cover
Contact Name
Medyawati
Contact Email
ecolab.jurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
cak_war@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Jurnal Ecolab
ISSN : 19785860     EISSN : 25028812     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Ecolab adalah wadah yang merupakan sarana informasi dan publikasi berkaitan dengan kegiatan laboratorium lingkungan. Penerbitan Jurnal Ecolab untuk menampung berbagai informasi mengenai kajian ilmiah, hasil kegiatan pemantauan kualitas lingkungan dan kegiatan sejenisnya dari berbagai kalangan pemerhati lingkungan. Semoga Jurnal Ecolab dapat menambah informasi kita mengenai perkembangan ilmu pengetahuan dan lingkungan yang ada disekitar kita. Untuk penerbitan-penerbitan berikut, redaksi mengundang pengunjung web, para pembaca, dan praktisi serta pemerhati lingkungan untuk dapat memberikan tulisan dan karya ilmiahnya di jurnal ini.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 2 (2022): ECOLAB" : 7 Documents clear
Kajian Sifat Mekanik Serat Alam Limbah Tumbuhan sebagai Bahan Baku Bio-Komposit Vandri Ahmad Isnaini; Rahmi Putri Wirman; Indrawata Wardhana; Try Susanti; Shabri Putra Wirman
Jurnal Ecolab Vol 16, No 2 (2022): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2022.16.2.117-127

Abstract

Serat alam adalah bahan baku yang banyak terdapat di alam dan merupakan bahan yang ramah lingkungan. Pemanfaatan limbah perkebunan atau hutan sebagai sumber serat alam juga ikut berkontribusi sebagai solusi masalah lingkungan. Penelitian ini dirancang untuk melakukan eksplorasi dan pengukuran sifat mekanik beberapa jenis serat alam yang terdapat di wilayah Provinsi Jambi. Sifat mekanik dari sampel serat alam diuji dengan alat universal testing machine yaitu penentuan nilai kuat tarik bahan (tensile test). Pengujian kuat tarik dilakukan dengan metode serat tunggal dengan panjang pengukuran 3 cm. Sebelum diuji, diameter sampel diukur sebagai variabel penentu luas sampel dengan menggunakan analisis gambar digital dari mikroskop dengan aplikasi ImageJ. Sedangkan tensile test digunakan untuk mencari nilai kekuatan maksimum dari serat alam. Dari hasil eksperimen, ukuran dari serat alam berkisar dari 0.0131 cm dengan ukuran terkecil dan nilai 0.0896 cm ukuran yang terbesar. Serat alam yang memiliki kekuatan tertinggi adalah serat dari daun nipah (Nypa fruticans), yaitu sebesar 13.54 Kg/cm2. Pola pengukuran nilai kuat tarik terhadap perubahan waktu menunjukkan bahwa serat alam merupakan serat berjenis elastis. 
Uji Kestabilan Kadar Merkuri pada Beberapa Larutan Pengawet Ely Rahmi Tapriziah; Ernawita Nazir; Muhammad Iqbal Suryatama
Jurnal Ecolab Vol 16, No 2 (2022): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2022.16.2.109-116

Abstract

Merkuri merupakan satu dari lima unsur yang mudah menguap dan berbentuk cair pada temperatur kamar. Konsentrasi merkuri di lingkungan pada umumnya cukup rendah terutama di dalam air, sehingga diperlukan suatu perlakuan pengawetan pada saat pengambilan sampel untuk menjaga kestabilan konsentrasi merkuri. Tujuan uji stabilitas ini adalah untuk mengetahui pengawet mana yang paling baik dalam menjaga kestabilan konsentrasi merkuri terutama pada konsentrasi rendah antara larutan Kalium dikromat (K2Cr2O7), larutan L-Cystiene dan larutan Bromin klorida (BrCl). Kegiatan ini dilakukan di Laboratorium Merkuri Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup (PSIKLH) pada tanggal 4 Juli sampai dengan 25 Juli 2022. Dalam kajian ini dilakukan pemantauan kestabilan larutan standar Hg 1000 μg/L dan 4 μg/L selama 4 (empat) pekan. Larutan standar tersebut ditambahkan dengan 3 (tiga) larutan pengawet pada masing-masing labu ukur yaitu larutan L-Cysteine+ HNO3 0,2%, larutan K2Cr2O  0,05%+ HNO3 5%, dan larutan BrCl 0,5%. Setiap larutan standar kemudian diukur menggunakan alat mercury analyzer dengan metode Cold Vapour Atomic Absorption Spektrofotometer (CVAAS).  Kosentrasi larutan standar Hg 1000 μg/L di ketiga larutan pengawet setelah percobaan selama 4 minggu masih memenuhi batas keberterimaan yaitu memiliki nilai %RSD dibawah batas upper warning limit (UWL) yang dipersyaratkan dalam bagan kendali (control chart) laboratorium, sedangkan kondisi larutan standar Hg dengan konsentrasi 4 μg/L yang ditambahkan larutan pengawet  L-Cysteine+HNO3 0,2% memiliki %RSD yang tidak memenuhi batas keberterimaan laboratorium. %RSD terkecil diperoleh oleh larutan standar Hg yang ditambahkan pengawet BrCl 0,5%.  
Uji Banding Kinerja Alat High Volume Air Sampler untuk Pengukuran Total Suspended Particulate (TSP) di Udara Ambien Pramana Budi Purwaka; Siswanto Adi Wijanarko
Jurnal Ecolab Vol 16, No 2 (2022): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2022.16.2.87-98

