cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Aquasains : Jurnal Ilmu Perikanan dan Sumberdaya Perairan
Published by Universitas Lampung
ISSN : 2301816X     EISSN : 25797638     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2012)" : 7 Documents clear
PERTUMBUHAN Tetraselmis Sp DI MEDIA KULTUR BERBEDA DENGAN PENAMBAHAN Pb2+ Astri Pujiastuti; Moh Muhaemin; Henni Wijayanti
AQUASAINS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Jurusan Perikanan dan Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.744 KB)

Abstract

Lead has known as toxic metal element in water environment which may come from domestic and industrial waste systems. Recent research proved that microalgae may reduce lead concentration by using bioaccumulation mechanism to the threshold level approximately. Tetraselmis is marine microalgae which has sensitive respond to heavy metal. The research aim was to determined the bioacumulation treshold effect of specific heavy metal (lead) on marine microalgae Tetraselmis sp. The research was conducted on July 2010 in BBPBL Hanura Lampung Province. The research was used two different media (TMRL and Conwy) and each treatment was added lead of 0,25 mg/l. Data was analyzed by using simple linier regression model to found the correlation between microalgae density and present of heavy metal. The result showed that the media has not significant effect on bioaccumulation ability of Tetraselmis sp. In the other hand, the present of heavy metal on media has positive correllation to initial concentration of heavy metal on microalgae biomass (rConwy=0,657; rTMRL=0,682).
PENGELOMPOKKAN HABITAT DASAR PERAIRAN DANGKAL BERBASIS DATA SATELIT QUICKBIRD MENGGUNAKAN ALGORITMA SELF ORGANISING MAP Asmadin, Asmadin; Siregar, Vincentius P; Wijanarto, Antonius Bambang
AQUASAINS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Jurusan Perikanan dan Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.748 KB)

Abstract

Pengembangan algoritma self organising map dalam penelitian ini bertujuan untuk mengelompokkan habitat perairan dangkal berbasis data satelit Quickbird. Data primer dikumpulkan melalui data penginderaan jauh dan survey lapang, sedangkan data sekunder dikumpulkan dari penelitian yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klasifikasi algoritma self organising map dapat mengklaster/ mengklasifikasi citra Quickbird dari berbagai kombinasi kanal. Dari berbagai kombinasi input data setelah direduksi kolom air dengan algoritma Lyzenga, Self organising map menunjukkan hasil klaster yang relatif baik. Algoritma Lyzenga dapat mengelompokkan habitat perairan dangkal 6 (enam) kelas habitat, yaitu karang mati (merah), karang hidup (hijau), lamun (orange), pasir (kuning), dan habitat campuran (hijau muda), daratan (hitam) dan perairan (biru). Setelah menggunakan self organising map secara visual terlihat 6 kelas habitat yang berbeda dari Lyzenga, yaitu karang mati (kuning), karang hidup (cyan), lamun (ungu), pasir (kuning), dan habitat campuran (biru), daratan (hijau) dan perairan (coklat). Algoritma self organising map dapat mengurangi kesalahan tematik habitat perairan dangkal dan sangat membantu proses ekstraksi ROI (region of interset) untuk reklasifikasi lebih lanjut dengan teknik klasifikasi supervised.
KONSERVASI SUMBERDAYA PERIKANAN BERBASIS MASYARAKAT, IMPLEMENTASI NILAI LUHUR BUDAYA INDONESIA DALAM PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM Qadar Hasani
AQUASAINS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Jurusan Perikanan dan Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.835 KB)

