cover
Contact Name
eko subaktiansyah
Contact Email
eko.subaktiansyah@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
support@inajog.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology (Majalah Obstetri dan Ginekologi Indonesia)
ISSN : 23386401     EISSN : 23387335     DOI : -
Core Subject : Health,
The Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology is an official publication of the Indonesian Society of Obstetrics and Gynekology. INAJOG is published quarterly.
Arjuna Subject : -
Articles 1,760 Documents
Luka bakar pada perempuan hamil D.S. PERDANAKUSUMA
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 31, No. 3, July 2007
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.092 KB)

Abstract

Tujuan: Mengetahui gambaran kasus luka bakar pada perempuan hamil yang dirawat di Unit Luka Bakar RSU Dr. Soetomo. Bahan dan cara kerja: Seluruh kasus luka bakar pada perempuan hamil yang dirawat di Unit Luka Bakar RSU Dr. Soetomo mulai tanggal 1 Januari 2000 sampai 31 Desember 2006. Data diperoleh dari catatan medik penderita meliputi umur, tempat tinggal, paritas, usia kehamilan, penyebab luka bakar, luas luka bakar, lokasi tubuh yang terkena luka bakar serta outcome. Hasil: Selama kurun waktu 7 tahun didapatkan 8 kasus luka bakar pada perempuan hamil, sekitar 0,96% dari seluruh kasus luka bakar yang dirawat atau 4,8% dari perempuan usia reproduktif yang menderita luka bakar. Usia penderita berkisar 18-35 tahun, asal penderita 87,5% dari kota Surabaya dan 12,5% rujukan dari luar kota. Paritas: 75% anak pertama dan 25% anak ketiga dan keempat. Usia kehamilan trimester pertama 25%, trimester kedua 50% dan trimester ketiga 25%. Penyebab luka bakar seluruhnya adalah api di mana 75% merupakan kecelakaan rumah tangga dan 25% kasus upaya bunuh diri. Luas luka bakar kurang dari 25% diderita pada 25% kasus, luas luka bakar 25%-50% sebesar 25% dan yang menderita luka bakar dengan luas lebih dari 50% diderita pada 50% kasus. Lokasi tubuh yang terkena luka bakar terbanyak mengenai daerah dada-perut dan kepala-leher yaitu 26% dan 23%. Secara keseluruhan didapatkan Outcome 62,5% kematian maternal dan 75% kematian janin. Pada luka bakar yang mengenai tubuh lebih dari 25% luas permukaan tubuh didapatkan 83,33% kematian maternal dan 100% kematian janin. Pada usia kehamilan trimester pertama didapatkan 100% kematian janin, trimester kedua didapatkan 75% kematian janin dan pada usia kehamilan trimester ketiga didapatkan 50% kematian janin. Kesimpulan: Luka bakar pada perempuan hamil jumlahnya relatif kecil tetapi sering berakibat fatal. Luas permukaan tubuh yang terkena luka bakar pada maternal dan usia kehamilan berperan pada outcome. Diperlukan penanganan multidisiplin untuk dapat mengurangi kematian maternal maupun janin. [Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-3: 148-54] Kata kunci: luka bakar, kehamilan, kematian maternal, kematian janin
Pengaruh Subpasase dan Starvasi Serum Fibroblas sebagai donor Nukleus pada keberhasilan perkembangan sel rekonstruksi (Suatu upaya peningkatan efisiensi transfer Nukleus sel somatik dengan teknik IDNI) B. SISWANTO
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 31, No. 3, July 2007
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.363 KB)

