Al-Hikmah
Jurnal Al-Hikmah (ISSN: 1978-5011 dan E-ISSN: 2502-8375) merupakan Jurnal Nasional yang diterbitkan oleh Fakultas Usuluddin Adab dan Dakwah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak. Jurnal ini khusus pada kajian Dakwah dalam studi tertentu dan komunikasi Islam pada umumnya, dan Al-hikmah akan mengkombinasikan antara hasil penelitian dengan artikel pada kajian-kajian terkini dari para kontributor yang ahli dibidangnya. Al-Hikmah, terbit perdana pada volume I edisi 1 pada bulan Juni 2007, Al-Hikmah telah terbit 16 kali (8 volume), dengan memulai mempublikasikan artikel tentang Dakwah dan Komunikasi, diprakarsai oleh Dr. Wajidi Sayadi yang merupakan doktor tafsir hadis. Al-Hikmah hadir karena tuntutan kebutuhan intelektual dalam merespon isu-isu actual terkait berbagai problematika Dakwah dalam konteks kekinian, tidak hanya dibatasi pada hasil karya penulis lokal tetapi juga mengakomodir karya penulis dalam skala nasional dan internasional. dengan kata lain jurnal Al-Hikmah membuka akses seluas-luasnya bagi siapa saja yang ingin berkiprah dan memberikan kontribusi ilmiah bagi pengayaan wacana pemahaman Dakwah dalam rangka menjawab tantangan intelektual yang kian hari semakin berkembang. Al-hikmah, menjadi media komunikasi ilmiah antarapeminat ilmu Dakwah yang terdiri dari dosen, pakar dan praktisi dakwah, mahasiswa dan lainya. disamping itu jurnal Al-Hikmah menyediakan tempat khusus berupa review terhadap masalah-masalah terkini yang berkenaan dengan dakwah dan komunikasi.
Articles
8 Documents
Search results for
, issue
"Vol 7, No 1 (2013)"
:
8 Documents
clear
MENGOKOHKAN DAKWAH SEBAGAI ILMU
Harjani Hefni
Jurnal Al-Hikmah: Jurnal Dakwah Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24260/al-hikmah.v7i1.46
Banyak kalangan yang mempertanyakan status keilmuan dakwah, apakah dakwah itu ilmu atau hanya sekedar pengetahuan. Jika dakwah itu ilmu, termasuk ilmu dalam paradigma yang mana; sebaliknya jika dakwah hanya pengetahuan, apakah termasuk pengetahuan yang telah memiliki sistematikanya atau hanya pengetahuan biasa yang tidak terstruktur dengan jelas. Bahkan sebagian kaum muslimin beranggapan bahwa dakwah hanyalah kegiatan memberikan peringatan, menyampaikan keutamaan Islam dan adab-adab dalam Islam kepada orang lain, bukan sebuah ilmu yang harus dipelajari dan tidak perlu spesialis yang professional untuk menyampaikan pesan-pesan agama. Tulisan ini bertujuan untuk menghilangkan keraguan kalangan yang mempertanyakan status keilmuan dakwah dengan pendekatan filsafat ilmu.
TAREKAT HAQ NAQSYABANDIYAH DI KALIMANTAN BARAT (Studi Kasus di Kecamatan Pontianak Timur)
Muh Gitosaroso
Jurnal Al-Hikmah: Jurnal Dakwah Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24260/al-hikmah.v7i1.54
Tulisan ini merupakan upaya mengungkap tarekat Haq Naqsyabandiyah yang ada di Pontianak Timur. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif serta metode deskriptif fenomenologi, kajian ini mencoba mengungkap dan mengurai fenomena yang terjadi di masyarakat yang notabenenya sebagai masyarakat tarekat. Salah satu ajaran tarekat adalah diyakini bahwa waktu luang seseorang itu sangatlah berharga dan bernilai serta tidak boleh dibiarkan berlalu sia-sia begitu saja. Waktu luang itu mestilah digunakan untuk melantunkan zikir kepada Allah Swt. Dalam tarekat Haq Naqsyabandiyah tidak memerlukan banyak berjaga malam dan lapar. Akan tetapi hendaklah mengambil jalan tengah dalam segala perkara beserta hati yang selalu hadir mengingat Allah, baik menyendiri maupun ketika sedang berkumpul dengan orang banyak, segala sikap dan pergaulan selalu menjadi cerminan seorang yang berakhlak mulia sehingga dipandang mampu memperbaiki kondisi umat dan bangsa sekarang ini. Keterangan: Artikel ini telah dicabut dari peredaran (dihapus dari daftar artikel terbitan) Jurnal Al-Hikmah: Jurnal Dakwah IAIN Pontianak, atas permintaan penulis, terhitung sejak tanggal 7 Januari 2021.