Abstract

Laut Indonesia merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, sementara itu terumbu karang Indonesia merupakan pusat dari segitiga terumbu karang dunia. Namun, meningkatnya jumlah penduduk serta faktor-faktor ekonomi lain, menyebabkan tekanan terhadap sumberdaya alam laut dan ekosistemnya semakin meningkat pula yang berpengaruh pada menurunnya produktivitas dan keanekaragaman sumberdaya hayati tersebut. Sehubungan dengan hal itu, upaya pengelolaan lingkungan dan konservasi sumberdaya pesisir dan laut merupakan langkah yang penting dan strategis. Deparetemen Kelautan dan Perikanan mengklaim bahwa Luas Kawasan Konservasi Laut Indonesia pada awal Tahun 2005 memiliki luas ± 7.227.757,26 Ha atau 7,2 Km2 pada 75 kawasan konservasi. Lalu bagaimana posisi dan peran serta masyarakat di sekitar kawasan tersebut, apakah masyarakat menjadi penghalang bagi keberlanjutan kawasan konservasi? atau apakah mungkin, masyarakat justru dapat diharapkan memiliki peran aktif dalam pelestarian dan pengelolaan kawasan konservasi?. Berbagai contoh pengelolaan sumberdaya laut berbasis masyarakat berdasarkan hukum adat (kearifan lokal) di berbagai daerah di Indonesia yang secara tidak disadari justru menerapkan kaidah-kaidah konservasi mung kin merupakan gambaran bahwa konservasi laut berbasis masyarakat (comunity based management) atau kolaborasi dengan pemerintah (co-management) merupakan sesuatu yang sangat mungkin dikembangkan.
IMUNOGENISITAS VAKSIN INAKTIF WHOLE CELL Aeromonas salmonicida PADA IKAN MAS (Cyprinus carpio) Setyawan, Agus; Hudaidah, Siti; Ronapati, Zulfikar Zafeskan; Sumino, Sumino
AQUASAINS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Jurusan Perikanan dan Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.652 KB)

Abstract

The aims of this research was to determine the immunogenicity of inactivated vaccine A. salmonicida whole cell in common carp and the best mothod in vaccine administration. Vaccine was produced by inactivated A. salmonicida with adding 1 ppm (v/v) formaldehide and incubated for 24h in room temperature. Ten juvenil of carp (Vaccine was administrated in each 10 fish by injection intraperitoneally (107 cfu/fish), orally (107 cfu/fish), immersion (107 cfu/ml for 30 minute) and control (fish with no vaccination). Booster was conducted 7 days after first vaccination with same dossage and method. Titer antibody was evaluated in three times i.e. before vaccination, 7th days after first vaccination, and 7th days after booster. Water quality such as dissolved oxygen, pH, and water temperature was measured as a supported parameters. Results showed that titer antibodi for all treatment before vaccination was 1/6. However, titer antibody after vaccination and booster increased to 1/58.67 and 1/85.33 for i.p injection, 1/42.67 and 1/64 for oral, 1/24 and 42.67 for immerse, respectively. Whereas, there was no significantly increasing of titer antibody in control that was 1/9.33 and 1/18.67 for vaccination and bosster, respectively. Vaccine adminsitration method by injection i.p. was the best method for obtain the best immunogenicity of vaccine. Water quality parameters along this experiment still in optimum range for common carp living.
PARTIKEL TERSUSPENSI DAN BAHAN ORGANIK YANG TERPERANGKAP PADA DAERAH LAMUN DAN DAERAH TIDAK ADA LAMUN DI PERAIRAN PULAU BARRANG LOMPO MAKASSAR Ira Ira
AQUASAINS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Jurusan Perikanan dan Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.391 KB)

