cover
Contact Name
Darwanto
Contact Email
bawal.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
bawal.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Bawal : Widya Riset Perikanan Tangkap
ISSN : 19078229     EISSN : 25026410     DOI : -
Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap dipublikasikan oleh Pusat Riset Perikanan yang memiliki p-ISSN 1907-8226; e-ISSN 2502-6410 dengan Nomor Akreditasi RISTEKDIKTI: 21/E/KPT/2018, 9 Juli 2018. Terbit pertama kali tahun 2006 dengan frekuensi penerbitan tiga kali dalam setahun, yaitu pada bulan April, Agustus, Desember. Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap memuat hasil-hasil penelitian bidang “natural history” (parameter populasi, reproduksi, kebiasaan makan dan makanan), lingkungan sumber daya ikan dan biota perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 3 (2014): (Desember 2014)" : 7 Documents clear
KONDISI HIPOKSIA DAN LAJU DEKOMPOSISI BAHAN ORGANIK DI LOKASI BUDIDAYA IKAN WADUK IR.H. DJUANDA Lismining Pujiyani Astuti; Enan Mulyana Adiwilaga; Budi Indra Setiawan; Niken Tanjung Murti Pratiwi
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 6, No 3 (2014): (Desember 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.386 KB) | DOI: 10.15578/bawal.6.3.2014.147-154

Abstract

Waduk Ir. H. Djuanda merupakan waduk multi fungsi yang salah satunya adalah untuk kegiatan budidaya ikan.Adanya input pakan dari kegiatan budidaya dapat menyebabkan peningkatan bahan organik dan penurunan konsentrasi oksigen terlarut. Kegiatan budidaya ikan dalam karamba jaring apung (KJA) menyumbang bahan organik ke perairan yang laju dekomposisinya (k) (per hari) dipengaruhi oleh suhu perairan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kedalaman hipoksia di lokasi karamba jaring apung untuk budidaya ikan diWaduk Ir. H. Djuanda dan pengaruh suhu terhadap besarnya laju dekomposisi bahan organik (k). Penelitian kondisi hipoksia dilakukan diWaduk Ir. H Djuanda dan selanjutnya pengamatan BOD untuk penentuan laju dekomposisi bahan organik di Laboratorium Balai Penelitian Pemulihan dan Konservasi Sumberdaya Ikan pada bulan Februari–April 2013. Penentuan kondisi hipoksia berdasaran Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 dan penentuan laju dekomposisi berdasarkan Least SquareMethod. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedalaman hipoksia dimulai pada kedalaman 3 m dan laju dekomposisi bahan organik (k) tertinggi pada suhu 28,5 °C yaitu sebesar 0,189/hari.Ir H. Djuanda Reservoir is a multi-purpose reservoirs, one of which is for fisheries culture activity. Feed inputs from aquaculture activities can lead to an increase in organic matter and a decrease in dissolved oxygen concentration. Cultivation of fish in floating cage net contributing organic material into waters which the rate of organic matter decomposition (k) (per day) is affected by water temperature. The purpose of this study was to know the depth of hypoxia in floating cage net for fisheries culture in the Ir. H. Djuanda Reservoir and the effect of temperature on the amount of organic matter decomposition rates (k). Observation of hypoxic conditions was conducted in Ir. H Djuanda Reservoir and furthermore observation of BOD to determine the rate of organic matter decomposition at Research Institute for Rehabilitation and Conservation of Fish Resources laboratory in February-April, 2013. Determination of hypoxic conditions based on Government Regulation of the Republic Indonesia Number 81 Year 2001 and the determination of the rate of decomposition based on Least Square Method. The results showed that the depth of hypoxia began at a depth of 3 m and the higher of decomposition rate of organic matter (k) was 0.189/day at temperature 28.5 ° C.
BIOLOGI REPRODUKSI IKAN BETOK (Anabas testudineus) DI PAPARAN BANJIRAN LUBUK LAMPAM,KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR Eko Prianto; Mohammad Mukhlis Kamal; Ismudi Muchsin; Endi Setiadi Kartamihardja
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 6, No 3 (2014): (Desember 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.232 KB) | DOI: 10.15578/bawal.6.3.2014.137-146

