cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies
ISSN : 25286110     EISSN : 25287435     DOI : -
Core Subject : Social,
Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies (JCIMS) is a peer reviewed academic journal, established in 2016 as part of the Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara, Medan, dedicated to the publication of scholarly articles in various branches of contemporary Islam and Muslim societies in Indonesia, by which exchanges of ideas as research findings and contemporary issues are facilitated. JCIMS welcomes contributions of articles on Indonesian Islam studies, especially local Islamic studies.
Arjuna Subject : -
Articles 91 Documents
ALIRAN MINORITAS DALAM ISLAM DI INDONESIA Ramli Abdul Wahid
Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.638 KB) | DOI: 10.30821/jcims.v1i2.1071

Abstract

Abstrak: Indonesia menjadikan Pancasila sebagai dasar negara, dan pandangan hidup dalam kehidupan bangsa dan negara. Meskipun bukan negara agama, mayoritas penduduk Indonesia menganut agama Islam, khususnya mazhab Ahlussunnah Waljamaah (Sunni). Di antara masyarakat Sunni tersebut berafiliasi dengan organisasi Al Jam’iyatul Washliyah, Nahdlatul Ulama, Persis, dan Muhammadiyah yang memiliki wakil di Majelis Ulama Indonesia (MUI). Meskipun didominasi oleh masyarakat Muslim Sunni, aliran baru juga muncul seperti Syiah dan Ahmadiyah yang dinilai oleh MUI sebagai aliran yang menyimpang. Tidak jarang muncul diskursus dan konflik antara kelompok Sunni dan aliran minoritas Muslim tersebut. Artikel ini mengkaji keberadaan aliran minoritas yang dinilai menyimpang di Indonesia, dan respons MUI terhadap berbagai aliran tersebut. Berdasarkan observasi dan studi dokumen, ditemukan aliran dan paham menyimpang di Indonesia dengan jumlah pengikut signifikan yang memunculkan respons dari MUI, termasuk organisasi-organisasi Islam, yang pada gilirannya melahirkan fatwa keagamaan tentang aliran dan paham menyimpang di Indonesia. Abstract: Islamic Minority Groups in Indonesia. Indonesia makes Pancasila the basis of the state, and the way of life of the nation and state. Although not being a religious state, the majority of the Indonesian population embraced Islam, especially Ahlussunnah Waljamaah (Sunni). Among the Sunni communities are affiliated with the organization Al Jam'iyatul Washliyah, Nahdlatul Ulama, Persis, and Muhammadiyah all of which represent in the Majelis Ulama Indonesia (MUI). Although dominated by Sunni Muslim majority, new mainstreams have also emerged as Shia and Ahmadiyah as perceived by the MUI as deviant sects. Frequently there are discursions and conflicts between Sunni and Muslim minorities. This article examines the existence of Muslim minorities in Indonesia, and the MUI's response to the various streams. Based on observations and document studies, there are significant influxes and understandings in Indonesia with a significant number of followers raising responses from MUI, including Islamic organizations, which in turn led to religious fatwas on the deviation of faith and  perversion in Indonesia. Kata Kunci: Indonesia, fatwa, MUI, aliran sesat, Syiah, Ahmadiyah
PEREMPUAN DI LEMBAGA PENDIDIKAN AL JAM’IYATUL WASHLIYAH Latifah Hanum
Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.455 KB) | DOI: 10.30821/jcims.v2i1.1755

