cover
Contact Name
Harls Evan Siahaan
Contact Email
evandavidsiahaan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kurios@sttpb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kurios
ISSN : 2615739X     EISSN : 26143135     DOI : -
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2614-3135 (online), ISSN: 2406-8306 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 24 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 1: April 2022" : 24 Documents clear
Partisipasi aktif dalam ibadah online sebagai tanda persekutuan Pakpahan, Binsar Jonathan
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 1: April 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i1.467

Abstract

This article aims to explain the differences between the online community and fellowship (church) through the dimensions of active participation in online worship. A fellowship is a community of baptized who confessed their faith and are actively involved in their calling. In a local church, members are united by common culture, language, and history. It is feared that online worship carried out during the Covid-19 pandemic will reduce the meaning of fellowship. Through descriptive qualitative method plus observation, with the theory from Alan Rathe and F. Gerrit Immink regarding active participation, this study found three indicators that could help churches prepare their worship to invite active participation as a sign of fellowship. The three indicators are “in” which refers to the common ground, namely initiation in the Triune God; "with" which refers to the congregation's togetherness to follow and participate both in terms of time and ability to interact; and "by" that is doing something together such as singing and responding to the same ritual. AbstrakArtikel ini bertujuan untuk menjelaskan perbedaan komunitas dan persekutuan (gereja) online melalui dimensi partisipasi aktif dalam ibadah secara online. Persekutuan adalah komunitas orang-orang yang dibaptis yang memiliki pengakuan iman, dan terlibat aktif dalam tugas panggilannya. Dalam bentuk gereja lokal, anggota diikat oleh kesamaan budaya, bahasa, dan sejarah. Ibadah online yang dilaksanakan dalam masa pandemi Covid-19 dikhawatirkan akan mengurangi makna persekutuan. Melalui metode kualitatif deskriptif ditambah observasi, dengan teori dari Alan Rathe dan F. Gerrit Immink mengenai partisipasi aktif dalam ibadah, penelitian ini menemukan tiga indikator yang mengukur partisipasi jemaat dalam ibadah. Ketiga indikator itu adalah “dalam” yang merujuk kepada kesamaan landasan yaitu inisiasi dalam Allah Tritunggal; “bersama” yang merujuk kepada kebersamaan jemaat mengikuti dan berpartisipasi baik dari sisi waktu maupun kemampuan berinteraksi; dan “dengan cara” yaitu melakukan sesuatu bersama seperti bernyanyi dan merespons tata ibadah yang sama.
Pembelajaran jarak jauh yang pedagogis-spiritual: Sebuah tawaran model pembelajaran ramah anak di tengah pandemi Covid-19 Sine, Novy Amelia Elisabeth
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 1: April 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i1.448

Abstract

The covid-19 Pandemic has impacted education in Indonesia. It causes the government to issue a policy, namely Distancing Learning. However, students have trouble doing the process of the policy. It is because the learning model is not completely child friendly. This manuscript aims to criticize the model of distancing learning and offer a new learning model that is needed to build the process of child-friendly education. This research uses a qualitative method by constructing the thought of Bell Hooks and Ralph W. Tyler about the curriculum and engaged pedagogy and analyzing the result of the interview with parents and students. The results show that PJJ needs a new learning model, which considers students' spirituality. Moreover, this manuscript points out that pedagogical-spiritual distancing learning is a child-friendly learning model. AbstrakPandemi Covid-19 memberi dampak pada sektor pendidikan di Indonesia yang mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Namun, peserta didik mengalami kendala dalam proses pelaksanaan kebijakan tersebut karena model pembelajaran yang tidak sepenuhnya ramah pada anak. Tulisan ini bertujuan untuk mengkritisi model PJJ dan menawarkan sebuah model pembelajaran yang dibutuhkan untuk membangun proses pendidikan yang ramah anak. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan mengkonstruksi pemikiran Bell Hooks dan Ralph W. Tyler mengenai kurikulum dan engaged pedagogy, serta menganalisis hasil wawancara terhadap orang tua dan peserta didik yang menunjukkan perlunya model baru dalam PJJ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PJJ membutuhkan sebuah model pembelajaran yang baru, yang mempertimbangkan aspek spiritualitas peserta didik. Tulisan ini pada akhirnya memperlihatkan bahwa PJJ yang pedagogis-spiritual merupakan sebuah tawaran model pembelajaran yang ramah anak di tengah pandemi Covid-19.
Mewujudkan sila "Persatuan Indonesia" melalui gerakan ekumenis gereja Wahyuni, Sri; Adithia, Wahyu Prima; Arifianto, Yonatan Alex
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 1: April 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v7i2.225

