cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies
ISSN : 25286110     EISSN : 25287435     DOI : -
Core Subject : Social,
Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies (JCIMS) is a peer reviewed academic journal, established in 2016 as part of the Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara, Medan, dedicated to the publication of scholarly articles in various branches of contemporary Islam and Muslim societies in Indonesia, by which exchanges of ideas as research findings and contemporary issues are facilitated. JCIMS welcomes contributions of articles on Indonesian Islam studies, especially local Islamic studies.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2018)" : 5 Documents clear
PEREMPUAN DI LEMBAGA PENDIDIKAN AL JAM’IYATUL WASHLIYAH Latifah Hanum
Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.455 KB) | DOI: 10.30821/jcims.v2i1.1755

Abstract

Abstrak: Artikel ini mengkaji kedudukan perempuan di lembaga pendidikan Al Jam’iyatul Washliyah di Sumatera Utara. Organisasi Al Washliyah merupakan organisasi Islam tradisional yang menganut mazhab Ahlussunnahwaljamaah dalam bidang akidah dan Syâfi‘iyah dalam bidang fikih. Afiliasi organisasi ini dalam kedua mazhab tersebut disinyalir akan tidak memberikan kedudukan yang setara antara perempuan dengan laki-laki. Artikel ini merupakan hasil penelitian kualitatif dimana data penelitian diperoleh dari kegiatan telaah dokumen dan observasi. Kajian ini mengajukan temuan bahwa lembaga pendidikan Al Washliyah yang dikelola oleh Majelis Pendidikan Al Washliyah ternyata belum memberikan porsi signifikan bagi kaum perempuan dalam struktur organisasinya. Tidak pernah ditemukan perempuan menjadi ketua atau sekretaris majelis, kecuali sebagai bendahara. Tetapi, kaum perempuan telah dilibatkan sebagai manajer di lembaga pendidikan Al Washliyah. Sebab, beberapa jabatan pimpinan madrasah, sekolah, dan perguruan tinggi Al Washliyah dipegang oleh kaum perempuan. Tenaga pendidik di lembaga pendidikan Al Washliyah telah banyak diisi oleh kaum perempuan. Sebagian guru dan dosen perempuan Al Washliyah telah memiliki ijazah master. Memang, beberapa dari mereka dipercayakan sebagai manajer dengan tanggung jawab yang besar.  Abstract:  Women in Al Jam’iyatul Washliyah Educational Institution. This article examines women’s position in Al Jam’iyatul Washliyah educational institutions in North Sumatra. Al Washliyah organization is a traditional Islamic organization that practices the Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ‘ah theology and Shâfi‘i school of law. It has been alledged that these school of theology and law would not allow equal opportunity for man and woman. Nevertheless, this study—which mainly based on document review and observation—found that that was not exactly the case. While it is true that in Al Washliyah Education Council women are under respresented, the condition is much better in educational institutions. In Al Washliyah educational institutions, it is common to find female teachers and lecturers with master degrees. Indeed, some of them are entrusted as managers with substantial responsibilities.  Kata Kunci: gender, perempuan, Al Washliyah, madrasah, Sumatera Utara
ORGANISASI ISLAM DI TANAH MELAYU: Ideologi dan Gerakan Al-Ittihadiyah Sebelum Era Reformasi Al Rasyidin
Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.501 KB) | DOI: 10.30821/jcims.v2i1.1746

