cover
Contact Name
I Wayan Putra Yasa
Contact Email
yanputra666@gmail.com
Phone
+6285238950355
Journal Mail Official
yanputra666@gmail.com
Editorial Address
Jalan Udayana No. 11, Singaraja-Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah
ISSN : 25992635     EISSN : 2599140X     DOI : http://dx.doi.org/10.23887/jjps.v8i2
Widya Winayata: Jurnal Jurusan Pendidikan Sejarah is a scientific journal published by the Department of History Education, Faculty of Law and Social Sciences, Universitas Pendidikan Ganesha. This journal aims to accommodate articles of research results and results of community service in education and history learning. In the end, this journal can describe the development of science and technology in the field of historical education for the academic community. This journal is published three times a year.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 1 (2018)" : 10 Documents clear
JALINAN PERDAGANGAN ANTARA ETNIS TIONGHOA DENGAN ETNIS BALI DI DESA BATURITI, TABANAN, BALI (Sumbangannya Sebagai Sumber Belajar Sejarah Berbasis Kurikulum 2013) ., Ni Made Cristia Dewi; ., Drs. I Wayan Mudana,M.Si.; ., Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v6i1.4149

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Latar belakang terdapatnya jalinan perdagangan antara etnis Tionghoa dengan etnis Bali di Desa Baturiti, Tabanan, Bali, (2) Bentuk-bentuk jalinan perdagangan antara etnis Tionghoa dengan etnis Bali di Desa Baturiti, Tabanan, Bali, dan (3) Nilai-nilai yang terkandung dalam jalinan perdagangan antara etnis Tionghoa dengan etnis Bali di Desa Baturiti, Tabanan, Bali dan sumbangannya sebagai sumber belajar sejarah berbasis kurikulum 2013. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu: (1) Teknik penentuan lokasi penelitian, (2) Teknik penentuan informan, (3) Teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, kajian dokumen), (4) Teknik penjaminan keaslian data (triangulasi data dan triangulasi metode), dan (5) Teknik analisis data. Hasil penelitian menunjukan bahwa jalinan perdagangan antara etnis Tionghoa dengan etnis Bali merupakan suatu bentuk kerjasama dalam bidang perdagangan (ekonomi) yang dilatarbelakangi oleh faktor ekonomi, budaya, sosial, dan politik. Bentuk-bentuk jalinan perdagangan antara etnis Tionghoa dengan etnis Bali di Desa Baturiti, Tabanan, Bali yaitu : (1) Bentuk Perdagangan Barang (produk pertanian dan produk bahan bangunan), (2) Bentuk Perdagangan Jasa. Nilai-nilai yang bisa dijadikan sumber belajar sejarah dalam jalinan perdagangan antara etnis Tionghoa dengan etnis Bali adalah nilai toleransi,kerjasama, etos kerja yang ulet, kreatif dan pantang menyerah.Kata Kunci : Perdagangan, jalinan kerjasama, sumber belajar sejarah This study is aimed in order to know (1) Background of the trade relation between Tionghoa ethnic and Balinese ethnic at Baturiti, Tabanan, Bali, (2) Trade forms of Tionghoa ethnic and Balinese ethnic at Baturiti, Tabanan, Bali, (3) Values in relationship between Tionghoa ethnic and Balinese ethnic at Baturiti, Tabanan, Bali and its role as the resources of the study of curriculum 2013 based. This study used qualitative approach which are: (1) Techniques used in deciding the location of the study, (2) Techniques in deciding the informants, (3) Techniques in collectig the Data (observation, interviews, documents recited, (4) The trustful of data, (5) Techniques of data analysis. The result of the study showed that the relationship between Tionghoa ethnic and Balinese ethnic was the relationship in economic field which effected by economic factors, cultures, social, and politics. The form of trade relations between Tionghoa ethnic and Balinese ethnic at Baturiti, Tabanan, Bali were: (1) Trade goods form (agricultural products and building materials products), (2) Trade servise form. Values that can be resources of the history study in trade relation between Tionghoa ethnic and Balinese ethnic at Baturiti, Tabanan, Bali is tolerance, teamwork, hardworking, creative, and never give up.keyword : Trading, teamwork relationship, resources of history study
Kerajinan Kain Tenun Rangrang Dusun Karang, Desa Pejukutan, Kecamatan Nusa Penida, Klungkung, Bali (Pemertahanan, Proses Pembuatan) Potensinya Sebagai Sumber Belajar IPS di SMP ., I Komang Wisujana Putra; ., Drs. I Wayan Mudana,M.Si.; ., Ketut Sedana Arta, S.Pd.
