cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Media Medika Muda
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 4 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 3 (2018)" : 4 Documents clear
MANAJEMEN TERAPI GANGGUAN PERILAKU PADA DEMENSIA Natalia Dewi Wardani
Media Medika Muda Vol 3, No 3 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.863 KB)

Abstract

Latar belakang: Demensia merupakan kondisi hilangnya fungsi kognitif seseorang yang berrsifat progresif dan sering menimbulkan perilaku sulit pada individu tersebut. Perilaku sulit sering ditemukan pada Dementia sedang hingga berat dan bisa menyebabkan stress pada pasien dan caregiver. Perilaku sulit pada Demensia sering disebut Behavioral and Psychological Symptom on Dementia (BPSD). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui manajemen terapi farmakoterapi dan non farmakoterapi yang efektif untuk perilaku sulit pada BPSD.Metode: Dilakukan pencarian literatur dengan kata kunci BPSD AND PARANOID AND HALOPERIDOL AND OLANZAPINEmelalui Medscape didapatkan tiga artikel yang sesuai.Hasil: Clozapine, Risperidon, Olanzapin dan Quetiapin direkomendasikan sebagai lini pertama terapi dibandingkan antipsikotik konvensional. Haloperidol sebagai antipsikotik konvensional memiliki efek samping lebih banyak sehingga perlu dipertimbangkan pemakaiannya.Simpulan: Dalam literatur yang ditemukan disebutkan manifestasi BPSD bisa bermacam-macam seperti gejala perilaku, afektif, psikotik dan juga somatik. Terapi komprehensif meliputi terapi farmakologi dan non farmakologi sebaiknya diberikan pada pasien Demensia.
PERBEDAAN ANTARA EKSPRESI TUMOR ACTIVATING MACROPHAGE (TAM/CD68) DAN TUMOR SUPRESSOR GENE (P16) PADA KARSINOMA SEL SKUAMOSA SERVIKS UTERI YANG RESIDIF DAN TIDAK RESIDIF DI RSUP Dr. KARIADI SEMARANG Ira Citra Ningrom; Dik Puspasari; Indra Wijaya; Vega Karlowee; Meira Dewi; Siti Amarwati
Media Medika Muda Vol 3, No 3 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.629 KB)

Abstract

Latar belakang: Karsinoma serviks uteri merupakan karsinoma tersering pada wanita di dunia. Dengan dengan 580.000 kasus baru pada tahun 2012, dan Karsinoma Sel Skuamosa merupakan jenis yang tersering dijumpai. Beberapa jurnal penelitian mengatakan bahwa CD68 mempunyai peran penting pada inveksi HPV dan peningkatan jumlah CD68 berhubungan erat dengan transformasi keganasan pada cerviks.4 P16 merupakan telah terbukti sangat diekspresikan dalam mengubah infeksi dengan jenis HPV onkogenik.5 Oleh karena itu perlu dikaji lebih lanjut mengenai kapabilitas jumlah makrofag dan peranan P16 yang dinilai dengan pemerikaan IHC untuk memprediksi prognosis pasien dengan karsinoma serviks. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya perbedaan ekspresi CD68 dan P16 pada Karsinoma sel skuamosa serviks uteri yang residif dan tidak residif di RSUP Dr. Kariadi Semarang.Metode: Terdapat 30 sampel kasus karsinoma sel skuamosa serviks uteri di laboratorium RSUP Dr. Kariadi, tahun 2015–2017. Sampel diambil dengan metode consecutive sampling, dibagi menjadi 2 grup berdasarkan residif dan tidak residif, kemudian dilakukan pengecatan imunohistokimia menggunakan antibodi CD68 dan P16 lalu dihitung persentasinya. Perbedaan setiap variabel akan dianalisa secara statistik.Hasil:terdapat perbedaan bermakna antara hasil pemeriksaan CD68 di antara kelompok karsinoma sel skuamosa yang residif dan tidak residif (p<0,05). Terdapat perbedaan yang tidak bermakna antara hasil pemeriksaan p16 di antara 2 kelompok tersebut (p>0,05).Simpulan: Ekspresi CD68 lebih tinggi secara bermakna pada karsinoma sel suamosa yang residif dibandingkan dengan yang tidak residif. Ekspresi p16 lebih tinggi namun tidak bermakna, pada karsinoma sel skuamosa servik uteri yang residif dibandingkan dengan yang tidak residif.
KORELASI ANTARA KADAR TNF-α PLASMA DENGAN NILAI KETEBALAN INTIMA MEDIA (KIM) ARTERI KAROTIS PADA PASIEN LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK (LES) Hesti Triwahyu Hutami; Rahmayanti Hellmi; Bantar Suntoko; Suyanto Hadi; Charles Limantoro
Media Medika Muda Vol 3, No 3 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.452 KB)

