cover
Contact Name
I Made Oka Riawan
Contact Email
made.oka@undiksha.ac.id
Phone
+62362-23884
Journal Mail Official
jurdikbiologiundiksha@gmail.com
Editorial Address
Jalan Udayana, Kampus Tengah Undiksha, FMIPA. Singaraja-Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Biologi Undiksha
Jurnal Pendidikan Biologi adalah adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Pendidikan Ganesha. Jurnal ini bertujuan untuk mewadahi artikel-artikel hasil penelitian dan hasil pengabdian masyarakat dibidang pendidikan dan pembelajaran. Pada akhirnya Jurnal ini dapat memberikan deskripsi tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pendidikan bagi masyarakat akademik.
Articles 78 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2016)" : 78 Documents clear
HUBUNGAN STATUS GIZI REMAJA DENGAN KETERATURAN SIKLUS MENSTRUASI PADA REMAJA KELAS XI DI SMA NEGERI 1 SAWAN ., Fani Andriani Ni Putu; ., Dra.Desak Made Citrawathi,M.Kes; ., Dr. Ni Luh Putu Manik Widiyanti,S.Si,M
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masa remaja merupakan masa transisi unik yang ditandai oleh berbagai perubahan fisik, emosi dan psikis berkisar antara usia 10-19 tahun. Ciri remaja wanita yang mampu melakukan kehidupan reproduksi adalah telah menstruasi. Beberapa perempuan yang memiliki keluhan lebih mendalam karena proses menstruasinya sudah dirasakan bermasalah baik siklus, jumlah darah, atau nyerinya. Status gizi merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya masalah siklus menstruasi. Remaja putri yang mengalami asupan gizi kurang atau lebih dapat menyebabkan gangguan menstruasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan Indeks Masa Tubuh dengan siklus menstruasi dan untuk mengetahui hubungan Lingkar Lengan Atas dengan siklus menstruasi. Jenis penelitian ini adalah deksriptif korelasional. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 60 orang yang didapat dengan menggunakan teknik simple random sampling. Hasil uji statistik menggunakan Product Moment pada tingkat signifikansi 95% (α≤0,05), didapatkan nilai p=0,04, dan r=-0,261 untuk hasil hubungan Indeks Masa Tubuh dan siklus menstruasi, didapatkan nilai p=0,01 dan r=0,332 untuk hasil hubungan Lingkar Lengan Atas dengan siklus menstruasi. Dengan demikian bahwa terdapat hubungan Indeks Masa Tubuh dan siklus menstruasi yang berkorelasi rendah, dan juga terdapat hubungan Lingkar Lengan Atas dengan siklus menstruasi yang berkorelasi rendah. Saran untuk peneliti lain diupayakan untuk menambah variabel penelitian, dan untuk remaja putri diharapkan dapat menjaga berat badan agar dapat mengurangi dampak negatif dari malnutrisi khususnya terhadap siklus menstruasi. Kata Kunci : status gizi, siklus menstruasi. Adolescence is a period of unique transition which has characteristics in physical changes, emotional and psychological ranged in age from 10-19 years. Characteristic of young women who are able to do the reproductive life is already menstruating. Some women who have complaints more profound because the process is already being felt troubled well menstrual cycle, the amount of blood, or pain. Nutritional status is one factor contributing to the problems of the menstrual cycle. Young women who have nutritional intake less or more can cause menstrual disorders. The purpose of this study is to determine the relationship of body mass index with the menstrual cycle and to determine the relationship of Upper Arm Circumference with the menstrual cycle. This research was a descriptive correlational. The sample in this study amounted to 60 people that obtained using simple random sampling technique. Statistical test results by using the Product Moment at a significance level of 95% (α≤0,05) found that p value = 0.04, and r = -0.261 for the result of the relationship body mass index and the menstrual cycle, found that p value = 0.01 and r = 0.332 for the results Upper Arm circumference relationship with the menstrual cycle. Therefore, there is low correlation between a Body Mass Index and menstrual cycle, and also there is low correlation between Upper Arm Circumference and the menstrual cycle. Suggestions for other researchers attempt to add the research variables, and for young women are expected to keep the weight in order to reduce the negative impact of malnutrition especially to the menstrual cycle.keyword : nutritional status, menstrual cycle.
