Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

RELASI DAYAK-BANJAR DALAM TUTUR MASYARAKAT DAYAK MERATUS Rafiq, Ahmad
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 12, No 1 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.282 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v12i1.451

Abstract

Etnis Dayak dan Banjar pada awalnya berasal dari rumpun etnik yang sama. Namun kemudian diidentifikasi secara berbeda tidak hanya melalui etnisitas, tetapi juga agama mereka. Dayak identik dengan Kaharingan sebagai agama asli mereka, sementara Banjar identik dengan Islam sebagai agama yang baru mulai dianut sejak didirikannya Kesultanan Islam Banjar oleh Pangeran Samudera. Semenjak itu, perbedaan identitas ini direspon oleh orang Dayak melalui mitos atau folklore. Mitos-mitos ini, berdasarkan riset lapangan yang telah dilakukan oleh penulis artikel ini, dipahami sebagai seperangkat simbol yang mengungkapkan tipologi relasi orang Dayak dengan Banjar. Paling tidak, ada empat tipologi relasi yang terungkap di sini, yakni: relasi geneologis, analogis, kooperatif, dan historis. Berbagai tipologi relasi inilah juga yang akhirnya menjadi dasar munculnya bentuk-bentuk sinkritisisme budaya di antara keduanya, Dayak-Banjar.
RELASI DAYAK-BANJAR DALAM TUTUR MASYARAKAT DAYAK MERATUS Rafiq, Ahmad
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 12, No 1 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.282 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v12i1.451

Abstract

Etnis Dayak dan Banjar pada awalnya berasal dari rumpun etnik yang sama. Namun kemudian diidentifikasi secara berbeda tidak hanya melalui etnisitas, tetapi juga agama mereka. Dayak identik dengan Kaharingan sebagai agama asli mereka, sementara Banjar identik dengan Islam sebagai agama yang baru mulai dianut sejak didirikannya Kesultanan Islam Banjar oleh Pangeran Samudera. Semenjak itu, perbedaan identitas ini direspon oleh orang Dayak melalui mitos atau folklore. Mitos-mitos ini, berdasarkan riset lapangan yang telah dilakukan oleh penulis artikel ini, dipahami sebagai seperangkat simbol yang mengungkapkan tipologi relasi orang Dayak dengan Banjar. Paling tidak, ada empat tipologi relasi yang terungkap di sini, yakni: relasi geneologis, analogis, kooperatif, dan historis. Berbagai tipologi relasi inilah juga yang akhirnya menjadi dasar munculnya bentuk-bentuk sinkritisisme budaya di antara keduanya, Dayak-Banjar.
Moslem Sculptor (Negotiation of Sculptor at Prumpung Magelang Towards The Doctrine of Sculpting’s Prohibition on Islam) Zuhri, Muh; Rafiq, Ahmad; Mustofa, Ahmad
International Journal Ihya' 'Ulum al-Din Vol 23, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (539.775 KB) | DOI: 10.21580/ihya.23.1.7863

Abstract

Normatively, Islamic doctrine prohibits figurative art in the form of sculpture or painting. The prohibition actually comes not from the Koran but from various narrations of the Prophet's hadith. However, it has been transformed into an orthodox doctrine for its adherents. This research does not aim to find the essential meaning of the hadith text which prohibits figurative art, but to find out how the Moslem sculptors, who live at Prumpung Magelang area, respond and negotiate toward it, so in the end they decided to compromise with their profession as a sculptor. Reception theory is used in this study to map the creative reasoning model of Moslem sculptors when negotiating with texts. Through the reception approach, and field data collection through in-depth interviews with several informants consisting of Muslim sculptors at Prumpung Magelang, this research concludes that the existence of the statue, according to the perspective of the Moslem sculptors at Prumpung Magelang is merely works of art so that in existence there are no theological problems.
Media Video Animasi Guna Meningkatkan Sikap Tanggung Jawab Pada Anak Usia Dini Irawan, Desi Cahyani; Rafiq, Ahmad; Utami, Fitria Budi
Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Undiksha Vol 9, No 2 (2021): Agustus
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/paud.v9i2.37756

Abstract

Kurangnya sikap tanggung jawab anak disebabkan karena tontonan yang kurang baik dan kurang mendidik yang ditiru anak sehingga anak mudah meniru perilaku buruk. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan media video animasi terhadap sikap tanggung jawab anak usia dini. Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif dengan metode survey deskriptif. Sampel pada penelitian ini adalah 25 orang tua murid yang memiliki anak usia dini dan mendapatkan stimulasi media video animasi dari 3 guru di Sekolah. Pengumpulan data dilakukan dengan mengisi angket, melakukan observasi dan wawancara. Data dikumpulkan melalui tes yang telah divalidasi dengan analisis data menggunakan analisis statistik. Sebelum uji hipotesis dilakukan terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas. Hasil analisis data menunjukkan bahwa terdapat hasil yang signifikan dalam proses pembelajaran media video animasi terhadap peningkatan sikap tanggung jawab anak usia dini, dengan hasil analisis Rhitung sebesar = 2,238 > Rtabel = 2,238 pada taraf signifikan = 0,05. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa media video animasi tentang tanggung jawab dapat digunakan dalam pembelajaran dan efektif untuk meningkatkan sikap tanggung jawab anak usia dini. Implikasi penelitian ini diharapkan agar dapat memahami dan memberikan pembelajaran yang tepat kepada anak agar perkembangan kemampuan sikap tanggung jawab anak dapat berkembang lebih baik lagi dan anak dapat dengan mudah menghadapi tantangan teknologi di level pendidikan selanjutnya.
Media Video Animasi Guna Meningkatkan Sikap Tanggung Jawab Pada Anak Usia Dini Irawan, Desi Cahyani; Rafiq, Ahmad; Utami, Fitria Budi
Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Undiksha Vol. 9 No. 2 (2021): Agustus
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/paud.v9i2.37756

