Articles
18 Documents
Search results for
, issue
"Vol 12, No 1 (2013)"
:
18 Documents
clear
NALAR KEISLAMAN URANG BANJAR
Noor, Muhammad Iqbal
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 12, No 1 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (282.423 KB)
|
DOI: 10.18592/al-banjari.v12i1.455
Tulisan ini membicarakan tentang perkembangan nalar keislaman urang Banjar dengan menggunakan pendekatan sejarah dan filsafat. Diawali dengan pengenalan terhadap nalar keislaman dan urang Banjar sebagai obyek dan subyek pembahasan. Kemudian dilanjutkan dengan mengungkapkan perkembangan nalar keagamaan dan nalar keislaman urang Banjar secara historis dan filosofis. Dalam tulisan ini diungkapkan bahwa nalar keagamaan pra-Islam yang bersifat mitis berkembang menjadi nalar keislaman mistik, lalu tumbuh dan berkembang menjadi nalar keislaman formal, dan akhirnya tumbuh nalar keislaman ilmiah yang sesungguhnya belum begitu berkembang. Perkembangan satu nalar kenalar lainnya tidak bersifat linear dalam arti saling menggantikan tapi lebih bersifat overlapping, di mana ketika muncul nalar baru sesungguhnya nalar lama masih hidup.
TRADISI BASUNAT URANG BANJAR : MEMBACA MAKNA ANTROPOLOGIS DAN FILOSOFIS
Rusydi, Muhammad
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 12, No 1 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (307.016 KB)
|
DOI: 10.18592/al-banjari.v12i1.456
Khitan is called circumcision in english. It is the surgical removal of the foreskin from the penis. In Banjarese society, circumcisions celebration is called basunat. Basunat as rite of passage is one of important stages for Banjareses life. Socially, the tradition maintains the collectiveness and integration of Banjarese society. According to anthropology view, basunat may be understood as a liminal condition. Liminal is a condition of betwixt and between. In this condition, subject of rite experiences a formed stage. Furthermore, according to philosophy view, the tradition reflects the exsistence of human being and its relation with other existences.
RELASI DAYAK-BANJAR DALAM TUTUR MASYARAKAT DAYAK MERATUS
Rafiq, Ahmad
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 12, No 1 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (364.282 KB)
|
DOI: 10.18592/al-banjari.v12i1.451
Etnis Dayak dan Banjar pada awalnya berasal dari rumpun etnik yang sama. Namun kemudian diidentifikasi secara berbeda tidak hanya melalui etnisitas, tetapi juga agama mereka. Dayak identik dengan Kaharingan sebagai agama asli mereka, sementara Banjar identik dengan Islam sebagai agama yang baru mulai dianut sejak didirikannya Kesultanan Islam Banjar oleh Pangeran Samudera. Semenjak itu, perbedaan identitas ini direspon oleh orang Dayak melalui mitos atau folklore. Mitos-mitos ini, berdasarkan riset lapangan yang telah dilakukan oleh penulis artikel ini, dipahami sebagai seperangkat simbol yang mengungkapkan tipologi relasi orang Dayak dengan Banjar. Paling tidak, ada empat tipologi relasi yang terungkap di sini, yakni: relasi geneologis, analogis, kooperatif, dan historis. Berbagai tipologi relasi inilah juga yang akhirnya menjadi dasar munculnya bentuk-bentuk sinkritisisme budaya di antara keduanya, Dayak-Banjar.
POTRET LAIN PERJALANAN HUKUM DI KERAJAAN BANJAR
Ridha, M. Faqih
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 12, No 1 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (295.226 KB)
|
DOI: 10.18592/al-banjari.v12i1.452
Hukum adalah nilai sekaligus pedoman praktis manusia dan masyarakat dalam mengatur dinamika kehidupan dan interaksi sosial. Walaupun demikian pentingnya arti sebuah hukum di masyarakat, bukan berarti hukum lalu menjadi sesuatu yang berdiri sendiri dalam perkembangannya. Hukum pada dasarnya juga memerlukan perangkat kuat di luar dirinya untuk pelaksanaannya. Artinya, harus ada kekuatan yang mampu mengatur dan menjamin hukum untuk bisa hidup di tengah-tengah masyarakat. Oleh karenanya, hukum menjadi sesuatu yang kental dengan perbenturan tanpa henti dengan kehendak-kehendak zaman dimana hukum tersebut ada. Refleksi seperti inilah yang ingin dibangun oleh penulis artikel ini dalam memotret perjalanan hukum Islam selama masa kerajaan Banjar di era Sultan Tahmidullah (1761-1801) dan Sultan Adam (1825-1857).