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN STUDENT CREATED CASE STUDIES DISERTAI MEDIA FLIP CHART TERHADAP SIKAP DAN KEMANDIRIAN SISWA PADA EKSTRAKURIKULER KELOMPOK SISWA PEDULI AIDS DAN NARKOBA (KSPAN) DI KELAS VIII SMP NEGERI 2 MARGA ., Ni Wayan Tiara Yasmantika; ., Prof. Dr.Ida Bagus Putu Arnyana, M.Si; ., Dra.Desak Made Citrawathi,M.Kes
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh penerapan metode pembelajaran Student Created Case Studies disertai media Flip Chart terhadap sikap dan kemandirian siswa pada ekstrakurikuler Kelompok Siswa Peduli AIDS dan Narkoba (KSPAN) di kelas VIII SMP Negeri 2 Marga. Jenis penelitian ini adalah Quasi Eksperimen dengan rancangan penelitian non-equivalent pre-test post-test control group design. Populasi penelitian ini adalah seluruh kelas VIII SMP N 2 Marga dengan jumlah populasi 224 yang mengikuti ekstrakurikuler KSPAN sejumlah 50 siswa. Sampel diambil dengan teknik undian dan diperoleh 2 kelas dengan jumlah sampel sebanyak 48 siswa. data yang dikumpulkan adalah data primer (menanyakan langsung kepada responden) yaitu dengan menggunakan lembar kuesioner dengan jumlah pernyataan sebanyak 20 butir kuesioner kemandirian belajar dan 25 butir kuesioner sikap reproduksi positif. Teknik analisis data dilakukan dengan uji statistik Mancova. Semua pengujian statistik dilakukan pada taraf signifikansi 5%. Hasil uji hipotesis pengaruh Student Created Case Studies disertai media Flip Chart terhadap sikap dan kemandirian siswa diperoleh nilai sig. sebesar p
HUBUNGAN POLA MAKAN DENGAN OBESITAS PADA SISWA SEKOLAH DASAR DI KOTA SINGARAJA ., Ni Komang Tri Kamistin; ., Prof. Dr. I Made Sutajaya,M.Kes.; ., Dra.Desak Made Citrawathi,M.Kes
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola makan anak sekolah dasar dan obesitas anak sekolah dasar di kota Singaraja. Jenis penelitian adalah deskriptif korelasional. Sampel dalam penelitian ini adalah anak sekolah dasar di kota Singaraja yang berjumlah 160 orang. Pola makan adalah pola prilaku konsumsi pangan yang berulang kali dari individu dalam memenuhi kebutuhan akan makanannya sebagai tanggapan tanggapan terhadap respon fisiologi, psikologi, budaya dan sosial. Dalam penelitian ini untuk mengetahui kualitas ragam konsumsi jenis makanan dilakukan metode recall dengan mencatat jenis dan frekuensi makan selama 24 jam. Sedangkan obesitas adalah keadaan patologis karena penimbunan lemak berlebihan dibandingkan dengan yang diperlukan untuk fungsi tubuh. Dalam penelitian ini untuk mengetahui obesitas dilakukan dengan menimbang berat badan dan tinggi badan anak yang disesuaikan dengan rumus IMT. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi yaitu menimbang berat badan dan tinggi badan anak dan dengan memberikan kuesioner kepada anak sekolah dasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola makan anak sekolah dasar yaitu 3,8% sangat buruk, 31,2% buruk, 32,5% baik, 32,5% sangat baik. Sedangkan dilihat dari IMT anak sekolah dasar di kota Singaraja 41,3% dikategorikan status gizi KKP, 35% dikategorikan status gizi normal dan 23,7% dikategorikan status gizi obesitas. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pola makan mempengaruhi obesitas pada anak sekolah dasar di kota Singaraja. Kata Kunci : pola makan, obesitas This research aims to know dietary and obesity of primary school students in Singaraja city. The kinds of research is descriptive correlational. The sample of this research is 160 primary students in Singaraja city. Dietary habit is pattern of food consumption behavior repeatedly from individuals in meeting the need for food in response to a physiological effect, Psychology, cultural, and social. In order to know the quality of variety food consumption this research is used recall methods by recording variety and frequent of eating in 