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v6i1.3826

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini dilakukan di Dusun Karang, Desa Pejukutan bertujuan untuk mendeskripsikan (1) Latar belakang masyarakat Dusun Karang, Desa Pejukutan mempertahankan usaha kerajinan Tenun Rangrang, (2) Sistem Produksi usaha kerajinan tenun rangrang, (3 Potensi kerajinan Tenun Rangrang di Dusun Karang, Desa Pejukutan sebagai Sumber Pembelajaran IPS di SMP.Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jalan memahami situasi sosial, peristiwa, peran, interaksi dan kelompok.Populasi penelitian ini adalah perajin tenun rangrang di Dusun karang, Desa Pejukutan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung yang berjumlah 81 orang. Sampel penelitian ini berjumlah 6 orang penenun kerajinan tenun Rangrang, 2 siswa SMP kelas VII dan 2 Guru bidang Studi IPS yang ditentukan melalui pendekatan porposive sampling. Langkah-langkah yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu 1) Teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, dan studi dokumen) 2) Analisis data, 3) Penulisan hasil penelitian. Hasil penelitian ini menunjukan 1) sejarah keberadaan tenun rangrang diperkirakan sudah ada sejak zaman kerajaan Majapahit dengan nama cerik bolong, kemudian berkembang menjadi nyrangnyang, terakhir menjadi rangrang; (2) Pemertahanan usaha kerajinan tenun Rangrang dipengaruhi oleh beberapa faktor,yaitu ; meningkatkan pendapatan keluarga, melestarikan warisan dari kebudayaan leluhur dan faktor lingkungan; 3) sistem produksi meliputi : Alat, bahan dan tenaga kerja. Alat yang digunakan adalah tenun cagcag, Bahan yang dipergunakan: benang metris dan rayon, pewarna alami menggunakan daun tarum, daun jati, kulit kayu (jamblang, mangga, kepundung/menteng, mengkudu),dan kayu secang/sepang, penguat warna alami digunakan tunjung/mimusops elengi, kapur tohor/calcium carbonate, dan tawas/ potasium alum sulfide), sedangkan pewarna kimia menggunakan pewarna direk dan nandrin, serta metanol sebagai penguat pewarna kimia; (3) Aspek yang terdapat pada kerajinan Tenun Rangrang sebagai sumber belajar meliputi: Aspek ketekunan, Aspek sumber daya alam dan aspek kewirausaha. Kata Kunci : pemertahanan, Tenun Rangrang, produksi, sumber belajar, IPS, SMP Abstract This research was conducted in theDusun Karang, Pejukutan Village aims at describing (1) The background of Dusun Karang community, Pejukutan village in preserving handicraft of Tenun Rangrang, (2) The production system of handicraft of Tenun Rangrang, (3 The potential of handicraft of Tenun Rangrang, Pejukutan village as social learning resources of social study in SMP. The approach which is used in this study is qualitative approach to understand social situation, event, role, and group interaction. Population of this study is the artisan of Tenun Rangrang in Dusun Karang, Pejukutan village, Nusa Penida subdistict, Klungkung regency which totaled 81 people. There are 6 samples of Tenun Rangrang’s asrtisan in this study, 2 junior high school students and 2 teachers of class VII social studies field studies determined through sampling porposive approach. The steps of which are used to collect data: 1) data collection technique (observation, interviews, and studies document) 2) data analysis, 3) Writing research results. The result of the study indicates 1) the history of Tenun Rangrang is believed existuing since the era of Majapahit kingdom named Cerik Bolong, then developing became Nyrangnyang, the lattest being Rangrang; (2) The preserving of Tenung Rangrang handicraft’s business is affected by several factors, namely; increasing family income, preserving the cultural heritage of the ancestors and environmental factors; 3) the production system includes: equipment, materials and labors. The tools which is used is the Tenun Cagcag, the materials used: metric and rayon yarn, natural dyes using Tarum leaf, teak leaves, bark (jamblang, mango, kepundung, Morinda citrifolia), and a Sepang wooden, natural color boosters which are used namely lotus / mimusops elengi, calcium oxide / calcium carbonate, and alum / alum potassium sulfide), while the use of chemical are direk and dyes Nandrin, and methanol as a chemical dye amplifier; (3) the aspects which are contained in Tenun Rangrang as a learning resource include: Aspects of preseverance, Aspects of natural resources and personal business aspects. keyword : preservance, Tenun Rangrang, production, learning resources, IPS, junior high school
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SEJARAH SISWA KELAS XI IPS.4 SMA N 2 BANJAR SEMESTER II TAHUN PELAJARAN 2013/2014 ., Ni Kadek Dian Lestari; ., Drs. I Wayan Mudana,M.Si.; ., Ketut Sedana Arta, S.Pd.
