cover
Contact Name
Ilham
Contact Email
Ilham.fishaholic@gmail.com
Phone
+6221-64700928
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Gedung Balibang KP II, Lantai 2 Jl. Pasir Putih II, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430
Location
Kab. jembrana,
Bali
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : http://doi.org/10.15578/JRA
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019)" : 7 Documents clear
KEMAMPUAN Bacillus subtilis VITNJ1 DARI SALURAN PENCERNAAN IKAN NILA DALAM MEMPRODUKSI ENZIM PROTEASE Yusra Yusra; Yempita Efendi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.738 KB) | DOI: 10.15578/jra.14.2.2019.87-93

Abstract

Bacillus subtilis strain VITNJ1 merupakan bakteri potensial yang berasal dari saluran pencernaan ikan nila (Oreochromis niloticus). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aktivitas enzim protease dari bakteri Bacillus subtilis strain VITNJ1. Metode yang digunakan adalah eksperimental, data dianalisa secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan B. subtilis strain VITNJ1 memiliki kemampuan produksi enzim protease yang diukur dari indeks proteolitiknya yakni sebesar 26 mm. Waktu inkubasi optimum enzim protease bakteri B. subtilis strain VITNJ1 dicapai pada jam ke-54 dengan aktivitas enzim protease sebesar 9,10 U/mL; kadar protein 110,64 mg/mL; dan aktivitas spesifik sebesar 0,082 U/mg; dan diharapkan dapat dijadikan sebagai probiotik untuk budidaya ikan nila.Bacillus subtilis strain VITNJ1 is a potential bacterium derived from nile tilapia’s (Oreochromis niloticus) digestive tract and known to have proteolytic activity. This research aimed to determine the protease activity of B. subtilis strain VITNJ1 bacterium. The method used were experimental design, the data were analyzed in quantitative descriptive. The research result confirms that B. subtilis strain VITNJ1 can produce protease. The proteolytic activity was 26 mm. The optimum incubation period of B. subtilis strain VITNJ1 was obtained at hour-54 with the proteolytic enzyme activity of 9.10 U/mL, the protein concentration of 110.64 mg/mL, and the specific activity of 0.082 U/mg. This research suggests that the bacteria strain could be used as an alternative probiotic bacterium in nile tilapia farming.
PEMBERIAN VAKSIN DNA ANTI-KHV IKAN MAS DENGAN DOSIS BERBEDA TERHADAP BENIH IKAN KOI Eni Kusrini; Sri Nuryati; Siti Zubaidah; Lili Sholihah
Jurnal Riset Akuakultur Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (31.744 KB) | DOI: 10.15578/jra.14.2.2019.95-108

