cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
putuayub.simpson@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat
ISSN : 25487868     EISSN : 25487558     DOI : https://doi.org/10.46445/ejti
Core Subject : Religion,
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat menitikberatkan pada penyampaian informasi hasil penelitian, analisa konseptual dan kajian dalam bidang Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat oleh para sivitas akademika internal dan eksternal STT Simpson Ungaran dengan rasio 30:70. Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat terbit dua kali dalam setahun yaitu bulan Januari (Batas penerimaan naskah pada bulan Oktober) dan Juli (Batas penerimaan naskah pada bulan Mei). Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat telah terdaftar pada Google Schoolar, BASE (Bielefeld Academic Search Engine), One Search. ISSN 2548-7868 (cetak), 2548-7558 (online)
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2018): Juli" : 9 Documents clear
Implikasi Hermeneutis Membaca Injil-Injil Kanonik Sebagai Tulisan Biografi Yunani-Romawi Herry Susanto
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 2, No 2 (2018): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (82.736 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v2i2.110

Abstract

Herry Susanto, The Hermeneutical Implication of Reading the Canonical Gospels as Greco-Roman Biographical Writing. Historical method and narative criticism are the two approaches that have become important tools in exegetical work of canonical Gospels. Both have given important contribution, however the two approaches have inadequacies. The historical approach depends on external data, and narrative criticism tends to treat the Gospel texts as modern narratives. In the subsequent development of studies on the canonical Gospels, it has been found some significant similarities between the Gospels and Greco-Roman biographical writings. This writing observes three similarities, namely the format of content, focus of story and purpose. The content of Greco-Roman biography, mostly narrates the public work or ministry of the main character. The same thing is found on the Gospels. Likewise, the focus of story that orients to one main character and the purpose of authorship that has rhetorical and persuasive element. The similarities indicate that the canonical Gospels may be categorized as Greco-Roman biographical genre. Certainly, it has hermeneutical implication. The Gospels should be read in accordance with its genre. Herry Susanto, Implikasi Hermeneutis Membaca Injil-Injil Kanonik sebagai Tulisan Yunani-Romawi. Metode historis dan kritik naratif merupakan dua pendekatan yang telah menjadi alat penting dalam karya eksegesa Injil-Injil kanonik. Keduanya telah memberi kontribusi penting, namun dua pendekatan tersebut memiliki kelemahan. Pendekatan historis bergantung pada data eksternal, dan kritik naratif cenderung memperlakukan teks-teks Injil sebagai naratif modern. Dalam perkembangan selanjutnya studi terhadap Injil-Injil kanonik, didapati kesamaan-kesamaan yang signifikan antara kitab-kitab Injil dengan tulisan biografi Yunani-Romawi. Tulisan ini melihat tiga kesamaan, yaitu format isi, fokus cerita dan tujuan. Isi biografi Yunani-Romawi, sebagian besar menceritakan karya atau pelayanan publik tokoh utama. Hal yang sama dijumpai pada kitab-kitab Injil. Demikian juga dengan fokus cerita yang berorientasi kepada satu tokoh utama dan tujuan penulisan yang memiliki unsur retoris dan persuasif. Kesamaan-kesamaan ini tentu mengindikasikan bahwa Injil-Injil kanonik dapat dikategorikan bergenre biografi Yunani-Romawi. Ini tentu memiliki implikasi hermeneutis. Kitab-kitab Injil harus dibaca sesuai dengan genrenya tersebut.
KETIKA ALLAH "DIAM": ANALISIS RETORIKA AYUB 39:4-15 Arif Wicaksono
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 2, No 2 (2018): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.588 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v2i2.100

