cover
Contact Name
I Wayan Putra Yasa
Contact Email
yanputra666@gmail.com
Phone
+6285238950355
Journal Mail Official
yanputra666@gmail.com
Editorial Address
Jalan Udayana No. 11, Singaraja-Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah
ISSN : 25992635     EISSN : 2599140X     DOI : http://dx.doi.org/10.23887/jjps.v8i2
Widya Winayata: Jurnal Jurusan Pendidikan Sejarah is a scientific journal published by the Department of History Education, Faculty of Law and Social Sciences, Universitas Pendidikan Ganesha. This journal aims to accommodate articles of research results and results of community service in education and history learning. In the end, this journal can describe the development of science and technology in the field of historical education for the academic community. This journal is published three times a year.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 7 No. 3 (2019)" : 10 Documents clear
Prasasti Cempaga sebagai Simbol Pemersatu Masyarakat Cempaga, Bangli, Bali dan Sumber Belajar Sejarah Lokal di SMA Ni Komang Arya Kusuma Dewi .; Dra. Tuty Maryati,M.Pd .; Drs. I Made Pageh,M.Hum. .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 7 No. 3 (2019)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v7i3.11304

Abstract

Penelitian dilakukan di Desa Pakraman Cempaga, Bangli, Bali yang bertujuan untuk mengetahui: (1) Persebaran Penduduk Desa Cempaga Batur Kintamani; (2) Isi Prasasti Cempaga sebagai Simbol Pemersatu Masyarakat Cempaga; dan (3)Nilai-nilai dari Prasasti Cempaga dalam mempersatukan desa Cempaga yang dapat diimplementasikan sebagai sumber belajar sejarah lokal di SMA. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah, sehingga langkah yang dilakukan adalah (1) teknik penentuan informan, (2) Heuristik pengumpulan data (observasi, wawancara, studi dokumen), (3) Kritik Sumber, (4) Interpretasi, dan (5) Penulisan Sejarah Historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Desa Pakraman Cempaga sudah ada di abad ke XIII. Dalam Prasasti Cempaga dapat ditemukan petunjuk bahwa Desa Cempaga merupakan sebuah desa yang awalnya terletak di Batur, Kintamani karena konflik dengan Tampurhyang kemudian masyarakat desa Cempaga tersebar ke Bangli dan Buleleng. Prasasti Cempaga menyebutkan bahwa Raja Bhatara Sri Mahaguru memberikan perlindungan dan agar masyarakat desa Cempaga kembali membangun desanya, masyarakat Cempaga yang terpisah masih memiliki identitas yang sama dalam bidang adat istiadat, budaya dan masyarakat Cempaga sebagai masyarakat Bali Aga. Prasasti Cempaga dalam mempersatukan desa Cempaga sebagai sumber pembelajaran sejarah lokal dapat diambil (a) nilai sejarah, (b) nilai persatuan dan kesatuan, dan (b) nilai cinta damai. Diharapkan peneliti lainnya untuk dapat menyempurnakan penelitian iniKata Kunci : Desa Pakraman Cempaga, Prasasti Cempaga This research was conducted in Desa Pakraman Cempaga, Bangli, Bali which aims to know: (1) Spreading of Cempaga Batur Kintamani Village Population; (2) Contents of Cempaga Inscription as a Unifying Symbol of Cempaga Community; And (3) Cempaga inscriptions in unifying Cempaga village as a source of local history learning. This is a historical research, so the steps taken are (1) informant determination technique, (2) data collection heuristics (observation, interview, document study), (3) Source Criticism, (4) Interpretation, and (5) Historiography. Desa Pakraman Cempaga there is already XIII Saka century. Cempaga is a village originally located in Batur, Kintamani then Cempaga village community spread because of attacks by Tampurhyang village. The Cempaga inscription states that King Bhatara Sri Mahaguru gave protection and for people of Cempaga village to rebuild their village, the separate Cempaga community still has the same identity in their place customs, culture and society of Cempaga as a Bali Aga community. Cempaga inscriptions in unifying Cempaga village as a source of local history learning can be taken (1) historical value, (2) the value of unity and unity, and (3) the value of peace love. For other researchers are expected to be able enhance this research.keyword : Desa Pakraman Cempaga, Inscription Cempaga
Palinggih Dewa Dalem Sebagai Wahana Penyungsungan Anak Kembar Di Desa Songan (Belajar Sejarah Di SMA) I Nengah Dodong .; Dr. Luh Putu Sendratari,M.Hum .; Dra. Tuty Maryati,M.Pd .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 7 No. 3 (2019)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v7i3.11401

Abstract