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v6i1.3614

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui peningkatan motivasi belajar siswa kelas XI IPS.4 SMA N 2 Banjar semester genap tahun pelajaran 2013/2014 melalui penerapan model pembelajaraan kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT), (2) mengetahui peningkatan hasil belajar siswa kelas XI IPS.4 SMA N 2 Banjar semester genap tahun pelajaran 2013/2014 melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT), (3) mengetahui tanggapan siswa kelas XI IPS.4 SMA N 2 Banjar semester genap tahun pelajaran 2013/2014 terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) dalam pelajaran sejarah. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ialah (1) Penentuan Subjek Penelitian, (2) Membuat Rencana Tindakan, (3) Melaksanakan Tindakan, (4) Melakukan Observasi, (5) Evaluasi dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan: (1) motivasi belajar siswa kelas XI IPS.4 SMA N 2 Banjar pada siklus I adalah 58,10 dengan kategori tinggi, meningkat dengan rata-rata pada siklus II menjadi 59,82 dengan kategori tinggi; (2) hasil belajar siswa kelas XI IPS.4 SMA N 2 Banjar pada siklus I mencapai rata-rata 67,34% dengan kategori sedang, serta ketuntasan belajar siswa mencapai 37,93% meningkat pada siklus II yaitu rata-rata hasil belajar sejarah siswa mencapai 80,34% dengan kategori tinggi, serta ketuntasan belajar mencapai 82,75%; (3) Tanggapan siswa kelas XI IPS.4 SMA N 2 Banjar terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT), mencapai rata-rata 41,37 dengan kategori tinggi. Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) dapat meningkatkan motivasi belajar dan hasil belajar sejarah siswa kelas XI IPS.4 SMA N 2 Banjar. Kata Kunci : Kata Kunci: Motivasi Belajar, Hasil Belajar, Sejarah, Model Pembelajaran Kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT). ABSTRACT This study aims to (1) determine the increase of student motivation in class XI IPS.4 SMA N 2 Banjar in the second semester of academic year 2013/2014 through the implementation of a model cooperative learning Teams Games Tournament (TGT), (2) determine the increase students' outcomes in learning process in class XI IPS.4 SMA N 2 Banjar in the second semester of academic year 2013/2014 through the implementation of cooperative learning model Teams Games Tournament (TGT), (3) determine the students' responses in class XI student IPS.4 SMA N 2 Banjar in the second semester of academic year 2013/2014 through the implementation of cooperative learning model Teams Games Tournament (TGT) in history. This research is Classroom Action Research (CAR). The stages which are carried out of classroom action research (CAR) is (1) Determination of Research Subjects, (2) Creating an Action Plan, (3) Implement the action, (4) Conducting Observations, (5) Evaluation and Reflection. The results showed: (1) student motivation in class XI IPS.4 SMA N 2 Banjar in the first cycle was 58.10 with a high category, increased by an average of 59.82 on the second cycle into the high category; (2) students' outcomes in learning process in class XI IPS.4 SMA N 2 Banjar in the first cycle at an average of 67.34% with moderate category, as well as mastery learning students achieve 37.93% increase in the second cycle is an average of the results of learning history 80.34% of students achieve the higher categories, as well as mastery learning reaches 82.75%; (3) The students' response in class XI of SMA N 2 IPS.4 about the question of the application of cooperative learning model Teams Games Tournament (TGT), reaching an average of 41.37 with a high category. Based on the results of this research is known that the implementation of cooperative learning model Teams Games Tournament (TGT) can enhance the students' learning motivation and learning outcomes of history class XI IPS.4 in SMA N 2 Banjar. keyword : Keywords: Motivation, Learning Outcomes, History, type of Cooperative Learning Model Teams Games Tournament (TGT).