Abstract

Abstrak: Artikel ini mengkaji kedudukan perempuan di lembaga pendidikan Al Jam’iyatul Washliyah di Sumatera Utara. Organisasi Al Washliyah merupakan organisasi Islam tradisional yang menganut mazhab Ahlussunnahwaljamaah dalam bidang akidah dan Syâfi‘iyah dalam bidang fikih. Afiliasi organisasi ini dalam kedua mazhab tersebut disinyalir akan tidak memberikan kedudukan yang setara antara perempuan dengan laki-laki. Artikel ini merupakan hasil penelitian kualitatif dimana data penelitian diperoleh dari kegiatan telaah dokumen dan observasi. Kajian ini mengajukan temuan bahwa lembaga pendidikan Al Washliyah yang dikelola oleh Majelis Pendidikan Al Washliyah ternyata belum memberikan porsi signifikan bagi kaum perempuan dalam struktur organisasinya. Tidak pernah ditemukan perempuan menjadi ketua atau sekretaris majelis, kecuali sebagai bendahara. Tetapi, kaum perempuan telah dilibatkan sebagai manajer di lembaga pendidikan Al Washliyah. Sebab, beberapa jabatan pimpinan madrasah, sekolah, dan perguruan tinggi Al Washliyah dipegang oleh kaum perempuan. Tenaga pendidik di lembaga pendidikan Al Washliyah telah banyak diisi oleh kaum perempuan. Sebagian guru dan dosen perempuan Al Washliyah telah memiliki ijazah master. Memang, beberapa dari mereka dipercayakan sebagai manajer dengan tanggung jawab yang besar.  Abstract:  Women in Al Jam’iyatul Washliyah Educational Institution. This article examines women’s position in Al Jam’iyatul Washliyah educational institutions in North Sumatra. Al Washliyah organization is a traditional Islamic organization that practices the Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ‘ah theology and Shâfi‘i school of law. It has been alledged that these school of theology and law would not allow equal opportunity for man and woman. Nevertheless, this study—which mainly based on document review and observation—found that that was not exactly the case. While it is true that in Al Washliyah Education Council women are under respresented, the condition is much better in educational institutions. In Al Washliyah educational institutions, it is common to find female teachers and lecturers with master degrees. Indeed, some of them are entrusted as managers with substantial responsibilities.  Kata Kunci: gender, perempuan, Al Washliyah, madrasah, Sumatera Utara
PERSEPSI PEMUKA AGAMA TERHADAP BIAS GENDER DITINJAU DARI LATAR BELAKANG SUKU Dahlia Lubis
Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.894 KB) | DOI: 10.30821/jcims.v1i1.321

Abstract

Abstrak: keberadaan berbagai kajian dan literatur tentang gender tidak serta merta merubah pandangan masyarakat tentang keadilan gender. Sebab, kajian gender tetapi memiliki pendukung dan penentang. Ada pendapat bahwa kajian gender berupaya merubah ajaran agama itu sendiri. Dalam kajian gender selama ini, ditemukan banyak pihak yang ikut berkontribusi bagi muncul dan berkembangnya paham yang bias gender dalam masyarakat Muslim, khususnya di Indonesia. Di antara pihak yang bertanggungjawab terhadap kelestarian paham yang diskriminatif terhadap perempuan adalah para pemuka agama yang diwakili oleh para ustaz dan ustazah dimana mereka memainkan peran sebagai penyampai ajaran agama kepada masyarakat Muslim. Artikel ini mengkaji pandangan para ustaz dan ustazah terhadap ketidakadilan gender yang dilihat dari latar belakang suku masing-masing, sehingga akan terungkap perihal adakah kaitan antara latar belakang suku seorang ustaz dan ustazah terhadap persepsi mereka tentang ketidakadilan gender. Didasari oleh studi lapangan, dimana data penelitian diperoleh dari angket dan wawancara, kajian ini menemukan bahwa masih ditemukannya pemahaman bias gender dalam persepsi ustaz dan ustazah di kota Medan. Kajian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi kajian gender di Indonesia.   Kata Kunci: ustaz, ustazah, ketidakadilan, gender, suku Abstract: The Perception of Islamic Preachers about Gender Bias Reviewed From Ethnic Group Backgrounds. The existence of various studies and literature on gender does not automatically change the society's opinion about gender equality. As such, supporters and opponents of the idea are readily found. One opinion goes as far as saying that gender studies try to alter the teachings of religion itself. In the gender studies has been found that many contributed to the emergence and development of gender biased ideology in Muslim societies, especially in Indonesia. Among those responsible to discriminatory preservation of women are religious leaders who are represented by ustaz and ustazah where they play the role of religious teachings to the Muslim community. This article examines the opinions of ustaz and ustazah on gender inequality realized from the background of each ethnic group, so it will be revealed about whether there is a link between ethnic background of an ustaz and ustazah to their perception of gender injustice. Based on field studies, where the research data was obtained from questionnaires and interviews, this study found that there is an understanding of gender bias in ustaz and ustazah perceptions in Medan city. This study is expected to contribute to gender studies in Indonesia. Keywords: ustaz, ustazah, injustice, gender, ethnic group
RESISTENSI PENEGAKAN SYARIAT ISLAM DI ACEH TENGGARA Agustiansyah Agustiansyah
Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.031 KB) | DOI: 10.30821/jcims.v1i2.1392

