cover
Contact Name
Irfan Noor
Contact Email
albanjari@uin-antasari.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
irfannoor@uin-antasari.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman
ISSN : 14129507     EISSN : 25276778     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
AL-BANJARI merupakan Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman yang diterbitkan oleh Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin sebagai media penuangan dan pengkajian karya ilmiah dalam bidang studi Islam. Jurnal ini terbit secara berkala dua kali dalam setahun (Januari dan Juli)
Arjuna Subject : -
Articles 18 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 1 (2012)" : 18 Documents clear
KEPERCAYAAN MASYARAKAT BANJAR TERHADAP BULAN SAFAR: Sebuah Tinjauan Psikologis Mubarak, Siti Faridah dan
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 11, No 1 (2012)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.697 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v11i1.417

Abstract

Bulan Safar adalah salah satu bulan dalam Kalender Hijriyah, Bulan Safar sebenarnya bulan biasa. Tidak terdapat keistemewaan atau kesialan di bulan itu. Kepercayaan akan adanya kesialan di bulan Safar sudah ada pada bangsa Arab sejak zaman Jahiliyah. Faktor yang mendasari sebagian masyarakat Banjar mempercayai dan melaksanakan amaliah tertentu di bulan Safar berdasarkan keterangan dari kitab-kitab ulama terdahulu yang disampaikan oleh para tokoh agama sehingga terjadi proses sugesti dan peniruan perilaku (modelling). Tradisi tersebut diwariskan turun temurun hingga sekarang. Motivasi dan tujuannya adalah untuk memperoleh keselamatan dan menhindari kesialan.
PRAKTEK JUAL SANDA DALAM MASYARAKAT PETANI DI HULU SUNGAI TENGAH Hafizah, Yulia
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 11, No 1 (2012)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.157 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v11i1.418

Abstract

Tulisan ini melakukan kajian terhadap praktek jual sanda dalam masyarak Banjar di Hulu Sungai. Praktek ini marak dilakukan sebagai bagian dari mekanisme masyarakat petani, khususnya yang berdomisili di Hulu Sungai Tengah dalam mengatasi persoalan ekonomi yang mereka hadapi. Temuan peneliti menjelaskan bahwa, meski terdapat persoalan hukum, baik dilihat dari kacamata hukum positif dan hukum Islam, praktek jual sanda tetap menjadi pilihan masyarakat. Adanya ketidakmampuan bank dan koperasi dalam menjangkau kebutuhan masyarakat menjadi salah satu penyebab dari tetap langgengnya praktek ini. Pertimbangan agama, tidaklah berlaku dalam masyarakat adat, yang walaupun semua pihak yang bertransaksi memiliki pengetahuan yang cukup dalam agama Islam. Mengutip teori rasionalitas praktisnya Max Weber yang memandang bahwa segala aktivitas manusia yang ada di dunia ini selalu dikaitkan dengan pragmatis dan egoitis, maka praktek ini dapat dipahami, yaitu kedua pihak menginginkan kemudahan dan kepraktisan. Kemudian adanya pihak yang berkuasa (superior) menindak pihak yang lemah.
MEMBANGUN KARAKTER PENDIDIKAN PERSPEKTIF PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN DALAM BUDAYA MASYARAKAT BANJAR Buseri, Kamrani
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 11, No 1 (2012)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.756 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v11i1.413

Abstract

Tulisan ini bermaksud melakukan eksplorasi terhadap upaya membangun karakter pendidikan perspektif pendidik dan tenaga kependidikan dalam budaya masyarakat Banjar. Para ulama, tuan guru, guru, ustaz dan lainnya berperan dalam mengembangkan pola pendidikan sepanjang sejarah masyarakat Banjar. Bangunan karakteristik pendidikan yang terus menerus selalu ada sepanjang sejarah ialah pendidikan keislaman, mengingat Islam merupakan identitas masyarakat Banjar. Penyesuaian dengan tuntutan keadaan selalu menjadi kebijakan pendidikan masyarakat Banjar. Hal tersebut diperkuat oleh banyaknya ulama yang berlatar belakang pendidikan luar negeri yang sangat mempengaruhi modernitas pendidikan di masyarakat Banjar. Sesuai sejarah perkembangan awal masyarakat Banjar, ulama sebagai pendidik sekaligus sebagai juru dakwah merupakan kompetensi ganda bagi pendidik yang seharusnya menjadi karakter pendidik hingga saat ini. Lembaga pendidikan selain misi mendidik juga misi dakwah. Pada situasi tertentu pendidik juga dibenarkan terjun ke dunia politik dengan tujuan utama memperkuat pendidikan masyarakat dan bangsa
ADAT BADAMAI MENURUT UNDANG-UNDANG SULTAN ADAM DAN IMPLEMENTASINYA PADA MASYARAKAT BANJAR PADA MASA MENDATANG Hasan, Ahmadi
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 11, No 1 (2012)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.419 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v11i1.414