Abstract

Salah satu upaya penanggulangan wabah koi herpes virus (KHV) yang biasa menyerang ikan koi dan ikan mas adalah dengan pemberian vaksin DNA. Vaksin DNA dapat merangsang kekebalan spesifik dan kekebalan yang ditimbulkan relatif tinggi, serta aman digunakan. Penelitian ini bertujuan menguji beberapa dosis vaksin DNA terhadap benih ikan koi sehingga didapatkan dosis yang tepat yang dapat memberikan RPS (relative percent survival) dan imunitas terbaik. Perlakuan yang diberikan adalah vaksinasi dengan dosis berbeda melalui teknik injeksi secara intra muskular, yaitu perlakuan A (7,5 µg/100 µL), B (10 µg/100 µL), C (12,5 µg/100 µL), serta kontrol positif (ikan tidak divaksinasi tetapi diuji tantang) dan kontrol negatif (ikan tidak divaksinasi dan tidak diuji tantang). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian vaksin dengan dosis berbeda mampu meningkatkan sintasan pada ikan koi, serta vaksin DNA dengan dosis 12,5 µg/100 µL mampu memberikan nilai sintasan ikan koi yang diinfeksi KHV sebesar 97,22% dan memberikan nilai RPS sebesar 95,83 ± 0,58%; serta memberikan gambaran sistem imun terbaik dibandingkan perlakuan lainnya.One of the alternatives to deal with the koi herpesvirus (KHV) infections in koi fish and common carp is through the use of DNA vaccine. DNA vaccines can stimulate a high level of specific immune responses and induced immunity and are relatively safe to be used. This research was aimed to determine the effective dose of DNA vaccine for the best relative percent survival (RPS) and immunity. The treatments consisted of different vaccine doses administered through intramuscular injection: treatment A (7.5 mg/100 mL), B (10 mg/100 mL), C (12.5 mg/100 mL), and the positive control (non-vaccinated fish but challenged by KHV test) and negative control (non-vaccinated fish and not challenged by KHV test). The results showed that the administration of the vaccine with different doses had increased the survival of koi fish across all treatments (excluding positive and negative controls). Vaccine dose of 12.5 mg/100 mL was considered as the best vaccine dose. The vaccine dose had produced the best survival value of 97.22% and resulted in the highest RPS values of 95.83 ± 0.58%. DNA vaccine is expected to be the future vaccine.
ESTIMASI KEBUTUHAN KAPUR UNTUK TAMBAK TANAH SULFAT MASAM (TSM) DI PULAU LAUT KABUPATEN KOTA BARU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Tarunamulia Tarunamulia; Hasnawi Hasnawi; Admi Athirah
Jurnal Riset Akuakultur Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.738 KB) | DOI: 10.15578/jra.14.2.2019.109-117

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketersediaan dan kebutuhan kapur yang dapat diaplikasikan untuk mendukung upaya remediasi tambak tanah sulfat masam (TSM) di Pulau Laut, Kabupaten Kota Baru Provinsi Kalimantan Selatan. Untuk mengestimasi kebutuhan kapur, sebanyak 46 contoh tanah diambil dan dianalisis mengikuti metode acak bertingat (random stratified). Selain contoh tanah, juga dilakukan pengambilan tiga contoh untuk masing-masing jenis kapur komersial yang tersedia di lokasi studi. Sampel tanah dan kapur selanjutnya dibawa ke laboratorium tanah Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAP3), Maros untuk análisis lanjutan kandungan kimia fisika. Analisis kebutuhan kapur untuk menetralisir kemasaman tanah tambak dilakukan dengan mengombinasikan metode Boyd dan metode SPOCAS dengan parameter input berupa kualitas tanah dan kualitas kapur yang meliputi nilai netralisir (NV) and tingkat efisiensi (ER). Hasil analisis menunjukkan bahwa ketersediaan kapur di lokasi studi masih jauh dari cukup untuk tujuan menetralisasi kemasaman tanah dasar tambak. Berdasarkan nilai rata-rata tingkat kemasaman tanah 994 mol H+/ton didapatkan kebutuhan kapur untuk kedua tipe kapur dolomit “Dolo Natural” dan “Kaptan” bervariasi antara 1,2 hingga 28 ton/ha dengan kebutuhan kapur maksimum ditemukan berada di Kecamatan Pulau Laut Timur. Untuk mengurangi penggunaan kapur disarankan agar melakukan tahapan remediasi secara utuh yang meliputi pengeringan, perendaman, dan pembilasan tambak, sebelum pengapuran dilaksanakan.The study was carried out to determine the naturally available lime in and lime amount required to remediate acid sulfate soils affected brackishwater ponds (TSM) in Pulau Laut, Kota Baru Regency South Kalimantan Province. Lime requirements were determined by collecting 46 soil samples following a stratified random sampling method. In addition, three samples each from two locally available commercial lime materials were collected for physical and chemical properties analyses at the Soil Laboratory of the Research Institute for Coastal Aquaculture and Fisheries Extension (RICAFE). Lime requirements to neutralize ponds’ soil acidity were determined through a combined Boyd and SPOCAS methods with input parameters of soil quality as well as neutralizing values (NV) and efficiency rating (ER) of the liming materials. The results of the analyses indicated that the availability of lime materials in the study location was insufficient to neutralize the acidity of the pond bottom soil. Taking into account the average soil acidity level of 994 mol H+/tonnes, the required amount of lime varied from 1.2 to 28 tonnes/ha for both commercial dolomitic limestones “Dolo Natural” and “Kaptan”. The highest lime requirements was found in the TSM ponds of Pulau Laut Timur Regency. This research recommends that a complete remediation stage, including drying, submerging, and flushing of ponds before applying liming materials, can greatly minimize the required amount of lime.
PERBAIKAN KARAKTER PERTUMBUHAN IKAN MAS “MUSTIKA”MELALUI SELEKSI Didik Ariyanto; Yogi Himawan; Khairul Syahputra; Flandrianto Sih Palimirmo; Suharyanto Suharyanto
Jurnal Riset Akuakultur Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.738 KB) | DOI: 10.15578/jra.14.2.2019.71-76

