cover
Contact Name
I Made Oka Riawan
Contact Email
made.oka@undiksha.ac.id
Phone
+62362-23884
Journal Mail Official
jurdikbiologiundiksha@gmail.com
Editorial Address
Jalan Udayana, Kampus Tengah Undiksha, FMIPA. Singaraja-Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Biologi Undiksha
Jurnal Pendidikan Biologi adalah adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Pendidikan Ganesha. Jurnal ini bertujuan untuk mewadahi artikel-artikel hasil penelitian dan hasil pengabdian masyarakat dibidang pendidikan dan pembelajaran. Pada akhirnya Jurnal ini dapat memberikan deskripsi tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pendidikan bagi masyarakat akademik.
Articles 80 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 2 (2016)" : 80 Documents clear
PENGARUH PEMBERIAN BERBAGAI JENIS PAKAN TERHADAP LAJU METAMORFOSIS NGENGAT ATLAS (Attacus atlas L.) DI TAMAN KUPU-KUPU KEMENUH, GIANYAR A.A.Istri Paramita .; Dr. Ida Bagus Jelantik Swasta,M.Si .; Prof. Dr.Ida Bagus Putu Arnyana, M.Si .
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol. 3 No. 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpb.v3i2.8033

Abstract

Ngengat atlas kini sulit dijumpai di alam Bali. Hal tersebut disebabkan oleh proses perkawinan yang sulit terjadi, ancaman serangan predator, perubahan lingkungan, dan manusia. Dikhawatirkan ngengat atlas akan mengalami kepunahan, sehingga diperlukan usaha pelestarian. Pakan merupakan salah satu hal yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan, serta laju metamorfosis ngengat atlas. Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui perbedaan laju metamorfosis ngengat atlas dengan pemberian pakan yang berbeda dan (2) mengetahui jenis pakan yang mampu menghasilkan laju metamorfosis paling cepat. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental sungguhan dengan rancangan the posttes-only control group design. Pada penelitian ini menggunakan 30 sampel larva instar I. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan laju metamorfosis dengan pemberian pakan yang berbeda. Pakan daun dadap menghasilkan rerata laju metamorfosis paling cepat, yaitu 70,6 hari dengan rerata fase telur selama 10 hari, fase larva selama 32,2 hari, fase pupa selama 23 hari, dan fase imago selama 5,4 hari. Kata Kunci : laju metamorfosis, ngengat atlas, pakan Atlas moth is now difficult to find in nature Bali. This was caused by the mating process to be difficult, the threat of attack by predators, environmental change, and human.Atlas moth is feared to be extinct, so that the necessary conservation efforts. Feed is one of the things that affect growth and development, as well as the rate of metamorphosis moth atlas. This study aims to (1) determine differences in the rate of metamorphosis moth atlas with different feeding and (2) determine the type of feed that can produce the most rapid rate of metamorphosis. This research is a real experimental design with the posttes-only control group design. In this study using 30 samples instar larvae I. Based on the results of the study indicate differences in rates of metamorphosis by feeding different. Feed leaves dadap produce the fastest average rate of metamorphosis, ie 70.6 days with a mean egg phase for 10 days, 32.2 days during the larval stage, pupa for 23 days, and the imago phase for 5.4 days.keyword : metamorphosis rate, atlas moth, feed
VARIASI INTENSITAS CAHAYA MENGAKIBATKAN PERBEDAAN KECEPATAN REGENERASI SIRIP KAUDAL IKAN CUPANG (Betta splendens) DIPELIHARA DI RUMAH KOS Bimbi Inggayuing Gumilang .; Drs.I Ketut Artawan,M.Si .; Dr. Ni Luh Putu Manik Widiyanti,S.Si,M .
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol. 3 No. 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpb.v3i2.8034