Abstract

Arif Wicaksono, When God Is "Silent": Analysis of Rhetoric Job 39: 4-15. While referring to the contemplation of life's struggles, the book of Job is often one of the best stories in strengthening the faith of the congregation. Unfortunately, some approaches to the strengthening of faith in the book of Job take only in the first and second chapters, then immediately look at the last chapter of this book. It is rare to find the discussions touching the dialogs contained in the middle of this book. But if we want to look closely, the dialogues between Job and his friends, Job with God and God's answer to Job give a lot of life values about how believers should behave in temptation. This paper has a purpose to present one the topic of contemplation drawn from the dialogue between God and Job when God posed rhetorical questions to Job. The approach used in studying texts is a literal context approach with the aim of exploring the meaning of every word in Hebrew and the context that influences the text. What is to be expected in this discussion is that the reader can understand God's providence for the temptations his people experience in the rhetorical question raised to Job. Arif Wicaksono, Ketika Allah "Diam": Analisis Retorika Ayub 39:4-15. Saat memberikan rujukan perenungan terhadap pergumulan hidup, sering kali kitab Ayub dijadikan salah satu kisah terbaik dalam menguatkan iman jemaat. Sayangnya beberapa pendekatan  terhadap penguatan iman dari kitab Ayub hanya mengambil dalam pasal pertama dan kedua kemudian meloncat pada pasal terakhir dari kitab ini. Jarang sekali pembahasan-pembahasan menyentuh dialog-dialog yang terdapat dalam bagian tengah dari kitab Ayub.Padahal jika mau melihat dengan baik dialog-dialog antara Ayub dan teman-temanya, Ayub dengan Tuhan dan jawaban Tuhan kepada Ayub memberikan banyak sekali nilai-nilai kehidupan tentang bagaimana seyogyanya orang percaya bersikap dalam pencobaan.Tulisan ini memiliki tujuan untuk megetengahkan salah satu topic perenungan yang terambil dari dialog antara Allah dengan Ayub saat Allah mengajukan pertanyaan-pertanyaan retorik kepada Ayub. Pendekatan yang dipakai dalam menelaah teks menggunakan pendekatan literal konteks, dengan tujuan menggali makna dari setiap kata dalam bahasa Ibrani dan konteks yang mempengaruhi teks.Diharapkan dalam pembahasan ini pembaca dapat memahami pemeliharaan Allah atas pencobaan yang dialami umat-Nya dalam pertanyaan retorik yang disampaikan kepada Ayub.
KETELADANAN KEPEMIMPINAN YESUS DAN IMPLIKASINYA BAGI KEPEMIMPINAN GEREJA PADA MASA KINI K Katarina; Krido Siswanto
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 2, No 2 (2018): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.548 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v2i2.102

Abstract

Katarina & Krido Siswanto, Exemplary Leadership of Jesus and Its Implications for Church Leadership In Today. This paper is an analysis of the exemplary leadership of Jesus and its implications in the present. The author conducts literature research by looking at the principles of Jesus' leadership in the four Gospels, then finding the implications. From the results of the study, the Bible shows that Jesus is a figure who can be an example to his community and the example of his leadership is still relevant to Christian leadership today. The Bible shows that there are at least four areas of exemplary leadership of Jesus: the character of Jesus in leading, the spirituality of Jesus in leading, the management of Jesus in leading, and the ministry of Jesus in leading. Katarina & Krido Siswanto, Keteladanan Kepemimpinan Yesus dan Implikasinya Bagi Kepemimpinan Gereja Pada Masa Kini. Tulisan ini merupakan analisis tentang keteladanan kepemimpinan Yesus dan implikasinya pada masa kini. Penulis melakukan penelitian literatur dengan mencermati prinsip kepemimpinan Yesus dalam keempat Injil, kemudian menemukan implikasinya. Dari hasil penelitian, Alkitab menunjukkan bahwa Yesus adalah sosok yang dapat menjadi teladan bagi komunitas-Nya dan keteladanan kepemimpinan-Nya masih relevan dengan kepemimpinan Kristen pada masa kini. Alkitab menunjukkan paling tidak ada empat bidang keteladanan kepemimpinan Yesus, yaitu: karakter Yesus dalam memimpin, kerohanian Yesus dalam memimpin, manajemen Yesus dalam memimpin, dan pelayanan Yesus dalam memimpin.
Mendisiplin Anak Menurut Prinsip Kristen Ayang Emiyati
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 2, No 2 (2018): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (68.385 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v2i2.109