Penelitian ini bertujuan: (1) Sejarah Pendirian Palinggih Dewa Dalem Sebagai Bentuk Penyungsungan Anak Kembar, (2) Struktur Dan Fungsi Palinggih Dewa Dalem Sebagai Bentuk Pemujaan Anak Kembar (3) Apek-Aspek Pendirian Palinggih Dewa Delem Di Desa Songan Dapat Dijadikan Sumber Belajar Sejarah Di SMA. Penelitian ini menggunakan metode deskritif kualitatif yaitu : (1)Metode Penentuan Lokasi Penelitian, (2) Metode Penentuan Informan, (3) Metode Pengumpulan Data, (4) Validitas atau Teknik Keabsahan Data dan (5)Teknik Analisis Data. Hasil penelitian menunjukan bahwa, sejarah berdirinya Palinggih Dewa Dalem di Desa Songan, Bangli, Bali berawal dari sebuah kerajaan jaman dahulu yang dipimpin oleh seorang raja kembar yang bernama raja Masula-Masuli, raja ini merupakan raja kembar (kembar buncing). Struktur dan fungsi Palinggih Dewa Dalem ini menggunakan konsep Dwi Mandala yang terdiri dari Nista Mandala (Jaba Sisi), dan Utama Mandala (Jaroan) dan juga dan juga struktur Palinggih Dewa Dalem memiliki 2 model yaitu Struktur Palinggih Dewa Dalem model lama dan struktur Palinggih Dewa Dalem model baru. Apek-Aspek Pendirian Palinggih Dewa Dalem Di Desa Songan Dapat Dijadikan Sumber Belajar Sejarah Di SMA antara lain: aspek religius, aspek sejarah (historis ), aspek estetika, dan aspek sosial.Kata Kunci : Sejarah, Struktur Fungsi, Sumber Belajar The goals of this research are (1)for the history of the building of Palinggih Dewa Dalem as a form of worship twins children (2) for the Structure and function of Palinggih Dewa Dalem as a form of worship of twins children (3) the aspects of building of Palinggih Dewa Dalem in Songan can be the source of history in high school. This research uses qualitative descriptive method that is: (1) Method of Determination of Research Location, (2) Informant Determination Method, (3) Data Collection Method, (4) Validity or Data Validity technic and (5) Data Analysis technic. The results showed that, the history of the establishment Palinggih Dewa Dalem di Desa Songan, Bangli, Bali Originated from an ancient kingdom led by a twin king named Masula-Masuli king, this king is the king of twins (twins buncing). the structure and funtion of this Palinggih Dewa Dalem are using concept Dwi Mandala which is devided by nista mandala (jaba sisi) and utama mandala (jeroan) And also the structure structure Palinggih Dewa Dalem old design and structure structure Palinggih Dewa Dalem new design.The aspect of building the Palinggih of Dewa Dalem in Songan can be saurce in study in high school is: religious aspect, historical aspect, esthetical aspect and sosial aspect.keyword : history, Structure,function, source of history
PURA PAJENENGAN DI DESA PAKRAMAN PANJI, BULELENG, BALI (SEJARAH, STRUKTUR, FUNGSI PURA DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH BERBENTUK RANCANGAN BUKU SUPLEMEN DI SMA) I Made Cita Adnyana .; Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja,MA .; Drs. I Made Pageh,M.Hum. .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 7 No. 3 (2019)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v7i3.11402

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memecahkan masalah terkait dengan tujuan penelitian: (1) Sejarah Pura Pajenengan di Desa Pakraman Panji, Sukasada, Buleleng, Bali, (2) Struktur dari Pura Pajenengan di Desa Pakraman Panji, Sukasada, Buleleng, Bali, (3) Fungsi dari Pura Pajenengan di Desa Pakraman Panji, Sukasada, Buleleng, Bali, (4) Potensi dari Pura Pajenengan di Desa Pakraman Panji, Sukasada, Buleleng, Bali sebagai sumber belajar yang berbentuk rancangan buku suplemen. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif yang terdiri dari penentuan lokasi, penentuan informan, pengumpulan data (observasi, keabsahan data dan analisis data. Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa (1) Berdirinya Pura Pajenengan di Desa Pakraman Panji, Sukasada, Buleleng, Bali yang berawal dari sebuah puri yang lengkap dengan pemerajan dan pemereman raja Buleleng yang beranama Panji Sakti, putra dari Raja Dalem Segening, Gelgel, (2) Struktur Pura Pajenengan ini menggunakan konsep Tri Mandala yang terdiri dari Nista Mandala (Jaba Sisi), Madya Mandala (Jaba Tengah), dan Utama Mandala (Jeroan), (3) Fungsi Pura Pajenengan meliputi Fungsi Religius, Sosial, Budaya, Rekreasi, dan Pendidikan, (4) Potensi dari Pura Pajenengan sebagai sumber sumber belajar sejarah dapat di lihat dari segi Historis dan segi Peninggalan-peninggalan yang nantinya berbentuk sebuah buku sebagai materi tambahan dalam pembelajaran sejarah. Kata Kunci : Sejarah, Pura Pajenengan, Sumber Belajar This research is aimed to solved the problems which is related to the research objectives: (1) the History of the Pajenengan Temple In the Pakraman Village of Panji, Sukasada, Buleleng, Bali, (2) the Structure of Pajenengan temple In the Pakaraman Village of Panji, Sukasada, Buleleng, Bali, (3) the Function of Pajenengan temple In the Pakraman Village of