cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Prosiding Seminar Nasional MIPA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 140 Documents
Search results for , issue "2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015" : 140 Documents clear
PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR (SPPKB) TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA SMP DALAM BIDANG SAINS Ni Luh Pande Latria Devi
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 Singaraja . Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimen semu dengan rancangan The posttest only control group Teknik sampling yang digunakan untuk menentukan sampel adalah teknik random sampling. Data dikumpulkan dengan tes, dan dianalisis dengan teknik analisis uji t dan uji U. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis perbedaan kemampuan berpikir kritis dalam aspek merumuskan masalah, memberikan argumen, melakukan deduksi, melakukan induksi, melakukan evaluasi, memutuskan dan melaksanakan, antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan SPPKB dengan siswa yang mengikuti pembelajaran dengan strategi pembelajaran langsung.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: kemampuan berpikir kritis siswa yang mengikuti pembelajaran dengan SPPKB lebih baik dari siswa yang mengikuti pembelajaran dengan strategi pembelajaran langsung. Pada siswa yang mengikuti pembelajaran dengan SPPKB rata-rata kemampuan berpikir kritisnya sebesar 75,82 sedangkan siswa yang mengikuti pembelajaran dengan strategi pembelajaran langsung rata-rata kemampuan berpikir kritisnya sebesar 44,02. Pada setiap aspek berpikir kritis juga menunjukkan hal yang sama.Uji statistik dengan Uji t maupun Uji u menunjukkan ada perbedaan yang signifikan antara kemampuan berpikir siswa yang mengikuti pembelajaran dengan SPPKB dengan siswa yang mengikuti pembelajaran dengan strategi pembelajaran langsung (thitung = 13,93; sig= 0,00)Dari data yang diperoleh dapat dikatakan langkah-langkah pada SPPKB dapat membantu siswa dalam peningkatan kemampuan berpikir secara lebih baik dibandingkan dengan langkah-langkah pada strategi pembelajaran langsung.Berdasarkan hasil penelitian diatas maka salah satu dari implikasi penelitian ini adalah bahwa SPPKB dapat dijadikan alternatif strategi dalam pembelajaran sains dalam tujuan meningkatkan kemampuan berpikir kritis.Kata Kunci: Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir (SPPKB), Kemampuan Berpikir Kritis, Strategi Pembelajaran langsung (Direct Instruction).ABSTRACTThis study was conducted at SMPN 2 Singaraja. This study belonged to experimental research using the posttest only control group design. The sampling was carried out by random sampling technique. The data collected were tested, was analyzed by t-test and u-test. The aims of this study to description and analyzed the different of critical thinking and the part. The part is problem identification, analyzing arguments, deducing and judging deducing, inducing and judging inducing, evaluated (making and judging value judgments), deciding on an action. Between student who learnt through ESGCT and student who learnt through DI.The result of this study shows that: critical thinking ability of the students who learnt through ESGCT was better than students who learnt through direct learning strategy. Students who learnt through ESGCT the average of their critical thinking ability was about 75,82, meanwhile the students who learnt through direct learning strategy the average of their critical thinking ability was about 44,02.There was significant difference between thinking ability of the students through ESGCT with the students through direct learning strategy (tcount = 13,93; sig.= 0,00) that tested by using both t-test and u-test. From the data,we can know the steps in ESGCT can assist the students to improve their thinking ability was better than the steps in direct learning strategy. Based on finding of this study, one of the implications of this study was ESGCT can be an alternative strategy in science to improve critical thinking ability of the students.Key word: Education Strategy Growth Capacity to Think (ESGCT). Critical Thinking Skill, Direct Instruction Strategy (DI)
ANALISIS KEBUTUHAN PENGEMBANGAN MODEL PRO-BBL UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA DALAM PEMBELAJARAN FISIKA SMA Rai Sujanem
