cover
Contact Name
Endang Sriyati
Contact Email
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. karawang,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia
ISSN : 08535884     EISSN : 25026542     DOI : -
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia accepts articles in the field of fisheries, both sea and inland public waters. The journal presents results of research resources, arrest, oceanography, environmental, environmental remediation and enrichment of fish stocks.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 24, No 4 (2018): (Desember) 2018" : 6 Documents clear
STATUS PENGELOLAAN SUMBER DAYA IKAN TONGKOL DI PERAIRAN SAMUDERA HINDIA BERBASIS PENDARATAN PUKAT CINCIN DI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA LAMPULO, ACEH: SUATU PENDEKATAN EKOSISTEM Salmarika Salmarika; Am Azbas Taurusman; Sugeng Hari Wisudo
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 24, No 4 (2018): (Desember) 2018
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (73.138 KB)

Abstract

Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Lampulo merupakan pelabuhan terbesar sebagai sentra perikanan di Provinsi Aceh dengan karakteristik hasil tangkapan yang beragam, salah satunya ikan tongkol. Permasalahan utama pengelolaan perikanan tongkol di lokasi ini adalah status pemanfaatannya diduga mencapai ‘fully exploited’ seiring dengan bertambahnya jumlah armada penangkapan pukat cincin. Jika tidak ada perbaikan pengelolaan dikhawatirkan mengancam keberlanjutan stok sumber daya ikan tongkol. Suatu upaya pengelolaan terintegrasi dengan pendekatan ekosistem (Ecosystem Approach to Fisheries Management) diperlukan untuk mengatasi permasalahan ini. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi status pengelolaan sumber daya ikan tongkol yang berbasis di Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo. Penelitian ini dilakukan secara observasi langsung dan wawancara di lapangan kemudian dianalisis menggunakan multi kriteria dengan pengembangan indeks komposit. Hasil penelitian menunjukan bahwa tren CPUE menurun sebesar 13,4% pertahun, ukuran panjang ikan tangkapan cenderung lebih kecil dibandingkan penelitian sebelumnya, proporsi ikan yuwana yang tertangkap sebesar 66%, dan komposisi hasil tangkapan didominasi oleh ikan target tangkapan sebesar 99%, daerah penangkapan nelayan semakin jauh, dan terdapat spesies ETP (Endangered, Threatened, and Protected species) yang tertangkap. Berdasarkan indikator-indikator EAFM tersebut, maka status pengelolaan sumber daya ikan tongkol di lokasi ini termasuk dalam kategori ‘sedang’, sehingga tindakan pengelolaan yang bersifat ‘kehati-hatian’ perlu diterapkan.Lampulo Ocean Fishing Port is the largest fishing port and as fishery business center in Aceh Province with high diversity of catches and dominated by pelagic fishes, particularly little tuna. The main problem of the little tuna fishery management has been considered as ‘fully exploited’ utilization status due to increasing number of purse seine vessels which in turn threaten sustainability of the fish stock. Therefore, an ecosystem approach to fisheries management (EAFM) is urgently needed to implement for this fishery. The objective of this study is to evaluate the existing management condition and status of the little tuna fishery in this area by means of an integrated assessment approach. An observation and direct interview were conducted to collect the data, and then analyzed by a multi criteria analysis with composite index development. The result of this study showed that the trend of CPUE has been annually decreased of 13.4%, the fork length of catch was tended smaller than previous studies, juvenile proportion was 66%, and catch composition dominated by target species (99%) then shifting fishing ground (range collapse indication) and ETP (Endangered, Threatened and Protected) species was caught. Based on EAFM indicators, the management status of the little tuna fishery based in PPS Lampolo was ‘moderate’ category, thus a precautionary management approach should be implemented.
KOMBINASI UKURAN MATA PANCING DAN WARNA UMPAN TIRUAN UNTUK MENINGKATKAN HASIL TANGKAPAN HUHATE Fauzan Idris Maspeke; Gondo Puspito; Iin Solihin
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 24, No 4 (2018): (Desember) 2018
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1330.64 KB) | DOI: 10.15578/jppi.24.4.2018.239-251

