cover
Contact Name
Bernard Realino Danu Kristianto
Contact Email
bkristianto@bundamulia.ac.id
Phone
+6281314203820
Journal Mail Official
semiotika@ubm.ac.id
Editorial Address
Jalan Lodan Raya No. 2, Ancol, Jakarta Utara
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Semiotika: Jurnal Komunikasi
ISSN : -     EISSN : 25798146     DOI : -
Jurnal Ilmiah “SEMIOTIKA” diterbitkan oleh Program Studi Ilmu Komunikasi – Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISH), Universitas Bunda Mulia secara rutin dan berkala sesuai dengan periode terbit per semester (6 bulan), yaitu bulan Juni dan Desember. Redaksi jurnal “SEMIOTIKA” membuka peluang seluas-luasnya kepada para dosen pengajar maupun peneliti pada 19 bidang yang dapat dikategorikan sebagai bahan kajian ilmiah SEMIOTIKA menurut Eco (1979:9-14), antara lain: Semiotika binatang (zoomsemiotic) Tanda – tanda bauan (olfactory signs) Komunikasi rabaan (tactile communication) Kode – kode cecapan (code of taste) Paralinguistik (paralinguistics) Semiotika medis (medical semiotics) Kinesik dan proksemik (kinesics and proxemics) Kode – kode musik (musical codes) Bahasa – bahasa yang diformalkan (formalized languages) Bahasa tertulis, alfabet tidak dikenal, kode rahasia (written languages, unknown alphabets, secret codes) Bahasa alam (natural languages) Komunikasi visual (visual communication) Sistem objek (system of objects) Struktur alur (plot structure) Teori teks (text theory)1 Kode – kode budaya (culture codes) Teks estetik (aesthetic texts) Komunikasi Massa (mass comunication) Retorika (rhetoric) Di luar bidang-bidang yang dijabarkan oleh Umberto Eco di atas, perkembangan kajian semiotika menunjukkan kemajuan yang menggembirakan. Berbagai kajian membuka kesempatan pada istilah lain yang mengacu pada diseminasi bidang dalam jurnal ini, antara lain: Semiotika Komunikasi, Semiotika Media, Semiotika Tanda, Semiotika Produk, Semiotika Desain Kemasan, Semiotika Desain Visual, Semiotika Arsitektur, Semiotika Pemasaran, Semiologi Linguistik, Hermeunetika, dan Biosemiotika.
Articles 212 Documents
Representasi Budaya Memasak Instan Pada Masyarakat Urban Dalam Iklan Visual Sasa Fadia, Nur Anisah; Ramdani, Guruh; Wijaya, Elsa Anastasya; Mahdi, Luthfi Raihan; Tuljanah, Rifa; Ramadhani, Trya Andina
SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi Vol 19, No 1 (2025): SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi
Publisher : Universitas Bunda Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30813/s:jk.v19i1.8207

Abstract

Gaya hidup instan semakin berkembang seiring dengan meningkatnya urbanisasi dan kesibukan masyarakat modern. Studi ini menganalisis representasi budaya memasak instan dalam iklan produk Sasa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis semiotika melalui kategori indeks, ikon, dan simbol, serta dilengkapi dengan tinjauan pustaka. Objek penelitian difokuskan pada iklan “Bumbu Praktis Sasa Melezatkan”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklan produk terbaru Sasa direpresentasikan sebagai solusi praktis dan efisien bagi ibu rumah tangga dan masyarakat urban yang sibuk. Iklan ini menekankan kemudahan dalam proses memasak, pengurangan beban kerja di dapur, pemeliharaan kebersihan dan estetika, serta pemberian ruang untuk waktu luang. Selain itu, iklan ini juga berupaya mengubah paradigma bahwa memasak bukanlah semata-mata tugas ibu rumah tangga, melainkan aktivitas yang dapat dilakukan oleh siapa saja. Melalui representasi tersebut, Sasa memosisikan diri sebagai simbol gaya hidup modern kelas menengah yang mengutamakan efisiensi, kepraktisan, kebersihan, dan estetika. Produk ini tidak hanya menawarkan kemudahan, tetapi juga: (1) membangkitkan kedekatan emosional melalui citra masakan rumahan yang dirindukan; (2) membangun imajinasi tentang kebersamaan keluarga dan ruang domestik yang hangat serta cair; (3) mengartikulasikan perubahan paradigma sosial terkait pembagian peran domestik, dengan menekankan bahwa aktivitas memasak kini dapat dilakukan oleh siapa saja, dibantu oleh kehadiran produk instan.
Representasi Hegemoni Patriarki dalam Serial Bridgerton Season 1 Silitonga, Klara Livia
SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi Vol 19, No 1 (2025): SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi
Publisher : Universitas Bunda Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30813/s:jk.v19i1.8409