24 hours. Whereas obesity is phatological condition due to excessive fat storage than necessary for the functioning of the body. In this study to determine obesity is done by counting weight and height to be adjusted with the IMT. The data collection in this study is by observing in weight and height, and by giving questionnaires to primary school students. The study has shown that diet of children of primary school are 3,8% is very poor, 31,2% is poor, 32,5% is good, and 32.5% is very good. Whereas IMT views of primary school students in Singaraja city is 41,3% categorized to the nutri functional status of CTF, 35% is considered normal nutritional status and 32,7% is categorized the nutritional status of obesity. Thus it can be concluded that the diet affects obesity in elementary school children in Singaraja citykeyword : dietary, obesity
PEMANFAATAN KULIT BUAH COKLAT UNTUK PEMERAMAN BUAH MANGGA DITINJAU DARI KADAR GLUKOSA DAN VITAMIN C ., I Putu Wahyu Iswara; ., Dr. I Wayan Sukra Warpala,S.Pd,M.Sc; ., Dr. Ni Luh Putu Manik Widiyanti,S.Si,M
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya perbedaan kadar gula reduksi dan kadar vitamin C pada buah mangga akibat durasi pemeraman yang berbeda. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan acak lengkap. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah durasi waktu pemeraman sedangkan variabel terikatnya adalah kadar gula reduksi dan kadar vitamin C. Pengulangan dilakukan sebanyak 4 kali dengan total sampel 28, dengan penambahan sampel pemeraman menggunakan karbit sebanyak 7 sampel. Tahapan dari penelitian ini adalah persiapan, pelaksanaan (pengamatan morfologi dan anatomi buah, uji kandungan gula reduksi menggunakan metode Nelson-Somogyi, dan uji kandungan vitamin C menggunakan metode titrasi iodin), serta analisis data (analisis data utama menggunakan uji MANOVA, dengan melakukan uji prasyarat diantaranya uji normalitas, uji homogenitas dan uji multikolinieritas). Dari hasil uji hipotesis didapatkan bahwa ada perbedaan kadar gula reduksi dan kadar vitamin C akibat durasi pemeraman yang berbeda. Kandungan kadar gula reduksi pada buah mangga cenderung meningkat sedangkan kandungan kadar vitamin C cenderung menurun.Kata Kunci : buah mangga, gua reduksi, vitamin C, durasi pemeraman This study aims to determine the differences in reducing sugar and vitamin C in mangoes fruit ripening due to a different duration. This study was an experimental study with a completely randomized design. The independent variables in this study is the duration of the curing time while the dependent variable is a reducing sugar and vitamin C. Repetition performed 4 times with total of 28 samples, with the addition of curing samples using carbide as much as 7 samples. The stages of this research is the preparation, implementation (observations of morphology and anatomy of the fruit, reducing sugar content test using the Nelson-Somogyi method, and vitamin C content test using iodine titration method), as well as data analysis (data analysis using MANOVA test, to test the prerequisite including normality test, homogeneity test and multicolinearity test). From the test results showed that the hypothesis of there was difference in reducing sugar and vitamin C levels due to different ripening duration. The content of reducing sugar in fruit mango tends is increase while the content of vitamin C tend is decrease.keyword : mango fruit, reducing sugar, vitamin C, duration of ripening
KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN PAKU (PTERIDOPHYTA) DI HUTAN WISATA DASONG, KECAMATAN SUKASADA, KABUPATEN BULELENG ., I Putu Gede Eka Handrayana Putra; ., Dr. I Wayan Sukra Warpala,S.Pd,M.Sc; ., Dr.I Gusti Agung Nyoman Setiawan,M.Si
