cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Media Medika Muda
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2018)" : 6 Documents clear
HUBUNGAN HEMOGLOBIN TERGLIKOSILASI (HbA1c) DENGAN RISIKO KARDIOVASKULAR PADA PASIEN DIABETES MELLITUS Hadian Widyatmojo; Lisyani B Suromo; Dwi Retnoningrum
Media Medika Muda Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.752 KB)

Abstract

Latar belakang: Diabetes Mellitus (DM) dengan kondisi hiperglikemik kronik dapat mengakibatkan gangguan sistem kardiovaskular dan peningkatan mortalitas. Hemoglobin terglikosilasi (HbA1c) merupakan salah satu parameter untuk pengendalian DM. Tujuan penelitian untuk membuktikan adanya hubungan antara kadar HbA1c serum dengan risiko kardiovaskular pada pasien DM.Metode: Penelitian belah lintang dilakukan pada 42 penderita DM yang dirawat di RSUP Dr. Kariadi Semarang periode Agustus – September 2017. Diagnosis DM didapatkan melalui rekam medis. Dilakukan pemeriksaan HbA1c dan dinilai faktor risiko yang terdapat pada rekam medis menggunakan skor interheart (IHR).Analisa statistik menggunakan uji korelasi Spearman.Hasil: Terdapat hubungan antara HbA1c dengan skor IHR dengan nilai r=0,887, p=0,001. Pasien dengan kategori risiko kardiovaskular tinggi memiliki nilai HbA1c dengan rerata 10,12 ± 2,29, skor kategori sedang 6,62 ± 1,67 dan skor kategori rendah 5,75 ± 0,78.Simpulan: Terdapat hubungan positif kuat antara HbA1c dengan risiko kardiovaskular pada pasien DM. Perlu dilakukan penelitian prospektif dengan sampel yang lebih besar.
HUBUNGAN KADAR KREATININ DENGAN FORMULA HUGE (HEMATOCRIT, UREA, GENDER) PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK Innike Priyanto; Imam Budiwiyono; Nyoman Suci W
Media Medika Muda Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.769 KB)