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian dalam analisis kebutuhan ini sebagai berikut. 1) Menganalisis studi literatur tentang (a) konsep-konsep suhu dan kalor yang esensial dan strategis, (b) menganalisis karakteristik model Pro-BBL. 2) Melakukan studi lapangan, tentang (a) konsep-konsep suhu dan kalor esensial dan strategis yang telah diterapkan, (b) Sarana dan prasarana laboratorium dan ICT yang tersedia, (c) referensi sebagai sumber belajar yang tersedia, (d) metode yang biasa diterapkan guru, dan (e) kendala-kendala yang dihadapi oleh guru dalam pembelajaran.Subyek penelitian adalah siswa kelas X SMA berdasarkan klasifikasi nilai ujian nasional fisika. Kelompok SMA yang terpilih adalah klasifikasi B, C, dan D, yaitu, SMAN 1, SMAN 4, dan SMAN 3 Singaraja. Metode pengumpulan data dilakukan dengan memberikan daftar Isian, melakukan observasi dan wawancara.Hasil analisis kebutuhan, sebagai berikut. 1) Produk kegiatan studi literatur adalah (a) daftar konsep­konsep suhu dan kalor esensial, (b) karakteristik model Pro-BBL meliputi, dasar teori, tujuan, sintaks, dan lingkungan belajar. 2) Produk kegiatan studi lapangan adalah (a) daftar konsep-konsep esensial yang telah dikaji sesuai dengan yang tertuang dalam literatur, namun belum diterapkan untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan kemampuan pemecahan masalah, (b) daftar alat lab dan ICT yang tersedia cukup memadai, namun belum tersedia media web yang mewadahi model Pro-BBL, (c) daftar referensi sebagai sumber belajar cukup memadai, namun belum tersedia referensi yang bermuatan keterampilan berpikir kritis dan kemampuan pemecahan masalah, (d) metode yang biasa diterapkan guru adalah metode diskusi, ceramah, dan kadang-kadang kooperatif, PBL dan Web, (e) kendala-kendala dalam PBL dan web adalah masalah waktu relatif lama, sulit menyiapkan masalah ill-structure, hanya kelompok tertentu yang bisa memecahkan masalah, akses internet lambat, dan belum ada rujukan mana web yang inovatif.Kata kunci: analisis kebutuhan, model pro-bblAbstractThis study on need analysis was aimed at the following objectives. 1) to analyze literature on (a) the essential and strategic temperature and heat concepts, (b)to analyze the characteristics of Pro-BBL model, 2) to do a field study about (a) essential and strategic temperature and heat concepts that have been applied, (b) to analyze laboratory infrastructure and facilities and ICT available, (c) to analyze the available references for learning, (d) to analyze methods usually used by the teachers, and (e) to find out the constraints faced by the teachers in teaching.The subjects were the tenth grade students of SMA based on the classification of national examination in physics. The SMA groups selected were Classifications B, C, and D, that is, SMAN 1, SMAN 4, and SMAN 3 in Singaraja. The data were collected by a check list, observation and interview.The results of the needs analysis, as follows. 1) The products of literature study are (a) a list of essential temperature and heat concepts, (b) The characteristics of Pro-BBL model that cover basic theory, purpose, syntax, and the learning environment. 2) Product of the field study activity are (a) a list of essential concepts that have been reviewed in accordance with that stated in the literature, but has not been implemented to improve critical thinking skills and problem solving skills, (b) a list of laboratory instruments and ICT available adequate, but not yet available web media that embodies the model Pro-BBL, (c) a reference list as a learning resource adequate, but not yet available reference charged critical thinking skills and problem solving skills, (d) the methods usually applied by the teachers are the method of discussion, lectures, and sometimes cooperative, PBL and the web, and (e) the constraints in the PBL and the web is a matter of a relatively long time, it is difficult to prepare ill-structure problems, only certain groups can solve the problem, internet access is slow, and there is no reference where the web innovative.Keywords: need analysis, pro-bbl model
Pengaruh Virtual Experiment Terhadap Hasil Belajar Fisika Ditinjau dari Motivasi Belajar Siswa SMA Negeri 1 Singaraja Putri Sarini