Abstract

Uji Banding Kinerja Alat High Volume Air Sampler untuk Pengukuran Total Suspended Particulate (TSP) di Udara Ambien.  Partikulat merupakan bentuk polutan yang paling terlihat dalam pencemaran udara. Jenis partikulat terdiri dari total suspended particulate (TSP), PM10, PM2,5, ataupun partikulat dengan ukuran yang lebih kecil lagi. Peralatan yang digunakan untuk mengukur partikulat di udara ambien adalah High Volume Air Sampler (HVAS). Penggunaan berbagai jenis HVAS baik pabrikan dari perusahaan terkenal maupun rakitan lokal banyak ditemukan di laboratorium pengujian kualitas udara di Indonesia. Tujuan dari kegiatan ini adalah melakukan pengecekan stabilitas dan performa alat HVAS rakitan lokal saat melakukan sampling bersamaan dengan HVAS lainnya. Pengujian sebanyak 5 (lima) kali terhadap 4 (empat) jenis HVAS berbeda, yaitu 2 (dua) HVAS SIBATA dengan tipe dan seri berbeda, 1 (satu) HVAS pabrikan yang dimodifikasi, dan  1 (satu) HVAS lokal, dilakukan pada tanggal 14-28 Juli 2022. Peralatan  ditempatkan di Lantai 3 Gedung Metrologi dan Merkuri Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup (PSIKLH) Serpong. Kalibrasi masing-masing peralatan dilakukan sebelum dan setelah sampling TSP selama 24 jam. Desain alat HVAS yang tepat dan baik menentukan performa peralatan saat sampling. Dari hasil uji stabilitas, diketahui bahwa seluruh alat HVAS relatif stabil selama periode sampling. Selama pengujian, diketahui bahwa HVAS lokal yang digunakan saat kajian ini memiliki kekurangan di bagian filter holder, yang ditunjukkan dengan konsentrasi TSP paling rendah  yang dihasilkan dari alat ini berikut penampakan filternya. Konsentrasi TSP di udara ambien selama pengamatan menggunakan 4 (empat) alat HVAS berbeda untuk masing-masing alatnya. HVAS A, B, dan C cenderung sama dengan perbedaan berkisar antara 4-20%, sedangkan untuk HVAS D memiliki perbedaan hasil konsentrasi TSP paling besar mencapai 49%.  Rata-rata hasil pengujian TSP pada periode sampling tersebut berada di bawah baku mutu Peraturan Pemerintah No 22/2021 Lampiran VII, namun konsentrasi TSP menggunakan alat HVAS SIBATA HV-1000R pada tanggal 27-28 Juli 2022 adalah melebihi baku mutu yaitu 234 mg/m3. 
Pengujian Polychlorinated Biphenyls (PCBs) Aroclor 1242 dan Aroclor 1254 dalam Sampel Air Sungai dan Ikan Yunesfi Syofyan; Riyan Ardhiansyah; Sherly Artanti Savaningsih; Retno Puji Lestari
Jurnal Ecolab Vol 16, No 2 (2022): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2022.16.2.75-86