Panji, Sukasada, Buleleng, Bali, (4) the Potential of Pajenengan temple In the Pakraman Village of Panji, Sukasada, Buleleng, Bali as a source of learning in form of a draft book supplements. The method used in this research is a qualitative research method that consists of determination of location, determination of informants, data collection (observation, data validity and data analysis. From these results it can be seen that (1) the Establishment of Pajenengan temple in the Pakraman Village of Panji, Sukasada, Buleleng, Bali which originated from a castle that is complete with pemerajan and pemereman of the king of Buleleng named Panji Sakti, the son of King Dalem Segening, Gelgel, (2) the Structure of the Pajenengan temple using the concept of Tri Mandala, which consists of the Nista Mandala (Jaba Sisi), Madya Mandala (Jaba Tengah), and the Utama Mandala (Jeroan), (3) the Function of Pajenengan temple include the functions of Religious, Social, Cultural, Recreational, and Education, (4) the Potential of Pajenengan temple as a source of learning history can be viewed in terms of Historically and in terms of relics which later become a book as additional material in the teaching of history.keyword : History, Pura Pajenengan, Learning Resources
SEJARAH INDUSTRI KERAJINAN BAMBU DI DESA KAYUBIHI, BANGLI, BALI SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH LOKAL DI SMA I Wayan Roy Adnyana Putra .; Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum .; Dra. Tuty Maryati,M.Pd .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 7 No. 3 (2019)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v7i3.11404

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah; (1) Mengetahui latar belakang munculnya industri kerajinan bambu di Desa Kayubihi, Bangli, Bali; (2) Mengetahui proses produksi kerajinan bambu di Desa Kayubihi, Bangli, Bali; (3) Mengetahui potensi kerajinan bambu di Desa Kayubihi, Bangli, Bali Sebagai Sumber Belajar Sejarah lokal di SMA kelas X Peminatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian deskriptif eksploratif. Dalam penentuan informan peneliti menggunakan “purposive sampling”. Instrument yang digunakan meliputi peneliti sendiri sebagai alat pengumpul data utama dengan bantuan pedoman wawancara. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara dan studi dokumen. Setelah mendapatkan data yang relevan, maka data yang terkumpul itu dibaca, diteliti, deverifikasi, dipelajari dengan seksama, sehingga mendapatkan data yang siap untuk dimasukan ke dalam proses analisis. Dalam proses analisis data peneliti menggunakan prosedur deskriptif dengan teknik ekploratif Hasil penelitian ini adalah (1) Awalnya kerajinan anyaman bambu hanya diproduksi dengan model yang masih sederhana namun seiring dengan berkembangnya permintaan dan ekonomi, model serta motif baru bermunculan. Adapun faktor yang mempengaruhinya: (1) Faktor Budaya; (2) Faktor ekonomi; (3) Faktor lingkungan; (4) Tidak Membutuhkan Pendidikan Tinggi; (5) Faktor Keturunan; (6) Faktor Sumber Daya Alam (SDA). (2) Adapun alat yang digunakan dalam produksi adalah sebagai berikut: Golok, Geregaji, Pengutik, Penegteg, Pisau, Gunting, Meteran, Palu, Bor, Kuas, Pusut, Busur. Sedangkan bahan utama yang digunakan adalah bambu. Pada tahun 1998-2016 perkembangan kerajinan bambu sangat pesat, dengan banyaknya bermunculan model dan permintaan yang meningkat. (3) Sejarah perkembangan kerajinan bambu juga relevan digunakan sebagai bahan ajar yang meliputi aspek pemanfaatan sumber daya alam, aspek kewirausahaan dan aspek sosial budaya. Kata Kunci : sejarah industri, kerajinan bambu, sumber belajar sejarah This study aims to investigate: (1) Knowing the background of the emergence of bamboo craft industry in Kayubihi Village, Bangli, Bali; (2) To know the production process of bamboo handicrafts in Kayubihi Village, Bangli, Bali; (3) Knowing the potency of bamboo handicrafts in Kayubihi Village, Bangli, Bali as a Learning Resource History of local high school class X of Specialization. This research used descriptive explorative research approach. In the determination of informant, researcher used "purposive sampling". The instrument used includes the researcher himself as a primary data collection tool with the help of interview guidelines. The data collections used in this study were observation techniques, interviews and document studies. After obtaining the relevant data, then the collected data was read, researched, verified, studied carefully, so get the data ready to be included into the analysis process. In the process of data analys is the researcher used a descriptive procedure with explorative technique. The results of this research were (1) Initially bamboo woven