Abstract

Abstrak: Artikel ini mengkaji peran Wilayatul Hisbah dalam menegakkan syariat Islam di Aceh Tenggara. Kajian ini merupak hasil dari penelitian lapangan dan data diperoleh melalui kegiatam wawancara dan observasi untuk menjawab fokus kajian. Kajian ini mengajukan temuan bahwa penegakan syariat Islam di daerah Aceh Tenggara masih mengalami kemandegan. Wilayatul Hisbah masih menghadapi berbagai kendala dalam menegakkan syariat Islam terutama yang berkaitan dengan aspek kelembagaan, penerapan hukum, proses hukum dan kesiapan perangkat hukum dan sumber daya manusia. Kesulitan dalam menegakkan syariat Islam diperparah oleh belum adanya kesadaran hukum masyarakat di Aceh Tenggara. Pelanggaran qânûn syariat Islam masih terjadi di perkampungan, dan aparat penegak hukum syariat Islam tidak banyak hanya berdiam diri. Diperlukan reformasi struktur hukum dan birokrasi penegak qanun di Aceh. Kajian ini berkontribusi untuk membantu pemerintah Aceh dalam memperbaiki sistem dan mensukseskan penegakan syariat Islam di Aceh. Abstract: The Resistence of the Application of Islamic Law in Aceh Tenggara. This article examines the role of the Wilayatul Hisbah Region in enforcing the Shari'a of Islam in Southeast Aceh. This study is the result of field research and data obtained through interviewing and observation activities to answer the focus of the study. This study proposes that the enforcement of Islamic law in the Southeast Aceh region is still stagnating. The Wilayatul Hisbah area still faces various obstacles in enforcing Islamic law especially related to institutional aspect, law implementation, legal process and readiness of law and human resources. Difficulties in enforcing Islamic Shari'ah is worsened by the absence of legal awareness of the community in Southeast Aceh. Violations qânûn Islamic Shari'a still occur in the village, and law enforcement officers of sharia Islam is not much just silence. Required reform of the legal structure and bureaucracy of qanun enforcers in Aceh. This study contributes to assisting the Aceh government in improving the system and succeeding the enforcement of Islamic Shari'ah in Aceh. Kata Kunci: Aceh, Wilayatul Hisbah, syariat Islam, qânûn
ORGANISASI ISLAM DI TANAH MELAYU: Ideologi dan Gerakan Al-Ittihadiyah Sebelum Era Reformasi Al Rasyidin
Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.501 KB) | DOI: 10.30821/jcims.v2i1.1746

