cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Acarya Pustaka
ISSN : 24424366     EISSN : 24430293     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Acarya Pustaka menerbitkan tulisan ilmiah di bidang perpustakaan, informasi, kearsipan, dan manajemen pengetahuan. Terbit 2 kali setahun di bulan Juni dan Desember
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 1 No 2 (2015)" : 5 Documents clear
PERPUSTAKAAN SEKOLAH Suatu Keniscayaan dalam Penyelenggaraan Pendidikan Formal Blasius Sudarsono
ACARYA PUSTAKA Vol 1 No 2 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/ap.v1i2.10047

Abstract

AbstrakKeberadaan perpustakaan sekolah idealnya menempati posisi sentral dalam lembaga pendidikan. Apakah fungsi perpustakaan sekolah sudah benar dipahami, dihayati, dan dikembangkan oleh pihak terkait dalam proses pembelajaran formal? Apakah masyarakat perpustakaan sekolah di Indonesia juga sudah menyadari adanya IFLA School Library Guidelines edisi ke dua, Juni, 2015? Sudahkah materi tersebut diacu guna mengembangkan perpustakaan sekolah? Ketiadaan persepsi mendasar tentang perpustakaan sekolah menjadikan keberadaan perpustakaan sekolah belum pada posisi ideal. Perkembangan fungsi dan peran perpustakaan sekolah tidak dapat dilepas dari adanya manifesto perpustakaan sekolah: IFLA/UNESCO School Library Manifesto (SLM), yaitu: perpustakaan sekolah memberikan informasi dan ide yang menjadi dasar keberhasilan fungsional dalam masyarakat masa kini yang berbasis informasi dan pengetahuan dan perpustakaan sekolah membekali murid berupa keterampilan pembelajaran sepanjang hayat serta pengembangan imajinasi, memungkinkan mereka hidup sebagai warga negara yang bertanggung jawab. Perpustakaan sekolah bertugas menyediakan layanan pembelajaran, buku dan sumber informasi lain sehingga menjadikan seluruh warga masyarakat sekolah menjadi pemikir kritis (critical thinkers) dan pemakai efektif informasi dalam beragam media dan format. Perpustakaan Sekolah harus mempunyai pustakawan profesional. Ini dinyatakan juga dalam manifesto perpustakaan sekolah. Dinyatakan bahwa pustakawan sekolah haruslah professionally staff member yang bertanggung jawab atas perencanaan dan pengelolaan Perpustakaan Sekolah. Pengembangan kemampuan profesionalitas berkesinambungan (Continuing Professional Development= CPD) menjadi tanggung jawab pribadi pustakawan sekolah yang harus difasilitasi oleh sekolah (lembaga kerja), asosiasi profesi pustakawan (sekolah), dan lembaga pendidikan pustakawan (sekolah perpustakaan). Manifesto ini juga memberikan arahan untuk melaksanakannya. Kebijakan tertulis atas layanan perpustakaan sekolah  harus dibuat. Kebijakan ini mencakup tujuan dan prioritas layanan sehubungan dengan kurikulum sekolah yang berlaku. Perpustakaan sekolah juga harus diselenggarakan dan dikelola berdasar standar profesional. Layanan harus dapat diakses oleh setiap anggota masyarakat sekolah dan diselenggarakan berdasar konteks masyarakat setempat. Kata kunci: perpustakaan sekolah dan IFLA/UNESCO School Library Manifesto (SLM)
Peningkatan Layanan Berbasis Teknologi Informasi (TI) pada Pengelolaan Perpustakaan Sekolah Made Hery Griadhi
ACARYA PUSTAKA Vol 1 No 2 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/ap.v1i2.10048