Abstract

Ayang Emiyati, Disciplining Children According to Christian Principles. This article describes the treatment of disciplining children in Christian principles. To explain about disciplining children in the Christian principle, the author do literature review which then arranged systematically according to the construction of the concept of the author builds. Discipline is essentially necessary in the education of the child, only disciplinary action requires a wisdom and a love. Violent treatments are not the only way of discipline and discipline is not violence. Some things to consider in implementing discipline are to give priority to love in discipline, to use advises as a way of educating children, praying to surrender children to God, and make a beating as the last way in disciplining children.  Ayang Emiyati, Mendisiplin Anak Menurut Prinsip Kristen. Artikel ini memaparkan tentang tindakan mendisiplin anak dalam prinsip Kristen. Untuk memaparkan tentang mendisiplin anak dalam prinsip Kristen, penulis melakukan kajian literatur yang kemudian disusun secara sistematis sesuai konstruksi konsep yang penulis bangun. Disiplin pada intinya diperlukan dalam pendidikan anak, hanya tindakan mendisiplin memerlukan suatu hikmat dan adanya kasih.  Tindakan kekerasan bukanlah jalan satu-satunya dalam mendisiplin dan disiplin bukanlah suatu kekerasan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan disiplin adalah mengutamakan kasih dalam mendisiplin, memakai nasihat sebagai jalan yang dalam mendisiplin anak, doakan dan serahkan anak tersebut pada Tuhan, dan jadikan pukulan sebagai jalan terakhir dalam mendisiplin.
Perwujudan Kasih Setia Allah Terhadap Kesetiaan Rut Shintia Maria Kapojos; Hengki Wijaya
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 2, No 2 (2018): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (61.056 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v2i2.107

Abstract

Shintia Maria Kapojos, Hengki Wijaya, This paper aims to explain the manifestation of God's loyal love for Ruth who is faithful to her father-in-law, Naomi. The method used is the interpretation of the Old Testament narrative. Through this paper, the author will focus on Ruth's loyalty to Naomi as a manifestation of God's allegiance to man. This Old Testament narrative addresses explicitly the theme of Ruth's loyal love for Naomi and its theological and practical implications for believers to manifest God's loving kindness to others. Shintia Maria Kapojos, Hengki Wijaya, Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan perwujudan kasih setia Allah kepada Rut yang setia kepada mertuanya, Naomi. Metode yang digunakan adalah penafsiran narasi Perjanjian Lama. Melalui tulisan ini, penulis akan fokus kepada kesetiaan Ruth kepada Naomi sebagai manifestasi kesetiaan Allah kepada manusia. Narasi Perjanjian Lama ini secara khusus membahas tema kasih setia Ruth kepada Naomi dan implikasi teologis dan praktisnya bagi orang percaya untuk memanifestasikan kasih setia Tuhan kepada orang lain.
Dewan Redaksi dan Daftar Isi Volume 2, Nomor 2, Juli 2018 I Putu Ayub Darmawan
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 2, No 2 (2018): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11.968 KB)

Abstract

Kateketika Dalam Sejarah Pemikiran Pedagosis Kristen Jefrie Walean
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 2, No 2 (2018): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (72.573 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v2i2.108