Abstract

Bridgerton adalah serial orisinal Netflix yang berlatar pada era Regency Inggris (1811-1820) dan menampilkan kehidupan sosial aristokrat yang penuh dengan aturan, simbol, dan norma budaya yang ketat. Di balik kisah pencarian jodoh yang menjadi fokus utama musim pertamanya, serial ini juga memuat representasi hegemoni, terutama dalam konteks relasi sosial berbasis gender. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana tanda dan simbol dalam Bridgerton Season 1 merepresentasikan hegemoni patriarki. Dengan menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes, analisis dilakukan terhadap lima adegan kunci yang dipilih berdasarkan kekuatan representatif dan relevansinya terhadap struktur sosial patriarkal. Setiap adegan dianalisis melalui lima kode Barthes: hermeneutik, proairetik, semik, simbolik, dan kultural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hegemoni patriarki dalam serial ini tidak ditampilkan melalui kekuasaan yang eksplisit atau koersif, melainkan hadir secara halus melalui estetika visual, konvensi budaya aristokrat, dan relasi interpersonal antar tokoh. Perempuan direpresentasikan sebagai objek visual dan komoditas sosial yang nilainya ditentukan oleh pandangan serta otoritas laki-laki. Melalui visual yang indah dan narasi yang emosional, Bridgerton secara tidak langsung melanggengkan mitos patriarki dalam bentuk yang telah dinormalisasi. Dengan demikian, serial ini menjadi contoh bagaimana media populer bekerja sebagai ruang representasi dan reproduksi ideologi dominan, termasuk hegemoni patriarki.
REPRESENTASI MASKULINITAS POSITIF PADA AKUN INSTAGRAM @lakilakibaru Kumalasari, Elrisa Diana; Milan, Sayekti; Pratama, Bima Handi; Listyani, Refti Handini
SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi Vol 19, No 1 (2025): SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi
Publisher : Universitas Bunda Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30813/s:jk.v19i1.8310

Abstract

Sistem patriarki telah membatasi peran gender laki-laki ke dalam budaya maskulin yang negatif. Budaya tersebutlah yang juga telah berdampak terhadap langgengnya tindak kekerasan dan ketidaksetaraan gender hingga sekarang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui representasi maskulinitas positif, sebagai lawan dari maskulinitas negatif, pada akun @lakilakibaru, sekaligus untuk membongkar mitos keberuntungan laki-laki yang sering ditonjolkan dalam sistem patriarki. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan dan analisis konten akun instagram @lakilakibaru dengan memanfaatkan teori representasi Stuart Hall dan semiotika Roland Barthes. Hasil penelitian menunjukkan representasi maskulinitas positif pada akun @lakilakibaru mewujud pada penggambaran laki-laki sejati yang diidealkan Aliansi Laki-laki Baru dalam setiap postingannya, meliputi : 1.) ia yang mau berbagi peran dalam keluarga atau rumah tangga, 2.) yang senantiasa bersikap suportif terhadap perempuan, baik terhadap pilihannya maupun cita-citanya, 3.) mau mengembangkan bentuk komunikasi yang terbuka, adil, dan jujur terhadap pasangan atau orang lain, serta 4.) berani menolak segala tindak kekerasan berbasis gender. Penelitian ini menegaskan bahwa laki-laki tidak harus selalu melekat pada standar maskulinitas yang selama ini berkembang. Sebab, maskulinitas hegemonik di masyarakat nyatanya juga menjebak kaum laki-laki untuk mengorbankan fitrahnya sebagai subjek yang juga berhak setara dan merdeka sebagaimana perempuan.
Penerimaan Budaya Asing Melalui Media Film dan Musik Ayu, Maneza Kusuma; Purwanto, Eko
SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi Vol 19, No 1 (2025): SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi
Publisher : Universitas Bunda Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30813/s:jk.v19i1.8311