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) perbedaan hasil belajar siswa antara siswa yang belajar melalui model pembelajaran dengan virtual experiment dan siswa yang belajar melalui model pembelajaran konvensional; (2) pengaruh interaksi antara model pembelajaran dan motivasi belajar fisika siswa terhadap hasil belajar fisika siswa; (3) perbedaan hasil belajar siswa antara siswa yang belajar melalui model pembelajaran dengan virtual experiment dan siswa yang belajar melalui model pembelajaran konvensional, pada siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi; dan (4) perbedaan hasil belajar siswa antara siswa yang belajar melalui model pembelajaran dengan virtual experiment dan siswa yang belajar melalui model pembelajaran konvensional, pada siswa yang memiliki motivasi belajar rendah. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu dengan rancangan post test only control group design. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas X regular SMA Negeri 1 Singaraja tahun ajaran 2011/2012. Penetapan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik random sampling. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan kuisioner motivasi belajar dan tes hasil belajar fisika berbentuk obyektif diperluas. Untuk uji hipotesis, data dianalisis dengan analisis varians (Anava) dua jalur dan dilanjutkan dengan uji Tukey pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat perbedaan hasil belajar fisika antara siswa yang belajar melalui model pembelajaran dengan virtual experiment dan siswa yang belajar melalui model pembelajaran konvensional; (2) terdapat pengaruh interaksi antara model pembelajaran dan motivasi belajar terhadap hasil belajar fisika siswa; (3) terdapat perbedaan hasil belajar fisika antara siswa yang belajar melalui model pembelajaran dengan virtual experiment dan siswa yang belajar melalui model pembelajaran konvensional, pada siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi; dan (4) terdapat perbedaan hasil belajar fisika antara siswa yang belajar melalui model pembelajaran dengan virtual experiment dan siswa yang belajar melalui model pembelajaran konvensional, pada siswa yang memiliki motivasi belajar rendah. Oleh karena itu,dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran dengan virtual experiment dan motivasi belajar berpengaruh terhadap hasil belajar fisika siswa.Kata kunci: hasil belajar fisika, motivasi belajar, virtual experimentAbstractThis research aims at:(1) understanding the examination outcomes of students who study Physics through virtual experiment and those who study using conventional method; (2) understanding the effect of interaction between learning method and motivation on the Physics examination outcomes; (3) understanding the difference between students who study Physics through virtual experiment and students who study Physics through conventional method, at students whose high motivation in learning; and (4) understanding the difference between students who study Physics through virtual experiment and students who study Physics through conventional method, at students whose low motivation in learning. The type of research is quasi experimental research by employing post test only control group design. The populations were all students in regular class X of SMA Negeri 1 Singaraja, year 2011/2012. In this research, random sampling technique is adopted. The data is gathered from questionnaires regarding motivation in learning and Physics examination in the form of extended objectives. For hypothesis evaluation, data is analyzed using two-way Analysis of Variance (Anova) and test at level of significance of 5%. Results show that: (1) in terms of Physics examination outcomes, there is a difference between students who study Physics through virtual experiment and those who study Physics through conventional method, (2) learning method and motivation affect the Physics examination outcomes, (3) there is a difference between students who study Physics through virtual experiment and students who study Physics through conventional method, at students whose high motivation in learning; dan (4) there is a difference between students who study Physics through virtual experiment and students who study Physics through conventionalmethod, at students whose low motivation in learning. Thus, it is concluded that learning Physics through virtual experiment and        motivation affect the Physics examination outcomes.Keywords: Physics examination outcomes, motivation in learning, virtual experiment
PENGARUH MODEL SIKLUS BELAJAR 7E TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP DAN KETERAMPILAN PROSES SISWA SMA NEGERI 1 SAWAN Ni Putu Sri Ratna Dewi; Putu Budi Adnyana; I G A N Setiawan