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) komposisi spesies tumbuhan paku (Pteridophyta) di Hutan Wisata Dasong dan (2) besar indeks keanekaragaman jenis tumbuhan paku (Pteridophyta) di Hutan Wisata Dasong. Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksploratif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh tumbuhan paku di Hutan Wisata Dasong. Sampel dalam penelitian ini adalah tumbuhan paku di Hutan Wisata Dasong yang tercakup oleh 30 titik sampel yang terbagi dalam tiga wilayah (bawah, tengah dan atas). Metode sampling yang digunakan adalah metode line transect. Untuk mengetahui komposisi spesies dilakukan penghitungan jumlah individu dan densitas relatif masing-masing spesies, sedangkan untuk menghitung keanekaragaman jenis menggunakan Indeks Simpson. Komposisi spesies tumbuhan paku yang ditemukan terdiri atas 11 spesies dari 8 familia dengan total 526 individu pada area cuplikan seluas 30 m2. Pada Zona I spesies dengan densitas relatif tertinggi adalah Diplazium esculentum (23,59%), sedangkan yang terendah adalah Pteris vittata (3,37%). Pada Zona II spesies dengan densitas relatif tertinggi adalah Pteridium aquilinum (21,14%), sedangkan yang terendah adalah Lygodium flexuosum (2,28%). Pada Zona III spesies dengan densitas relatif tertinggi yaitu Pteridium aquilinum (36,41%), sedangkan yang terendah adalah Adiantum tenerum (1,15%). Secara keseluruhan spesies yang memiliki densitas relatif tertinggi adalah Pteridium aquilinum (26,62%), sedangkan yang terendah adalah Pteris vittata (3,61%). Indeks keanekaragaman tumbuhan paku pada masing-masing titik sampel secara rata-rata adalah sebesar 0,6440. Indeks keanekaragaman pada Zona I sebesar 0,8578, pada Zona II sebesar 0,8793, dan pada Zona III sebesar 0,8222. Indeks keanekaragaman tumbuhan paku secara keseluruhan adalah sebesar 0,8658 dengan kategori tinggi.Kata Kunci : keanekaragaman jenis, komposisi spesies, paku (Pteridophyta) This research aims to determine: (1) the species composition of ferns (Pteridophytes) in Dasong Tourism Forest and (2) species diversity index of ferns (Pteridophytes) in Dasong Tourism Forest. This research is an exploratory research. The population in this research were all ferns in Dasong Tourism Forest. The sample in this research is a fern in Dasong Tourism Forest that covered by 30 sample points are divided into three areas (Zone I, Zone II and Zone III). The sampling method used is the line transect method. To determine the species composition is by count the number of individuals and the relative density of each species, while for calculating species diversity using Simpson Index. The species composition of fern that found consists of 11 species of 8 family with a total of 526 individuals in an area of 30 m2. In Zone I species with the highest relative density is Diplazium esculentum (23.59%), whereas the lowest was Pteris vittata (3.37%). In Zone II species with the highest relative density is Pteridium aquilinum (21.14%), whereas the lowest was Lygodium flexuosum (2.28%). In Zone III species with the highest relative density is Pteridium aquilinum (36.41%), whereas the lowest was Adiantum tenerum (1.15%). Overall species with the highest relative density is Pteridium aquilinum (26.62%), and the lowest was Pteris vittata (3.61%). Fern diversity index for each of the sample point according to the average amounted to 0.6440. The diversity index in Zone I is 0.8578, in Zone II is 0.8793, and in Zone is 0.8222. In generally the fern diversity index is 0.8658 with a high category.keyword : species diversity, species composition, fern (Pteridophytes)
ANALISIS JAMUR MIKROSKOPIS PADA RHIZOSFER DI LAHAN PERKEBUNAN STROBERI (Fragaria ananassa var. rosa linda) DAN DI HUTAN DASONG, DESA PANCASARI, KECAMATAN SUKASADA, KABUPATEN BULELENG, BALI ., Putu Cindy Arista; ., Prof. Dr. Ni Putu Ristiati, M.Pd.; ., Drs. Sanusi Mulyadiharja,M.Pd.