crafts only produced with a model that was still simple but along with the growing demand and economy, new models and motifs were emerging. The factors that influence it: (1) Cultural Factors; (2) Economic factors; (3) Environmental factors; (4) No Need for Higher Education; (5) Heredity Factor; (6) Natural Resources Factors (SDA). (2) The tools used in production are as follows: Machete, saw, Pengutik, Penegteg, knives, scissors, meters, hammer, drill, brush, Pusut, and bow. Moreover, the main material used was bamboo. In 1998-2016 the development of bamboo crafts was very rapid, with many emerging models and increasing demand (3) the history of bamboo handicraft development was relevant as a teaching material which includes aspects of natural resource utilization, entrepreneurship aspect and socio-cultural aspects. keyword : bamboo craft, historical sources, industrial history.
PURA AGUNG DALEM DIMADE DI DESA GULIANG, BANGLI, BALI (POTENSINYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH LOKAL DI SMA) Ni Luh Sulandari .; Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum .; Drs. I Made Pageh,M.Hum. .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 7 No. 3 (2019)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v7i3.11405

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Desa Pakraman Guliang Kangin, Bangli, Bali yang bertujuan untuk mengetahui : (1) Guliang dijadikan sebagai Pengasingan dan Sejarah berdirinya Pura Agung Dalem Dimade di Desa Pakraman Guliang Kangin; (2) Pura Agung Dalem Dimade sebagai Pemujaan Dinasti Kepakisan; dan (3) Potensi sebagai sumber pembelajaran sejarah Lokal. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah, sehingga langkah yang dilakukan adalah (1) teknik penentuan lokasi penelitian, (2) teknik penentuan informan, (3) Heuristik (pengumpulan data) dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, studi dokumen, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Pencarian informan ditentukan dengan cara Snowball sampling. Penentuan informan diawali dengan menentukan informan kunci, kemudian dikembangkan sampai data lengkap. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa : (1) Pura Agung Dalem Dimade berdiri pada tahun 1665 (pada abad ke-17), sejarah berdirinya Pura ini dilatarbelakangi pada saat Ida Dalem kesah ke Desa Guliang, karena terjadinya pemberontakan di Gelgel, sehingga beliau diasingkan ke Desa Guliang, disana beliau membangun Puri serta Merajan untuk memuja para leluhurnya di pengasingan, setelah beliau wafat Puri dan Merajannya dijadikan Pura oleh masyarakat Desa Guliang. (2) Pura Agung Dalem Dimade kini dijadikan sebagai Pemujaan Dinasti Kepakisan di Bali yang piodalannya diperingati 210 hari atau pada hari Anggar Kasih Prangbakat. (3) Potensi yang ada di Pura Agung Dalem Dimade yang bisa dijadikan sebagai sumber belajar sejarah adalah dari aspek sejarah, aspek politik, aspek gotong-royong dan kebersamaan.Kata Kunci : Sejarah, Pura Agung Dalem Dimade dan Sumber Belajar Sejarah. This research was conducted in Pakraman Guliang Kangin village, Bangli, Bali which aims to know : (1) Guliang serve as exile and history of the establishment Agung Dalem Dimade temple in the Pakraman Guliang Kangin village; (2) Agung Dalem Dimade temple as worship dynasty of Kepakisan; and (3) Potential as a source of local history learning. This research is a historical research, so the steps that must be done is (1) the technique of determining the location of research, (2) technique for determining informants, (3) Heuristics (data collection) by using observation, interview, study documents, source criticism, interpretation, and historiography. Informant search is determined by snowball sampling. The determination of informant begins with determining key informants, then developed until the complete data. Based on the results of the study found that : (1) the Agung Dalem Dimade temple stood in 1665 (in the 17th century), the history of the founding of this temple was motivated when Ida Dalem moved to the Guliang village, because of the rebellion in the Gelgel, so he was exiled to the Guliang village, there he built “Puri” and “Merajan” to worship his ancestors in exile, after he died the “Puri” and the “Merajannya” was made a temple by the villagers Guliang. (2) the Agung Dalem Dimade temple is used as worship of dynasty Kepakisan in Bali which ceremony commemorated 210 days or on Anggar Kasih Prangbakat day. (3) the potential that exists in the Agung Dalem Dimade temple that can be used as a source of learning history is from aspects of history, political aspects, aspects of mutual cooperation and mutuality. keyword : History, Agung Dalem Dimade temple,and source of learning history.