Abstract

Ikan betok (Anabas testudineus) adalah salah satu jenis ikan ekonomis penting yang dihasilkan dari perairan paparan banjiran. Penelitian yang bertujuan untuk mengkaji beberapa aspek biologi reproduksi ikan betok di paparan banjiran Lubuk Lampam, Kabupaten Ogan Komering Ilir dilakukan pada bulan Nopember 2012-Oktober 2013. Sampel ikan ditangkap setiap bulanmenggunakan alat tangkap jaring dan bengkirai.Analisis data meliputi sebaran frekuensi ukuran panjang, nisbah kelamin, tingkat kematangan gonad, indeks kematangan gonad, ukuran pertamakali matang gonad, potensi reproduksi dan pola reproduksi. Jumlah sampel ikan betok yang diperoleh sebanyak 540 ekor, terdiri dari 187 ekor ikan jantan dan 353 ekor ikan betina, dengan kisaran panjang ikan betina antara 27-224 mm dan ikan jantan antara 48-243 mm. Rasio kelamin ikan jantan dan betina adalah 0,53 : 1. Tingkat kematangan gonad (TKG) ikan jantan dan betina yang paling banyak ditemui adalah TKG I dengan frekuensi tertinggi pada ukuran 116-132 mm dan 114-129 mmmasing-masing berjumlah 34 dan 33 ekor. Perkembangan tingkat kematangan gonad ikan betok dipengaruhi oleh perubahan tinggimuka air secara musiman. Indek kematangan gonad ikan jantan pada TKGIV berkisar 1,3-15,0%dan ikan betina berkisar antara 1,2 17,1%. Ukuran pertama kali matang gonad ikan betina adalah pada panjang total 160 mm dan ikan jantan pada panjang total 177 mm. Fekunditas ikan betok berkisar antara 224–182.736 butir dengan diameter telur berkisar antara 0,465-1,026 mmdengan pola pemijahan secara sebagian. Climbing perch, Anabas testudineus is a dominant commercial fish inhabit floodplain area of Lubuk Lampam, Ogan Komering Ilir Regency. A study aimed to investigate some aspects of the reproductive biology of climbing perch has been conducted at floodplain of Lubuk Lampam, Ogan Komering Ilir regency from November 2012 to October 2013. Fish sampling was conducted every month using nets and bamboo trap. The data analysis includes lenght frequency distribution, sex ratio, the gonado maturity, gonado somatic index, the size at first maturity, fecundity and reproductive patterns. Climbing perch sample amounted of 540 specimen compose of 187 males and 353 females, with the lenght frequency between 27-224 mm (female) and 48-243 mm (male). Sex ratio of the male and female of the climbing perch was 0,53 : 1. The gonado maturity of male and female are mostly at the first level with the highest frequency between 116-132 mm and 114-129 mm, equivalent to 34 and 33 specimen, respectively. The development of gonado maturity of climbing perch was influenced by seasonally of water level fluctuation. Gonado somatic index of maturity of male and female range 1.3-15.0% and 1.2 -17.1%, respectively. The size at the first maturity of the female was 160 mm lenght and of the male was 177 mm lenght. The fecundity ranges 224 to182,736 eggs with the egg diameter ranges 0.465-1.026 mm and the climbing perch was classified into partially spawner.
KORELASI PARAMETER MORFOMETRIK, NISBAH KELAMIN DAN KOMPOSISI UKURAN IKAN PEDANG (Xiphias gladius L.) DI SAMUDERA HINDIA Bram Setyadji; Budi Nugraha
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 6, No 3 (2014): (Desember 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.036 KB) | DOI: 10.15578/bawal.6.3.2014.155-162