Abstract

Seleksi ikan mas berdasarkan marka ketahanan terhadap penyakit (MHC-II) telah menghasilkan ikan mas “Mustika” sebagai ikan unggul tahan KHV (koi herpes virus). Adanya fenomena trade-off antar karakter menyebabkan laju pertumbuhan ikan mas Mustika relatif lebih rendah. Penelitian ini bertujuan memperbaiki performa ikan mas Mustika khususnya pada karakter pertumbuhan melalui seleksi. Pembentukan populasi F-1 hingga F-3 dilakukan menggunakan metode “back-cross”, yaitu betina F-0><jantan F-1, betina F-1><jantan F-2 dan betina F-2><jantan F-3. Evaluasi pertumbuhan populasi ikan mas Mustika dari F-1, F-2, dan F-3 dilakukan pada karamba jaring apung selama tiga bulan. Pada evaluasi penampilan fenotipik populasi F-3 ikan mas Mustika pada kegiatan budidaya, digunakan populasi ikan mas Majalaya dari unit pembenihan rakyat (UPR) sebagai populasi kontrol eksternal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai respons seleksi karakter bobot ikan mas Mustika F-1, F-2, dan F-3 secara berturut-turut sebesar 7,29%; 34,51%; dan 8,12%; sehingga total respons seleksi yang diperoleh sebesar 49,72%. Pada kegiatan budidaya, populasi ikan mas Mustika mempunyai pertumbuhan, bobot individu panen, biomassa panen, konversi rasio pakan, dan produktivitas lebih baik dibandingkan dengan populasi ikan mas Majalaya dari UPR, masing-masing sebesar 5,99%; 11,60%; 13,32%; 39,59%; dan 11,19%.Marker-assisted selection (MAS) using MHC-II has successfully formed “Mustika” as a resistant common carp strain against KHV. However, the trade-off among characters to form the KHV resistant carp strain has suppressed the growth trait of the species. This study was aimed to improve the growth character of Mustika common carp based on the selection of growth performance. The F-1, F-2, and F-3 populations were formed using the “walk-back” method by crossing females of F-0 ><males of F-1, females of F-1 ><males of F-2, and females of F-2 ><males of F-3. Growth evaluation of each generation was based on body weight gain during the three months experiment. The growth evaluation of the F-3 Majalaya strain from a local breeder (UPR) was used as the external control. The results showed that the response to the selection of F-1, F-2, and F-3 of Mustika common carp were 7.29%, 34.51%, and 8.12%, respectively, with a total response to selection of 49.72%. In culture condition, the Mustika common carp has a better specific growth rate, individual weight, biomass at harvest, food conversion ratio, and productivity than the Majalaya common carp of 5.99%, 11.60%, 13.32%, 39.59%, and 11.19%, respectively.
BIOAKUMULASI KADMIUM DAN MERKURI PADA KERANG HIJAU, SERTA ANALISIS MULTI MEDIUM RISIKO KESEHATAN DI KAWASAN PEMUKIMAN PESISIR Anna Rejeki Simbolon
Jurnal Riset Akuakultur Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.738 KB) | DOI: 10.15578/jra.14.2.2019.119-126