Abstract

Lamun merupakan tumbuhan air yang telah beradaptasi hidup terbenam di salinitas yang tinggi. Tumbuhan tersebut memiliki daun yang panjang dan berada di kolom air serta sistem perakaran yang menyilang menyebabkan tumbuhan mampu memerangkap partikel yang tersuspensi dan bahan organik di kolom air. Partikel tersuspensi yang berada di kolom air dapat menyebabkan perairan menjadi keruh dan dapat  mempengaruhi kehidupan biota di perairan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui partikel tersuspensi dan bahan organik yang terperangkap baik di daerah lamun maupun didaerah tidak ada lamun. Metode penelitian menggunakan sediment trap yang terbuat dari pipa paralon ukuran 5 inci, dipasang di lamun daerah serta daerah tidak ada lamun. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa partikel tersuspensi yang terperangkap tertinggi dalam sediment trap terdapat di daerah lamun berkisar 2,37-4,57 mg/cm2/hari dan 1,87-2,32 mg/cm2/hari, sementara di daerah tidak ada lamun berkisar 2,28-2,32 mg/cm2/hari dan 2,13-2,21 mg/cm2/hari. Nitrat dan ortofosfat yang terperangkap di daerah lamun berkisar 0,3-0,7 mg/kg dan 13,3-17,4 mg/kg sementara di daerah tidak ada lamun berkisar 0,3-0,4 mg/kg dan 12,4-13,6 mg/kg.
ANALISA KEBIASAAN MAKANAN IKAN GELODOK (Mudskipper) JENIS Baleophthalmus boddarti DI DAERAH PERTAMBAKAN DESA CEPOKOREJO KECAMATAN PALANG KABUPATEN TUBAN Sri Wilis
AQUASAINS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Jurusan Perikanan dan Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.509 KB)

Abstract

Ikan gelodok (Mudskipper) Jenis Baleophthalmus boddarti merupakan salah satu sumber daya perikanan di perairan payau yang belum banyak dimanfaatkan secara optimal, khususnya masyarakat Desa Cepokorejo Kecamatan Palang Kabupaten Tuban. Dalam mengoptimalkan pemanfaatannya diperlukan kelestariannya guna pengembangan budidaya yang diperlukan adanya beberapa informasi tentang aspek biologisnya terutama kebiasaan makanan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa kebiasaan makanan ikan gelodok di daerah pertambakan Desa Cepokorejo., sehingga diharapkan menjadi tambahan informasi terutama tentang aspek biologisnya sebagai dasar pengelolaan dan pemanfaatannya. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa makanan utama ikan gelodok dari kedua stasiun adalah sama yaitu ; Skeletonema sp., Nitzschia sp., dan Pleurosygma sp. Data isi organ pencernakan dianalisa dengan uji chi kuadrat (c2), dalam hal ini digunakan tes homogenitas untuk membandingkan dua atau lebih frekuensi distribusi yang diamati (observed = O), sedang yang diharapkan adalah [expected number = E] dari masing-masing kategori. Dari hasil perhitungan didapatkan bahwa kebiasaan makanan /pola jenis makanan ikan gelodok pada kedua stasiun ternyata berbeda sangat nyata yang ditunjukkan dari hasil perhitungan c2 Hitung = 123,07 > c2 Tabel (0,01) = 21,67.
PENGARUH EKSTRAK SIDAWAYAH DENGAN KONSENTRASI YANG BERBEDA UNTUK MENGATASI INFEKSI BAKTERI Aeromonas hydrophilla PADA IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Sri Rahmaningsih
AQUASAINS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Jurusan Perikanan dan Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.535 KB)

Abstract

Permasalahan yang sering muncul dalam usaha budidaya ikan nila adalah serangan penyakit bakteri yang disebabkan oleh Aeromonas Hydrophilla atau biasa dikenal penyakit bercak merah “Motil Aeromonas Septicemia” (MAS). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sidawayah dalam menghambat pertumbuhan bakteri A. hydrophilla secara in vitro; pengaruh pemberian berbagai konsentrasi sidawayah terhadap tingkat kelulushidupan dan jumlah koloni bakteri dalam ginjal ikan nila dan konsentrasi terbaik yang mampumemberikan tingkat kelulushidupan tertinggi pada ikan nila. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman sidawayah berpengaruh nyata terhadap tingkat kelulushidupan ikan nila (P < 0,05). Tingkat kelulushidupan ikan nila selama penelitian adalah 29% (A), 64% (B), 72% (C) dan 44% (D). Hasil penelitian menunjukkan pula perlakuan C (konsentrasi sidawayah 0,04%) merupakan perlakuan yang terbaik, dengan tingkat kelulushidupan ikan nila tertinggi sebesar 74%.

Page 1 of 1 | Total Record : 7