cover
Contact Name
Trias Mahmudiono, SKM., MPH (Nutr), GCAS., PhD
Contact Email
amertanutr@fkm.unair.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
amertanutr@fkm.unair.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Amerta Nutrition
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 25801163     EISSN : 25809776     DOI : -
Core Subject : Health, Education,
Amerta Nutrition (p-ISSN:2580-1163; e-ISSN: 2580-9776) is a peer reviewed open access scientific journal published by Universitas Airlangga. The scope for Amerta Nutrition include: public health nutrition, community nutrition, clinical nutrition, dietetics, food science and food service management. Each volume of Amerta Nutrition is counted in each calendar year that consist of 4 issues. Amerta Nutrition is published four times per year every March, June, September, and December.
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 3 (2019): AMERTA NUTRITION" : 14 Documents clear
Hubungan Perilaku Self-Management Dengan Kadar Gula Darah Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Di Wilayah Kerja Puskesmas Pucang Sewu, Surabaya Milda Hidayah
Amerta Nutrition Vol. 3 No. 3 (2019): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (792.414 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v3i3.2019.176-182

Abstract

Background: Diabetes Mellitus (DM) is one of the four priorities for Non-Contagious Diseases in the world. According to the IDF (International Diabetes Federation), people with Diabetes Mellitus in Indonesia will increase from 9.1 million in 2014 to 14.1 million in 2035. Diabetes Mellitus Type 2 can affect can affect the quality of life from the sufferers and can be at risk of causing complications, these problems can be solved by applying self-management to their disease.Objectives: The purpose of this research is to describe the self-management behavior which consists of five aspects, that is settings of diet, physical activity/exercise, self/foot care, medication compliance, and monitoring of blood sugar in Type 2 Diabetes Mellitus patients at Pucang Sewu Health Center, Surabaya.Methods: This research used observational study design using cross sectional approach. The population in this research were outpatients with Type 2 Diabetes Mellitus in Pucang Sewu Health Center, Surabaya. Data collection using random sampling technique and obtained 79 respondents. The research data was obtained using the SDSCA (The Summary of Self-Care Activities) questionnaire developed by the General Service Administration (GSA) Regulatory Information Servive Center (RISC).Results: The research found that some respondents had a good level of self-management (59.5%). In several aspects such as settings of diet, and medication compliance, most respondents were included in the good category, but in physical activity/ exercise, self/foot care, and monitoring of blood sugar aspect were still in the less category. In addition, most of the respondents had normal blood glucose levels (50.6%). Conclusion: There is a relationship between self-management behavior with blood glucose levels in patients with Type 2 Diabetes Mellitus in Pucang Sewu Health Center, SurabayaABSTRAK Latar Belakang: Diabetes Mellitus (DM) menjadi satu dari empat prioritas Penyakit Tidak Menular di dunia. Menurut IDF (International Diabetes Federation), peningkatan penyandang DM di Indonesia akan mengalami peningkatan dari 9,1 juta di tahun 2014 menjadi 14,1 juta di tahun 2035. Penyakit DM Tipe 2 dapat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya dan dapat beresiko menimbulkan terjadinya komplikasi, masalah tersebut dapat dikendalikan salah satunya dengan menerapkan perilaku self-management terhadap penyakitnya.Tujuan: Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran serta hubungan perilaku self-management (pengaturan pola makan, aktivitas fisik/olahraga, perawatan diri/kaki, kepatuhan konsumsi obat, dan monitoring gula darah) dengan kadar gula darah pada pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 di wilayah kerja Puskesmas Pucang Sewu, Surabaya.Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi observasional dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah pasien rawat jalan yang menderita Diabetes Mellitus Tipe 2 di Puskesmas Pucang Sewu, Surabaya. Pengambilan data menggunakan teknik random sampling dan didapatkan 79 responden. Data penelitian didapatkan dengan menggunakan kuisioner SDSCA (The Summary of Diabates Self-Care Activities) yang telah dikembangkan oleh General Service Administration (GSA) Regulatory Information Servive Center (RISC). Analisis data menggunakan uji statistik chi-square.Hasil: Hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian responden memiliki tingkat self-management baik (59.5%). Beberapa aspek seperti pengaturan pola makan, dan kepatuhan konsumsi obat, sebagian besar responden termasuk dalam kategori baik, namun pada aspek aktivitas fisik/olahraga, perawatan diri/kaki, dan monitoring gula darah masih dalam kategori kurang. Selain itu, sebagian besar responden memiliki kadar gula darah yang terkontrol (50,6%).Kesimpulan: Terdapat hubungan antara perilaku self-management dengan kadar gula darah pada pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 di wilayah kerja Puskesmas Pucang Sewu Surabaya.
Hubungan Faktor Water, Sanitation, and Hygiene (WASH) dengan Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Kotakulon, Kabupaten Bondowoso Alfadhila Khairil Sinatrya; Lailatul Muniroh
Amerta Nutrition Vol. 3 No. 3 (2019): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1131.011 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v3i3.2019.164-170