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis perbedaan: (1) pemahaman konsep dan keterampilan proses antara siswa yang dibelajarkan dengan model siklus belajar 7E dengan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran langsung, (2) pemahaman konsep antara siswa yang dibelajarkan dengan model siklus belajar 7E dengan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran langsung, (3) keterampilan proses antara siswa yang dibelajarkan dengan model siklus belajar 7E dengan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran langsung. Penelitian ini merupakan kuasi eksperimen dengan rancangan The pretest-posttest Nonequivalent Control Group Design.Populasi penelitian berjumlah 192 siswa dan sampel penelitian yang digunakan adalah 130 orang. Dua instrumen pokok penelitian yaitu tes pemahaman konsep dan tes keterampilan proses (tes kinerja). Data yang diperoleh dianalisis dalam dua tahap, yaitu analisis statistik deskriptif dan analisis statistik inferensial.Untuk menguji hipotesis digunakan analisis MANOVA satu jalur. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan hasil sebagai berikut.Pertama, ada perbedaan yang signifikan pemahaman konsep dan keterampilan proses antara siswa yang dibelajarkan dengan model siklus belajar 7E dengan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran langsung (F=2,99; p<0,05). Kedua, ada perbedaan yang signifikan pemahaman konsep antara siswa yang dibelajarkan dengan model siklus belajar 7E dengan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran langsung (F=132,516; p<0,05). Ketiga, ada perbedaan yang signifikan pemahaman konsep antara siswa yang dibelajarkan dengan model siklus belajar 7E dengan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran langsung (F=303,612; p<0,05).Berdasarkan hasil penelitian ini dapat direkomendasikan bahwa model siklus belajar 7E dapat digunakan sebagai alternatif model pembelajaran untuk meningkatkan pemahaman konsep dan keterampilan proses siswa.Kata-kata kunci: siklus belajar, 7E, pemahaman konsep, dan keterampilan prosesABSTRACTThe aims of this study was to analyze the differences between: (1) conceptual understanding and process skill between students who studied through 7E learning cycle model with the students who studied through direct instruction model, (2) conceptual understanding between students who studied through 7E learning cycle model with the students who studied through direct instruction model, (3) process skill between students who studied through 7E learning cycle model with the students who studied through direct instruction model. This study was an quasy experimental study using the pretest-posttest nonequivalent control group design. The population of this study was 192 students and sample of this study who participated was 130 students. Two main instruments were students concept understanding test and process skill test. Data were analyzed in two steps, they were descriptive statistics and inferential statistics analysis. To examine the hypothesis, multivariate variants analysis with MANOVA one way was used. The result of study was stated below. First, there were significantly differences conceptual understanding and process skill between students who studied through 7E learning cycle model with the students who studied through direct instruction model between students who studied through 7E learning cycle model with the students who studied through direct instruction model (F=2,99; p<0,05). Second, there were the differences between conceptual understanding significantly between students who studied through 7E learning cycle model with the students who studied through direct instructionmodel (F=132,516; p<0,05). Third, there were the differences between process skill significantly between students who studied through 7E learning cycle model with the students who studied through direct instruction model (F=303,612; p<0,05). Based on the result of study, it can be recommended that 7E learning cycle model can be applied as an alternative learning model in order to improve the students concept understanding and process skill.Keywords: learning cycle, 7E, conseptual understanding, proses skill
Pelatihan Keterampilan Merakit Rangkaian Bagi Guru IPA SMP/MTs Negeri dan Swasta di Kecamatan Buleleng Dewi Oktofa Rachmawati