Abstract

Kadmium dan merkuri merupakan logam berat yang bersifat toksik dan umumnya terdapat dalam limbah antropogenik yang masuk keperairan dan terakumulasi dalam air, sedimen, dan biota dasar. Kerang hijau (Perna viridis) merupakan jenis kerang yang menjadi salah satu bahan pangan bagi masyarakat. Kandungan kadmium dan merkuri dalam air dan sedimen akan terakumulasi pada kerang hijau dan menjadi sumber media paparan bagi manusia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bioakumulasi logam kadmium dan merkuri di kerang hijau dan risiko kesehatan bagi masyarakat di kawasan pemukiman pesisir. Penelitian dilakukan dengan metode survei di tiga titik lokasi pengambilan sampel di kawasan pemukiman pesisir DKI Jakarta. Nilai bioakumulasi dihitung degan menggunakan rasio dari kadar logam di kerang hijau dan sedimen. Analisis multi medium risiko menggunakan analisis risiko yang dikembangkan oleh United States Environmental Protection Agency (US EPA). Total tingkat risiko nonkarsinogenik dinyatakan dalam hazard index (HI), dan risiko karsinogenik dinyatakan dalam cancer risk (CR). Hasil penelitian ini menunjukkan nilai bioakumulasi logam kadmium dan merkuri yang tidak berbeda secara signifikan, dan konsentrasi logam kadmium di kerang hijau berkorelasi positif dan berbeda nyata dengan konsentrasi logam kadmium disedimen; hal ini menunjukkan kemampuan kerang hijau dalam mengakumulasi logam kadmium. Selain itu, analisis risiko kesehatan menunjukan nilai HI>1 dan CR>10-4. Penelitian ini menyimpulkan adanya bio-akumulasi logam kadmium dan merkuri pada kerang hijau dan adanya risiko kesehatan terhadap masyarakat di kawasan pemukiman baik efek karsinogenik maupun nonkarsinogenik dengan media jalur paparan yang paling dominan ialah bahan pangan (diet) kerang.Cadmium and mercury are toxic heavy metals, generally found in anthropogenic wastes, and accumulated in water, sediments, and benthic biota. Green mussels (Perna viridis) as one of the benthic biota is a popular delicacy not only in the Indonesian coastal community but also in the Southeast Asian countries. However, the green mussel is also well known as a bioaccumulator for heavy metals, including cadmium and mercury, and thus poses a great risk to human health. The purpose of this study was to determine the bioaccumulation level of metal cadmium and mercury in green mussels and their health risks to people in coastal residential areas. The study was carried out by a survey method in three sampling locations in coastal settlement area DKI Jakarta. The bioaccumulation value was calculated using the ratio of the metal content in green mussels and sediments. Risk analysis used the approach of Multi-medium Risk Analysis suggested by the United States Environmental Protection Agency (US EPA). The total level of non-carcinogenic risk was expressed in the hazard index (HI), and the carcinogenic risk was expressed in cancer risk (CR). The results of this study showed that the bioaccumulation of cadmium and mercury in green mussels did not differ significantly which cadmium concentration in green shells is positively correlated and significantly different from sediment; this shows the ability of green mussels to accumulate cadmium . Meanwhile, the health risk analysis shows HI> 1 and CR> 10-4. This study concludes that cadmium and mercury metals are present in green mussels. This study also concludes that the two heavy metals pose health risks (carcinogenic and non-carcinogenic) to the residents of the nearby coastal areas through shellfish as the most dominant pathway.
PENGARUH PENGGANTIAN TEPUNG IKAN DENGAN TEPUNG LARVA Hermetia illucens dan Azolla sp. TERHADAP KUALITAS PAKAN IKAN TERAPUNG Arif Rahman Hakim; Koko Kurniawan; Zaenal Arifin Siregar
Jurnal Riset Akuakultur Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.283 KB) | DOI: 10.15578/jra.14.2.2019.77-85