Abstract

Background: In 2017 prevalence of stunting in, Indonesia reached 29.6% and Bondowoso District was one of district that contributes the third higher prevalence, amounted 38.3%. One of underlying cause of stunting were water, sanitation and hygiene (WASH).Objectives: This research aims to analyze the correlation between WASH with stunting among children aged 24 - 59 months in working area of Kotakulon Public Health Center, Bondowoso District.Methods: This was an observational analytic study with case-control design. The sample size of this research was 66 children aged 24 to 59 months in working area of Kotakulon Public Health Center, Bondowoso District. This case-control study consisted of 33 children in case group and 33 children sample of contro groupl. The dependent variable was stunting status, while the independent variables were drinking water source, quality of drinking water, the ownership of lathrines, and mother’s handwashing habits. The data were analyzed using chi-square test.Results: Hand washing habit (p<0.001; OR=0.12) was a risk factor of stunting in under-five years old  which has risk 0.12 times higher for mother that has a poor handwashing habit, while drinking water source (p=0.41), quality of drinking source (p=0.58), the ownership of lathrines (p=0.22) were not accunted as a risk of stunting.Conclusions: A poor handwashing habit in mother contribute to stunting in working area of Kotakulon Public Health Center, Bondowoso District.ABSTRAKLatar Belakang: Pada tahun 2017, prevalensi stunting di Indonesia mencapai angka 29,6% dan Kabupaten Bondowoso adalah kabupaten yang menyumbang angka tertinggi ketiga di Jawa Timur yaitu sebesar 38,3% balita stunting. Salah satu penyebab tidak langsung dari stunting adalah faktor water, sanitation, and hygiene (WASH).Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk enganalisis hubungan WASH dengan stunting pada anak usia 24 – 59 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Kotakulon, Kabupaten Bondowoso.Metode: Jenis penelitian adalah observasional analitik dengan desain kasus kontrol. Besar sampel penelitian yaitu 66 balita usia 24 – 59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Kotakulon, Kabupaten Bondowoso. Penelitian kasus kontrol ini terdiri dari sampel kasus sebanyak 33 balita yang mengalami stunting dan sampel kontrol sebanyak 33 balita yang tidak mengalami stunting. Variabel dependen adalah kejadian stunting. Variabel independen adalah WASH, meliputi sumber air minum, kualitas fisik air minum, kepemilikan jamban, dan kebiasaan cuci tangan ibu. Data dianalisis menggunakan uji chi-square.Hasil: Kebiasaan cuci tangan (p<0,001; OR=0,12) adalah faktor risiko dari stunting pada balita dengan besar risiko 0,12 kali lebih tinggi bagi ibu yang memiliki kebiasaan cuci tangan kurang baik, sedangkan sumber air minum (p=0,415), kualitas fisik air minum (p=0,58), kepemilikan jamban (p=0,22) bukan merupakan faktor risiko dari stunting.Kesimpulan: Kebiasaan cuci tangan yang buruk pada ibu berkontribusi terhadap kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Kotakulon Kabupaten Bondowoso.
Status Gizi, Asupan Energi dan Zat Gizi Makro Pasien Kanker yang Menjalani Kemoterapi di Rumkital Dr. Ramelan Surabaya Annisa Rachma Firdausi Darmawan; Merryana Adriani
Amerta Nutrition Vol. 3 No. 3 (2019): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (797.438 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v3i3.2019.149-157