Abstract

Ikan cupang (Betta splendens) merupakan ikan yang memiliki tingkah laku unik yaitu bertarung. Perilakunya ini menyebabkan sirip indahnya terutama sirip bagian kaudalnya rentan megalami kerusakan.Sirip ikan mewakili vertebrata yang unik dengan kemampuan spektakuler untuk regenerasi berbagai organ setelah cedera traumatis. Salah satu faktor yang mempengaruhi regenerasi adalah intensitas cahaya. Dengan memberikan perlakuan lampu led merk “Opple” pada empat taraf yang berbeda yaitu intensitas cahaya 0 Lux (tanpa lampu), 3 watt (65 Lux), 6 Watt (90 Lux), dan 8 Watt (117 Lux) dapat diketahui adanya perbedaan kecepatan pertumbuhan dilihat dari panjang akhir sirip kaudal setelah 28 hari diamputasi dan perbedaan struktur anatominya. Jenis penelitian yaitu RAL. Sampel yang digunakan sebanyak 24 ikan cupang. Data menunjukkan rata-rata panjang siripakhir kaudal setelah 28 hari secara berurutan yaitu 1,10 cm, 1,16 cm, 1,28 cm, 1,35 cm pada intensitas cahaya 0 Lux, 65 Lux, 90 Lux, dan 117 Lux. Berdasarkan hasil uji ANAVA One Way menunjukkan bahwa nilai p sebesar 0,0001 sehingga nilai p < 0,05 yang berarti bahwa H1 yang menyatakan Terdapat perbedaan regenerasi pada sirip kaudal ikan cupang (Betta splendens) pada intensitas cahaya yang berbeda dilihat dari panjang akhir sirip kaudal selama 28 hari pengamatan diterima. Struktur anatomi sirip kaudal mengalami perbedaan setelah 28 hari diamputasi terutama pada bentuk akhir dan pigmentasinya. Berdasarkan penelitian ini, disimpulkan bahwaada perbedaan intensitas cahaya terhadap kecepatan regenerasi sirip kaudal ikan cupang (Betta splendens) dilihat dari panjang akhir sirip kaudal setelah 28 hari diamputasi, regenerasi paling cepat pada perlakuan 90 Lux, dan ada perbedaan struktur anatomi sirip kaudal ikan cupang (Betta splendens).Kata Kunci : kecepatan regenerasi, struktur anatomi, ikan cupang, intensitas cahaya BBetta fish (Bettasplendens) is a fish that has a unique behavior called fight. This behavior causes the beautiful fin particularly damage especially the caudal fin. Fin of fish represent unique vertebrate with a spectacular ability to regenerate different organs after traumatic injury. One of the factors that affect the regeneration is the intensity of light. By providing treatment led lights brand "Opple" at four different levels, namely the light intensity 0 Lux (without lights), 3 watt (65 Lux), 6 Watt (90 Lux), and 8 Watt (117 Lux) can know the difference in speed growth seen from the long end of the caudal fin after 28 days amputated and anatomic structure differences. This type of research is true experiment with RAL research design. The samples used were 24 betta fish. Data shows the average length of caudal fin end after 28 consecutive days ie 1.10 cm, 1.16 cm, 1.28 cm, 1.35 cm at 0 Lux light intensity, 65 Lux 90 Lux and 117 Lux. Based on the results of One Way ANOVA showed that the p value of 0.0001 so that the value of p
VARIASI INTENSITAS CAHAYA MENGAKIBATKAN PERBEDAAN KECEPATAN REGENERASI SIRIP KAUDAL IKAN CUPANG (Betta splendens) DIPELIHARA DI RUMAH KOS Bimbi Inggayuing Gumilang .; Drs.I Ketut Artawan,M.Si .; Dr. Ni Luh Putu Manik Widiyanti,S.Si,M .
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol. 3 No. 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpb.v3i2.8035