Abstract

Saat ini harga tepung ikan yang merupakan sumber protein utama terus mengalami kenaikan sehingga dibutuhkan sumber protein lainnya yang bisa mengganti peran tepung ikan dalam pakan ikan terapung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh bahan pengganti tepung ikan terhadap kualitas fisik pakan. Bahan yang digunakan ialah tepung larva Hermetia illucens dan tepung Azolla sp. Metode penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan formula pakan yang berbeda yaitu perbandingan tepung ikan dengan tepung larva H. illucens atau Azolla sp. berturut-turut 100%:0%; 75%:25%; 50%:50%; dan 25%:75%. Parameter yang diamati meliputi kadar protein, rasio pengembangan, unit density, daya apung, dan kekerasan pakan. Hasil penelitian menunjukkan penggantian tepung ikan dengan tepung larva dalam formula menghasilkan kadar protein yang tidak berbeda nyata, berkurangnya rasio pengembangan, meningkatnya unit density, turunnya daya apung, dan meningkatkan kekerasan pakan. Sedangkan penggantian dengan tepung Azolla sp. memberikan efek terhadap turunnya kadar protein, turunnya rasio pengembangan dan kekerasan pakan namun tidak berpengaruh terhadap unit density dan daya apung pakan. Berdasarkan hasil ini tepung Azolla memiliki potensi sebagai pengganti sebagian tepung ikan dalam pembuatan pakan ikan terapung.Fish meal prices continue to increase, which has led to research efforts of finding other protein sources to replace fish meal in floating fish feed. The purpose of this study was to determine the effects of alternative fish meal replacements on the physical quality of feed. Alternative replacement ingredients were Hermetia illucens larval meal and Azolla meal. The research method used a completely randomized design (CRD) consisted of different ratios of fish meal with H. illucens larval meal and Azolla meal combination of 100%:0%, 75%:25%, 50%:50%, and 25%:75%, respectively. The parameters observed included protein content, expansion ratio, unit density, floatability, and hardness of feed. The study found that the larval meal produced similar protein content, reduced expansion ratios, increased unit density, decreased floatability and increased hardness of feed. The replacement of fish meal with Azolla meal had decreased the protein content, expansion ratio, and hardness of the feed. However, the substitution did not affect the unit density and floatability of feed. Based on this result Azolla meal has potential as replacement of fish meal partially in producing floating fish meal.
DISTRIBUSI POLUTAN LOGAM BERAT DI PERAIRAN PANTAI YANG DIGUNAKAN UNTUK MEMASOK TAMBAK UDANG TERDEKAT DAN MITIGASINYA DI KECAMATAN JABON PROVINSI JAWA TIMUR Akhmad Mustafa; Hasnawi Hasnawi; Tarunamulia Tarunamulia; Muhammad Banda Selamat; Muhammad Farid Samawi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.518 KB) | DOI: 10.15578/jra.14.2.2019.127-138

