cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Buletin Anatomi dan Fisiologi (Bulletin of Anatomy and Physiology)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 25276751     EISSN : 25410083     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 254 Documents
Peningkatan Pertumbuhan Tajuk dan Nilai Estetika Tanaman Hias Epipremnum aureum pada Aplikasi Sitokinin Sintetik (6-benzylaminopurine) Saptiningsih, Endang; Putri, Marieshafa Salsabila; Suedy, Sri Widodo Agung
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 10, Nomor 1, Tahun 2025
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.10.1.2025.81-91

Abstract

Kualitas tanaman hias daun ditentukan oleh pertumbuhan dan nilai estetika tajuk.  Hormon sitokinin berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produktivitas tajuk. Penelitian ini mengkaji respon pertumbuhan tajuk, morfologis daun dan nilai estetika tanaman hias Epipremnum aureum terhadap berbagai konsentrasi hormon sitokinin sintetis (6-benzylaminopurine /BAP). Aplikasi BAP dengan konsentrasi 0, 5, 25 dan 125 ppm diberikan melalui metode spray pada daun stek E. aureum umur 3 MST. Pemberian BAP dilakukan satu kali dalam seminggu hingga tanaman berumur 6 MST, selanjutnya diberikan dua hari sekali hingga penelitian berakhir pada 9 MST. Respon tanaman diamati pada umur 9 MST meliputi: respon pertumbuhan (jumlah dan luas daun, panjang batang, berat segar daun, berat segar batang), morfologis daun (warna dan indeks warna daun), dan nilai estetika (corak daun). Hasil penelitian menunjukkan aplikasi BAP 5 ppm, 25 ppm dan 125 ppm meningkatkan pertumbuhan tajuk dibanding kontrol. Peningkatan konsentrasi BAP hingga kisaran 80-100 ppm meningkatkan pertumbuhan tajuk, namun konsentrasi di atas 100 ppm menunjukkan kecenderungan penurunan pertumbuhan. Secara morfologis, peningkatan konsentrasi BAP meningkatkan warna hijau dan indeks warna daun serta pembentukan corak daun, terutama pada konsentrasi BAP 125 ppm. Daun menunjukkan warna hijau yang lebih intens dan corak semburat kekuningan yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya.  Konsentrasi BAP yang optimal untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman ditemukan pada kisaran 80-100 ppm. Secara keseluruhan, aplikasi BAP meningkatkan pertumbuhan tajuk dan memperbaiki kualitas estetika daun tanaman E. aureum. The growth and aesthetic value of the shoot determine the quality of ornamental foliage plants. Cytokinin hormones influence the growth and productivity of the shoot. This study examines the response of canopy growth, leaf morphology, and the aesthetic value of the ornamental plant Epipremnum aureum to various concentrations of synthetic cytokinin hormone (6-benzylaminopurine/BAP). BAP application at concentrations of 0, 5, 25, and 125 ppm was applied through a spray method to the leaves of 3-month-old E. aureum cuttings. BAP was used once a week until the plants were 6 months old, then twice every two days until the study ended at 9 months. The plant responses were observed at 9 months of age, including growth responses (number and size of leaves, stem length, fresh leaf weight, and fresh stem weight), leaf morphology (color and leaf color index), and aesthetic value (leaf patterns). The results showed that applying BAP at 5 ppm, 25 ppm, and 125 ppm increased canopy growth compared to the control. Increasing the BAP concentration to 80-100 ppm enhanced canopy growth, but concentrations above 100 ppm tended to decrease growth. Morphologically, increasing BAP concentrations improved the green color and leaf color index and the formation of leaf patterns, especially at the 125 ppm concentration. The leaves showed a more intense green color and higher yellowish patterns than the other treatments. The optimal BAP concentration for improving plant growth was 80-100 ppm. Overall, the BAP application enhanced canopy growth and improved the aesthetic quality of E. aureum leaf plants.
Mikroanatomi Ginjal Tikus Putih (Rattus norvegicus L.) Galur Sprague-Dawley Hiperlipidemia setelah Pemberian Ekstrak Etanol Biji Mahoni (Swietenia mahagoni L. Jacq) Khairunnisa, Najla Athallah; Isdadiyanto, Sri; Sitasiwi, Agung Janika
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 10, Nomor 1, Tahun 2025
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.10.1.2025.38-47

