cover
Contact Name
Medyawati
Contact Email
ecolab.jurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
cak_war@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Jurnal Ecolab
ISSN : 19785860     EISSN : 25028812     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Ecolab adalah wadah yang merupakan sarana informasi dan publikasi berkaitan dengan kegiatan laboratorium lingkungan. Penerbitan Jurnal Ecolab untuk menampung berbagai informasi mengenai kajian ilmiah, hasil kegiatan pemantauan kualitas lingkungan dan kegiatan sejenisnya dari berbagai kalangan pemerhati lingkungan. Semoga Jurnal Ecolab dapat menambah informasi kita mengenai perkembangan ilmu pengetahuan dan lingkungan yang ada disekitar kita. Untuk penerbitan-penerbitan berikut, redaksi mengundang pengunjung web, para pembaca, dan praktisi serta pemerhati lingkungan untuk dapat memberikan tulisan dan karya ilmiahnya di jurnal ini.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 1 (2021): ECOLAB" : 7 Documents clear
Perbandingan Kualitas Udara Berdasarkan Parameter Deposisi Kering di Jakarta, Bandung, dan Serpong Retno Puji Lestari, S.Si,M.Sc; Dyah Aries Tanti; Miya Riski Utari; Yuni Kartika
Jurnal Ecolab Vol 15, No 1 (2021): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2021.15.1.1-11

Abstract

Peningkatan emisi gas buang dari kegiatan industri dan transportasi berkontribusi pada terjadinya pencemaran udara dan menyebabkan deposisi asam. Pemantauan deposisi kering di tiga lokasi berbeda (Serpong, Jakarta, dan Bandung) dilakukan selama tahun 2019.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi polutan parameter deposisi kering, serta melihat perbandingan konsentrasi saat musim hujan dan kemarau. Pengukuran deposisi kering dengan metode filter pack  meliputi dua parameter yaitu partikulat Na+, K+, Ca2+, Mg2+, NH4+, Cl-, NO3-, dan SO42- dalam aerosol serta gas-gas SO2, HNO3, NH3, dan HCl. Udara dilewatkan pada four stage filter pack yang memiliki spesifikasi untuk tiap komponen kimia di setiap rangkaian filter, selama dua minggu secara kontinyu menggunakan pompa dengan laju alir 1 L/menit.  Filter hasil sampling dipreparasi dan dianalisis menggunakan Ion Chromatography DIONEX ICS5000 menggunakan eluen campuran NaHCO3 2,7 mM dan Na2CO3 0,3 mM untuk anion dan eluen MSA 20 mM  untuk kation dengan laju alir pengukuran 1 L/menit.  Hasil pengujian memperlihatkan bahwa gas NH3 dan partikulat SO42- di setiap lokasi merupakan polutan dominan dalam deposisi kering. Konsentrasi NH3 tertinggi di Jakarta terjadi pada bulan Desember (4,4 ppb), di Bandung pada bulan November (17 ppb), sementara di Serpong pada bulan Juli (13 ppb). Konsentrasi SO42- paling tinggi di Jakarta terjadi pada bulan Juli (10,3 mg/m3), di Bandung pada bulan Februari (11,7 mg/m3), dan di Serpong pada bulan September (8,6 mg/m3). Persentase senyawa NH3 di Jakarta, Bandung, dan Serpong masing-masing sebesar 41%, 70%, dan 64%, sementara SO42- masing-masing sebesar 42%, 49%, dan 58%. Tidak terlihat adanya perbedaan nyata antara konsentrasi pencemar pada musim hujan dan kemarau di Bandung, Jakarta, dan Serpong untuk beberapa parameter, kecuali di Jakarta untuk Na+ (p < 0,05), di Serpong untuk SO2, HCl,dan K+ berbeda nyata (p < 0,05), serta parameter HNO3 dan NO3- berbeda nyata (p < 0,001).
Validasi Metode Pengujian Biochemical Oxygen Demand (BOD) Dalam Air Laut Secara Titrimetri Berdasarkan SNI 6989.72:2009 Oktaria Diah Pitalokasari; Shohibul Fiqri; Dini Ayudia
Jurnal Ecolab Vol 15, No 1 (2021): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2021.15.1.63-75