MEDIA ELEKTRONIK DAN DAKWAH ISLAM
Juniawati Selamat
Jurnal Al-Hikmah: Jurnal Dakwah Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24260/al-hikmah.v7i1.48
Media juga disebut sebagai “Media is the extensions of man”, yakni media adalah perluasan dari ide, gagasan dan pikiran terhadap kenyataan sosial. Konsep yang dikemukakan Marshall McLuhan bahwa media adalah pesan itu sendiri (the medium is the message), dipahami bahwa media lebih dari sekedar wahana. dari aspek program, kelebihannya adalah sifatnya yang personal. Artinya pendengar dapat merasakan suasana akrab, sehingga mudah tersalurnya komunikasi. Oleh karena itu secara tidak langsung media berfungsi ganda, selain sumber informasi yang menyajikan apa yang terjadi, media khususnya cetak bisa mendidik masyarakat yang tidak terdidik. konsep yang dihadirkan dari media memenuhi selera pasar yakni masyarakat. Terutama dari segi kebutuhan informasi lokal dan daerah. Karena secara makro wacana dalam media massa menjadi alat konstruksi realitas sosial mengingat bahwa realitas sosial tidak berdiri sendiri tanpa kehadiran individu, baik di dalam maupun di luar realitas tersebut.
ANALISIS FILM KARTUN “DORA THE EXPLORER”
Evi Hafizah
Jurnal Al-Hikmah: Jurnal Dakwah Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24260/al-hikmah.v7i1.55
Ditengah rasa pesimis dan khawatir terhadap kehadiran film kartun terhadap anak yang ditayangkan televisi yang dianggap tidak layak lagi disebut sebagai tontonan untuk anak-anak, ternyata masih tersisa film kartun yang dinilai baik, kids-friendly yaitu Dora the Explorer. Film Dora the Explorer merupakan film buatan Amerika yang menggunakan bahasa Spanyol. Meskipun memang biasanya film-film kartun dirajai oleh Jepang tetapi Amerika juga termasuk yang banyak menciptakan film-film kartun selain dari Eropa dan Jepang tentunya. Pada awalnya flm ini ditayangkan oleh Lativi pada program acara Nickelodeon sejak tahun 2004. Kemudian acara ini beralih tangan ke Global TV sejak tahun 2006. Film kartun ini memunculkan simpati yang besar dari masyarakat dan anak-anak pun banyak yang menggandrungi dn tidak bosan-bosannya menonton terutama anak-anak prasekolah. Hal ini juga berdampak pada dunia bisnis, dimana keberhasilan tokoh-tokoh dalam film Dora the Explorer yang dijadikan merchandise daalam bentuk pakaian, stationery, aksesori yang juga banyak diminati oleh anak-anak. Fenomena ini tidak saja terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara-negara lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk Untuk mengetahui tema-tema, karakter tokoh, bahasa, alur cerita yang ditampilkan dalam film kartun Dora the Explore, dan efek perilaku prososial yang digambarkan dari film kartun Dora the Explorer. Pada penelitian ini akan melakukan analisis dengan Analisis Isi (Content Analysis). Dalam film kartun Dora the Explorer ini mengandung efek prososial serta gaya penyampaian film ini yang mengupayakan keterlibatan anak-anak dalam aktivitas yang dilakukan Dora dan Boots akan sangat mungkin melakukan imitasi seperti yang dicontohkan tokoh. Keterlibatan ini tentu saja akan mendorong dan memotivasi anak-anak untuk meniru dan melakukan apa yang sedang dilakukan sang tokoh. Kemudian ketertarikan anak-anak yang besar pada tokoh ini sangat memungkinkan anak untuk mengidentifikasikan dirinya dengan sang tokoh. Hal yang paling mudah ialah dengan digunakannya produk yang berlabelkan sang tokoh serta kata-kata yang sering diucapkan sang tokoh, seperti kata-kata, “Behasil...behasil....berhasil....hore...” pada setiap aktivitas keseharian anak-anak setelah selesai atau sukses mengerjakan sesuatu.Dengan adanya fungsi yang positif dari nilai-nilai yang ditampilkan dalam film kartun Dora the explorer cukup meyakinkan bahwa film ini memberikan dampak positif bagi anak-anak. Apa yang digambarkan dam film ini dapat menjadi proses pembelajaran dan pengembangan ketrampilan hidup anak-anak yang memang penting sekali dipelajari sejak dini.