Abstract

Tujuan: Penelitian ini untuk mempelajari pengaruh subpasase dan starvasi serum fibroblas sebagai donor nukleus pada keberhasilan perkembangan sel rekonstruksi. Rancangan/rumusan data: Eksperimen laboratorium. Sel donor yang digunakan adalah fibroblas fetus kambing. Sitoplasma resipien yang digunakan adalah oosit kambing yang dilakukan maturasi in vitro pada tahap metafase II (M-II) yang telah dilakukan enukleasi (Oosit enukleasi). Bahan dan cara kerja: Dibagi menjadi dua tahap yaitu tahap pendahuluan dan tahap eksperimen. Tahap pendahuluan adalah optimalisasi prosedur TNS teknik IDNI. Tahap eksperimen terdiri dua tahap. Tahap I: Studi pengaruh subpasase (sel donor A) dan kultur starvasi serum (sel donor B) terhadap derajat apoptosis sel donor. Tahap II: Studi pengaruh derajat apoptosis sel donor terhadap perkembangan sel rekonstruksi hasil transfer nukleus sel somatik dengan teknik IDNI. Penelitian tahap pendahuluan menunjukkan bahwa teknik IDNI dapat digunakan sebagai metode TNS, melalui integritas sel rekonstruksi, yaitu sitoplasma yang diaspirasi sebanyak 10-25%, tidak ada lisis dan degenerasi. TNS menggunakan sel donor subpasase, dari 72 sel rekonstruksi yang dilakukan aktivasi terjadi 12 (16,67%) pembelahan dan menggunakan sel donor starvasi serum, dari 68 sel rekonstruksi yang dilakukan aktivasi terjadi 7 (10,29%) pembelahan. Hasil: Penelitian tahap I menunjukkan bahwa subpasase 3 mempunyai persentase sel hidup yang masih baik (79,55% ± 1,72), apoptosis dini 24,00% ± 6,08 dan apoptosis lanjut 11,67% ± 2,08. Kultur starvasi serum dari subpasase 3 pada hari ke 3 mempunyai persentase sel hidup yang masih baik (56,1% ± 5,94), mengalami proses apoptosis dini 41,67 ± 2,08 dan apoptosis lanjut 42,33% ± 7,57. Analisis statistik menunjukkan bahwa sistem kultur (subpasase dan starvasi serum) mempunyai asosiasi kuat dengan hidup, apoptosis dini dan apoptosis lanjut dari sel donor. Penelitian tahap II menunjukkan bahwa dari 125 sel rekonstruksi menggunakan nukleus donor sel donor A terjadi pembelahan sel sebanyak 19 (15,2%) dan terjadi pertumbuhan 4-8 sel dan morula masingmasing ada 3 (0,8%). Dari 118 sel rekonstruksi menggunakan nukleus donor sel donor B terjadi pembelahan sel sebanyak 15 (12,7%), terjadi pertumbuhan 4-8 sel sebanyak 7 (5,93%) dan tidak ada yang mencapai morula. Analisis statistik menunjukkan bahwa derajat apoptosis sel donor (hidup, apoptosis dini dan apoptosis lanjut) mempunyai asosiasi kuat dengan perkembangan sel rekonstruksi. Kesimpulan: Viabilitas dan ukuran kecil (≤ 6 cm) dari sel donor meningkatkan keberhasilan perkembangan sel rekonstruksi. [Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-3: 155-73] Kata kunci: subpasase, starvasi serum, sel hidup, apoptosis, pembelahan, pertumbuhan
Efusi Pleura Unilateral pada penderita Sindroma Hiperstimulasi Ovarium dalam Program Fertilisasi Invitro (Laporan Kasus) D.S. NATAPRAWIRA; W. PERMADI; T. DJUWANTONO; H. HARLIANTO; H. BAYUAJI
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 31, No. 3, July 2007
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (572.482 KB)