Abstract

Model pengkajian stok melalui data frekuensi panjang lebih banyak digunakan karena data tersebut paling banyak tersedia dan mudah didapatkan dibandingkan data pengukuran jaringan keras (sisik, otolith, sirip dan tulang belakang) dan tagging. Khusus untuk ikan pedang, data panjang yang tersedia sebagian besar tidak standar dikarenakan ikan pedang yang tertangkap langsung diproses di laut yang mana bagian kepala, sirip, isi perut dibuang. Oleh karena itu dibutuhkan persamaan empiris untuk konversi dari ukuran non-standar ke standar sehingga bisa digunakan sebagai basis data pengkajian stok yang berbasis data tersebut. Data primer merupakan hasil observasi laut selama kurun waktuMaret 2011 sampai dengan Desember 2013, sedangkan data sekunder merupakan data observasi ilmiah Loka Penelitian Perikanan Tuna periode 2005-2013. Hasil penelitian menunjukkan terdapat korelasi yang signifikan antara beberapa parametermorfometrik ikan pedang yang diukur yakni panjang dari pangkal sirip dada ke ujung lekukan tengah sirip ekor (LJFL), panjang dari mata ke ujung lekukan tengah sirip ekor (EFL) dan panjang dari ujung rahang bawah ke ujung lekukan tengah sirip ekor (PFL) (R2 > 0,97; P < 0,01), akan tetapi tidak ada perbedaan yang nyata antara morfometri ikan pedang dan jenis kelamin (EFL-LJFL, P > 0,05 dan PFL-LJFL, P > 0,05). Hubungan antara nisbah kelamin dengan panjang ikan signifikan (Nisbah Kelamin = 0,0175 LJFL – 3,1001; n = 6, selang kelas 5 cm; P < 0,01) yang mana ikan pedang dengan ukuran lebih dari 260 cmadalah betina.Stock assessment models using length frequency data are more frequently used by Indonesian scientist due to its availability and easily obtained rather than skeletal parts or tagging data. As for swordfish most of the data vailable are not in standard form because most of swordfish landed are usually dressed at sea with various ways, so the length measurement are possible done afterward. There fore conversion among different length measurements is a necessity for assessment and management purposes. Primary data was collected from scientific observer program conducted between March 2011 and December 2013, while secondary data was obtained from 2005-2013. The results showed that the models are fit quite well for Lower Jaw Fork Length (LJFL), Eye Orbit Fork Length (EOFL) and Pectoral Fork Length (PFL) (R2> 0.97; P < 0.01) and there was no significant relationship between morphometric and sex (EFL-LJFL, P > 0.05 and PFL-LJFL, P > 0.05). Correlation between sex ratio and body size proved to be significant with nearly all of the swordfish >260 cm was female.
PARAMETER POPULASI DAN TINGKAT EKSPOITASI IKAN KUNIRAN (Upeneus sulphureus) DI LAUT JAWA Nurulludin Nurulludin; Prihatiningsih Prihatiningsih
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 6, No 3 (2014): (Desember 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.816 KB) | DOI: 10.15578/bawal.6.3.2014.163-168

