cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. majalengka,
Jawa barat
INDONESIA
Al-Akhbar
Published by Universitas Majalengka
ISSN : 23024801     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2018)" : 7 Documents clear
AKSELERASI ANTARA KEJAHATAN BERDIMENSI SIMULAKRA DENGAN PEMBAHARUAN HUKUM PIDANA Rakhmat, Muhamad
Al-Akhbar Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Al-Akhbar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (614.114 KB)

Abstract

Kejahatan tampil dalam bentuknya yang sempurna dengan teknologi tingkat tinggi, politik tingkat tinggi dan hukum tingkat tinggi. Kejahatan tersebut tampil dalam bentuk simulakra, yaitu simulakra kejatahan (simulacrum of crime). Simulakra kejahatan adalah kejahatan yang diciptakan atau direkayasa oleh para pihak tertentu, yang lewat teknologi pencitraan (imagology) dan teknik narasi (narrative), kejahatan tersebut dipresentasikan lewat media tertentu, sehingga realitas kejahatan dan kebenaran (truth) di baliknya, seakan-akan seperti yang tampil di dalam media tersebut, padahal representasi tersebut adalah hasil dari manipulasi media semata. Kebenaran dan kepalsuan bergulat bersimbiosis membentuk sebuah demarkasi kejahatan. Singkatnya, kejahatan telah direkayasa, sehingga hukum tidak berdaya dan manusia dijadikan tumbal.Realitas simulakra kejahatan memerlukan tanggapan secara yuridis, sosiologis dan filosofis, hingga pada akhirnya ditemukan suatu formulasi aturan hukum yang jelas mengatur tentang kejahatan-kejahatan yang termasuk dalam simulakra. Kaidah hukum baru (KUHP baru) harus mampu membaca dan mendifinisikan tindakan simulakra dalam delik pidana dan menentukan sanksi bagi tindakan tersebut. Untuk itu perlu dianalisis Faktor-faktor apa yang mendorong manusia melakukan simulakra kejahatan? Bagaimana hukum pidana positif Indonesia mengatur dan mengatasi simulakra kejahatan? Kendala-kendala apa yang muncul dalam upaya pembaharuan hukum pidana kaitannya dengan simulakra kejahatan dan bagaimana upaya untuk mengatasinya?Di dalam analisis ini, penulis mengusung penelitian Sosiologi Hukum Kualitatif. Obyek penelitian ini adalah manusia/masyarakat, lebih khusus lagi aparat/ birokrat kekuasaan negara dengan alat-alatnya. Metode pendekatan mengacu pada metode hukum  fenomenologik yang bersifat induktif.Simulakra kejahatan dilakukan oleh manusia karena berbagai faktor, faktor internal dan eksternal, yaitu ketidakmampuan mengendalikan diri, lingkungan buruk, kekuasaan yang bebas, hukum yang semerawut, media kapitalis dan kecintaan manusia akan uang. Hukum pidana positif Indonesia tidak mengatur simulakra dengan jelas dan tidak berniat mengatur, karena hukum tidak lebih dari kepentingan penguasa. Pembaharuan hukum menjumpai kendala cara berifikir modern, postivistik dan hegemonial, kepentingan ideologi kolonial, antidemokrasi, pertahanan status quo sebagian besar penguasa. Cara untuk mengatasinya adalah harus dilakukan pembaharuan hukum pidana nasional, antara lain dengan peningkatan peran masyarakat secara aktif dan kritis, membangun keberanian dan kemauan hukum dan politik pemerintahan menuju hukum yang sesuai dengan kehendak rakyat, reformasi personal dan institusional hukum. Bersama-sama menggugat cara berpikir menuju keberanian berpikir progresif dan holistik tentang hukum. Membangun visi pendidikan yang mampu melahirkan orang yang memiliki kompetensi, tegas, rasional, pragmatis dan imajinatif (kreatif). Pendidikan hukum harus mampu menjelaskan, menguraikan keterkaitan antara pembangunan hukum, prinsip-prinsip agama-agama dengan UUD 1945 dan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara. Kata Sandi; Simulakra Kejahatan, Hukum Pidana Nasional,Pencitraan
DISKUSI KELOMPOK SEBAGAI SARANA PENANAMAN NILAI MULTIKULTURAL KEPADA PESERTA DIDIK Mas'ud, Bapak
Al-Akhbar Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Al-Akhbar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (671.501 KB)