Abstract

Keberhasilan operasi penangkapan ikan dengan huhate sangat tergantung pada beberapa faktor, dua diantaranya adalah ukuran mata pancing dan warna umpan tiruan. Hasil tangkapan huhate berupa cakalang, juvenile tuna, madidihang dan tongkol dapat menjadi optimal bila paduan antara ukuran mata pancing dan warna umpan tiruannya tepat. Oleh karenanya, paduan antara ukuran mata pancing dan warna umpan perlu diujicoba secara bersamaan dalam satu kapal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan kombinasi ukuran mata pancing dan warna umpan tiruan huhate sehingga menghasilkan jumlah tangkapan terbanyak. Ukuran mata pancing yang digunakan adalah nomor 2 dan 3. Adapun warna umpan tiruannya merah, biru dan putih. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah melalui uji coba penangkapan dengan cara menguji mata pancing yang terdiri atas berbagai kombinasi ukuran dan warna umpan tiruan secara langsung di laut. Kapal huhate yang digunakan untuk operasi penangkapan berukuran 57 GT dengan jumlah pemancing 20 – 30 orang. Hasil uji statistik RALF dan BNT terhadap hasil tangkapan menunjukan bahwaFhit bernilai 5,214 atau lebih besar daripada Ftab (3,027), atau jumlah hasil tangkapan keenam kombinasi perlakuan berbeda nyata. Kombinasi ukuran mata pancing nomor 3 dan umpan berwarna merah mendapatkan hasil tangkapan sebanyak 2.596 ekor, kemudian diikuti berturut-turut oleh ukuran No.3 dan warna biru sebanyak 2.400 ekor, No. 3 dan warna putih sebanyak 2.109 ekor , No.2 dan warna merah sebanyak 2.106 ekor, No.2 dan warna biru sebanyak 1.333 ekor dan No.2 dan warna putih sebanyak 1.250 ekor.The success of huhate fishing operations is highly dependent on several factors, two of which are the size of hook and the color of the artificial bait. Catch of pole and line consisted of skipjack, juvenile tuna, yellowfin tuna and little tuna will be optimal when the alloy between the hook size and the color of the imitation bait is prorely. Therefore, the combination between the hook size and the color of the bait needs to be tested simultaneously in same fishing vessel. The goal to be achieved in the research is to get a combination of the hook size and artificial bait color are used for catching the largest number of catches. Two type of hook size are used that number 2 and will be combined with three color of artificial bait i.e., red, blue and white. The method used in this research is experimental fishing by using pole and liner sized of 57 GT ship operated by 20 – 30 fisherman. The results of RALF and BNT statistical tests on the catch data show that F-hit is 5.214 or greater than F-tab (3,027), that means the number of catches from the six treatment combinations is significantly different. The combination of the hook size number 3 and the red bait color caught 2,596 fishes. The following sequence are 2,400 fishes (No. 3 and blue), 2,109 fishes (No.3 and white), 2,106 fishes (No.2 and red), 1,333 fishes (No.2 and blue) and 1,250 fishes (No.2 and white). 
AKTIVITAS PENANGKAPAN DAN PRODUKSI IKAN DI KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA KALIMANTAN SELATAN Aroef Hukmanan Rais; Tuah Nanda Merlia Wulandari; Emmy Dharyati
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 24, No 4 (2018): (Desember) 2018
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.837 KB) | DOI: 10.15578/jppi.24.4.2018.227-238