Abstract

Polychlorinated biphenyls (PCBs) merupakan senyawa organoklorin yang berbahaya bagi manusia dan mahluk hidup, karena dapat terbioakumulasi pada tubuh makhluk hidup. Laboratorium PSIKLH telah melakukan validasi metode pengujian terhadap campuran PCBs komersil, dikenal dengan nama Aroclor dalam air sungai dan ikan. Pengukuran PCBs jenis Aroclor 1242 dan 1254 mengacu pada USEPA metode 8082A dimodifikasi dengan USEPA method 3541, yaitu pada proses soxletasi otomatis menggunakan alat ekstraksi SOXTHERM® dan DEXTech ver 1.3 automatic clean-up system, dianalisis menggunakan Gas Chromatography–Electron Capture Detector Agilent 7890B dengan kolom RTx5 non polar (panjang 30 m, id 0,25 mm, ketebalan 0.25 µm) untuk sampel air dan kolom HP 5 Agilent non polar (panjang 30 m, id 0,32 mm, ketebalan 0.25 µm) untuk sampel ikan. Pengaturan program suhu pada detektor 300oC, suhu kolom 70oC, suhu injektor 250oC, dan mode injeksi splitless. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi PCBs jenis Aroclor di lingkungan dan memvalidasi metode pengujian PCBs jenis Aroclor 1242 dan 1254 pada air sungai dan ikan. Parameter validasi yang dilakukan adalah method detection limit (MDL), limit of quantification (LoQ), presisi (repitabilitas dan reprodusibilitas), serta akurasi. Hasil validasi pengujian Aroclor 1242 dalam sampel air sungai menunjukkan nilai MDL 5,6 dan LoQ 18 μg/L, sementara nilai MDL dan LoQ Aroclor 1254 adalah 7,6 dan 24 μg/L. Konsentrasi Aroclor 1242 dan 1254 dalam air Sungai Muara Angke diketahui sebesar 12,197-12,413 μg/L, melebihi baku mutu PCBs dalam air berdasarkan PP No.22/2021 (10 μg/L). Hasil validasi pengujian Aroclor 1242 pada sampel ikan menunjukkan nilai MDL dan LoQ sebesar 4,15 dan 13 ng/g, sementara nilai MDL dan LoQ Aroclor 1254 sebesar 2,47 dan LoQ 7,8 ng/g. Konsentrasi Aroclor 1242 dan Aroclor 1254 yang diperoleh pada sampel ikan yaitu antara 0,07–0,14 ppm, berada di bawah nilai ambang batas maksimum yang diperbolehkan sesuai Food and Drugs Administration (FDA) yaitu sebesar 2 ppm.
Studi Awal: Kesiapan Pemerintah Daerah Menghapus Merkuri di Pertambangan Emas Skala Kecil Muhammad Yusup Hidayat; Melania Hanny Aryantie
Jurnal Ecolab Vol 16, No 2 (2022): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2022.16.2.51-66

Abstract

Konvensi Minamata wajib dilaksanakan oleh negara-negara peratifikasi, termasuk Indonesia. Salah satu sektor prioritas target penghapusan penggunaan merkuri dan penambangan ilegal adalah Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK). Studi-studi yang telah dilakukan didominasi oleh pemantauan kualitas lingkungan di lokasi tambang. Riset kebijakan untuk penilaian keberhasilan pemerintah daerah masih jarang, padahal pihak ini adalah penentu keberhasilan pencapaian target penghapusan merkuri di PESK tahun 2025. Penelitian deskriptif dilaksanakan tahun 2019-2020 di enam daerah terpilih. Tujuan penelitian yang dilakukan untuk mengetahui persepsi (pengetahuan) stakeholders terkait merkuri dan korelasinya terhadap kesiapan pemerintah daerah dalam penghapusan penggunaan merkuri di wilayahnya. Teknik pengumpulan data adalah survei secara purposive sampling, metode pemilihan respondennya adalah accidental sampling, berdasarkan kesediaan menjadi responden, dan arahan responden satu ke responden berikutnya. Hasil riset menunjukkan bahwa persepsi stakeholder terkait pengelolaan merkuri hanya lima variabel (B1, B2, B3, B4 dan B7) yang terkategorikan tahu hingga sangat tahu untuk seluruh kabupaten yang diujikan (LI - L6), serta satu variabel (B9) terkategorikan tahu di dua kabupaten (L2 dan L3), sisanya masih terkategorikan tidak tahu hingga ragu-ragu. Tingkat pengetahuan responden kurang berkorelasi dengan tingkat kesiapan pemerintah daerah yang masih rendah. Dari 19 variabel, hanya sembilan variabel yang mempengaruhi persepsi stakeholder terkait merkuri. Riset ini menyimpulkan bahwa stakeholder memiliki pengetahuan umum yang baik tentang merkuri, akan tetapi responden ragu-ragu akan kewajiban pemerintah daerah (Pemda) dalam penyusunan Rencana Aksi Daerah Pengurangan dan Penghapusan Merkuri sesuai amanat Perpes No. 21/2019 tentang Rencana Aksi Nasional Pengurangan dan Penghapusan Merkuri. Responden kurang memperoleh informasi tentang keberadaan Komite Penelitian dan Pemantauan Merkuri dan keterlibatan Pemda didalamnya.
Perubahan Penggunaan Lahan di Kecamatan Mijen Kota Semarang Tahun 2011 dan 2021 Diyah Arfidianingrum; Sigit Rustanto; Cahyadi Setiwasan; Muhammad Zid; Teguh Atuyanuar Zaelani
Jurnal Ecolab Vol 16, No 2 (2022): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2022.16.2.67-74