Abstract

Kurangnya sikap tanggung jawab anak disebabkan karena tontonan yang kurang baik dan kurang mendidik yang ditiru anak sehingga anak mudah meniru perilaku buruk. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan media video animasi terhadap sikap tanggung jawab anak usia dini. Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif dengan metode survey deskriptif. Sampel pada penelitian ini adalah 25 orang tua murid yang memiliki anak usia dini dan mendapatkan stimulasi media video animasi dari 3 guru di Sekolah. Pengumpulan data dilakukan dengan mengisi angket, melakukan observasi dan wawancara. Data dikumpulkan melalui tes yang telah divalidasi dengan analisis data menggunakan analisis statistik. Sebelum uji hipotesis dilakukan terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas. Hasil analisis data menunjukkan bahwa terdapat hasil yang signifikan dalam proses pembelajaran media video animasi terhadap peningkatan sikap tanggung jawab anak usia dini, dengan hasil analisis Rhitung sebesar = 2,238 > Rtabel = 2,238 pada taraf signifikan = 0,05. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa media video animasi tentang tanggung jawab dapat digunakan dalam pembelajaran dan efektif untuk meningkatkan sikap tanggung jawab anak usia dini. Implikasi penelitian ini diharapkan agar dapat memahami dan memberikan pembelajaran yang tepat kepada anak agar perkembangan kemampuan sikap tanggung jawab anak dapat berkembang lebih baik lagi dan anak dapat dengan mudah menghadapi tantangan teknologi di level pendidikan selanjutnya.
URGENSI NILAI AGAMA PADA MORAL ANAK DI ERA SOCIETY 5.0 Madyawati, Lilis; Marhumah, Marhumah; Rafiq, Ahmad
Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 18 No. 2 (2021): Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan (AJAIP)
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/al-hikmah:jaip.2021.vol18(2).6781

Abstract

This study aims to identify and describe the importance of religious and moral values ​​instilled by parents in welcoming society in the 5.0 era. This research is qualitative with library research. A sorting method with two determining elements, children's spiritual and moral values, was used to analyze the data. Researchers explain the data into categories and characteristics. We also limited the data, performed content analysis, and studied the text literature. In the era of society 5.0: 1) parents are advised to educate their children as did Rasulullah (SAW); 2) parents are responsible for children's academic education; 3) parents are encouraged to grow the Rabbani generation (religion-based); 4) parents need to bring up good habits. Due to increasingly sophisticated technological developments, parents must increase their knowledge of this new technology, positively direct digital devices and media, and balance the time in using digital media and real-life interactions. In addition, parents are also encouraged to choose programs or applications that are positive for children that can positively impact their child's growth and development.
Constructing Postcolonial Muslim Identity: A Dual-Theory Framework of Qur'anic Learning in Indonesia Sriyanto, Agus; Rafiq, Ahmad; Suyadi
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman Vol. 37 No. 1 (2026): Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman
Publisher : Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/tribakti.v37i1.8038

Abstract

This research examines the construction of religious identity through decolonization in Qur'anic learning in postcolonial Indonesia by integrating Berger and Luckmann's Social Construction Theory and Tajfel and Turner's Social Identity Theory within a decolonial framework. Through a systematic literature review of 53 peer-reviewed academic publications (2014-2025) selected through purposive sampling based on relevance to Qur'an pedagogy, identity formation, and decolonial discourse in Indonesia, this study employs thematic analysis within an interpretive, qualitative, and postcolonial approach. Identity formation operates through three mechanisms: externalization of religious values, objectivation in Islamic institutions, and transformative internalization. Decolonization strategies emerge through epistemological reintegration and pedagogical contextualization that bridge Qur'an teachings with the contemporary reality of Indonesia. The multidimensional model conceptualizes identity formation as a process unfolding across three dialectical axes: temporal (deconstruction, reconstruction, co-construction), social (individual, communal, national), and cultural (universality, locality, globality). The synthesized literature findings challenge Western-centered theoretical assumptions: Indonesian Muslims demonstrate multi-layered and intersecting categorizations, culturally meaningful identifications, and reflective comparisons that are contributory rather than competitive. This study advances decolonial Islamic thought by positioning Qur'an learning as an emancipatory epistemological praxis that transcends the anti-Western or pro-Western dichotomy. The Indonesian model shows how decolonization manifests in daily pedagogical practices rather than in abstract discourse, offering a replicable framework for global Muslim communities that negotiate authentic identity within postcolonial modernity without reproducing Western hegemony or reactive fundamentalism.
The Qur’anic Movement Gerakan Ayo Mengaji (Gerami) in Jambi: An Intersectional Analysis of Women, Gender, and Class Maghfirah, Moona; Rafiq, Ahmad
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 63, No 1 (2025)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2025.631.143-172