GEREJA PNIEL DI DESA BLIMBINGSARI, JEMBRANA, BALI (SEJARAH PENDIRIAN DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH DI SMA) ., Ida Ayu Komang Natika Wuni; ., Dra. Luh Putu Sendratari,M.Hum; ., Drs. I Ketut Margi, M.Si
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v6i1.4150

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, (1) sejarah berdirinya Gereja Pniel di Desa Blimbingsari, Jembrana, Bali, (2) nilai-nilai yang terdapat pada Gereja Pniel yang berpotensi sebagai sumber belajar sejarah di SMA. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu: (1) teknik penentuan informan; (2) teknik pengumpulan data (dokumentasi, observasi, wawancara); (3) teknik validitas data; (4) analisis data dan (5) teknik penulisan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejarah berdirinya Gereja Pniel di Desa Blimbingsari ini berkaitan erat dengan masuknya Bangsa Barat ke Indonesia khususnya ke Bali. Keberadaan Gereja Pniel diperkirakan di bangun pada tahun 1939. Latar belakang pendirian Gereja Pniel sebagai media pemujaan yang merupakan penghormatan kepada Tuhan, dan sebagai simbol kepercayaan masyarakat Desa Blimbingsari sebagai tanah perjanjian yang diberikan oleh Tuhan untuk masyarakat Desa. Struktur Gereja Pniel mengadopsi dua pola yaitu (1) Tri Mandala (jaba sisi atau nista mandala, jaba tengah atau madya mandala dan jeroan atau mandala utama); (2) Bait Allah di Yerusalem. Nilai-nilai karakter yang di wariskan Gereja Pniel yang berpotensi sebagai sumber belajar sejara di SMA ada 5 yaitu (1) keberanian; (2) solidaritas; (3) religius; (4) cinta damai; (5) tanggung jawab yang dijabarkan ke dalam silabus dan RPP berbasis kurikulum 2013 kelas XI. Kata Kunci : Sejarah, Gereja, Sumber Belajar This research was aimed to know (1) the history of Pniel church in Desa Blimbingsari, Jembrana, Bali, (2) the values which were contained in Pniel church that were pontential to be used as reference in learning history for senior high school students. This research was used qualitative approach : (1) choosing the informants, (2) collecting the data (documentation, observation, and interview), (3) data validation (4) data analysis (5) writing. The results showed that the history of Pneil church was related to the invasion of western countries to indonesia, especially Bali. The exsistence of Pniel church was approximately established in 1939. Pniel Church was established as a media of veneration which was a form of honour to God and also as a symbol of belief that Desa Belimbing was a land that God gave to society of Desa Belimbing. The structure of Pniel Church adopted two patterns (1) Tri Mandala ( Jaba sisi or nista mandala, jaba tengah or madya mandala, and jeroan or utama mandala) (2) Text of Allah in Yerussalem. There were five character values that were contained in Pniel church as the reference of learning history for senior high school students (1) bravery (2) solidarity (3) religious (4) love and peace (5) responsibility that were described in syllable and lesson plan in curriculum 2013. keyword : History, church, source of teaching
KOMUNITAS ISLAM DI DESA GELGEL, KLUNGKUNG, BALI (LATAR BELAKANG SEJARAH, PENINGGALAN, DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH DI SMA) ., Putu Adi Sutama; ., Dra. Luh Putu Sendratari,M.Hum; ., Ketut Sedana Arta, S.Pd.
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v6i1.6285

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1)Mengetahui Latar Belakang Terbentuknya Komunitas Islam di Desa Gelgel Klungkung Bali, (2) Mengetahui Peninggalan-Peninggalan Islam yang terdapat di Komunitas Islam di Desa Gelgel Klungkung Bali, (3) Mengetahui Aspek-aspek keberadaan Komunitas Muslim di Kampung Gelgel Klungkung yang dapat di gunakan sebagai sumber belajar Sejarah di SMA. Metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah penelitian Kualitatif dengan menggunakan langkah-langkah berikut ini: Rancangan Penelitian, Penentuan lokasi penelitian, metode penentuan informan, metode pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara, observasi, studi dokumen, penjamin keaslian data, triangulasi data, triangulasi metode, analisis data, dan penulisan. Hasil penelitian ini adalah (1) Diawali dengan kedatangan orang-orang Islam di Gelgel sampai sekarang mengakui asal mereka dari Jawa mereka sebanyak 40 orang datang ke Gelgel sebagai pengiring Dalem dari Majapahit, dikuatkan lagi oleh peristiwa kunjungan Dalem Ketut Ngulesir ke Majapahit yang merupakan satu-satunya kunjungan selama jaman Gelgel, sedangkan para penggantinya sudah tidak berkesempatan lagi berkunjung ke Majapahit karena kerajaan Majapahit sudah runtuh, (2)benda-benda bersejarah yang masih tersisa di Desa kampung Gelgel sebagai berikut: Masjid Nurul Huda, Babad, Tari Rudat, Pintu Menara, Mimbar, dan Makam, (3) Aspek-aspek yang dapat dikembangkan di dalam Komunitas Islam di Desa Gelgel yang dapat di jadikan sumber belajar sejarah adalah sebagai berikut: Aspek Historis, Aspek Toleransi, dan Aspek Budaya. Kata Kunci : Komunitas, Islam Desa Gelgel, SumberBelajar Sejarah This study was aimed (1) to investigate the background of Islam Community in Gelgel Village, Klungkung, Bali, (2) to investigate the Islam inheritance of Islam Community in Gelgel village, Klungkung, Bali, (3) to investigate aspects of existence of Islam community in Gelgel village, Klungkung which was used as sources of learning history in Senior High School. Method used in this study was Qualitative research in which used some procedures: Research Design, Determining Location of Research, Method of determining informant, Data Collection Procedure which used interview technique, document study, Guarantor Originality of Data, Data Triangulation, Method Triangulation, Data Analysis and Process of Writing. The Result of this study are: (1) It is begun with arrival the Islam people in Gelgel village until now they recognize that they are from Java, the number of the people are 40 come to Gelgel village as escort of Dalem Majapahit, it is supported by incident of visiting Dalem Ketut Ngulesir to Majapahit in which is firstly visiting since Gelgel Period, while their substitute have no opportunity to visit to Majapahiut because Majapahit Kingdom is collapse, (2) the historic objects that are left in Gelgel village namely Nurul Huda Mosque, Babad, Rudat dance, Tower Door, Mimbar, and Grave, (3) The aspect which can be developed in Islam Community in Gelgel village are as a sources of Learning history namely: Historical Aspect, Tolerance Aspect, and Cultural Aspect. keyword : community, Islam in Gelgel village, sources of learning history
KEIKUTSERTAAN PEREMPUAN DALAM PEMERTAHANAN TRADISI PEMBUATAN BANTEN MELALUI SEKOLAH NONFORMAL PADA PASRAMAN PINANDITA BRAHMA VIDYA SAMGRAHA, DESA PAKRAMAN PENARUNGAN, SINGARAJA, BALI ., Vania Ratna Wedha; ., Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja,MA; ., Drs. I Wayan Mudana,M.Si.