Abstract

Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) memiliki potensi dengan total wilayah perairan umum mencapai 65% dari keseluruhan wilayahnya. Rawa banjiran menjadi sumber daya yang paling besar menopang perekonomian salah satunya dari hasil tangkapan perikanan tangkapnya. Tulisan ini menjelaskan kegiatan penangkapan dan hasil tangkapan ikan dalam hubungannya dengan fluktuasi tinggi permukaan perairan di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Penelitian telah dilaksanakan pada Maret hingga Desember 2016, dengan melibatkan 16 orang nelayan pencatat hasil tangkapan. Nelayan berasal dari Palbatu dan Desa Tampakang, Kecamatan Danau Panggang. Data hasil tangkapan diperoleh dari 11 jenis alat penangkapan ikan yang terbagi dalam empat kelompok yaitu kelompok pancing/hook and line(pancing pelampung dan rawai baung), kelompok jebakan /pot trap (lukah baung, jabak baung, tampirai dan tamba seluang), kelompok jebakan/barrier trap (hampang padang, selambau kasa, dan selambau sungai), dan kelompok jaring/gill net (lalangit dan rengge). Data tinggi permuka air secara rutin dikumpulkan oleh nelayan setempat. Nilai laju tangkap dan hasil tangkapan dikorelasikan dengan tinggi muka air melalui uji-t. Hasil penelitian menunjukkan alat penangkapan ikan lukah baung dan tampirai dapat digunakan sepanjang tahun. Alat penangkapan ikan selambau sungai memiliki nilai laju tangkapyang tertinggi. Nilai laju tangkap berkorelasi signifikat terhadap tinggi muka air, sedangkan nilai hasil tangkapan hasil tangkapan tidak berkorelasi signifikan terhadap tinggi permukaan air.Hulu Sungai Utara Regency (HSU) has potency with total inland waters area about 65% from total administration area. The flood plain becomes the largest resources to sustain the economic through the fish catch production. This paper describes the fishing activity and fish production on relationship with water level fluctuation in Hulu Sungai Utara Regency. This research was conducted on March to December 2016, with involved 16 fishers whose collected the fishing data activity. They are come from Palbatu village and Tampakang village, Danau Panggang District. Catch data collected by 11 fishing gears which separated to four groups they are hook and line (pancing pelampung and rawai), pot trap (lukah baung, jabak baung,tampirai and tamba seluang), barrier trap (hampang padang, selambau kasa, and selambau sungai), and gill net (lalangit and rengge. The water level fluctuation data was collected by local fishermen.The catch rate and production were correlated by t-test analysis. The results show that lukah baung and tampirai might be used throughout the season. The Selambau sungai got the highest of the catching rate. The catching rateswere significant correlated to water level fluctuation. While, the fishing production was not significant correlated to water level fluctuation.
KOMPOSISI JENIS, HASIL TANGKAPAN PER UPAYA, MUSIM DAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN HIU DI PERAIRAN SAMUDERA HINDIA SELATAN JAWA Prihatiningsih Prihatiningsih; Umi Chodriyah
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 24, No 4 (2018): (Desember) 2018
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.095 KB) | DOI: 10.15578/jppi.24.4.2018.283-297

