cover
Contact Name
Iwan Ridwan
Contact Email
iwan.ridwan@polban.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
fluida@polban.ac.id
Editorial Address
Jl. Gegerkalong Hilir, Ds. Ciwaruga Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat Kotak Pos Bandung 1234 Kode Pos 40559 Gedung Jurusan Teknik Kimia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
FLUIDA
ISSN : 14128543     EISSN : 27237680     DOI : https://doi.org/10.35313/fluida
FLUIDA (FLD, ISSN: 1412-8543, e-ISSN: 2723-7680) is a science and technology journal that contains articles taken from laboratory research results, simulation results of problems, conceptual analysis (the study of problem-solving in writing) about the production process, troubleshooting, and maintenance as well as results of studies/evaluations of the performance of a system process, especially in the fields of Chemical Engineering, Sustainable and Renewable Energy, Bioprocess Technology, and Food Technology.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 11 No 1 (2015): FLUIDA" : 6 Documents clear
Pemisahan Campuran Asam Lemak Dengan Metode Kromatografi Kolom Menggunakan Fasa Diam Berbahan Dasar Abu Sekam Padi Endang Widiastuti
Fluida Vol 11 No 1 (2015): FLUIDA
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/fluida.v11i1.125

Abstract

Indonesia sebagai negara agraris mempunyai banyak jenis tumbuhan penghasil minyak nabati yang mengandung asam lemak jenuh dan tidak jenuh. Asam lemak tersebut dimanfaatkan oleh industri makanan dan obat-obatan. Asam-asam lemak yang masih berupa campuran perlu dipisahkan, salah satunya dengan metoda kromatografi ion perak. Prinsip dari metode ini adalah berdasarkan perbedaan afinitas antara asam lemak dengan fasa diam dan fasa gerak. Salah satu faktor yang menentukan tingkat keberhasilan proses pemisahan pada kromatografi adalah fasa diam.   Pada penelitian ini, fasa diam diperoleh dengan memanfaatkan silika yang terkandung dalam abu sekam padi. Silika yang diperoleh berbentuk sol yang kemudian dimodifikasi dengan AgNO3 menggunakan senyawa pendukung yang divariasikan jenisnya yaitu amino propil trimetoksisilan (APTS) dan kitosan. Kedua jenis silika yang dimodifikasi kemudian dianalisis kadar ion Ag yang terikat secara titrasi potensiometri, Selanjutnya silika tersebut digunakan sebagai fasa diam pada kolom kromatografi padat-cair, untuk memisahkan campuran asam oleat, asam palmitat dan asam stearat yang telah dimetilasi. Eluen yang digunakan pada pemisahan adalah campuran kloroform- metanol atau benzene-metanol yang komposisinya divariasikan antara 100:0 hingga 90:10. Hasil pemisahan dari kolom tersebut dianalisis menggunakan kromatografi gas (GC). Dari penelitian ini, ion Ag yang terikat pada silika-kitosan adalah 87% sedangkan silika-APTS adalah 89% karena perbedaannya tidak signifikan maka sebagai fasa diam pada kolom kromatografi digunakan silika kitosan. Berdasarkan hasil analisis secara SEM dan EDS, silika tersebut mengandung SiO2 69% dan Ag2O 18%. Hasil pemisahan dari kolom kromatografi menunjukan bahwa campuran metil oleat dan metil palmitat dapat dielusi dengan pelarut kloroform – methanol, sedangkan campuran metil palmitat dan metil stearat dielusi dengan pelarut benzena-metanol. Kedua jenis eleun tersebut mempunyai perbandingan komposisi yang sama yaitu 97:3.
Isolasi Mikroorganisme Anaerob Limbah Cair Tekstil Menggunakan Desikator Sebagai Inkubator Anaerobik Dianty Rosirda Dewi Kurnia; Ira Permatasari; Yuni Rafika
Fluida Vol 11 No 1 (2015): FLUIDA
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/fluida.v11i1.554