Abstract

Background: Cancer is one of the non-communicable diseases characterized by abnormal cell growth. One of the medical-based treatments of this disease is chemotherapy. Chemotherapy decreases appetite which has an impact on the adequacy of nutrients intake, one of which is the adequacy of energy and macronutrients intake. Cancer patients who have undergone chemotherapy usually experience a decrease in food intake which has side effects on decreasing nutritional status.Objectives: This study aimed to analyze the relationship between energy and macronutrients (protein, fat, and carbohydrate) intake with the nutritional status of cancer patients undergoing chemotherapy at Rumkital Dr. Ramelan Surabaya.Methods: The design of this research was cross sectional which population were cancer patients who were scheduled to do chemotherapy in April to May 2019 with age ≥19 years old. A total of 75 patients were selected using accidental sampling technique. Data collected included respondents' characteristics through interviews, food intake with 2x24 hours food recall, and nutritional status using Body Mass Index standard from the Ministry of Health 2014.Results: Respondents had adequate energy intake and adequate macronutrients (fat and carbohydrate) intake (≥70% needs), except protein which had inadequate intake (<70% needs). While the nutritional status of respondents were mostly normal (44.00%), overweight (17.30%), and obese (16.00%). There was a significant correlation between macronutrients intake and the nutritional status of cancer patients undergoing chemotherapy with a significance of <0.05.Conclusions: There was a correlation between energy and macronutrients (protein, fat, and carbohydrate) intake with the nutritional status of cancer patients undergoing chemotherapy at Rumkital Dr. Ramelan Surabaya.ABSTRAK Latar Belakang: Kanker merupakan salah satu penyakit tidak menular yang ditandai oleh pertumbuhan sel yang tidak normal.Salah satu pengobatan berbasis medis yang dilakukan yaitu kemoterapi.Kemoterapi menyebabkan terjadinya penurunan nafsu makan sehingga berdampak pada kecukupan asupan, salah satunya yaitu kecukupan asupan yang meliputi energi dan zat gizi makro (energi, protein, lemak, dan karbohidrat).Tidak jarang bagi pasien kanker mengalami penurunan asupan terlebih telah menjalani kemoterapi.Dalam jangka panjang hal tersebut memiliki efek samping pada penurunan status gizi di kemudian hari.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara asupan energi dan zat gizi makro dengan status gizi pasien kanker yang menjalani kemoterapi di Rumkital Dr. Ramelan Surabaya.Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien kanker yang dijadwalkan akan melakukan kemoterapi pada bulan April hingga Mei 2019 dengan usia ≥19 tahun. Sebanyak 75 pasien dipilih menjadi sampel dengan menggunakan teknik accidental sampling. Data yang dikumpulkan meliputi data karakteristik responden melalui wawancara, asupan makan dengan metode 2x24 hours food recall, serta status gizi berdasarkan berat badan dan tinggi badan menggunakan standar Indeks Massa Tubuh dari Kemenkes 2014.Hasil: Responden memiliki kecukupan asupan yang meliputi energi dan zat gizi makro (lemak dan karbohidrat) dalam kategori adekuat (≥70% kebutuhan), kecuali kecukupan protein yang masih dalam kategori tidak adekuat (<70% kebutuhan). Sementara distribusi status gizi responden sebagian besar normal (44.00%), overweight (17.30%), dan obesitas (16.00%).Adapun terdapat hubungan yang signifikan antara asupan zat gizi makro dengan status gizi pasien kanker yang menjalani kemoterapi dengan signifikansi <0.05.Kesimpulan: Ditemukan korelasi atau hubungan antara asupan yang meliputi energi dan zat gizi makro (protein, lemak, dan karbohidrat) dengan status gizi pasien kanker yang menjalani kemoterapi di Rumkital Dr. Ramelan Surabaya.
Hubungan Riwayat Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) dengan Persepsi Perilaku Picky Eater pada Anak Usia 12-36 Bulan (Studi di Wilayah Kerja Sidotopo Surabaya) Arian Susanti Dewi Cahyani
Amerta Nutrition Vol. 3 No. 3 (2019): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (776.994 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v3i3.2019.171-175

Abstract

Background : Pre-school age children often have picky eater behavior. Perception of picky eater usually describes as the strong preference of children for food, inadequate of dietary diversity, restrain of certain food groups and won’t try new food. One of factors that causes this behavior is history of complementary feeding.Objectives: This study purposes was to analyze correlation between history of complementary feeding and perception of picky eater behavior among children age 12-36 month oldMethods: This study was analytic observasional study with cross-sectional design. The research was conducted in Sidotopo Health Center Surabaya City. There were 75 children age 12-36 month old. The inclusion criteria are children who have no history of food allergies. Sample was chosen by simple random sampling. Data collected by interview using questionnaires included characteristics of children and mothers, history of complementary feeding and perceptions of picky eater behavior. The data was analyzed by chi-square test.Results: The result show that inappropriate history of complementary feeding in children was 66.7% and prevalensi perception of picky eater behavior in children was 48.7%. There was significant correlation between history of complementary feeding and perception of picky eater behavior (p<0.001). Conclusions : There was a relationship between history of complementary feeding and perceptions of picky eater behavior among children age 12-36 month. Children with inappropriate history of complementary feeding tend to have picky eater behavior.ABSTRAKLatar Belakang : Anak usia pra-sekolah sering mengalami perilaku picky eater. Persepsi perilaku picky eater digambarkan bahwa anak cenderung memiliki preferensi makanan yang kuat, konsumsi makanan yang kurang beragam, membatasi asupan beberapa kelompok makanan tertentu dan tidak mau mencoba makanan baru. Salah satu faktor yang melatarbelakangi picky eater adalah riwayat pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI).Tujuan : Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis hubungan riwayat pemberian MP-ASI dengan persepsi perilaku picky eater pada anak usia 12-36 bulan.Metode : Jenis penelitian ini merupakan observasional analitik menggunakan desain penelitian cross-sectional. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Sidotopo Surabaya. Sampel penelitian sebesar 78 anak berusia 12-36 bulan. Kriteria inklusi yang ditetapkan adalah anak tidak memiliki riwayat alergi makanan. Pengambilan sampel dengan menggunakan teknik simple random sampling. Pengumpulan data dengan wawancara menggunakan kuesioner meliputi karakteristik anak dan ibu, riwayat pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) dan persepsi perilaku picky eater. Data dianalisis dengan menggunakan uji statistik Chi-Square.Hasil :  Hasil penelitian menunjukkan bahwa riwayat pemberian MP-ASI pada anak sebagian besar tidak sesuai yaitu 66,7% dan prevalensi persepsi perilaku picky eater pada anak sebesar 48,7%. Terdapat hubungan antara riwayat pemberian MP-ASI dengan persepsi perilaku picky eater (p<0,001).Kesimpulan : Terdapat hubungan antara riwayat pemberian MP-ASI dengan persepsi perilaku picky eater pada anak usia 12-36 bulan. Anak dengan riwayat pemberian MP-ASI yang tidak sesuai cenderung memiliki perilaku picky eater.
Hubungan Pendapatan, Tingkat Asupan Energi dan Karbohidrat dengan Status Gizi Balita Usia 2-5 Tahun di Daerah Kantong Kemiskinan Lutfiyatul Afifah
Amerta Nutrition Vol. 3 No. 3 (2019): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (21.624 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v3i3.2019.183-188