Abstract

AbstrakPerpustakaan sekolah sebagai jantungnya program pendidikan sudah semestinya dijadikan pusat penyebar luasan  teknologi informasi yang telah dicapai. Peran perpustakaan yang begitu penting  pada penyelenggaraan pendidikan sudah sepatutnya didukung oleh prangkat teknologi informasi yang memadai dalam penyelenggaraan layanannya, hal ini sangat relevan  dengan kebutuhan  siswa yang semakain komplek dan semakin menuntut layanan serba instan. Dengan demikian dirasakan sangat mendesak mengaplikasikan teknologi informasi untuk mendukung layanan perpustakaan dalam melayani pengguna. Namun demikian berdasarkan pengamatan sementara melalui survey  yang telah dilakukan sebagian besar sekolah yang ada di Kabupaten Buleleng  belum menyelenggarakan layanan berbasis TI terutama dalam hal pengolahan bahan  pustaka berupa pembuatan katalog dalam hal penyelenggaraan layanan OPAC (Online Public Acsses Cataloque). Perpustakaan sebagai institusi pengelola informasi merupakan salah satu bidang penerapan teknologi informasi yang berkembang dengan pesat. Perkembangan dari penerapan teknologi informasi bisa kita lihat dari perkembangan jenis perpustakaan yang selalu berkaitan dengan teknologi informasi, diawali dari perpustakaan manual, perpustakaan terautomasi, perpustakaan digital atau cyber library. Mengatasi permasalahan  pemanfaatan fasilitas TI pada perpustakaan sekolah yang belum optimal sangat relevan dilakukan pendidikan dan latihan (diklat) kepada pengelola perpustakaan sekolah mengenai pemanfaatan teknologi informasi untuk meningkatkan kualitas layanan pada perpustakaan sekolah. Salah satu alat bantu dalam kegiatan ini adalah  Program Slim 7 Cendana  yaitu program teknologi informasi yang dapat mengakomodir kebutuhan perpustakaan dalam menyelenggarakan layanan berbasi TI. Program ini dapat membantu pengelola perpustakaan dalam mengolah buku koleksi seperti membuat catalog dan menampilkan catalog dalam bentuk OPAC (online Public Access Catalogue). Dengan pengaplikasian program ni pada penyelenggaraan perpustakaan maka disamping membantu pengelola perpustakaan dalam mengolah buku juga sangat membantu pengguna dalam menelusuri buku-buku koleksi perpustakaan. Kata kunci: Layanan berbasis teknologi informasi (TI) dan pengelolaan  perpustakaan sekolah
TRANSMISI BUDAYA DARI ASPEK KEBERAKSARAAN DI MUSEUM : UPAYA DOKUMENTASI PERMUSEUMAN Kartika S.N.L.AS
ACARYA PUSTAKA Vol 1 No 2 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/ap.v1i2.10049

Abstract

Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tata cara pendokumentasian di museum mengenai budaya yang dimiliki oleh negara sehingga negara lain tidak bisa mengklaim budaya yang kita miliki secara sepihak. Sebagai contoh banyak budaya Indonesia yang diklaim oleh negara malaysia sehingga menimbulkan perang dingin antara 2 negara tersebut. Pengetahuan akan budaya harus ditingkatkan terutama oleh pihak museum sebagai badan yang memberi edukasi akan budaya dan sejarah dari suatu negara. Dalam museum juga harus memikirkan bagaimana cara pendokumentasiannya sehingga terkumpul informasi yang mutlak dan bisa diterima oleh masyarakat. Museum sebagai pusat informasi kebudayaan dan pengetahuan, menjelaskan tentang benda tersebut, asal-usul benda, informasi berupa grafik dan teks dari benda tersebut. Museum harus bersungguh-sungguh dalam mengadakan pengelolaan museum hingga koleksi yang dimiliki bisa dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat luas dan museum bisa menyebarkan informasi kepada masyarakat terkait dengan budaya yang dimiliki oleh negara sehingga masyarakat juga bisa ikut melindungi budaya dari pengakuan nagara lain. Kata kunci: transmisi budaya, keberaksaraan di museum, dan dokumentasi permuseuman
Dari Teknis ke Transformatif: Perkembangan Aspirasi Pustakawan tentang Literasi Informasi di Sekolah Indonesia pada Masa Awal Pengenalannya Putu Laxman Pendit
ACARYA PUSTAKA Vol 1 No 2 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/ap.v1i2.10050