Abstract

Abstrak: Artikel ini menelaah organisasi Al-Ittihadiyah di Sumatera Utara. Secara khusus, artikel ini akan menguak ideologi yang diperjuangkan organisasi, amal usaha, serta perkembangannya di komunitas yang majemuk. Artikel ini merupakan hasil penelitian kepustakaan yang didukung oleh data lapangan. Metode yang digunakan adalah analisis isi. Artikel ini mengajukan temuan bahwa Al-Ittihadiyah merupakan salah satu organisasi Islam yang lahir di Kota Medan dimana kelompok ulama dan tokoh Melayu menjadi patron utama organisasi ini. Al-Ittihadiyah seakan menjadi corong bagi etnis Melayu di Sumatera Timur, dan ini yang membedakan mereka dengan etnis Minangkabau yang berafiliasi dengan Muhammadiyah dan etnis Mandailing yang berafiliasi dengan Al Jam’iyatul Washliyah. Selain itu, Al-Ittihadiyah sebagai organisasi tidak berafiliasi dengan mazhab akidah dan fikih tertentu, tetapi para pendukungnya adalah penganut mazhab Asy‘ariyah dan Syâfi‘iyah. Kemudian, Al-Ittihadiyah bergerak dalam bidang pendidikan, dakwah dan amal sosial, meskipun mulai dari awal kemerdekaan Al-Ittihadiyah terlibat dalam Partai Masyumi, dan kelak tokoh-tokohnya melibatkan diri dalam PPP yang akhirnya membuat organisasi ini kalah bersaing dengan Al Washliyah dan Muhammadiyah dalam pengembangan amal usahanya.    Abstract: Islamic Organization in Malay Land: Ideology and Movements of Al-Ittihadiyah Before-Reform Era. This article examines the Al-Ittihadiyah organization in North Sumatra, focusing on its ideology, programs, and its development in a pluralistic community. This article is based on content analysys study, combining literary information and field data. This article proposes that Al-Ittihadiyah was one of the Islamic organizations established in Medan City, initiated and patronized by Malay clerics and prominent figures. As such this organisation has a very close ties with Malays, very much like the association of the Minangkabaus with Muhammadiyah and Mandailings with Al Jam’iyatul Washliyah. In addition, Al-Ittihadiyah as an organization is not affiliated with certain schools of faith and jurisprudence, but its supporters are adherents of the Ash‘ariyah and Syâfi‘iyah schools. Al-Ittihadiyah engages in education, da’wah and social charity. In the beginning of independence, Al-Ittihadiyah leaders joined the Masjumi Party, and later on the Unity and Development Party (PPP). It seems that this political involvement makes this organization unable to compete with Al Washliyah and Muhammadiyah.Kata Kunci: organisasi Islam, Al-Ittihadiyah, mazhab, pendidikan, dakwah, politik, Melayu
SYEKH AHMAD KHATIB MINANGKABAU DAN POLEMIK TAREKAT NAQSYABANDIYAH DI NUSANTARA Ahmad Fauzi Ilyas
Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.247 KB) | DOI: 10.30821/jcims.v1i1.1008

Abstract

Abstrak: Artikel ini menggambarkan biografi intelektual Sheikh Ahmad Khatib minangkabau, seorang ulama kehaliran Indonesia namun menghabiskan sebagian besar karir intelektualnya di Makkah pada penghujung abad ke 19 hingga awal abad ke 20 dan kemudian menganalisis responnya terhadap polemik mengenai Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia. Sheikh Ahmad penting dikaji mengingat pengaruhnya yang besar di kalangan Muslim Indonesia. Berbeda dengan beberapa pendapat, kajian ini menemukan bahwa karya-karya Syekh Ahmad menunjukkan persetujuannya dengan Tarekat Naqsyabandiyah, kecuali dalam lima amaliah. Kajian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi studi Islam di Nusantara. Kata Kunci: Ahmad Khatib Minangkabau, Tarekat, Naqsyabandiyah, Nusantara Abstract: Syekh Ahmad Khatib Minangkabau and Tarekat Naqsyabandiyah Polemic in Indonesia Archipelago. This article describes the intellectual biography of Sheikh Ahmad Khatib Minangkabau, an Indonesian born scholar but spent most of his career in Mecca from the end of the 19th century to the beginning of the 20th and examines his response to the Naqsyabandiah congregation in Indonesia archipelago. Sheikh Ahmad deserves to be studied, considering his significant influence among Muslims of the region.  In contrary with some belief, this study reveals that Sheikh Ahmad’s works indicate that he was in the opinion that Naqsyabandiyah was in line with orthodox Islam, with the exception of five amaliyah. This study is expected contribute to the study of Islam in Indonesia archipelago. Keywords: Ahmad Khatib Minangkabau, Tarekat, Naqsyabandiyah, Indonesia archipelago.
HUBUNGAN MUSLIM-KRISTIANI DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN DI SUMATERA UTARA Irwansyah Irwansyah
Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.037 KB) | DOI: 10.30821/jcims.v1i2.1541