Abstract

Background: Nutritional status of toddlers is considered important since they are generally more susceptible to nutritional problem. Some factors that affect them is level of nutrient intake, which include level of energy intake, carbohydrate intake, and family income. Family income is associated with the ability to provide food, thus affecting the level of nutrient intake for the family.Objectives: The objective of the study was to analyze the correlation between incomes, level of energy and carbohydrate intake with nutritional status of toddlers aged 2-5 years in Lenteng sub-District, Sumenep.Methods: the design of this study was cross sectional.  Sample size was 70 parents of toddlers aged 2-5 years in Lenteng sub-District, Sumenep. Weight and height of the toddlers were measured to determine the nutritional status of the toddlers. Interviews with parents were also conducted to determine the characteristic of the toddlers and the family income. Lastly, 2 x 24 hours food recall was used to examine the level of their nutrient intake. The data were analyzed by using Spearman correlation test with α= 0.05.Results: The results showed that 57.1% toddlers were in low income category. 65.7% toddlers were in inadequate level of energy intake. 95.7% were in inadequate level of carbohydrate intake. Prevalence of toddlers with normal nutritional status normal were 84.3%, 11.4% was malnourished, while 2.9% was severely malnourished.  The result showed that level of energy intake and carbohydrate intake are related to nutritional status of toddlers (p=0.040) and (p=0.045). However, there was no correlation found between family incomes with toddlers' family income.Conclusions: Family income was not found to be related to the nutritional status of toddlers. While the lower level of nutrient intake can potentially affect nutritional problem among toddlers.  Thus, an adequate nutrient intake is required to help toddlers meet their balanced nutritional needs.ABSTRAK Latar Belakang: Status gizi balita penting diperhatikan karena balita rentan mengalami masalah gizi. Masalah gizi pada balita masih banyak terjadi. Status gizi balita dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya yaitu tingkat asupan zat gizi termasuk energi dan karbohidrat serta pendapatan keluarga. Rendahnya asupan zat gizi dapat mengakibatkan masalah gizi balita. Pendapatan keluarga berkaitan dengan kemampuan memenuhi asupan pangan keluarga.Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara pendapatan, tingkat asupan energi, dan karbohidrat dengan status gizi balita usia 2-5 tahun di Kecamatan Lenteng Kabupaten Sumenep.Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Jumlah sampel 70  orang tua balita berusia 2 hingga 5 tahun. Pengukuran berat badan dan tinggi badan balita untuk menilai status gizi. Wawancara kepada orang tua untuk mengetahui karakteristik balita dan pendapatan keluarga serta food recall 2 x 24 hours untuk mengetahui tingkat asupan balita. Data dianalisis menggunakan uji korelasi spearman dengan α= 0,05.Hasil: Sebanyak 57,1% responden berpendapatan rendah. Sebanyak 65,7% tingkat asupan energi adalah inadequate dan 95,7% karbohidrat adalah kurang. Prevalensi status gizi normal 84,3%, kurus 11,4% dan sangat kurus 2,9%. Hasil analisis menyebutkan ada hubungan antara tingkat asupan energi (p=0,040) dan tingkat asupan karbohidrat (p=0,045) dengan status gizi balita. Sedangkan pendapatan tidak berhubungan dengan status gizi balita (p=0,649).Kesimpulan: Pendapatan keluarga berhubungan dengan status gizi balita. Tingkat asupan zat gizi yang kurang dapat meningkatkan risiko masalah gizi balita. Maka perlu dilakukan peningkatan asupan zat gizi untuk memperoleh status gizi yang baik atau normal.
Hubungan Tingkat Konsumsi Protein, Vitamin C, Zat Besi dan Asam Folat dengan Kejadian Anemia Pada Remaja Putri SMAN 4 Surabaya Ni'matush Sholihah; Sri Andari; Bambang Wirjatmadi
Amerta Nutrition Vol. 3 No. 3 (2019): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (768.3 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v3i3.2019.135-141