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana film dan musik asing memengaruhi penerimaan budaya asing oleh masyarakat Indonesia di tengah arus globalisasi. Di era digital seperti sekarang, media populer seperti film Hollywood, K-pop, dan musik Barat telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia, memengaruhi cara berpikir, berinteraksi, dan membentuk identitas budaya. Melalui pendekatan kualitatif dengan kajian pustaka, penelitian ini bertujuan untuk menggali bagaimana masyarakat Indonesia menyerap, menafsirkan, dan menyesuaikan budaya asing dengan nilai-nilai lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun pengaruh budaya asing cukup besar, masyarakat Indonesia lebih selektif dalam menerima unsur budaya yang dianggap sesuai dengan norma sosial dan tradisi setempat. Proses ini menghasilkan fenomena hibriditas budaya, yang menggabungkan elemen-elemen budaya asing dan lokal, menciptakan identitas budaya yang bersifat dinamis. Meskipun media global memengaruhi generasi muda, nilai-nilai lokal seperti kekeluargaan, solidaritas, dan etika tetap terjaga. Penelitian ini menunjukkan bahwa globalisasi budaya melalui media tidak hanya memperkenalkan nilai-nilai asing, tetapi juga memperkaya identitas budaya lokal dengan membuka ruang untuk inovasi dan kreasi.
Media dan Budaya Visual: Kajian Estetika dalam Iklan Digital Khasanah, Nila Sarifatul; Purwanto, Eko
SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi Vol 19, No 2 (2025): SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi
Publisher : Universitas Bunda Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30813/s:jk.v19i2.8356

Abstract

Estetika visual dalam iklan digital memainkan peran sentral dalam membentuk persepsi dan pengalaman visual masyarakat kontemporer. Dalam konteks budaya visual digital yang ditandai oleh banjir citra, estetika tidak lagi sekadar persoalan keindahan, melainkan menjadi medan ideologis dan kultural tempat nilai, identitas, dan kekuasaan dinegosiasikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana konstruksi visual dalam iklan digital tidak hanya merepresentasikan produk atau jasa, tetapi juga mengonstruksi makna budaya dan mempengaruhi cara audiens melihat serta merasakan dunia. Dengan pendekatan interdisipliner yang menggabungkan teori media, semiotika, dan estetika, serta berlandaskan pemikiran tokoh-tokoh seperti Nicholas Mirzoeff, Jacques Rancière, Guy Debord, dan Henry Jenkins, studi ini membongkar cara kerja visualitas dalam ranah digital.Penelitian ini menggunakan studi literatur untuk menelaah hubungan antara estetika iklan dan dinamika budaya visual, termasuk bagaimana simbol, warna, tipografi, narasi visual, dan komposisi gambar digunakan untuk memproduksi afek dan membentuk identitas. Selain itu, penelitian ini juga mengkaji pergeseran peran audiens dari konsumen pasif menjadi subjek aktif yang turut serta dalam produksi dan distribusi makna visual melalui praktik digital seperti berbagi, menyukai, dan memodifikasi konten iklan. Dalam lanskap budaya visual yang semakin terfragmentasi dan terdigitalisasi, estetika iklan digital muncul sebagai instrumen strategis dalam membentuk imajinasi kolektif, menciptakan aspirasi, dan menegosiasikan nilai-nilai sosial yang berkembang.Hasil dari analisis ini menunjukkan bahwa estetika dalam iklan digital bukanlah aspek yang netral atau dekoratif, melainkan bagian integral dari logika visual kapitalisme digital yang bekerja secara afektif, ideologis, dan kultural. Dengan demikian, memahami estetika visual dalam iklan digital tidak hanya penting untuk kajian komunikasi visual, tetapi juga untuk membaca dinamika kekuasaan dan makna dalam budaya kontemporer.Kata Kunci: estetika visual, iklan digital, budaya visual, semiotika, ideologi, media digital, afek, representasi
Penggunaan Jargon pada Autobase @localanuniverse di Aplikasi X (Kajian Sosiolinguistik) Loviatyanta, Nazwa Athalia
SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi Vol 19, No 2 (2025): SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi
Publisher : Universitas Bunda Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30813/s:jk.v19i2.9224