Abstract

Dinamika perubahan penggunaan lahan di tengah pesatnya perkembangan sebuah kota sulit dihindari. Kota Semarang sebagai ibukota provinsi Jawa Tengah terus mengalami perkembangan cukup pesat dari masa ke masa. Salah satu wilayah yang mengalami imbas perkembangan Kota Semarang adalah Kecamatan Mijen. Kecamatan Mijen merupakan wilayah dengan luasan terbesar dan laju pertumbuhan penduduk tertinggi, yakni sebesar 3,68%. Secara topografi, memiliki peran dan fungsi sangat penting karena berada pada kawasan Semarang bagian atas berfungsi sebagai kawasan penyangga. Perkembangan di wilayah tersebut menyebabkan terjadinya berbagai perubahan penggunaan lahan yang ada. Perubahan penggunaan lahan yang terjadi akan sangat berpengaruh terhadap kestabilan ekosistem pada daerah sekitarnya. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui perubahan penggunaan lahan yang terjadi di Kecamatan tersebut pada tahun 2011 dan 2021. Analisis data dilakukan menggunakan pengindraan jarak jauh dan SIG citra landsat 8 dengan teknik overlay (tumpang susun) pada peta tutupan lahan pada tahun 2011 dan 2021. Hasil analisis menggambarkan terjadi perubahan penggunaan lahan yang cukup dinamis. Perubahan penggunaan lahan terbesar pada hutan terjadi penurunan area sebesar 55,84%. Perubahan lahan terbesar kedua pada perkebunan, terjadi peningkatan sebesar 47,58%. Selanjutnya jalan/area terbuka yang tumbuh sebesar 3,8% dan pemukiman yang meningkat sebesar 3,68%. Ladang/ sawah mengalami kenaikan sebesar 0,78%. Luasan area hutan yang hanya tersisa sebesar 0,83% di wilayah tersebut harus dipertahankan atau bahkan ditingkatkan. Hutan merupakan ekosistem kompleks yang berperan penting pada seluruh aspek kehidupan baik ekonomi, sosial, budaya maupun lingkungan. Sesuai Perda Kota Semarang Nomor 5/2021 tentang rencana tata ruang wilayah, Kecamatan Mijen memiliki fungsi pengembangan utama sebagai paru-paru kota. Hilangnya area hutan sebesar 55,84% patut menjadi perhatian. Perubahan penggunaan lahan, khususnya yang terjadi pada area hutan harus dikendalikan dan diarahkan sesuai dengan perencanan, agar lahan dapat berfungsi secara optimal, efisien dan berkelanjutan.
Penyimpangan Penentuan Posisi Perangkat Global Positioning System (GPS) Budi Purwanto
Jurnal Ecolab Vol 16, No 2 (2022): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2022.16.2.99-107

Abstract

Perangkat GPS digunakan sebagai salah satu alat penunjuk titik kooordinat spasial yang sering digunakan sebagai data pendukung identifikasi titik ukur pengukuran kualitas lingkungan. Berdasarkan hal tersebut maka perlu diketahui nilai perbedaan penunjukkan beberapa perangkat GPS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil penunjukan titik koordinat oleh perangkat GPS pada titik ukur yang telah ditentukan. Penelitian menggunakan sembilan buah perangkat GPS buatan Garmin dengan lima tipe berbeda, dengan penunjukan degree minute second (DD MM SS) pada datum World Geodetic System 1984 (WGS 84). Pengambilan data dilakukan sebanyak tiga kali per hari selama dua hari, hari pertama cuaca cerah sedangkan hari kedua mendung. Dalam pelaksanaan pengambilan data, perangkat GPS diletakkan dengan jarak antar perangkat sedekat mungkin. Lokasi pengambilan data di Pusat Standardisasi Instrumen dan Kualitas Lingkungan Hidup, tanggal 5 dan 6 Juli 2022 pada tempat terbuka dan berada di objek yang sudah ditandai agar dapat digunakan sebagai lokasi verifikasi perangkat GPS selanjutnya. Seluruh penunjukkan perangkat GPS dicatat sesuai identitas alat untuk kemudian dihitung nilai rata-rata penunjukkan dan variasi penunjukkan titik koordinat lintang dan bujur. Nilai koordinat lintang yang ditunjukkan oleh seluruh perangkat GPS berada pada rentang 6o 21’ 2.1”S hingga 6o21’2.5”S sedangkan nilai koordinat bujur yang ditunjukkan berada pada rentang  106o 40'4.9"E hingga 106o40'5.3"E. Penelitian menemukan bahwa variasi penunjukkan koordinat posisi dari sembilan buah perangkat GPS adalah 12,4 meter, ditemukan juga bahwa perbedaan penunjukkan terbesar perangkat GPS dibanding nilai rata-rata penunjukkan dari perangkat GPS yang diuji adalah sebesar 9,3 meter dimana telah menyediakan informasi geospasial yang cukup bagi sebuah pengukuran kualitas lingkungan. 

Page 1 of 1 | Total Record : 7