TUAN GURU AS CAMPAIGNERS: POLITICAL PLAYERS AND SELF INTERESTED LEADERS?
Muhajir, Ahmad
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 12, No 1 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18592/al-banjari.v12i1.450
Tulisan ini mengkaji para tuan guru Banjar yang terlibat dalam kampanye pemilihan kepala daerah (pilkada) di Kalimantan Selatan. Dengan pilkada gubernur 2005 sebagai studi kasus, penulis ingin menguji apakah para tuan guru tersebut merupakan pemimpin masyarakat dengan kepentingan pribadi semata. Studi ini juga meneliti sejauhmana para ulama Banjar ini mau terlibat dalam kampanye dan apa yang menjadi pertimbangan-pertimbangan mereka. Para ulama yang menjadi narasumber adalah mereka yang dilibatkan, baik secara langsung ataupun tidak, dalam usaha menarik suara pemilih oleh empat dari lima pasangan calon yang bersaing saat itu. Penelitian ini menunjukkan bahwa tuan guru yang diteliti memilih cara yang berbeda dalam membantu calon mereka. Ada yang berkampanye begitu rajin di berbagai ajang dan forum baik yang resmi untuk kampanye atau tidak, namun ada pula membatasi diri hanya pada acara-acara tertentu. Mereka mempunyai motif dan pertimbangan masing-masing baik politik maupun ideologis yang membuat mereka melangkah hingga titik tertentu: mereka berhitung secara rasional. Sebagai imbalan atas kesediaan mereka, para calon memberikan sejumlah ganjaran baik untuk pribadi maupun pesantren, pengajian ataupun organisasi yang dipimpin oleh para ulama ini. Penulis menyimpulkan bahwa tuan guru Banjar yang turut serta berkampanye tidak hanya mengusung kepentingan pribadi.
UNDANG-UNDANG SULTAN ADAM 1835 DALAM PERSPEKTIF SEJARAH HUKUM
Abdurrahman, Abdurrahman
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 12, No 1 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (313.999 KB)
|
DOI: 10.18592/al-banjari.v12i1.453
Undang-undang Sultan Adam sebagai perangkat hukum peninggalan masa lalu kurang mendapatkan perhatian baik dari kalangan para ahli hukum maupun dari sejarawan, bahkan sampai sekarang ini teks peraturan itu belum pernah ditulis dalam bahasa Indonesia karena sampai saat ini dokumen itu masih tertulis dalam bahasa Melayu/Banjar disertai terjemahannya dalam bahasa Belanda. Karena itu wajar apabila dokumen hukum itu tidak tersebar secara meluas dikalangan para ilmuan. Di sampimg itu dokumen hukum itu juga penting sebagai informasi bagi generasi mendatang tentang keberhasilan yang pernah dicapai oleh nenek moyang mereka dimasa lampau dalam menetapkan hukum di dalam masyarakatnya.
POTRET LAIN PERJALANAN HUKUM DI KERAJAAN BANJAR
Ridha, M. Faqih
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 12, No 1 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (295.226 KB)
|
DOI: 10.18592/al-banjari.v12i1.452
Hukum adalah nilai sekaligus pedoman praktis manusia dan masyarakat dalam mengatur dinamika kehidupan dan interaksi sosial. Walaupun demikian pentingnya arti sebuah hukum di masyarakat, bukan berarti hukum lalu menjadi sesuatu yang berdiri sendiri dalam perkembangannya. Hukum pada dasarnya juga memerlukan perangkat kuat di luar dirinya untuk pelaksanaannya. Artinya, harus ada kekuatan yang mampu mengatur dan menjamin hukum untuk bisa hidup di tengah-tengah masyarakat. Oleh karenanya, hukum menjadi sesuatu yang kental dengan perbenturan tanpa henti dengan kehendak-kehendak zaman dimana hukum tersebut ada. Refleksi seperti inilah yang ingin dibangun oleh penulis artikel ini dalam memotret perjalanan hukum Islam selama masa kerajaan Banjar di era Sultan Tahmidullah (1761-1801) dan Sultan Adam (1825-1857).