Abstract

Ikan cupang (Betta splendens) merupakan ikan yang memiliki tingkah laku unik yaitu bertarung. Perilakunya ini menyebabkan sirip indahnya terutama sirip bagian kaudalnya rentan megalami kerusakan.Sirip ikan mewakili vertebrata yang unik dengan kemampuan spektakuler untuk regenerasi berbagai organ setelah cedera traumatis. Salah satu faktor yang mempengaruhi regenerasi adalah intensitas cahaya. Dengan memberikan perlakuan lampu led merk “Opple” pada empat taraf yang berbeda yaitu intensitas cahaya 0 Lux (tanpa lampu), 3 watt (65 Lux), 6 Watt (90 Lux), dan 8 Watt (117 Lux) dapat diketahui adanya perbedaan kecepatan pertumbuhan dilihat dari panjang akhir sirip kaudal setelah 28 hari diamputasi dan perbedaan struktur anatominya. Jenis penelitian yaitu RAL. Sampel yang digunakan sebanyak 24 ikan cupang. Data menunjukkan rata-rata panjang siripakhir kaudal setelah 28 hari secara berurutan yaitu 1,10 cm, 1,16 cm, 1,28 cm, 1,35 cm pada intensitas cahaya 0 Lux, 65 Lux, 90 Lux, dan 117 Lux. Berdasarkan hasil uji ANAVA One Way menunjukkan bahwa nilai p sebesar 0,0001 sehingga nilai p < 0,05 yang berarti bahwa H1 yang menyatakan Terdapat perbedaan regenerasi pada sirip kaudal ikan cupang (Betta splendens) pada intensitas cahaya yang berbeda dilihat dari panjang akhir sirip kaudal selama 28 hari pengamatan diterima. Struktur anatomi sirip kaudal mengalami perbedaan setelah 28 hari diamputasi terutama pada bentuk akhir dan pigmentasinya. Berdasarkan penelitian ini, disimpulkan bahwaada perbedaan intensitas cahaya terhadap kecepatan regenerasi sirip kaudal ikan cupang (Betta splendens) dilihat dari panjang akhir sirip kaudal setelah 28 hari diamputasi, regenerasi paling cepat pada perlakuan 90 Lux, dan ada perbedaan struktur anatomi sirip kaudal ikan cupang (Betta splendens).Kata Kunci : kecepatan regenerasi, struktur anatomi, ikan cupang, intensitas cahaya BBetta fish (Bettasplendens) is a fish that has a unique behavior called fight. This behavior causes the beautiful fin particularly damage especially the caudal fin. Fin of fish represent unique vertebrate with a spectacular ability to regenerate different organs after traumatic injury. One of the factors that affect the regeneration is the intensity of light. By providing treatment led lights brand "Opple" at four different levels, namely the light intensity 0 Lux (without lights), 3 watt (65 Lux), 6 Watt (90 Lux), and 8 Watt (117 Lux) can know the difference in speed growth seen from the long end of the caudal fin after 28 days amputated and anatomic structure differences. This type of research is true experiment with RAL research design. The samples used were 24 betta fish. Data shows the average length of caudal fin end after 28 consecutive days ie 1.10 cm, 1.16 cm, 1.28 cm, 1.35 cm at 0 Lux light intensity, 65 Lux 90 Lux and 117 Lux. Based on the results of One Way ANOVA showed that the p value of 0.0001 so that the value of p
STUDI PENGELOLAAN SAMPAH MENGGUNAKAN POLA 4R (REUSE, REDUCE, RECYCLE, REMOVE) DI KAWASAN WISATA LOVINA Hema Alini Manihuruk .; Prof. Dr.Ida Bagus Putu Arnyana, M.Si .; Dr. I Wayan Sukra Warpala,S.Pd,M.Sc .
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol. 3 No. 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpb.v3i2.8036