Abstract

Background: The prevalence of anemia in adolescent girls was quite high and this is influenced by several factors, including low iron intake, low iron absorption, bleeding, malaria, worm infections and other infections, and also menstruation every month. Objective: The purpose of this research was to analyze the relationship between the level of protein, vitamin C, iron and folic acid with anemia among female teenagers. Method: This research a was case control design on class X at SMAN 4 Surabaya. The subject was 44 teenagers, consisting of 22 girls in the control groups and 22 girls in the case groups. Preliminary screening prior to the research found 36 people indicated anemia. Intake of protein, vitamin C, iron and folic acid were obtained through dietary food recall method 2 x 24 hours and compared to the Indonesian standard (AKG). Hemoglobin level was measured using the EasyTouch heamoglobin meter device. The statistical test used in the study was Pearson Correlation test. Result: The results showed that there was significant relationship between the level of protein consumption and incidence of anemia (p<0.001); iron consumption level and anemia (p=0.01) and level of folic acid intake and anemia (p<0.001). On the other hand, there was no significant relationship found between consumption level of vitamin C and anemia (p=1.0).Conclusion: There was significant correlation between level consumption of protein, iron, folid acid and the incidence of anemia, and no significant relationship was found between consumption level of vitamin C and anemia.ABSTRAKLatar Belakang: Prevalensi anemia pada remaja putri cukup tinggi dan hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya asupan zat besi yang rendah dan didukung oleh absorbsi yang rendah pula, pendarahan, penyakit malaria, infeksi cacing maupun infeksi lainnya, selain itu wanita juga mengalami menstruasi setiap bulannya.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan tingkat konsumsi protein, vitamin c, zat besi dan asam folat dengan status anemia pada remaja putri.Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan case control dengan sampel kelas X di SMAN 4 Surabaya. Besar sampel dari penelitian ini yaitu 44 responden, yang terdiri dari 22 kelompok kontrol (kelompok yang tidak anemia) dan 22 responden kasus (kelompok yang anemia). Sebelumnya dilakukan pengambilan data awal untuk mengetahui jumlah populasi yang anemia, dan didapatkan sebanyak 36 orang terindikasi anemia. Data asupan protein, vitamin C, zat besi dan asam folat didapatkan melalui metode recall 2 x 24 hours lalu dibandingkan dengan AKG. Kadar hemoglobin diukur dengan alat easy touch. Uji statistik yang dilakukan yaitu uji korelasi pearsonHasil: Setelah dilakukan penelitian, didapatkan hasil yaitu terdapat hubungan yang signifikan antara kejadian anemia dengan tingkat konsumsi protein (p<0,001; OR=30,33), kejadian anemia dengan tingkat konsumsi zat besi (p<0,001; OR=8,737) dan yang terakhir hubungan antara kejadian anemia dengan tingkat konsumsi asam folat (p=0,01; OR=9,067). Sebaliknya, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara tingkat konsumsi vitamin C dengan kejadian anemia (p= 1,0).Kesimpulan: Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat konsumsi protein, zat besi dan asam folat, dan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat konsumsi vitamin c dengan anemia. Remaja putri disarankan untuk meningkatkan konsumsi makanan yang kaya akan protein, zat besi dan asam folat seperti sayur-sayuran dan buah-buahan.  
Faktor Risiko Stunting pada anak di Negara Berkembang Indah Budiastutik; Muhammad Zen Rahfiludin
Amerta Nutrition Vol. 3 No. 3 (2019): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (921.599 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v3i3.2019.122-129