Abstract

Pendidikan multicultural adalah pendidikan yang menjembatani perbedaan-perbedaan yang ada didalam masyarakat sehingga timbul sikap menghargai, memahami kebudayaan yang berbeda dengan yang ada pada suatu masyarakat. Metode diskusi kelompok adalah sebuah metode dimana perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar karena setiap rang memiliki pendapat yang berbeda-beda, justru perbedaan ini yang membuat luas wawasan dan pemahamanPendidikan multicultural adalah pendidikan yang menjembatani perbedaan-perbedaan yang ada didalam masyarakat sehingga timbul sikap menghargai, memahami kebudayaan yang berbeda dengan yang ada pada suatu masyarakat. Metode diskusi kelompok adalah sebuah metode dimana perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar karena setiap rang memiliki pendapat yang berbeda-beda, justru perbedaan ini yang membuat luas wawasan dan pemahaman
KEADILAN DAN KEZALIMAN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN Syhabudin, Abu
Al-Akhbar Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Al-Akhbar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1370.207 KB)

Abstract

Dua jalan kehidupan Allah Swt. ciptakan di dunia ini, contohnya keadilan dan kezaliman. Keduanya saling berlawanan, namun terkadang manusia ada yang berbuat adil ada pula yang berbuat zalim. Perbuatan adil adalah perbutan baik, sebaliknya perbuatan zalim adalah perbuatan buruk. Orang-orang yang melaksanakan perintah Allah Swt. adalah termasuk berbuat adil sedangkan orang yang menentang perintah Allah Swt. adalah termasuk berbuat zalim. Dalam al-Qur’an Allah Swt. banyak menerangkan tentang perbuatan adil dan zalim. Keduanya memiliki akibat masing masing. Perbuatan adil membawa akibat baik bagi pelakunya, sedangkan perbuatan zalim membawa akibat buruk bagi pelakunya. Kedua perbuatan ini memberikan gambaran bagi manusia. Allah menerangkan pula tentang kedua perbuatan tersebut dengan kisah manusia masa lalu. Allah selamatkan bagi orang-orang yang berbuat adil, dan Allah azab bagi orang-orang yang berbuat zalim. Dari itu, maka manusia dapat mengambil pelajaran. Allah Swt. menghendaki menusia untuk berbuat adil melalui perintah-perintah-Nya. Dan tidak menghendaki kezaliaman melalui larangan-larangan-Nya.Kata kunci: Keadilan dan Kezaliman
PERAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM EKONOMI ., Nurhidayat
Al-Akhbar Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Al-Akhbar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peran penting pendidikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dalam upaya menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas tidak diragukan lagi. Pendidikan merupakan suatu faktor kebutuhan dasar untuk setiap manusia sehingga upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, karena melalui pendidikan upaya peningkatan kesejahteraan rakyat dapat diwujudkan, dan sudah jelas tertuang dalam .Manusia tanpa moral pada hakekatnya adalah binatang dan manusia yang membinatang ini sangatlah berbahaya, ia akan lebih jahat dan lebih buas dari pada binatang buas sendiri. Maka moral menjadi prioritas utama yang harus diterapkan dalam pendidikan, terlebih dalam Pendidikan Islam yang di dalamnya terdapat proses bimbingan, nilai-nilai kepemimpinan, tuntunan, asuhan yang dilakukann oleh pendidik terhadap perkembangan jiwa, pikiran, perasaan, kemauan, intusi dan lain sebagainya termasuk raga peserta didik dengan bahan-bahan materi tertentu pada jangka waktu tertentu dan dengan metode tertentu dan dengan alat perlengkapan yang ada ke arah terciptanya pribadi tertentu disertai evaluasi yang sesuai dengan ajaran Islam.Manusia hidup dalam suatu kelompok yang membentuk suatu sistem. Sistem secara sederhana dapat diartikan sebagai interaksi, kaitan, atau hubungan dari unsur-unsur yang lebih kecil membentuk satuan yang lebih besar dan komplek sifatnya. Dengan demikian sistem ekonomi adalah