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) pelaksanaan pola 4R dalam pengelolaan sampah di kawasan wisata Lovina, (2) peran masyarakat dalam pelaksanaan pengelolaan sampah menggunakan pola 4R di kawasan wisata Lovina, (3) kendala-kendala yang dialami oleh masyarakat dalam pelaksanaan pengelolaan sampah menggunakan pola 4R di kawasan wisata Lovina. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian evaluasi. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang menjadi penghasil sampah di kawasan wisata Lovina. Sampel penelitian ini adalah 25 orang dari pedagang, 25 orang dari pengusaha, 25 orang dari pengunjung dan 25 orang dari penduduk setempat. Pengambilan sampel dilakukan berdasarkan pada kemerataan setiap sampel. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi, wawancara, kuesioner, dan kajian pustaka. Data yang telah terkumpul menggunakan kuesioner selanjutnya dianalisis menggunakan Skala Likert. Hasil penelitian ini menunjukkan (1) dalam pelaksanaan pola 4R dalam pengelolaan sampah di kawasan wisata Lovina masyarakat lebih memilih menggunakan Remove (hasil persentase 25,84%), (2) hasil analisis kuesioner menunjukkan bahwa 79,79% responden menjawab setuju pada pernyataan-pernyataan kuesioner yang berarti masyarakat ikut berperan dalam pelaksanaan pengelolaan sampah menggunakan pola 4R di kawasan wisata Lovina, (3) kendala-kendala yang dialami oleh masyarakat adalah keterbatasan alat, kurangnya sosialisasi dari pemerintah setempat, dan kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan.Kata Kunci : 4R, Kawasan Wisata Lovina, Pengelolaan Sampah This study aims to determine(1) 4R pattern implementation in waste management in the tourist area Lovina, (2) the role of the community in the implementation of waste management using 4R pattern in the tourist area of Lovina,(3) constraints experienced by the community in the implementation of waste management using 4R pattern in the tourist area Lovina. This type of research is research evaluation. The population in this study are all people who become waste producer in the tourist area Lovina. The sample was 25 people from merchants, 25 people from employers, 25 people from visitors and 25 people from the local population. Sampling was done based on the equity of each sample. The data collection is done by using the method of observation, interviews, questionnaires, and literature review. The collected data was then analyzed using a questionnaire using Likert Scale. The results of this study indicate (1) in the implementation of the 4Rs patterns in waste management in the tourist area Lovina communities prefer to use the Remove (the percentage of 25.84%), (2) the results of questionnaire analysis showed that 79.79% of respondents agreed to the statements questionnaire which means the community had a role in the implementation of waste management using 4R pattern in the tourist area of Lovina, (3) the constraints experienced by the public is of limited equipment, lack of socialization of the local government, and public awareness of environmental cleanliness.keyword : 4R, the tourist area of Lovina, Waste Management
KAJIAN ANATOMI TANGKAI DAUN ECENG GONDOK (Eichhornia crassipes (Mart.) Solms) SEBAGAI BAHAN KERAJINAN ANYAMAN SERTA ANALISIS KELAYAKANNYA SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN ANATOMI TUMBUHAN Adi Purusha Das .; Prof. Dr. Putu Budi Adnyana, M.Si .; Dr. Ni Luh Putu Manik Widiyanti,S.Si,M .
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol. 3 No. 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpb.v3i2.8053

Abstract

Eceng gondok (Eichhornia crassipes (Mart.) Solms) merupakan salah satu gulma air tawar (fresh aquatic weeds). Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan anatomi tangkai daun eceng gondok yang digunakan sebagai bahan kerajinan anyaman; (2) menganalisis kelayakan preparat awetan eceng gondok yang digunakan sebagai kerajinan anyaman sebagai media pembelajaran anatomi tumbuhan. Manfaat dari penelitian ini adalah (1) menambah wawasan dalam ilmu pengetahuan tentang anatomi tumbuhan khususnya pada tangkai daun eceng gondok.; (2) hasil kajian ini dapat dimanfaatkan sebagai analisis penilaian kelayakan preparat awetan sebagai media pembelajaran Biologi dalam bidang Anatomi Tumbuhan; (3) meningkatkan keterampilan dalam teknik laboratorium; (4) menghasilkan preparat awetan yang dapat digunakan dalam praktikum mata kuliah Anatomi Tumbuhan; (5) menjadikan salah satu acuan atau bahan perbandingan bagi orang lain dalam penyusunan karya ilmiah; (6) meningkatkan keterampilan dalam menganalis media pembelajaran Anatomi Tumbuhan. Jenis penelitian ini adalah deskripif. Metode pembuatan preparat sayatan dengan menggunakan prosedur Sass (1958). Epidermis tersusun rapat berlapis satu. Parenkim bagian dalam membentuk parenkim udara atau aerenkim. Ditemukan sklereid dengan ujung meruncing jari-jarinya berada di dalam ruang sel parenkim. Tipe berkas pembuluh adalah kolateral tertutup. Xilem membentuk saluran udara yang disebut lakuna. Penebalan dinding pada kolenkim yang terdapat pada tangkai daun eceng gondok adalah kolenkim angular. Dinding sel kolenkim tampak seperti mutiara dan cerah berkilauan. Sel-sel kolenkim berkumpul membentuk ketebalan dengan empat sampai delapan lapisan. 8 Preparat awetan eceng gondok dinyatakan sangat layak sedangkan 2 dinyatakan layak sebagai media pembelajaran.Kata Kunci : Anatomi, Eceng gondok, Media pembelajaran, Preparat Water hyacinth (Eichhornia crassipes (Mart.) Solms) is one of fresh aquatic weeds. This research aims to (1) describe the anatomy of water hyacinth petiole that used as a material woven crafts; (2) analyze the properness of preserved preparations the water hyacinth that used as a material woven crafts as learning media of plant anatomy. The benefits of this research are (1) increase the knowledge of the plant anatomy especially in water hyacinth petiole; (2) this study result can be used as Biology learning media in plant anatomy field; (3) increasing the skill in laboratory technic; (4) producing preserved preparations can be used in practical subjects of plant anatomy; (5) as a reference or example for others in the preparation of scientific papers; (6) improving learning skills in analyzing media Anatomy of Plants. Type of this research is descriptive. Methods of making preparations incision using a Sass procedure (1958). The epidermis compact single layered. Inner part parenchyma forming the air parenchymal or aerenchyma. The scelerid found with sharpe shape in corner, the middle part was inside the parenchyma cells. Vessel s type are closed collateral. Xylem formed airways that called Lacunae. Wall thickening of the collenchyma type is angular. Collenchyma cell wall looks like a bright pearl and sparkling and make four until eight layers. Eight preserved preparations of water hyacinth that very properly declared while two preserved preparations that properly declared.keyword : Anatomy, Learning media, Preparations, Water hyacinth
Keanekaragaman Jenis Tumbuhan Lumut (Bryophyta) Di Hutan Wisata Dasong, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng I Gede Eka Saputra .; Dr.I Gusti Agung Nyoman Setiawan,M.Si .; Dr. I Wayan Sukra Warpala,S.Pd,M.Sc .
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol. 3 No. 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpb.v3i2.8054