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v6i1.3615

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Latar belakang berdirinya Pasraman Pinandita Brahma Vidya Samgraha (2) Latar belakang perempuan mengikuti pendidikan nonformal pembuatan banten di Pasraman Pinandita Brahma Vidya Samgraha (3) Sistem pendidikan nonformal yang diterapkan pada Pasraman Pinandita Brahma Vidya Samgraha. Penelitian ini sepenuhnya mengacu pada metode yang telah disiapkan. Pendekatan penelitian menggunakan deskriptif kualitatif. Penentuan informan dengan menggunakan teknik purposive sampling dan dikembangkan dengan teknik snow ball. Pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan pencatatan dokumen. Data yang diperoleh diolah secara berkesinambungan (continue) yang diawali dengan mengumpulkan data, memilah-milah data, mengklarifikasi data dan mengolah data dengan teknik pengolahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang berdirinya Pasraman Pinandita Brahma Vidya Samgraha disebabkan oleh keprihatinan Ida Bhawati Hermawan Tangkas terhadap umat Hindu yang belum mengerti dan paham akan tata cara upacara yadnya termasuk tradisi pembuatan banten. Ini yang mendorong Ida Bhawati Hermawan Tangkas bersama tokoh-tokoh agama Hindu di Desa Pakraman Penarungan dan bekerja sama dengan PHDI Kabupaten Buleleng untuk mewujudkan keinginan untuk mendirikan tempat belajar yang bisa diikuti oleh seluruh lapisan umat Hindu, sehingga berdirilah Pasraman Pinandita Brahma Vidya Samgraha seperti yang kita lihat saat ini. Motivasi perempuan belajar di pasraman dipengaruhi oleh motivasi intrinsik untuk terlibat dalam pendidikan nonformal dengan mempertahankan tradisi pembuatan banten serta mengurangi ketergantungan terhadap pasar dan ektrinsik dengan lingkungan belajar kondusif serta mengembangkan jaringan sosial. Sistem pendidikan nonformal yang berlaku di Pasraman Pinandita Brahma Vidya Samgraha memiliki memiliki komponen-komponen pendidikan, seperti pendidik, peserta didik, fasilitas pendidikan, metoda pembelajaran dan waktu pembelajaran. Kata Kunci : Perempuan, tradisi, banten, nonformal, dan pasraman This research purposed to know (1) The existence background of Pasraman Pinandita Brahma Vidya Samgraha (2) The existence background of woman which is followed non-formal education in creating a ritual offering in Pasraman Pinandita Brahma Vidya Samgraha (3) The System of non-formal education which applied in Pasrman Pinandita Brahma Vidya Samgraha. This research fully referred to method that has been prepared. The approach that used in this research was descriptive qualitative. The determination of the informant used purposive sampling technique and developed by snow ball technique. The data collected by observation, interview, and work sheet. The data was analyzed by continuously which started with collect the data, data elimination, data clarification, and cultivated data by technique. The result of this research showed that the existence background of Pasraman Pinandita Brahma Vidya Samgraha caused by attention of Ida Bhawati Hermawan Tangkas with Hindus people which didn’t understand with tradition in making a ritual offering. That encouraged Ida Bhawati Hermawan Tangkas with some hindus people in Penarungan Pakraman village to work together with PHDI in Buleleng regency to achieve that purpose, because of that Pasraman Pinandita Brahma Vidya Samgraha was exist. Women’s motivation influenced by intrinsic motivation to be involved in non-formal education by saving tradition of making banten and decreasing market demanding. Meanwhile the outside motivation raised by networking. Non-formal system in Pasraman Pinandita Brahma Vidya Samgraha has some components of education like educator, education participator, education facilitation, teaching method, and learning time.keyword : woman, tradition, banten, nonformal, and pasraman