Abstract

Validasi Metode Pengujian Biochemical Oxygen Demand (BOD) Dalam Air Laut Secara Titrimetri Berdasarkan SNI 6989.72:2009. Metode Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk Pengujian BOD di air laut selama ini belum ada. Cara Uji Kebutuhan Oksigen Biokimia atau Biochemical Oxygen Demand (BOD) (SNI 6989.72:2009) hanya berlaku untuk air dan air limbah.  Penelitian ini bertujuan untuk memvalidasi  metode SNI 6989.72:2009 untuk matrik air laut. Validasi metode pengujian BOD pada air laut ini dilakukan secara titrimetri, berdasarkan penentuan oksigen terlarut sebelum dan sesudah  inkubasi pada temperatur 20oC selama 5 hari (BOD5). Hasil validasi memperlihatkan bahwa jumlah populasi bakteri optimum dalam analisis BOD air laut 19,64 x 106 CFU/mL atau 4 mL Polyseed dalam 1 botol winkler 100 mL, dengan konsentrasi BOD5 standar GGA 174,73 mg/L, dan %O2 54,06, hasil ini sesuai dengan standar APHA No. 5210-2012. Nilai akurasi validasi berada dalam rentang 88–96%, presisi %RSD yang diterima, serta hasil pengujian yang linear. Hasil pengujian atau pengukuran menunjukan bahwa BOD5 dengan bakteri isolasi dan Polyseed menunjukkan bahwa terdapat perbedaan berdasarkan uji t, Nilai BOD5 sampel air laut  yang digunakan sebesar 12,38 mg/L, melebihi baku mutu BOD5 sesuai KEPMENLH No 51 Th. 2004 untuk air laut wisata bahari (<10 mg/L) namun belum melebihi baku mutu kawasan biota laut (<20 mg/L).
Emisi CO2 Kendaraan Bermotor Periode Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (Studi Kasus: Ruas Jalan Di Jakarta Pusat) Farah Dewi Permatasari; Suwarno Hadisusanto; Eko Haryono
Jurnal Ecolab Vol 15, No 1 (2021): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2021.15.1.31-44

Abstract

Emisi CO2 Kendaraan Bermotor Periode Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (Studi Kasus: Ruas Jalan Di Jakarta Pusat). Jakarta Pusat sebagai jantung kota DKI Jakarta memiliki arus pergerakan orang dan barang yang tinggi terutama dalam penggunaan kendaraan bermotor. Pembakaran bahan bakar kendaraan bermotor menyebabkan semakin meningkatnya akumulasi CO2 di atmosfer. Pada awal tahun 2020 berbagai negara di dunia termasuk Indonesia dan Jakarta mengalami pandemi Covid19 yang mendorong pemerintah menerapkan pemberlakuan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) untuk menekan kasus penyebaran Covid19. Adanya PSBB mengakibatkan dampak terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat termasuk keterbatasan aktivitas dan mobilitas masyarakat menggunakan kendaraan bermotor. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besaran emisi CO2 saat periode kebijakan PSBB di tiga ruas jalan Jakarta Pusat. Metode penelitian ini dilakukan secara deskriptif kuantitatif meliputi besaran konsumsi BBM masyarakat menggunakan kuesioner, data lalu lintas harian rata-rata (LHR) kendaraan bermotor bersumber dari Dinas Perhubungan DKI Jakarta dan besaran emisi CO2 menggunakan perangkat lunak Mobilev 3.0. Hasil penelitian ini didapatkan besaran rata-rata konsumsi BBM tiap kendaraan saat PSBB yaitu untuk sepeda motor sebesar 4,01 liter/unit kendaraan dan mobil sebesar 20,6 liter/unit kendaraan. Total LHR kendaraan bermotor keseluruhan pada tiga ruas jalan sebesar 159.621 kendaraan (PSBB Transisi) dan sebanyak 132.623 kendaraan (PSBB Total). Total besaran emisi CO2 keseluruhan dari tiga ruas jalan saat PSBB transisi sebesar 68.863 ton/tahun dan saat PSBB total emisi CO2 sebesar 52.287 ton/tahun. Urutan emisi CO2 tertinggi berada di Jalan MH. Thamrin, kemudian Jalan Abdul Muis dan emisi terendah berada di Jalan Prajurit KKO Usman Harun. Berdasarkan penelitian ini, secara keseluruhan terjadi penurunan emisi CO2 pada tiga ruas jalan sebesar 24% antara kondisi PSBB Transisi dan PSBB Total. Penurunan emisi CO2 terjadi karena adanya keterbatasan mobilitas masyarakat menggunakan kendaraan bermotor dan perubahan konsumsi BBM selama periode kebijakan PSBB.
Characteristics of Particulate Emissions from Co-Firing in An Industrial Boiler Ines Saraswati Rudianto
Jurnal Ecolab Vol 15, No 1 (2021): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2021.15.1.23-29