Abstract

Penangkapan hiu di Indonesia setiap tahun meningkat jumlahnya sehingga diperlukan penelitian agar pemanfaatannya lestari. Penelitian ini bertujuan mengkaji komposisi jenis, hasil tangkapan per upaya, musim dan daerah penangkapan ikan hiu. Penelitian dilaksanakan pada tahun 2015-2016 di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap, Jawa Tengah. Penelitian dilakukan dengan metode survey dan pengumpulan data bulanan dibantu oleh enumerator. Hasil penelitian menunjukkan komposisi jenis ikan hiu yang tertangkap di perairan Samudera Hindia, Selatan Jawa dan didaratkan di PPS Cilacap didominasi oleh hiu tikusan (A. pelagicus) 32,69%, hiu paitan (A. superciliosus) 20,21%, hiu slendang (P. glauca) 11,25%, hiu gabel (H. lemures) 7,55% dan hiu lanjaman (C. falciformis) 6,14%. Hasil tangkapan per upaya (CPUE) ikan hiu mengalami peningkatan sebanyak 57% selama 6 tahun terakhir (2011-2016) dengan puncak musim penangkapan ikan hiu terjadi pada Juli dan Nopember.Sharks was the Elasmobranchii class which means cartilaginous fish. The number of sharks in Indonesia was increasing every year, so monitoring was needed to ensure sustainable utilization. This study was aims to assess the species composition, catch per unit of effort, season and fishing ground of shark. The study was conducted in 2015-2016 at the Cilacap Oceans Fishing Port, Central Java. Research methods were conducted by survey method and montly data collection by enumerator. The dominant fish biology observation included measurement of the fork length. The results showed that the shark catches composition were dominated by A. pelagicus (32.69%), A. superciliosus (20.21%), P. glauca (11.25%), H. lemures (7.55%) and C. falciformis (6.14%). Catch per unit of effort trends tended to increase as much as 57% from 2011 to 2016. The peak season of fishing occurs in July and November.
PARAMETER PERTUMBUHAN HIU MACAN (Galeocerdo cuvier Peron & Lesuer, 1822) DI PERAIRAN SELATAN NUSA TENGGARA BARAT Umi Chodrijah; Agus Arifin Sentosa; Prihatiningsih Prihatiningsih
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 24, No 4 (2018): (Desember) 2018
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.731 KB) | DOI: 10.15578/jppi.24.4.2018.253-261

Abstract

Hiu macan (Galeocerdo cuvier Peron & Lesuer, 1822) merupakan predator puncak yang ditandai dengan sebaran yang luas dan ukurannya lebih besar.  Spesies hiu ini masuk dalam famili Carcharhinidae yang banyak tertangkap di perairan Samudera Hindia. Status konservasi jenis ini masuk dalam Daftar merah IUCN dan hampir terancam (NT) serta informasi tentang biologi khususnya parameter pertumbuhan spesies ini masih sangat terbatas.Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan informasi parameter pertumbuhan hiu macan di perairan Samudera Hindia bagian Selatan Nusa Tenggara Barat. Penelitian dilakukan di tempat pendaratan ikan  Tanjung Luar, Lombok Timur pada bulan Januari sampai dengan Desember 2016. Pengamatan meliputi panjang total tubuh dan jenis kelamin yang dilakukan dengan pengukuran dan pengamatan langsung secara visual di lapangan. Hasil penelitian terhadap 808 ekor ikan contoh menunjukkan bahwa kisaran panjang total untuk hiu macan (Galeocerdo cuvier)  terdistribusi pada ukuran antara 116 - 400 cmTL dengan panjang rata-rata 242,8 cm TL serta modus pada ukuran 240 cmTL. Perbandingan kelamin ikan hiu macan  jantan dan betina dalam keadaan tidak seimbang, dengan jumlah jantan lebih besar.  Estimasi panjang asimtotik (L∞) sebesar 420 cmTL dengan laju pertumbuhan (K) 0,260/tahun, laju kematian total (Z)  1,10/tahun, laju kematian alamiah (M) 0,35/tahun serta laju kematian akibat penangkapan (F) 0,75/tahun. Estimasi laju eksploitasi sudah mengarah kepada penangkapan yang berlebih (E = 0,68) oleh karena itu perlu dilakukan tindakan pengelolaan agar pemanfaatannya tetap lestari.Tiger sharks (Galeocerdo cuvier Peron & Lesuer, 1822) were widely held in the depths of the Indian Ocean. Its conservation status was on the IUCN Red List and was near threatened (NT). The purpose of this study was to obtain the parameters of growth in the South off West Nusa Tenggara waters. The study was conducted at Tanjung Luar landing site, East Lombok in January until December 2016. The observation included total length and sex with visual measurement and observation in the field. The results of the study showed the number of 808 individues that the total length range for tiger shark (Galeocerdo cuvier) caught in Indian Ocean waters landed on Tanjung Luar was distributed on a size between 116-400 cmTL with an average length of 242.8 cmTL and a mode at 240 cmTL. The sex ratio of male and female tiger sharks was in an unbalanced state, with larger females. Estimation of asymptotic length (L∞) of 420 cmTL with growth rate (K) 0.260 / year, total mortality rate (Z) 1.10 / year, natural mortality rate (M) 0.35 / year and mortality rate due to arrest (F) 0.75 / year. Estimation of the rate of exploitation has led to overfishing (E = 0.68) therefore it was necessary to take regulatory and management measures to ensure sustainable utilization.
PERCOBAAN PENANDAAN LOBSTER PASIR (Panulirus homarus Linnaeus, 1758) DI TELUK PRIGI Danu Wijaya; Amula Nurfiarini
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 24, No 4 (2018): (Desember) 2018
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.393 KB) | DOI: 10.15578/jppi.24.4.2018.273-282