Lukisan Gaya Kamasan di Bale Kertha Gosa Semarapura, Klungkung, Bali (Analisis Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dan Implementasinya dalam Pembelajaran Sejarah di SMA Berbasis Kurikulum 2013) ., Kadek Edy Indraguna; ., Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja,MA; ., Drs. I Gusti Made Aryana,M.Hum
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v6i1.4151

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) alur cerita pada lukisan di Bale Kertha Gosa, (2) nilai pendidikan karakter yang terdapat di balik cerita lukisan di Bale Kerta Gosa (3) implementasi nilai pendidikan karakter yang terdapat di balik cerita lukisan di Bale Kertha Gosa dalam pembelajaran sejarah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian dengan pendekatan deskriptif kualitatif dengan langkah-langkah yaitu: (1) Penentuan Lokasi Penelitian, (2) Teknik Penentuan Informan, (3) Metode Pengumpulan Data (Observasi, Wawancara, Studi Dokumen) , (4) Teknik Validitas Data, (5) Teknik Pengolahan Data, (6) Penulisan Hasil Penelitian. Penelitian ini menghasilkan temuan, (1) Alur cerita yang ada di langit-langit Bale Kertha Gosa menceritakan/mengkisahkan tentang cerita Ni Diah Tantri/Tantri Kandak, Atma Presangsa, Sang Garuda Mencari Amerta, Pelelindong (Gempa), pertempuran Sang Bima dengan para dewa untuk menyelamatkan roh ayah dan ibunya, Sorga Roh. (2) Nilai-nilai karakter yang terdapat dibalik cerita lukisan di langit-langit Bale Kertha gosa yaitu jujur, cerdas, tangguh, dan peduli. (3) Implementasi dari Lukisan di langit-langit Bale Kertha Gosa dalam memberikan nilai-nilai pendidikan karakter yaitu melalui pembelajaran di luar kelas atau karya wisata. Dengan menggunakan metode karya wisata guru dapat lebih mudah memberikan gambaran secara langsung tentang nilai-nilai pendidikan karakter khususnya dalam pembelajaran sejarah yang terdapat dibalik cerita lukisan di langit-langit Bale Kertha Gosa.Kata Kunci : Lukisan Kamasan, Pembelajaran Sejarah, Kurikulum 2013 This study aims to determine (1) the plot of the painting in Bale Kertha Gosa (2) the value of character education contained in the story behind the painting in Bale Kerta Gosa (3) the implementation of character education values contained in the story behind the painting in Bale Kertha Gosa in teaching history. The method used in this research is descriptive qualitative research approach with the steps are: (1) Determination of Location Research, (2) Determination informant Technique, (3) Data Collection Method (Observation, Interview, Study Document), (4 ) Validity Data Engineering, (5) Data Processing Techniques, (6) Writing Research.This research resulted in findings, (1) The story line that is in the ceiling Bale Kertha Gosa menjelaskan The story of Ni Diah Tantri / Tantri Kandak, Atma Presangsa, Sang Garuda Looking for Amrita, Pelelindong (Earthquake), The Milky battle with the gods to save the spirit of her father and mother, Heaven Spirit. (2) The values of the characters contained in the story behind the painting on the ceiling of the Bale Kertha Gosa is honest, smart, tough, caring. (3) Implementation of the painting on the ceiling of Bale Kertha Gosa in providing character education values is through learning outside the classroom or field trip. By using the methods of the field trip the teacher can more easily provide a snapshot directly on the values of character education, especially in learning the history of the story behind the painting found on the ceiling of Bale Kertha Gosa.keyword : Painting of Kamasan, Teaching History, Curriculum 2013
YAYASAN EKOTURIN (STUDI TENTANG SEJARAH DAN SISTEM PENDIDIKAN DI DAERAH TERTINGGAL DI DESA BAN, KUBU, KARANGASEM, BALI) ., Ni Nyoman Murdani; ., Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum; ., Ketut Sedana Arta, S.Pd.