Abstract

Isolasi Mikroorganisme Anaerob Limbah Cair Tekstil Menggunakan Desikator Sebagai Inkubator Anaerobik. Penggunaan mikroorganisme untuk mengolah limbah cair tekstil yang mengandung bahan organik tinggi sangat potensial untuk dikembangkan. Mikroorganisme anaerob dapat digunakan pada pengolahan limbah cair, yaitu untuk mendegradasi senyawa- senyawa organik kompleks berantai panjang menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga dapat menurunkan beban kerja dari pengolahan aerobik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas desikator termodifikasi sebagai inkubator anaerob dan melakukan isolasi mikroba dari unit pengolahan air limbah tekstil sehingga diperoleh konsorsium mikroorganisme (mixed culture) anaerobik. Desikator dimodifikasi dengan dialiri gas nitrogen untuk menghilangkan gas oksigen di dalam desikator. Parameter yang digunakan sebagai indikator adalah pengamatan secara makroskopis, mikroskopis dan uji pembentukan hidrogen sulfida. Isolat pembanding yang digunakan adalah Pseudomonas aeruginosa sebagai bakteri aerob obligat, Escherichia coli sebagai bakteri anaerob fakultatif, Desulvofibrio desulfuricans dan Methanobrevibacter ruminantium sebagai anaerob obligat. Desikator termodifikasi juga digunakan sebagai inkubator untuk melakukan isolasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desikator yang dimodifikasi mempunyai efektivitas sebagai inkubator anaerob meskipun bakteri obligat aerob dan aerob fakultatif masih dapat tumbuh karena pada media yang digunakan masih terdapat oksigen terlarut yang ditandai dengan warna pink di bagian atas media dan lilin dinyalakan di dalam desikator dapat juga digunakan sebagai indikator keberadaan oksigen. Desikator ini juga menunjukkan efektivitas untuk digunakan sebagai inkubator anaerob. Pada proses isolasi dari pengolahan limbah anaerob pabrik tekstil diperoleh 6 jenis isolat yang dapat digunakan sebagai konsorsium mikroorganisme (mixed culture) anaerobik.
Carbon Steel Corrosion In The Atmosphere, Cooling Water Systems, And Hot Water Gatot Subiyanto; Agustinus Ngatin
Fluida Vol 11 No 1 (2015): FLUIDA
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/fluida.v11i1.555

Abstract

Korosi merupakan proses kerusakan material akibat berinteraksi dengan lingkungan yang korosif. Untuk mempelajari proses korosi di industri, maka dilakukan pengujian korosi di atmosfer, simulasi dalam skala lab untuk sistem air pendingin dan sistem air panas. Pengujian korosi dilakukan pada material baja lunak dengan metode Coupon dan laju korosi dihitung berdasarkan metode kehilangan berat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan laju korosi di lingkungan atmosfer, air pendingin, dan air panas berdasarkan pengaruh waktu. Hasil pengujian korosi di atmosfer menunjukkan bahwa lingkungan sekitar laboratorium kimia (gedung A) masih sangat baik dengan laju korosi 0,39mpy, sistem air pendingin mencapai 3,52 mpy dan di sistem air panas mencapai 137,12 mpy. Produk korosi dari ke tiga sistem berupa lapisan berwarna coklat dari Fe2O3.xH2O atau FeO(OH) menempel di permukaan logam. Dari ketiga lingkungan yang menunjukkan laju korosi terbesar adalah di sistem air panas.Pengendalian dengan coating dan proteksi katodik anoda korban dapat menurunkan potensial baja sampai dibawah kriteria proteksi (<-850mV/CSE), untuk coating mencapai – 896 mV/CSE, proteksi katodik anoda korban Mg dapat mencapai – 1696 mV/CSE, sedangkan potensial baja telanjang -762 mv/CSE
Pembuatan Sel Surya Hibrida Dengan Menggunakan Campuran Lapisan Aktif MDMO-PPV dan ZnO Yunus Tonapa Sarungu
Fluida Vol 11 No 1 (2015): FLUIDA
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/fluida.v11i1.556

Abstract

Sel surya adalah sebuah perangkat yang bisa mengubah energi matahari menjadi energi listrik. Kebutuhan akan energi listrik semakin banyak, akibat dari semakin tingginya pertumbuhan ekonomi dan teknologi. Sel surya polimer hibrida ini merupakan solusi yang berpotensi dalam kehidupan di masa depan untuk menjawab krisis energi yang diakibatkan eksploitasi energi fossil secara besar-besaran yang ada di bumi dan masalah lingkungan hidup. Berbagai penelitian dapat mengetahui sel surya yang memiliki nilai efisiensi sebaik mungkin. Sel surya dengan struktur Bulk Heterojunction Cells yang berbasis bahan polimer terkonjugasi, yaitu Poly[2-methoxy-5-(3',7'-dimethyloctyloxy)-1,4-phenylenevinylene (MDMO-PPV) dan ZnO (Zinc Oxide). Keuntungan menggunakan polimer dan bahan anorganik tersebut adalah banyak antarmuka donor dan acceptor dalam lapisan aktif, sehingga ada banyak tempat disosiasi atau pemisahan exciton. Kondisi ini memungkinkan bahan yang bersifat donor untuk mentransfer muatan negatif segera ke bahan acceptor. Substrat yang digunakan adalah substrat plastik PET yang berlapis lapisan ITO yang berperan sebagai anoda, yang memiliki keunggulan dibandingkan dengan substrat kaca. Teknik pembuatan sel surya polimer hibrida ini dengan teknik spin coating. Pelarut yang digunakan adalah campuran dari Chlorobenzene dan propanol, sehingga polimer bisa tercampur dengan baik. Dengan dilakukan beberapa variasi berupa konsentrasi larutan dan perbandingan massa sehingga dapat diperoleh target efisiensi sebesar 1,6%. Sehingga dapat menentukan karakteristik listrik yang terbaik. Dalam penelitian ini dibuat dalam enam variasi yang berbeda yaitu variasi konsentrasi dan perbandingan massa. Efisiensi yang terbaik yang diperoleh adalah 0,0763% dari variasi perbandingan massa 7:3 dan konsentrasi 5 mg/mL.
Evaluasi Kondisi Operasi Proses Pencampuran Bahan Pada Pembuatan Produk Chloroprene Rubber (Studi Deskriptif Di Industri Polimer) Ishmar Balda Fauzan; Nelsa Rahmita; Bintang Iwhan Moehady
Fluida Vol 11 No 1 (2015): FLUIDA
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/fluida.v11i1.557

