cover
Contact Name
I Made Oka Riawan
Contact Email
made.oka@undiksha.ac.id
Phone
+62362-23884
Journal Mail Official
jurdikbiologiundiksha@gmail.com
Editorial Address
Jalan Udayana, Kampus Tengah Undiksha, FMIPA. Singaraja-Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Biologi Undiksha
Jurnal Pendidikan Biologi adalah adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Pendidikan Ganesha. Jurnal ini bertujuan untuk mewadahi artikel-artikel hasil penelitian dan hasil pengabdian masyarakat dibidang pendidikan dan pembelajaran. Pada akhirnya Jurnal ini dapat memberikan deskripsi tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pendidikan bagi masyarakat akademik.
Articles 78 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2017)" : 78 Documents clear
ANALISIS KUALITAS AIR DI PERUMAHAN SEKITAR DAERAH PARIWISATA AIR TERJUN BLEMANTUNG DI DESA PUJUNGAN, TABANAN, BALI ., YULY SAFNA MEGAWATI; ., Prof. Dr. Nyoman Wijana,M.Si; ., Dr.I Gusti Agung Nyoman Setiawan, M.Si.
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1). Kualitas air di perumahan sekitar daerah pariwisata Air Terjun Blemantung Desa Pujungan, Tabanan, bali. Di tinjau dari parameter fisika dan kimia. (2). Kualitas air ditinjau dari jumlah total Coliform. Penelitian ini merupakan penelitian ekploriatif dengan populasi penelitian dalam penelitian ini adalah seluruh air di Perumahan sekitar Pariwisata Air Terjun Blemantung Desa Pujungan, Tabanan, Bali. Dan Sampel dari penelitian ini adalah air dari rumah nomer 5, rumah nomer 7, balai adat dan balai desa. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan sistematik sampling. Dalam penelitian ini kegiatan yang dilakukan, yaitu, (1). Pengukuran kualitas air di Lapangan, (2). Pengambilan sampel air untuk diuji di laboratorium. Data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukan, (1). Kualitas air diperumahan sekitar daerah pariwisata Air Terjun sesuai data dengan rerata pH 7,16. DO 8,37 mg/L. BOD1,45 mg/L.Timbal 0,0036 mg/L (2). Rerata Total coliform 4,77/100 ml. Simpulan yang diperoleh dari penelitian ini yakni,(1). Kualitas air di Perumahan sekitar Pariwisata Air Terjun Blemantang Tidak Tercemar. (2). Dengan Total coliform 4,77/100 ml menunjukan air dalam kategori baik dan tidak Tercemar. Kata Kunci : Kata kunci : kualitas air. perumahan, air terjun This study aims to find out: (1). Water quality in housing around the tourism area of Blemantung Waterfall in Pujungan Village, Tabanan, Bali. In terms of physical and chemical parameters. (2). Water quality in terms of the total amount of Coliform. This research is an explorative study with the research population in this study is all water in the housing around Tourism Blemantung Waterfall, Pujungan Village, Tabanan, Bali. And the samples from this study are water from house number 5, house number 7, traditional hall and village hall. Sampling technique using systematic sampling. In this study the activities carried out, namely, (1). Water quality measurement in the field, (2). Taking water samples to be tested in the laboratory. Data were analyzed descriptively. The results of this study show, (1). Water quality at home around the Waterfall tourism area fits the data with a mean pH of 7.16. DO 8.37 mg / L. BOD 1.45 mg / L. Lead 0.0036 mg / L (2). The mean total coliform is 4.77 / 100 ml. The conclusions obtained from this study are, (1). Water quality in housing around tourism Blemantang Waterfall is not polluted. (2). With a total coliform of 4.77 / 100 ml showing water in the good category and not polluted keyword : Keywords: water quality, housing, waterfall
ANALISIS VEGETASI DAN PENYUSUNAN KAMUS FLORISTIK SEPANJANG LINTASAN SINGARAJA-PENULISAN ., NI LUH SRI ARI SUKERTININGSIH; ., Dr.I Gusti Agung Nyoman Setiawan, M.Si.; ., Dr. Ni Luh Putu Manik Widiyanti, S.Si.,
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) komposisi floristik yang terdistribusi di sepanjang lintasan Singaraja-Penulisan; (2) indeks keanekaragaman tumbuhan yang ada di sepanjang lintasan Singaraja-Penulisan; dan (3) model kamus floristik yang tersusun dari hasil kajian. Jenis penelitian ini termasuk penelitian eksploratif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode line transect. Pengambilan sampel spesies tumbuhan dilakukan secara sistematik sampling. Teknik analisis data untuk menghitung keanekaragaman tumbuhan dengan menghitung nilai penting. Pembuatan kamus floristik menggunakan model ADDIE (Analysis, Development, Design, Implementation, Evaluation). Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) Komposisi floristik di sepanjang lintasan Singaraja-Penulisan terdiri dari 69 spesies tumbuhan yang termasuk ke dalam 39 familia. (2) Indeks keanekaragaman spesies tumbuhan secara keseluruhan memiliki rata-rata sebesar 2,83, termasuk ketegori sedang. (3) Model kamus yang dikembangkan pada penelitian ini adalah kamus floristik yang berisikan nama ilmiah, gambar, nama lokal, klasifikasi, dan deskripsi dari setiap spesies tumbuhan.Kata Kunci : komposisi floristik, keanekaragaman, kamus floristik This research purposes to know: (1) distributed floristic composition along the traffic line Singaraja-Penulisan; (2) out the indices of plant diversity that exist along the traffic line Singaraja-Penulisan; and (3) model of the floristic dictionary composed of the results of the study. This type of research belongs to explorative research. The method used in this research is line transect method. Sampling of plant species was conducted in a systematic sampling. Data analysis technique for calculating plant diversity. Creation of a floristic dictionary use the ADDIE model (Analysis, Development, Design, Implementation, Evaluation). The results of this study show: (1) The floristic composition along the Singaraja-Penulisan is 69 plant species originating from 39 family. (2) The overall species diversity index of 2.83, the value indicates that the index of diversity includes the moderate category. (3) The dictionary model developed in the study is a floristic dictionary containing scientific names, photo, local names, classifications, and descriptions of plant species.keyword : floristic composition, diversity, floristic dictionary
ANALISIS STRATIFIKASI, CROWN COVER, TEKSTUR TANAH, DAN KEMIRINGAN LAHAN UNTUK PENENTU TITIK RAWAN EROSI DI SEPANJANG JALAN SINGARAJA-PENULISAN ., NI KADEK LISMAYANI; ., Dr.I Gusti Agung Nyoman Setiawan, M.Si.; ., Dr. Ni Luh Putu Manik Widiyanti, S.Si.,
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah titik rawan erosi di sepanjang jalan Singaraja-Penulisan melalui analisis stratifikasi, crown cover, tekstur tanah, dan kemiringan lahan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh komponen vegetasi di sepanjang jalan-Singaraja-Penulisan. Sampel dalam penelitian ini adalah parameter vegetasi berupa stratifikasi, crown cover, tekstur tanah dan kemiringan lahan yang terdapat di sepanjang line transect. Jenis penelitian adalah penenelitian eksploratif, dengan rancangan penelitian lapangan. Metode pengambilan menggunakan metode line transect dengan panjang 100 meter dan interval 10 meter. Pengambilan data stratifikasi dan crown cover menggunakan metode kuadrat yang terdapat di sepanjang line transect. Pengambilan data tekstur tanah dilakukan pengambilan sampel utuh tanah, dan kemiringan lahan diukur dengan menggunakan hagameter. Data dianalisis secara statistik ekologi dan deskripstif. Hasil penelitian menunjukkan jumlah strata vegetasi terdiri dari 2 strata tergolong kualitas sedang, persentase crown cover sebesar 50,60% tergolong kualitas sedang, tekstur tanah didominasi oleh tanah berpasir tergolong kualitas buruk, dan kemiringan lahan sebesar 56,02% tergolong kategori curam. Jumlah titik rawan erosi di sepanjang jalan Singaraja-Penulisan dari 152 lokasi, 4 lokasi (2,63%) yang tergolong ke dalam kategori sangat rawan, 54 lokasi (35,53%) rawan, 49 lokasi (32,24%) cukup rawan, 33 lokasi (21,71%) kurang rawan, dan 12 lokasi (7,89%) yang tegolong kategori tidak rawan.Kata Kunci : Stratifikasi, Crown Cover, Tekstur Tanah, Kemiringan Lahan, Titik Rawan Erosi, Lintas Singaraja-Penulisan The purposes of this research were to know the total of determinants of erosion vulnerable point along Singaraja-Penulisan way through analysis stratification, crown cover, soil texture and land slope. The population in this research were all vegetation components along Singaraja-Penulisan way. Samples in this research were vegetation parameter in the form of stratification, crown cover, soil texture and land slope on line transect. The type of research was explorative research, with field research design. Method of taking data in this research used line transect method with length 100 meter and interval 10 meter. Data retrieval of stratification and crown cover used the quadratic method along line transect. Data retrieval of soil texture used intact soil sampling, and the slope of the land used a hagameter. Data were analyzed in ecological and descriptive statistics. The results showed number of stratification was 2 that catagorized into middle, the percentage of crown cover was 50,60% that catagorized into middle, soil texture dominated by soil with sandly texture that catagorized into bad and the slope of land was 56,02% that catagorized into craggy. The number of erosion vulnerable point of the 152 locations there were 4 locations (2.63%) included into highly vulnerable, 54 locations (35.53%) included intovulnerable, 49 locations (32.24%) included into quite vulnerable, 33 locations (21.71%) included into less vulnerable, and 12 locations (7.89%) included into not vulnerable categories.keyword : Stratification, crown cover, soil texture, land slope, erosion vulnerable point, Singaraja-Penulisan way.