Abstract

AbstrakKonsep dan praktik “literasi informasi” mulai dikenal meluas di kalangan pustakawan Indonesia, khususnya pustakawan yang berkecimpung di bidang pendidikan, di dekade pertama tahun 2000-an. Selain itu, ada dua fenomena umum yang saling berkaitan dan ikut mendorong popularitas literasi informasi di kalangan pustakawan, yaitu perkembangan perpustakaan digital yang sudah menyentuh hampir semua jenis perpustakaan dan konsekuensinya terhadap profesi pustakawan ketika harus berhadapan dengan perubahan pesat dalam teknologi informasi di bidang mereka.Pada masa awal pengenalannya di Indonesia, hakikat literasi informasi adalah serangkaian “praktik yang disesuaikan dengan situasi” (situated practices), yakni situasi belajar mengajar di dalam konteks sosial-budaya tertentu yang mencakup di dalamnya tatanan sosial sekolah dan pengembangan kurikulum. Di mana pun literasi informasi akan ditetapkan, diperlukan integrasi kepustakawanan sekolah dengan kegiatan belajar-mengajar, dan harus sejalan dengan perubahan paradigma pengajaran dari yang semula mengandalkan belajar pasif menjadi belajar partisipatif.Semula literasi hanya dilihat dari sisi pandang perangkat teknologi, sebelum akhirnya berubah ketika  literasi mulai terlihat sebagai sebuah praktik sosial yang khas. Dengan demikian, literasi informasi perlu diterima bersama oleh semua pihak yang terlibat di masyarakat pada umumnya, dan di bidang pendidikan pada khususnya. Selain itu, perubahan paradigma dalam berliterasi ini tak sepenuhnya diterima atau dianggap cocok dengan sistem pendidikan yang sedang berlangsung, apalagi pada saat yang sama sistem dan pelaku pendidikan itu sendiri sedang menghadapi berbagai masalah dalam hal kualitas sumberdaya manusia maupun fasilitas. Dalam pada itu, perkembangan teknologi informasi secara umum dan teknologi media pada khusunya telah secara mendasar memengaruhi cara pandang masyarakat tentang kehidupan mereka dan tentang kebebasan berkomunikasi pada khususnya. Jelaslah bahwa baik literasi informasi maupun literasi media merupakan fenomena sosio-budaya yang dipengaruhi perkembangan teknologi media dan sikap serta respon para pustakawan sekolah terhadap fenomena ini akan menentukan bagaimana mereka berpartisipasi.    Kata kunci: literasi Informasi, sosial budaya, pustakawan
CARA MEMAKSIMALKAN KEMAMPUAN MEMBACA CEPAT Ade Asih Susiari Tantri
ACARYA PUSTAKA Vol 1 No 2 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/ap.v1i2.10051

Abstract

Abstrak Kemampuan membaca cepat merupakan hal yang sangat penting untuk dikuasai. Agar tidak ketinggalan informasi yang terbaru, maka kemampuan membaca dengan cepat sangatlah diperlukan. Membaca cepat adalah kegiatan membaca secara cepat dengan waktu yang relatif singkat untuk mengetahui garis besar isi atau ide pokok suatu bacaan, tanpa mengabaikan pemahaman isinya. Kegunaan atau manfaat membaca cepat adalah dapat dipahami informasi atau isi sebuah bacaan secara cepat dan waktu yang relatif singkat sehingga kita tidak akan ketinggalan informasi yang terbaru. Selain itu, wawasan pun akan bertambah luas seriring perkembangan teknologi dan arus informasi yang berkembang sangat cepat.Faktor-faktor yang dapat menghambat kecepatan membaca berasal dari faktor intern dan ekstern. Faktor intern adalah faktor yang berasal dari diri pembaca, seperti: vokalisasi, gerakan bibir, gerakan kepala, dan sebagainya. Sedangkan faktor ekstern adalah faktor-faktor yang berasal dari luar diri seorang pembaca, seperti lingkungan, sosial, tradisi, mitos atau keparcayaan mistis, sugesti negatif, dan lain-lain, seperti: variabel pada tulisan/teks bacaan. Cara mengatasi hal ini adalah dengan menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk saat membaca, meningkatkan konsentrasi, meningkatkan motivasi membaca, dan tanamkan pada diri bahwa membaca itu adalah kegiatan yang menyenangkan dan bukanlah kegiatan yang membosankan. Modal dasar yang harus dimiliki untuk meningkatkan kecepatan membaca adalah mempunyai kosakata yang cukup, mampu berkonsentrasi, mempunyai kondisi fisik dan mental yang bagus dan mendukung, serta yang paling penting ialah latar belakang pengetahuan. Kata kunci: kemampuan membaca cepat

Page 1 of 1 | Total Record : 5