Abstract

Tujuan: Melaporkan kasus efusi pleura unilateral pada penderita OHSS. Rancangan/rumusan data: Laporan kasus. Tempat: Klinik fertilitas rumah sakit rujukan tersier. Hasil: Seorang wanita usia 32 tahun yang menderita OHSS. Faktor risiko pada kasus ini adalah ovarium polikistik, usia 4300 pg/mL. Saat diketahui respons ovarium yang berlebih, dilakukan penurunan dosis FSH. Terjadi efusi pleura unilateral dan asites minimal 11 hari pasca penyuntikan r-hCG, sehingga perlu dilakukan perawatan intensif dan pemasangan water-sealed drainage (WSD). Dilakukan pemberian albumin intravena yang disesuaikan dengan perkembangan kadar albumin darah harian. Setelah dirawat selama 15 hari pasien dipulangkan dalam keadaan baik. Kesimpulan: Pada kasus ini telah dilakukan monitoring stimulasi secara hormonal dan ultrasonografi serta upaya-upaya pencegahan lain. Namun demikian, OHSS tetap terjadi sehingga diperlukan kombinasi terapi suportif dan bedah. [Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-3: 174-9] Kata kunci: fertilisasi invitro, sindroma hiperstimulasi ovarium, efusi pleura unilateral
Endometriosis: Tinjauan Perangai Imunopatobiologi sebagai Modalitas Baru untuk Menegakkan Diagnosis Endometriosis Tanpa Visualisasi Laparoskopi (Kajian Pustaka) W. HADISAPUTRA
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 31, No. 3, July 2007
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.028 KB)

Abstract

Tujuan: Meninjau perangai imunopatobiologi penderita endometriosis sebagai modalitas baru untuk menegakkan diagnosis endometriosis tanpa visualisasi laparoskopi. Rancangan/rumusan data: Tinjauan pustaka. Kesimpulan: Endometriosis bisa dilihat sebagai proses inflamasi pelvis dengan perubahan fungsi sel yang berkaitan dengan kekebalan dan jumlah makrofag aktif yang meningkat dalam cairan peritoneum yang mensekresi berbagai produk lokal, seperti faktor pertumbuhan dan sitokin. Meningkatnya sitokin dan faktor-faktor lain dalam cairan peritoneum diikuti dengan meningkatnya faktor-faktor serupa, seperti CRP, SAA, TNF- α, MCP-1, IL-6 dan CCR1, dalam darah tepi pada penderita endometriosis. Monosit CD44+ dan CD14+ meningkat secara bermakna, sementara limfosit T CD3+ dan limfosit B CD20+ menunjukkan pengurangan sedikit tetapi bermakna dalam darah tepi penderita endometriosis. Ini menunjukkan bahwa endometriosis dapat dilihat sebagai penyakit lokal dengan manifestasi, sub-klinis sistemik. [Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-3: 180-4] Kata kunci: endometriosis, faktor inflamasi, sitokin, sel darah putih
Perawatan Antenatal dan Peranan Asam Folat dalam Upaya Meningkatkan Kesejahteraan Ibu Hamil dan Janin T. M. HANAFIAH
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 31, No. 4, October 2007
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.068 KB)

Abstract

N/A
Risiko terjadinya preeklampsia pada kehamilan dengan kadar β-hCG serum yang tinggi BUDIANA BUDIANA; J. KUSUMA
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 31, No. 4, October 2007
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.43 KB)

Abstract

Tujuan: Untuk mengetahui besarnya risiko terjadinya preeklampsia pada kehamilan dengan kadar β-hCG serum yang tinggi. Rancangan/rumusan data: Penelitian ini adalah penelitian kasus kontrol, di mana 31 kasus adalah pasien-pasien dengan preeklampsia dan 31 kontrol adalah pasien-pasien dengan kehamilan normal yang di-matching dalam hal umur ibu, umur kehamilan, dan paritas. Kriteria preeklampsia berdasarkan klasifikasi yang direkomendasikan oleh ke-lompok kerja National High Blood Pressure Education Program tahun 2000. Tingginya Kadar β-hCG serum ditentukan ≥ 2 kali median (MoM), yang diuji pada interval kepercayaan 95%. Hasil: Rerata kadar β-hCG serum sampel sebesar 68386,32± 46312,21 mIU/mL lebih tinggi secara bermakna dibandingkan dengan rerata kadar β-hCG serum kontrol sebesar 32174,97±21863,29 mIU/mL (p=0,001; IK 95%:17812,18-54610,53). Tingginya kadar β-hCG serum (≥ 2 MoM) secara bermakna meningkatkan risiko terjadinya preeklampsia sebesar 11 kali (p=0,006; IK 95%:1,276-136,305). Kesimpulan: Tingginya kadar β-hCG serum merupakan faktor risiko terjadinya preeklampsia. Pasien-pasien dengan kadar β-hCG serum yang tinggi memiliki risiko terjadinya preeklampsia 11 kali lebih besar dibandingkan dengan pasien-pasien yang memiliki kadar β-hCG serum normal. [Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-4: 196-200] Kata kunci: β-hCG serum, preeklampsia
Tes Pap, Tes HPV dan Servikografi sebagai Pemeriksaan Triase untuk Tes IVA Positif: Upaya Tindak Lanjut Deteksi Dini Kanker Serviks pada Fasilitas Kesehatan dengan Sumber Daya Terbatas beserta Analisis Sederhana Efektivitas Biayanya D. OCVIYANTI
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 31, No. 4, October 2007
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.724 KB)