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) komposisi spesies tumbuhan lumut (Bryophyta) di Hutan Wisata Dasong dan (2) besar indeks keanekaragaman jenis tumbuhan lumut (Bryophyta) di Hutan Wisata Dasong. Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksploratif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh tumbuhan lumut (Bryophyta) di Hutan Wisata Dasong. Sampel dalam penelitian ini adalah tumbuhan lumut di Hutan Wisata Dasong yang tercakup oleh 30 titik sampel yang terbagi dalam tiga wilayah (bawah, tengah dan atas). Metode sampling yang digunakan adalah metode line transect. Untuk mengetahui komposisi spesies dilakukan penghitungan jumlah individu dan densitas relatif masing-masing spesies, sedangkan untuk menghitung keanekaragaman jenis menggunakan Indeks Simpson. Komposisi spesies tumbuhan lumut yang ditemukan terdiri atas 13 spesies dari 8 famili dengan total 851 individu. Pada Zona I spesies dengan densitas relatif tertinggi adalah Cryptodicranum armitii (27,50%), sedangkan yang terendah adalah Trismegistia sp. (2,14%). Pada Zona II spesies dengan densitas relatif tertinggi adalah Hypnum ichnotocladum (19,08%), sedangkan yang terendah adalah Bryohumbertia walkeri (2,83%). Pada Zona III spesies dengan densitas relatif tertinggi yaitu Hypnum plumaeforme (26,74%), sedangkan yang terendah adalah Pyrrobryum spiniforme (1,39%). Secara keseluruhan spesies yang memiliki densitas relatif tertinggi adalah Hypnum plumaeforme (18,80%), sedangkan yang terendah adalah Bazzania sp. (1,06%). Indeks keanekaragaman tumbuhan lumut pada Zona I indeks keanekaragaman sebesar 0,4583, pada Zona II indeks keanekaragaman sebesar 0,6019, dan pada Zona III indeks keanekaragaman sebesar 0,5641. Indeks keanekaragaman tumbuhan lumut secara keseluruhan adalah sebesar 0,8783 dengan kategori tinggi.Kata Kunci : Keanekaragaman Spesies, Komposisi Jenis, Lumut (Bryophyta) This research aim to know: (1) the species composition of moss (Bryophytes) in Dasong Tourism Forest and (2) species diversity index of moss (Bryophytes) in Dasong Tourism Forest. This research is an exploratory research. The population in this study were all moss in Dasong Tourism Forest. The sample in this research is a moss in Dasong Tourism Forest that covered by 30 sample points are divided into three areas (Zone I, Zone II and Zone III). The sampling method used is the line transect method. To determine the species composition is by count the number of individuals and the relative density of each species, while for calculating species diversity using Simpson index. The species composition of moss that found consists of 13 species of 8 family with a total of 851 individuals. In Zone I species with the highest relative density is Cryptodicranum armitii (27,50%), whereas the lowest was Trismegistia sp. (2,14%). In Zone II species with the highest relative density is Hypnum ichnotocladum (19,08%), whereas the lowest was Bryohumbertia walkeri (2,83%). In Zone III species with the highest relative density is Hypnum plumaeforme (26,74%), whereas the lowest was Pyrrobryum spiniforme (1,39%). Overall species with the highest relative density is Hypnum plumaeforme (18,80%), and the lowest was Bazzania sp. (1,06%). Moss diversity index in Zone I the diversity index is 0,4583, in Zone II the diversity index is 0,6019, and in Zone III the diversity index is 0,5641. In generally the moss diversity index is 0,8783 with a high category.keyword : Species Diversity, Species Composition, Moss (Bryophytes)
EFEKTIVITAS EKSTRAK TIGA VARIETAS JAHE (Zingiber sp.) SEBAGAI PENGAWET ALAMI TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI PEMBUSUK HASIL ISOLASI DARI IKAN MUJAIR (Oreochromis mossambicus) Gusti Ayu Putri Ariyanti .; Drs.I Ketut Artawan,M.Si .; Dr. Ni Luh Putu Manik Widiyanti,S.Si,M .
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol. 3 No. 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpb.v3i2.8055