Abstract

This article demonstrates that women’s experiences within religious movements are diverse and multifaceted, shaped by a complex interplay of social factors. By investigating ‘Gerakan Ayo Mengaji’ (GERAMI) as Quranic movement in Jambi City, it applies an intersectional lens to examine how gender and class dynamics influence Muslim women’s experiences within the movement, such as their space, roles, and performance. Drawing on in-depth interviews, participant observation, and the movement’s archival materials, the study analyzes the identities and activism of GERAMI’s women members. The findings suggest that the intersectionality of gender identities enables the movement to function not only as a source of Muslim women’s identity formation but also as a means of reinforcing or contesting gendered social structures. The intersection of various forms of individual capital significantly shapes members’ roles and performances within the movement, thereby constructing internal hierarchies. The article argues that the convergence of diverse social identities within a Qur’anic movement can inadvertently produce hierarchical power dynamics, leading to the emergence of new gendered public spaces and class structures within the movement itself.[Artikel ini menunjukkan bahwa pengalaman perempuan dalam gerakan keagamaan bersifat beragam dan memiliki banyak sisi, yang dibentuk oleh interaksi kompleks faktor-faktor sosial. Dengan mengkaji ‘Gerakan Ayo Mengaji’ (GERAMI) sebagai gerakan Al-Quran di Kota Jambi, penelitian ini menggunakan lensa interseksional untuk menganalisis bagaimana dinamika gender dan kelas memengaruhi pengalaman perempuan Muslim dalam gerakan tersebut, termasuk ruang, peran, dan aktivitas mereka. Menggunakan wawancara mendalam, pengamatan partisipatif, dan bahan arsip gerakan, studi ini menganalisis identitas dan aktivisme anggota perempuan GERAMI. Temuan menunjukkan bahwa interseksionalitas identitas gender memungkinkan gerakan ini berfungsi tidak hanya sebagai sumber pembentukan identitas perempuan Muslim, tetapi juga sebagai sarana untuk memperkuat atau menantang struktur sosial yang berorientasi gender. Selain itu, persilangan berbagai bentuk modal individu secara signifikan membentuk peran dan kinerja anggota dalam gerakan, sehingga membentuk hierarki internal. Pada akhirnya, artikel ini berargumen bahwa konvergensi identitas sosial yang beragam dalam gerakan Qur’anik dapat secara tidak sengaja menghasilkan dinamika kekuasaan hierarkis, yang mengakibatkan munculnya ruang publik berjenis kelamin baru dan struktur kelas di dalam gerakan itu sendiri.]
Constructing Postcolonial Muslim Identity: A Dual-Theory Framework of Qur'anic Learning in Indonesia Sriyanto, Agus; Rafiq, Ahmad; Suyadi
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman Vol. 37 No. 1 (2026): Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman
Publisher : Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/tribakti.v37i1.8038

Abstract

This research examines the construction of religious identity through decolonization in Qur'anic learning in postcolonial Indonesia by integrating Berger and Luckmann's Social Construction Theory and Tajfel and Turner's Social Identity Theory within a decolonial framework. Through a systematic literature review of 53 peer-reviewed academic publications (2014-2025) selected through purposive sampling based on relevance to Qur'an pedagogy, identity formation, and decolonial discourse in Indonesia, this study employs thematic analysis within an interpretive, qualitative, and postcolonial approach. Identity formation operates through three mechanisms: externalization of religious values, objectivation in Islamic institutions, and transformative internalization. Decolonization strategies emerge through epistemological reintegration and pedagogical contextualization that bridge Qur'an teachings with the contemporary reality of Indonesia. The multidimensional model conceptualizes identity formation as a process unfolding across three dialectical axes: temporal (deconstruction, reconstruction, co-construction), social (individual, communal, national), and cultural (universality, locality, globality). The synthesized literature findings challenge Western-centered theoretical assumptions: Indonesian Muslims demonstrate multi-layered and intersecting categorizations, culturally meaningful identifications, and reflective comparisons that are contributory rather than competitive. This study advances decolonial Islamic thought by positioning Qur'an learning as an emancipatory epistemological praxis that transcends the anti-Western or pro-Western dichotomy. The Indonesian model shows how decolonization manifests in daily pedagogical practices rather than in abstract discourse, offering a replicable framework for global Muslim communities that negotiate authentic identity within postcolonial modernity without reproducing Western hegemony or reactive fundamentalism.