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui mikroanatomi ginjal tikus putih (Rattus norvegicus L.) galur Sprague-Dawley hiperlipidemia setelah pemberian ekstrak etanol biji mahoni (Swietenia mahagoni L. Jacq) terhadap. Model hewan hiperlipidemia dikondisikan dengan diberi perlakuan pakan tinggi lemak. Metode yang digunakan adalah dengan memberi ekstrak etanol biji mahoni secara oral selama 4 minggu. Parameter pengamatan yaitu bobot ginjal, diameter glomerulus, tebal ruang kapsula bowman, diameter tubulus kontortus proksimal, tebal sel epitel tubulus kontortus proksimal, diameter tubulus kontortus distal dan tebal sel epitel tubulus kontortus distal. Data dianalisa menggunakan ANOVA dan uji Kruskal-Wallis. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian ekstrak etanol biji mahoni dengan konsentrasi 14mg/200gBB efektif dalam menurunkan diameter glomerulus, tebal ruang kapsula bowman dan diameter tubulus kontortus distal, konsentrasi 28mg/200gBB efektif menurunkan tebal sel epitel tubulus kontortus proksimal dan tebal sel epitel tubulus kontortus distal, konsentrasi 56mg/200gBB efektif dalam menurunkan bobot ginjal dan diameter tubulus kontortus proksimal. Kesimpulan dari penelitian ini, yaitu pemberian ekstrak etanol biji mahoni dosis 14 mg dan 28 mg dapat dikatakan memiliki potensi yang sama dengan obat simvastatin dengan dosis 8 mg dalam menekan efek hiperlipidemia dan mempertahankan mikroanatomi ginjal tikus putih hiperlipidemia.  The purpose of this study was to determine the microanatomy of the kidneys of white rats (Rattus norvegicus L.) of the Sprague-Dawley strain of hyperlipidemic after administration of ethanol extract of mahogany seeds (Swietenia mahagoni L. Jacq) against. The animal model of hyperlipidemia was conditioned by being given high-fat feed treatment. The method used was to give ethanol extract of mahogany seeds orally for 4 weeks. Observation parameters were kidney weight, glomerular diameter, thickness of Bowman's capsule space, diameter of proximal convoluted tubule, thickness of proximal convoluted tubule epithelial cells, diameter of distal convoluted tubule and thickness of distal convoluted tubule epithelial cells. Data were analyzed using ANOVA and the Kruskal-Wallis test. The results showed that the administration of mahogany seed ethanol extract with a concentration of 14 mg/200 gBW was effective in reducing glomerular diameter, Bowman's capsule space thickness and distal convoluted tubule diameter, a concentration of 28 mg/200 gBW was effective in reducing the thickness of proximal convoluted tubule epithelial cells and the thickness of distal convoluted tubule epithelial cells, a concentration of 56 mg/200 gBW was effective in reducing kidney weight and proximal convoluted tubule diameter. The conclusion of this study, namely the administration of mahogany seed ethanol extract at doses of 14 mg and 28 mg can be said to have the same potential as simvastatin with a dose of 8 mg in suppressing the effects of hyperlipidemia and maintaining the kidney microanatomy of hyperlipidemic white rats.
Teknologi Biopriming untuk Meningkatkan Perkecambahan dan Kolonisasi Mikroba Bermanfaat pada Benih Kelapa Sawit (Elaeis guineensis) Muhammad Luqman Hakim; Hakim, Muhammad Luqman; Noor, Putri Shania; Hidayat, Arif
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 10, Nomor 1, Tahun 2025
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.10.1.2025.91-101