Abstract

Tujuan: Memperoleh informasi tentang efektivitas pemeriksaan dalam bentuk Nilai Prediksi Positif dan Analisis Efektivitas Biaya tes Pap, tes HPV, servikografi dan gabungan dari dua atau tiga pemeriksaan tersebut sebagai pemeriksaan triase untuk tes IVA positif dalam upaya mendeteksi lesi prakanker serviks. Tempat: Poliklinik Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta. Rancangan/rumusan data: Selama kurun waktu penelitian yaitu antara bulan Januari 2005 hingga Januari 2006 poliklinik Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta menerima 130 orang perempuan dengan hasil tes IVA positif dan 1 orang dengan dugaan kanker serviks yang dirujuk dari 8 Puskesmas dan Klinik Bersalin di Jakarta Pusat dan Jakarta Timur. Empat belas orang bidan dari Puskesmas dan Klinik selama kurun waktu tersebut telah melakukan pemeriksaan terhadap 1250 perempuan sesuai kriteria inklusi yaitu berusia antara 25 hingga 45 tahun. Terhadap seluruh kasus yang dirujuk peneliti melakukan berturut-turut pengambilan sampel tes Pap, sampel tes HPV untuk pemeriksaan dengan metode Hybrid Capture 2, pemeriksaan servikografi dan dilanjutkan dengan kolposkopi. Bila didapatkan lesi epitel putih dilakukan biopsi-histopatologi. Data hasil pemeriksaan dianalisis untuk uji diagnostik dengan komputer menggunakan program Stata 7.0. Analisis efektivitas biaya dilakukan dengan menggunakan program Treeage@. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan hasil tes IVA positif pada 130 perempuan (10,4%) dari 1250 perempuan usia 25-45 tahun yang diperiksa. Hasil pemeriksaan histopatologi menunjukkan hasil positif lesi prakanker pada 67 perempuan (persentasenya sekaligus menggambarkan Nilai Prediksi Positif dari pemeriksaan kolposkopi + biopsi pada kasus dengan tes IVA positif, yaitu: 51,5%). Prevalensi lesi prakanker serviks pada penelitian ini adalah 5,4% dengan prevalensi lesi derajat tinggi 0,2% yaitu sekitar 2% dari seluruh kasus IVA positif yang dirujuk. Satu kasus yang dirujuk dengan kanker serviks ternyata memang positif menderita kanker serviks stadium 3B. Seluruh kasus lesi derajat tinggi (3 kasus) adalah NIS2. Hasil Nilai Prediksi Positif yang sekaligus menggambarkan efektivitas masing-masing pemeriksaan sebagai triase pada tes tes IVA positif: tes Pap 82% (CI 95% 75%; 88%), tes HPV 58% (CI 95% 49%; 66%), servikografi 94% (CI 95% 90%; 98%), tes Pap+HPV 73% (CI 95% 64%; 79%), tes Pap+servikografi 86% (CI 95% 81%; 90%), tes HPV+servikografi 78% (CI 95% 72%; 84%), tes Pap+HPV+servikografi 77% (CI 95% 72%; 82%). Pemeriksaan triase yang lebih efektif biaya dibandingkan rujukan langsung tes IVA positif untuk kolposkopi apabila diasumsikan bahwa pasien dari dalam kota adalah servikografi, tes Pap dan gabungan tes Pap+servikografi, sedangkan bila diasumsikan pasien dari luar kota maka seluruh pemeriksaan triase yang diteliti terbukti lebih efektif biaya. Kesimpulan: Pemeriksaan triase dengan tes Pap, tes HPV dan servikografi maupun gabungannya dapat meningkatkan efektivitas pemeriksaan dan efektivitas biaya tes IVA dalam mendeteksi lesi prakanker serviks. [Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-4: 201-11] Kata kunci: tes IVA, tes Pap, tes HPV, servikografi, pemeriksaan triase, analisis efektivitas biaya
Deteksi Dini Kanker Serviks dengan Metode Inspeksi Visual Asam Asetat di Depok A. M. SIRAIT; L. NURANNA
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 31, No. 4, October 2007
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.463 KB)