STUDI TENTANG KEANEKARAGAMAN DAN KEMELIMPAHAN MOLUSKA BENTIK DAN FAKTOR-FAKTOR EKOLOGIS YANG MEMPENGARUHINYA DI PANTAI GEGER, SAWANGAN, BADUNG ., Kadek Pande Evi Enitasari; ., Prof. Dr. Ida Bagus Jelantik Swasta,M.Si; ., Dr.I Gusti Agung Nyoman Setiawan, M.Si.
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi, keanekaragaman, kemelimpahan dan faktor-faktor ekologis yang mempengaruhi kehidupan spesies Moluska bentik di Pantai Geger, Sawangan, Badung. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dan eksploratif, dengan menggunakan rancangan survei lapangan yaitu dengan pengamatan dan pencatatan hasil temuan di lapangan serta dilanjutkan dengan pengamatan di laboratorium. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh Moluska bentik yang hidup di Pantai Geger, Sawangan, Badung. Sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah jumlah Moluska bentik yang terdapat di dalam 15 kuadrat. Metode yang digunakan adalah metode kuadrat. Hasil penelitian menunjukkan (1) Komposisi spesies Moluska bentik yang ditemukan sebanyak 20 spesies dari 597 individu; (2) Nilai indeks ditemukan sebesar 1,98 yang dinyatakan dalam kategori sedang, nilai indeks kekayaan spesies sebesar 3,29 nilai tersebut masih tergolong kategori rendah, nilai indeks kemerataan spesies sebesar 0,66 dan nilai indeks dominansi sebesar 0,2; (3) Kemelimpahan relatif spesies Moluska bentik tertinggi dengan nilai sebesar 34,67% dimiliki oleh spesies Nerita albicilla dan kemelimpahan relatif terendah dimiliki oleh spesies Halotis asinina dengan nilai sebesar 0,17%, nilai kepadatan spesies tertinggi dengan nilai sebesar 13,80 ind/m² dimiliki oleh spesies Nerita albicilla dan nilai kepadatan spesies terendah dengan nilai sebesar 0,07 ind/m² dimiliki oleh Haliotis asinina; (4) Faktor ekologis yang mempengaruhi kehidupan Moluska bentik yaitu : sumber makanan, suhu, pH, salinitas dan kadar oksigen terlarut.Kata Kunci : Keanekaragaman, Kemelimpahan, Moluska Bentik This study aims to determine the composition, diversity, abundance and ecological factors that affect the life and species of benthic molluscs at Geger Beach, Sawangan, Badung. This research is a descriptive and explorative research, using field survey design with observation and recording of findings in field and continued with observation in laboratory. The population in this study is all benthic molluscs that live in the Coast Geger, Sawangan, Badung. While the sample in this study is the number of benthic molluscs contained in 15 squares. The method used is quadratic method. The results showed (1) Composition of benthic mollusc species found is 20 species from 597 individuals; (2) The index value was found to be 1.98 which is expressed in medium category, the value of species richness index of 3.29 value is still classified as low category, species fairness index value is 0,66 and value of dominance index is 0,2; (3) The relative abundance of the highest benthic mollusc species with a value of 34.67% is owned by the spesies Nerita albicilla and the lowest relative abundance is owned by the species of Halotis asinina with a value of 0.17%, the highest species density value with a value of 13.80 ind/m² is owned by Nerita albicilla and the lowest density of the species with a value of 0.07 ind/m² is owned by Haliotis asinina; (4) Ecological factors that affect the life of benthic mollusks are: food sources, temperature, pH, salinity and dissolved oxygen levels.keyword : Diversity, Abundance, Bentic Mollusc
PEMETAAN PENCARAN SPESIES TUMBUHAN BERGUNA DAN FISIOGNOMINYA DI ALAM ASLI DI DESA BALI AGA TENGANAN PEGRINGSINGAN, MANGGIS, KARANGASEM ., Ni Putu Febri Ardiantari; ., Prof. Dr.Ida Bagus Putu Arnyana, M.Si; ., Drs. Sanusi Mulyadiharja, M.Pd.