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan pengabdian ini adalah untuk meningkatkan keterampilan merakit rangkaian bagi guru IPA SMP/M.Ts. Negeri dan Swasta yang ada di Kecamatan Buleleng. Metode kegiatan ini menggunakan sistem pelatihan. Sasaran pengabdian adalah guru-guru IPA SMP/M.Ts. Negeri dan Swasta yang ada di Kecamatan Buleleng. Data keterampilan merakit rangkaian terdiri dari data proses dan produk kegiatan. Data proses kegiatan yang meliputi aspek merancang percobaan dan keterampilan merakit rangkaian dievaluasi menggunakan lembar observasi. Data produk kegiatan yang berupa produk rangkaian listrik hasil pelatihan dievaluasi dengan lembar pedoman penilaian. Data respon peserta pelatihan terhadap pelaksanaan pelatihan dikumpulkan dengan menggunakan angket. Data dianalisis secara deskriptif. Hasil pelaksanaan program kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan keterampilan guru dalam merakit rangkaian dengan nilai rata-rata keterampilan merakit rangkaian yaitu 83, standar deviasi 6.91. Respon guru peserta pelatihan terhadap pelaksanaan kegiatan pelatihan sangat positif. Hal positif yang dapat diperoleh setelah kegiatan pelatihan ini adalah 1) peserta pelatihan memperoleh pengenalan komponen kit listrik dan dan fungsinya, jenis-jenis percobaan listrik yang dapat dirancang dengan menggunakan KIT listrik, 2) peserta pelatihan memperoleh pengetahuan merancang percobaan rangkaian listrik , 3) peserta pelatihan mendapat keterampilan merakit rangkaian menggunakan kit listrik.Kata kunci : kit listrikAbstractThe purpose of this community service was to increase the skill to assembly the electric circuits for the Natural Science teachers of all States or Privates SMP/M.Ts in Buleleng district. The method used in this activity was in form of training. The target of this community service was the Natural Sciences teachers of State or Private SMP/M.Ts in Buleleng District. Data of skill to assembly the electric circuits consisted of process data and product activity. Data of activity process which included the aspect of planning the experiment and the skill to assembly the electric circuits were evaluated by using evaluation guidance sheet. Data were analyzed descriptively. Data of trainer responds toward the training implementation were collected by using questionnaires. The result of this program shows that there is an increasing in electric circuits assembling of the teachers with the average value of electric circuit assembling skill is 83 and deviation standard 6.91. The respond of trainees towards the training activity was positive. The positive thing obtained after this training activity are 1) the trainees gain the recognition of electric components, the function of electric kit, and the types of electric experiments, 2) the trainees get the knowledge to design the electric circuit experiments, 3) the trainees get the skill of circuit assembling by using electric kit.Key words: electric kit
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL REACT TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP FISIKA DAN KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA KELAS VIII SMP Kompyang Selamet
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh model pembelajaran kontekstual relating, experiencing, applying, cooperating, transferring (REACT) terhadap pemahaman konsep fisika dan keterampilan proses sains. Jenis penelitian ini adalah kuasi eksperimen dengan rancangan pretest and posttest control group design. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP PGRI 9 Denpasar tahun pelajaran 2012/2013. Pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan teknik group random sampling. Data yang diperoleh dianalisis dengan statistik deskriptif dan MANOVA satu jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pemahaman konsep fisika dan keterampilan proses sains antara kelompok siswa yang belajar dengan model pembelajaran kontekstual REACT dan kelompok siswa yang belajar dengan model pembelajaran konvensional (F=25,715; p<0,05). Jadi dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kontekstual REACT berpengaruh terhadap pemahaman konsep fisika dan keterampilan proses sains. Implikasinya dalam pembelajaran adalah supaya siswa dapat mengembangkan pemahaman konsep fisika dan keterampilan proses sains dengan maksimal, diperlukan sebuah pembelajaran yang menekankan kebermaknaan dan pengalaman hidup, salah satunya melalui model pembelajaran kontekstual REACT.Kata