Abstract

Tujuan: Untuk mendapatkan lesi prakanker maupun penderita kanker serviks dalam stadium dini dengan metode inspeksi visual asam asetat. Rancangan/rumusan data: Studi potong lintang. Tempat: Puskesmas Sukmajaya, Abadijaya, Bhakti Jaya, Villa Pertiwi dan Kalimulia, Kotib Depok, Jawa Barat. Subjek, pasien, peserta: Sampel adalah ibu yang berusia 25 - 64 tahun dan berdomisili di Kecamatan Sukmajaya, Depok. Penelitian dilakukan pada September - November 2005. Yang melakukan pemeriksaan IVA adalah bidan dari puskesmas masing-masing yang sudah dilatih sebelumnya. Responden yang IVA positif dilanjutkan dengan pemeriksaan kolposkopi dan atau leep. Semua responden mendapat penyuluhan dan leaflet tentang kanker serviks. Hasil: Dari 3331 responden yang diperiksa IVA diperoleh 2956 negatif, 369 positif (bercak putih) dan 6 positif (suspek kanker). Pada minggu berikutnya semua responden yang IVA positif (375 orang) diundang pada puskesmasnya masing-masing untuk diperiksa ulang oleh dokter ginekolog dari RSCM, namun yang datang hanya 188 orang (50%). Dari 188 tersebut ditemukan IVA positif hanya 33 orang (17,5%). Pada minggu berikutnya ke 33 orang tersebut diundang untuk pemeriksaan lanjutan (kolposkopi dan/atau leep), namun yang memenuhi undangan hanya 21 orang (63,6%). Pada akhirnya ditemukan 1 kasus kanker serviks stadium II B, 1 kasus karsinoma in-situ dan 3 kasus displasia ringan. Kesimpulan: Untuk menghindari hasil positif palsu sebaiknya pelatihan bidan dilakukan lebih intensif dan untuk menghindari responden lost to follow up sebaiknya pemeriksaan IVA dan pemeriksaan lanjutan dilakukan pada hari yang sama. [Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-4: 212-7] Kata kunci: deteksi dini, prakanker serviks, kanker serviks, IVA
Deteksi human papilloma virus (HPV) tipe 16 dan tipe 18 dengan teknik polymerase chain reaction (PCR) dan hibridisasi dot blot dengan pelacak DNA berlabel biotin M. L. ROSILAWATI; B. BELA; J. INDARTI
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 31, No. 4, October 2007
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.024 KB)