Abstract

Abstrak: Artikel ini menelaah organisasi Al-Ittihadiyah di Sumatera Utara. Secara khusus, artikel ini akan menguak ideologi yang diperjuangkan organisasi, amal usaha, serta perkembangannya di komunitas yang majemuk. Artikel ini merupakan hasil penelitian kepustakaan yang didukung oleh data lapangan. Metode yang digunakan adalah analisis isi. Artikel ini mengajukan temuan bahwa Al-Ittihadiyah merupakan salah satu organisasi Islam yang lahir di Kota Medan dimana kelompok ulama dan tokoh Melayu menjadi patron utama organisasi ini. Al-Ittihadiyah seakan menjadi corong bagi etnis Melayu di Sumatera Timur, dan ini yang membedakan mereka dengan etnis Minangkabau yang berafiliasi dengan Muhammadiyah dan etnis Mandailing yang berafiliasi dengan Al Jam’iyatul Washliyah. Selain itu, Al-Ittihadiyah sebagai organisasi tidak berafiliasi dengan mazhab akidah dan fikih tertentu, tetapi para pendukungnya adalah penganut mazhab Asy‘ariyah dan Syâfi‘iyah. Kemudian, Al-Ittihadiyah bergerak dalam bidang pendidikan, dakwah dan amal sosial, meskipun mulai dari awal kemerdekaan Al-Ittihadiyah terlibat dalam Partai Masyumi, dan kelak tokoh-tokohnya melibatkan diri dalam PPP yang akhirnya membuat organisasi ini kalah bersaing dengan Al Washliyah dan Muhammadiyah dalam pengembangan amal usahanya.    Abstract: Islamic Organization in Malay Land: Ideology and Movements of Al-Ittihadiyah Before-Reform Era. This article examines the Al-Ittihadiyah organization in North Sumatra, focusing on its ideology, programs, and its development in a pluralistic community. This article is based on content analysys study, combining literary information and field data. This article proposes that Al-Ittihadiyah was one of the Islamic organizations established in Medan City, initiated and patronized by Malay clerics and prominent figures. As such this organisation has a very close ties with Malays, very much like the association of the Minangkabaus with Muhammadiyah and Mandailings with Al Jam’iyatul Washliyah. In addition, Al-Ittihadiyah as an organization is not affiliated with certain schools of faith and jurisprudence, but its supporters are adherents of the Ash‘ariyah and Syâfi‘iyah schools. Al-Ittihadiyah engages in education, da’wah and social charity. In the beginning of independence, Al-Ittihadiyah leaders joined the Masjumi Party, and later on the Unity and Development Party (PPP). It seems that this political involvement makes this organization unable to compete with Al Washliyah and Muhammadiyah.Kata Kunci: organisasi Islam, Al-Ittihadiyah, mazhab, pendidikan, dakwah, politik, Melayu
NAHDLATUL ULAMA DI LUAR JAWA: Perkembangan di Tanah Mandailing Abbas Pulungan
Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.105 KB) | DOI: 10.30821/jcims.v2i1.1747

Abstract

Abstrak: Artikel ini mengkaji perkembangan Nahdhatul Ulama di luar Jawa. Secara khusus, artikel ini akan menganalisa keberadaan dan perkembangan Nahdlatul Ulama di Tanah Mandailing. Kajian ini merupakan hasil dari penelitian kepustakaan dan lapangan. Sebab itu, data akan diperoleh tidak saja dari kegiatan telaah dokumen, tetapi juga kegiatan wawancara dan observasi. Data akan dianalisis dengan menggunakan metode analisis data model Miles dan Huberman. Kajian ini mengajukan temuan bahwa pendirian Nahdlatul Ulama di Sumatera Utara diinisiasi oleh alumni Pesantren Musthafawiyah, sebuah pesantren tradisional yang didirikan oleh Syekh Musthafa Husein. Mayoritas alumni pesantren ini berasal dari suku Mandailing. Tetapi belakangan, kalangan santri tidak lagi memegang tampuk kepemimpinan tanfidziyah NU di Sumatera Utara. Kemudian awal kehadiran Nahdlatul Ulama di Sumatera Utara bermula dari kawasan Tapanuli lalu kemudian berpusat di Kota Medan dimana dua organisasi Islam lain telah lebih dahulu muncul, yaitu Al Washliyah dan Al-Ittihadiyah. Pengembangan NU semakin diperkuat oleh keberadaan kader NU di birokrasi pemerintahan (terutama Departemen Agama) dan legislatif sebagai dampak dari perubahan NU dari organisasi sosial keagamaan menjadi partai politik yang memiliki dukungan suara yang banyak.   Abstract: Nahdlatul Ulama Beyond Java: The Development in Mandailing Land.  This article examines the development of Nahdhatul Ulama beyond Java, especially in Mandailing land. This article is based on a research that combine literary review and field study and apply Miles and Huberman model in data analysis. It was found that the establishment of Nahdlatul Ulama in North Sumatra was initiated by alumnies of Pesantren Musthafawiyah, a traditional pesantren founded by Sheikh Mustafa Husein. The role of these pesantren alumnies—mostly of Mandailing tribe—is now decreasing significantly. In fact, the leadership of Nahdlatul Ulama in North Sumatra is no longer in the hands of those santris. Nahdlatul Ulama in North Sumatra was originated from Tapanuli region before it expanded to Medan where two other Islamic organizations have appeared earlier, namely Al Washliyah and Al-Ittihadiyah. Its development was further strengthened by the presence of NU cadres in the government bureaucracy and legislative institutions.Kata Kunci: Nahdlatul Ulama, politik, Mandailing, pesantren Musthafawiyah
SYEKH ABDUL HALIM HASAN, 1901-1969: Akar Tradisi Intelektual di Sumatera Timur Awal Abad XX Zaini Dahlan
Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.109 KB) | DOI: 10.30821/jcims.v2i1.1738