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) Peta pencaran spesies tumbuhan berguna di alam asli di Desa Bali Aga Tenganan Pegringsingan, Manggis, Karangasem. 2) Fisiognomi spesies tumbuhan berguna di alam asli di Desa Bali Aga Tenganan Pegringsingan, Manggis, Karangasem. Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksploratif. Populasi dalam penelitian ini meliputi dua aspek, yaitu aspek ekosistem dan aspek sosiosistem. Aspek ekosistem berupa seluruh spesies tumbuhan yang ada di wilayah kajian Hutan Bukit Kangin Desa Bali Aga Tenganan Pegringsingan, Manggis, Karangasem. Aspek sosiosistem meliputi seluruh aparat desa, tokoh masyarakat, dan masyaraat umum yang ada di Desa Bali Aga Tenganan Pegringsingan. Sampel dari aspek ekosistem (vegetasi) yang digunakan dalam penelitian ini meliputi tumbuhan berguna yang ada di Hutan Bukit Kangin Desa Bali Aga Tenganan Pegringsingan yang terbagi kuadrat 1x1 m2, 10x10 m2, dan 20x20 m2 sebanyak 65 kuadrat yang terbagi menjadi tiga zona. Sampel dari sosiosistem (kemasyarakatan) dalam penelitian ini adalah masyarakat Desa Bali Aga Tenganan Pegringsingan yang meliputi Perangkat Desa, Klian Desa, Balian, Tukang Banten, Tukang Kayu, Pengerajin, dan Masyarakat Umum. Metode pegumpulan data di lapangan menggunakan metode kuadrat dengan teknik samplingnya, yaitu systematic sampling. Untuk mengetahui peta pencaran spesies tumbuhan berguna dilakukan dengan pendataan spesies tumbuhan dengan menggunakan Global Positioning System (GPS) untuk menentukan letak tumbuhan. Sedangkan untuk fisiognomi spesies tumbuhan berguna menggunakan perhitungan nilai penting dan penggambaran spesies tumbuhan berguna berdasarkan kategori fisiognomi Danserau. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 1) Peta pencaran spesies tumbuhan berguna memiliki pola pencaran acak, mengelompok, dan teratur. 2) Fisiognomi spesies tumbuhan berguna terdiri tiga strata dan terdiri dari habitus berupa pohon, perdu, dan herba. Kata Kunci : Peta pencaran, fisiognomi, tumbuhan berguna This research aims to determine 1) Maps of useful plant species in natural origin in Bali Aga Tenganan Pegringsingan, Manggis, Karangasem Village. 2) Physiognomy of useful plant species in the native realm at Bali Aga Tenganan Pegringsingan Village, Manggis, Karangasem. This type of research is exploration research. The population in this research includes two aspects, namely the ecosystem aspect and the sociosystem aspect. Ecosystem aspects is all plant species in the area of Bukit Kangin Forest, Bali Aga Tenganan Pegringsingan, Manggis, Karangasem. The sociosystem aspect includes all village officials, community leaders, and the general public in the Bali Aga Tenganan Pegringsingan Village. Samples from ecosystem aspects (vegetation) used in this study include useful plants in Bukit Kangin Forest, Bali Aga Tenganan Pegringsingan Village which are divided into squares of 1x1 m2, 10x10 m2, and 20x20 m2 of 65 squares divided into three zones. The samples from the sociosystem (community) in this study were the villagers of Bali Aga Tenganan Pegringsingan which included Village Devices, Village Clans, Balian, Banten Builders, Carpenters, Craftsmen, and General Communities. Methods of data collection is uses a quadrate method with its sampling technique, namely systematic sampling. To find out the useful map of plant species distribution is done by collecting plant species by using the Global Positioning System (GPS) to determine the location of plants. While for the physiognomy of plant species it is useful to use the calculation of important values and the description of useful plant species based on Danserau's physiognomy category. The results of this study indicate that 1) Map of plant species distribution has a random, clustered, and regular pattern of scattering. 2) Physiognomy of useful plant species consists of three strata and consists of habitus in the form of trees, shrubs, and herbs.keyword : Distribution map, physiognomy, useful plants
ANALISIS KONSENTRASI EKSTRAK DAUN SEREH (Cymbopogon citratus) SEBAGAI PENGAWET ALAMI TAHU TERHADAP KADAR SERUM GLUTAMATE PYRUVATE TRANSAMINASE TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) ., Dewa Ayu Putu Inten Utari Dewi; ., Dr. Ni Luh Putu Manik Widiyanti, S.Si.,; ., Prof. Dr. Ni Putu Ristiati, M.Pd.
