia untuk pengamatan ekspresi protein Bcl-2 dan p53, dan teknik DNA-terfragmentasi (TUNEL) untuk menghitung indeks apoptosis. Sampel jaringan trofoblas berasal dari biopsi jaringan plasenta preeklampsia/eklampsia, dibandingkan dengan persalinan normal (n = 20). Variabel bebas: p53, Bcl-2, apoptosis. Variabel tergantung: preeklampsia/eklampsia. Analisa statistik menggunakan Independent t test (p ≤ 0,05). Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan jumlah sel-sel trofoblas yang mengalami apoptosis pada kelompok kehamilan normal (4,70± 1,829), dibandingkan dengan kelompok preeklampsia/eklampsia (4,70± 1,829), (t test; p≤0,000). Terdapat perbedaan yang signifikan ekspresi protein Bcl-2 pada jaringan trofoblas kelompok kehamilan normal (20,30±5,774), dibandingkan kelompok preeklampsia/eklampsia (9,90± 1,912) (t test; p≤0,000). Terdapat perbedaan yang bermakna ekspresi protein p53 pada jaringan trofoblas kelompok kehamilan normal (8,20 ±2,898), dibandingkan dengan kelompok preeklampsia/preeklampsia (22,70±4,990) (t test; p≤0,000). Kesimpulan: Jumlah sel trofoblas yang mengalami apoptosis pada jaringan trofoblas preeklampsia/eklampsia lebih tinggi daripada kehamilan normal. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-3: 151-9] Kata kunci: trofoblas, indeks apoptosis, p53, Bcl-2, preeklampsia, eklampsia

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Volume 13. No. 3 July 2025 Volume 13. No. 2 April 2025 Volume 13. No. 1 January 2025 Volume 12 No. 4 October 2024 Volume 12 No. 3 Jully 2024 Volume 12 No. 2 April 2024 Volume 12 No. 1 January 2024 Volume 11 No. 4 October 2023 Volume 11 No. 3 July 2023 Volume 11 No. 2 April 2023 Volume 11 No. 1 January 2023 Volume 10 No. 4 Oktober 2022 Volume 10 No. 3 July 2022 Volume 10 No. 2 April 2022 Volume 10 No. 1 January 2022 Volume 9 No. 4 October 2021 Volume 9 No. 3 July 2021 Volume 9 No. 2 April 2021 Volume 9 No. 1 January 2021 Volume 8 No. 4 October 2020 Volume 8 No. 3 July 2020 Volume 8 No. 2 April 2020 Volume 8 No. 1 January 2020 Volume 7 No. 4 October 2019 Volume 7 No. 3 July 2019 Volume 7 No. 2 April 2019 Volume 7 No. 2 April 2019 Volume 7, No. 1 January 2019 Volume 7, No. 1 January 2019 Volume 6 No. 4 October 2018 Volume 6 No. 4 October 2018 Volume 6 No. 3 July 2018 Volume 6 No. 3 July 2018 Volume 6. No. 2 April 2018 Volume 6. No. 2 April 2018 Volume 6. No. 1. January 2018 Volume 6. No. 1. January 2018 Volume. 5, No. 4, October 2017 Volume. 5, No. 4, October 2017 Volume. 5, No. 3, July 2017 Volume. 5, No. 3, July 2017 Volume. 5, No. 2, April 2017 Volume. 5, No. 2, April 2017 Volume. 5, No. 1, January 2017 Volume. 5, No. 1, January 2017 Volume 4, No. 4, October 2016 Volume 4, No. 4, October 2016 Volume. 4, No.3, July 2016 Volume. 4, No.3, July 2016 Volume. 4, No. 2, April 2016 Volume. 4, No. 2, April 2016 Volume. 4, No. 1, January 2016 Volume. 4, No. 1, January 2016 Volume. 3, No. 4, October 2015 Volume. 3, No. 4, October 2015 Volume. 3, No. 3, July 2015 Volume. 3, No. 3, July 2015 Volume. 3, no. 2, April 2015 Volume. 3, no. 2, April 2015 Volume. 3, No. 1, January 2015 Volume. 3, No. 1, January 2015 Volume. 2, No. 4, October 2014 Volume. 2, No. 4, October 2014 Volume. 2, No. 3, July 2014 Volume. 2, No. 3, July 2014 Volume. 2, No. 2, April 2014 Volume. 2, No. 2, April 2014 Volume. 2, No. 1, January 2014 Volume. 2, No. 1, January 2014 Volume. 37, No. 2, April 2013 Volume. 37, No. 2, April 2013 Volume 37, No. 1, January 2013 Volume 37, No. 1, January 2013 Volume. 37, No. 1, January 2013 Volume. 1, No. 4, October 2013 Volume. 1, No. 4, October 2013 Volume. 1, No. 3, July 2013 Volume. 1, No. 3, July 2013 Volume. 36, No. 4, October 2012 Volume. 36, No. 4, October 2012 Volume. 36, No. 3, July 2012 Volume. 36, No. 3, July 2012 Volume. 36, No. 2, April 2012 Volume. 36, No. 2, April 2012 Volume. 36, No. 1, January 2012 Volume. 36, No. 1, January 2012 Volume. 35, No. 4, October 2011 Volume. 35, No. 4, October 2011 Volume. 35, No. 3, July 2011 Volume. 35, No. 3, July 2011 Volume. 35, No. 2, April 2011 Volume. 35, No. 2, April 2011 Volume. 35, No. 1, January 2011 Volume. 35, No. 1, January 2011 Volume. 34, No. 4, October 2010 Volume. 34, No. 4, October 2010 Volume. 34, No. 3, July 2010 Volume. 34, No. 3, July 2010 Volume. 34. No. 2, April 2010 Volume. 34. No. 2, April 2010 Volume. 34, No. 1, January 2010 Volume. 34, No. 1, January 2010 Volume. 33. No. 4, October 2009 Volume. 33. No. 4, October 2009 Volume. 33, No. 3, July 2009 Volume. 33, No. 3, July 2009 Volume. 33, No. 2, April 2009 Volume. 33, No. 2, April 2009 Volume. 33, No. 1, January 2009 Volume. 33, No. 1, January 2009 Volume. 32, No. 4, October 2008 Volume. 32, No. 4, October 2008 Volume. 32, No. 3, July 2008 Volume. 32, No. 3, July 2008 Volume. 32, No. 2, April 2008 Volume. 32, No. 2, April 2008 Volume. 32, No. 1, January 2008 Volume. 32, No. 1, January 2008 Volume. 31, No. 4, October 2007 Volume. 31, No. 4, October 2007 Volume. 31, No. 3, July 2007 Volume. 31, No. 3, July 2007 Volume. 31, No. 2, April 2007 Volume. 31, No. 2, April 2007 Volume. 31, No. 1, January 2007 Volume. 31, No. 1, January 2007 Volume. 30, No. 4, October 2006 Volume. 30, No. 4, October 2006 Volume. 30, No. 3, July 2006 Volume. 30, No. 3, July 2006 Volume. 30, No. 2, April 2006 Volume. 30, No. 2, April 2006 Volume. 30, No. 1, January 2006 Volume. 30, No. 1, January 2006 More Issue