Abstract

Budidaya tambak merupakan andalan perikanan di Kabupaten Sidoarjo Provinsi Jawa Timur, namun terdapat berbagai kegiatan yang berpotensi menghasilkan bahan pencemar berupa logam berat di kawasan pesisir yang menjadi sumber air bagi budidaya tambak. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi dan status mutu logam berat dalam air sehubungan dengan potensi pencemaran dalam air yang mungkin terjadi dalam kaitannya dengan pemanfaatan untuk budidaya tambak. Penelitian dilaksanakan di kawasan pesisir Kecamatan Jabon Kabupaten Sidoarjo dengan mengambil contoh air pada 12 stasiun pengambilan contoh dan selanjutnya dianalisis di laboratorium untuk logam berat As, Cd, Co, Cr, Cu, Hg, Mn, Mo, Pb, dan Zn. Data dari hasil analisis logam berat dianalisis secara deskriptif dan selanjutnya dengan metode Storage and Retrieval (Storet) digunakan untuk menentukan status mutu air dari logam berat untuk biota laut. Hasil penelitian yang dilakukan pada tahun 2015 ini menunjukkan bahwa kisaran konsentrasi Co, Hg, Mn, Mo, Pb, dan Zn berturut-turut < 0,001-0,072; < 0,001-0,045; 0,02-0,18; < 0,001-0,011; 0,309-0,835; dan 0,01-0,04 mg/L. Hasil penentuan status mutu air menunjukkan bahwa air di kawasan pesisir Kecamatan Jabon tergolong tercemar berat dari logam berat Hg dan Pb untuk biota laut. Disarankan agar kegiatan yang dapat menjadi sumber pencemar logam berat terutama Hg dan Pb di kawasan pesisir Kecamatan Jabon agar dikurangi dan atau mengaplikasikan Instalasi Pengolahan Air Limbah dan merehabilitasi hutan mangrove untuk menjadi bioakumulator logam berat, serta melakukan pengelolaan berkelanjutan yang meliputi pemantauan, pembinaan, dan penegakan hukum sehingga dapat menjadi sumber air untuk budidaya tambak yang produktif dan berkelanjutan.Brackishwater aquaculture is one of the major aquaculture activities in Sidoarjo District, East Java Province. Unfortunately, its sustainability is currently threatened by the increased level of heavy metal pollutants in the coastal waters used as the major water source for the fish farming activity. The objective of this study was to determine the concentrations and distribution of heavy metal elements in the coastal water and devised potential mitigation plans in relation to the sustainability of existing brackishwater in the area. Water samples were collected from 12 sampling stations on the coastal waters of Jabon Subdistrict, Sidoarjo District. Laboratory analyses were performed to identify and measure the level of the heavy metal elements including As, Cd, Co, Cr, Cu, Hg, Mn, Mo, Pb, and Zn. The results of the analysis were descriptively discussed. The Storage and Retrieval (Storet) method was used to determine the quality status of the coastal water based on heavy metals standard limits for marine biota. The results of this 2015 research showed that the concentrations of Co, Hg, Mn, Mo, Pb, and Zn were < 0.001-0.072; < 0.001-0.045; 0.02-0.18; < 0.001-0.011; 0.309-0.835; and 0.01-0.04mg/L, respectively. These heavy metal levels showed that water quality in the coastal area of Jabon Subdistrict was heavily polluted, particularly by Hg and Pb for marine biota. This research recommended that activities in the coastal area suspected to be the sources of heavy metals contaminants, especially Hg and Pb, have to be controlled or reduced. The application of wastewater treatment plants, rehabilitating mangrove forests as heavy metal bio accumulators as well as the implementation of sustainable water management procedures through monitoring, guidance, and law enforcement are highly recommended to ensure the long term sustainability of brackishwater aquaculture activities in the study area.

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2019 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 4 (2025): Desember (2025) Vol 20, No 3 (2025): September (2025) Vol 20, No 2 (2025): Juni (2025) Vol 20, No 1 (2025): Maret (2025) Vol 19, No 4 (2024): Desember (2024) Vol 19, No 3 (2024): September (2024) Vol 19, No 2 (2024): Juni (2024) Vol 19, No 1 (2024): (Maret 2024) Vol 18, No 4 (2023): (Desember, 2023) Vol 18, No 3 (2023): (September, 2023) Vol 18, No 2 (2023): (Juni, 2023) Vol 18, No 1 (2023): (Maret 2023) Vol 17, No 4 (2022): (Desember 2022) Vol 17, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 17, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 17, No 1 (2022): (Maret, 2022) Vol 16, No 4 (2021): (Desember, 2021) Vol 16, No 3 (2021): (September, 2021) Vol 16, No 2 (2021): (Juni, 2021) Vol 16, No 1 (2021): (Maret, 2021) Vol 15, No 4 (2020): (Desember, 2020) Vol 15, No 3 (2020): (September, 2020) Vol 15, No 2 (2020): (Juni, 2020) Vol 15, No 1 (2020): (Maret, 2020) Vol 14, No 4 (2019): (Desember, 2019) Vol 14, No 3 (2019): (September, 2019) Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019) Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019) Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) More Issue