Abstract

Characteristics of Particulate Emissions from Co-Firing in An Industrial Boiler. PT. X is a textile industry that consumes a massive amount of coal for its boiler operation. It requires substantial costs to obtain coal from Sumatra and Kalimantan. An alternative solid biofuel (briquette) was developed to combine bottom ash and biomass made from municipal solid waste called Biomass Coal Fuel (BCF) briquette. The purpose of this study is to measure the total concentration of particulate matter and emission factor (PM) emitted from two burning experiments: only coal (100%) and mixed coal fuel with 10% of BCF (co-firing). Mixed coal and BCF burning are carried out in the fire-tube boiler where the PM emission is released through the stack. The Center for Pulp and Paper measured particulate emission with methodology referring to SNI 7117.17-2009. Particulate matter concentration emitted from only coal-burning was 12,1 mg/Nm3,but when mixed BCF and coal were used, the higher concentration was emitted 70,9 mg/Nm3. The addition of BCF briquettes affects the particulate matter emission, even though the emission does not exceed the regulated quality standard. The increase of particulate concentration is due to the BCF briquette characteristics, which have a low heating value and high ash content. The boiler has already been equipped with cyclone and wet scrubber; therefore, PM emissions presented here are treated emissions. The controlled PM emission factor of BCF was 4,46 g/kg, which is higher than only coal which was 0,51 g/kg. BCF briquette can still be used as co-fuel for the boiler, but further effort is still required to reduce the ash content of the BCF and increase the calorific value of the BCF.
Distribusi Temporal Konsentrasi PM10 Menggunakan Alat Particle Plus EM-10000 Yoga Wahyu Utama
Jurnal Ecolab Vol 15, No 1 (2021): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2021.15.1.45-52

Abstract

Distribusi Temporal Konsentrasi PM10 Menggunakan Alat Particle Plus EM-10000. Tingkat polusi partikulat di Kota Bandung umumnya melebihi kualitas udara ambien nasional. Sektor transportasi menjadi sumber utama dalam pencemaran konsentrasi PM10 di Kota Bandung, dimana kendaraan bermotor menyumbang 70% pencemar partikulat (PM10). Faktor lain yang berpengaruh terhadap variabilitas temporal konsentrasi PM10 selain sumber emisi lokal adalah faktor meteorologi dan sumber regional yang berasal dari luar daerah Kota Bandung. Meteorologi dapat memengaruhi proses dispersi maupun difusi partikulat yang dapat menyebabkan peningkatan atau penurunan konsentrasi PM10. Sumber regional juga memiliki peran terhadap variabilitas temporal konsentrasi PM10 karena secara substansial PM10 dapat terbawa dari tempat yang jauh melalui mekanisme long range transport. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisa distribusi temporal konsentrasi PM10 di Itenas Bandung agar data yang diperoleh dapat dimanfaatkan untuk meminimalisir terjadinya paparan jangka pendek yang dapat menyebabkan risiko kesehatan. Konsentrasi PM10 bersumber dari pencemar lokal (transportasi) dan pencemar regional (luar daerah Kota Bandung) yang diidentifikasi dengan model HYSPLIT, serta pengaruh faktor meteorologi terhadap variabilitas temporal konsentrasi PM10. Pengukuran konsentrasi PM10 dilakukan selama 1 bulan (Juli 2020) di musim kemarau. Distribusi temporal konsentrasi PM10 menunjukkan pola bimodial di mana terdapat dua jam puncak yaitu pukul 8 pagi dan pukul 10 malam, variabilitas temporal yang terjadi disebabkan oleh transportasi, temperatur dan kecepatan angin. Sementara, kelembaban tidak memiliki pengaruh terhadap variabilitas temporal konsentrasi PM10 saat musim kemarau. Daerah yang dapat berpotensi menjadi sumber pencemar konsentrasi PM10 di Kota Bandung berasal dari daerah Kabupaten Cilacap, Kabupaten Ciamis, Kabupaten dan Kota Tasikmalaya, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Bandung.
Dampak Pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Terhadap Konsentrasi PM10 di Pekanbaru rosita rakhim
Jurnal Ecolab Vol 15, No 1 (2021): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2021.15.1.13-22