Abstract

Tujuan: Menerapkan teknik PCR-hibridisasi dot blot dengan pelacak DNA berlabel biotin untuk mendeteksi HPV tipe 16 dan 18 pada spesimen swab dan biopsi jaringan serviks. Rancangan/rumusan data: Penelitian ini bersifat deskriptif. Bahan dan cara kerja: Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah spesimen swab dan biopsi serviks berjumlah 124 spesimen. Ekstraksi DNA sampel dilakukan dengan metode Boom dan QIAAmp DNA Mini Kit (Qiagen). Amplifikasi DNA dengan teknik PCR menggunakan primer PGMY11 dan PGMY09, dilaksanakan untuk mendeteksi infeksi HPV. Tipe HPV-16 dan tipe 18 dideteksi dengan teknik hibridisasi dot blot dari produk PCR dengan pelacak DNA berlabel biotin. Hasil: Dari 124 spesimen, 18 spesimen (15%), menunjukkan hasil PCR positif HPV dan dari hasil positif PCR tersebut, 7 spesimen menunjukkan hasil hibridisasi dot blot negatif sehingga dapat dinyatakan spesimen tersebut terinfeksi dengan tipe HPV risiko tinggi lainnya atau risiko rendah. Hasil positif hibridisasi dot blot terlihat pada 24 spesimen (19%) yaitu 20 spesimen (16%) terinfeksi HPV-16 dan 4 spesimen (3%) terinfeksi HPV-18. Dari 20 spesimen positif HPV-16, 9 spesimen memperlihatkan hasil PCR negatif sedangkan dari 4 spesimen positif HPV- 18, 1 spesimen menunjukkan hasil negatif PCR. Hal ini membuktikan teknik PCR-hibridisasi dot blot lebih sensitif dibanding PCR-elektroforesis gel agarosa. Beberapa spesimen swab maupun biopsi pasien prakanker atau kanker memperlihatkan hasil negatif HPV-16 maupun 18. Kemungkinan faktor penyebabnya adalah selain adanya infeksi tipe HPV risiko tinggi dan virus lain juga terintegrasinya DNA HPV ke dalam DNA genom host. Berdasarkan kelompok umur, pasien dengan umur di atas 30 tahun lebih banyak terinfeksi HPV-16 maupun HPV-18. Kesimpulan: HPV dari spesimen alat genitalia dapat dideteksi dengan teknik PCR menggunakan primer PGMY11 dan PGMY09. Deteksi tipe HPV terutama HPV-16 dan HPV-18 dapat dilakukan dengan teknik PCR yang dilanjutkan dengan hibridisasi dot blot dengan pelacak DNA berlabel biotin yang merupakan metode cepat, sensitif , spesifik dan sangat efisien digunakan pada spesimen dengan jumlah banyak. Teknik ini dapat diterapkan sebagai metode deteksi dini kanker serviks secara molekuler. [Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-4: 218-25] Kata kunci: PCR, hibridisasi dot blot, HPV-16, HPV-18
Effect of Anti Zona Antibody on In Vitro Growth and In Vitro Maturation of Intact Follicles B. WIWEKO; M. NATADISASTRA; G. C. HORTENCIA; A. HASEGAWA; K. KOYAMA
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 31, No. 4, October 2007
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.099 KB)