kunci: Pembelajaran kontekstual REACT, pemahaman konsep fisika, keterampilan proses sainsAbstractThis study aimed to analyze the effect of contextual teaching and learning relating, experiencing, applying, cooperating, and transferring (REACT) model on the understanding of physics concepts and science process skills. The study was quasi-experimental with pretest and posttest control group design. The subjects were eighth grade students of SMP PGRI 9 Denpasar academic year 2012/2013. Sampling of the research was conducted by group random sampling technique. Data were analyzed with descriptive statistics and MANOVA one lane. The results showed that there are differences in understanding of physics concepts and science process skills among groups of students who study with contextual teaching and learning REACT model and groups of students who are learning with conventional learning model (F = 25,715; p<0,05). So the conclusion is the contextual teaching and learning REACT model affect the understanding of physics concepts and science process skills. The implication in learning is that students can develop their understanding of physics concepts and science process skills to the maximum, required a learning study that emphasizes the meaningfulness of learning and life experiences, one of them through contextual teaching and learning REACT model.Keywords: Contextual teaching and learning REACT, understanding of physics concept, science process skills
KONTINUITAS PENELITIAN DOSEN UNDIKSHA DALAM BIDANG KECAKAPAN HIDUP (SOFT SKILL) TAHUN 2009-2014 Nyoman Wijana
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui jumlah peneliti yang melakukan penelitian yang berlangsung selama waktu 2009-2014, (2) Mengetahui jumlah peneliti yang melakukan penelitian di bidang kecakapan hidup (life skill) yang berlangsung secara kontinu atau berkesinambungan selama waktu 2009-2014 dan(3) Kendala-kendala yang dialami bagi peneliti yang melakukan penelitian secara tidak berkesinambungan selama waktu 2009-2014. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penelitian yang telah dilakukan di Undiksha dalam kurun waktu tahun 2009-2015. Penentuan sampel menggunakan teknik total sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi dokumen. Data penelitian ini berupa data kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Profil penelitian dosen Undiksha dari tahun 2009-2014 secara umum, kuantitasnya cenderung mengalami kenaikan, kecuali penelitian tahuan 2010. (2) Dari jumlah penelitian dari tahun 2009-2014, ada penelitian sebanyak 1.093. Dari 1.093 penelitian tersebut, 327 adalah jenis penelitian kecakapan hidup (29,92%). Jumlah penelitian yang mencakup kecakapan hidup yang persentasenya paling besar adalah tahun 2014 yaitu sebanyak 33,85% dan yang paling sedikit adalah tahun 2009 (25,60%). (3) Dari 327 buah penelitian tahun 2009-2014, dari bidang personal ada sebanyak 5 buah penelitian, 53 buah penelitian sosial, 233 buah penelitian akademik, dan 44 buah penelitian vokasional.(4) peneliti yang melakukan penelitian berorientasi kecakapan hidup yang berlanjut secara konstan selama 2 tahun adalah 23 orang (10.45%), yag berlanjut secara konstan selama 3 tahun sebanyak 9 orang (4.09%), yang berlanjut secara konstan selama 4 tahun sebanyak 2 orang (0.91%), berlanjut konstan 5 dan 6 tahun masing-masing 0 orang (0.00%), berlanjut secara tidak konstan sebanyak13 orang (5.91%), dan yang tidak berlanjut 173 orang (78.64%); (5) Adapun kendala yang dihadapi dari ketidakberlanjutan penelitian dosen adalah (1) Faktor masa kontrak, (2) Proposal yang disusun hanya untuk satu tahun, (3) Kontrak hanya dua tahun, dan (4) Bidang keilmuan dari peneliti yang tidak relevan.Kata Kunci: Kontinuitas, Penelitian Dosen, Kecakapan HidupAbstractThe purpose of this research were (1) to determine the number of researchers who conduct research that took place during the time from 2009 to 2014, (2) Determine the number of researchers who conduct research in the field of life skills which continuously during the period 2009-2014 and (3) the constraints experienced by the researchers who conducted the research are not sustainable over the period from 2009 to 2014. The population in this research are all the research that has been done in Undiksha in the period 2009-2015. The samples using total sampling technique. Data collection techniques used in this research is the study of the document. This