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis kadar Serum Glutamate Pyruvate Transaminase (SGPT) Rattus norvegicus galur Wistar jantan setelah diberikan tahu yang direndam menggunakan akuades, formalin dan ekstrak daun sereh dengan variasi konsentrasi 20%, 40%, dan 60% (2) mengetahui konsentrasi ekstrak daun sereh (Cymbopogon citratus) sebagai pengawet alami tahu yang menghasilkan kadar Serum Glutamate Pyruvate Transaminase (SGPT) terendah pada Rattus norvegicus galur Wistar jantan. Jenis penelitian ini adalah true experimental dengan desain the randomized posttest only control group design. Sampel yang digunakan adalah Rattus norvegicus galur Wistar jantan berjumlah 40 ekor yang dipilih dengan teknik simple random sampling. Pada penelitian ini terdapat kelompok kontrol positif (formalin), kelompok kontrol negatif (akuades), kelompok perlakuan ekstrak daun sereh 20%, 40% dan 60%. Pemberian pakan berupa pellet tahu dilakukan selama sebulan dengan dosis sebanyak 10% dari berat tubuh Rattus norvegicus dan pemberian air ad libitum. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) tidak terdapat perbedaan kadar SGPT Rattus norvegicus galur Wistar jantan setelah diberikan tahu yang direndam menggunakan akuades, formalin dan ekstrak daun sereh dengan variasi konsentrasi 20%, 40%, dan 60% (2) konsentrasi ekstrak daun sereh (Cymbopogon citratus) sebagai pengawet alami tahu yang menghasilkan kadar Serum Glutamate Pyruvate Transaminase (SGPT) terendah pada Rattus norvegicus galur Wistar jantan yaitu pada konsentrasi 40% dengan rerata kadar SGPT 12,928U/L. Kata Kunci : Ekstrak, daun sereh, tahu, serum glutamate pyruvate transaminase The purpose of this research were (1) analyzed levels of Serum Glutamate Pyruvate Transaminase (SGPT) Rattus norvegicus Wistar strain with male sex after given tofu was soaked using aquadest, formalin and lemongrass (Cymbopogon citratus) leaf extract with variation of concentration of 20%, 40%, and 60%. (2) to know the concentration of lemongrass leaf extract as a natural tofu preservative that produces lowest levels of Serum Glutamate Pyruvate Transaminase (SGPT) in Rattus norvegicus Wistar strain. The type of this research was true experimental with the design of the randomized posttest only control group design. The samples in this research were 40 Rattus norvegicus Wistar strain that selected by simple random sampling technique. In this research there were positive control group (formalin), negative control group (aquadest), treatment group of lemongrass leaf extract of 20%, 40% and 60%. The feeding of tofu pellet form done for a month with a dose of 10% of body weight Rattus norvegicus and provision of water ad libitum. The results of research had been done showed that. (1) there was no difference of SGPT Rattus norvegicus strain of Wistar strain after tofu was soaked using aquades, formalin and lemongrass leaf extract with concentration variation of 20%, 40%, and 60%. (2) concentration lemongrass leaf extract as a natural preservative of tofu resulting in the lowest serum Glutamate Pyruvate Transaminase (SGPT) level in Rattus norvegicus Wistar strain with male sex that was at concentration 40% with mean of SGPT level 12,928U / L keyword : Extract, Lemongrass leaf, tofu, serum glutamate pyruvate transaminase.