Abstract

The solidity of Pancasila as the foundation for the nation's unity continues to be undermined to the present day. The church is required to be able to contribute to realizing national unity through the actualization of Pancasila values. Our thesis is that the actualization of Pancasila values is the spirit contained in the Bible. This study aims to show the results of the analysis of 1 Corinthians 12:12-31 which can be used as a reference in designing the proposed contribution of the church in the actualization of Pancasila. The method used is descriptive and interpretive analysis related to the Corinthian text. The study's results found that according to the concept of one body in 1 Corinthians 12:12-31, the church's real form of participation or contribution in actualizing Pancasila values can be done by forming the church as a "Pancasila body". At least, the church has begun to realize the actualization of Pancasila values through an ecumenical movement that expresses the precepts of "Indonesian Unity". AbstrakKekokohan Pancasila sebagai dasar persatuan dan kesatuan bangsa masih terus mendapatkan rongrongan sampai saat ini. Gereja dituntut untuk dapat berkontribusi mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa melalui pengaktualisasian nilai-nilai Pancasila. Tesis yang kami bangun adalah, bahwa pengaktualisasian nilai Pancasila merupakan spirit yang terkandung dalam Alkitab. Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan hasil analisis 1 Korintus 12:12-31 yang dapat dijadikan acuan dalam mendesain usulan kontribusi gereja dalam pengaktualisasian Pancasila. Metode yang dipergunakan adalah analisis deskriptif dan intepretatif terkait teks Korintus yang digunakan. Hasil penelitian mendapatkan, bahwa sesuai konsep satu tubuh dalam 1 Korintus 12:12-31, bentuk partisipasi atau kontribusi nyata gereja dalam mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila dapat dilakukan dengan membentuk gereja sebagai “tubuh Pancasila”. Setidaknya, gereja mulai mewujudkan pengaktualisasian nilai Pancasila melalui gerakan ekumenis yang mengekspresikan sila “Persatuan Indonesia”.
Rekonstruksi pendidikan kristiani holistik pada era digital melalui warisan nilai sistem pendidikan "anak piara" di Minahasa
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 1: April 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i1.447

Abstract

Christian education must recognize the rich local cultural heritage and educational values in the increasingly developing digital culture. This article offers a model of humanistic Christian education through the foster child system. The foster child system is an educational practice in Minahasa in the 19th century that shows two essential values: a holistic educational model and a transforma-tive Christian education. This qualitative research uses descriptive and historical reconstruction methods with a chronological approach, such as outlining cultu-ral encounters through literature in books and related journal articles. As a result, the cultural heritage of the foster child contributes to the construction of holistic and transformative Christian education, so it can guide the use of technology that leads to humanity. AbstrakPendidikan kristiani, di tengah semakin berkembangnya budaya digital, tidak boleh mengabaikan warisan budaya lokal yang sarat dengan nilai-nilai edukatif. Artikel ini bertujuan untuk menawarkan sebuah model pendidikan kristiani yang humanis melalui sistem anak piara. Sistem anak piara merupakan sebuah praktik pendidikan di Minahasa pada abad ke-19 yang menunjukkan dua nilai penting, yakni model pendidikan dan cara berpengetahuan yang holistik serta pendidikan kristiani yang transformatif. Penelitian ini berjenis kualitatif yang menggunakan metode deskriptif dan rekonstruksi historis, dengan pende-katan kronologis, seperti menguraikan perjumpaan budaya, melalui penggu-naan literatur dalam bentuk buku maupun artikel jurnal terkait. Hasilnya, warisan budaya anak piara berkontribusi pada konstruksi pendidikan kristiani yang holistik dan transformatif, sehingga dapat mengawal penggunaan tekno-logi yang bermuara pada kemanusiaan.

Page 3 of 3 | Total Record : 24