Abstract

Latar belakang: Komplikasi dan mortalitas jangka panjang Lupus Eritematosus Sistemik (LES) berkaitan dengan penyakit vaskular dan aterosklerosis. Aterosklerosis secara klinis didahului dengan perubahan dinding arteri, yang disebut sebagai ketebalan intima media (KIM) dan pembentukan plak. KIM dapat diukur dengan menggunakan B-mode ultrasonography arteri karotis. Aterosklerosis merupakan prosen inflamasi yang dipengaruhi oleh sitokin inflamasi diantaranya TNF-α. Peran TNF-α cukup penting dalam penyakit LES, sehingga perlu dicari korelasi antara kadar TNF-α plasma dengan KIM arteri karotis pasien LES. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya korelasi antara kadar TNF-α plasma dengan KIM arteri karotis pasien LES di RSUP Dr. Kariadi Semarang.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional. Subyek penelitian sebesar 32 orang, terdiri dari perempuan usia ≥18 tahun.Uji statistik dengan menggunakan uji beda t-test tidak berpasangan dan uji korelasi Rank Spearman. Selanjutnya ditentukan cut-of point kadar TNF-α plasma terhadap nilai KIM arteri karotis pasien LES.Hasil: Dari semua subyek penelitian, didapatkan 20 orang (62,50%) mempunyai nilai KIM tebal. Tidak terdapat perbedaan kadar TNF- α plasma pada subjek pasien LES dengan nilai KIM tebal dan tidak tebal (p=0,405, 95%CI -2,34 s.d. .5,64). Tidak didapatkan korelasi bermakna antara kadar TNF-α plasma dengan nilai KIM arteri karotis pasien LES (p=0,075 ; r = -0,319). Subjek dengan kadar TNF-α plasma tinggi, didapatkan nilai KIM yang tebal sebanding dengan subjek dengan kadar TNF-α yang tidak tinggi (31,25% vs 31,25%). Tidak didapatkan nilai cut-of point kadar TNF-α plasma terhadap nilai KIM arteri karotis pasien LES.Simpulan: Tidak terdapat perbedaan kadar TNF-α plasma pada subjek pasien LES dengan nilai KIM tebal dan tidak tebal Tidak didapatkan korelasi bermakna antara kadar TNF-α plasma dengan KIM arteri karotis pasien LES. Tidak didapatkan nilai cut-of point kadar TNF-α plasma terhadap nilai KIM arteri karotis pasien LES.
EKSPRESI WT1 DAN P16 PADA KARSINOMA SEROSUM DERAJAT TINGGI DAN KARSINOMA ENDOMETRIOID DERAJAT TINGGI PADA OVARIUM DI RS Dr. KARIADI SEMARANG, PERIODE 2015–2017 Djamila Zakaria; Udadi Sadhana; Devia Eka
Media Medika Muda Vol 3, No 3 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.683 KB)

Abstract

Latar belakang: Karsinoma serosum derajat tinggi dan karsinoma endometrioid derajat tinggi pada ovarium adalah keganasan epithelial terbanyak dan yang kedua terbanyak pada ovarium, yang sering terdeteksi pada tahap lanjut dengan prognosis yang buruk. Secara histopatologi sulit untuk membedakan kedua keganasan ini. Ekspresi WT1 dan p16 dapat digunakan untuk membedakan kedua keganasan ini.Metode: Penelitian analitik deskriptif dengan desain belah lintang. Sampel sebanyak 30 sampel blok paraffin yang telah didiagnosis sebagai karsinoma ovarium tahun 2015–2017 di laboratorium Patologi Anatomi RSUP Dr. Kariadi, yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu karsinoma serosum derajat tinggi sebanyak 18 sampel dan karsinoma endometrioid derajat tinggi sebanyak 12 sampel, dan dilakukan pengecatan imunohistokimia antibodi monoklonal WT1 dan p16, kemudian dianalisis dengan uji Mann-Whitney.Hasil: Ekspresi WT1 pada karsinoma serosum derajat tinggi dan karsinoma endometrioid derajat tinggi pada ovarium tidak bermakna (p=0,513). Ekspresi p16 pada karsinoma serosum derajat tinggi dan karsinoma endometrioid derajat tinggi pada ovarium tidak bermakna (p=0,356).Simpulan: Terdapat perbedaan yang tidak bermakna antara Ekspresi WT1 dan p16 pada karsinoma serosum derajat tinggi dan karsinoma endometrioid derajat tinggi pada ovarium

Page 1 of 1 | Total Record : 4