Abstract

Ikan kuniran (Upeneus sulphureus) merupakan salah satu ikan demersal yang mempunyai nilai ekonomis penting dalamperikanan di Indonesia. Pada saat ini, pemanfaatan sumberdaya ikan kuniran di Laut Jawa dengan menggunakan cantrang. Dalammenjaga kelestarian sumberdaya ikan kuniran tersebut diperlukan penelitian yang dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengelolaannya. Penelitian tentang parameter populasi ikan kuniran di Laut Jawa dilaksanakan pada bulan Februari - Desember 2012 melalui pengumpulan data frekuensi panjang secara bulanan di TPI Tegalsari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beberapa parameter populasi ikan kuniran di Laut Jawa.Analisis terhadap 6.290 ekor ikan kuniran dengan perangkat lunak FISAT (FAO-ICLARM Stock Assessement Tools), diperoleh beberapa parameter populasi sebagai berikut: koefisien pertumbuhan (K) sebesar 0,64 per tahun, panjang asimtotik (L ) sebesar 15,02 cm FL, panjang rata-rata pertama kali tertangkap (Lc) sebesar 7,78 cm, rata-rata panjang pertama kali matang gonad (Lm) sebesar 8,4 cm, laju kematian alami sebesar (M) 1,64 per tahun, laju kematian akibat penangkapan sebesar (F) 0,94 per tahun, dan tingkat eksploitasi sebesar E 0,36 per tahun yang berarti tingkat pemanfaatan ikan kuniran dapat ditingkatkan 28% dari keadaan saat ini.Silver goatfish (Upeneus sulphureus) is one of demersal fish has an important economic value in Indonesia. The utilization of silver goatfish resources been exploited for a long time with a variety of fishing gear, especially with danish seine. In order to conserve of silver goatfish resources its necessary to conduct can be guidance in the management. The research was conducted in February December 2012 in the Java Sea. Goatfish fork length measurements taken randomly from 6.290 sample in Tegal. This paper aims to determine some parameters populations of silver goatfish (Upeneus sulphureus) in the Java Sea. Analysis of the data using FISAT II software (FAO-ICLARMStock Assessement Tools). Analysis results obtained some goatfish population parameters the growth coefficient (K) of 0.64 per year, (L ) 15.02 cm,(Lm) 8.4 cm, (M) per year 1.64 (F) 0.94 per year and E 0.36 per year which mean utilization can be improved about 28%from the current state.
BIOLOGI REPRODUKSI IKAN SUMPIT (Toxotes microlepis Gunther 1860) DI PERAIRAN SUNGAI MUSI SUMATERA SELATAN Ni Komang Suryati; Safran Makmur; Syarifa Nurdawati
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 6, No 3 (2014): (Desember 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (545.846 KB) | DOI: 10.15578/bawal.6.3.2014.119-126

Abstract

Kegiatan penangkapan ikan sumpit sebagai ikan hias secara terus menerus di SungaiMusi oleh para nelayan akan mengakibatkan penurunan populasi ikan tersebut. Ikan sumpit termasuk ikan yang bernilai ekonomis tinggi, harganya di pasaran Rp 150.000,-. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui aspek biologi reproduksi ikan sumpit sebagai salah satu informasi untuk mendukung pelestarian ikan sumpit agar populasi ikan sumpit tetap terjaga. Penelitian dilakukan pada setiap bulan sejak Juni hingga Oktober 2011. Pengambilan sampel Ikan sumpit dilaksanakan di Perairan Sungai Musi dari Borang sampai Sungsang. Hasil penelitianmenunjukkan rasio kelamin antara ikan jantan dan ikan betina terjadi ketidakseimbangan dimana rasio kelamin ikan jantan jauh lebih banyak dibandingkan rasio kelamin ikan betina (2:1). Rata-rata nilai Indeks Gonad Somatik ikan sumpit berkisar antara 4,27±1,27. Nilai dari fekunditas ikan sumpit betina secara keseluruhan berkisar 6.655-72.726 butir/individu. Kisaran diameter telurnya antara 0,27 – 0,95 mm. Ukuran pertama kali matang gonad pada panjang total 134,97 mm untuk ikan jantan dan 116,31 mm untuk ikan betina.Fishing activity of archer fish as ornamental fish continuously in Musiriver by fisher will decrease it population. The price is Rp 150.000,-/fish in market so that Archer fish has high economy value. Therefore it was necessary to study the reproductive biology of archerfish that may be used as a reference for better management in order to achieve stability of its population. The research was conducted every month from June to October 2011 in downstream ofMusiriver South Sumatera. Result of this research showed that proportion between male and female were not equal (2:1). Gonad Somatic Index of archer fish values ranged 4,27 ± 1,27 and the fecundity of the female is estimated between 6655 to 72726 eggs. The average diameter of mature egss ranged form 0.27 to 0.95 mm. Length of first maturity for male and female were 134.97 mm and 116.31 mm, respectivelly.
PARAMETER POPULASI LOBSTER BAMBU (Panulirus versicolor) DI PERAIRANUTARAKABUPATENSIKKADANSEKITARNYA Tri Ernawati; Duranta D Kembaren; Suprapto Suprapto; Bambang Sumiono
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 6, No 3 (2014): (Desember 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.823 KB) | DOI: 10.15578/bawal.6.3.2014.169-175