Abstract

Adat badamai adalah salah satu bentuk penyelesaian sengketa yang lazim dilakukan oleh masyarakat Banjar. Adat badamai bermakna pula sebagai hasil proses perembukan atau musyawarah dalam pembahasan bersama dengan maksud mencapai suatu keputusan sebagai penyelesaian dari suatu masalah. Adat badamai merupakan nilai-nilai yang hidup pada masyarakat. Nilai-nilai adat badamai danggap penting sebagai bagian dari budaya yang dari waktu ke waktu mengalami proses pasang surut dan pasang naik. Terutama ketika berhadapan dengan perubahan dan modernisasi. Adat badamai menggambarkan budaya timur yang akrab dengan nilai-nilai atau pandangan masyarakat yang bercirikan solidaritas mekanis, dalam kondisi seperti ini adat badamai fungsional dan sangat tepat sebagai mekanisme solutif dalam menyelesaikan berbagai masalah dalam msyarakat.
TRADISI BAHILAH PADA MASYARAKAT BANJAR PAHULUAN Abidin, Muhammad Zainal
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 11, No 1 (2012)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.645 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v11i1.415

Abstract

Tulisan ini bermaksud mengekplorasi suatu tradisi yang biasa dilakukan dalam masyarakat Banjar Pahuluan dalam upacara kematian, yakni bahilah. Tradisi ini tetap lestari sebagai bagian ritual yang dilakukan pada masyarakat di sana. Fenomena ini unik mengingat bahilah dari sudut pandang mazhab syafiie yang notabene mazhab utama yang diikuti oleh masyarakat di sana adalah sesuatu yang diharamkan. Namun, dengan alasan mazhab Hanafi membolehkan, maka praktek ini kemudian dilestarikan. Fenomena perpindahan mazhab inilah yang kemudian menjadi isu menarik untuk dikupas. Karena ternyata dalam keberagamaan masyarakat Banjar, khususnya di pahuluan relatif ada fleksibilitas ketika berhdapan dengan sesuatu yang mendasar dalam kebudayaan Banjar, yakni penghormatan dan kebaktian terhadap leluhur. Inilah sejatinya ajaran dasar keyakinan lokal yang tetap ada, meski kemudian datang agama-agama luar seperti Hindu, Budha, Kristen, dan Islam.
TRADISI BAAYUN MULUD DI BANJARMASIN Norhidayat, Maimanah dan
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 11, No 1 (2012)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.703 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v11i1.416

Abstract

Tulisan ini mendeskripsikan tentang tradisi baayun mulud yaitu salah satu tradisi lokal yang bernuansa religius di kalangan masyarakat Banjar. Dengan melakukan pengamatan langsung di dua tempat serta wawancara langsung terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan ini, yaitu: di Makam Sultan Suriansyah Kecamatan Banjarmasin Utara Kota Banjarmasin dan Mesjid Jami Teluk Dalam Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin, maka dapat ditegaskan bahwa meskipun terlihat jelas adanya unsur-unsur budaya pra-Islam dalam pelaksanaan tradisi baayun mulud ini, namun dari sisi yang lain justru menunjukkan karakter khas dari sebuah proses islamisasi di tengah-tengah masyarakat Banjar, di mana kedatangan Islam tidaklah membabat habis seluruh tradisi lokal yang pernah ada di tengah-tengah masyarakat, melainkan menjadi ruh bagi tradisi yang dipandang masih layak dipertahankan dan banyak mengandung nilai-nilai positif
ADAT BADAMAI MENURUT UNDANG-UNDANG SULTAN ADAM DAN IMPLEMENTASINYA PADA MASYARAKAT BANJAR PADA MASA MENDATANG Hasan, Ahmadi
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 11, No 1 (2012)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.419 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v11i1.414