TUAN GURU AS CAMPAIGNERS: POLITICAL PLAYERS AND SELF INTERESTED LEADERS?
Muhajir, Ahmad
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 12, No 1 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18592/al-banjari.v12i1.450
Tulisan ini mengkaji para tuan guru Banjar yang terlibat dalam kampanye pemilihan kepala daerah (pilkada) di Kalimantan Selatan. Dengan pilkada gubernur 2005 sebagai studi kasus, penulis ingin menguji apakah para tuan guru tersebut merupakan pemimpin masyarakat dengan kepentingan pribadi semata. Studi ini juga meneliti sejauhmana para ulama Banjar ini mau terlibat dalam kampanye dan apa yang menjadi pertimbangan-pertimbangan mereka. Para ulama yang menjadi narasumber adalah mereka yang dilibatkan, baik secara langsung ataupun tidak, dalam usaha menarik suara pemilih oleh empat dari lima pasangan calon yang bersaing saat itu. Penelitian ini menunjukkan bahwa tuan guru yang diteliti memilih cara yang berbeda dalam membantu calon mereka. Ada yang berkampanye begitu rajin di berbagai ajang dan forum baik yang resmi untuk kampanye atau tidak, namun ada pula membatasi diri hanya pada acara-acara tertentu. Mereka mempunyai motif dan pertimbangan masing-masing baik politik maupun ideologis yang membuat mereka melangkah hingga titik tertentu: mereka berhitung secara rasional. Sebagai imbalan atas kesediaan mereka, para calon memberikan sejumlah ganjaran baik untuk pribadi maupun pesantren, pengajian ataupun organisasi yang dipimpin oleh para ulama ini. Penulis menyimpulkan bahwa tuan guru Banjar yang turut serta berkampanye tidak hanya mengusung kepentingan pribadi.
UNDANG-UNDANG SULTAN ADAM 1835 DALAM PERSPEKTIF SEJARAH HUKUM
Abdurrahman, Abdurrahman
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 12, No 1 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (313.999 KB)
|
DOI: 10.18592/al-banjari.v12i1.453
Undang-undang Sultan Adam sebagai perangkat hukum peninggalan masa lalu kurang mendapatkan perhatian baik dari kalangan para ahli hukum maupun dari sejarawan, bahkan sampai sekarang ini teks peraturan itu belum pernah ditulis dalam bahasa Indonesia karena sampai saat ini dokumen itu masih tertulis dalam bahasa Melayu/Banjar disertai terjemahannya dalam bahasa Belanda. Karena itu wajar apabila dokumen hukum itu tidak tersebar secara meluas dikalangan para ilmuan. Di sampimg itu dokumen hukum itu juga penting sebagai informasi bagi generasi mendatang tentang keberhasilan yang pernah dicapai oleh nenek moyang mereka dimasa lampau dalam menetapkan hukum di dalam masyarakatnya.
NALAR KEISLAMAN URANG BANJAR
Noor, Muhammad Iqbal
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 12, No 1 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (282.423 KB)
|
DOI: 10.18592/al-banjari.v12i1.455
Tulisan ini membicarakan tentang perkembangan nalar keislaman urang Banjar dengan menggunakan pendekatan sejarah dan filsafat. Diawali dengan pengenalan terhadap nalar keislaman dan urang Banjar sebagai obyek dan subyek pembahasan. Kemudian dilanjutkan dengan mengungkapkan perkembangan nalar keagamaan dan nalar keislaman urang Banjar secara historis dan filosofis. Dalam tulisan ini diungkapkan bahwa nalar keagamaan pra-Islam yang bersifat mitis berkembang menjadi nalar keislaman mistik, lalu tumbuh dan berkembang menjadi nalar keislaman formal, dan akhirnya tumbuh nalar keislaman ilmiah yang sesungguhnya belum begitu berkembang. Perkembangan satu nalar kenalar lainnya tidak bersifat linear dalam arti saling menggantikan tapi lebih bersifat overlapping, di mana ketika muncul nalar baru sesungguhnya nalar lama masih hidup.