Abstract

Lobster bambu (Panulirus versicolor) adalah salah satu komoditas perikanan penting yang sudah banyak dieksploitasi oleh nelayan tradisional. Sejalan dengan peningkatan pengusahaan, maka perlu tersedia data dan informasi terbaru tentang parameter populasi lobster yang dapat dijadikan bahan pertimbangan dalampengelolaan sumberdaya lobster. Penelitian dilaksanakan pada bulanMaret sampai dengan Desember 2011 di perairan utara Kabupaten Sikka dan sekitarnya. Tulisan ini bertujuan untuk mengestimasi parameter populasi lobster bambu. Hasil penelitian diperoleh rata-rata ukuran pertama kali tertangkap (Lc) = 73,67 mmCL. Laju pertumbuhan (K) = 0,44 per tahun dan pencapaian panjang karapas asimtotik (CL ) adalah sebesar 146,7 mm. Laju mortalitas alami (M) 0,68 per tahun dan laju kematian akibat penangkapan (F) sebesar 0,99 per tahun. Tingkat eksploitasi (E) sebesar 0,59 atau rentan terhadap overfishing. Penambahan baru ke dalam populasi berlangsung sepanjang tahun dan mencapai puncaknya pada bulan Agustus dan September bersamaan dengan musim timur.The painted Spiny lobster (Panulirus versicolor) was one of the important fishery commodity that have been exploited by traditional fishermen. The increased of lobster utilization, it’s necessary to update available data and information about lobster’s population parameters that could be used as amaterial consideration to manage lobster resources. The study was conducted in March to December 2011 in the Northern waters of Sikka district and adjacent waters. The objectives of this study were to assess population parameters of P. versicolor. The result showed that mean size at first capture (Lc) is 73.67 mmCL. The lobster growth rate (K) is 0.44 per year and achieving the infinitive carapace length (CL ) is 146.7 mm. The natural mortality (M) is 0.68 per year and fishing mortality (F) is 0.99 per year. The exploitation rate (E) of lobster is 0.59. It’s reached the condition are vulnerable to overfishing. Recruitment occurred throughout the year with peak recruitment was occurred in August and September.
PENDUGAANPARAMETERPERTUMBUHAN,MORTALITAS DANUKURAN PERTAMAMATANGGONAD IKAN GABUS (Channa striata) DI RAWABANJIRAN SUNGAIMUSI Syarifah Nurdawati; Aroef Hukmanan Rais; Fredy Supriyadi
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 6, No 3 (2014): (Desember 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.339 KB) | DOI: 10.15578/bawal.6.3.2014.127-136

Abstract

Ikan gabus merupakan salah satu jenis ikan ekonomis penting yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku produk olahan. Habitat ikan gabus di SungaiMusi yaitu banyak dijumpai di rawa banjiran seperti lebak-lebak di SungaiMeriak, Sungai Semuntul dan hutan rawa Danau Cala. Penelitian dilakukan dari bulan Februari–Desember 2010 dengan tujuan untukmengetahui pertumbuhan, mortalitas, laju pertumbuhan dan ukuran pertama matang gonad. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama 11 bulan penelitian didapatkan sampel ikan gabus sebanyak 2.303 ekor dengan kisaran nilai tengah panjang antara 20 - 500 mm, Ikan gabus betina pertama matang gonad berukuran panjang 210 mm sedangkan ikan gabus jantan pada ukuran 185 mm. Dari analisa Ford-Walford diperoleh nilai parameter pertumbuhan dengan panjang asimtotik ikan gabus (L ) sebesar 575,9 mm, koefisien pertumbuhan (K) sebesar 0,173 per tahun dan umur teorits (t0) sebesar - 0,07 per tahun sehingga diperoleh persamaan pertumbuhan Von Bertalanffy untuk ikan gabus adalah Lt = 575,9 (1-e-0,173(t +0,07)). Dugaan laju kematian alami (M) sebesar 0,25 per tahun dan laju kematian karena penangkapan (F) sebesar 0,51 per tahun. Laju eksploitasi (E) ikan gabus sebesar 0,67 per tahun atau sudah melebihi nilai eksploitasi optimumyaitu 0,50.The snakehead fishis considered to be an important food fish.The fishes arewidely used asraw material refined products. Habitat of Channa striata in floodplain of Musi River, there are in Meriak River, Semuntul River and in plood plain of Cala lake. Estimation of population parameters and size at the firstmaturity of female and male snakehead (Channa striata) has been conducted from February 2010 to December 2010. The purpose is to estimate fish population parameters quantitatively including growth of snakehead. The first sexual maturity and natural mortality (M), fishing mortality (Z) and exploitation rates (E) of snakehead.The results of this study showed that 11 month study period we found as many as 2,306 fish samples of channa striata with mediumlength range value between 20 to 500 mm. Size at first sexual maturity for female were 210 mm in length and for males of 185 mm. Based on the analysis of Ford-Walford growth parameter values obtained L = 575.9 mm, and K= 0.173 per year with a valueof t0 = - 0.07. From the values obtained by the Von Bertalanffy growth equation of Channa striata is Lt = 575,9 (1-e 0,173(t +0,07)).Alleged rate of natural mortality (M) of 0.25 per year and the rate of mortality due to fishing (F) of 0.51 per year and exploitation rate (E) fish by 0.67 per year that more exceed the optimum level exploitation (E = 0.5).