Abstract

Abstrak: Asumsi dasar kajian ini adalah hubungan Muslim dan Kristiani di Sumatera Utara berlangsung dalam berbagai domain dimana interaksinya bisa terjadi secara harmonis maupun disharmonis. Berpijak pada asumsi itu, fokus kajian ini akan menelaah bagaimana hubungan Muslim-Kristiani di Sumatera Utara berlangsung pada domain dunia pendidikan. Artikel ini hendak mengkaji hubungan Muslim dan Kristiani dalam dunia pendidikan. Secara khusus, akan diteliti bagaimana hubungan antara tokoh dan lembaga pendidikan Islam dan lembaga pendidikan Kristen dalam membangun kerukunan di Sumatera Utara. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan Sosiologi Agama, sedangkan analisa data menggunakan pendekatan analisis domain dan analisis taxonomi yang diajukan Spradley. Kajian ini menemukan bahwa hubungan Muslim-Kristiani berlangsung secara harmonis. Banyak kasus dimana lembaga dan tokoh pendidikan mengadakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kerukunan, selain lahirnya sejumlah karya yang dinilai dapat mendorong perubahan paradigma masyarakat tentang hubungan Islam dan Kristen. Abstract: Muslim-Christian Relations in Educational Institution in North Sumatra. The basic assumption of this study is that the relationship between Muslims and Christians in North Sumatra takes place in various domains where interactions can occur harmoniously and disharmonically. Based on that assumption, the focus of this study is how the Muslim-Christian relationship in North Sumatra takes place in the domain of education. This article will examine the relationship between Muslims and Christians in education. In particular, will be examined how the relationship between figures and institutions of Islamic education and Christian educational institutions in building harmony in North Sumatra. The research was conducted by using Sociology of Religion, while data analysis using domain analysis approach and taxonomy analysis proposed by Spradley. The study found that Muslim-Christian relations are harmonious. Many cases where educational institutions and leaders conduct activities related to harmony, in addition to the birth of a number of works that are considered to encourage a change in the paradigm of society about the relationship of Islam and Christianity. Kata Kunci: Muslim, Kristiani, pendidikan, agama-agama, dialog
NAHDLATUL ULAMA DI LUAR JAWA: Perkembangan di Tanah Mandailing Abbas Pulungan
Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.105 KB) | DOI: 10.30821/jcims.v2i1.1747

Abstract

Abstrak: Artikel ini mengkaji perkembangan Nahdhatul Ulama di luar Jawa. Secara khusus, artikel ini akan menganalisa keberadaan dan perkembangan Nahdlatul Ulama di Tanah Mandailing. Kajian ini merupakan hasil dari penelitian kepustakaan dan lapangan. Sebab itu, data akan diperoleh tidak saja dari kegiatan telaah dokumen, tetapi juga kegiatan wawancara dan observasi. Data akan dianalisis dengan menggunakan metode analisis data model Miles dan Huberman. Kajian ini mengajukan temuan bahwa pendirian Nahdlatul Ulama di Sumatera Utara diinisiasi oleh alumni Pesantren Musthafawiyah, sebuah pesantren tradisional yang didirikan oleh Syekh Musthafa Husein. Mayoritas alumni pesantren ini berasal dari suku Mandailing. Tetapi belakangan, kalangan santri tidak lagi memegang tampuk kepemimpinan tanfidziyah NU di Sumatera Utara. Kemudian awal kehadiran Nahdlatul Ulama di Sumatera Utara bermula dari kawasan Tapanuli lalu kemudian berpusat di Kota Medan dimana dua organisasi Islam lain telah lebih dahulu muncul, yaitu Al Washliyah dan Al-Ittihadiyah. Pengembangan NU semakin diperkuat oleh keberadaan kader NU di birokrasi pemerintahan (terutama Departemen Agama) dan legislatif sebagai dampak dari perubahan NU dari organisasi sosial keagamaan menjadi partai politik yang memiliki dukungan suara yang banyak.   Abstract: Nahdlatul Ulama Beyond Java: The Development in Mandailing Land.  This article examines the development of Nahdhatul Ulama beyond Java, especially in Mandailing land. This article is based on a research that combine literary review and field study and apply Miles and Huberman model in data analysis. It was found that the establishment of Nahdlatul Ulama in North Sumatra was initiated by alumnies of Pesantren Musthafawiyah, a traditional pesantren founded by Sheikh Mustafa Husein. The role of these pesantren alumnies—mostly of Mandailing tribe—is now decreasing significantly. In fact, the leadership of Nahdlatul Ulama in North Sumatra is no longer in the hands of those santris. Nahdlatul Ulama in North Sumatra was originated from Tapanuli region before it expanded to Medan where two other Islamic organizations have appeared earlier, namely Al Washliyah and Al-Ittihadiyah. Its development was further strengthened by the presence of NU cadres in the government bureaucracy and legislative institutions.Kata Kunci: Nahdlatul Ulama, politik, Mandailing, pesantren Musthafawiyah
KAJIAN ILMU FALAK DI INDONESIA: Kontribusi Syaikh Hasan Maksum dalam Bidang Ilmu Falak Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar
Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.958 KB) | DOI: 10.30821/jcims.v1i1.1007