MENGENAL DEPRESI MENTAL, RESIKO YANG DITIMBULKAN DAN CARA PENANNGULANNYA
Dulhadi Syarif
Jurnal Al-Hikmah: Jurnal Dakwah Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24260/al-hikmah.v7i1.51
Setiap orang memiliki resiko terkena depsresi. Sebagai salah satu gangguan mental, depresi dapat menyerang siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Depresi muncul umumnya ketika sang korban tengah berada dalam kegaulauan. Kian sering seseroang mengalami kegalauan, kian besar pula peluang yang bersangkutan terkena depresi. Jika tidak segera diatasi dan diantisipasi, gangguan ini akan semakin menakan korbannya hingga pada tingkatan yang membahayakan, yaitu psikosis; sebuah penyakit mental yang tergolong berat. Oleh karena itu, mengenal depresi berikut gejala dan resiko yang ditimbulkan serta upaya menanggulanginya menjadi sangat penting.
CAUGHT BETWEEN THREE FIRES Book Review (Leiden: INIS, 2003; 334 halaman)
Ridwan Rosdiawan
Jurnal Al-Hikmah: Jurnal Dakwah Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24260/al-hikmah.v7i1.56
Judul besar Caught betweem Three Fires memberikan sinyal akan adanya tiga variabel yang ‘memantik api’ penelitian ini. Variabel pertama adalah fungsi dan peran penghulu yang telah mapan dalam struktur social masyarakat Jawa dan Madura. Variabel kedua berupa upaya pemerintah colonial Belanda untuk mengintegrasikan institusi informal penghulu ke dalam system mereka. Variabel ketiga adalah tumbuh dan berkembangnya reformisme Islam yang bersumber dari Timur Tengah dan munculnya gerakan nasionalis. Dasar dari praktik-praktik ke-Pangulu-an adalah sebuah “misi suci” memperjuangkan kelestarian Syari’at Islam dalam kehidupan masyarakat. Dan dalam misi suci itu para Pangulu berhasil menunaikannya sekalipun mereka mendapatkan tekanan-tekanan hebat dari pihak penguasa yang secular dan non-Muslim.
ASPEK MORAL DAN ETIKA DALAM BERKOMUNIKASI ANTAR MANUSIA
Baharudin Udin
Jurnal Al-Hikmah: Jurnal Dakwah Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24260/al-hikmah.v7i1.52
Secara global aspek moral dan etika dalam kehidupan manusia merupakan hal yang sangat penting diperhatikan dengan baik.Aspek moral dan etika dalam melakukan komunikasi antar manusia harus benar-benar dijalani dengan baik secara menyeluruh. Demensi awal manusia itu dibentuk dari proses rumah tangga dalam hal ini orang tua yang berperan penting dalm penciptaan dan pembentukan etika dan moral seorang manusia. Guru yang pertama ada bagi anak adalah orang tua, berangkat dari hal tersebut orang tua haris memiliki kemampuan yang tinggi dalam keilmuan baik itu ilmu agama maupun ilmu umum.Hal dilakukan dalam pembentukan moral serta etika yang berkaitan dengan tanggung jawab ilmuan sosiologi terhadap moral manusia memang sangat berat.Berangkat dari hal tersebut seorang sosiolog harus mampu memberikan solusi serta arahan bagi masyarakat dalam berinterkasi serta berkomunikasi.Kerukunan, kedamaian serta ketentraman dalam hidup yang didalamnya masyarakat multikultural harus terciptakan dengan baik.Sehingga keberadaan seorang sosiolog benar-benar diharapan serta menjadikan masyarakat memandang sangat diperlukan.Manusia dalam hidup harus memiliki etika dan moral dalam menjalankan kehidupannya supaya masyarakat hidup dalam kedamaian sejati baik jasmani maupun rohani.
URGENSI CULTURAL APPROACH SEBAGAI METODOLOGI KEILMUAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM KONTEMPORER
Samsul Hidayat
Jurnal Al-Hikmah: Jurnal Dakwah Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24260/al-hikmah.v7i1.53
Dalam pendekatan kultural, pendidikan Islam diarahkan pada persoalan autentitas dan perubahan budaya yang berkembang dimasyarakat. Diharapkan pendekatan ini akan membantu mahasiswa untuk memahami baik tradisi-tradisi yang pernah terjadi, berikut dengan segala karakteristiknya, maupun persoalan-persoalan kontekstual yang terjadi di masyarakat. Untuk masuk ke dalam wilayah pengembangan sikap penerimaan kultural yang sadar terhadap perubahan, maka melalui pendekatan kultural, diharapkan akan melahirkan sistem pendidikan yang lebih berorientasi ke masa depan (future oriented), menuju transformasi sosial yang humanis dan transcendental. Pendidikan Islam, mau tidak mau harus mengubah wajahnya yang selama ini hanya bersifat doktrinal-formal-literal ke arah studi dan pendekatan kebudayaan dengan semangat untuk mencari nilai-nilai fundamental keagamaan Islam, terutama bagi para mahasiswa dan kalangan muda yang memiliki tingkat resistensi tinggi dalam menghadapi modernitas dan era globalisasi saat ini.