Abstract

Biopriming merupakan teknik inovatif dalam meningkatkan daya kecambah dan kesehatan benih melalui kolonisasi mikroba menguntungkan. Penelitian ini mengevaluasi efek biopriming menggunakan konsorsium mikroba bermanfaat yang mengandung Bacillus sp., Pseudomonas sp., dan Rhizobium sp. terhadap perkecambahan dan dinamika mikroba pada benih kelapa sawit (Elaeis guineensis). Studi dilakukan menggunakan rancangan acak kelompok dua faktor dengan tiga jenis perendaman (formula NB, formula Effervescent, dan air sebagai kontrol) dan tiga varietas benih (Nirmala, Lestari, Sejahtera). Parameter yang diamati adalah populasi mikroba sebelum dan setelah benih berkecambah serta daya kecambah benih kelapa sawit. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan metode analisis varians (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa biopriming meningkatkan jumlah bakteri pemfiksasi nitrogen dan pelarut fosfat sebelum dan setelah perkecambahan, yang berdampak positif terhadap daya kecambah. Varietas Nirmala dan Lestari mengalami peningkatan daya kecambah yang signifikan, sedangkan varietas Sejahtera tidak menunjukkan perbedaan berarti. Penelitian ini menegaskan bahwa biopriming mikroba berpotensi diterapkan secara luas dalam produksi benih kelapa sawit, mendukung praktik pertanian berkelanjutan. Studi lanjutan diperlukan untuk mengoptimalkan formulasi mikroba dan mengevaluasi dampak jangka panjangnya pada produktivitas tanaman. Biopriming is an innovative technique to enhance seed germination and health by promoting beneficial microbial colonization. This study evaluates the effects of biopriming using a consortium of beneficial microbes containing Bacillus sp., Pseudomonas sp., and Rhizobium sp. on germination performance and microbial dynamics in oil palm (Elaeis guineensis) seeds. A randomized complete block design with a factorial approach was applied, involving three soaking treatments (NB formula, Effervescent formula and water as a control) and three seed varieties (Nirmala, Lestari, Sejahtera). The observed parameters were the microbial population before and after seed germination, as well as the germination rate of oil palm seeds. The data obtained were analyzed using the analysis of variance (ANOVA) method. The results indicate that biopriming significantly increased the abundance of nitrogen-fixing and phosphate-solubilizing bacteria before and after germination, positively impacting seed germination rates. Nirmala and Lestari varieties exhibited significant improvements in germination, whereas Sejahtera showed no substantial difference. This study confirms that microbial biopriming holds great potential for large-scale oil palm seed production, supporting sustainable agricultural practices. Further research is required to optimize microbial formulations and assess the long-term effects on plant productivity.
Peran Teknologi Nanopartikel Pada Budidaya, Produksi, dan Pemanfaatan Senyawa Tanaman Vanili (Vanilla planifolia) Rimanti, Audri Septina Putri; Djurubasa, Dani Karel Marthin; Kasmiyati, Sri; Kristiani, Elizabeth Betty Elok
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 10, Nomor 2, Tahun 2025
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.10.2.2025.102-111

Abstract

Aplikasi nanoteknologi, di dunia pertanian maupun kesehatan, kini semakin marak untuk dikembangkan. Vanilla planifolia atau tanaman vanili, yang merupakan penghasil senyawa vanilin, memiliki potensi pengaplikasian nanoteknologi. Peningkatan pertumbuhan tanaman dengan menggunakan teknologi nanofertilizer dan peningkatan senyawa metabolit sekunder vanilin dengan menggunakan teknologi nanoelisitor dapat memberikan hasil maksimal bagi panen tanaman vanili. Disisi lain, vanilin yang merupakan senyawa aktif pada tanaman vanili juga memiliki khasiat sebagai obat dan bahkan dapat dimanfaatkan dalam bidang kecantikan. Penelitian ini bertujuan untuk menggali peran nanoteknologi yang memiliki potensi pengaplikasiannya pada tanaman vanili, baik pada budidaya tanaman maupun pada pemanfaatan senyawa vanilin dalam bidang kesehatan dan kecantikan. Dari hasil yang didapatkan, nanoteknologi dalam bentuk nanofertilizer memiliki potensi besar dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman vanili serta dapat membantu tanaman dalam menghadapi cekaman biotik dan abiotik yang mengganggu pertumbuhannya. Nanoteknologi juga dapat diaplikasikan pada senyawa vanilin, dimana vanilin dalam bentuk nanopartikel berperan sebagai anti-inflamasi, anti-kanker, anti-oksidan, serta berperan sebagai senyawa pengikat alami yang mendukung penyembuhan luka. Kemampuan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai nanoteknologi dalam bidang kesehatan serta bidang kecantikan  Applications of nanotechnology, in the agriculture and health sector, are now increasingly being developed. Vanilla planifolia or vanilla plants, which are producers of vanillin compounds, have the potential for nanotechnology applications. Increasing plant growth using nanofertilizer technology and increasing vanillin secondary metabolite compounds using nanoelicitor technology can provide maximum yield for vanilla plant. On the other hand, vanillin, which is the active compound in the vanilla plant, also has medicinal properties and can even be used in the field of beauty. This research aims to explore the role of nanotechnology that has the potential for application in vanilla plants, both in plant cultivation and in the use of vanillin compounds in the field of health and beauty. From the results obtained, nanotechnology in the form of nanofertilizer has great potential in increasing the growth of vanilla plants and can help plants in dealing with biotic and abiotic stress that interferes with their growth. Nanotechnology can also be applied to vanillin compounds, where vanillin in the form of nanoparticles acts as an anti-inflammatory, anti-cancer, anti-oxidant, and also acts as a natural binding compound that supports wound healing. This ability can be used as nanotechnology in the health and beauty fields 
Kesintasan Motilitas dan Persistensi Spermatozoa dalam Vagina Tikus Kandidiasis Iswara, Raja Al Fath Widya
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 10, Nomor 2, Tahun 2025
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.10.2.2025.134-143