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan jenis dan makna jargon yang digunakan pada autobase @localanuniverse di platform X. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiolinguistik untuk mengidentifikasi karakteristik linguistik jargon. Teori yang digunakan yaitu teori Finnegan (2014) dan Abdul Chaer (2014). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 56 jenis jargon yang terbagi dalam empat jenis, yang terdiri dari 10 akronim, 11 singkatan, 25 kata, dan 10 frasa. Jargon-jargon tersebut dievaluasi berdasarkan kategori linguistik, yang meliputi 17 makna leksikal, 20 makna kontekstual, 11 makna gramatikal, dan 8 makna asosiatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan jargon dalam komunitas AU menunjukkan kreativitas bahasa dan proses adaptasi budaya populer ke dalam praktik komunikasi digital.Kata kunci: jargon, makna bahasa, autobase, media sosial, alternative universe. 
KOMODIFIKASI TIKTOK SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI POLITIK CALON PRESIDEN TAHUN 2024 Mahardika, Mei Candra; Susilowati, Eny
SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi Vol 19, No 2 (2025): SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi
Publisher : Universitas Bunda Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30813/s:jk.v19i2.8586

Abstract

Pesta demokrasi terbesar di Indonesia adalah saat pemilihan umum (PEMILU) calon presiden dan calon wakil presiden. Pemilu tahun 2024 menjadi pemilihan umum yang lebih meriah, seiring dengan adanya kampanye melalui media sosial. Penggunaan media sosial tentu menjadi strategi yang dipertimbangkan mengingat jangkauan luas dan kemudahan dalam mengaksesnya. Aplikasi TikTok salah satu media sosial yang memiliki jumlah unduhan terbesar di Indonesia, pada tahun 2023 terdapat 67,4 unduhan untuk aplikasi TikTok. Fenomena aplikasi TikTok dimulai tahun 2018, saat akun Aplenliebe memulai menggunakan aplikasi tersebut, untuk media ekspresi dan identik dengan aplikasi untuk berjoget dan mendapatkan respon yang negatif. Seiring waktu aplikasi TikTok mulai terkenal setelah pandemi Covid-19. Terkenalnya aplikasi TikTok ini yang penggunanya kebanyakan generasi muda, mulai dipergunakan dalam kepentingan pada pemilihan calon presiden. Melalui pendekatan systematic literature review dan studi pustaka, penelitian ini ingin menjelaskan bagaimana komodifikasi TikTok dalam keberfungsiannya dan prakteknya dalam pemilu calon presiden pada tahun 2024. Temuan dalam penelitian ini, melalui pemberitaan di media online seperti pintarpolitik.com dan detikcom diperoleh bahwa TikTok sebagai kekuatan politik dalam momen pemilu calon presiden tahun 2024. Media tersebut menjelaskan bahwa TikTok sebagai wadah aktifitas politik, karena penyebaran pesannya cepat dan melalui video pendek mudah diserap dan disebar oleh masyarakat.. Sedangkan dari detikcom dijelaskan bahwa dalam penggunaan TikTok selama masa kampanye pemilu calon presiden tahun 2024, postingan di TikTok memberikan pengaruh pada pandangan politik dan dukungan kepada calon presiden. Secara pengguna TikTok data dari detikcom menyebutkan ada 41,26% yang menggunakan TikTok pada rentang usia 18-24 tahun dari total pengguna TikTok di Indonesia yang sejumlah 106,52 juta orang. Proses komodifikasi TikTok dalam teori ekonomi politik Vincent dapat ditemukan melalui konten dari media ekspresi menjadi media politik, audiens yang awalnya pada generasi muda berubah ke semua masyarakat dan pekerja dari yang bersifat individu menjadi pekerja profesional (admin media sosial).@font-face {font-family:"Cambria Math"; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;}@font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-469750017 -1073732485 9 0 511 0;}p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:8.0pt; margin-left:0cm; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri",sans-serif; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:IN;}.MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:11.0pt; mso-ansi-font-size:11.0pt; mso-bidi-font-size:11.0pt; font-family:"Calibri",sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:Arial; mso-bidi-theme-font:minor-bidi; mso-ansi-language:IN;}.MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:8.0pt; line-height:107%;}div.WordSection1 {page:WordSection1;}
Analisis Naratif Stigma Kesehatan Mental dalam Film Dokumenter “House of Secrets: The Burari Deaths” Meilinawati, Ardiana
SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi Vol 19, No 2 (2025): SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi
Publisher : Universitas Bunda Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30813/s:jk.v19i2.9264