KONSENTRASI EKSTRAK ETANOL DAUN CEREMAI (Phyllanthus acidus (L.) Skeels) DAPAT MEMPERCEPAT PROSES PENYEMBUHAN LUKA BAKAR PADA MENCIT (Mus musculus) JANTAN ., Ib Dimas Mahendra Wijaya; ., Dr. Desak Made Citrawathi,M.Kes; ., Ni Putu Sri Ratna Dewi, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pemberian ekstrak daun ceremai (Phyllanthus acidus (L.) Skeels) mengakibatkan perbedaan kecepatan penyembuhan luka bakar pada mencit (Mus musculus) (2) mengetahui konsentrasi yang paling efektif menyembuhkan luka bakar pada mencit (Mus musculus) jantan. Penelitian ini berupa true experiment dengan rancangan randomized post test only control group design. Sampel dalam penelitian ini berupa 6 ekor mencit. Sampel dibagi menjadi 5 kelompok yaitu 1 kelompok kontrol dan 4 kelompok perlakuan dengan konsentrasi ekstrak etanol daun ceremai berturut-turut 1%, 3%, 5%, dan 7%. Data dianalisis dengan uji statistik, Kruskal Wallis dengan taraf signifikansi 5% dan uji lanjut Mann – Whitney. Hasil penelitian menunjukan ekstrak etanol daun ceremai mengakibatkan perbedaan kecepatan penyembuhan luka bakar setelah diberikan variasi konsentrasi 1%, 3%, 5%, dan 7%. Konsentrasi yang paling efektif dalam penyembuhan luka bakar adalah 1% karena merupakan konsentrasi paling kecil yang memiliki nilai berbeda nyata dengan kelompok kontrol. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak daun ceremai dapat mempercepat proses penyembuhan luka bakar.Kata Kunci : Daun Ceremai, Luka Bakar, Penyembuhan Luka The aim of this research is (1) to know the giving of etahnol otaheitei gooseberry leaf extract (Phyllanthus acidus (L.) Skeels) differences in healing rates time of burn on male mice (2) to know the most effective concentration in curing burn on male mice. This research is a true experiment with randomized post test only control group design. The sample of this research are 6 mice. The samples were divided into 5 groups: 1 control group and 4 treatment group with concentration of ceremai leaves were 1%, 3%, 5%, and 7%, respectively. The data were analyzed by statistic test, Kruskal Wallis with significance level of 5% and followed by Mann - Whitney test. The results showed that ethanol leaf extract of otaheitei gooseberry differences in healing rates of burns after given variations in concentrations of 1%, 3%, 5%, and 7%. The most effective concentration in burn wound healing is 1% because it is the smallest concentration that has significantly different values with the control group. Thus it can be concluded that giving ceremai leaf extraction can accelerate the healing process of burns.keyword : Otaheitei gooseberry leaves, Burn injury, Healing process
ANALISIS SPESIES TUMBUHAN LANGKA DAN KEBERMANFAATANNYA DI HUTAN PUAKAN DALAM RANGKA PENGEMBANGAN DAERAH TUJUAN WISATA DI DUSUN PUAKAN, DESA TARO ., I Gede Budiasa; ., Prof. Dr.Ida Bagus Putu Arnyana, M.Si; ., Prof. Dr. Nyoman Wijana,M.Si
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) jumlah spesies tumbuhan langka, (2) apakah yang termasuk tumbuhan langka, (3) bagaimana sebaran titik koordinat tumbuhan langka, dan (4) manfaat tumbuhan langka bagi masyarakat setempat yang ada di Dusun Puakan, Desa Taro. Jenis penelitian ini termasuk ke dalam penelitian eksploratif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua spesies tumbuhan langka yang tercover dalam kuadrat, yang ada di seluruh area Hutan Puakan dan populasi sosiosistem yaitu masyarakat Dusun Puakan, Desa Taro. Sementara sampel dalam penelitian ini adalah vegetasi spesies tumbuhan yang tercover oleh kuadrat dengan ukuran 10 x 10 meter sebanyak 45 kuadrat dan sampel sosiosistem sebanyak 15 orang yang terdiri atas Pengayah Banjar dan Prajuru sejumlah 5 orang, Kepala Desa dan Staf sejumlah 3 orang, tokoh Masyarakat sejumlah 2 orang, dan Masyarakat Umum sejumlah 5 orang. Data yang telah terkumpul lebih lanjut dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukan (1) secara keseluruhan ditemukan 24 spesies dari 12 familia sebaran tumbuhan langka dengan jumlah 112 individu yang ditemukan di wilayah Hutan Puakan, (2) tumbuhan langka yang ada di Hutan Puakan ini memiliki sebaran yang mengelompok dan acak, (3) sebaran titik kordinat tumbuhan langka terdapat 24 spesies tumbuhan langka dan 112 titik koordinat tumbuhan langka di 45 kuadrat di Hutan Puakan, (4) manfaat tumbuhan yang digunakan adalah sebagai papan 75%, rumah tangga 58%, obat 33,33%, upacara agama 29,16%, pangan 20,83%, dan sandang 4,16%. sedangkan bagian tumbuhan yang digunakan adalah batang 95,83%, daun 29,16%, buah 20,83%, bunga 12,5%, dan akarKata Kunci : Daerah Tujuan Wisata, Hutan Puakan, Sosiositem, Tumbuhan Langka The purpose of this research is to know (1) the number of rare plant species, (2) what are rare plants, (3) how the distribution of rare plant coordinate points, and (4) rare plant benefits for local people in Puakan Village, Taro Village. This research included in exploratory research. The population in this study were all rare plant species covered in quadrats, which existed