Abstract

Kandidiasis vagina dapat memengaruhi lingkungan mikro vagina sehingga berpotensi mengganggu fungsi spermatozoa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesintasan motilitas dan persistensi spermatozoa dalam vagina tikus kandidiasis. Penelitian eksperimental ini menggunakan dua kelompok tikus betina, yaitu kelompok normal dan kelompok dengan kandidiasis. Analisis kesintasan dilakukan menggunakan metode Kaplan–Meier, sedangkan perbedaan antar-kelompok diuji dengan uji log-rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna kesintasan motilitas spermatozoa antarkelompok (χ²=8,760; p=0,003). Pada kelompok kandidiasis, 50% spermatozoa kehilangan motilitas dalam 1 menit pertama, sedangkan pada kelompok normal terjadi pada 2 menit pertama. Analisis persistensi spermatozoa juga menunjukkan perbedaan yang signifikan (χ²=15,373; p<0,001). Pada kelompok kandidiasis, 50% spermatozoa tidak lagi ditemukan dalam vagina pada 2 hari pertama, sementara pada kelompok normal spermatozoa masih terdeteksi hingga 5 hari. Temuan ini menunjukkan bahwa kandidiasis vagina dapat menurunkan kesintasan motilitas dan persistensi spermatozoa, yang berimplikasi terhadap kemungkinan penurunan fertilitas.  Vaginal candidiasis can alter the vaginal microenvironment, potentially disrupting spermatozoa function. This study aimed to analyze the survival of spermatozoa motility and persistence in the vagina of rats with candidiasis. An experimental study was conducted using two groups of female rats: a normal group and a candidiasis group. Survival analysis was performed using the Kaplan–Meier method, and differences between groups were evaluated with the log-rank test. The results showed a significant difference in spermatozoa motility survival between groups (χ²=8.760; p=0.003). In the candidiasis group, 50% of spermatozoa lost motility within the first minute, while in the normal group, this occurred within the first 2 minutes. Persistence analysis also revealed a significant difference (χ²=15.373; p<0.001). In the candidiasis group, 50% of spermatozoa were no longer detected within the first 2 days, whereas in the normal group, spermatozoa were still observed up to 5 days. These findings indicate that vaginal candidiasis significantly reduces survival of spermatozoa motility and persistence, which may contribute to decreased fertility. 
Bobot Organ Visceral Pada Puyuh Betina (Coturnix coturnix japonica) Setelah Pemberian Tepung Daun Kelor (Moringa oleifera Lam.) Sebagai Aditif Pakan Khifdillah, Fadlan Wakhid; Sunarno, Sunarno; Djaelani, Muhammad Anwar; Kasiyati, Kasiyati
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 10, Nomor 2, Tahun 2025
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.10.2.2025.153-159