Abstract

Chloroprene rubber adalah salah satu jenis karet sintetis yang biasa dikenal dengan namaNeoprene. Proses pembuatan chloroprene rubber dengan cara pencampuran bahan-bahan yang terdiri dari polimer, oil, bahan kimia, carbon, dan accelerator. Pencampuran chloroprene rubber menggunakan mesin mixing yang dinamakan kneader.Pada produksi chloroprene rubber di industri, terdapat dispersi bintik putih. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kondisi operasi optimum pada proses pencampuran bahan pada produksi chloroprene rubber yang tidak terdispersi, terdispersi, dan mendapatkan efisiensi pencampuran. Indikator keberhasilan proses yaitu jika tidak terdapat bintik putih secara visual dan memiliki persen dispersi <0,5%. Evaluasi terhadap produk chloroprene rubber dilakukan dengan menganalisis % jumlah produk chloroprene rubber yang terdispersi bintik putih dengan cara visual dan mengevaluasi kondisi proses dengan beberapa variasi. Kondisi operasi proses meliputi temperatur pencampuran, kecepatan putar rotor, dan waktu pencampuran. Variasi temperatur operasi yang diambil adalah 72°C, 74°C, 76°C, 78°C, dan 86°C. Kecepatan putar rotor dengan variasi 21rpm, 23rpm, 25rpm, 28rpm, dan 30rpm. Variasi waktu pencampuran yaitu pada 14,5 menit, 15 menit, 17 menit, 18 menit, dan 20 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi operasi optimum terjadi pada 86°C, 30rpm, dan 18 menit yaitu produk tidak memiliki bintik putih, dengan jumlah produk terdispersi 0,49% dan memiliki efisiensi pencampuran sebesar 4,5%, sehingga memenuhi kriteria indikator keberhasilan.
Studi Awal Pengambilan Kembali Aluminium Dari Limbah Kemasan Sebagai Alumina Dewi Widyabudiningsih; Endang Widiastuti
Fluida Vol 11 No 1 (2015): FLUIDA
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/fluida.v11i1.558

Abstract

Pada dewasa ini, selain besi, aluminium merupakan logam yang paling banyak digunakan di sektor industri dibandingkan dengan logam lain, salah satunya sebagai kemasan. Kemasan yang terbuat dari aluminium ini banyak digunakan untuk mengemas produk makanan dan minuman, yang jika sudah digunakan isinya, maka wadah kemasan ini akan menjadi sampah. Sampah ini termasuk sampah anorganik yang tidak akan terurai secara alami dan memerlukan pengolahan tertentu untuk menguraikannya. Proses pengambilan kembali aluminium dari limbah ini dilakukan dengan metode gravimetri yaitu melarutkan limbah tersebut dengan HCl 18%. Untuk memisahkan ion-ion yang tidak diinginkan, maka digunakan pereaksi tambahan seperti asam suksinat 5%, 2 gram urea dan 5 gram ammonium klorida. Untuk menghilangkan kandungan air dari endapan maka dilakukan proses pembakaran. Pembakaran ini juga berfungsi untuk menghasilkan endapan murni yang diperoleh dari proses pengambilan aluminium sebagai alumina dari limbah kemasan tersebut. Pada suhu ruang (27oC), HCl 18% merupakan pelarut yang baik untuk melarutkan sampel yang mengandung aluminium. Alumina terbanyak didapat dari sampel yang berbentuk pizza pans yaitu 8,8203 gram dari 5 gram sampel, dengan persentase aluminium sebesar 93,39%.

Page 1 of 1 | Total Record : 6