Abstract

Background: The problem of stunting occurs in developing countries including Indonesia. In Indonesia the prevalence of child stunting is 30.8%, still above the world prevalence, which is 22.2%. The prevalence of stunting in sub-Saharan Africa is 34.5%, in Ethiopia is 52.4%, and the prevalence of stunting in Congo is 40%. While WHO stipulates that nutrition problems should not exceed 20%. Stunting could inhibit linear growth, development and degenerative diseases later in adulthood.Objective: This review discussed the risk factors of child stunting in developing countries.Discusion: One of the causes of increased stunting in children was due to inadequate nutritional intake in a long period. Stunting was often not realized by parents and only visible after the age of 2 due to low stature. Based on the results of the literature review the likelihood of stunting in developing country were: 16.43 times morelikely due to low birth length, 3.27 times higher due to maternal education, 2.45 times higher if the children were living in rural area, 4.5 times higher due to low birth weight, no risk Antenatal Care increase the risk 3.4 times, 6.38 times higher due to no immunization, and no exclusive breastfeeding increase the risk of stunting 4.0 times.Conclusion: The risk factor for child stunting in developing countries are exclusive breastfeeding, socioeconomic, low birth weight, length of birth, low maternal education, infectious disease.ABSTRAKLatar Belakang: Masalah stunting (stunting) yang terjadi di Negara Berkembang seperti Indonesia masih tinggi yaitu 30,8% masih  di atas dunia yaitu 22,2%.  Stunting di sub sahara Afrika 34,5%, di Ethiopia  52,4%, prevalensi stunting di Congo 40%. Word Health Organization sudah menentukan bahwa terjadinya masalah gizi suatu negara sebaiknya kurang dari 20%. Stunting memiliki risiko gangguan pertumbuhan, perkembangan dan penyakit degeneratif pada usia dewasa nanti.Tujuan: Review ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor risikos apa saja yang dapat menentukan terjadinya stunting anak di Negara berkembang.Ulasan: Berdasarkan dari beberapa hasil penelitian menyebutkan bahwa salah satu penyebab stunting pada anak adalah karena tidak terpenuhinya gizi yang baik pada kurun waktu yang panjang dan sering kali tidak disadari oleh orang tuanya sehingga setelah anak usia di atas 2 tahun baru terlihat bahwa anaknya mengalami stunting. Berdasarkan hasil literatur review menunjukkan bahwa faktor risiko terjadinya stunting adalah panjang lahir berisiko 16,43 kali, pendidikan ibu yang rendah berisiko 3,27 kali, serta anak yang tinggal di desa berisiko 2,45 kali,  BBLR berisiko 4,5 kali, tidak ANC berisiko 3,4 kali, tidak imunisasi berisiko 6,38 kali, dan tidak ASI Eksklusif berisiko 4,0 kali  adalah merupakan faktor risiko  stunting anak di negara berkembang.Kesimpulan: Hasil sintesis ini secara konsisten yang menjadi faktor risikos terjadinya stunting pada anak di negara berkembang adalah tidak diberikan ASI eksklusif, sosial ekonomi, berat bayi lahir rendah, panjang lahir, pendidikan ibu rendah, penyakit infeksi.
Kebiasaan Membaca Label Gizi Berhubungan Dengan Asupan Natrium Pada Wanita Dewasa Dea Dellyana Wahyutia Ady; Sri Sumarmi
Amerta Nutrition Vol. 3 No. 3 (2019): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (762.45 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v3i3.2019.158-163

Abstract

Background: Sodium is one of the nutrients which is mandatory to be displayed in food packaging. High intake of sodium can increase the risk blood pressure elevation and hypertension. The habit of reading the nutrition label can affect in dietary intake, one of them is sodium.Objective: The purpose of this study was to analyze the association between the habit of reading the nutrition label and sodium intake in female adolescents.Methods: This study was a cross sectional study with citizens of  Modong Village, Tulangan Sub-district, Sidoarjo District with 70 participants. Sample collection used a simple random sampling method. Sodium intake data was collected through interview using Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ). Data of habit of reading the nutrition label were obtained through interview in reading nutrition label frequency. Statistical test performed was chi square test.Result: The results showed that there was a significant relationship between reading habit of nutrition fact with sodium intake among adult woman (p=0.023). Most respondents rarely read nutrition label (40%) and inadequate sodium intake (30%).Conclusion: The habit of reading nutrition label is significantly associated with sodium intake in female adolescents in Modong Village, Tulangan Sub-district, Sidoarjo District.ABSTRAK Latar Belakang: Natrium adalah salah satu zat gizi yang wajib ditampilkan di label pangan kemasan. Asupan tinggi natrium meningkatkan resiko peningkatan tekanan darah dan hipertensi. Kebiasaan membaca label gizi dapat berpengaruh terhadap asupan zat gizi, salah satunya natrium.Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan kebiasaan membaca label gizi dengan asupan natrium pada wanita dewasa.Metode: Penelitian cross sectional ini dilakukan pada populasi wanita dewasa di Desa Modong, Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo dengan 70 orang responden. Teknik pengumpulan sampel menggunakan simple random sampling. Data asupan natrium didapatkan melalui wawancara menggunakan Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ). Data kebiasaan membaca label gizi didapatkan melalui wawancara frekuensi membaca label gizi. Hubungan antara kebiasaan membaca label gizi dengan asupan natrium dianalisis menggunakan uji statistic uji chi square.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara kebiasaan membaca label gizi dengan asupan natrium (p=0,023). Sebagian besar responden jarang membaca label gizi (40%) dan mengonsumsi natrium yang berlebih (30%).Kesimpulan: Kebiasaan membaca label gizi memiliki hubungan yang bermakna dengan asupan natrium wanita dewasa di Desa Modong, Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo.
Intensitas Penggunaan Media Sosial, Kebiasaan Olahraga, dan Obesitas Pada Remaja Di SMA Negeri 6 Surabaya Tahun 2019 Fransiska Sabatini Setiawati; Trias Mahmudiono; Nadia Ramadhani; Khairina Fadiah Hidayati
Amerta Nutrition Vol. 3 No. 3 (2019): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (835.598 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v3i3.2019.142-148