research data in the form of qualitative data. The results showed that (1) Profile Undiksha lecturer research from 2009-2014 in general, quantity tends to increase, except for research in 2010 year. (2) Of the research from 2009-2014, there is much research as 1,093. From 1,093 of the research, 327 is the kind of life skills research (29.92%). The amount of research that includes life skills that the greatest percentage was in 2014 year that as many as 33.85% and the least was in 2009 year (25.60%). (3) Of the 327 pieces of research 2009-2014, from personal skill research there are as many as 5 pieces, 53 pieces of social skill research, 233 pieces of academic skill research, and 44 pieces ofvocational skill research. (4) The researchers who conducted the research-oriented life skills that continuing basis constant for 2 years was 23 peoples (10:45%), The continues constantly for 3 years as many as 9 peoples (4:09%), which continued constantly for 4 years as many as 2 peoples (0.91%), continuing the constant 5 and 6 years respectively each 0 people (0.00%), continues as inconstant as many as 13 people (5.91%), and that does not continue 173 people (78.64%); (5) The constraints faced from the discontinuation of research lecturer are (1) The factors of contract period, (2) The proposal written only for one year, (3) The contract is only two years old, and (4) Field of knowledge from researchers irrelevant.Keywords: Continuity, Research Lecturer, Life Skills
IBM Laboratorium Matematika bagi SD Gugus III Kecamatan Kubu: Upaya Menciptakan Pembelajaran Matematika SD yang Eksploratif dan Menyenangkan I Made Suarsana
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini terinspirasi dari permasalahan yang dihadapi SD-SD di Gugus III Kecamatan Kubu berkaitan dengan pembelajaran matematika yaitu berupa 1) hasil belajar matematika siswa masih belum optimal, 2) adanya phobia matematika di kalangan siswa, 3) pembelajaran matematika di kelas sangat miskin, cenderung text books oriented, serta 4) minimnya jumlah alat peraga/media matematika yang tersedia, padahal siswa SD masih berada pada tahap berpikir operasional konkrit. Solusi yang disepakati untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah pengembangan Math Corner sebagai sebuah lab matematika mini yang berada di ruang kelas. Hasil dari pelaksanaan pengabdian yaitu 1) telah dikembangkan Math Corner sebagai laboratorium matematika mini di ruang kelas, 2) guru-guru pada sekolah mitra telah memiliki mampu mendesain pembelajaran yang menekankan pada aktivitas matematika dan 3) siswa telah terbiasa melakukan aktivitas matematika secara mandiri pada Math CornerKata kunci: math corner, aktivitas matematika, eksploratif, menyenangkanAbstractThis social service activities was inspired by the problems faced by elementary schools in Gugus III Kecamatan Kubu with regard to the mathematics learning in the form 1) the student achievement in learning mathematics are not optimal, 2) there was a phobia of mathematics in among students 3) mathematics learning in the classroom is very poor, tend to be text books oriented, rarely using manipulatives / medias and less emphasis on mathematics activities / processes, and 4) lack of number of manipulatives / math medias available in schools, although elementary students still at the thinking stage of concrete operations. The solution was choosed to solve the problems was developing Math Corner as a mathematics mini laboratorium located at the side of classroom. The results are: 1) has been developed Math Corner as a mini laboratory placed at classroom corner, 2) teachers in partner schools have have able to design learning that emphasizes the mathematics activity and the last result is 3) students have been accustomed to do mathematics activity independently in Math Corner.Keywords : math corner, mathematics activity, explorative, fun
RANCANGAN DETEKTOR GEMPA BERPOTENSI TSUNAMI BERBASIS WIRELESS SENSOR NETWORK DENGAN SISTEM MAGNETIC ALTITUDE (Kajian Teori) Putu Artawan; I Ketut Purnamawan