Pura Tampurhyang Sebagai Pusat Kawitan Catur Sanak Di Desa Songan. ( Sumber Belajar Sejarah Di SMA) Jro Kadek Mudiartha .; Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum .; Drs. I Made Pageh,M.Hum. .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 7 No. 3 (2019)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v7i3.11406

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memecahkan masalah terkait dengan tujuan penelitian: (1) sejarah Pura Tampurhyang dijadikan pusat Kawitan Catur Sanak di Desa Songan, Kintamani, Bangli, Bali (2) Aspek-aspek yang bisa di implementasikan dari hasil penelitian ini sebagai sumber belajar sejarah di SMA. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif, dengan langkah-langkah: (1) penentuan lokasi penelitian, (2) penentuan informan, (3) pengumpulan data, (4) teknik penjaminan keaslian data (tringulasi data, tringulasi metode), dan (5) teknik analisis data. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) sejarah Pura Tampurhyang dijadikan pusat Kawitan Catur Sanak dikarenakan kedatangan Mpu Semeru datang ke Tampurhyang dan membuat seorang putra yang dikenal Mpu Kamareka. Dari Mpu Kamareka menurunkan dua orang Putra buncing (Mpu Gnijaya Mahireng dan Ni Ayu Cemeng), kemudian menikah dengan saudara, dari pernikahan tersebut menurunkan lima orang putra, empat laki-laki dan seorang putri yaitu: Mpu Kayu Ireng, Mpu Made Celagi, Mpu Nyoman Tarunyan, Mpu Kayuan, dan Ni Ayu Kayu Selem. Kemudian tempat bersemayamnya Mpu Kamareka dijadikan sebuah pura yang dikenal dengan Pura Tampurhyang yang merupakan pusat Kawitan Sang Catur Sanak (Kayu Selem, Celagi, Tarunyan, Kayuan) lan Bali Mula. (2) Aspek-aspek yang dimiliki oleh pura Tampurhyang yang bisa diimplementasikan sebagai sumber belajar sejarah lokal di SMA yaitu: (a) aspek historis, (b) aspek arsitektur dari Pura Tampurhyang. Kata Kunci : Pura Tampurhyang, Sumber Belajar Sejarah This research aims to solve problems related to research objectives: (1) The history of Pura Tampurhyang become the center of Kawitan Catur Sanak in Songan Village, Kintamani, Bangli, Bali (2) Aspects that can be implemented from the results of this study as a source of learning history in high school. This research is a type of qualitative research, with steps: (1) determination of research location; (2) determination of informants; (3) data collection; (4) Data authentication assurance techniques (Triangulation of data, Tringulation method); (5) data analysis technique. The results showed that: (1) The history of Pura Tampurhyang became the center of Kawitan Catur Sanak due to the arrival of Mpu Semeru came to Tampurhyang and made a son known Mpu Kamareka. From Mpu Kamareka bring down two son buncing (Mpu Gnijaya Mahireng dan Ni Ayu Cemeng), Then married to a sister, the marriage was down to five sons, four men and a daughter namely: Mpu Kayu Ireng, Mpu Made Celagi, Mpu Nyoman Tarunyan, Mpu Kayuan, and Ni Ayu Kayu Selem. Then place bersemayamnya Mpu Kamareka made a temple known as Pura Tampurhyang which is the center of Kawitan Sang Chatur Sanak (Kayu Selem, Celagi, Tarunyan, Kayuan) and Bali Mula; (2) Aspects of Tampurhyang temple that can be implemented as a source of learning local history in high school that is: (a) Historical aspect (b) Architectural aspects of Pura Tampurhyang keyword : Tampurhyang tample, Learning Resources History
PURA NATAR JEMENG DI DESA BARU, MARGA, TABANAN (SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN SEJARAH LOKAL DI SMA) I Made Ardi Sanjaya .; Drs. I Wayan Mudana,M.Si. .; Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 7 No. 3 (2019)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v7i3.11407