Abstract

Tujuan: Mengetahui pengaruh antibodi anti zona pellucida terhadap perkembangan (in vitro growth = IVG) dan pematangan (in vitro maturation = IVM) folikel. Tempat: Laboratorium biologi dan reproduksi Fakultas Kedokteran Hyogo, Nishinomiya, Jepang. Rancangan/rumusan data: Studi eksperimen pada hewan coba. Bahan dan cara kerja: Dilakukan pengambilan 80 folikel intak secara mekanik dari ovarium mencit (C57BL/6 x DBA2-F1 mice) usia 16 hari kemudian dilakukan inkubasi pada medium yang mengandung antibodi anti zona pellucida selama 8 hari. Antibodi ini diambil dari kelinci yang disuntikkan komponen ZPA dan ZPC mencit. Serum kelinci normal digunakan sebagai kontrol. Folikel dikelompokkan menjadi 4 kelompok dengan masing-masing terdiri dari 20 folikel. Kelompok 1 sebagai kontrol, kelompok 2 diinkubasi dengan serum kelinci normal, kelompok 3 diinkubasi dengan anti ZPA dan kelompok 4 diinkubasi dengan anti ZPC. Setelah 8 hari seluruh folikel dipindahkan ke medium IVM untuk dinilai perubahannya menjadi folikel antral. Hasil: Secara morfologis tidak dijumpai perbedaan bermakna pada perkembangan folikel antara kelompok kontrol dan perlakuan. Tetapi antibodi anti zona pellucida mempengaruhi perkembangan folikel antral pada kelompok perlakuan. Secara statistik dijumpai perbedaan bermakna dalam jumlah folikel antral antar kelompok 3 dan 4 dengan kelompok 1 dan 2. Pada kelompok 3 (anti ZPA) 9 dari 20 folikel (45%) berkembang menjadi folikel antral sedangkan pada kelompok 4 (anti ZPC) 11 dari 20 folikel (55%) berkembang menjadi folikel antral, dibandingkan dengan kelompok 1 dan 2, masing-masing 100% dan 85% folikel pre antral berkembang menjadi folikel antral. Kemudian seluruh folikel antral ditransfer ke medium IVM dan diinkubasi selama 16-17 jam. Pada kelompok 1, 100% folikel mengalami mucifikasi, sedangkan pada kelompok 2, 3 dan 4 masing-masing sebesar 75%, 55% dan 15% folikel mengalami mucifikasi. Setelah dilakukan denudasi germinal vesicles (GV) dijumpai sebanyak 5% pada kelompok 1,5% pada kelompok 2, dan 10% pada kelompok 4. Sedangkan pada kelompok 3 tidak dijumpai GV. Metafase 1 dijumpai sebanyak 40% pada kelompok 1,35% pada kelompok 2,50% pada kelompok 3 and 50% pada kelompok 4. Sedangkan metafase 2 dijumpai sebanyak 55% pada kelompok 1,60% pada kelompok 2, dan 40% pada kelompok 3. Tidak dijumpai metafase 2 pada kelompok 4. Beberapa oosit yang berdegenerasi dijumpai pada kelompok 2 (5%), kelompok 3 (5%) dan kelompok 4 (30%). Terdapat perbedaan bermakna dalam hal pematangan folikel (IVM) antara kelompok kontrol dan perlakuan. Kesimpulan: Antibodi anti zona pellucida mempengaruhi proses perkembangan dan pematangan folikel in vitro. Efeknya pada fertilisasi masih harus diteliti lebih lanjut. [Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-4: 226-30] Kata kunci: folikel intak, perkembangan folikel (IVG), pematangan folikel (IVM), antibodi anti zona pellucida, folikel antral, mucifikasi, germinal vesicles, metafase-1, metafase-2