Abstract

Abstrak: Penelitian ini mengkaji biografi dan kiprah intelektual Syekh Abdul Halim Hasan di Sumatera Timur. Keberlangsungan tradisi intelektual di Sumatera Timur dipengaruhi, salah satunya, oleh kemunculan ulama-ulama di kawasan ini. Sebagian mereka berasal dari etnis Melayu, dan tidak sedikit dari mereka merupakan ulama yang berasal dari etnis Mandailing yang merantau dari kawasan Tapanuli ke Sumatera Timur. Studi ini mengkaji bagaimana peran Syekh Abdul Halim Hasan yang berasal dari etnis Mandailing dalam mengembangkan tradisi intelektual Islam di Sumatera Timur. Dengan menggunakan pendekatan sosiologis-historis, studi ini mengajukan temuan bahwa Syekh Abdul Halim Hasan memberikan kontribusi bagi penguatan tradisi intelektual Islam di Sumatera Timur. Ia tidak saja menghasilkan karya akademik dalam berbagai bidang keislaman, tetapi juga mampu melahirkan ulama berbakat selain turut memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan di tanah kelahirannya.     Abstract: Syekh Abdul Halim Hasan, 1901-1969: The Roots of Intellectual Tradition of East Sumatra in Early 20th Centuries. This study examines the biography and intellectual work of Syekh Abdul Halim Hasan in East Sumatra. The continuation of intellectual traditions in East Sumatra is influenced, among others, by the emergence of scholars in the region. Some of these scholars were local Malays; but a few of them were from Mandailing ethnic who had migrated from South Tapanuli. This study examines the role of Syekh Abdul Halim Hasan, a migrating scholar from Mandailing, in developing Islamic intellectual traditions in East Sumatra. Using a sociological-historical approach, this study proposes the findings that Syekh Abdul Halim Hasan had indeed contributed significantly in strengthening Islamic intellectual traditions of the region. He authored academic works in various fields of Islam, trained younger talented scholars, and also involved in independence struggle in his homeland. Kata Kunci: Mandailing, Melayu, Sumatera Timur, Syekh Abdul Halim Hasan
AL-FÂTIHAH DALAM PERSPEKTIF MUFASIR NUSANTARA: Membandingkan Tafsir al-Qur’anul Majid an-Nur dan Tafsir al-Azhar Arivaie Rahman
Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.682 KB) | DOI: 10.30821/jcims.v2i1.1742

Abstract

Abstrak: Artikel ini mendiskusikan tentang penafsiran surah al-Fâtihah menurut mufasir Indonesia, Hasbi ash-Shiddieqy dengan karyanya tafsir al-Qur’anul Majid an-Nur dan Hamka dengan karyanya tafsir al-Azhar. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-analisis-komparatif. Penafsiran terhadap surah al-Fâtihah dapat diklasifikasikan mejadi dua komponen penting: komponen eksternal dan komponen internal. Komponen eksternal membicarakan tentang unsur-unsur luar surah al-Fâtihah, yaitu tentang penamaan surah, tempat dan periode turunnya surah, jumlah ayat dalam satu surah, fadhilah surah, asbâb al-nuzûl, lafal ta‘awudz dan âmîn. Sedangkan komponen internal merupakan unsur dalam surah al-Fâtihah, yaitu tauhid, janji dan ancaman, ibadah, jalan memperoleh kebahagiaan, dan kisah umat terdahulu. Hasil penelaahan terhadap kedua tafsir tersebut ditemui titik-titik perbedaan, namun perbedaan itu tidak prinsipil tetapi menarik untuk diungkap, misalnya Hasbi meyakini bahwa basmallâh merupakan ayat tersendiri yang terpisah dari surah al-Fâtihah. Hal ini berbeda dengan Hamka dan kebanyakan ahli tafsir yang umumnya menganggap basmallâh merupakan ayat pertama dari surah al-Fâtihah.  Abstract: Perspectives of Nusantara’s Mufassirs on al-Fâtihah: Comparing Tafsir al-Qur’anul Majid an-Nur and Tafsir al-Azhar. Using descriptive-analytical-comparative approach, this article discusses the interpretations of surah al-Fâtihah according to Hasbi ash-Shiddieqy’s masterpiece Tafsir al-Qur’an al-Majîd al-Nûr and Hamka’s Tafsir al-Azhar. The interpretation of surah al-Fâtihah can be classified into two important components: external components and internal components. The external components speak about the external elements of the surah al-Fâtihah, namely: the naming of surah, places and periods of revelation of the surah, its number of verses, asbâb al-nuzûl, pronunciation ta‘awudz and âmîn. While the internal component is the messages contained surah al-Fâtihah, namely: monotheism, promises and threaths, worship, the way of gaining happiness, and story of the past. The study found that the two authors differ at some points, although not principel ones. For example, Hasbi believes that basmallâh is a separate verse from surah al-Fâtihah, while Hamka, as do most commentators, considers basmallâh as the first verse of surah al-Fâtihah.Kata Kunci: quran, mufasir, Nusantara, HAMKA, M. Hasbi ash-Shiddieqy

Page 1 of 1 | Total Record : 5