Abstract

Percobaan penebaran lobster pasir (Panulirus homarus) di Perairan Teluk Prigi, Kabupaten Trenggalek dilakukan pada 2015. Percobaan dilakukan dengan cara memberi tanda (tag) pada seluruh sampel lobster pasir yang ditebar, dikenal sebagai metode Capture-mark-recapture (CMR) dan sudah banyak digunakan untuk mempelajari populasi biota di alam. Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat tertangkap kembali, laju pertumbuhan, dan pergerakan lobster pasir bertanda di Teluk Prigi. Penebaran lobster pasir bertanda dilakukan pada tiga lokasi yaitu Damas, Karanggongso dan Karangasem dengan jumlah 2.784 ekor dan diberi tanda jenis T-bar berwarna merah yang memiliki kode. Pengamatan lobster pasir bertanda yang tertangkap kembali dilakukan sepanjang tahun 2016 di Teluk Prigi (Februari-Desember). Tingkat tertangkap kembali lobster bertanda dihitung menggunakan proporsi antara lobster bertanda yang tertangkap dengan lobster bertanda yang ditebar. Laju pertumbuhan lobster bertanda yang tertangkap kembali dihitung berdasarkan pertumbuhan per satuan waktu yang sama dengan perubahan panjang dibagi dengan perubahan umur. Pergerakan lobster bertanda diukur melalui jarak dari lokasi tebar sampai dengan lokasi lobster bertanda yang tertangkap kembali. Tingkat tertangkap kembali lobster pasir (P. homarus) bertanda di Teluk Prigi sebanyak 4,7 %. Laju pertumbuhan lobster pasir yang tertangkap kembali rata-rata 0,09±0,05 mm/hari. Pergerakan lobster pasir bertanda yang tertangkap kembali di Teluk Prigi berkisar antara 0,1-11,36 km. Pergerakan lobster pasir bertanda memiliki kecenderungan acak dan tetap pada wilayah pantai.In 2015, restocking experiment of Scalloped spiny lobster (Panulirus homarus) was conducted in Gulf of Prigi, Trenggalek Regency and the  lobsters were tagged. This methods is known as Capture-mark-recapture (CMR). CMR is widely used to study of biota populations in wild nature. The aims of this study are to determine the recapture rate, growth rate, and movement of tagged scalloped spiny lobster in Prigi Bay.The tagged spiny lobster release was realesed at three locations, namely Damas, Karanggongso and Karangasem with 2,784 lobsters and was tagged with a red T-bar type that has a code. Observations of tagged scalloped spiny lobsters were carried out again throughout 2016 in Prigi Bay (February-December). The recapture rate of tagged spiny lobster is calculated using the proportion between the tagged lobster with the tagged lobster released. The tagged tagged spiny lobster growth rate is calculated again based on growth per unit time which is equal to the change in length divided by the change in age. Tagged spiny lobster movements are measured by distance from the location of release to the location of the tagged tagged spiny lobster is capture again. The recapture rate of tagged spiny lobster (P. homarus) marked in Gulf of Prigi as much as 4.7%. The growth rate of tagged spiny lobster averaged 0.09 ± 0.05 mm/day. The movement of tagged spiny lobster in Gulf of Prigi ranges from 0.1 to 11.36 km. The movement of tagged spiny lobster has a random movement  and remains in the coastal region.