throughout the Puakan Forest area and the sociosystem population of the Puakan Village, Taro Village. While the sample in this study is vegetation of plant species that covered by the square with the size of 10 x 10 meters as many as 45 squares and sociosystem samples as many as 15 people consisting of Pengayah Banjar and 5 Prajuru, 3 people consisting of community leader and staff, 2 public figures and the 5 public society. The data that has been collected were analyzed by descriptive analysis. The results of this study shows (1) overall found 24 species from 12 families of rare plant and 112 individuals found in the Puakan Forest area, (2) distribution of rare plants in Puakan Forest were clustered and random distribution, (3) distribution of rare plant point coordinates were found 24 species of rare plants and 112 rare plant point coordinates in 45 squares in Puakan forest (4) the benefits of plants that used for building as many as 75%, 58% for household, 33.33% for medicine, 29,16% for religious ceremony , 20,83 % for food, and for clothing 4.16%. While the parts of plants that used are stem 95.83%, leaves 29.16%, fruit 20.83%, flower 12.5%, and roots 0%keyword : Puakan Forest, Rare Plants, Sociosystem, Tourist Destination
Aktivitas Fisik Berorientasi Komponen Biomotorik dapat Mengurangi Sindrom Premenstruasi pada Siswi Kelas XII SMA Negeri 1 Kintamani ., Ni Kadek Mahigawati; ., Prof. Dr. I Made Sutajaya,M.Kes.; ., Dr. Desak Made Citrawathi,M.Kes
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sindrom premenstruasi merupakan keluhan menjelang menstruasi yang biasanya dimulai satu minggu sampai dengan beberapa hari sebelum menstruasi dan menghilang ketika menstruasi berlangsung. Salah satu faktor penyebab terjadinya sindrom premenstruasi adalah ketidakseimbangan antara hormon estrogen dan progesteron. Ada keterkaitan antara aktivitas fisik dalam penanggulangan sindrom premenstruasi karena mampu memicu produksi hormon endorfin yang berfungsi untuk mengatur keseimbangan hormon estrogen dan progesteron. Penelitian ini bertujuan (1) Mengetahui perbedaan sindrom premenstruasi pada siswi kelas XII antara sebelum dan sesudah dilakukan aktivitas fisik berorientasi komponen biomotorik dan (2) Mengetahui aktivitas fisik berorientasi komponen biomotorik dapat mengurangi sindrom premenstruasi pada siswi kelas XII. Jenis penelitian adalah eksperimen semu (quasi experimental) dengan desain pretest and posttest group design (treatment by subject design). Subjek dalam penelitian ini adalah siswi kelas XII yang berjumlah 68 orang yang mengalami sindrom premenstruasi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner sindrom premenstruasi dengan skala Likert. Data dianalisis dengan uji t-paired pada taraf signifikansi 5% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata sindrom premenstruasi periode I sebesar 103,77 dan rerata sindrom premenstruasi periode II sebesar 40,46. Melalui uji t-paired diketahui terjadi penurunan sindrom premenstruasi antara periode I dan periode II sebesar 61%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa aktivitas fisik dapat mengatasi sindrom premenstruasi secara bermakna (p < 0,05).Kata Kunci : sindrom premenstruasi, aktivitas fisik, biomotorik Premenstrual syndrome is premenstrual complaints that usually begins one week to a few days before menstruation and disappears when menstruation. It can be cause heppened because of the hormones estrogen and progesterone are not balance. There are relationship between of physical activity with prevention of premenstrual syndrome because it can appear the production of endorphins which can be make the balanced of the hormones estrogen and progesterone. This aims of this research were (1) determined the difference of premenstrual syndrome in female students of class XII between before and after doing physical activity oriented biomotoric component, and (2) determined the physical activity oriented biomotoric component can reduce premenstrual syndrome in female students of class XII. This research was quasi experimental design with pretest and posttest group design (treatment by subject design). The subjects of this research were female students of class XII which amounted to 68 people who experienced premenstrual syndrome. The instrument used in this research is the premenstrual syndrome questionnaire with Likert scale. The data was analyze with t-paired test at signigicance level of 5% (α = 0,05). The results showed that the mean premenstrual syndrome first period amounted to 103.77 and the mean premenstrual syndrome II period amounted to 40.46. Through t-paired known to decrease premenstrual syndrome between the first period and the second period was 61%. It can be concluded that physical activity can overcome premenstrual syndrome were significantly different (p
KAJIAN PEMANFAATAN TUMBUHAN LANGKA DI HUTAN ALAS KEDATON BERBASIS SOSIAL BUDAYA DESA KUKUH MARGA TABANAN ., I Gede Andy Wira Sanjaya; ., Prof. Dr. Nyoman Wijana,M.Si; ., Dr.I Gusti Agung Nyoman Setiawan, M.Si.