Abstract

Pelarangan penggunaan antibiotic growth promoter sebagai aditif pakan pada ternak memunculkan kebutuhan terhadap alternatif antibiotik yang lebih aman dan mudah didapat. Salah satu alternatif yang menjanjikan adalah kelor (Moringa oleifera Lam.). Daun kelor memiliki potensi sebagai antibiotik alami yang mampu mendukung kesehatan saluran pencernaan serta fungsi organ visceral. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis kinerja organ visceral setelah diberikan aditif pakan tepung daun kelor dengan berbagai konsentrasi. Sebanyak 30 ekor puyuh betina dibagi ke dalam lima kelompok perlakuan yang menerima imbuhan tepung daun kelor sebesar 0%, 2,5%, 5%, 7,5%, dan 10% dalam pakannya, masing-masing dengan enam ulangan. Puyuh diakhiri hidupnya pada umur 106 hari untuk kemudian dilakukan isolasi dan penimbangan terhadap organ visceralnya yang meliputi bobot proventrikulus, ventrikulus, intestinum, hepar, pankreas, dan jantung. Data dianalisis menggunakan uji ANOVA dengan taraf signifikansi 5%. Hasil menunjukkan bahwa suplementasi tepung daun kelor secara signifikan meningkatkan bobot pankreas, namun tidak menunjukkan perbedaan signifikan pada organ visceral lainnya. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan tepung daun kelor sebagai aditif pakan memberikan dampak positif terhadap peningkatan bobot organ pankreas, dan dapat mempertahankan bobot proventrikulus, ventrikulus, intestinum, hepar, dan jantung.  The ban on the use of antibiotic growth promoter as feed additives in livestock has created a need for safer and more accessible antibiotic alternatives. One promising alternative is moringa (Moringa oleifera Lam.). Moringa leaves have the potential to serve as natural antibiotics that support digestive health and the function of visceral organs. This study aimed to analyze the performance of visceral organs following the administration of moringa leaf powder as a feed additive at various concentrations. Thirty female quails were divided into five treatment groups that received 0%, 2.5%, 5%, 7.5%, and 10% moringa leaf powder in their feed, with six replications per group. The quails were culled at 106 days, and their visceral organs including proventriculus, ventriculus, intestines, liver, pancreas, and heart were isolated and weighed. Data were analyzed using ANOVA at a 5% significance level. The results showed that moringa leaf powder supplementation significantly increased pancreatic weight, but did not produce significant differences in the weight of the other visceral organs. It can be concluded that the use of moringa leaf powder as a feed additive has a positive impact on increasing pancreatic weight and helps maintain the weight of the proventriculus, ventriculus, intestines, liver, and heart.
Gambaran Histologi Aorta Tikus Putih (Rattus norvegicus L.) dengan Asupan Pakan Tinggi Lemak dan Pemberian Ekstrak Etanol Biji Mahoni (Swietenia mahagoni) Isdadiyanto, Sri; Mardiati, Siti Muflichatun; Budianto, Emilia Yosephine
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 10, Nomor 2, Tahun 2025
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.10.2.2025.160-169

Abstract

Mahoni mengandung beragam senyawa metabolit sekunder sebagai antioksidan serta mampu menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Kadar kolesterol dalam darah yang tinggi (hiperlipid) memicu terjadinya penyumbatan pada aorta (aterosklerosis). Tujuan penelitian ini adalah menganalisis gambaran histologi aorta hewan model hiperlipid dengan pemberian ekstrak etanol etanol biji mahoni (EEBM). EEBM diberikan secara peroral selama 32 hari. Sebanyak 30 ekor tikus jantan dibagi enam kelompok perlakuan, yaitu P0: kontrol pakan standar, P1: kontrol pakan tinggi lemak, P2: pakan tinggi lemak + simvastatin 8mg /200gBB, P3-P5: pakan tinggi lemak + EEBM 14, 28, 54 mg/200gBB berurutan. Parameter yang dianalisis meliputi tebal dinding, diameter lumen, dan gambaran histologi aorta. Hasil penelitian menunjukkan pemberian EEBM pada dosis 28 dan 54 mg/ekor menurunkan tebal dinding dan meningkatkan diameter lumen aorta secara berarti (p≤0,05) dibanding kontrol hiperlipid (P1), demikian juga gambaran histologi aorta yang tidak menunjukkan lesi aterosklerosis seperti kemunculan sel busa. Sehingga, disimpulkan biji mahoni mampu mencegah kerusakan akibat pakan tinggi lemak dan berpotensi sebagai alternatif pengobatan. Mahogany has variety of secondary metabolites as antioxidants and can lower blood cholesterol levels. High levels of cholesterol in the blood (hyperlipid) lead to blockage of the aorta (atherosclerosis). The purpose of this study was to analyzed the histological features of mahagony seeds ethanolic extract (MSEE) induction for animal models of hyperlipid. MSEE was administered orally for 32 days. Total 30 male rats were divided into 5 treatment groups, namely P0: standard feed control, P1: high-fat diet control, P2: high-fat diet + simvastatin 8 mg/200gBW, P3-P5: high-fat diet + MSEE 14, 28, 54 mg/200gBW respectively. Parameters analyzed included wall thickness, lumen diameter, and histological features of the aorta. The results showed that administration of EEBM at doses of 28 and 54 mg/200gBW reduced wall thickness and increased diameter of the aortic lumen significantly (p<0.05) compared to hyperlipid (P1), as well as aortic histology which did not show atherosclerotic lesions such as the appearance of foam cells. It concluded that mahogany seeds was able to prevent damage from high-fat diets and has the potential as an alternative treatment.  
Analisis Gambaran Sel Glomerulus Rattus norvegicus Melalui Proses Pencucian Setelah Fiksasi dengan NBF 10%, Bouin, dan Etanol 50% Selama Satu Minggu Maharani, Wulandari Putri; Djaelani, Muhammad Anwar; Tana, Silvana; Mardiati, Siti Muflichatun
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 10, Nomor 2, Tahun 2025
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.10.2.2025.112-123