Abstract

Adat badamai adalah salah satu bentuk penyelesaian sengketa yang lazim dilakukan oleh masyarakat Banjar. Adat badamai bermakna pula sebagai hasil proses perembukan atau musyawarah dalam pembahasan bersama dengan maksud mencapai suatu keputusan sebagai penyelesaian dari suatu masalah. Adat badamai merupakan nilai-nilai yang hidup pada masyarakat. Nilai-nilai adat badamai danggap penting sebagai bagian dari budaya yang dari waktu ke waktu mengalami proses pasang surut dan pasang naik. Terutama ketika berhadapan dengan perubahan dan modernisasi. Adat badamai menggambarkan budaya timur yang akrab dengan nilai-nilai atau pandangan masyarakat yang bercirikan solidaritas mekanis, dalam kondisi seperti ini adat badamai fungsional dan sangat tepat sebagai mekanisme solutif dalam menyelesaikan berbagai masalah dalam msyarakat.
TRADISI BAHILAH PADA MASYARAKAT BANJAR PAHULUAN Abidin, Muhammad Zainal
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 11, No 1 (2012)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.645 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v11i1.415

Abstract

Tulisan ini bermaksud mengekplorasi suatu tradisi yang biasa dilakukan dalam masyarakat Banjar Pahuluan dalam upacara kematian, yakni bahilah. Tradisi ini tetap lestari sebagai bagian ritual yang dilakukan pada masyarakat di sana. Fenomena ini unik mengingat bahilah dari sudut pandang mazhab syafiie yang notabene mazhab utama yang diikuti oleh masyarakat di sana adalah sesuatu yang diharamkan. Namun, dengan alasan mazhab Hanafi membolehkan, maka praktek ini kemudian dilestarikan. Fenomena perpindahan mazhab inilah yang kemudian menjadi isu menarik untuk dikupas. Karena ternyata dalam keberagamaan masyarakat Banjar, khususnya di pahuluan relatif ada fleksibilitas ketika berhdapan dengan sesuatu yang mendasar dalam kebudayaan Banjar, yakni penghormatan dan kebaktian terhadap leluhur. Inilah sejatinya ajaran dasar keyakinan lokal yang tetap ada, meski kemudian datang agama-agama luar seperti Hindu, Budha, Kristen, dan Islam.
TRADISI BAAYUN MULUD DI BANJARMASIN Norhidayat, Maimanah dan
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 11, No 1 (2012)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.703 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v11i1.416

Abstract

Tulisan ini mendeskripsikan tentang tradisi baayun mulud yaitu salah satu tradisi lokal yang bernuansa religius di kalangan masyarakat Banjar. Dengan melakukan pengamatan langsung di dua tempat serta wawancara langsung terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan ini, yaitu: di Makam Sultan Suriansyah Kecamatan Banjarmasin Utara Kota Banjarmasin dan Mesjid Jami Teluk Dalam Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin, maka dapat ditegaskan bahwa meskipun terlihat jelas adanya unsur-unsur budaya pra-Islam dalam pelaksanaan tradisi baayun mulud ini, namun dari sisi yang lain justru menunjukkan karakter khas dari sebuah proses islamisasi di tengah-tengah masyarakat Banjar, di mana kedatangan Islam tidaklah membabat habis seluruh tradisi lokal yang pernah ada di tengah-tengah masyarakat, melainkan menjadi ruh bagi tradisi yang dipandang masih layak dipertahankan dan banyak mengandung nilai-nilai positif
KEPERCAYAAN MASYARAKAT BANJAR TERHADAP BULAN SAFAR: SEBUAH TINJAUAN PSIKOLOGIS Mubarak, Siti Faridah dan
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 11, No 1 (2012)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.697 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v11i1.417

Abstract

Bulan Safar adalah salah satu bulan dalam Kalender Hijriyah, Bulan Safar sebenarnya bulan biasa. Tidak terdapat keistemewaan atau kesialan di bulan itu. Kepercayaan akan adanya kesialan di bulan Safar sudah ada pada bangsa Arab sejak zaman Jahiliyah. Faktor yang mendasari sebagian masyarakat Banjar mempercayai dan melaksanakan amaliah tertentu di bulan Safar berdasarkan keterangan dari kitab-kitab ulama terdahulu yang disampaikan oleh para tokoh agama sehingga terjadi proses sugesti dan peniruan perilaku (modelling). Tradisi tersebut diwariskan turun temurun hingga sekarang. Motivasi dan tujuannya adalah untuk memperoleh keselamatan dan menhindari kesialan.

Page 1 of 2 | Total Record : 18