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) Spesies tumbuhan langka yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, (2) Cara pemanfaatan spesies tumbuhan langka berbasis sosial budaya, (3) Produk pemanfaatan dari spesies tumbuhan langka dan (4) Konservasi hutan adat yang berorientasi sosial budaya masyarakat setempat. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksploratif. Lokasi penelitian ini dilaksanakan di Hutan DTW Alas Kedaton Tabanan. Populasi dalam penelitian ini yaitu spesies tumbuhan yang terdapat di hutan DTW Alas Kedaton dan masyarakat setempat. Sampel dalam penelitian ini adalah spesies tumbuhan yang terdapat di hutan DTW Alas Kedaton yang tercakup oleh kuadrat dengan luas 20x20 m, sejumlah 55 kuadrat. Sampel untuk sosial budaya masyarakat setempat meliputi, komponen masyarakat sejumlah 30 orang. Metode dalam penelitian ini adalah metode kuadrat. Pengambilan data sosial budaya masyarakat mengenai pemanfaatan tumbuhan langka dan konservasi hutan adat menggunakan metode wawancara dan kuisioner. Data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukan (1) Ada sebanyak 56 spesies tumbuhan secara umum, dengan jumlah spesies tumbuhan langka bermanfaat sebanyak 40 spesies (71,5%). Pemanfaatan tumbuhan langka digunakan untuk bahan pangan (16,6%), papan (27,2%), obat (7,6%), industri (12,2%), rumah tangga (10,6%), upacara agama (21,2%) dan budaya (4,6%). Bagian-bagian tumbuhan yang dimanfaatkan untuk kebutuhan tersebut meliputi batang (40,9,%), daun (21,2%), buah (21,2%), biji (3,1%), bunga (3,1%), ranting (4,5%), kulit batang (4,5%) dan akar (1,5%). (2) Cara pemanfaatan tumbuhan langka oleh masyarakat setempat memiliki berbagai macam cara yang berbasis sosial budaya dengan teknik tradisional. (3) Produk pemanfaatan tumbuhan langka, diantaranya, olahan buah, bahan bangunan, kerajinan, pewarna makanan alami, bahan upakara/banten dan obat tradisional. (4) Konservasi hutan adat dilakukan dengan cara menerapkan konservasi partisipatif, kearifan lokal (sosial budaya), aspek agama dan kerpercayaan.Kata Kunci : Pemanfaatan Tumbuhan Langka, Sosial Budaya, Konservasi, Hutan Alas Kedaton The purpose of this research is to know (1) Rare plant species that can be utilized by the society, (2) How to use rare plant species based social-culture, (3) Product utilization of rare plant species and (4) Indigenous forest conservation oriented to social-culture of the local society. This type of research is exploratory research. The location of this research is conducted in DTW Alas Kedaton forest Tabanan. The population in this research is a species of plant in the forest DTW Alas Kedaton and local society. The sample in this research is a plant species in the forest DTW Alas Kedaton covered quadratic with an area of 20x20 m, a number of 55 quadratic. Samples for the social-culture of the society comprise a 30-person society component. The method in this research is the quadratic method. The collection of socio-cultural data on the utilization of rare plants and indigenous forest conservation using interviews and questionnaire methods. Data is analyzed descriptively. The results of this research show (1) There are a number of 56 species plants in general, with the number of rare plant species benefical 40 species (71.5%). The utilization of rare plant used for foodstuffs (16.6%), boards (27.2%), traditional medicine (7.6%), industry (12.2%), households (10.6%), religious ceremonies (21.2%) and culture (4.6%). Parts of plants that are utilized for these needs include stem (40.9,%), leaf (21.2%), fruit (21.2%), seed (3.1%), flower (3.1%), twig (4.5%), bark (4.5%) and roots (1.5%). (2) How to use rare plants by the local community has a variety of ways that are based on social-culture with traditional techniques. (3) The Product utilization of rare plant, among others, processed fruit, building materials, crafts, natural food coloring, material upakara/banten and traditional medicine. (4) The conservation of indigenous forests is carried out by implementing participatory conservation, local wisdom (socio-cultural), religious aspects and religious beliefs.keyword : The Utilization of Rare Plants, Socio-Cultural, Conservation, Alas Kedaton Forest