Abstract

Dampak Pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Terhadap Konsentrasi PM10 di Pekanbaru. Salah satu faktor penurunan kualitas udara dapat disebabkan oleh aktivitas manusia. Penetapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) karena pandemi Covid-19 mengakibatkan penurunan aktivitas masyarakat diluar ruangan. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan kondisi kualitas udara di Pekanbaru sebelum dan saat diterapkan PSBB. Data yang digunakan adalah data konsentrasi PM10 hasil pengukuran PM10 Analyzer, BAM1020. Statistik deskriptif dan uji Mann-Whitney U test sebagai uji non-parametrik untuk menentukan perubahan signifikansi dari PM10 sebelum dan saat PSSB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum dan saat PSBB, konsentrasi PM10 di Pekanbaru berada dalam kategori baik (0-50 µg/m3). Berdasarkan distribusi frekuensi kondisi sebelum PSBB, konsentrasi PM10 lebih tinggi jika dibandingkan saat kondisi PSBB. Kemudian berdasarkan polar plot sebaran konsentrasi PM10 bervariasi dengan konsentrasi terbesar sebelum PSBB yaitu antara 12-14 µg/m3 pada arah Barat Laut, sedangkan untuk kondisi saat PSBB konsentrasi terbesar antara 9-10 µg/m3 pada arah Timur Laut. Berdasarkan rata-rata periode waktu per jam dan harian menunjukkan bahwa konsentrasi PM10 cenderung lebih tinggi saat malam hari dibandingkan siang hari dan konsentrasi PM10 tertinggi terjadi pada hari Selasa dan terendah pada hari Minggu. Hasil Uji Mann-Whitney menunjukkan ada perubahan yang signifikan dalam konsentrasi PM10 sebelum dan saat PSBB di Pekanbaru. 
Gas Emissions from Mixed Coal-Biomass Derived Fuel Burned in an Industrial Boilers Annita Nurhayati
Jurnal Ecolab Vol 15, No 1 (2021): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2021.15.1.53-62

Abstract

Textille industry consumes huge amount of coal to operate their boiler. At the same time, the company generated huge amount of bottom ash from the boiler operation and it is considered as hazardous waste. PT. X has been attempting to reuse bottom ash mixed with solid waste compost to generate biofuel named as biomass coal fuel (BCF) briquettes as co-fuel for boiler combustion. This study conducted two boiler combustion experiments: i) co-firing boiler operation with 90% coal and 10% of BCF, and ii) 100% of coal. The SO2 and NO2 emissions were measured from the two experiments. The emission test was carried out using the MRU Optima 7 which is  equipped by an electrochemical sensor, combined with an extraction probe to be inserted into the stack. From the emission test results, the SO­2 concentration of 100% of coal burning was 150 mg/Nm3. SO2 concentration of coal fuel with a substitution of 10% BCF was 498.8 mg/Nm3. The NO2 concentration from 100% coal combustion was 174.2 mg/Nm3 while from mixed fuel combustion was 370.3 mg/Nm3. Using BCF as an aggregate for coal combustion did not bring in lower emissions of SO2 and NO2. Emission factor for SO2 from 100% coal combustion is 6.295 g/kg while for coal fuel with a substitution of 10% BCF is 31.09 g/kg. NO2 emission factor from 100%, coal burning is 7.31 g/kg while the emission factor of NO2 in coal fuel with a substitution of 10% BCF is 23.31 g/kg.

Page 1 of 1 | Total Record : 7