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Mengetahui sejarah berdirinya Pura Natar Jemeng di Desa Baru, Marga, Tabanan, Bali, (2) mengetahui struktur dan fungsi Pura Natar Jemeng di Desa Baru, Marga, Tabanan, Bali, (3) mengetahui potensi yang terdapat di Pura Natar Jemeng Desa Baru, Marga, Tabanan yang dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran sejarah lokal di SMA. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif yaitu: (1) penetuan lokasi penelitian; (2) teknik penentuan informan; metode pengumpulan data (observasi, wawancara, studi dokumen); teknik validasi data (triangulasi metode, triangulasi sumber); teknik pengolahan data; penulisan hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, sejarah Pura Natar Jemeng merupakan kelanjutan dari kepercayaan megalitikum. Hal ini dibuktikan dengan ditemukan peninggalan berupa menhir. Pada perkembangan selanjutnya Pura Natar Jemeng mengalami penyempurnaan dari ajaran yang disebarkan oleh Resi Madura. Struktur Pura Natar Jemeng terdiri dari dua halaman yaitu jabaan atau nista mandala dan jeroan atau utama mandala. Fungsi Pura Natar Jemeng dapat dibagi menjadi empat, (1) fungsi religious; (2) fungsi sosial; (3) fungsi pendidikan; (4) fungsi budaya. Adapun potensi yang terdapat di Pura Natar Jemeng yang dapat dijadikan sumber belajar yaitu peninggalan-peninggalan berupa arca. Peninggalan-peninggalan yang ada di Pura Natar Jemeng berupa arca dwaraphala, fragmen lingga, arca nandi, fragmen miniatur bangunan, lingga, fragmen arca, fragmen arca perwujudan, fragmen bangunan, menhir, arca durga mahisasurammardini, fragmen arca ganesha, palungan, arca binatang macan dan batu datar.Kata Kunci : Kata Kunci: Pura Natar Jemeng, sumber belajar The study aimed at: (1) to know how Pura Natar Jemeng was existing at Baru village, Marga, Tabanan, Bali. (2) to know the structures and the functional of Pura Natar Jemeng at Baru village, Marga, Tabanan, Bali. (3) to know the potential that show in Pura Natar Jemeng as a source of learning the history of the local at senior high school. This present study used qualitative method as: (1) determining the location of the research. (2) determining the informed’ technique. The method of collected the data (observation, interview guide, documentary studies); The techniques validated the data (triangulation method, triangulation’s source); The technique analyzing the data was written the result of the data. The result of the research show that the history of Pura Natar Jemeng was the Continuance of believing by megalithic. It is showed by the relics of Menhir. Pura Natar Jemeng in subsequent of development has been revising by the Resi Madura’s doctrine. There are two part the structure of Pura Natar jemeng the first was called Nista Mandala and the second was called Utama. Additionally, there are four functions of Pura Natar Jemeng: (1) religious; (2) social function; (3) education; (4) culture. Pura natar Jemeng has potential for used as a source of learning like archaeoogicals. The relicenses which in Natar Jemeng temple as Dwarapha fragmen lingga, Nandi Arca, building of miniature fragmen, lingga, fragmen Arca, realization of fragmen arca, building of fragmen, Menhir, Arca Durga Mahasasurammardinin, Fragmen Arca ganesha, Palungan, Lion’s Arca and Batu Datar keyword : Natar Jemeng Temple, source of study
Pengajaran Sejarah sebagai Media Penanaman Wawasan Kebangsaan (Studi Kasus di Kelas XI IPS 2 Syamsul Huda, Tegallinggah, Sukasada, Buleleng, Bali) Aniqa Faza .; Dr. Tuty Maryati,M.Pd .; Ketut Sedana Arta, S.Pd., M.Pd. .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 7 No. 3 (2019)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v7i3.12551

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) pandangan siswa kelas XI IPS 2 MA Syamsul Huda tentang mata pelajaran sejarah; (2) sistem pembelajaran sejarah di MA Syamsul Huda; (3) persepsi guru dan siswa mengenai wawasan kabangsaan melalui pembelajaran sejarah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan langkah-langkah: (1) Lokasi penelitian di MA Syamsul Huda, Tegallinggah. (2) Penentuan informan menggunakan Purposive Sampling (3) Pengumpulan data melalui Observasi, Kuisioner, Wawancara mendalam, dan studi dokumen (4) Validasi data menggunakan trianggulasi data dan metode; (5) Analisis data menggunakan analisis interaktif. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa: (1) Pandangan siswa terhadap mata pelajaran sejarah di MA Syamsul kelas XI IPS 2 sebagian besar menyatakan pelajaran sejarah menarik akan tetapi labih banyak yang tidak menyukai pelajaran sejarah serta pelajaaran sejarah penting bagi siswa MA (Madrasah Aliyah); (2) sistem pembelajaran sejarah di MA Syamsul Huda menggunakan kurikulum agama dari Departemen agama yang kemudian disesuaikan dengan kurikukum nasional yakni kurikulum 2013. (3) Persepsi guru dan siswa mengenai wawasan kebangsaan di MA Syamsul Huda positif dan sudah memenuhi indikator wawasan kebangsaan. Kata Kunci : Pengajaran Sejarah, Wawasan Kebangsaan, Persepsi. This Research aimed to knowing; (1) the view of the students of class XI IPS 2 MA Syamsul Huda about the subjects of history; (2) the history learning system in MA Syamsul Huda; (3) Perceptions of teachers and students about the insights of nationality through learning history. This study used a qualitative approach with steps: (1) Location of research in MA Syamsul Huda, Tegallinggah village; (2) Determination of informants using Purposive Sampling; (3) Data collection through Observation, Questionnaire, In-depth interview, and document study; (4) Validation of data using triangulation of data and methods; (5) Data analysis using interactive analysis. Research results show that: (1) Student's view of history subjects in MA Syamsul class XI IPS 2 mostly stated interesting history lesson but more who do not like history lessons as well as the history of history is important for MA students (Madrasah Aliyah); (2) Historical learning system at MA Syamsul Huda using religion curriculum from Ministry of religion which then adjusted to national curriculum that is curriculum 2013; (3) Perceptions of teachers and students about the national insight in the MA Syamsul Huda positive and already meet the national insight indicators. keyword : Historical Teaching, National Insight, Perception.
Tradisi Ngejot di Desa Lenek, Aikmel, Lombok Timur (Potensinya Sebagai Media Pendidikan Karakter Melalui Pembelajaran Sejarah di SMA Negeri 2 Aikmel) Fiani Yulistia .; Dr. I Ketut Margi, M.Si .; Dr. Drs. I Made Pageh, M.Hum. .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 7 No. 3 (2019)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v7i3.12552

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Lenek, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur, NTB. penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui latar belakang adanya tradisi ngejot di Desa Lenek, (2) mengetahui tradisi ngejot dapat dipertahankan oleh masyarakat Desa Lenek, (3) mengetahui nilai-nilai karakter yang ada dalam tradisi ngejot di Desa Lenek, (4) mengetahui cara memamfaatkan tradisi ngejot sebagai media pendidikan karakter melalui pembelajaran sejarah di SMA Negeri 2 Aikmel. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan langkah-langkah, (1) metode penentuan informan, (2) metode pengumpulan data (teknik observasi, teknik wawancara, teknik studi dokumentasi), (3) metode validitas data, (4) metode analisis data, (5) penulisan hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) latar belakang adanya tradisi negejot di Desa Lenek, untuk mempererat silaturhomi, menjaga solidaritas antar sesama, (2) tradisi ngejot dipertahankan oleh masyarakat Desa Lenek, karena adanya faktor kepercayaan, faktor budaya, meningkatkan solidaritas sosial, faktor pendidikan, pemenuhan kebutuhan akan keselamatan, (3) nilai-nilai karakter yang ada dalam tradisi ngejot yaitu religius, cinta damai, disiplin, tanggung jawab, peduli lingkungan, (4) pemanfaatan tradisi ngejot sebagai media pendidikan karakter melalui pembelajaran sejarah di SMA Negeri 2 Aikmel yaitu sebagai ajang pengenalan budaya terhadap siswa, agar nantinya budaya tersebut bisa memperkaya materi pembelajaran sejarah dan karakter siswa.Kata Kunci : Ngejot, Media Pendidikan Karakter, Pembelajaran Sejarah. This research was conducted in the Lenek village, Aikmel district, East Lombok Regency, NTB. The aims of study: (1) to know the background of the tradition of ngejot in the village of Lenek, (2) to know the tradition of ngejot can be maintained by the villagers of Lenek, (3) to know the values of characters that exist in tradition ngejot in Lenek Village, (4) ) to know how to utilize tradition ngejot as character education media through learning