Abstract

Terdapat tiga varietas jahe yaitu jahe merah, jahe emprit, dan jahe gajah. ketiga varietas jahe ini dapat digunakan sebagai pengawet karena adanya kandungan polifenol seperti Gingerol, Shogaol, dan Zingiberen sebagai zat antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan daya hambat, efektivitas germisida, interaksi masing-masing ekstrak ketiga varietas jahe dengan variasi konsentrasi 5%, 15%, dan 30%, dan mengidentifikasi karakteristik genus yang berhasil ditemukan pada isolasi bakteri dari ikan mujair. Jenis penelitian adalah penelitian eksperimental sungguhan dengan menggunakan desain penelitian Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan penempatan sampel pola faktorial 3x3. Data yang diperoleh berupa rerata diameter zona hambatan pertumbuhan bakteri ikan mujair yang dianalisis menggunakan ANOVA (Analysis of Variance) two ways dengan taraf signifikansi p < 0,05. Hasil yang diperoleh adalah ekstrak jahe merah membentuk diameter zona hambat terbesar dibandingkan dengan jahe emprit dan jahe gajah. Jahe merah dan jahe emprit lebih efektif sebagai germisida dibandingkan jahe gajah. Adanya perbedaan diameter zona hambat pertumbuhan isolat bakteri dari ikan mujair akibat dari interaksi ketiga varietas jahe dengan konsentrasi ketiga varietas jahe. Genus bakteri yang ditemukan adalah bakteri Citrobacter, Escherichia, dan Pseudomonas. Hal ini disebabkan karena jahe merah memiliki kandungan senyawa polifenol lebih banyak dibandingkan dua varietas lainnya.Kata Kunci : Jahe, Pengawet Alami, Bakteri Pembusuk, dan Ikan Mujair. There are three variants of ginger, they are Zingiber officinale var. rubrum, Zingiber officinale var. amarum, zingiber officinale var. officinale. These variants of ginger can be used as preservative because there is polyphenol as antibacterial substance. The purpose of research are to knowing the difference of inhibition ability, germicidal effectiveness, interactions each three varieties of ginger extracts with varying concentrations of 5%, 15% and 30%, and identify the characteristics of the genus have been found on the bacteria isolation of tilapia fish. The kind of this research is experiment research that use Complete Random Design (CRD) with a 3x3 factorial design sample placement. The data obtained in diameter mean inhibition zone of bacteria growth of tilapia fish were analyzed using ANOVA two ways with a significance level of p < 0,05. The results are Zingiber officinale var. rubrum formed the largest diameter of inhibition zone compared the other two varieties, Zingiber officinale var. rubrum and Zingiber officinale var. amarum more effective as germicide than Zingiber officinale var. officinale, the difference of the growth diameter of inhibition zone of bacterial isolates from tilapia fish as a result of the interaction between the three varieties of ginger with a concentration of the three ginger varieties, the bacteria genus that found are Citrobacter, Escherichia, and Pseudomonas. This is caused by the polyphenol compound which is more substantial in Zingiber officinale var. rubrum.keyword : Ginger, Natural preservative, Bacteria decay, and Tilapia fish.
PERUBAHAN STRUKTUR VEGETASI PADA EKOSISTEM TEREUTROFIKASI DI DANAU BUYAN, DESA PANCASARI, KECAMATAN SUKASADA, KABUPATEN BULELENG Ni Made Dwi Sintya Prabayanthi .; Prof. Dr.Ida Bagus Putu Arnyana, M.Si .; Prof. Dr. Nyoman Wijana,M.Si .
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol. 3 No. 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpb.v3i2.8056