Page 99 of 176 | Total Record : 1760


Filter by Year

2006 2026


Filter By Issues
All Issue Volume 14. No. 1 January 2026 Volume 13. No. 4 October2025 Volume 13. No. 3 July 2025 Volume 13. No. 2 April 2025 Volume 13. No. 1 January 2025 Volume 12 No. 4 October 2024 Volume 12 No. 3 Jully 2024 Volume 12 No. 2 April 2024 Volume 12 No. 1 January 2024 Volume 11 No. 4 October 2023 Volume 11 No. 3 July 2023 Volume 11 No. 2 April 2023 Volume 11 No. 1 January 2023 Volume 10 No. 4 Oktober 2022 Volume 10 No. 3 July 2022 Volume 10 No. 2 April 2022 Volume 10 No. 1 January 2022 Volume 9 No. 4 October 2021 Volume 9 No. 3 July 2021 Volume 9 No. 2 April 2021 Volume 9 No. 1 January 2021 Volume 8 No. 4 October 2020 Volume 8 No. 3 July 2020 Volume 8 No. 2 April 2020 Volume 8 No. 1 January 2020 Volume 7 No. 4 October 2019 Volume 7 No. 3 July 2019 Volume 7 No. 2 April 2019 Volume 7 No. 2 April 2019 Volume 7, No. 1 January 2019 Volume 7, No. 1 January 2019 Volume 6 No. 4 October 2018 Volume 6 No. 4 October 2018 Volume 6 No. 3 July 2018 Volume 6 No. 3 July 2018 Volume 6. No. 2 April 2018 Volume 6. No. 2 April 2018 Volume 6. No. 1. January 2018 Volume 6. No. 1. January 2018 Volume. 5, No. 4, October 2017 Volume. 5, No. 4, October 2017 Volume. 5, No. 3, July 2017 Volume. 5, No. 3, July 2017 Volume. 5, No. 2, April 2017 Volume. 5, No. 2, April 2017 Volume. 5, No. 1, January 2017 Volume. 5, No. 1, January 2017 Volume 4, No. 4, October 2016 Volume 4, No. 4, October 2016 Volume. 4, No.3, July 2016 Volume. 4, No.3, July 2016 Volume. 4, No. 2, April 2016 Volume. 4, No. 2, April 2016 Volume. 4, No. 1, January 2016 Volume. 4, No. 1, January 2016 Volume. 3, No. 4, October 2015 Volume. 3, No. 4, October 2015 Volume. 3, No. 3, July 2015 Volume. 3, No. 3, July 2015 Volume. 3, no. 2, April 2015 Volume. 3, no. 2, April 2015 Volume. 3, No. 1, January 2015 Volume. 3, No. 1, January 2015 Volume. 2, No. 4, October 2014 Volume. 2, No. 4, October 2014 Volume. 2, No. 3, July 2014 Volume. 2, No. 3, July 2014 Volume. 2, No. 2, April 2014 Volume. 2, No. 2, April 2014 Volume. 2, No. 1, January 2014 Volume. 2, No. 1, January 2014 Volume. 37, No. 2, April 2013 Volume. 37, No. 2, April 2013 Volume 37, No. 1, January 2013 Volume 37, No. 1, January 2013 Volume. 37, No. 1, January 2013 Volume. 1, No. 4, October 2013 Volume. 1, No. 4, October 2013 Volume. 1, No. 3, July 2013 Volume. 1, No. 3, July 2013 Volume. 36, No. 4, October 2012 Volume. 36, No. 4, October 2012 Volume. 36, No. 3, July 2012 Volume. 36, No. 3, July 2012 Volume. 36, No. 2, April 2012 Volume. 36, No. 2, April 2012 Volume. 36, No. 1, January 2012 Volume. 36, No. 1, January 2012 Volume. 35, No. 4, October 2011 Volume. 35, No. 4, October 2011 Volume. 35, No. 3, July 2011 Volume. 35, No. 3, July 2011 Volume. 35, No. 2, April 2011 Volume. 35, No. 2, April 2011 Volume. 35, No. 1, January 2011 Volume. 35, No. 1, January 2011 Volume. 34, No. 4, October 2010 Volume. 34, No. 4, October 2010 Volume. 34, No. 3, July 2010 Volume. 34, No. 3, July 2010 Volume. 34. No. 2, April 2010 Volume. 34. No. 2, April 2010 Volume. 34, No. 1, January 2010 Volume. 34, No. 1, January 2010 Volume. 33. No. 4, October 2009 Volume. 33. No. 4, October 2009 Volume. 33, No. 3, July 2009 Volume. 33, No. 3, July 2009 Volume. 33, No. 2, April 2009 Volume. 33, No. 2, April 2009 Volume. 33, No. 1, January 2009 Volume. 33, No. 1, January 2009 Volume. 32, No. 4, October 2008 Volume. 32, No. 4, October 2008 Volume. 32, No. 3, July 2008 Volume. 32, No. 3, July 2008 Volume. 32, No. 2, April 2008 Volume. 32, No. 2, April 2008 Volume. 32, No. 1, January 2008 Volume. 32, No. 1, January 2008 Volume. 31, No. 4, October 2007 Volume. 31, No. 4, October 2007 Volume. 31, No. 3, July 2007 Volume. 31, No. 3, July 2007 Volume. 31, No. 2, April 2007 Volume. 31, No. 2, April 2007 Volume. 31, No. 1, January 2007 Volume. 31, No. 1, January 2007 Volume. 30, No. 4, October 2006 Volume. 30, No. 4, October 2006 Volume. 30, No. 3, July 2006 Volume. 30, No. 3, July 2006 Volume. 30, No. 2, April 2006 Volume. 30, No. 2, April 2006 Volume. 30, No. 1, January 2006 Volume. 30, No. 1, January 2006 More Issue