history in SMA Negeri 2 Aikmel. This reseach used descriptive qualitative method with steps, (1) determination the informant, (2) data collection (observation , interview technique, engineering studies document ), (3) data validity, (4)data analysis, (5) writing the research result. The results showed that (1) Background of the negejot tradition in the village of Lenek, (2) the tradition of ngejot is maintained by the people of Lenek Village, due to the belief, cultural factor, social solidarity, the education factor, the fulfillment of the need for safety, (3) the values of the characters that exist in the tradition ngejot (rligius, love of peace, discipline, responsibility, care for the environment), (4) the use of ngejot tradition ngejot as a medium of character education through learning history in SMA Negeri 2 Aikmel that is as a place of cultural recognition of the side, so that later culture can enrich the learning material of history and character of student.keyword : Ngejot, Media Character Education, Teaching History
GUA JEPANG DI DESA BANJARANGKAN KLUNGKUNG, BALI SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH DI SMA NI MADE ERMAWATI .; Dr. I Wayan Mudana,M.Si. .; Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 7 No. 3 (2019)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v7i3.14666

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui; 1) bentuk/struktur fisik gua Jepang di Desa Banjarangkan Klungkung; 2) fungsi gua J epang sebagai sumber belajar Sejarah di Desa Banjarangkan Klungkung; 3) pemanfaatan gua jepang di Desa Banjarangkan Klungkung Sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian adalah 1) rancangan penelitian, 2) teknik penentuan lokasi penelitian, 3) teknik penentuan informan, 4) teknik pengumpulan data, 5) teknik validasi, dan 6) teknik analisis data. Berdasarkan wawancara, observasi, studi pustaka atau dokumen di lapangan diketahui bahwa, 1) Gua buatan manusia yang berbentuk setengah lingkaran dengan lorong yang memanjang di dalamnya dari utara ke selatan dengan panjang 165 meter. Gua ini terdiri dari 16 lubang yang didalamnya saling terhubung; 2) Saat ini Gua Jepang ini juga difungsikan sebagai gua perlindungan dan penghadangan pada zaman Jepang gerilya saat revolusi fisik sebagai tempat wisata karena Gua Jepang memiliki bentuk yang unik dan khas; 3) Gua Jepang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar sejarah, dengan menggunakan metode pembelajaran di luar kelas yaitu dengan berkunjung secara langsung ke tempat-tempat peninggalan sejarah seperti Gua Jepang maupun dengan pembelajaran di dalam kelas dengan metode ceramah dan sosio-drama. Kata Kunci : Kata kunci: Gua Jepang, Sumber Belajar This study aims to determine; 1) the physical structure / structure of the Japanese cave in Banjarangkan Klungkung Village; 2) the function of the cave J epang as a source of learning History in the Village Banjarangkan Klungkung; 3) utilization of Japanese cave in Banjarangkan Klungkung village as a source of history in high school. This research is a qualitative research with stages in the research are 1) research design, 2) research location determination technique, 3) informative determination technique, 4) data collection technique, 5) validation technique, and 6) data analysis technique. Based on interviews, observations, literature studies or documents in the field it is known that, 1) man-made cave in the form of a semicircle with a tunnel extending in it from north to south with a length of 165 meters. This cave consists of 16 holes in which are connected; 2) Currently Japanese Cave is also functioned as a cave of protection and reserve in the guerrilla Japanese era during the physical revolution as a tourist destination because the Japanese Cave has a unique and distinctive shape; 3) Japanese cave can be used as a source of learning history, using the method of learning outside the classroom by visiting directly to places of historical relics such as the Japanese Cave as well as with learning in the classroom with lecture and socio-drama methods.keyword : Goa Jepang, Learning Resources

Page 1 of 1 | Total Record : 10