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) Struktur vegetasi pada ekosistem tereutrofikasi di kawasan Danau Buyan, dan (2) Kualitas air Danau Buyan dilihat dari kandungan Nitrat dan Phospat yang terkandung di dalamnya. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksploratif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh vegetasi tumbuhan air di perairan yang mengalami eutrofikasi. Metode yang digunakan dalam pengambilan data di lapangan adalah dengan menggunakan metode kuadrat. Teknik pengambilan sampel adalah dengan sistematik sampling. Data dianalisis secara statistik ekologi dan deskriptif. Hasil penelitian menunjukan (1) Struktur vegetasi pada ekosistem tereutrofikasi berdasarkan tiga parameter yaitu indeks keanekaragaman; indeks similaritas dan indeks dissimilaritas nilai penting spesies; serta persentase kehadiran spesies menunjukan adanya perubahan struktur vegetasi. (2) Kadar Nitrat dalam air Danau Buyan rata-rata menunjukan kadar yang rendah, sedangkan kadar phospat dalam air Danau Buyan rata-rata menunjukan kadar yang tinggi.Kata Kunci : Perubahan, Struktur Vegetasi, Ekosistem Tereutrofikasi, Danau Buyan The research objectives are (1) Vegetation structure of eutrophic ecosystem on Lake Buyan. (2) Water quality from Nitrate and Phosphate concentration on Lake Buyan. This research is a kind of exploratory research. The population in the study are all of the aquatic weeds vegetation in the eutrophic area. The methode used in collecting data in the field is quadrate methode.Technical sampling used systematic sampling. The data was analyzed by ecology statistic and descriptive. The result of this research are (1) The structure of vegetation on the eutrophic ecosystems based on three parameters, namely diversity index; similarity and dissimilarity index of species important value; and the percentage of species shows the changes in vegetation structure. (2) The concentration of Nitrate in the water of Lake Buyan on average indicates low levels, while the concentration of phosphate in the water of Lake Buyan on average showed higher levels.keyword : The Change, Vegetation Structure, Eutrophic Ecosystem, Lake Buyan
MUSIK TRADISIONAL MENINGKATKAN MOTIVASI DAN KEGAIRAHAN BELAJAR IPA KELAS VII SMPN 5 SINGARAJA Tia Nur Rosita .; Prof. Dr. I Made Sutajaya,M.Kes. .; Dra.Desak Made Citrawathi,M.Kes .
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol. 3 No. 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpb.v3i2.8058