Abstract

Background: Physical activity is the external factors which has a siginficant corellation with obesity among adolecscents.The prevalence of obese adolescents in Indonesia has increased from 2013-2018. Sedentary lifestyle tends to expand largely in a high-tech society.  The amount of time spent for social media usage has decreased their ability to do physical activity. Objectives: The research purpose to analyze corelation between intensity of social media usage and sport habits Senior High School 6 Surabaya students.Methods: The study was analytic observation with cross sectional study design. The population were students in 10th and 11th grade in Senior High School 6 Surabaya in total 614 people. Sample as determined by cluster random sampling and 133 sample were chosen. The data collected include the characteristic of sample sport habist and social media intensity usage through administered questionnaire, and nutritional status based on BMI/Age calculation in WHO Antro 2005. Data was analyzed by Spearman test.Results: Most of students have low level in sport habits (52.6%), while the intensity of social media use was high (57.1%). There were respondents with overweight (21.1%) and underweight (6.8%), although the most of them had normal nutritional status (72.2%). There was significant relationship between social media intensity usage and sport habits among students in SMAN 6 Surabaya (p<0.001) with (r=-0.608) this showed that the higher the intensity of the usde of social media, the lower the exercise habits in adolescents.Conclusions: The high intensity of social media use is related to the low exercise habits of students of SMAN 6 SurabayaABSTRAK Latar Belakang: Aktivitas fisik merupakan faktor eksternal terbesar penyebab obesitas pada remaja. Prevalensi remaja gemuk di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun 2013-2018.  Gaya hidup kurang gerak cenderung terus meluas dalam masyarakat berteknologi maju. Peningkatan penggunaan media sosial, telah mengurangi jumlah waktu remaja untuk berolahraga.Tujuan: Menganalisis hubungan antara intensitas penggunaan media sosial dan kebiasaan olahraga serta kaitannya dengan obesitas pada siswa/i SMAN 6 Surabaya.Metode: Desain penelitian ini adalah cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh siswa/i kelas X dan XI SMAN 6 Surabaya sebanyak 614 orang. Sampel penelitian sebanyak 133 siswa/i yang dipilih dengan menggunakan cluster random sampling berdasarkan kelompok kelas X dan XI di SMAN 6 Surabaya. Data pada penelitian ini meliputi data karakteristik responden, kebiasaan olahraga dan intensitas penggunaan media sosial menggunakan kuesioner, serta status gizi berdasarkan pengukuran IMT/U sesuai standar World Health Organization (WHO) tahun 2005. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman.Hasil: Sebagian besar responden memiliki kebiasaan olahraga yang tergolong rendah (52,6%) sedangkan, intensitas penggunaan media sosial tergolong tinggi (57,1%). Terdapat responden yang memiliki status gizi lebih (21,1%) dan kurang (6,8%) meskipun, sebagian besar dari mereka memiliki status gizi normal (72,2%). Ada hubungan yang signifikan antara intensitas penggunaan media sosial dengan kebiasaan olahraga (p=0,000) dengan (r=-0,475) semakin tinggi intensitas penggunaan media sosial maka semakin rendah kebiasaan olahraga pada remaja.Kesimpulan: Tingginya intensitas penggunaan media sosial berhubungan dengan rendahnya kebiasaan olahraga pada siswa/i SMAN 6 Surabaya.. 
Ketahanan Pangan Rumah Tangga, Kejadian Sakit dan Sanitasi Lingkungan Berhubungan dengan Status Gizi Balita Usia 1-5 Tahun Di Surabaya Hernita Riski; Luki Mundiastutik; Annis Catur Adi
Amerta Nutrition Vol. 3 No. 3 (2019): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.419 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v3i3.2019.130-134