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan jumlah koloni dan keanekaragaman genus jamur mikroskopis pada rhizosfer tanaman di lahan perkebunan stroberi (Fragaria ananassa var. rosa linda) dan di Hutan Dasong. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif. Metode yang digunakan yakni survei, pengambilan sampel, uji laboratorium, dan eksplorasi. Subyek dalam penelitian ini adalah seluruh jamur mikroskopis pada rhizosfer tanaman di lahan perkebunan dan di Hutan Dasong, sedangkan obyek adalah isolat jamur mikroskopis pada rhizosfer tanaman di lahan perkebunan dan di Hutan Dasong. Tahapan dari penelitian ini terdiri dari tahap persiapan, tahap pelaksanaan, tahap purifikasi, tahap identifikasi, dan analisis data. Berdasarkan hasil uji hipotesis terdapat perbedaan jumlah koloni jamur mikroskopis pada rhizosfer tanaman di lahan perkebunan stroberi dan Hutan Dasong. Jumlah koloni jamur pada rhizosfer tanaman di lahan perkebunan lebih banyak daripada di Hutan Dasong, namun keanekaragaman genusnya berbanding terbalik. Pada lahan perkebunan diperoleh 9 (sembilan) isolat jamur rhizosfer antara lain Fusarium (1 isolat), Penicillium (1 isolat)¸ Scopulariopsis (1 isolat)¸ Epicoccum (1 isolat)¸ Trichoderma (3 isolat)¸ Mucor (1 isolat)¸ dan Aspergillus (1 isolat). Sedangkan dari hasil isolasi di Hutan Dasong, diperoleh 12 (dua belas) isolat jamur rhizosfer yang termasuk ke dalam genus Penicillium (3 isolat), Mucor (1 isolat), Fusarium (1 isolat), Trichoderma (2 isolat), Verticillium (1 isolat), Rhizopus (1 isolat), Aspergillus (2 isolat), dan Gliocladium (1 isolat). Sehingga total jumlah genus jamur rhizosfer yang ditemukan di lahan perkebunan stroberi dan Hutan Dasong adalah 10 (sepuluh) genus dengan satu isolat yang memiliki ciri makroskopis dan mikroskopis yang sama yaitu isolat K9 dan H10.Kata Kunci : jamur mikroskopis, rhizosfer, perkebunan stroberi, Hutan Dasong This study aims to determine the differences number of colonies and the diversity genus of microscopic fungi in rhizosphere strawberry farm (Fragaria ananassa var. rosa linda) and Dasong Forest. This research is a descriptive exploratory. The method used are surveys, sampling, laboratory testing, and exploration. The subjects in this study are all microscopic fungi in the rhizosphere of strawberry farm and rhizosfer of plant in Dasong Forest, while the object is a microscopic fungal isolates in the rhizosphere of strawberry farm and rhizosfer of plant in Dasong Forest. Stages of this study consisted of preparation stage, implementation stage, purification, identification, and analysis of data. Based on the results of hypothesis testing there are differences in the number colonies of microscopic fungi in the rhizosphere of plants in strawberry farm and Dasong Forest. The number of fungal colonies in the rhizosphere strawberry farm more higher than in Dasong forest, but the diversity of the genus inversely. On the strawberry farm acquired 9 (nine) fungal isolates include Fusarium (1 isolate), Penicillium (1 isolate) ¸ Scopulariopsis (1 isolate) ¸ Epicoccum (1 isolate)¸ Trichoderma (3 isolates)¸ Mucor (1 isolate)¸ and Aspergillus (1 isolate). While the results of the isolation in the Dasong Forest, obtained 12 (twelve) fungal isolates belong to the genus Penicillium (3 isolates), Mucor (1 isolate), Fusarium (1 isolate), Trichoderma (2 isolates), Verticillium (1 isolates ), Rhizopus (1 isolate), Aspergillus (2 isolates), and Gliocladium (1 isolate). So the total number of rhizosphere fungi genus were found in strawberries and forest plantations Dasong is 10 (ten) genus with one isolate has a characteristic macroscopic and microscopic same that isolates K9 and H10. keyword : microscopic fungi, rhizosphere, strawberry farm, Dasong Forest
ANALISIS PENGARUH LAMA WAKTU PENYIMPANAN AIR REBUSAN BAYAM CABUT (Amaranthus tricolor) TERHADAP KADAR ASAM OKSALAT TERLARUT ., I Made Oka Suardyana; ., Drs. Sanusi Mulyadiharja,M.Pd.; ., I M P Anton Santiasa, S.Pd.,M.Si.