Abstract

Penelitian ini bertujuan: (1) untuk mengetahui musik tradisional meningkatkan motivasi belajar IPA siswa kelas VII SMP Negeri 5 Singaraja; dan (2) untuk mengetahui musik tradisional meningkatkan kegairahan belajar IPA siswa kelas VII SMP Negeri 5 Singaraja. Jenis penelitian ini adalah Quasi Eksperimen dengan rancangan penelitian Posttest Only Control Group Desain. Populasi penelitian ini adalah seluruh kelas VII SMP N 5 Singaraja. Sampel diambil dengan teknik simple group random sampling dan diperoleh 2 kelas dengan jumlah sampel sebanyak 63 siswa. Data yang dikumpulkan adalah data primer (menayakan langsung kepada responden) yaitu dengan menggunakan lembar kuesioner dengan jumlah pernyataan sebanyak 20 butir. Teknik analisis data dilakukan dengan uji statistik t independent test. Pengujian hipotesis dilakukan pada taraf signifikansi 5%. Hasil analisis data menunjukkan bahwa (1) musik tradisional dapat meningkatkan motivasi belajar IPA siswa kelas VII sebesar 4,7 % dengan nilai p yang diperoleh sebesar 0,005 (p
STUDI TENTANG KEANEKARAGAMAN DAN KEMELIMPAHAN ENDOPSAMMON PADA EKOSISTEM PADANG LAMUNDI TELUK TERIMA KAWASAN TAMAN NASIONAL BALI BARAT Serlis Nofiana Sari .; Dr. Ida Bagus Jelantik Swasta,M.Si .; Gede Ari Yudasmara, S.Si., M.Si. .
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol. 3 No. 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpb.v3i2.8086

Abstract

Padang lamun merupakan suatu ekosistem penting di wilayah pesisir yang memegang peran dalam melindungi garis pantai. Di dalam ekosistem ini terdapat komunitas endopsammon yang memiliki keanekaragaman dan kemelimpahan yang khas. Terkait dengan ragam dan kemelimpahan Endopsammon meka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) komposisi jenis Endopsammon pada Ekosistem Padang Lamun yang ada di Teluk Terima Kawasan Taman Nasional bali Barat, (2) indeks keanekaragaman Endopsammon pada Ekosistem Padang Lamun yang ada di Teluk Terima Kawasan Taman Nasional bali Barat, (3) kemelimpahan Endopsammon pada Ekosistem Padang Lamun di Teluk Terima kawasan Taman Nasional. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua Endopsammon yang hidup pada Padang Lamun di Teluk Terima Kawasan Taman Nasional Bali Barat, sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah sebagian Endopsammon yang terdapat di Teluk Terima Taman Nasional Bali Barat yang terperangkap dalam 15 core dan dipasang dibibir pantai wilayah tersebut. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: (1) komposisi spesies Endopsammon yang hidup pada Ekosisitem Padang Lamun di Teluk Terima kawasan Taman Nasional Bali Barat terdiri dari 877 spesies, (2) Indeks keanekaragaman spesies Endopsammon pada Ekosistem Padang Lamun di Teluk Terima kawasan Taman Nasional Bali Barat tergolong sedang yaitu sebesar 2,61, (3) kemelimpahan relatif tertinggi dimiliki oleh spesies Helycotylenchus sp. sebesar 17,67% dan kemelimpahan relatif terendah dimiliki oleh spesies Gonionemus sp. 0,34 %. Kata Kunci : Keanekaragaman, Kemelimpahan, Endopsammon, Lamun. Seagrass bed is important ecosystem in coastal area which hold important role to protect seacoast. This ecosystem have a specific diversity and abundance . Related to diversity and abundance endopsammon, the research aims to know: (1) the composition of endopsammon in seagrass ecosystem at Terima Bay Bali Barat National Park, (2) the diversity index of endopsammon in seagrass ecosystem at Terima Bay Bali Barat National Park, (3) the abundance of endopsammon in seagrass ecosystem at Terima Bay Bali Barat National Park. This was descriptive and explorative research. The population of this research was all of endopsammon which lived at Terima Bay Bali Barat National Park, and the sample of this research was half of endopsammon which lived at Terima Bay Bali Barat National Park that was caught in 15 core set in seashore at that area. The result of this research showed: (1) the species composition of endopsammon which lived in in seagrass ecosystem at Terima Bay Bali Barat National Park was 877 species, (2) The diversity index of endopsammon which lived in seagrass ecosystem at Terima Bay Bali Barat National Park was categorized in medium level 2.61, (3) the highest relative abundance was the species of Helycotylenchussp with value 17.67%, and the lowest relative abundance was the species of Gonionemussp with value 0.34%keyword : Diversity, abundance, endopsammon, and seagrass.