Abstract

Fiksasi merupakan proses kimia yang menjadi tahap penting dalam pembuatan preparat jaringan hewan. Larutan fiksatif yang umum digunakan yaitu NBF 10%, bouin, dan etanol 50%. Organ yang digunakan pada penelitian ini adalah ren yang merupakan jaringan lunak. Penelitian ini bertujuan menganalisis gambaran glomerulus melalui proses pencucian setelah difiksasi dengan menggunakan  NBF 10%, bouin, dan etanol 50% selama satu minggu. Ren difiksasi dengan NBF 10%, bouin, dan etanol 50% selama satu minggu. Hasil menunjukkan berbeda nyata (P<0,05) pada ruang kapsula bowman, ukuran sel glomerulus dan ukuran inti sel glomerulus. Tampak kerusakan yang signifikan terhadap keutuhan glomerulus, bentuk sel glomerulus, bentuk inti sel glomerulus, warna sel glomerulus, dan warna inti sel glomerulus. Pada penelitian ini  dapat disimpulkan bahwa tahap pencucian setelah fiksasi dapat meminimalisir kerusakan preparat yang difiksasi selama satu minggu dengan NBF 10%. Fixation is a chemical process that is an important stage in the preparation of animal tissue preparations. Commonly used fixative solutions are 10% NBF, bouin, and 50% ethanol. The organ used in this study was the kidney, which is a soft tissue. This study aims to analyze the glomerular image through the washing process after being fixed using 10% NBF, bouin, and 50% ethanol for one week. The kidney was fixed with 10% NBF, bouin, and 50% ethanol for one week. The results showed significant differences (P<0.05) in bowman's capsule space, the size of the glomerular cells and the size of the glomerular cell nucleus.There was significant damage to the integrity of the glomerulus, the shape of the glomerular cells, the shape of the glomerular cell nucleus, the color of the glomerular cells, and the color of the glomerular cell nucleus. In this study, it can be concluded that the washing stage after fixation can minimize damage to preparations fixed for one week with 10% NBF.
Pengaruh Mikroplastik Polyethylene Terephthalate (PET) Terhadap Profil Eritrosit Tikus Betina Galur Wistar Pambudi, Destiana Dwiridhaningsih; Sitasiwi, Agung Janika; Ahmar, Rasyidah Fauziah
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 10, Nomor 2, Tahun 2025
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.10.2.2025.170-176