Abstract

Stigma kesehatan mental masih terjadi khususnya di Indonesia. Film menjadi salah satu media yang digunakan untuk memberikan edukasi terkait kesehatan mental. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana narasi stigma kesehatan mental digambarkan dalam film dokumenter “House of Secrets: The Burari Deaths”. Analisis naratif dilakukan dengan penggunaan model Tzvetan Todorov. Data dikumpulkan dengan menonton keseluruhan episode film dokumenter dan memilih narasi audio dan video yang merujuk pada stigma kesehatan mental. Narasi terpilih dianalisis mulai bagian awal, bagian tengah, dan bagian akhir. Hasil analisis mengarah pada kesimpulan bahwa narasi stigma kesehatan mental dalam film dokumenter “House of Secrets: The Burari Deaths” melalui lima tahap yang tidak terpaku karena adanya pengulangan terhadap tahap recognition of disruption. Keterkaitan narasi yang dibangun dengan isu kesehatan mental dibahas lebih lanjut dalam artikel ilmiah ini.
Penonjolan Nilai Berita Kecelakaan Pesawat Sriwijaya Air SJ-182 di Hi!Pontianak hanum, aliyah nuraini
SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi Vol 19, No 2 (2025): SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi
Publisher : Universitas Bunda Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30813/s:jk.v19i2.9011

Abstract

Peristiwa kecelakaan pesawat menimbulkan banyak harapan pada media massa. Terutama media online. Kecepatan, ketepatan, juga keberlanjutan situasi menjadi informasi yang ditunggu oleh masyarakat. Hi! Pontianak sebagai salah satu media online di Kota Pontianak menjadi salah satu sumber informasi masyarakat berkaitan dengan kecelakaan pesawat Sriwijaya SJ-182 tanggal 9 Januari 2021 lalu. Perihalnya, korban kecelakaan didominasi berasal dari Kota Pontianak. Hi! Pontianak sebagai media lokal membingkai peristiwa ini secara kontinyu sejak 9 Januari hingga 22 Januari 2021. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi  seleksi dan penonjolan isu menurut nilai berita dalam kegiatan jurnalisme online mengenai kecelakaan Pesawat Sriwijaya SJ-182. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif  dengan metode studi kasus.  Proses Produksi Berita dari  Teknik pengumpulan data melalui observasi 58  naskah berita, focus group discussion dengan pihak redaksi Hi! Pontianak, wawancara mendalam dengan pemimpin redaksi dan informan pendukung, serta dokumentasi dengan penelusuran referensi yang menunjang penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan adanya proses jurnalisme online yang membingkai seleksi isu dan penonjolan isu tertentu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dengan pemilihan unsur berita  yang dominan berupa important, timeliness, proximity, prominence dan human interest. Simpulannya, jurnalisme online yang dilakukan di Hi! Pontianak mengalami modifikasi proses redaksi untuk menyesuaikan dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Faktor pertimbangan emosi dan profesionalitas jurnalis juga mewarnai proses jurnalisme online.
KETIKA TANDA TIDAK LAGI PUNYA “PENGIRIM”: MENUJU SEMIOTIKA OTONOM Hamdan, Faisal
SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi Vol 19, No 2 (2025): SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi
Publisher : Universitas Bunda Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30813/s:jk.v19i2.9268

Abstract

This article proposes a conceptual framework called Autonomous Semiotics to explain how signs operate and acquire meaning in digital ecosystems governed by algorithmic automation and artificial intelligence. The study departs from the limitations of classical semiotics, which assumes meaning production always comes from human intentionality. In contrast, within contemporary digital platforms, signs circulate, accumulate resonance, and shape interpretation without an identifiable human sender. Algorithmic systems—rather than communicators—regulate visibility, priority, replication, and distribution of signs. Theoretically, this study seeks to reformulate the foundation of communication studies by situating sign production within a non-human, computational mechanism. The article concludes that communication in the digital era can no longer be understood solely as a process of message exchange between sender and receiver, but as the operational agency of signs embedded in platform logic and automated systems.