Abstract

Abstrak: Ulama-ulama Nusantara telah memainkan peranan bagi penguatan dan pelestarian khazanah keilmuan Islam di Nusantara, termasuk dalam bidang ilmu falak, dan ironinya tidak banyak kajian yang dilakukan para ahli terhadap karya-karya akademik mereka dalam bidang ini. Artikel ini akan mengkaji kontribusi Syaikh Hasan Maksum seorang mufti Kesultanan Deli yang sangat berpengaruh di Sumatera Timur. Seperti halnya ulama-ulama Nusantara lainnya, ia pernah belajar di Haramain (Makkah dan Madinah) dalam waktu yang cukup lama. Secara khusus, artikel ini akan mengulas karyanya yang berjudul Natîjah Abadiyah, dengan menggunakan analisis isi. Natîjah Abadiyah (natijah abadi) adalah buku yang sangat ringkas namun sangat penting, yang berisi daftar dan penjelasan tentang waktu-waktu salat. Kata Kunci: Nusantara, Sumatera Timur, ilmu falak, waktu salat, Hasan Maksum Abstract: The Study of Astronomy in Indonesia: Shaykh Hasan Maksum’s Contribution to Astronomy. Islamic scholars have played a role for the strengthening and preservation of Islamic scholarship in Indonesia, including in Astronomy. Unfortunately, works on this field have not been studied accordingly. This article examines the contribution of Shaykh Hasan Maksum, a very influential mufti on Deli sultanate in East Sumatra. Like many other Nusantara scholars, he studied in Haramain (Makkah and Madinah) for a substantial time. This article studies his work, Natîjah Abadiyah, applying Content Analysis. It is clear that the Natijah Abadiyah is a short yet very important for it contains daily prayer timetable and some necessary explanations. Keywords: Indonesia Archipelago, East Sumatera, Astronomy, time of prayer, Hasan Maksum
BIAS GENDER DALAM BUKU PELAJARAN SKI TINGKAT MADRASAH IBTIDAIYAH Abdul Gani Jamora Nasution
Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.907 KB) | DOI: 10.30821/jcims.v1i2.1724

Abstract

Abstrak: Artikel ini mengkaji persoalan bias gender dalam buku pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di tingkat Madrasah Ibtidaiyah. Secara khusus, akan diteliti sejauhmana kemungkinan bias gender dalam pelajaran SKI untuk domain materi, gambar, dan rubrik. Data diperoleh melalui telaah dokumen, yaitu menganalisa buku pelajaran SKI yang biasa digunakan guru pada tingkat Madrasah Ibtidaiyah. Kajian ini menemukan bahwa buku pelajaran SKI masih bias gender. Sebab itu, perlu dilakukan penulisan buku pelajaran untuk anak madrasah dengan memerhatikan asas kesetaraan gender, agar persoalan bias gender tidak dilestarikan oleh lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Temuan kajian ini dapat menjadi dasar bagi pemerintah, khususnya Kementerian Agama, dalam menentukan kebijakan tentang buku-buku pelajaran untuk madrasah yang seharusnya mengedepankan kesetaraan gender.Abstract: Gender Bias in History of Islamic Civilization (SKI) Course Materials at Madrasah Ibtidaiyah Level. This article examines the issue of gender bias in Islamic civilization history textbooks at Madrasah Ibtidaiyah level. Specifically, this article examines the extent to which gender bias is possible in SKI lessons for material sphere, images and rubrics. The data obtained through the study of the document, by analyzing textbooks and course materials used by teachers at the level of Madrasah Ibtidaiyah. This study found that SKI textbooks are still gender biased. Therefore, it is necessary to write textbooks for madrasah students by taking into account the principle of gender equality, so that gender bias issues are not preserved by Islamic educational institutions in Indonesia. The findings of this study may serve as a basis for the government, in particular the Ministry of Religious Affairs, in determining policies on textbooks for madrasah that should promote gender equality. Kata Kunci: bias gender, madrasah, Sejarah Kebudayaan Islam

Page 1 of 10 | Total Record : 91