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bayam adalah salah satu sayuran yang terkenal memiliki kandungan serat yang sangat tinggi. Bayam juga kaya karbohidrat, protein, lemak, dan vitamin. Dibalik manfaatnya, bayam mengandung senyawa alergik yang tidak baik bagi tubuh manusia, yaitu senyawa purin, goitrogen, dan oksalat. Asam oksalat merupakan senyawa kimia yang mudah larut dalam air dan dapat mengakibatkan pembentukkan batu ginjal jika dikonsumsi dalam jumlah banyak. Terkait dengan bahaya yang ditimbulkan oleh senyawa asam oksalat pada air rebusan bayam, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) perbedaan kadar asam oksalat terlarut pada sayur bayam yang direbus dengan durasi waktu yang sama akibat lama waktu penyimpanannya yang berbeda, (2) lama waktu penyimpanan yang paling berpengaruh terhadap kadar asam oksalat terlarut pada sayur bayam yang direbus dengan durasi waktu yang sama. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Populasi pada penelitian ini adalah bayam sebanyak 250 gram/1200 ml yang tergolong bayam cabut (Amaranthus tricolor) yang terdapat di Desa Gesing Kecamatan Banjar Kabupaten Buleleng, sedangkan sampel pada penelitian ini adalah rebusan bayam yang telah diberikan 6 perlakuan yaitu disimpan selama: 0 jam, 2 jam, 4 jam, 6 jam, 8 jam dan 10 jam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : (1) Kadar asam oksalat paling rendah terdapat pada penyimpanan 0 jam (P0) sebesar 94,85 ppm (2) Kadar asam oksalat tertinggi terdapat pada penyimpanan 10 jam (P5) sebesar 301,77 ppm. (3) lama penyimpanan air rebusan bayam mempengaruhi kadar asam oksalat pada air rebusan bayam Kata Kunci : lama penyimpanan, air rebusan bayam dan kadar asam oksalat terlarut Spinach is a kind of vegetable that is known to have very high fiber content. Spinach is also rich in carbohydrate, protein, fat and vitamins. Behind of its benefits, spinach contains allergic compound that is not good for health because it contains purine compound, goitrogen and oxalate. Oxalic acid is a chemical compound that is readily soluble in water and can lead to the formation of kidney stone if consumed in large quantity. Related to the danger posed by the oxalic acid compound in spinach stew, the study aims to determine: (1) the difference in levels of oxalic acid dissolved in spinach stew boiled in the same duration due to the variation of storage duration, (2) the most influencing storage duration on the levels of oxalic acid dissolved in spinach stew boiled in the same duration. This study is an experimental research. The population of this study was the spinach that is classified as Amaranthus tricolor, as much as 250 gram boiled in 1,200 mililitre of water, obtained from Gesing village of Banjar District of Buleleng Regency. While the sample of the study was spinach stew that has been given of six treatments that was kept for : 0 hours, 2 hours, 4 hours, 6 hours, 8 hours and 10 hours. The result of this study indicates that: (1) the lowest levels of oxalic acid contained in storage duration of 0 hours (P0) contained 94.85 ppm (2) The highest levels of oxalic acid contained in the stew resulted from the storage duration of 10 hours (P5) that is 301.77 ppm. (3) The storage duration affect the oxalic acid levels in spinach stew.keyword : storage duration, spinach stew, dissolved oxalic acid concentration
STUDI TENTANG KEANEKARAGAMAN DAN KEMELIMPAHAN ENDOPSAMMON PADA EKOSISTEM PADANG LAMUNDI TELUK TERIMA KAWASAN TAMAN NASIONAL BALI BARAT ., Serlis Nofiana Sari; ., Dr. Ida Bagus Jelantik Swasta,M.Si; ., Gede Ari Yudasmara, S.Si., M.Si.