Abstract

Jefrie Walean, Chateketic in history idea Christian Pedagogic. Christian history idea is effort place idea in large of time. Certain to get understanding holistict belived Christian from history idea in the end placed a number of idea which tell as reference doctrine from some church a period history. Christian idea not become property writer of the bible apostles also pater of church but Christian property. Christian idea which concutrently stay in work idea generate way of maner different approach one with otherno wonder that history idea christian write down so munch thinker christian as long as to detected. Clear that,core of Christian ides is human relation with God influence Jesus Christ. Telling about the Christian pedagogic, not realese upon Christian religion didactic. Jefrie Walean, Kateketika Dalam Sejarah Pemikiran Pedagogis Kristen. Sejarah pemikiran Kristen adalah usaha menempatkan peristiwa, ide dalam kurun waktu tertentu untuk mendapatkan pemahaman holistik terhadap apa yang diyakini orang Kristen dari masa kemasa. Sejarah pemikiran Kristen pada akhirnya menempatkan sejumlah ide yang dikemukakan sebagai acuan doktrin dari beberapa gereja masa kini.Sejarah pemikiran Kristen tidak menjadi milik para penulis Alkitab, para rasul serta bapa-bapa gereja, melainkan milik orang Kristen. Pemikiran yang secara bersamaan berada dalam pemikiran dunia menimbulkan cara pandang yang berbeda satu dengan yang lain. Tidak heran bahwa sejarah pemikiran Kristen menuliskan begitu banyak pemikir Kristen sepanjang masa, baik yang terdeteksi maupun yang tidak.Yang jelas bahwa inti pemikiran Kristen adalah hubungan manusia dengan Allah melalui Yesus Kristus. Berbicara tentang semua lingkup pengajaran Kristen, maka tidak lepas dari konsep pendidikan agama Kristen.
Indeks Subjek, Penulis, Mitra Bestari Volume 2 Tahun 2018 I Putu Ayub Darmawan
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 2, No 2 (2018): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13.495 KB)

Abstract

PENGAJARAN TUHAN YESUS MENGENAI BERBAHAGIA DALAM MATIUS 5:3-12 Yohanes Enci Patandean
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 2, No 2 (2018): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.972 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v2i2.103

Abstract

Yohanes Enci Patandean, Preaching the Lord Jesus to be blessed in Matthew 5: 3-12. This article discusses the preaching of the Lord Jesus concerning of blessing in Matthew 5: 3-12 and analyzed there are three points to be analyzed, that is the understanding of blessing, blessing objects/goals and the reasons why should be blessed. The method that used is descriptive with a qualitative approach to the biblical text, and word analysis methods. In the text of Matthew 5: 3-12, Jesus teaches about blessed which includes the standard of living of the blessed people and the reasons why believers should be blessed. Jesus gives the preaching of blessing which includes the standard of living of a happy person is poor before God; mourning; gentle; hunger and thirst for righteousness; generous; sacred heart; bring peace; persecuted by righteousness; blemished and persecuted for Christ; and slandered all evil. Yohanes Enci Patandean, Pengajaran Yesus Mengenai Berbahagia Dalam Matius 5:3-12. Artikel ini membahas tentang pengajaran Tuhan Yesus mengenai berbahagia dalam Matius 5:3-12 dan dianalisis ada tiga hal pokok yang menjadi analisis yaitu pengertian berbahagia, sasaran/objek berbahagia serta alasan-alasan mengapa harus berbahagia. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif pada teks Alkitab, dan metode analisis kata. Dalam teks Matius 5:3-12, Yesus memberikan pengajaran mengenai berbahagia yang mencakup standar hidup orang-orang yang berbahagia serta alasan-alasan mengapa orang-orang percaya harus berbahagia.Yesus memberikan pengajaran mengenai berbahagia yang mencakup standar hidup orang-orang yang berbahagia dan standar hidup orang yang berbahagia ialah miskin di hadapan Allah; berdukacita; lemah lembut; lapar dan haus akan kebenaran; murah hatinya; suci hatinya; membawa damai; dianiaya oleh sebab kebenaran; dicela dan dianiaya karena Kristus; difitnahkan segala yang jahat.

Page 1 of 1 | Total Record : 9