Abstract

Plastik merupakan salah satu bahan yang dapat terdegradasi menjadi mikroplastik dan berpotensi mengganggu sistem hematologi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa paparan mikroplastik menyebabkan penurunan jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, dan hematokrit. Penelitian mengenai efek toksik mikroplastik PET pada mamalia masih terbatas, sehingga penelitian ini perlu dilakukan untuk menganalisis pengaruh paparan mikroplastik PET terhadap jumlah eritrosit, hemoglobin, dan hematokrit tikus putih betina galur Wistar. Penelitian dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap menggunakan 20 ekor tikus putih betina Wistar yang dibagi dalam 4 kelompok perlakuan dengan 5 ulangan: P0 (kontrol), P1 (0,005 mg/2 mL/hari), P2 (0,05 mg/2 mL/hari), dan P3 (0,25 mg/2 mL/hari) secara oral selama 24 hari. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan nyata (P>0,05) antar kelompok perlakuan terhadap parameter hematologi. Nilai rata-rata parameter hematologi masih berada dalam kisaran normal. Paparan mikroplastik PET dengan dosis dan lama pemberian tersebut tidak berpotensi mengganggu proses hematopoiesis, sehingga jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, dan hematokrit tikus putih betina galur Wistar tetap normal. Kebaruan penelitian ini terletak pada penentuan dosis mikroplastik serta pengaruhnya terhadap sistem hematologi. Penelitian ini bermanfaat sebagai sumber informasi mengenai efek toksisitas mikroplastik pada parameter hematologi mamalia.   Plastic is a material that can degrade into microplastics and potentially disrupt the hematological system. Several studies have reported that microplastic exposure leads to a decrease in erythrocyte count, hemoglobin, and hematocrit levels. Research on the toxic effects of PET microplastics in mammals remains limited, making it necessary to analyze the impact of PET microplastic exposure on erythrocyte count, hemoglobin, and hematocrit of female Wistar rats. This study was conducted using a Completely Randomized Design (CRD) with 20 female Wistar rats divided into 4 treatment groups with 5 replications: P0 (control), P1 (0.005 mg/2 mL/day), P2 (0.05 mg/2 mL/day), and P3 (0.25 mg/2 mL/day) administered orally for 24 days. The results showed no significant difference (P>0.05) between treatment and control groups in hematological parameters. The average values of hematological parameters remained within the normal range. PET microplastic exposure at the tested doses and duration did not interfere with the hematopoiesis process, indicating that erythrocyte count, hemoglobin concentration, and hematocrit levels of female Wistar rats were maintained within normal limits. The novelty of this study lies in the extrapolation of microplastic dosages and their effects on the hematological system. This research provides useful insights into the toxicological impact of microplastics on mammalian hematology.
Pengaruh Pemberian Pakan Mi Tepung Biji Durian (Durio zibethinus Murr.) terhadap Mikroanatomi Testis Tikus Wistar (Rattus norvegicus Berkenhout) Tana, Silvana; Khairunisa, Salsabila Putri; Suprihatin, Teguh; Saraswati, Tyas Rini
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 10, Nomor 2, Tahun 2025
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.10.2.2025.124-133

Abstract

Limbah biji durian yang melimpah pada musim durian belum banyak dimanfaatkan. Biji durian mengandung karbohidrat yang tinggi dan berpotensi untuk diolah menjadi tepung yang dapat digunakan sebagai pengganti tepung terigu dalam pembuatan makanan berbahan dasar tepung seperti mi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian pakan dalam bentuk mi tepung biji durian terhadap struktur mikroanatomi testis tikus Wistar. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan hewan uji 30 ekor tikus Wistar jantan yang dibagi dalam 5 kelompok perlakuan dengan 6 ulangan. Parameter yang diamati meliputi bobot testis, diameter tubulus seminiferus, tebal lapisan epitel tubulus seminiferus, dan penilaian Johnsen untuk evaluasi spermatogenesis. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis varians (ANOVA) pada taraf kepercayaan 95%. Data kualitatif dianalisis menggunakan uji non-parametrik Kruskal-Wallis. Hasil analisis menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan (P>0.05) pada bobot testis, diameter tubulus seminiferus, tebal epitel seminiferus, serta skor Johnsen tubulus seminiferus. Kesimpulan penelitian ini adalah pemberian pakan dalam bentuk mi tepung biji durian tidak mempengaruhi struktur mikroanatomi testis tikus Wistar. The abundant durian seed waste during the durian season has not been widely utilized. Durian seeds contain high carbohydrates and have the potential to be processed into flour which can be used as a substitute for wheat flour in the manufacture of flour-based foods such as noodles. This study aimed to analyze the effect of feeding in the form of durian seed flour noodles on the microanatomical structure of the testes of Wistar rats. This study used a completely randomized design (CRD) with 30 male Wistar rats as experimental animals which were divided into 5 treatment groups with 6 replications. Parameters observed included testicular weight, diameter of seminiferous tubules, thickness of seminiferous tubule epithelium, and Johnsen's assessment for spermatogenesis evaluation. Research data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) at the 95% level of confidence. Qualitative data were analyzed using the Kruskal-Wallis non-parametric test. The results showed that there was non-significant difference (P>0.05) in testicular weight, seminiferous tubules diameter, seminiferous epithelium thickness, and Johnsen score of seminiferous tubules. The conclusion of this study was that feeding in the form of durian seed flour noodles did not affect the microanatomical structure of the testes of Wistar rats.