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v6i1.4152

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui latar belakang sejarah didirikanya Yayasan Ekoturin; dan 2) mengetahui sistem pendidikan di Yayasan Ekoturin di Desa Ban, Kubu, Karangasem Bali. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan metode penelitian sejarah dengan tahap-tahap sebagai berikut: (1) heuristik (observasi, wawancara, studi dokumentasi); (2) kritik sumber; (3) interpretasi (analisi data), (4) historiografi (penulisan sejarah). Hasil penelitian menunjukan bahwa: 1) ada tiga faktor yang melatarbelakangi pembangunan Yayasan Ekoturin yaitu faktor politik, faktor sosial, dan faktor ekonomi: 2) sistem pendidikan di Yayasan Ekoturin terdiri dari: unsur masukan (raw input), input instrumen, input lingkungan (environmental input), output, kurikulum, tujuan pendidikan, proses pembelajaran, evaluasi, alat pendidikan, pendidik, peserta didik, dan lingkungan. Dinamika di Yayasan Ekoturin dari input, sejak tahun 2009 sampai sekarang mengalami penurunan, dan dinamika output di Yayasan Ekoturin di Desa Ban, Kubu, Karangasem terus stabil.Kata Kunci : Sejarah, Yayasan Ekoturin This study was aimed to (1) determine the background of the establishment of the Foundation Ekoturin (History and Education system in lagging Regions of Ban village, Kubu, Karangasem, Bali, (2) Know Foundation Ekoturin education system in the village of Ban, Kubu, Karangasem Bali. In this study this, the data collected using methods of historical researc, namely: (1) heuristic (observations, interviews, document study), (2) a source of criticism, (3) interpretation (data analysis), (4) historiography (the writing of history). The results showed that, (1) there are three factors behind the development of the Foundation Ekoturin in Desa Ban, Kubu, Karangasem such as political factors, social factors, and economic factors, (2) the education system in the village of Ban Ekoturin foundation, Kubu, Karangasem consists of (1) the element input (raw input), (2) input instrument, (3) environmental inputs (environmental input), (4) output, (5) curriculum, (6) the purpose of education, (7) the learning process , (8) evaluation, (9) an educational tool, (10) educators, (11) learners, (12) the environment, (13), (3) dynamics in Ekoturin Foundation in Desa Ban, Kubu, Karangasem in terms of inputs from 2009 until now has decreased, and the dynamics of output in Ekoturin Foundation in Desa Ban, Kubu, Karangasem hold steady. keyword : History, Education System
IDENTIFIKASI TARI PERWALEN PADA PIODALAN SUGIAN DI PURA PASEK GELGEL, DUSUN BELUHU KANGIN, DESA TULAMBEN, KUBU, KARANGASEM SEBAGAI SUMBER BELAJAR IPS DI SMP N 1 KUBU ., Ni Luh Wiwin Virdayanti; ., Drs. I Wayan Mudana,M.Si.; ., Drs. I Gusti Made Aryana,M.Hum
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v6i1.4329

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) Latar Belakang Tari Perwalen sebagai tarian sakral, 2) Aspek-aspek dalam Tari Perwalen sebagai sumber belajar IPS. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu: (1) teknik penentuan informan; (2) metode pengumpulan data (wawancara, observasi, studi dokumen,); (3) validitas data; (4) teknik analisis data; dan (5) metode penulisan hasil. Melalui hal itu dapat dikemukakan bahwa yang melatar belakangi Tari Perwalen yaitu adanya suatu fenomena dalam kehidupan masyarakat untuk meyakini dan mensakralkan Tari Perwalen yang merupakan suatu Pawisik dari Ida Sesunan, cermin dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang dipentaskan setiap persembahyangan. Ada tiga faktor yang melatar belakangi Tari Perwalen, yakni faktor historis dan faktor kepercayaan. (2) Aspek-aspek yang terkandung pada Tari Perwalen yaitu: (1) Aspek historis yaitu Tari Perwalen tersebut merupakan warisan leluhur/nenek moyang yang dijalankan sampai saat ini oleh masyarakat Desa Tulamben, (2) Aspek sistem komunikasi yaitu Tari Perwalen merupakan wadah sebagai sistem komunikasi yang saling berinteraksi antara kelian Tari Perwalen, para penari, pemangku, serta warga masyarakat setempat, (3) Aspek sistem organisasi sosial Tari Perwalen merupakan salah satu perkumpulan/organisasi yang ada di Desa Tulamben yang menghasilkan suatu keterampilan dibidang kesenian, dan (4) Aspek sistem kepercayaan dimana Tari Perwalen dipercayan atau diyakini oleh masyarakat Desa Tulamben bahwa Tari Perwalen tersebut merupakan tari yang sakral dan dipercaya sebagai persembahyangan agar terhindar dari segala wabah penyakitKata Kunci : Sejarah, aspek-aspek dalam Tari Perwalen This research aims to know the, 1) Background as sacred dance Perwalen Dance, 2) aspects in the Perwalen Dance as a source of learning research using IPS. This study used a qualitative approach is: 1) determination of the informant; 2) Techniquest of data collection (observation, interviews, study document); 3) data analysis, 4) the validity of data, 5) writing techniques. Through it can be argued that the Dance background Perwalen namely the existence of a phenomenon in life and the public to believe that the mensakralkan Dance