interaksi dari unit-unit yang kecil (para onsumen dan produsen) ke dalam unit ekonomi yang lebih besar di suatu wilayah tertentu. Perkembangan dalam desa sendiri sangat dirasakan, ketika perkembangan keilmuan serta pemahaman dari ilmu-ilmu keagamaan Islam masyarakat itu semakin maju pula, seperti tersirat dalam Q.S. Al-An’am (6:125), Q.S. Al-Mujadalah (58:11), Al-A’raf (7:96), Al-Maidah (5:44-45)Desa Haurgeulis memiliki suhu, iklim, dan cuaca, yang sejuk karena di ketinggian 484 mil di atas permukaan laut umumnya merupakan daerah agraris dengan suhu rata-rata harian di daerah desa adalah 23˚C. Dan dengan kemajuan pengetuhan di bidang agama yang sudah lama ditanamkan, Desa ini semakin maju dan sejahtera.
PERAN GURU DAN ORANG TUA DALAM MEMBINA AKHLAK SISWA DI MTsN 09 KABUPATEN INDRAMAYU wardany, dinny kristianty
Al-Akhbar Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Al-Akhbar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan agama menekankan pada ajaran moral, moralitas dalam pergaulan hidup menjadi sumber solidaritas. Dengan berpegang kepada moralitas orang menyadari perlunya menjaga perasaan dan memperhatikan kepentingan orang lain. Pendidikan akhlak atau pendidikan moral merupakan cikal bagi terbentuknya nilai-nilai moral yang menjadi prinsip kepribadian setiap orang. Maka pendidikan akhlak mesti diberikan sejak manusia dilahirkan, karena pada dasarnya semua anak yang lahir dalam keadaan fitrah seperti kertas putih, orang tuanyalah yang paling banyak berperan mengarahkannya menjadi anak yang berkepribadian baik atau buruk (Istiadi, 2003:25). Pendidikan akhlak menjadi urgen karena dengan ini diharapkan manusia akan mempunyai pegangan dalam berbuat, berperilaku, berpikir. Pembentukan, pembinaan dan pengembangan akhlak harus dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan sebagai kewajiban setiap manusia dimana pun dia berada. Dengan demikian akhlak akan membentuk kepribadian manusia sehingga tidak menyalahi pedoman yang telah ditetapkan oleh agama. Secara umum pendidikan akhlak adalah menjadi tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarak dan pemerintah, tetapi secara khusus pendidikan akhlak adalah menjadi tanggung jawab kedua orang tua sepenuhnya yaitu ayah dan ibunya. Pendidikan anak adalah suatu tanggung jawab yang sangat besar yang peranannya terletak dipundak orang tua selaku pendidik utama dan peribadi yang pertama dalam hidup anak. Selain orang tua, pembinaan akhlak anak merupakan salah satu tanggungjawab sekolah. Salah satu upaya yang dilakukan sekolah dalam pelaksanaan internalisasi nilai-nilai akhlak islami yaitu dengan pembinaan ibadah yang merupakan wujud pembekalan spiritual siswa dengan kegiatannya adalah melakukan sholat berjama’ah, melakukan sholat sunnah (sholat dhuha, sholat rowatib).Kata Kunci : Pendidikan Agama, Pembinaan Akhlak, Peran Guru, Peran Orang tua
PENGARUH MOTIVASI BERPRESTASI, KREATIVITAS, INOVASI DAN SISTEM PENGHARGAAN TERHADAP KEPUASAN KERJA GURU RA DI KECAMATAN JATIWANGI KABUPATEN MAJALENGKA KOSMAJADI, E
Al-Akhbar Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Al-Akhbar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Guru merupakan profesi yang sangat mulia dalam agama islam. Seorang Guru dituntut untuk dapat mendidik, membimbing, mengawasi, mengevaluasi dan mamberi motivasi belajar pada anak didik serta memberi pengarahan dalam mengeksflor daya imajinasi dan keterampilannya, agar anak menjadi manusia cerdas, kreatif dan penuh inovatif sesuai dengan orang tua pada umumnya. Semua orang tua berharap pada guru agar anaknya selalu berhasil dan pintar dalam segala hal, selalu menganggap bahwa hanya guru yang dapat mendidiknya. Fokus penelitian ini difokuskan pada guru RA di Kecamatan Jatiwangi Kabupaten Majalengka dengan kajian pada aspek motivasi berprestasi, kreativitas, inovasi, sistem penghargaan dan kepuasan kerja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif karena data penelitian yang diperoleh menggunakan angka-angka dan analisisnya menggunakan statistik. Pada pendekatan kuantitatif yang digunakan untuk penelitian adalah populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrument penelitian, analisa data bersifat kuantitatif atau statistik yang bertujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan Motivasi berprestasi secara deskriptif berada pada kategori kurang baik menuju sangat baik. Kreativitas guru secara deskriptif berada pada kategori kurang baik menuju sangat baik. Inovasi guru secara deskriptif berada pada kategori kurang baik menuju sangat baik.  Sistem penghargaan secara deskriptif berada pada kategori kurang baik menuju sangat baik. Kepuasan kerja guru secara deskriptif berada pada kategori kurang baik menuju sangat baik. Pengaruh secara bersama-sama antara motivasi berprestasi, kreativitas, inovasi dan sistem penghargaan terhadap kepuasan kerja guru sebesar 86,40%. Pengaruh motivasi berprestasi terhadap kepuasan kerja sebesar 23,501%. Pengaruh kreativitas terhadap kepuasan kerja sebesar 6,252%.  Pengaruh inovasi terhadap kepuasan kerja sebesar  23,665%. Pengaruh sistem penghargaan terhadap kepuasan kerja sebesar  33,073%.  Kata kunci : motivasi berprestasi, kreativitas, inovasi, sistem penghargaan dan kepuasan kerja
EFEKTIVITAS PELAKSANAAN EKSTRAKURIKULER KEAGAMAAN DALAM MEMBENTUK MOTIVASI DAN MORALITAS SISWA DI MADRASAH ALIYAH NEGERI RAJAGALUH KABUPATEN MAJALENGKA Rakhmat, Muhamad
Al-Akhbar Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Al-Akhbar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan Pendidikan Agama Islam adalah usaha mempersiapkan manusia yang menghambakan dirinya kepada Allah. Pada hakikatnya tujaun umum pendidikan Islam adalah terbentuknya manusia yang sempurna (insan kamil) yaitu manusia yang beribadah kepada Allah.Keluhan masyarakat dan problematika yang diungkapkan diatas bahwasanya pendidikan Agama Islam itu sendiri belum mampu mengantarkan peserta didik untuk dapat memahami dan mengamalkan ajaran agamanya dengan baik dan benar, tidak sedikit anak yang belum bisa membaca dan menulis Al-Qur’an, belum melakukan shalat dengan tertib, belum berpuasa Ramadhan, sering terjadi kenakalan pada usia sekolah. Sebenarnya kehidupan agama berkembang lebih baik, tetapi gejala negative dimasyarakat juga semakin memprihatinkan. Ekstrakurikuler keagamaan perlu digalakkkan secara terus-menerus dan menuntut partisipasi serta tanggung jawab dari semua pihak. hal ini dikandung maksud agar semua aktivitas keagamaan berjalan dengan baik tanpa ada hambatan. Berbagai pembinaan dilakukan untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran dengan harapan walaupun bukan dalam bentuk mata pelajaran PAI, namun eksistensinya dalah untuk mendukung dan mencapai tujuan pendidikan islam. Keberhasilan siswa dalam kegiatan ekstrakulikuler tergantung pada motivasi yang kuat yang berasal dari dalam diri maupun dari luar dirinya serta moralitas yang baik dari siswanya untuk berprilaku yang sesuai dengan norma dan aturan. Pelaksanaan program ekstrakurikuler keagamaan di MAN Rajagaluh Kabupaten Majalengka dilaksanakan rutin setiap hari dan disesuaikan dengan jadwal kegiatan itu sendiri dengan tersetruktur. Program ekstrakurikuler keagamaan rutinan setiap hari ini wajib dilaksanakan oleh seluruh warga madrasah, mulai dari siswa-siswi, para guru dan staf karyawan serta kepala sekolah. Tanggung jawab atas program ekstrakurikuler keagamaan di MAN Rajagaluh Kabupaten Majalengka menjadi tanggung jawab bersama, untuk seluruh warga madrasah bukan hanya tanggung jawab kepala sekolah dan guru PAI saja, untuk guru pada disiplin ilmu yang lain ikut pula berpartisipasi dalam pelaksanaan program ekstrakurikuler keagamaan untuk mendidik, mengarahkan, serta membimbing para siswanya.Kata Kunci : Efektivitas, Ekstrakulikuler, Motivasi, Moralitas

Page 1 of 1 | Total Record : 7