Page 1 of 1 | Total Record : 6


Filter by Year

2018 2018


Filter By Issues
All Issue Vol 31, No 4 (2025): (Desember 2025) Vol 31, No 3 (2025): (September 2025) Vol 31, No 2 (2025): (Juni 2025) Vol 31, No 1 (2025): (Maret 2025) Vol 30, No 4 (2024): (Desember 2024) Vol 30, No 3 (2024): (September) 2024 Vol 30, No 2 (2024): (Juni) 2024 Vol 30, No 1 (2024): (Maret) 2024 Vol 29, No 4 (2023): (Desember) 2023 Vol 29, No 3 (2023): (September) 2023 Vol 29, No 1 (2023): (Maret) 2023 Vol 28, No 4 (2022): (Desember) 2022 Vol 28, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 28, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 28, No 1 (2022): (Maret) 2022 Vol 27, No 4 (2021): (Desember) 2021 Vol 27, No 3 (2021): (September) 2021 Vol 27, No 2 (2021): (Juni) 2021 Vol 27, No 1 (2021): (Maret) 2021 Vol 26, No 4 (2020): (Desember) 2020 Vol 26, No 3 (2020): (September) 2020 Vol 26, No 2 (2020): (Juni) 2020 Vol 26, No 1 (2020): (Maret) 2020 Vol 25, No 4 (2019): (Desember) 2019 Vol 25, No 3 (2019): (September) 2019 Vol 25, No 2 (2019): (Juni) 2019 Vol 25, No 1 (2019): (Maret) 2019 Vol 24, No 4 (2018): (Desember) 2018 Vol 24, No 3 (2018): (September) 2018 Vol 24, No 2 (2018): (Juni 2018) Vol 24, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 23, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 23, No 3 (2017): (September 2017) Vol 23, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 23, No 1 (2017): (Maret, 2017) Vol 22, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 22, No 3 (2016): (September) 2016 Vol 22, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 22, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 21, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 21, No 3 (2015): (September 2015) Vol 21, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 21, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 20, No 4 (2014): (Desember 2014) Vol 20, No 3 (2014): (September 2014) Vol 20, No 2 (2014): (Juni 2014) Vol 20, No 1 (2014): (Maret 2014) Vol 19, No 4 (2013): (Desember 2013) Vol 19, No 3 (2013): (September 2013) Vol 19, No 2 (2013): (Juni 2013) Vol 19, No 1 (2013): (Maret 2013) Vol 18, No 4 (2012): (Desember 2012) Vol 18, No 3 (2012): (September 2012) Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012 Vol 18, No 1 (2012): (Maret 2012) Vol 17, No 4 (2011): (Desember 2011) Vol 17, No 3 (2011): (September 2011) Vol 17, No 2 (2011): (Juni 2011) Vol 17, No 1 (2011): (Maret 2011) Vol 16, No 4 (2010): (Desember 2010) Vol 16, No 3 (2010): (September 2010) Vol 16, No 2 (2010): (Juni 2010) Vol 16, No 1 (2010): (Maret 2010) Vol 15, No 4 (2009): (Desember 2009) Vol 