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2014 2014


Filter By Issues
All Issue Vol 17, No 3 (2025): Desember 2025 Vol 17, No 2 (2025): Agustus 2025 Vol 17, No 1 (2025): April 2025 Vol 16, No 3 (2024): Desember 2024 Vol 16, No 2 (2024): AGUSTUS 2024 Vol 16, No 1 (2024): (APRIL) 2024 Vol 15, No 3 (2023): (DESEMBER) 2023 Vol 15, No 2 (2023): (AGUSTUS) 2023 Vol 15, No 1 (2023): (APRIL) 2023 Vol 14, No 3 (2022): (DESEMBER) 2022 Vol 14, No 2 (2022): (Agustus) 2022 Vol 14, No 1 (2022): (APRIL) 2022 Vol 13, No 3 (2021): (DESEMBER) 2021 Vol 13, No 2 (2021): (AGUSTUS) 2021 Vol 13, No 1 (2021): (April) 2021 Vol 12, No 3 (2020): (Desember) 2020 Vol 12, No 2 (2020): (AGUSTUS) 2020 Vol 12, No 1 (2020): (April) 2020 Vol 11, No 3 (2019): (Desember) 2019 Vol 11, No 2 (2019): (Agustus) 2019 Vol 11, No 1 (2019): (April) 2019 Vol 10, No 3 (2018): (Desember) 2018 Vol 10, No 2 (2018): (Agustus) 2018 Vol 10, No 1 (2018): April (2018) Vol 9, No 3 (2017): (Desember) 2017 Vol 9, No 2 (2017): (Agustus 2017) Vol 9, No 1 (2017): (April, 2017) Vol 8, No 3 (2016): (Desember, 2016) Vol 8, No 2 (2016): (Agustus 2016) Vol 8, No 1 (2016): (April 2016) Vol 7, No 3 (2015): (Desember 2015) Vol 7, No 2 (2015): (Agustus 2015) Vol 7, No 1 (2015): (April 2015) Vol 6, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 6, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 6, No 1 (2014): (April 2014) Vol 5, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 5, No 1 (2013): (April 2013) Vol 4, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 4, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 4, No 1 (2012): (April 2012) Vol 3, No 6 (2011): (Desember 2011) Vol 3, No 5 (2011): (Agustus 2011) Vol 3, No 4 (2011): (April 2011) Vol 3, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 3, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 3, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 6 (2009): (Desember 2009) Vol 2, No 5 (2009): (Agustus 2009) Vol 2, No 4 (2009): (April 2009) Vol 2, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 2, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 2, No 1 (2008): (April 2008) Vol 1, No 6 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 5 (2007): (Agustus 2007) Vol 1, No 4 (2007): (April 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) More Issue