Perwalen a Sesunan pawisik of Ida, Ida Sang Hyang mirror of the Wasa Widhi staged every prayers. There are three background factors Dance Perwalen, historical factors and the trust factor. (2) Aspects – aspects Dance Perwalen contained in: (1) the historical aspect, namely Dance Perwalen such a heritage / ancestors run to date Tari This Tulamben village community, (2) communication systems that aspect Dance Perwalen a container as a communication system interacting Perwalen Dance, dancers, stakeholders, and citizens local, (3) Aspects of Dance Perwalen system of social organization is one the association / organization in the village of Tulamben that produces a skill in the field of art, and (4) Aspects of the belief system where Perwalen Dance dipercayan or believed by the village of Tulamben hat dance is a dance Perwalen sacred and is believed to bekeyword : History, Aspects of the Dance Perwalen
Identifikasi Potensi Taman Soekasada Ujung, di Desa Tumbu, Kabupaten Karangasem, Bali sebagai Sumber Belajar Sejarah Lokal di SMA ., Wayan Devi Damayanti; ., Drs. I Wayan Mudana,M.Si.; ., Drs. I Ketut Margi, M.Si
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v6i1.4277

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Desa Tumbu, Kabupaten Karangasem, Bali yang bertujuan mengetahui: (1) Yang melatarbelakangi dibangunnya Taman Soekasada Ujung, di Desa Tumbu, Kabupaten Karangasem, Bali, (2) Struktur dan fungsi bangunan Taman Soekasada Ujung, di Desa Tumbu, Kabupaten Karangasem, Bali,(3)Aspek-aspek dari Taman Soekasada Ujung yang dapat dikembangkan sebagai sumber belajar sejarah lokal. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif. Tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian kualitatif ialah (1) Penentuan Lokasi Penelitian,(2) Penentuan Informan, (3) Pengumpulan Data (observasi, wawancara, dan studi dokumentasi), (4) Validitas Data yang terdiri dari triagulasi data dan triangulasi metode, (5) Analisis Data. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Taman Soekasada Ujung di bangun oleh Raja Karangasem Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem. Ada empat faktor yang melatarbelakangi pembangunan Taman Soekasada Ujung, yakni faktor sejarah, faktor kultur (kebudayaan), faktor politik dan faktor religius. (2) Struktur dan fungsi banguan Taman Soekasada Ujung, dalam pembangunan Taman Soekasada Ujung ini memiliki konsep ruang Tri Mandala yaitu Nista Mandala, Madya Mandala dan Utama Mandala yang dimana setiap bangunan memiliki fungsi masing-masing bangunan. (3) Aspek-aspek dari Taman Soekasada Ujung yang bisa dikembangkan sebagai sumber belajar sejarah. Taman Soekasada Ujung ini merupakan peninggalan kerajaan Karangasem merupakan suatu karya yang dibuat langsung oleh Raja Karangaasem pada saat itu Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem yang sangat mencintai dunia kesenian dan Taman Seokasada Ujung ini merupaka suatu hasil karya beliau di bidang arsitektur bangunan yang memiliki potensi yang sangat besar sebagai sumber belajar sejarah menganai perkembangan kehidupan Negara-negara kerajaan hindu budha di IndonesiaKata Kunci : Taman Soekasada Ujung, Struktur, fungsi dan sumber belajar This research was conducted at Tumbu village, Karangasem, Bali which aims to know: (1) The background of the construction of Soekasada Ujung Garden, in Tumbu village, Karangasem regency, Bali, (2) Structure and function of the building Soekasada Ujung Garden, in Tumbu Village, Karangasem Regency, Bali, (3) aspects of Soekasada Ujung Garden that can be develoed as a source of learning local history. This research is qualitative research. The stages are carried out in a qualitative study are (1) Siting Research, (2) Determination informant, (3) data collection (observation, interview, and documentation),(4) The validity of data consisting of data and triagulasi methods triagulasi, (5) Data Analysis. The results showed: (1) Soekasada Ujung Garden was built by king of Karangasem, Anak Agung Agung Ketut Karangasem Anglurah. There are four factors behind the development of Soekasada Ujung Garden, the historical factors, cultural factors (culture), political factors and religious factors. (2) The structure and function of the building of Soekasada Ujung Garden, in the construction of Soekasada Ujung Garden has a concept, the concept is spece Tri Mandala, there are Nista Mandala, Madya Mandala and Utama Mandala in which each building has the function of each building. (3) aspects of Soekasada Ujung Garden that could be developed as a source of learning history. Soekasada Ujung Garden Karangasem kingdom is a legacy of a work created directly by King Karangaem at the time of Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem who loved the world of art and Soekasada Ujung Garden is a result of his work in the field buiding architecture that has the potential for very great as a source of learning the history of the development of life about contries Buddhist Hindu kingdom in Indonesiakeyword : Soekasada Ujung Garden, Structure, function and learning resources

Page 1 of 1 | Total Record : 10