15, No 3 (2009): (September 2009) Vol 15, No 2 (2009): (Juni 2009) Vol 15, No 1 (2009): (Maret 2009) Vol 14, No 4 (2008): (Desember 2008) Vol 14, No 3 (2008): (September 2008) Vol 14, No 2 (2008): (Juni 2008) Vol 14, No 1 (2008): (Maret 2008) Vol 13, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 13, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 13, No 1 (2007): (April 2007) Vol 12, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 12, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 12, No 1 (2006): (April 2006) Vol 11, No 9 (2005): (Vol. 11 No. 9 2005) Vol 11, No 8 (2005): (Vol. 11 No. 8 2005) Vol 11, No 7 (2005): (Vol. 11 No. 7 2005) Vol 11, No 6 (2005): (Vol. 11 No. 6 2005) Vol 11, No 5 (2005): (Vol. 11 No. 5 2005) Vol 11, No 4 (2005): (Vol. 11 No. 4 2005) Vol 11, No 3 (2005): (Vol. 11 No. 3 2005) Vol 11, No 2 (2005): (Vol. 11 No. 2 2005) Vol 11, No 1 (2005): (Vol. 11 No. 1 2005) Vol 10, No 7 (2004): (Vol. 10 No. 7 2004) Vol 10, No 6 (2004): (Vol. 10 No. 6 2004) Vol 10, No 5 (2004): (Vol. 10 No. 5 2004) Vol 10, No 4 (2004): (Vol. 10 No. 4 2004) Vol 10, No 3 (2004): (Vol. 10 No. 3 2004) Vol 10, No 2 (2004): (Vol. 10 No. 2 2004) Vol 10, No 1 (2004): (Vol. 10 No. 1 2004) Vol 9, No 7 (2003): (Vol.9 No.7 2003) Vol 9, No 6 (2003): (Vol.9 No.6 2003) Vol 9, No 5 (2003): Vol. 9 No. 5 2003) Vol 9, No 4 (2003): Vol. 9 No. 4 2003) Vol 9, No 3 (2003): (Vol.9 No.3 2003) Vol 9, No 2 (2003): (Vol, 9 No. 2 2003) Vol 9, No 1 (2003): (Vol.9 No.1 2003) Vol 8, No 7 (2002): (Vol.8 No.7 2002) Vol 8, No 6 (2002): (Vol.8 No.6 2002) Vol 8, No 5 (2002): (Vol.8 No.5 2002) Vol 8, No 4 (2002): (Vol.8 No.4 2002) Vol 8, No 3 (2002): (Vol.8 No.3 2002) Vol 8, No 2 (2002): (Vol. 8 No. 2 2002) Vol 8, No 1 (2002): (Vol.8 No.1 2002) Vol 7, No 4 (2001): (Vol. 7 No. 4 2001) Vol 7, No 2 (2001): (Vol.7 No. 2 2001) Vol 6, No 3-4 (2000): (Vol.6 No.3-4 2000) Vol 6, No 2 (2000): (Vol.6 No.2 2000) Vol 6, No 1 (2000): (Vol.6 No.1 2000) Vol 5, No 2 (1999): (Vol.5 No.2 1999) Vol 5, No 1 (1999): (Vol.5 No. 1 1999) Vol 4, No 4 (1998): (Vol.4 No.4 1998) Vol 4, No 3 (1998): (Vol.4 No.3 1998) Vol 4, No 2 (1998): (Vol.4 No.2 1998) Vol 4, No 1 (1998): (Vol.4 No.1 1998) Vol 3, No 4 (1997): (Vol.3 No.4 1997) Vol 3, No 3 (1997): (Vol.3 No.3 1997) Vol 3, No 2 (1997): (Vol.3 No.2 1997) Vol 3, No 1 (1997): (Vol.3 No.1 1997) Vol 2, No 4 (1996): (Vol.2 No.4 1996) Vol 2, No 3 (1996): (Vol.2 No.3 1996) Vol 2, No 2 (1996): (Vol.2 No.2 1996) Vol 2, No 1 (1996): (Vol.2 No.1 1996) Vol 1, No 4 (1995): (Vol.1 No.4 1995) Vol 1, No 3 (1995): (Vol.1 No.3 1995) Vol 1, No 2 (1995): (Vol.1 No.2 1995) Vol 1, No 1 (1995): (Vol.1 No.1 1995) More Issue