Abstract

Latar belakang: Chronic Renal Disease (CKD) atau Penyakit Ginjal Kronik (PGK) merupakan suatu proses yang mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif dan irreversibel. Kadar kreatinin serum sebesar 2,5mg/dl dapat menjadi indikasi kerusakan ginjal. Formula HUGE (Hematocrit, Urea, Gender), dinyatakan dengan nilai L, merupakan suatu metode yang secara langsung, mudah dibaca, dan murah untuk skrining PGK, dimana formula ini berdasarkan pada hematokrit pasien, kadar ureum plasma, dan jenis kelamin.Metode: Sebuah studi cross–sectional, menggunakan rekam medik pasien yang didiagnosis dengan penyakit ginjal kronik (PGK) di Rumah Sakit Dr. Kariadi Semarang, selama bulan Agustus 2017. Karakteristik data menggunakan uji normalitas Saphiro–Wilk. Data berdistribusi normal, analisis hubungan menggunakan uji korelasi Pearson, p<0,05 dinyatakan bermakna.Hasil: Sejumlah 34 pasien, laki-laki 18 orang (52,9%) dan perempuan 16 orang (47,1%)yang didiagnosis PGK diikutkan dalam penelitian. Rerata usia pasien 51,65±5,954 tahun, rerata kadar ureum 140,911±69,68 mg/dl, kadar kreatinin 8,35 (4,70–16,80)mg/dl, rerata kadar hematokrit 27,635 ± 4,85 %, rerata nilai L 12,572 ± 8,695. Uji korelasi Pearson kadar kreatinin dengan nilai L dinyatakan bermakna (p=0,007)Simpulan: Terdapat hubungan antara kadar kreatinin serum dengan nilai L (formula HUGE). Dibutuhkan penelitian lanjutan yang dapat membedakan nilai formula HUGE pada derajat keparahan PGK.HUBUNGAN KADAR KREATININDENGAN FORMULA HUGE (HEMATOCRIT, UREA, GENDER)PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK
HUBUNGAN KADAR HbA1c DENGAN PERSENTASE MONOSIT PADA OBESITAS Edward KSL; Purwanto AP; Imam BW
Media Medika Muda Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: HbA1c merupakan salah satu parameter yang dapat berguna dalam diagnosis diabetes melitus yang dapat terjadi pada keadaan obesitas. Monosit sebagai sel radang banyak diteliti dalam kaitannya dengan diabetes melitus dan obesitas. Perlu diketahui hubungan antara HbA1c dengan persentase monosit pada obesitas. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kadar HbA1c dengan persentase monosit pada obesitas.Metode: Penelitian belah lintang pada 30 mahasiswa kedokteran di laboratorium swasta kota Semarang pada bulan Maret–April 2017. Persentase monosit termasuk di dalam darah lengkap diperiksa dengan alat analiser hematologi Sysmex XS–800i, sedangkan HbA1c diperiksa menggunakan Hemocue HbA1c 501 System. Analisis data dilakukan menggunakan uji Spearman dengan signifikansi p<0,05.Hasil: Median kadar HbA1c sebesar 5,8 ± 0,23%. Hasil pemeriksaan leukosit responden yaitu jumlah leukosit yaitu 8,600 ± 339,77/µl, persentase limfosit 33 ± 1,19%, persentase neutrofil 56 ± 1,35%, dan persentase monosit sebesar 9,0 ± 0,26%. Hasil uji Spearman didapatkan nilai korelasi (r) sebesar 0,131 dengan p=0,489.Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara HBA1c dengan persentase monosit pada obesitas. Jumlah monosit meningkat dapat digunakan sebagai parameter monitoring dan evaluasi pada obesitas yang dapat berkembang ke arah diabetes melitus. Penelitian lebih lanjut dapat dilakukan pada populasi obesitas dengan usia yang lebih tua maupun parameter lainnya berkaitan dengan obesitas dan diabetes melitus. 
GAMBARAN RADIOLOGI NECROTIZING ENTEROCOLITIS DENGAN FOTO POLOS ABDOMEN PADA ASFIKSIA NEONATORUM DENGAN BERBAGAI USIA KEHAMILAN Yurida Binta Meutia; Eddy Sudijanto1; Muhammad Sholeh Kosim
Media Medika Muda Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.214 KB)

Abstract

Latar belakang: Asfiksia neonatorum akan menyebabkan hipoksia dan iskemia yang dapat mengakibatkan kelainan gastrointestinal berupa Necrotizing enterocolitis (NEC) atau enterokolitis nekrotikans (EKN) yang merupakan manifestasi yang paling sering  dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Meskipun lebih sering terjadi pada bayi prematur, akan tetapi juga didapatkan pada bayi aterm dan prematur lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan hubungan usia kehamilan dengan NEC pada asfiksia berdasarkan pemeriksaan foto polos abdomenMetode: Desain penelitian ini adalah cross sectional retrospektip. Penelitian di RSUP Dr. Kariadi. Data diambil dari Catatan medis dan dokumentasi gambar radiologi. Subjek adalah neonatus aterm dan prematur yang memenuhi kriteria inklusi yang dirawat pada periode 1 Januari 2010 – 31 Desember 2012. Diteliti tentang gambaran klinis dan radiologis. Diagnosis gambaran radiologik ditentukan berdasarkan kesepakatan dua observer (dengan KAPPA test hasil nya: 93,80%).Usia gestasi dan gejala klinis berdasarkan yang tertulis di dalam catatan medis. Analisis statistik yang digunakan adalah analisis deskriptip dan X2 test.Hasil: Subjek 78 neonatus terdiri aterm : 39 (50%), prematur : 39(50%).Gambaran radiologis yang menggambarkan adanya NEC pada ke dua kelompok ternyata tidak berbeda secara bermakna (p >0,05), kecuali gambaran pneumotosis intestinalis (p=0,016). Gambaran radiologi berturut turut paling banyak adalah meteorismus, normal, pneumatosis intestinalis dan pneumoperitonium. Gambaran klinis tidak berhubungan dengan gambaran radiologi pada ke dua kelompok (p>0,05)  Simpulan: Bayi aterm dan prematur yang mengalami asfiksia mepunyai gambaran radiologis NEC yang sama berdasarkan pemeriksaan radiologis  foto polos abdomen. Tidak terdapat hubungan bermakna antara hubungan gambaran klinis dan gambaran radiologiNEC
HUBUNGAN KADAR THYROID STIMULATING HORMONE DENGAN PARAMETER ERITROSIT Emi Setianingsih; Meita Hendrianingtyas; Dwi Retnoningrum
Media Medika Muda Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.706 KB)