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gempa bumi yang dahsyat bisa memicu atau berpotensi terjadinya Tsunami. Tsunami merupakan gelombang laut yang besar yang terjadi akibat gempa bumi tektonik di dasar laut. Antisipasi lebih dini sangat diperlukan sebagai upaya meminimalisir kerugian akibat bencana Tsunami baik korban jiwa maupun material. Penelitian ini bertujuan merancang Detektor Gempa Bumi Berpotensi Tsunami Berbasis Wireless Sensor Network dengan Sistem Magnetic Altitude, menganalisis data yang diperoleh dari Detektor yang dirancang serta menentukan efektifitasnya. Metode dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Penelitian ini menghasilkan prototype berupa rancangan Detektor Gempa Bumi Berpotensi Tsunami Berbasis Wireless Sensor Network dengan Sistem Magnetic Altitude. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai desain penelitian kedepan dengan bekerjasama dengan pihak terkait utamanya dalam bidang teknologi informasi, badan meteorologi dan geofisika.Kata Kunci : Tsunami, Detektor, Wirless Sensor Network, Magnetic Altitude
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS DAN PEMAHAMAN KONSEP FISIKA DITINJAU DARI MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS X SMA NEGERI 1 SERIRIT Putu Widiarini
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan keterampilan berpikir kritis dan pemahaman konsep fisika antara kelompok model pembelajaran berbasis masalah (MPBM) dan model pembelajaran konvensional (MPK) untuk siswa yang memiliki motivasi belajar rendah dan tinggi. Penelitian ini merupakan eksperimen semu dengan rancangan posttest only non-equivalent control group design. Sampel penelitian ini adalah kelas X SMA Negeri 1 Seririt tahun pelajaran 2011/2012 yang terdiri dari 4 kelas sebanyak 126 orang. Data dikumpulkan melalui tes keterampilan berpikir kritis (KBK), pemahaman konsep (PK) fisika, dan kuesioner motivasi belajar. Tes KBK berbentuk pilihan ganda sebanyak 25 item dengan reliabilitas 0,956. Tes PK fisika berbentuk pilihan ganda sebanyak 20 item dengan reliabilitas 0,715. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan manova dua jalur. Hasil penelitian menunjukkan terdapat: (1) perbedaan KBK dan PK antara kelompok MPBM dan MPK (F=24,76; p<0,05), (2) pengaruh interaksi antara model pembelajaran dan motivasi belajar terhadap KBK dan PK siswa (F=18,96; p<0,05), (3) perbedaan KBK dan PK antara kelompok MPBM dan MPK pada siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi (F=24,98; p<0,05), (4) terdapat perbedaan KBK dan PK antara kelompok MPBM dan MPK pada siswa yang memiliki motivasi belajar rendah (F=6,38; p<0,05), (5) perbedaan KBK antara kelompok MPBM dan MPK (F=4,41; p<0,05), (6) perbedaan pemahaman konsep antara kelompok MPBM dan MPK (F=48,52; p<0,05). Hasil uji lebih lanjut dengan LSD menunjukkan bahwa MPBM lebih unggul daripada MPK dalam pencapaian keterampilan berpikir kritis dan pemahaman konsep fisika siswa.Kata kunci: model pembelajaran berbasis masalah, keterampilan berpikir kritis, pemahaman konsep, dan motivasi belajarABSTRACTThis research is aimed to analyze the difference of critical thinking skill (CTS) and physics concept understanding (PCU) between problem-based learning model (PBLM) and conventional learning model (CLM) groups for students who have high and low learning motivation. This research is a quasi-experimental research with posttest only non-equivalent control group design. Sample of this research was students class X SMAN 1 Seririt academic year 2011/2012 consisting 4 classes and 126 students. Data have been collected by using test of CTS and PCU and questioner of learning motivation. CTS test was extended multiple choices consisting of 25 items with reliability 0.956. PCU test was extended multiple choices consisting of 20 items with reliability 0.715. Data have been analyzed by using descriptive statistic and two-way manova. The results showed that (1) there was significant difference of CTS and PCU between PBLM and CLM groups (F=24.76; p<0.05), (2) there was significant interaction effect between learning models and learning motivation to CTS and PCU (F=18.96; p<0.05), (3) there was significant difference of CTS and PCU between PBLM and CLM groups for students who have high learning motivation (F=24.98; p<0.05), (4) there was significant difference of CTS and PCU between PBLM and CLM groups for students who have low learning motivation (F=6.38; p<0.05), (5) there was significant difference of CTS between PBLM and CLM groups (F=4.41; p<0.05), (6) there was significant difference of PCU between PBLM and CLM groups (F=48.52; p<0.05). LSD analysis showed that PBLM was better than CLM in both CTS and PCU.Key words: problem-based learning, critical thinking skill, physics understanding, learning motivation

Page 8 of 14 | Total Record : 140