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Padang lamun merupakan suatu ekosistem penting di wilayah pesisir yang memegang peran dalam melindungi garis pantai. Di dalam ekosistem ini terdapat komunitas endopsammon yang memiliki keanekaragaman dan kemelimpahan yang khas. Terkait dengan ragam dan kemelimpahan Endopsammon meka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) komposisi jenis Endopsammon pada Ekosistem Padang Lamun yang ada di Teluk Terima Kawasan Taman Nasional bali Barat, (2) indeks keanekaragaman Endopsammon pada Ekosistem Padang Lamun yang ada di Teluk Terima Kawasan Taman Nasional bali Barat, (3) kemelimpahan Endopsammon pada Ekosistem Padang Lamun di Teluk Terima kawasan Taman Nasional. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua Endopsammon yang hidup pada Padang Lamun di Teluk Terima Kawasan Taman Nasional Bali Barat, sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah sebagian Endopsammon yang terdapat di Teluk Terima Taman Nasional Bali Barat yang terperangkap dalam 15 core dan dipasang dibibir pantai wilayah tersebut. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: (1) komposisi spesies Endopsammon yang hidup pada Ekosisitem Padang Lamun di Teluk Terima kawasan Taman Nasional Bali Barat terdiri dari 877 spesies, (2) Indeks keanekaragaman spesies Endopsammon pada Ekosistem Padang Lamun di Teluk Terima kawasan Taman Nasional Bali Barat tergolong sedang yaitu sebesar 2,61, (3) kemelimpahan relatif tertinggi dimiliki oleh spesies Helycotylenchus sp. sebesar 17,67% dan kemelimpahan relatif terendah dimiliki oleh spesies Gonionemus sp. 0,34 %. Kata Kunci : Keanekaragaman, Kemelimpahan, Endopsammon, Lamun. Seagrass bed is important ecosystem in coastal area which hold important role to protect seacoast. This ecosystem have a specific diversity and abundance . Related to diversity and abundance endopsammon, the research aims to know: (1) the composition of endopsammon in seagrass ecosystem at Terima Bay Bali Barat National Park, (2) the diversity index of endopsammon in seagrass ecosystem at Terima Bay Bali Barat National Park, (3) the abundance of endopsammon in seagrass ecosystem at Terima Bay Bali Barat National Park. This was descriptive and explorative research. The population of this research was all of endopsammon which lived at Terima Bay Bali Barat National Park, and the sample of this research was half of endopsammon which lived at Terima Bay Bali Barat National Park that was caught in 15 core set in seashore at that area. The result of this research showed: (1) the species composition of endopsammon which lived in in seagrass ecosystem at Terima Bay Bali Barat National Park was 877 species, (2) The diversity index of endopsammon which lived in seagrass ecosystem at Terima Bay Bali Barat National Park was categorized in medium level 2.61, (3) the highest relative abundance was the species of Helycotylenchussp with value 17.67%, and the lowest relative abundance was the species of Gonionemussp with value 0.34%keyword : Diversity, abundance, endopsammon, and seagrass.