Abstract

Background: Food security is an important aspect that plays a role in achieving the Sustainable Development Goals (SDGs). Based on the second purpose of SDGs, food security can be achieved if the community has been free from hunger, access to safe and nutritious food is sufficient for everyone. Food security is an important aspect because it can influence the nutritional status of the community, especially children. According to Riskesdas 2018, in Indonesia the prevalence of malnutrition and malnutrition in children are 13.85% and 3.9%.Objectives: To analyze the relationship of household food security, incidence of illness, and environmental sanitation with nutritional status of children in Sidotopo, Semampir Surabaya.Method: This research used cross sectional design. The sample size was 64 household. Sampling was done by multistage random sampling. Data was collected through interview using US-HFSSM, recall 2x24hours, environmental sanitation, and general questionnaire. The result was analyzed using spearman test. Result: Food security had a significant relationship between nutritional status WAZ (p<0.001), the incidence of illness had a significant relationship with nutritional status WAZ (p=0.001), and environmental sanitation had a significant relationship with nutritional status with WAZ (p=0.039). Conclusion: The conclusion that there were relationship of household food security, incidence of illness, and environmental sanitation with nutritional status of children.ABSTRAK Latar Belakang: Ketahanan pangan merupakan salah satu aspek penting yang berperan dalam pencapaian Susteinable Development Goals (SDGs). Berdasarkan tujuan kedua SDGs, ketahanan pangan dapat dikatakan tercapai apabila masyarakat telah bebas dari kelaparan, akses pangan yang aman dan bergizi tercukupi untuk semua orang. Ketahanan pangan merupakan aspek yang penting karena mampu mempengaruhi status gizi masyarakat terutama balita. Menurut Riskesdas 2018, di Indonesia prevalensi status gizi kurang  dan gizi buruk pada balita sebesar 13,85% dan 3,9%.Tujuan: Menganalisis hubungan ketahanan pangan rumah tangga, kejadian sakit, dan sanitasi lingkungan dengan status gizi balita di Kelurahan Sidotopo Kecamatan Semampir Kota Surabaya.Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Besar sampel sebanyak 64 rumah tangga. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara multistage random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuisioner US-HFSSM untuk mengetahui status ketahanan pangan rumah tangga, kuisioner sanitasi lingkungan untuk mengetahui status sanitasi lingkungan rumah, dan kuisioner umum untuk mengetahui identitas responden, kejadian sakit dan status gizi responden . Penelitian dianalisis dengan uji korelasi spearman.Hasil: Ketahanan pangan memiliki hubungan yang signifikan dengan status gizi BB/U (p<0,001) dengan koefisien korelasi sebesar 0,463, kejadian sakit memiliki hubugan signifikan dengan status gizi berdasarkan indeks BB/U (p=0,001) dengan koefisien korelasi sebesar -0,390, dan sanitasi lingkungan memiliki hubungan signifikan dengan status gizi berdasarkan indeks BB/U (p=0,039) dengan koefisien korelasi sebesar 0,259.Kesimpulan: Terdapat hubungan ketahanan pangan rumah tangga, kejadian sakit, dan sanitasi lingkungan dengan status gizi balita.

Page 1 of 2 | Total Record : 14


Filter by Year

2019 2019


Filter By Issues
All Issue Vol. 9 No. 1SP (2025): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Special 5th Amerta Nutrition Conferenc Vol. 9 No. 4 (2025): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 9 No. 3 (2025): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 9 No. 2 (2025): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 9 No. 1 (2025): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 8 No. 3SP (2024): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Special 4th Amerta Nutrition Conferenc Vol. 8 No. 4 (2024): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 8 No. 3 (2024): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 8 No. 2SP (2024): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Vol. 8 No. 2 (2024): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 8 No. 1SP (2024): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Vol. 8 No. 1 (2024): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 7 No. 2SP (2023): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Special 3rd Amerta Nutrition Conferenc Vol. 7 No. 4 (2023): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 7 No. 3SP (2023): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Vol. 7 No. 3 (2023): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 7 No. 2 (2023): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 7 No. 1SP (2023): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Big Data Seminar Vol. 7 No. 1 (2023): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 6 No. 1SP (2022): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Special 2nd Amerta Nutrition Conferenc Vol. 6 No. 4 (2022): AMERTA NUTRITION Vol. 6 No. 3 (2022): AMERTA NUTRITION Vol. 6 No. 2 (2022): AMERTA NUTRITION Vol. 6 No. 1 (2022): AMERTA NUTRITION Vol. 5 No. 4 (2021): AMERTA NUTRITION Vol. 5 No. 3 (2021): AMERTA NUTRITION Vol. 5 No. 2 (2021): AMERTA NUTRITION Vol. 5 No. 2SP (2021): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Vol. 5 No. 1 (2021): AMERTA NUTRITION Vol. 5 No. 1SP (2021): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Vol. 4 No. 4 (2020): AMERTA NUTRITION Vol. 4 No. 3 (2020): AMERTA NUTRITION Vol. 4 No. 2 (2020): AMERTA NUTRITION Vol. 4 No. 1 (2020): AMERTA NUTRITION Vol. 4 No. 1SP (2020): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Vol. 3 No. 4 (2019): AMERTA NUTRITION Vol. 3 No. 3 (2019): AMERTA NUTRITION Vol. 3 No. 2 (2019): AMERTA NUTRITION Vol. 3 No. 1 (2019): AMERTA NUTRITION Vol. 2 No. 4 (2018): AMERTA NUTRITION Vol. 2 No. 3 (2018): AMERTA NUTRITION Vol. 2 No. 2 (2018): AMERTA NUTRITION Vol. 2 No. 1 (2018): AMERTA NUTRITION Vol. 1 No. 4 (2017): AMERTA NUTRITION Vol. 1 No. 3 (2017): AMERTA NUTRITION Vol. 1 No. 2 (2017): AMERTA NUTRITION Vol. 1 No. 1 (2017): AMERTA NUTRITION More Issue