Abstract

Latar belakang: Anemia merupakan manifestasi klinis yang sering dijumpai pada pasien Penyakit Ginjal Kronik (PGK) dengan hemodialisis. Penyebab utama anemia pada PGK adalah defisiensi dari eritropoetin (EPO) yang diproduksi di ginjal. Penurunan kadar EPO menyebabkan gangguan eritropoiesis, sehingga produksi eritrosit menurun. Kondisi kronis pada PGK sering dihubungkan dengan penyakit komorbid pada beberapa organ, diantaranya disfungsi tiroid. Disfungsi hormon tiroid juga dapat mempengaruhi parameter eritrosit yang meliputi MCV, MCH, MCHC, dan RDW. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan TSH dan parameter eritrosit pada penyakit ginjal kronik dengan hemodialisis.Metode: Penelitian belah lintang pada 30 pasien PGK dengan hemodialisis di RSUP Dr. Kariadi Semarang selama Agustus – September 2017. Pemeriksaan Parameter eritrosit (MCV, MCH, dan MCHC dan RDW) dengan hematology analyzer. TSH diperiksa dengan metoda ELISA. Uji analisis dengan Korelasi Spearman.Hasil: Terdapat peningkatan kadar TSH pada 6 (20%) pasien PGK dengan hemodialisis. Tidak terdapat hubungan antara TSH dengan MCV (p=0,927), MCH (p=0,958), MCHC (p=0,990) dan RDW (p=0,645). Variasi pada penelitian ini mungkin disebabkan oleh terapi, diet pasien sebelum pemeriksaan.Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara TSH dengan parameter Eritrosit dan RDW pada penelitian ini. Diperlukan penelitian lebih lanjut dengan mempertimbangkan diet dan terapi pasien.
HUBUNGAN ANTARA RED BLOOD CELL DISTRIBUTION WIDTH DAN INDEK TROMBOSIT DENGAN FUNGSI GINJAL PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 Erwin Farida; Herniah AW; Nyoman Suci W
Media Medika Muda Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Red blood cell Distribution Width (RDW) mencerminkan proses patologis mendasari stres oksidatif, inflamasi kronis dan disfungsi endotel. Peningkatan aktivitas trombosit merangsang pelepasan prothrombotik dan proinflamasi pasien DM tipe 2 (DM2) dan perubahan morfologi trombosit berhubungan dengan peningkatan risiko komplikasi mikrovaskuler. Nefropati diabetik merupakan komplikasi mikrovaskuler DM2 dan didefinisikan sebagai penurunan progresif laju filtrasi glomerolus (LFG).Metode: Metode penelitian belah lintang sekunder dari rekam medik bulan Januari sampai September 2017 di RSUP Dr.Kariadi, Semarang. Jumlah sampel 30 pasien. RDW, jumlah trombosit dan MPV diperiksa menggunakan Sysmex XN–1000 dan kadar ureum, kreatinin dengan alat ADVIA–1800. LFG dihitung dengan rumus Cockroft–Gault. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil: Terdapat korelasi negatif sedang antara RDW dan LFG (p=0,002, r=-0,533) sedangkan jumlah trombosit dan MPV tidak memiliki hubungan bermakna (p>0,05). Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya bahwa meskipun mekanisme terjadinya peningkatan RDW belum sepenuhnya diketahui namun diduga berhubungan dengan stres oksidatif dalam patogenesis kerusakan fungsi ginjal pada DM2.Simpulan: Peningkatan RDW berkorelasi sedang terhadap penurunan LFG yang mencerminkan gangguan fungsi ginjal pada pasien DM2 sedangkan indek trombosit diantaranya jumlah trombosit dan MPV tidak memiliki hubungan yang signifikan. Peningkatan RDW perlu diperhatikan sebagai deteksi komplikasi kronis mikrovaskuler pada pasien DM2.

Page 1 of 1 | Total Record : 6